Sejarah Bakmi GM, Bakmi Japos, Dll.

Sunday, September 28, 2003

BAKMI, atau mi, telah menjadi makanan rakyat. Lihatlah mi dijajakan keliling kampung siang malam dengan gerobak. Tengok pula warung kaki lima hingga rumah makan ber-AC yang khusus menyajikan mi. Di balik itu semua, juga terdapat banyak cerita mengenai etos kerja.

TENGOKLAH warung bakmi terkenal yang meriah dikunjungi orang di Jakarta. Kita sebut beberapa saja seperti Bakmi GM (dikenal sebagai Bakmi Gajah Mada), Bakmi Japos, Bakmi Pinangsia, Bakmi Golek, Depot 3.6.9, Bakmi Boy, atau juga Bakmi Gang Kelinci. Mereka tidak membangun usaha dalam sehari, tapi dengan keuletan seperti terigu yang diolah menjadi mi itu.

Jika Anda menyantap mi ayam, atau mi pangsit yang disuguhkan Bakmi GM , maka di balik rasa itu tersimpan sejarah panjang kerja keras manusia pembuatnya. Bakmi GM yang kini mempunyai tujuh cabang di kawasan terpandang itu berawal dari warung di emperan rumah keluarga Choi Siu di Jalan Gajah Mada-dulu dikenal sebagai Moolenvliet.

Usaha mi itu berawal dari hidup susah keluarga Choi Siu. Mereka semula mempunyai usaha mebel. Situasi sosial politik pada akhir 1950-an menjadikan usaha mebel bangkrut. Choi Siu (1911-1990) yang harus menghidupi sebelas anak itu kemudian bertahan hidup dengan berjualan mi.
"Kami cuma menggunakan lima meja. Itu pun ala kadarnya yang kami ambil dari meja yang dipakai di rumah," kenang Julia Widjaja (61), anak keluarga Choi Siu, yang kini menjadi Komisaris PT Griya Miesejati (PT GM) yang membawahi usaha Bakmi GM.


Choi Siu melibatkan anak- anaknya dalam usaha warung mi. Mereka bangun jam empat pagi untuk menyiapkan tetek bengek warung mi. Choi Siu, sang ayah, bermandikan peluh menggenjot bambu untuk menggiling terigu sebagai bahan dasar mi. Ingat, saat itu mereka belum menggunakan mesin pembuat mi.
"Ayah kami membuat mi pakai bambu yang digenjot. Ibu yang merebus mi dan kami sebelum berangkat sekolah bantu-bantu potong ayam dan sayur," kenang Julia yang ditemui di kantornya bersama adiknya, Peily Dian Lie (55).

Julia yang saat itu berusia 17 tahun mempunyai tugas belanja sayur di pasar Glodok. Sebelum berangkat sekolah di SMA Tung Hua Hui Koan (THHK) di bilangan Blandongan, Jakarta Barat, Julia masih sempat membantu memotong ayam dan sayur. Oleh teman sekolahnya Julia disebut sebagai "tukang tidur" karena dia harus bekerja keras dari jam empat baru tidur pukul sebelas malam.

Sang adik, Dian Lie, yang berumur sepuluh tahun dan duduk di kelas lima sekolah dasar, bertugas sebagai kasir. Ada pembeli yang kadang heran melihat Dian, anak kecil yang sudah menjadi kasir warung mi.
"Saya menghitungnya pakai tangan dan hanya pakai ingatan. Kami waktu itu kan enggak pake mesin hitung," kenang Dian Lie yang kini menjabat Direktur PT GM.

Meski terlibat dalam kerja yang boleh dibilang keras untuk remaja seusianya, namun Julia dan Dian menyikapi hari-hari dengan sukacita. "Teman-teman saya sampai bilang. ’Kamu kerja kok seneng-seneng banget sih.’ Soalnya kami kerja sambil nyanyi-nyanyi haha...." kenang Dian.
Hari demi hari warung bakmi yang tidak dinamai atau tidak menggunakan cap dagang itu semakin laris dikunjungi pelanggan. Dari lima meja, dua tahun kemudian mereka memasang sebelas meja.


Pada 1968, saat Ali Sadikin yang menjadi Gubernur Daerah Chusus Ibu Kota (DCI) Jakarta muncul rencana pelebaran Jalan Gajah Mada. Tempat usaha mi Choi Siu terpapras hingga sebelas meter. Dengan lahan yang menyempit, mereka kemudian membangun rumah dengan tiga lantai. Dua lantai di antaranya digunakan untuk warung mi. Pengurangan lahan itu rupanya malah menjadi berkah tersendiri. Pasalnya, setelah menempati bangunan baru, usaha mi itu semakin laris.

KISAH kerja keras juga dilewati keluarga pengusaha Mie Depot 3.6.9 di bilangan Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat. Usaha yang berpusat di Surabaya ini kini mempunyai enam cabang, termasuk yang di Jakarta yang dikelola oleh Tjitrawati, atau akrab dipanggil Cik Mei-Mei.
Berdiri pada tahun 1958, riwayat awal usaha Depot 3.6.9 hampir mirip dengan Bakmi GM.


Orangtua Tjitrawati, keluarga Tjan Pat Yauw, yang berdarah Tionghoa-Kupang, semula adalah guru di sebuah sekolah di Surabaya. Karena situasi sosial politik pada akhir tahun 1950-an itu, sekolah tempat mereka mengajar ditutup dan mereka kehilangan pekerjaan. Keadaan ekonomi Tjan Pat Yauw saat itu sangat payah.

"Kami kadang harus pergi ke rumah saudara untuk meminjam beras," kenang Tjitrawati.
Ibu dari Tjitrawati yang kebetulan mempunyai resep pembuatan kue dumpling-kue berisi daging-mencoba membuka warung makan di Jalan Embong Malang, Surabaya. Suatu ketika Tjan Pat Yauw bertemu koki pembuat di Pasar Atum. Dari perjumpaan itu terpikirlah untuk menyuguhkan mi di warung yang kemudian diberi nama 3.6.9. Konon nama ini diambil dari merek kue terkenal buatan Cina.


Boleh jadi mi memang bisa menjadi sahabat yang baik bagi orang yang tidak mau menyerah pada kerasnya kehidupan. Hengky Tjoa (45) dari Bakmi Japos harus terseok-seok sebelum kini mengibarkan diri sebagai "Rajanya Mie" Asal tahu saja, Rajanya Mie dijadikan gimmick-pemikat dagang Hengky yang terbaca pada logo Bakmi Japos.

Hengky yang yatim piatu sebelum menginjak usia remaja itu harus menghidupi tiga adik-adiknya. Hengky antara lain pernah berjualan gundu, permen, sampai koran, atau apa saja yang bisa dijadikan uang. Selepas SMA, Hengky menjalani beragam bisnis mulai dari berjualan pakaian, ikan hias, usaha video rental, sampai berjualan ikan bakar, yang semuanya berakhir dengan satu kata: bangkrut.

"Waktu jualan ikan bakar di (Jalan) Radio Dalam setiap hari saya tekor melulu. Sialnya waktu itu hujan deras, tenda ambruk," kenang Hengky seakan menyempurnakan kisah sengsaranya.
Dia tidak menyerah. Pada tahun 1992, Hengky mengumpulkan apa saja yang tersisa untuk dijadikan bekal melanjutkan hidup. Ia menjual bangku, tenda warung, dan perkakas kerja yang akhirnya terkumpul Rp 750.000. Dari uang itulah lelaki yang senang memasak itu memulai usaha mi.

"Saya jualan pakai gerobak di depan kantor pemasaran perumahan Villa Japos. Saya jualan mi dengan harapan bisa diterima dan syukurlah mi saya diterima," tutur Hengky yang ditemui di Bakmi Japos, Bintaro Sektor 7.

Hengky yang semula belum mempunyai pengalaman di jagat mi itu bersedia belajar dari nol. Dia mempelajari cara pembuatan bahan dasar mi sekitar satu setengah tahun.
"Waktu pertama saya coba- coba dulu itu rasanya memang enggak karu-karuan. Saya coba terus sampai akhirnya terasa enak. Kalau mi saya tak enak, bagaimana saya bisa meyakinkan pembeli. Lidah saya kan juga mewakili taste banyak orang," kata Hengky yang memang penggemar berat mi.

Untuk sekadar promosi, Hengky membagikan selebaran kertas fotokopi yang berisi alamat dan menu Bakmi Japos yang saat itu hanya menyediakan mi ayam dan mi pangsit. Bakmi Hengky terbukti laris dan pembeli pun harus antre. Larisnya warung mi mengajarkan Hengky untuk lebih sabar dalam menghadapi manusia.
"Pernah saya ditunjuk-tunjuk dan dikata-katain pembeli. Dia bilang, ’Nanti saya gampar kamu.’

Itu karena dia tidak terlayani dengan cepat," kenang Hengky.

Nama Bakmi Japos kemudian memang populer di kalangan penggemar jajan. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, Hengky telah membuka delapan cabang yang dikelolanya bersama adik-adik dan kerabatnya. Pada cabang ke sembilan, Hengky telah menyerahkan ke orang lain dengan sistem waralaba. Kini usahanya tersebar di 20 cabang.

Usaha Hengky memang laris. Ketika membuka cabang di kompleks Bintaro Sektor III, bakmi Hengky menyebabkan lalu lintas macet. Warga Bintaro memprotes Bakmi Japos yang dianggap sebagai biang kemacetan. Oleh pengembang Hengky diminta pindah usaha. Namun, berkahnya, Hengky mendapat tempat lain di Bintaro yang lebih representatif. Berkah lain, orang yang dulu bertugas menutup cabang itu juga kecipratan rejeki dari mi. Kini mereka bergabung sebagai pemegang izin waralaba, alias ikut jualan mi.

BEGITULAH, mi telah menjadi penghidupan dan menghidupi banyak orang. Ini pemandangan lain dari para pejuang hidup yang mengandalkan mi. Lihatlah para perajin atau pembuat bahan mi yang bergabung dalam Paguyuban Tunggal Rasa, Jakarta. Mereka mempunyai anggota sekitar 70 orang. Setiap anggota memproduksi mi untuk memasok kebutuhan sekitar 40-400 penjual mi gerobakan.

Bisa dihitung berapa orang yang menggantungkan hidup pada mi. Padahal, jumlah 70 anggota itu adalah yang resmi terdaftar. Konon, jumlah perajin mi di Jakarta saja ada sekitar 120 dan masing-masing mempunyai pasukan mi yang dinikmati rakyat.
Menurut Wakidi, selaku Ketua Paguyuban Tunggal Rasa, para perajin selain memasok bahan mi juga menyediakan gerobak, mangkok dan segala piranti yang dibutuhkan penjual mi.
"Saya juga menyediakan pemondokan bagi pedagang mi yang menggunakan produk saya," kata Wakidi yang ditemui di tempat kerjanya di bilangan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.

Organisasi yang menghimpun pembuat mi itu mempunyai program mendidik pedagang mi menjadi perajin mi. Minimal dalam lima tahun mereka menargetkan seorang penjual mi keliling harus mampu menjadi perajin mi. Jakarta bukan satu-satunya bagi paguyuban serupa. Jika di kota lain terdapat paguyuban perajin mi semacam itu, betapa mi diam-diam telah menggerakkan kehidupan rakyat. Mereka menciptakan lahan pekerjaan bagi rakyat.

Etos kerja keras juga terlihat dari bakmi Jawa Gunung Kidul. Usaha yang dimulai 1996 ini bermula dari kebangkrutan pedagang mi di Semanu, Gunung Kidul. Mereka kemudian diberi kesempatan membuka warung di emperan toko di kawasan Jati Bening, Bekasi. Setelah terbukti laris, usaha itu dikelola dengan manajemen yang tertata di bawah Koperasi Usaha Bakmi Jawa yang kini mempunyai 12 cabang di Jakarta dan sekitarnya.

Nama Gunung Kidul, wilayah Kabupaten di Yogyakarta itu memang bagi sebagian orang dikenal sebagai daerah tandus yang mengingatkan orang pada gaplek atau tiwul. Benyamin Sudarmadi dari Bakmi Jawa Gunung Kidul sengaja membawa nama kampung halamannya untuk menunjukkan bahwa kesan minus daerahnya tak identik dengan semangat loyo. Dan menurut pria kelahiran Gunung Kidul, itu semua akan dilawan dengan kerja keras pasukan penjual mi dari Gunung Kidul itu.

KISAH perjuangan "tukang mi" adalah kisah pekerti manusia ulet, tekun, dan pantang menyerah dalam merebut kehidupan yang lebih baik. Mereka bekerja dengan sukacita dan kecintaan profesi, dengan gairah, semangat, dan sungguh-sungguh yang diistilahkan "tukang mi" dari Bakmi GM sebagai passion.
"Kami perlu passion untuk bekerja. Kami mencintai benar pekerjaan jualan mi. Tanpa passion kami akan capek dan susah kerja. Dengan mencintai pekerjaan, kami jadi bersemangat mencari sesuatu yang lebih baik untuk pelanggan," kata Peily Dian Lie dari Bakmi GM.

Bangsa yang menurut Franz Magnis-Suseno tinggal menunggu waktu masuk jurang ini sepertinya ada baiknya belajar dari kerja keras praktisi mi. Mereka terbukti telah bertahan hidup dan menghidupi dengan bekerja ekstra keras-bukan dengan mengeluh dan banyak mulut (tanpa korupsi pula).
Sayang, belum ada Partai Bakmi.


Kompas, Minggu, 28 September 2003
(ETA/EDN/LUK/ARN/CP/XAR)
Read more...

Sistem Waralaba: Kiat Para Jawara Agar Dilirik Investor

Thursday, July 3, 2003

Untuk sukses me-waralaba kan produknya, ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Di antaranya, ada sistem yang baku dan merek yang terkenal. Berikut pengalaman sejumlah jawara waralaba dalam mengembangkan bisnisnya.

Bagi pasangan pengusaha muda Budi Hastanto dan Devi Kusumawati, memiliki waralaba Ayam Bakar Wong Solo merupakan kepuasan tersendiri. Maklum, keduanya membutuhkan proses yang panjang untuk bisa mendapatkan dan akhirnya meresmikan satu dari empat RM Wong Solo yang waralaba nya dibeli dari PT Sarana Bakar Digdaya. 'Kami mengenal waralaba sejak 1997 dan ingin memiliki salah satu di antaranya,' ungkap Devi Kusumawati. Maka sejak itu sederet merek waralaba mulai mereka cermati, dari Bakmi Japos-Rajanya Mie, Es Teller 77, RM Sederhana, Ayam Bakar Wong Solo, hingga Bebek Bali.

Devi melanjutkan, 'Beberapa di antaranya tak memiliki standar baku untuk bumbu, lainnya tidak menawarkan investasi menarik. Baru pada Wong Solo kami menemukan sebuah merek yang terkenal, standar baku, hingga peluang investasi yang menarik.' Wanita berdarah Solo-Surabaya ini membandingkannya dengan tawaran waralaba dari RM Sederhana, yang dianggapnya kurang menarik. 'Belum apa-apa harus memberi 10% pada manajemen, dan sisanya dibagi dengan karyawan dan pembeli waralaba,' katanya.

Buat Puspo Wardoyo, peresmian gerai ke-25 milik Budi dan Devi pada 13 Juni lalu menjadi bukti bahwa waralaba nya diminati para investor. 'Sebab saat meluncurkan waralaba Wong Solo pada 1997, tidak ada yang merespons,' katanya. Namun kini ia malah harus menolak permintaan ratusan calon investor lainnya, karena targetnya untuk memiliki 20 gerai Wong Solo di Jakarta sudah terpenuhi pada 2003 ini.

Fenomena Wong Solo dikomentari oleh Johnny Salmon, managing director PT Sumber Kreasi Cipta Logam, pemilik waralaba Julia Jewelry. Katanya, 'Itu jelas keajaiban yang tidak datang setiap waktu.' Mengapa? Sebab, Johnny mengaku membutuhkan waktu 25 tahun untuk sampai berhasil me waralaba kan toko perhiasannya. 'Bagian yang paling susah adalah membuat sistemnya,' aku Johnny.

Padahal, menurut pengamat waralaba Amir Karamoy, sistem usaha yang mudah diajarkan adalah salah satu syarat penting apabila seorang pengusaha ingin me waralaba kan usahanya. Selain itu, ada beberapa hal lainnya yang mesti dibuat standar bakunya, mulai dari proses produksi, operasional, pembukuan, sumber daya manusia, dan sebagainya.

Mengenai pembuatan standar, Puspo punya cerita sendiri. Katanya, membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa membakukan bumbu di Wong Solo. 'Bayangkan, produksi bumbu massal di pabrik dikecilkan lagi untuk ukuran satu porsi. Ini jelas butuh teknologi untuk bisa memperoleh ukuran yang pas,' paparnya. Jelas Puspo enggan merinci apa saja bahan baku untuk bumbunya. 'Supaya jangan ada `Wong Solo` lainnya,' kilahnya.

Hal itu dibenarkan Devi Kusumawati yang mengaku bahwa tak cuma bumbu, tetapi, oleh Ayam Bakar Wong Solo, sayuran pun dibakukan dalam hitungan gram. Ini jauh berbeda dengan sistem produksi di Bakmi Japos yang menurutnya belum dibakukan. 'Tergantung kokinya. Kalau tak dikontrol, rasanya bisa tak sama,' kata Devi. Standarisasi bahan baku, bumbu, dan proses pengolahannya menjadi hal penting saat usaha makanan ingin di waralaba kan.


Johnny Salmon mengaku harus membayar konsultan perhiasan asing untuk membantunya membuat sistem. 'Waktu itu sebelum krisis, saya membayar sekitar US$85.000,' ungkapnya. Padahal, soal pengalaman dalam bisnis perhiasan, jam terbang Johnny jelas sangat panjang. Akan tetapi, hal itu toh tak serta merta membuat Johnny mampu mendesain sistem waralaba yang memikat investor. Maka, tak heran kalau akhirnya ia baru berhasil melakukan tes waralaba pertamanya di Yogyakarta pada Oktober 2002. Padahal, sejak 1994 Johnny sudah kepincut dengan waralaba.

Namun, sistem yang baik saja tak cukup membuat sebuah waralaba langsung dilirik investor. Sebab, menurut Amir Karamoy lagi, merek tersebut juga harus terkenal dan terbukti menguntungkan. Soal terbukti menguntungkan, ini bisa dilihat dari laporan keuangan perusahaan, yang mestinya diaudit oleh kantor akuntan publik. Untuk urusan terkenal, ini bisa dijajaki lewat survei, atau terkadang juga bisa relatif.

Misalnya, Julia Jewelry, sebagai merek, ia boleh saja masih asing bagi para investor. Namun, reputasi Johnny Salmon sebagai pemiliknya jelas melebihi popularitas Julia Jewelry. Buktinya, hanya dalam hitungan bulan sejak ia meluncurkan gerai waralaba pertamanya di Yogyakarta, kini Johnny sudah meresmikan enam gerai baru yang dibangun lewat cara waralaba. 'Masyarakat cepat paham sebab yang punya adalah saya,' aku Johnny, tanpa bermaksud sombong. Maklum, Johnny sudah bergelut di bisnis perhiasan lebih dari 25 tahun.


Lalu dalam 15 tahun terakhir, ia juga dikenal sebagai eksportir utama perhiasan Indonesia ke pasar Eropa. Ribuan gerai perhiasan di Jerman dan Belanda menjadi pelanggan setia produk Johnny. Reputasinya makin lengkap karena ia adalah mantan ketua umum Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia (APEPI) selama dua periode.

Sebaliknya, Puspo Wardoyo mesti berjuang keras sebelum Ayam Bakar Wong Solo-nya dilirik investor. Namanya masih belum populer saat ia menawarkan sistem waralaba pada 1997. 'Tak ada yang kenal Puspo Wardoyo. Merek Wong Solo pun belum bergaung. Malah yang ada, orang melamar untuk menjadi pegawai saya,' kata Puspo, terbahak. Bahkan sesudah ia membuka cabang di beberapa kota di Jawa Tengah lewat cara semi waralaba, dengan dana modal ventura, gelagat untuk terkenal pun tampak.

Nama Puspo baru dikenal setelah ia masuk Jakarta pada 2001. Ini pun sesudah ia merasa yakin bahwa namanya dan Ayam Bakar Wong Solo cukup sering diberitakan lewat media-media di Jakarta. Saat itulah, bersamaan dengan peresmian gerainya di Jl. Kalimalang, Jakarta Timur, ia mengumumkan bahwa Ayam Bakar Wong Solo bisa bekerja sama dengan orang lain lewat pola waralaba. 'Sejak itu kami pun diserbu oleh peminat waralaba,' katanya. Kini, Ayam Bakar Wong Solo memiliki 27 gerai, dengan 12 di antaranya berada di Jakarta.

Pengalaman Mellyana Rani, presdir PT Sarwagata Keluarga Sarana, dalam menawarkan waralaba restoran, kafe, dan sekaligus galeri Bebek Bali-nya lain lagi. Mellyana membutuhkan waktu enam tahun dan memiliki tiga cabang, sebelum akhirnya ia menawarkan waralaba Bebek Bali kepada para investor. Untuk membantu menciptakan sistemnya, Mellyana memakai jasa Amir Karamoy sebagai konsultan.

Kini resto-kafe-galeri Bebek Bali tengah menunggu pinangan investor. Perjuangan yang tak mudah. Sebab, Devi Kusumawati, yang juga sempat melirik Bebek Bali dan akhirnya mundur, menilai bahwa jumlah orang yang menyukai bebek masih sangat sedikit. Di sini, orang lebih menyukai ayam. Cuma yang barangkali luput dari pengamatan Devi, menu bebek di sini justru banyak disajikan oleh restoran-restoran kelas atas. Jadi, kalau konsumen kalangan ini yang disasar Bebek Bali, jumlahnya mungkin memang tak banyak, tetapi daya belinya sangat tinggi.

Sistem yang baku, atau merek yang terkenal, memang tak sepenuhnya menjamin suatu waralaba bakal menuai sukses. Masih ada faktor lain, seperti: apakah lokasinya sudah pas, kemudahan akses, dan sebagainya. Tanpa itu, hampir pasti suatu waralaba akan mengalami kegagalan.

wartaekonomi.com

GENUK CHRISTIASTUTI, PRANANDA HERDIAWAN, SALIM SHAHAB, DAN HENDARU
Read more...

Bisnis Waralaba: Cara Cepat Menjadi Kaya

Wednesday, July 2, 2003

Ekspansi usaha pakai modal sendiri? Lama sekali. Cobalah pakai jalur waralaba.
Puspo Wardoyo membuktikannya. Kini ia kaya raya dengan puluhan gerai Ayam Bakar Wong Solo. Anda tertarik?

Ada sejumlah kriteria yang mesti dipenuhi sebelum berbisnis via waralaba.
Anang Sukandar pening. Bersama dua juri lainnya, ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) itu diminta memilih hanya tiga dari 80 waralaba lokal, dengan 32 di antaranya semi waralaba, yang layak menerima penghargaan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Setelah dinilai sesuai kriteria, akhirnya terpilihlah delapan waralaba lokal. Urusan belum selesai. Delapan nama itu mesti diperas lagi sampai hanya memunculkan tiga pemenang. Mereka adalah International Language Program (ILP), Indomaret, dan Ayam Bakar Wong Solo. 'Ketiganya secara bisnis sudah cukup baik,' ungkap Anang.

Pemilihan waralaba terbaik yang diselenggarakan dalam ajang Pameran Produksi Indonesia 2003 tadi adalah bagian kecil dari geliat bisnis waralaba, yang belakangan kian terasa gairahnya. Jika Anda sempat, cobalah tengok gerai BreadTalk, waralaba roti milik George Quek asal Singapura, di Mal Kelapa Gading, Jakarta. Setiap hari antrean penuh sesak. Baru beberapa hari beroperasi, Johnny Andrean, sang pemiliknya, sudah pasang target bakal membuka gerai BreadTalk baru di kawasan Pluit, Jakarta Utara.

Kemudian 2003 juga bakal menjadi tahun yang sibuk bagi Puspo Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Sebab, tahun ini, dari target 20 waralaba yang ia tawarkan untuk seputar Jabotabek, semuanya ludes terjual. Bahkan 12 gerai di antaranya sudah beroperasi. Selain itu, tahun ini pula, dua gerai RM Ayam Bakar Wong Solo di Malaysia dan Singapura juga diharapkan beroperasi.

Sementara itu, Salon Lutuye, salon yang menyasar kalangan berusia 45 tahun sebagai konsumennya, memulai ekspansinya dengan pola waralaba sejak 2001. Hasilnya, hanya dalam tempo dua tahun Lutuye sudah beranak pinak dengan 30 gerainya--70% di antaranya berlokasi di kawasan Jabotabek.

Pemain baru di bisnis waralaba adalah Grup Ristra milik Retno Iswari S. Tranggono. Pada tahun ini Grup Ristra mulai menawarkan program waralaba kepada para investornya untuk membuka beberapa gerai salon dengan merek Salon Ristra. Kemudian di bisnis makanan adalah restoran, kafe, dan galeri Bebek Bali, yang juga menawarkan kepada para investor yang berminat membeli hak waralaba nya. Lalu di bisnis perhiasan, ada Johnny Salmon yang mulai me waralaba kan toko perhiasannya dengan merek Julia Jewelry.

Fenomena BreadTalk, Lutuye, Ristra, atau Ayam Bakar Wong Solo mengindikasikan bahwa tahun 2003 agaknya bisnis waralaba bakal menemukan kembali gairahnya. Ini tentu kabar gembira buat para pemilik modal yang sudah terlalu lama menyimpan uangnya di bank, karena tak tahu bisnis apa yang mesti digarapnya. Kini, terbuka peluang bisnis yang siap digarapnya. Juga buat para pemilik merek, terbuka pula peluang baginya untuk mengembangkan usaha tanpa harus mengerahkan dana sendiri.

Pilihan waralaba sebagai sarana ekspansi agaknya tak terlalu keliru. Hasil riset di AS yang melibatkan 2.500 perusahaan menunjukkan bahwa dengan format waralaba, peluang untuk sukses mencapai 85%--90%. Bandingkan dengan format bisnis biasa yang hanya 35%--45%. Riset lain yang dilakukan Arthur Andersen, John Naisbitt, dan The US Federal Trade Commission, sebagaimana dikutip konsultan waralaba Amir Karamoy, menunjukkan bahwa rata-rata keberhasilan berbisnis via waralaba bahkan mencapai 92%. Lalu dari sisi omzet, industri waralaba di AS mencapai US$800-an miliar per tahun.

Di Indonesia? Studinya belum ada, tetapi Amir memperkirakan hanya sekitar 30%. Mengapa begitu rendah? 'Sebab, Indonesia belum memiliki aturan tentang persyaratan suatu usaha layak di waralaba kan,' ucap Amir. Di samping itu, tambah Amir, banyak perusahaan lokal yang menyebut dirinya waralaba, padahal sebenarnya bukan. 'Banyak yang cuma bagi hasil, kerja sama usaha, atau cabang milik sendiri. Hanya karena menggunakan merek dagang yang sama, seolah-olah dianggap waralaba. Padahal bukan,' tandas Amir.

Secara umum, waralaba adalah suatu sistem pemasaran vertikal, di mana franchisor (pe waralaba) memberikan hak kekayaan intelektualnya kepada franchisee (ter waralaba) dengan sejumlah imbalan dan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan/atau penjualan barang dan jasa tertentu. Artinya, franchisor bersedia mengalihkan konsep perusahaannya kepada franchisee, baik itu penggunaan nama perusahaan, dekorasi, knowhow maupun dukungan teknis terhadap franchisee, seperti pemberian pelatihan kepada karyawan, bagaimana mengelola perusahaan, pengadaan barang-barang, dan sebagainya, selama perjanjian berlangsung, dengan pembayaran royalti dan fee.

Andrias Harefa, seorang pengamat waralaba, menyebutkan bahwa maraknya bisnis ini dipicu oleh tingginya semangat untuk berwirausaha. Hanya, ia menganggap waralaba justru mendorong seseorang menjadi pengusaha karbitan. Bahkan, mengutip pendapat orang lain, Andrias menilai waralaba ini sebagai shut down entrepreneur. 'Kalau jiwa entrepreneur-nya masih setengah jadi, dia bisa mengambil waralaba. Namun, waralaba tidak cocok bagi orang yang punya skill dan spirit entrepreneur yang tinggi,' tambahnya. Tipe yang disebut terakhir ini, menurut Andrias, adalah tipe orang yang kreatif dan inovatif.

Lebih Tinggi dari Deposito

Terus tumbuhnya waralaba lokal maupun asing mengindikasikan bahwa bisnis ini memang menguntungkan. Amir Karamoy setuju. Ia lalu membandingkan, jika uang disimpan dalam bentuk deposito, hasilnya cuma 11%--12% per tahun. Bandingkan dengan bisnis restoran yang bisa memberikan return 20%-an. 'Akan tetapi risikonya jelas berbeda. Sebagai pengusaha, dia tentu akan berupaya meminimalkan risiko. Jadi, akhirnya lebih menarik berinvestasi dalam satu bidang usaha ketimbang menaruh dananya dalam bentuk deposito,' tutur Amir.

Pernyataan Amir dibuktikan oleh Puspo Wardoyo dengan Ayam Bakar Wong Solo-nya. Menurut Puspo, yang menawarkan tiga paket investasi waralaba, ada gerai-gerai Wong Solo yang hasilnya luar biasa, ada pula yang biasa-biasa saja. 'Namun, yang biasa pun hasilnya tetap lebih besar daripada suku bunga deposito. Bisa sampai dua kali lipat, bahkan lebih,' tuturnya.

Waralaba tak hanya membuat kaya si franchisee, tetapi juga franchisornya. Masih menurut penuturan Puspo, ia membuka restoran ayam bakar pertama kali di Medan pada 1997. Ia kemudian mencoba membuka cabang di kota yang sama dan di Aceh. Cuma masalahnya, Puspo kesulitan permodalan. 'Untuk membuka satu restoran, saya mesti mengumpulkan uang dulu. Kalau begini terus, kapan saya bisa membuka ratusan gerai? Kapan saya bisa kaya?' tutur Puspo, yang saat itu belum mengenal konsep waralaba. Memang terbersit dalam benak Puspo untuk meminjam ke bank. Namun, setelah dia hitung berulang kali, risikonya ternyata terlalu besar. Maka, batallah Puspo mengajukan permohonan kredit ke bank.

Puspo mulai melirik jalur waralaba setelah ia mendapatkan pengalaman dari franchisee McDonald's, dan menerima bimbingan sebuah lembaga di Kanada. Maka, bulatlah tekadnya untuk menggunakan waralaba sebagai sarana pengembangan usaha. Hasilnya, hingga 2003, Puspo sudah membuka 27 gerai Ayam Bakar Wong Solo yang tersebar di berbagai kota, dengan 12 di antaranya ada di Jakarta. Bahkan, hingga kini, permohonan untuk memiliki hak waralaba Ayam Bakar Wong Solo terus mengalir, sehingga Puspo kewalahan menolaknya.

Ekspansi lewat waralaba juga ditempuh Purdie E. Chandra, pemilik lembaga pendidikan Primagama yang berpusat di Yogyakarta. Menurut Purdie, awalnya ia membuka cabang dengan modal sendiri. Namun kemudian ia merasa bahwa cara seperti itu tidak efektif. Maka, Purdie pun memilih waralaba. 'Ekspansi jadi lebih mudah dan cepat karena tidak memakai dana sendiri,' katanya.

Hasilnya, kini ia memiliki 80 cabang waralaba --dari total 280 cabang Primagama. 'Idealnya, antara milik sendiri dan waralaba seimbang,' ucap Purdie. Ia mengaku, hingga kini, permohonan banyak pihak untuk mendapatkan hak waralaba Primagama terus mengalir.

Kriteria Waralaba

Sebagian orang mungkin menganggap Primagama, Wong Solo, atau Lutuye ekspansif. Akan tetapi, jika dilihat secara nasional, pertumbuhan bisnis waralaba lokal sesungguhnya tak terbilang tinggi. Lambannya pertumbuhan waralaba lokal ini disebabkan belum siapnya franchisor lokal untuk ber waralaba. Kebanyakan mereka belum memiliki konsep bisnis yang mantap dan teruji. Sementara itu, menurut Anang Sukandar, mapannya pemain asing disebabkan mereka memiliki setidaknya tiga kekuatan, yakni branding, akuntabilitas, dan kredibilitasnya teruji. Di samping itu, tentu memenuhi kriteria waralaba itu sendiri.

Menurut Andrias Harefa, hal yang terpenting dalam waralaba adalah standarisasi. Celakanya, untuk urusan ini, lanjut Andrias, 'Sebagian besar pe waralaba lokal malah belum memiliki standar.' Untuk bisa memiliki standar, ada sejumlah tahapan. Di antaranya, harus bisa mengatur diri terlebih dulu, lalu memiliki sejumlah cabang untuk bisa mengontrol standarisasinya. Kalau itu sudah, tandas Andrias, 'Baru bisa mengembangkan bentuk-bentuk lain. Jadi, jangan begitu ketemu formula, lantas mengaku siap waralaba.'

Budi Hastanto dan Devi Kusumawati, investor bisnis waralaba, mengaku bahwa keduanya memilih Ayam Bakar Wong Solo salah satunya karena pertimbangan standarisasi. Keunggulan Wong Solo, di mata mereka, adalah bahwa restoran ini tak tergantung pada koki (juru masak). Pasalnya, semuanya sudah ada takarannya.

Standarisasi juga dilakukan oleh Purdie Chandra dengan Primagama-nya. Caranya, Purdie membuat modul pelajaran yang sama. Kemudian untuk pelatihan terhadap tenaga pengajarnya pun dilakukan secara serempak. Dengan cara seperti ini, menurut Purdie, banyak cabang waralaba nya yang sukses.

Kecuali standarisasi, image dan branding juga penting. Mellyana Rani, pemilik resto-kafe-galeri Bebek Bali, menyadarinya. Itu sebabnya ia menggunakan nama Bebek Bali. Pertama, daging bebek tak asing di lidah orang Indonesia. Kedua, Rani juga ingin menjual nama Bali. 'Saya suka Bali, dan semua orang tahu soal Bali. Maka, saya gunakan nama Bali,' tuturnya. Rani mengaku menawarkan waralaba Bebek Bali karena terinspirasi oleh banyaknya waralaba asing yang masuk ke Indonesia. Dan sukses. Dengan menjual nama Bali, Rani berharap bisa go international. Harapannya terkabul. Rani kini mengaku sedang dalam negosiasi dengan investor dari negeri jiran.

Kecuali standarisasi dan nama besar, ternyata investor juga cenderung memilih sistem waralaba yang mudah untuk diadaptasi. Faktor inilah yang mendorong Linda Teresia memilih waralaba Video Ezzy asal Australia. Linda lalu menjual hak waralaba nya melalui PT Video Ezzy Internasional. 'Pemilihan pe waralaba dari Australia ini karena kami ingin mengadaptasi ilmu dari ahlinya di bidang penyewaan VCD,' cetus marketing manager PT Video Ezzy Internasional itu.

Hasilnya jitu, setidaknya untuk kasus Indonesia. Linda lalu membandingkannya dengan pengalaman di Thailand, yang selama lima tahun pihaknya hanya berhasil membuka 80 gerai. Bagaimana di Indonesia? 'Dalam tempo dua tahun, kami berhasil membuka 100 gerai,' ungkap Linda.

Lokasi yang Strategis

Akan tetapi, seluruh kriteria tadi belum menjadi jaminan sukses bagi investor. Ada faktor lain yang mesti dipertimbangkan. Misalnya, Purdie Chandra menemukan bahwa kegagalan dari beberapa cabang waralaba Primagama disebabkan oleh soal pemilihan lokasi dan kepatuhan pada sistem.

Soal lokasi, baik Purdie maupun Puspo mengungkapkan bahwa banyak pelamar yang mereka tolak karena lokasinya yang kurang bagus. 'Minimal jarak antara cabang empat kilometer,' tutur Purdie. Pe waralaba lain, seperti Garant Mobel Indonesia, sebuah franchisor furnitur pertama yang baru membuka usahanya di Indonesia, memberi batasan jarak 15 kilometer.

Selain dua hal itu, Anang Sukandar mengingatkan bahwa mereka yang berminat terhadap bisnis waralaba haruslah mau menjadi pelaksana. 'Owner must be operator,' tandas Anang. Mengapa? Sebab, pertama, waralaba adalah jalan lain dari seseorang, tentunya pemilik modal, untuk menjadi pengusaha. Kedua, biaya untuk memperoleh hak waralaba tak sedikit. Misalnya, untuk memperoleh waralaba Primagama, Purdie mengutarakan, biaya lisensinya saja Rp150 juta. Lalu ada fee royalti yang 10,7% dari penjualan kotor per bulan. Melihat besarnya investasi, sayang, bukan, kalau pemilik tak ikut mengelola jalannya perusahaan?

Kiat Berbisnis Melalui Waralaba
1. Anda harus menikmati pekerjaan

2. Jangan terlalu banyak inventori
3. Jangan terlalu banyak karyawan
4. Pastikan Anda memiliki modal yang cukup
5. Pilih lokasi yang pas

Kriteria dalam Memilih Waralaba
1. Harus ada standarisasi (dari proses produksi, operasional, pembukuan, dan SDM)
2. Profitable
3. Proven track record (berpengalaman dan mereknya sudah dikenal).

Ini bisa diukur dengan:
- franchisornya sudah memiliki minimal 10 franchisee
- franchisor sudah beroperasi lebih dari lima tahun
- franchisor harus transparan dalam melakukan franchise
4. Mereknya harus unik atau memiliki ciri khas
5. Marketable
6. Sistemnya bisa dan relatif mudah diajarkan atau dilatih
7. Affordable (tidak terlalu susah, terjangkau untuk investasi)

Jenis Waralaba yang potensial:
1. Makanan

2. Pendidikan
3. Perawatan tubuh
4. Ritel

wartaekonomi.com
SALIM SHAHAB, GENUK CHRISTIASTUTI, HENDARU, PRANANDA HERDIAWAN, DAN ADE RACHMAWATI DEVI
Read more...

Mengais Miliaran Rupiah dari Katalog dan Gondola

Thursday, June 12, 2003

Oleh : Darandono/SWA

Katalog sebagai media promosi, itu sudah jamak. Namun, mengelola katalog produk sebagai sumber pendapatan, belum banyak yang melakukan. Kecuali, beberapa peritel beken macam Carrefour, Makro, Giant, Alfa, Goro, Hero dan Alfamart -- yang makin serius mengelola katalog masing-masing.

Bahkan, beberapa peritel yang anggaran promosinya cukup besar rutin memublikasikan katalog tersebut di media massa.

Menurut Laurentius Tirta Widjaja, Direktur PT Indomarco Prismatama, pengelola jaringan supermarket Indomaret, perusahaannya mengeluarkan sekitar 1.500 eksemplar/gerai setiap edisi. Artinya, dengan total 741 gerai, Indomarco mencetak sekitar 1,1 juta eksemplar per edisi. Adapun Carrefour, menurut Trijono Prijosoesilo, Corporate & Public Relations-nya, setiap edisi menerbitkan sekitar 700 ribu eksemplar.

Trijono menyebutkan, Carrefour menerbitkan katalog dua minggu sekali. Pada setiap edisi, 100-an item produk berpartisipasi. Sayangnya, ia enggan menyebut harga yang harus dibayar para prinsipal untuk memajang produk di katalog itu. Namun, menurut sumber SWA di kalangan pelaku ritel, tarif yang dipatok Carrefour pada katalognya sekitar Rp 6 juta/item produk/edisi.

Adapun Alfamart, seperti dituturkan Endang Mawarti, Manajer Promosi dan Pengembangan PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), memasok tiap gerai 2 ribuan eksemplar. U Dengan 425 gerai, berarti SAT mencetak sekitar 850 ribu eksemplar per edisi.
Alfamart mengeluarkan katalog dua minggu sekali. Selain edisi reguler, Alfamart juga memikiki katalog edisi khusus empat kali dalam setahun. Tema edisi khusus bermacam-macam: dari tema keluarga, ulang tahun, lebaran dan natal, hingga tahun baru. Pada edisi reguler, paling tidak 40-50 item produk berpartisipasi, sedangkan pada edisi khusus 70-80 item.


Tarifnya? Pada edisi reguler, Rp 4-5 juta/item produk, sedangkan pada edisi khusus 2-3 kalinya. Alasannya, pada edisi khusus para prinsipal juga memberikan tambahan diskon untuk dikelola, dengan syarat tidak menghancurkan harga pasaran. Selain itu, prinsipal biasanya juga memberikan berbagai hadiah, baik langsung maupun diundi, kepada konsumen.

Mari kita hitung pendapatan Alfamart dari katalog. Pada edisi khusus, dimisalkan 70-an item produk berpartisipasi. Ambillah tarif yang harus ditanggung prinsipal Rp 10 juta/item produk, berarti pendapatannya Rp 700 juta/edisi. Jadi, pendapatan per tahun dari edisi khusus, Rp 2,8 miliar. Adapun dari edisi reguler, dengan 40-50 item produk yang berpartisipasi, pendapatan yang bisa digaet Rp 160-200 juta. Berarti dalam setahun, dengan 20 edisi reguler, pendapatannya Rp 3,2-4 miliar. Artinya, paling tidak pendapatan total dari katalog Rp 6-7 miliar. "Tapi semua hanya numpang lewat, karena Alfamart hanya mengelola dan dana promosi tersebut dikembalikan pada konsumen dalam bentuk hadiah, baik langsung maupun undian," ujar Endang. Belum lagi, katanya, biaya produksi per edisi Rp 100-150 juta.

Goro pun tak mau kalah. Katalognya, Goro Info, terbit 16-20 halaman tiga minggu sekali. Menurut Jasa B. Adji, PR & Investor Relations PT Goro Batara Sakti (GBS), dengan lima toko yang dikelolanya, untuk setiap edisi GBS menerbitkan 50 ribuan eksemplar (15 ribu dicetak dengan kertas HVS dan 35 ribu dicetak dengan art paper). Pada setiap edisi Goro Info memuat 80-120 item produk, dengan tarif Rp 3-3,5 juta/item produk. Target total pendapatannya per bulan dari penerbitan katalog? "Sekitar Rp 5 miliar," ujar Jasa.

Selain katalog, media lain yang bisa dijual oleh para peritel kepada prinsipal/pemasok produk adalah gondola dan pallet. Menurut Ani Suhandini, Manajer Commerce GBS, untuk memanfaatkan space yang tersedia, Goro menyewakan gondola. Jumlah gondola di setiap toko berlainan. Di Goro Kelapa Gading, 60-an unit, Pekayon 54 unit, dan Margonda 38 unit. Harga sewanya untuk wilayah Jabotabek sekitar Rp 2,5 juta/bulan. Adapun sewa pallet per m2 sekitar Rp 1 juta/bulan. "Katalog, gondola dan pallet memberikan kontribusi 2% (dari total pendapatan)," tambah Jasa.

Bagaimana Alfamart? Menurut Endang, toko Alfamart standar dengan 36 rak, punya 2-4 gondola. Untuk tipe 54, ada 4-6 gondola. Tarif sewanya, Rp 200 ribu/rak/bulan. Bila ingin menyewa satu gondola (terdiri dari lima rak), harga sewanya sekitar Rp 1 juta/bulan. Dengan 2-4 gondola/gerai, berarti dari sewa ini masing-masing toko memperoleh pendapatan Rp 2-4 juta untuk tipe standar. Sementara itu, untuk tipe 54, pendapatan dari sewa gondola Rp 4-6 juta. Bila pendapatan per toko sekitar Rp 5 juta, paling tidak dengan 425 toko, pendapatannya sekitar Rp 2 miliar. "Tidak semua gondola terisi, namun gondola yang tersewa lebih dari 50%," kata Endang.

Yang menarik, mereka yang punya space besar (misalnya hypermarket) belum tentu memperoleh pendapatan lain-lain yang lebih besar. Pasalnya, penjualan jasa ini juga tergantung dukungan yang diberikan para pemasok pada setiap toko. Apalagi, tidak semua gondola disewakan, ada yang murni dipakai untuk promosi. Carrefour, misalnya, yang menyediakan 20-30 gondola per gerai, tidak menyewakan secara penuh, tapi dikemas satu paket dengan katalog. Read more...

Waralaba Kafe CinnZeo

Wednesday, April 16, 2003

Tak bisa lari dari `takdir` Ungkapan ini pas untuk menggambarkan perjalanan Tara Amalia Diandra, komisaris PT Triandra Rasa Investama, pemegang hak waralaba kafe CinnZeo di Indonesia.

Tak bisa lari dari `takdir` Ungkapan ini pas untuk menggambarkan perjalanan Tara Amalia Diandra, komisaris PT Triandra Rasa Investama, pemegang hak waralaba kafe CinnZeo di Indonesia. Buktinya, meski pernah bercita-cita menjadi seorang dokter, toh akhirnya ia nyemplung juga menjadi pengusaha-persis yang dilakoni om (Pontjo Sutowo, Adiguna Sutowo) dan tantenya (Endang Utari Mokodompit). 'Sesudah menikah dan punya anak, saya bingung: mau ngapain. Akhirnya, ya sudah, buka usaha yang waktunya fleksibel,' katanya kepada Warta Ekonomi.

Tara mengaku, ia sebetulnya tak memiliki latar belakang bisnis. 'Saya cuma pernah bekerja di PricewaterhouseCoopers dan sebuah bank Jepang,' katanya lagi. Oleh sebab itu, ia mengambil waralaba CinnZeo sebagai proses belajar. 'Saya dibimbing oleh franchisor, dari A sampai Z. Buat saya, yang pertama kali berbisnis, memang sebaiknya mulai dengan waralaba,' ungkap sulung dari tiga bersaudara ini.

Uniknya, untuk mendapatkan CinnZeo, ia mengaku searching lewat internet. 'Saya cari-cari franchise yang menarik tapi tak terlalu mahal,' kata perempuan 28 tahun ini lagi. Butuh waktu empat bulan untuk menggandeng Global Cinnery Corporation, pemegang waralaba CinnZeo Asia Tenggara dan Cinnarol Bakeres Canada, dan menghadirkan CinnZeo di sini. 'CinnZeo dikenal dengan Cinnamon Roll-nya,' kata penyuka traveling ini, bangga.

Tara optimistis bisnisnya bakal melenggang di tengah persaingan dengan Starbucks, Coffee Bean, dan Tea Leaf. 'Tak cuma karena kelezatan Cinnamonnya, tapi juga suasana kafenya. Akan ada baking theatre, di mana pengunjung bisa melihat proses pembuatan dari bahan hingga keluar dari oven,' papar ibu seorang bayi lelaki berumur tujuh bulan ini. Begitulah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. (GCH)

Rabu, 16 April 2003
wartaekonomi.com
Read more...

Waralaba Lokal: Ayo, Diekspor Saja!

Friday, February 21, 2003

Waralaba bisa membantu menciptakan lapangan kerja. Cuma pemerintah mesti membantu dengan mempermudah pendaftaran merek, kemudahan kredit, dan menciptakan kepastian hukum.

Ayam Bakar Wong Solo mungkin belum setenar Starbuck's. Namun, ambisi pemiliknya boleh jadi sama: ingin mengusung mereknya ke seantero jagat. Caranya? Salah satunya dengan menawarkan sistem pengelolaan restoran atau kafenya ini kepada siapa pun yang mau. Sang pemilik ini tinggal mengutip fee, baik dari initial, royalti, management, ataupun technical.

Cara ini, lazim disebut waralaba, memang bukan barang baru. Cara tersebut belakangan banyak dipilih oleh mereka yang ingin menjadi pengusaha-bahkan sampai ke kelas kakap. Itu wajar saja. Lihat McDonald's, contohnya, bisa mengantongi hampir US$44 miliar sebagai intangible asset dari mereknya yang di waralaba kan. Padahal aset riilnya cuma US$12 miliar.

Bisnis waralaba di Indonesia, menurut Anang Sukandar, relatif mulai stabil sepanjang 2002, yang ditandai dengan masuknya beberapa pe waralaba asing terkenal, seperti Starbuck's dan Takesushi. Sementara itu, di dalam negeri, lanjut ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) itu, beberapa merek waralaba lokal pun mulai berkembang. Contohnya, peritel lokal Alfamart dan Indomaret lewat waralaba minimarketnya.

Penelitian Amir Karamoy & Partners, konsultan waralaba, mendukung pendapat di atas (lihat tabel). Hasil kajiannya selama 1997-2002, jumlah waralaba lokal tumbuh rata-rata 13,2%. Lalu memasuki 1999-2002, waralaba asing tumbuh 10,9% per tahun. 'Jadi, pertumbuhan waralaba asing hampir menyamai waralaba lokal,' kata Amir.

Menurut Anang, salah satu pemicu membaiknya bisnis waralaba di Indonesia adalah nilai tukar yang mulai stabil dan daya beli masyarakat yang berangsur pulih. 'Kini daya beli yang masih cukup tinggi inilah satu-satunya andalan banyak pengusaha,' katanya. Sayang, tragedi Bali memukul kembali upaya pemulihan ekonomi ini-pukulan kedua sesudah tragedi Mei 1998.

Apakah waralaba berpotensi ikut membantu pemulihan ekonomi pada 2003? 'Potensi dalam arti bisa menciptakan lapangan kerja baru, saya kira ya,' imbuh Amir. Apalagi, dugaan Amir, para pe waralaba asing bakal kian agresif mengembangkan bisnisnya. Sebab, investasi langsung akan mulai dikurangi oleh para pebisnis asing. Mengapa? Ini karena masih lemahnya penegakan hukum di Tanah Air, sehingga pola investasi yang banyak dipilih adalah waralaba. 'Dengan pola ini, risiko yang diambil investor asing akan menurun drastis dan diambil alih oleh pebisnis lokal sebagai pembeli hak waralaba,' kata Amir.

Menurut Amir, jenis usaha yang berpotensi untuk di waralaba kan selama 2003 akan bertambah. Mulai dari restoran (makanan dan minuman), pelatihan (pendidikan), bisnis eceran, otomotif, perminyakan (stasiun pengisian bahan bakar umum/SPBU), hingga klinik dokter spesialis (lihat tabel). 'Era AFTA 2003 akan membuka pintu yang lebih besar bagi negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura, untuk menyerbu Indonesia,' katanya. Mereka adalah perusahaan yang berpusat di Singapura tetapi mendapat dukungan modal dari Eropa dan AS.

Anang Sukandar setuju akan hal itu. Namun, ia lebih melihat AFTA sebagai kesempatan bagi waralaba lokal untuk go global. 'Boleh saja lokal meniru yang dilakukan asing, tetapi mereka juga harus menekuni sistem pemasaran yang baik. Bukan hanya membuat instant franchising,' katanya.

Bicara soal go global, Amir melihat BUMN seperti Pertamina atau PT Pos Indonesia berpotensi untuk mengekspor waralaba nya ke negara-negara tetangga. 'Ini akan memperkuat perkembangan bisnis waralaba nasional,' tandasnya. Pasalnya, pola ekspor Indonesia yang mengandalkan sumber-sumber alam, seperti kayu lapis, rotan, dan sebagainya, sudah ketinggalan zaman. 'Merek dagang Mesran Prima dari Pertamina mestinya bisa diekspor dengan cara waralaba,' ujarnya.

Ekspor waralaba juga dirintis oleh pebisnis lokal, seperti PT Mustika Ratu dengan mengekspor merek Taman Sari Royal Heritage Spa-nya ke Malaysia. Bahkan dalam waktu dekat perusahaan itu juga bakal mengekspor waralaba spanya ke Brunei, Singapura, dan Jepang. Lalu ada juga Ayam Bakar Wong Solo, yang belum lama ini, melalui PT Sarana Bakar Digdaya (perusahaan pemilik merek dagang dan pemegang hak waralaba Wong Solo), menawarkan waralaba nya kepada pengusaha dari Malaysia. Ekspansi ini, menurut Puspo Wardoyo, pemilik PT Sarana Bakar Digdaya, 'Diharapkan menjadi waralaba utama dari Indonesia.'

Rumah makan asli Indonesia memang potensial diekspor lewat sistem waralaba, ungkap Amir. Ia juga menyebut restoran padang Sederhana, rumah makan khas masakan Manado, dan restro Bebek Bali sebagai merek yang potensial. 'Sebenarnya mereka sudah punya standar sendiri, hanya belum dikodifikasi,' katanya. Contohnya, takaran garam dibuat dua sendok makan, yang sebenarnya bisa disetarakan dalam ukuran gram.

Cuma untuk menyebut sebuah bisnis laik di waralaba kan memang tak mudah. Setidaknya ada lima ukuran. Pertama, menurut Anang, minimal perusahaan tersebut selama tiga tahun teruji dalam bisnis yang sama. Kedua, ada dua cabang yang terbukti untung selama tiga tahun berturut-turut berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, Ketiga, produknya unik. Keempat, sistemnya tidak ruwet dan mudah diajarkan. Kelima, pasarnya luas.

Nah, agar makin banyak merek lokal yang bisa di waralaba kan, dan bisnis waralaba berkembang, pemerintah mestinya ikut berperan. Misalnya, proses mengurus pendaftaran merek dipermudah, begitu juga untuk mendapatkan kreditnya. Namun, harus tetap diingat, waralaba itu bisnis skala Usaha Kecil Menengah (UKM).

Soal kemudahan dana, sikap pemerintah Malaysia layak ditiru. Pemerintah sana menganggarkan 100 juta ringgit (setara Rp230 miliar) untuk bisnis waralaba. Lalu mereka juga menggelar program pendidikan dan latihan untuk calon-calon ter waralaba (franchisee) selama beberapa bulan.

Di Indonesia, masalah dana mungkin bisa menjadi persoalan. Kendati demikian, ada yang mestinya bisa dilakukan pemerintah, yakni menyiapkan perangkat hukumnya. Pasalnya, hingga kini, produk hukum yang mengatur soal waralaba baru ada PP No. 16/1997, yang dijabarkan dalam SK Menperindag No. 259/1997. 'Seharusnya bisa setingkat UU, sehingga ada perlindungan hukum yang jelas bagi pe waralaba,' tandas Amir.


Bidang Usaha yang Potensial Dikembangkan secara Waralaba 2003
1. Restoran
2. Minimarket
3. Toko produk khusus seperti buku, apotek, kacamata, komputer, mainan anak-anak
4. Lembaga pendidikan khusus (bahasa, manajemen, keuangan, komputer, prasekolah, dan taman bermain)
5. Gerai penjualan mobil
6. Bengkel
7. Produk migas (SPBU dan ganti oli)
8. Hotel bintang tiga
9. Klinik spesialis
10. Warpos, warnet, wartel
11. Jasa kurir
12. Jasa penyewaan kendaraan
13. Jasa reparasi produk elektronik
14. Jasa binatu
15. Foto dan cetak kilat
16. Broker real estate
17. Broker saham
18. Furniture
19. Produk/jasa TI
20. Jasa konstruksi
21. Taman rekreasi
22. Jasa konsultan hukum
23. Jasa akunting dan pajak
24. Jasa public relations dan periklanan
25. Jasa penyalur tenaga kerja
26. Salon kecantikan
27. Radio siaran dan penerbitan media cetak

wartaekonomi.com
Sumber: Amir Karamoy & Partners
Read more...

19 Kriteria Memilih Waralaba Yang Tepat Untuk Anda

Sunday, January 12, 2003

Bila anda telah memutuskan bahwa waralaba adalah pilihan bisnis yang tepat untuk anda, salah satu keputusan pertama yang harus diambil adalah mengidentifikasi konsep usaha dan franchisor yang tepat bagi anda.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah :

1. Jenis Pekerjaan
Anda harus menikmati pekerjaan anda di bisnis yang anda pilih. Sebagai contoh, bila anda tidak suka merangkak di bawah mobil, jangan memasuki bisnis perbaikan knalpot atau ganti oli. Sam Walton pendiri Wall Mart mengatakan kunci suksesnya adalah karena ia menyukai dunia retail bukan sebagai pekerjaan, namun sudah merupakan hobi baginya.

2. Pelatihan/Pendidikan Khusus
Beberapa jenis bisnis, seperti waralaba jasa profesional, misalnya jasa pengacara, menuntut pelatihan atau pendidikan khusus yang tidak bisa diberikan hanya dalam beberapa minggu. Jenis waralaba seperti ini adalah pilihan yang sangat baik bagi para profesional di bidang jasa yang ditawarkan, tapi harus dihindari oleh mereka yang tidak memiliki pengetahuan teknis yang dibutuhkan untuk mengoperasikan waralaba ini.

3. Jumlah Karyawan
Bisnis padat karya membawa banyak kompleksitas seperti mencari dan mempertahankan tenaga kerja yang baik, kepatuhan kepada peraturan pemerintah menyangkut tunjangan karyawan, dan sebagainya. Banyak masalah ini bisa dihindari dengan memilih suatu bisnis yang bisa dijalankan oleh anggota keluarga ditambah dengan tenaga penuh atau paruh-waktu.

4. Persyaratan Inventory
Bisnis yang mensyaratkan inventory dalam jumlah besar bukan hanya menuntut modal kerja yang lebih besar, tapi juga mengandung banyak resiko yang berkaitan dengan kemungkinan usangnya inventory atau pemilihan inventory yang tidak tepat. Bisnis jasa sangat populer belakangan ini karena bisnis ini mensyaratkan sedikit inventory atau tidak ada sama sekali, dan hal ini menguntungkan bagi pemilik bisnis.


Jika perlu memiliki inventory, bagaimana pengaturan pasokan produk untuk usaha waralaba tersebut. Apakah produk tersebut secara ekslusif dipasok oleh franchisor, berapa harganya dan bandingkan dengan harga jika dibeli tanpa melalui franchisor. Umumnya franchisor yang baik memberikan harga lebih murah dibandingkan harga pasaran normal, karena skala yang dimilikinya. Jika harga dari franchisor lebih tinggi, sebaiknya tidak memutuskan pembelian hak waralaba tersebut.

5. Kerentanan Terhadap Fluktuasi Ekonomi
Suatu bisnis dalam bidang barang atau jasa dasar yang selalu dicari konsumen di saat makmur maupun resesi menawarkan keamanan terhadap fluktuasi ekonomi. Ketika laju ekonomi melambat, orang cenderung mengurangi pengeluaran besar yang tidak penting (seperti mobil, mebel, dan barang mewah) dan mengurangi penggunaan jasa (seperti jasa perjalanan dan liburan). Kebutuhan dasar seperti makanan, barang kelontong, jasa bisnis, pos, dan pengiriman secara relatif tidak terpengaruh.

6. Syarat Modal Untuk Memulai
Alasan paling umum tutupnya suatu bisnis adalah kurangnya modal. Pastikan anda memilih bisnis yang sesuai dengan modal yang anda miliki. Jangan memaksakan diri anda atau meminjam terlalu banyak, sehingga anda tidak bisa melalui fase awal. Selain modal yang diperlukan untuk peralatan, perlengkapan, inventory, dan konstruksi, anda harus memiliki cukup modal kerja untuk melewati fase awal dimana cash flow anda negatif.


Ingatlah bahwa perkiraan modal kerja yang diberikan oleh franchisor hanyalah sebuah perkiraan. Untuk amannya anda perlu melipatgandakan perkiraan modal kerja tersebut dua atau tiga kali lipatnya. Tanyakan pula kepada franchisor apakah perlu dana tambahan selain franchise fee, royalti dan modal kerja serta berapa nilainya. Apakah franchisor juga memberikan bantuan dalam soal dana, dan bagaimana bentuknya.

7. Tingkat Pertumbuhan
Sebuah perusahaan waralaba yang sehat akan memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi dalam hal jumlah unit yang dibukanya setiap tahun. Jangan tertipu oleh perusahaan waralaba yang memberikan "prosentase pertumbuhan". Evaluasi yang berdasarkan prosentase pertumbuhan (bukannya jumlah unit yang dibuka) bisa memberi rasa aman yang semu pada calon pembeli.

Misalnya, sebuah perusahaan waralaba yang hanya memiliki satu outlet bisa menambah tiga outlet tahun berikutnya dan menunjukkan tingkat pertumbuhan sebesar 300% . Padahal, franchisor yang memiliki 1000 outlet harus menambah 3000 outlet lagi untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang sama. Dengan melihat ukuran relatif kedua perusahaan, maka tidak tepat untuk membandingkan prosestase tingkat pertumbuhan mereka. Sebaliknya, suatu evaluasi harus dibuat berdasarkan jumlah outlet yang dibuka sebuah perusahaan dalam tahun-tahun terakhir.

Tingkat pertumbuhan yang kuat secara positif mempengaruhi kemampuan franchisor untuk mendukung pemilik waralaba. Perusahaan waralaba yang mendapat banyak pemasukan dari waralaba fee akan dapat mengangkat staff dan memberikan berbagai jenis dukungan pada pemilik waralaba mereka. Sementara itu, franchisor yang sistemnya tidak berkembang pada tingkat yang baik biasanya tidak mampu melakukan hal tersebut.

Suatu tingkat pertumbuhan yang tetap, seperti yang ditunjukkan dengan penambahan jumlah outlet setiap tahun, adalah suatu indikator kesehatan dan potensi keuntungan dari sebuah peluang waralaba. Berhati-hatilah dengan tingkat pertumbuhan yang diberikan dalam bentuk prosentase pertumbuhan karena hal ini sering menipu.

8. Tingkat Keuntungan dan Kondisi Keuangan
Penjelasan Peraturan Pemerintah tentang waralaba yaitu, PP No. 16 Tahun 1997 Pasal 3 point a, mensyaratkan perusahaan waralaba untuk mengungkapkan kondisi keuangan franchisor kepada calon franchisee. Alasannya sudah jelas. Anda pasti tidak mau menginvestasikan tabungan seumur hidup anda untuk sebuah waralaba bila franchisor berada diambang kebangkrutan sehingga tidak akan bisa memberikan dukungan yang sudah anda bayar berupa franchise fee.

Franchisor harus bersedia memberikan sebuah neraca yang menunjukkan aset dan liabilities, dan juga laporan keuangan serta laporan pengeluaran yang menunjukkan apakah franchisor memperoleh untung atau tidak. Paling sedikit franchisor harus menunjukkan laporan keuangan selama tiga tahun kebelakang. Kajilah laporan keuangan ini secara hati-hati sebelum anda mengambil keputusan. Mintalah jasa professional jika anda mengalami kesulitan memahaminya.

Akal sehat menyatakan tidak ada franchisor yang terus merugi yang akan bertahan lama di pasar yang kompetitif. Sekarang ini sebuah perusahaan waralaba harus bisa menunjukkan kemampuannya beroperasi secara menguntungkan. Laporan keuangan sebuah perusahaan waralaba bisa didapat dari laporan keuangannya atau dari edaran penawaran waralaba-nya. Dokumen-dokumen ini akan memberikan wawasan tentang berapa lama perusahaan ini telah beroperasi dan seberapa stabil kondisi keuangannya.

Franchisor yang sehat dan kuat akan memunculkan cabang yang kuat pula. Sama seperti itu, sebuah korporasi yang menguntungkan adalah indikator yang baik yang menyatakan bahwa franchisor dapat memberi dukungan pada jaringan waralaba-nya. Ketika membeli sebuah waralaba, anda harus memperoleh keyakinan atas kemampuan franchisor untuk bertahan dan memberi dukungan yang memadai yang anda butuhkan di masa depan. Hindari bermitra dengan franchisor yang terus merugi.

9. Lama Berada Dalam Bisnis
Adalah tindakan bijaksana mengurangi resiko investasi dengan membeli waralaba dari perusahaan yang telah beroperasi selama beberapa tahun. Aturan umumnya franchisor telah beroperasi dengan baik selama paling sedikit lima sampai sepuluh tahun. Tantangan yang dihadapi bisnis-bisnis baru besar sekali - banyak franchisor pemula yang hanya bertahan beberapa tahun. Banyak franchisor fast-food datang dan pergi, tapi McDonald's terus menjadi salah satu investasi terbaik dalam industri fast-food selama bertahun-tahun. Pengalaman bisnis McDonald's selama bertahun-tahun ini membantu mereka memenangkan dominasi di bidangnya.

Apakah ini berarti anda harus membeli sebuah McDonald's dan memasuki bisnis fast-food? Tidak. Tapi ini berarti bahwa anda harus membeli McDonald's-nya industri yang anda pilih, apakah itu bisnis automotif, komputer, rekreasi atau jasa bisnis, pasti ada satu perusahaan yang terbaik dalam industrinya.
Kemampuan mempertahankan posisi puncak di industri manapun untuk waktu yang lama adalah suatu indikasi bahwa manajemen tersebut akan bisa mengatasi ancaman kompetisi di masa depan.

Pada masa mendatang persaingan di dunia usaha akan semakin sengit. Akan bermunculan perusahaan-perusahaan baru baik lokal maupun multinasional yang memperebutkan pasar yang sama. Dalam pasar yang sangat kompetitif, suatu peluang waralaba yang telah bertahan dengan tingkat pertumbuhan yang sehat dalam waktu lama menunjukkan resiko yang lebih kecil bagi calon pemilik waralaba. Pepatah lama, "waktu adalah uang" bisa berarti bahwa terdapat sedikit resiko bersama perusahaan waralaba yang memiliki sejarah yang panjang dan stabil.

10. Cakupan Jaringan Waralaba
Sebagai calon pemilik waralaba, anda sebaiknya memilih franchisor yang sistemnya telah berkembang dengan membentuk jaringan yang besar. Walaupun konsep ukuran adalah relatif, ukuran yang membuat pemilik waralaba bisa menikmati keunggulan ekonomi adalah yang terbaik. Bagaimana seseorang menentukan bahwa sebuah waralaba telah berkembang menjadi jaringan yang besar? Sederhana saja. Petunjuk pertama adalah pengenalan akan nama. Bila anda dengan cepat mengenal nama dan logo sebuah perusahaan waralaba tanpa harus melakukan riset, maka besar kemungkinan bahwa franchisor tersebut sudah memiliki jaringan.


Selain itu, tanyakan apakah perusahaan pusat memiliki kekuatan membeli sehingga mampu menegosiasikan diskon partai besar serta kontrak nasional eksklusif bagi pemilik waralaba-nya. Yang terakhir, cari tahu apakah anda bisa bergantung dalam kerjasama untuk iklan lokal, regional, atau nasional.

Faktor-faktor diatas bermakna bahwa franchisor cukup besar untuk bisa meneruskan keuntungan jaringan pada anda. Jangan tertipu dengan rendahnya waralaba fee yang ditawarkan oleh perusahaan waralaba yang tidak dikenal. Prinsip yang berbunyi "caveat emptor" (teliti sebelum membeli) adalah kunci untuk memasuki oraganisasi ini. Kekuatan jaringan nasional atau regional akan jauh lebih berarti daripada sedikit perbedaan franchise fee. Ingatlah, biasanya anda mendapat senilai apa yang anda bayarkan.

11. Posisi Dalam Industri
Adalah tindakan bijaksana untuk memilih yang No.1 dalam bidangnya. Sering terjadi persaingan kuat antara waralaba yang menawarkan jasa yang sama atau serupa. Posisi puncak dalam industri biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertahan dalam perjuangan meraih pangsa pasar. Dalam setiap industri pasti terjadi goncangan. Yang pertama jatuh adalah perusahaan independen. Berikutnya adalah jaringan yang lebih lemah dan lebih kecil. Hanya waralaba-waralaba terkuat yang bisa bertahan dan satu akan muncul sebagai yang terbaik. Pilihlah McDonald's dari setiap jenis industri maka peluang anda untuk bertahan akan lebih besar.

Sedikit waktu di perpustakaan akan memberitahukan anda siapa pemimpin di industri yang ingin anda masuki. Majalah-majalah bisnis seperti Entrepreneur dan Inc. menerbitkan urutan perusahaan waralaba setiap tahunnya. Penyusunan urutan ini dilakukan oleh organisasi independen dan merupakan sumber terbaik untuk menentukan pimpinan dalam tiap industri. IFA, Departemen Perdagangan Dalam Negeri dan AFI juga merupakan sumber informasi yang perlu dipertimbangkan.

Jangan bergantung pada kata-kata wiraniaga waralaba. Lihatlah ranking yang diterbitkan organisasi independen bila anda ingin mengetahui bagaimana sebuah perusahaan waralaba bertahan dalam persaingan. Bila perusahaan tersebut termasuk dalam kelompok 10% teratas, maka mereka memiliki kemungkinan bertahan dalam goncangan pasar.

12. Bantuan Pemilihan Lokasi
Lokasi yang baik - yang memberikan akses pada sejumlah besar kelompok target pasar - adalah salah satu faktor penting yang menentukan tingkat penjualan sebuah outlet retail. Karenanya, sebuah perusahaan waralaba retail akan memberikan semacam bantuan lokasi dan/atau persetujuan untuk setiap lokasi waralaba bagi para pemilik waralaba-nya. Unsur-unsur lokasi yang baik - fasilitas yang maksimum, lalu lintas customer yang cukup, demografi populasi yang padat - perlu dikaji oleh seorang yang ahli. Bahkan program komputer paling canggih sekalipun tidak bisa menggantikan seorang ahli real estate yang berpengalaman dalam mengkaji lokasi yang ideal untuk retail.

Program komputer untuk analisa lokasi yang memeriksa faktor demografi adalah alat yang baik, tapi tidak ada yang bisa menggantikan seorang ahli real estate yang mengenal jenis bisnis ini dan mengenal wilayah pasarnya. Siapa saja bisa menyebut suatu lokasi yang lalu lintas customernya tinggi untuk saat ini. Namun, lalu lintas customer hanyalah salah satu faktor yang harus dipertimbangkan. Kebanyak operator independen tidak menyadari banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan ketika memilih lokasi yang tepat untuk bisnis mereka. Seorang penyeleksi lokasi yang berpengalaman akan mencari tempat-tempat kunci yang memiliki potensi tertinggi dan juga akan membantu mendapatkan persyaratan serta kondisi sewa terbaik.

Kesalahan dalam memilih lokasi bisa berakibat fatal. Berhati-hatilah dengan perusahaan waralaba yang membiarkan anda memilih lokasi sendiri tanpa mereka memeriksanya. Perusahaan waralaba yang lebih mapan pasti memiliki staff penyeleksi lokasi yang berpengalaman dan mengenal analisa lokasi yang tepat. Staff ini akan bekerja membantu anda memilih lokasi yang terbaik bagi waralaba anda.
Selain itu pemilihan lokasi usaha waralaba juga harus mengacu pada Kepmen No. 259/MPP/Kep/7/1997 Pasal 18.

13. Fasilitas Desain dan Konstruksi
Semua perusahaan waralaba yang baik memberi bantuan dan membuat standar untuk fasilitas desain dan konstruksi. Manajemen konstruksi dan modul fixture toko tersedia bagi semua franchisee melalui perusahaan waralaba-nya. Berhati-hatilah dengan perusahaan yang membiarkan anda merancang toko anda sendiri. Anda membayar untuk mendapat keahlian mereka. Betapapun bagusnya anda, mungkin ada detil yang terlewatkan dan ini mungkin memerlukan biaya besar untuk mengoreksinya bila fasilitas itu sudah dibangun. Bila perusahaan waralaba menyediakan kemudahan utama atau manajemen konstruksi, anda akan terhindar dari rasa frustrasi karena berhubungan dengan kontraktor, tukang listrik, dan orang-orang dari bidang konstruksi lain.

Perusahaan-perusahaan waralaba yang paling mapan akan menawarkan paket modul toko, serta panduan dan standar untuk citra dan rancangan. Penampilan sebuah outlet waralaba harus mencerminkan citra perusahaan waralaba yang menjadi induknya. Para franchisor banyak menghabiskan biaya iklan agar nama, logo, dan tokonya dikenal oleh masyarakat. Para franchisee akan membantu upaya pengenalan ini dengan cara menyesuaikan diri dengan standar yang dibentuk oleh franchisor.

14. Pelatihan
Pelatihan adalah salah satu komoditas terpenting yang ditawarkan oleh franchisor. Dengan bersenjatakan pengetahuan yang didapat dari pelatihan, para franchisee lebih siap mengatasi hambatan-hambatan umum. Karena menyadari ini, hampir semua franchisor mewajibkan pelatihan di kelas maupun praktek bagi semua franchisee-nya. Walaupun lama pelatihan ini berbeda untuk tiap waralaba, tapi biasanya tidak kurang dari dua atau tiga minggu.
Setiap franchisor harus memiliki sekumpulan manual pelatihan. Beberapa perusahaan lain bahkan menawarkan sumber-sumber tambahan seperti video dan kaset untuk digunakan sebagai alat pelatihan kontinyu oleh pemilik waralaba-nya.

Waspadalah terhadap perusahaan waralaba yang menyatakan bahwa mereka bisa mengajarkan semua hal pada anda hanya dalam beberapa hari pelatihan di toko anda. Mintalah garis besar program pelatihan dan periksalah dengan teliti. Program ini harus mencakup pelatihan di kelas dan praktek. Yang harus juga dipelajari adalah aspek sehari-hari toko tersebut serta topik manajemen bisnis secara umum seperti persiapan rencana kerja, akuntansi, dan pemasaran. Mintalah program pelatihan yang direncanakan oleh franchisor ketika mengevaluasi pilihan waralaba.
Penting juga mempertimbangkan kualitas pelatihan yang diberikan franchisor sebelum anda membelinya. Seberapa pengalaman para staff pelatihannya? Materi apa yang mereka tawarkan? Apakah ada pelatihan di lapangan yang kontinyu?

15. Dukungan Grand Opening
Hari grand opening! Ini adalah peluang promosi yang penting untuk memulai waralaba dan menjalankannya. Perusahaan waralaba yang mapan akan menawarkan paket promosi untuk memaksimalkan peluang ini. Paket promosi dan program pemasaran grand opening yang lengkap harus tersedia. Spanduk, flyers, gantungan pintu, poster, iklan, dan banyak lagi harus disediakan bagi pemilik waralaba pada hari pembukaan. Perusahaan waralaba yang baik juga akan menyediakan staff-nya untuk membantu mengatur toko dan mengatur promosi grand opening.

Hari-hari pertama setelah pembukaan adalah pengalaman yang menantang. Perusahaan yang baik akan menyediakan staff ahli yang membantu anda selama masa itu. Dukungan ini adalah keuntungan lain dari bergabung dengan suatu jaringan waralaba yang sehat dan kuat.
Hal-hal yang penting dalam promosi grand opening adalah sebuah spanduk eksterior yang terlihat dari jalan, diikuti poster di jendela, flyers, gantungan pintu, balon, dan iklan yang mengumumkan diskon dan program pembukaan.

16. Dukungan Operasional Yang Berkesinambungan
Keyakinan anda pada suatu konsep waralaba bisa diukur sampai sejauh mana perusahaan itu memberi dukungannya. Bila franchisor segan memberikan bantuan ini mungkin berarti kesulitan besar bagi franchisee. Dukungan operasional yang kontinyu adalah hal yang penting. Franchisor harus memperkerjakan para ahli operasional yang benar-benar memahami setiap detil operasi waralaba dan didukung oleh staff kantor pusat yang kuat.

Beberapa jenis metoda pendukung adalah nomor telepon bebas pulsa, jaringan komputer, konvensi nasional serta konferensi regional, dan persiapan program serta materi pemasaran. Hal lainnya adalah pembentukan program media nasional, pembentukan dewan penasehat pemilik waralaba, pengembangan produk baru, dan tersedianya sumber pemasaran. Fungsi dukungan periferal ini bisa memberi perbedaan besar pada pengalaman waralaba anda.

Sebelum mengambil keputusan membeli sebuah waralaba, lakukan evaluasi atas program dan kemampuan dukungan perusahaan. Apakah mereka memiliki perwakilan lokal yang dibantu oleh organisasi pendukung (kantor pusat) yang baik? Hindari operasi yang tidak memiliki kemampuan memberikan dukungan lapangan kontinyu pada tingkat nasional.

17. Wilayah Waralaba Ekslusif
Di dalam Kepmen No. 259/MPP/Kep/7/1997 Pasal 19, dicantumkan bahwa franchisor dilarang menunjuk lebih dari satu franchisee di lokasi yang berdekatan. Hal ini disebabkan karena satu masalah utama yang dihadapi unit waralaba adalah persaingan dengan franchisor atau unit waralaba lainnya. Walaupun ekspansi sistem waralaba diperlukan untuk memperoleh keuntungan -- seperti pembelian partai besar, jaringan, iklan bersama, pengenalan nama, dan sebaginya -- franchisor yang baik tidak akan memunculkan persaingan antara tokonya sendiri dan unit waralaba lain. Sebagian besar perusahaan waralaba memberi semacam jaminan bahwa sebuah toko yang berpotensi menjadi saingan tidak akan dibuka di "wilayah waralaba individual eksklusif".

Ukuran wilayah yang dilindungi ini berbeda-beda tergantung pada demografi, kepadatan penduduk, pola perjalanan, dan populasi penduduk yang dibutuhkan untuk mendukung sebuah outlet. Beberapa pemilik waralaba berasumsi bahwa semakin besar wilayah ini semakin baik. Sebenarnya bukan ini masalahnya. Wilayah yang dilindungi ini harus cukup besar untuk sebuah toko bisa berhasil, tapi cukup kecil agar saingan bisa masuk. Alfamart misalnya menentukan bahwa satu minimarket harus melayani paling sedikit 500 kepala keluarga.

Sebagai contoh, bila seorang franchisor hanya mengijinkan satu outlet di sebuah kota yang mampu menampung 10 outlet, maka saingan akan mengisi kekurangannya. Kekuatan dari sembilan unit saingan ini akan membuat mereka bisa membangun identitas nama dagang dengan melakukan lebih banyak iklan dan membuat mereka lebih jelas terlihat daripada pemilik waralaba tunggal. Pada akhirnya, pihak saingan ini akan membuka toko kesepuluh dekat pemilik waralaba tunggal yang sudah tidak memiliki daya saing ini.

Berhati-hatilah pada franchisor yang tidak memberikan wilayah atau teritori eksklusif yang melebihi batas wajar suatu wilayah bisnis. Mereka ini mungkin tidak memperdulikan kepentingan jangka panjang unit-unit waralaba mereka.

18. Franchise Fee
Franchise fee harus dikaji untuk mengetahui apakah perusahaan waralaba ini sah atau tidak. Fee yang hanya beberapa ratus dollar (bagi waralaba asing) atau dibawah lima belas juta (bagi waralaba lokal) harus dicurigai, karena tidak mungkin perusahaan waralaba bisa memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh para pemilik waralaba-nya. Waspadalah terhadap perusahaan waralaba "mail-order" yang tidak memberikan dukungan atau yang menawarkan membantu anda tanpa biaya royalty atau franchise fee. Bisa-bisa anda harus membayar biaya konsultasi di muka yang besar, dan kemudian ditinggalkan setelah menerima peralatan dan fixture yang rendah mutunya. Tidak bijaksana membeli waralaba tanpa mengkaji dokumennya. Anda baru boleh memasuki proses pembayaran setelah mengkaji dokumen penawaran selama minimal 10 hari kerja.

Perusahaan waralaba yang sah memiliki kepentingan jangka panjang terhadap kemampuan kontinyu unit waralaba-nya dalam mencapai keberhasilan. Beberapa perusahaan yang diragukan bahkan menghindari mengungkapkan hukum yang berkenaan dengan waralaba. Sering terjadi para pemimpin perusahaan semacam ini mengumumkan bahwa mereka bangkrut ketika berhadapan dengan tuntutan pengadilan dari para pemilik waralaba yang pernah mereka tipu, dan mereka memulai lagi tipuan ini dengan nama perusahaan yang lain. Karena mereka tidak menunjukkan dokumen yang sah, anda tidak bisa tahu berapa kali mereka pernah bangkrut.

Peraturan FTC di Amerika melarang franchisor menerima uang sebelum calon pembeli mengkaji dokumen penawaran selama paling tidak 10 hari kerja. Peraturan pemerintah No. 16 Tahun 1997 Pasal 3, mewajibkan franchisor memberikan informasi dan memberikan waktu yang cukup untuk mempelajarinya kepada calon franchisee sebelum mereka menandatangani perjanjian waralaba. Berhati-hatilah dengan perusahaan yang mengundang anda untuk bertemu dan meminta anda membawa buku cek.

19. Pembiayaan Sebuah Waralaba
Menurut International Franchise Association, biaya memulai sebuah waralaba bisa serendah $8.000 atau bahkan setinggi $5 juta. Franchise fee dari waralaba lokal di Indonesia berkisar antara 10 juta sampai 400 juta rupiah. Biaya ini biasanya mencakup initial fee, renovasi, supply dan inventory, deposit, biaya sebelum memulai bisnis, biaya pelatihan, dan modal kerja. Biaya lain yang akan muncul kemudian adalah royalti yang besarnya antara 2 - 15% dari penjualan.

Satu masalah besar yang dihadapi calon franchisee adalah memikirkan bagaimana mendapat biaya awal (franchise fee). Pengaturan terbaik adalah mencari perusahaan waralaba yang memberi bantuan finansial, seperti menyewakan peralatan dan fixture tanpa meminta agunan rumah anda. Niat baik pemberian bantuan keuangan ini menunjukkan bahwa pihak perusahaan waralaba tersebut kuat secara finansial dan yakin bahwa bisnis tersebut bisa menghasilkan pendapatan yang cukup untuk anda membayar sewa tersebut.

Perusahaan waralaba yang menginginkan semua pembayaran dilakukan di muka harus diwaspadai. Ini adalah tanda bahaya yang menunjukkan bahwa mungkin perusahaan tersebut lemah keuangannya atau tidak cukup yakin usaha tersebut bisa memberi pendapatan yang cukup untuk anda. Biasanya perusahaan waralaba semacam ini adalah perusahaan baru dan bereksiko lebih besar dibanding saingannya yang lebih mapan. Cara terbaik untuk mengevaluasi franchisor seperti ini adalah dengan melakukan referensi cek kepada franchisee mereka yang masih aktif dan yang tidak aktif.

Ke-19 kriteria pemilihan yang dikemukakan ini dirancang untuk membantu anda dalam proses pemilihan waralaba/franchisor. Bila anda sudah menemukan satu atau lebih konsep bisnis yang tepat untuk anda, anda harus mengevaluasi beberapa perusahaan (franchisor) yang menawarkan jenis waralaba serupa.

Anda harus melakukan sendiri penyelidikan yang mendalam terhadap peluang waralaba sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian hak waralaba tersebut. Mungkin anda perlu berkonsultasi dengan pengacara atau akuntan anda. Bertanya pada pemilik waralaba yang sudah ada juga cara yang baik untuk mendapat informasi. Ingat bahwa tidak mungkin menemukan sebuah perusahaan waralaba dimana semua pemiliknya merasa senang. Tapi anda bisa melakukan suatu penyelidikan yang tekun untuk memuaskan diri anda bahwa anda telah memilih waralaba yang tepat.

Pilihan anda atas pembelian hak waralaba mungkin merupakan keputusan terpenting yang pernah anda buat selama hidup anda. Kami harap informasi ini akan membantu anda mengambil keputusan yang tepat. Apapun keputusan itu, semoga anda berhasil dalam perjuangan anda mencapai keberhasilan usaha.

Sumber: S. Muharam, Sukses Membeli Hak Waralabba
SMfr@nchise, January 2003 Read more...