Waralaba Lokal: Ayo, Diekspor Saja!

Friday, February 21, 2003

Waralaba bisa membantu menciptakan lapangan kerja. Cuma pemerintah mesti membantu dengan mempermudah pendaftaran merek, kemudahan kredit, dan menciptakan kepastian hukum.

Ayam Bakar Wong Solo mungkin belum setenar Starbuck's. Namun, ambisi pemiliknya boleh jadi sama: ingin mengusung mereknya ke seantero jagat. Caranya? Salah satunya dengan menawarkan sistem pengelolaan restoran atau kafenya ini kepada siapa pun yang mau. Sang pemilik ini tinggal mengutip fee, baik dari initial, royalti, management, ataupun technical.

Cara ini, lazim disebut waralaba, memang bukan barang baru. Cara tersebut belakangan banyak dipilih oleh mereka yang ingin menjadi pengusaha-bahkan sampai ke kelas kakap. Itu wajar saja. Lihat McDonald's, contohnya, bisa mengantongi hampir US$44 miliar sebagai intangible asset dari mereknya yang di waralaba kan. Padahal aset riilnya cuma US$12 miliar.

Bisnis waralaba di Indonesia, menurut Anang Sukandar, relatif mulai stabil sepanjang 2002, yang ditandai dengan masuknya beberapa pe waralaba asing terkenal, seperti Starbuck's dan Takesushi. Sementara itu, di dalam negeri, lanjut ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) itu, beberapa merek waralaba lokal pun mulai berkembang. Contohnya, peritel lokal Alfamart dan Indomaret lewat waralaba minimarketnya.

Penelitian Amir Karamoy & Partners, konsultan waralaba, mendukung pendapat di atas (lihat tabel). Hasil kajiannya selama 1997-2002, jumlah waralaba lokal tumbuh rata-rata 13,2%. Lalu memasuki 1999-2002, waralaba asing tumbuh 10,9% per tahun. 'Jadi, pertumbuhan waralaba asing hampir menyamai waralaba lokal,' kata Amir.

Menurut Anang, salah satu pemicu membaiknya bisnis waralaba di Indonesia adalah nilai tukar yang mulai stabil dan daya beli masyarakat yang berangsur pulih. 'Kini daya beli yang masih cukup tinggi inilah satu-satunya andalan banyak pengusaha,' katanya. Sayang, tragedi Bali memukul kembali upaya pemulihan ekonomi ini-pukulan kedua sesudah tragedi Mei 1998.

Apakah waralaba berpotensi ikut membantu pemulihan ekonomi pada 2003? 'Potensi dalam arti bisa menciptakan lapangan kerja baru, saya kira ya,' imbuh Amir. Apalagi, dugaan Amir, para pe waralaba asing bakal kian agresif mengembangkan bisnisnya. Sebab, investasi langsung akan mulai dikurangi oleh para pebisnis asing. Mengapa? Ini karena masih lemahnya penegakan hukum di Tanah Air, sehingga pola investasi yang banyak dipilih adalah waralaba. 'Dengan pola ini, risiko yang diambil investor asing akan menurun drastis dan diambil alih oleh pebisnis lokal sebagai pembeli hak waralaba,' kata Amir.

Menurut Amir, jenis usaha yang berpotensi untuk di waralaba kan selama 2003 akan bertambah. Mulai dari restoran (makanan dan minuman), pelatihan (pendidikan), bisnis eceran, otomotif, perminyakan (stasiun pengisian bahan bakar umum/SPBU), hingga klinik dokter spesialis (lihat tabel). 'Era AFTA 2003 akan membuka pintu yang lebih besar bagi negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura, untuk menyerbu Indonesia,' katanya. Mereka adalah perusahaan yang berpusat di Singapura tetapi mendapat dukungan modal dari Eropa dan AS.

Anang Sukandar setuju akan hal itu. Namun, ia lebih melihat AFTA sebagai kesempatan bagi waralaba lokal untuk go global. 'Boleh saja lokal meniru yang dilakukan asing, tetapi mereka juga harus menekuni sistem pemasaran yang baik. Bukan hanya membuat instant franchising,' katanya.

Bicara soal go global, Amir melihat BUMN seperti Pertamina atau PT Pos Indonesia berpotensi untuk mengekspor waralaba nya ke negara-negara tetangga. 'Ini akan memperkuat perkembangan bisnis waralaba nasional,' tandasnya. Pasalnya, pola ekspor Indonesia yang mengandalkan sumber-sumber alam, seperti kayu lapis, rotan, dan sebagainya, sudah ketinggalan zaman. 'Merek dagang Mesran Prima dari Pertamina mestinya bisa diekspor dengan cara waralaba,' ujarnya.

Ekspor waralaba juga dirintis oleh pebisnis lokal, seperti PT Mustika Ratu dengan mengekspor merek Taman Sari Royal Heritage Spa-nya ke Malaysia. Bahkan dalam waktu dekat perusahaan itu juga bakal mengekspor waralaba spanya ke Brunei, Singapura, dan Jepang. Lalu ada juga Ayam Bakar Wong Solo, yang belum lama ini, melalui PT Sarana Bakar Digdaya (perusahaan pemilik merek dagang dan pemegang hak waralaba Wong Solo), menawarkan waralaba nya kepada pengusaha dari Malaysia. Ekspansi ini, menurut Puspo Wardoyo, pemilik PT Sarana Bakar Digdaya, 'Diharapkan menjadi waralaba utama dari Indonesia.'

Rumah makan asli Indonesia memang potensial diekspor lewat sistem waralaba, ungkap Amir. Ia juga menyebut restoran padang Sederhana, rumah makan khas masakan Manado, dan restro Bebek Bali sebagai merek yang potensial. 'Sebenarnya mereka sudah punya standar sendiri, hanya belum dikodifikasi,' katanya. Contohnya, takaran garam dibuat dua sendok makan, yang sebenarnya bisa disetarakan dalam ukuran gram.

Cuma untuk menyebut sebuah bisnis laik di waralaba kan memang tak mudah. Setidaknya ada lima ukuran. Pertama, menurut Anang, minimal perusahaan tersebut selama tiga tahun teruji dalam bisnis yang sama. Kedua, ada dua cabang yang terbukti untung selama tiga tahun berturut-turut berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, Ketiga, produknya unik. Keempat, sistemnya tidak ruwet dan mudah diajarkan. Kelima, pasarnya luas.

Nah, agar makin banyak merek lokal yang bisa di waralaba kan, dan bisnis waralaba berkembang, pemerintah mestinya ikut berperan. Misalnya, proses mengurus pendaftaran merek dipermudah, begitu juga untuk mendapatkan kreditnya. Namun, harus tetap diingat, waralaba itu bisnis skala Usaha Kecil Menengah (UKM).

Soal kemudahan dana, sikap pemerintah Malaysia layak ditiru. Pemerintah sana menganggarkan 100 juta ringgit (setara Rp230 miliar) untuk bisnis waralaba. Lalu mereka juga menggelar program pendidikan dan latihan untuk calon-calon ter waralaba (franchisee) selama beberapa bulan.

Di Indonesia, masalah dana mungkin bisa menjadi persoalan. Kendati demikian, ada yang mestinya bisa dilakukan pemerintah, yakni menyiapkan perangkat hukumnya. Pasalnya, hingga kini, produk hukum yang mengatur soal waralaba baru ada PP No. 16/1997, yang dijabarkan dalam SK Menperindag No. 259/1997. 'Seharusnya bisa setingkat UU, sehingga ada perlindungan hukum yang jelas bagi pe waralaba,' tandas Amir.


Bidang Usaha yang Potensial Dikembangkan secara Waralaba 2003
1. Restoran
2. Minimarket
3. Toko produk khusus seperti buku, apotek, kacamata, komputer, mainan anak-anak
4. Lembaga pendidikan khusus (bahasa, manajemen, keuangan, komputer, prasekolah, dan taman bermain)
5. Gerai penjualan mobil
6. Bengkel
7. Produk migas (SPBU dan ganti oli)
8. Hotel bintang tiga
9. Klinik spesialis
10. Warpos, warnet, wartel
11. Jasa kurir
12. Jasa penyewaan kendaraan
13. Jasa reparasi produk elektronik
14. Jasa binatu
15. Foto dan cetak kilat
16. Broker real estate
17. Broker saham
18. Furniture
19. Produk/jasa TI
20. Jasa konstruksi
21. Taman rekreasi
22. Jasa konsultan hukum
23. Jasa akunting dan pajak
24. Jasa public relations dan periklanan
25. Jasa penyalur tenaga kerja
26. Salon kecantikan
27. Radio siaran dan penerbitan media cetak

wartaekonomi.com
Sumber: Amir Karamoy & Partners