Sistem Waralaba: Kiat Para Jawara Agar Dilirik Investor

Thursday, July 3, 2003

Untuk sukses me-waralaba kan produknya, ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Di antaranya, ada sistem yang baku dan merek yang terkenal. Berikut pengalaman sejumlah jawara waralaba dalam mengembangkan bisnisnya.

Bagi pasangan pengusaha muda Budi Hastanto dan Devi Kusumawati, memiliki waralaba Ayam Bakar Wong Solo merupakan kepuasan tersendiri. Maklum, keduanya membutuhkan proses yang panjang untuk bisa mendapatkan dan akhirnya meresmikan satu dari empat RM Wong Solo yang waralaba nya dibeli dari PT Sarana Bakar Digdaya. 'Kami mengenal waralaba sejak 1997 dan ingin memiliki salah satu di antaranya,' ungkap Devi Kusumawati. Maka sejak itu sederet merek waralaba mulai mereka cermati, dari Bakmi Japos-Rajanya Mie, Es Teller 77, RM Sederhana, Ayam Bakar Wong Solo, hingga Bebek Bali.

Devi melanjutkan, 'Beberapa di antaranya tak memiliki standar baku untuk bumbu, lainnya tidak menawarkan investasi menarik. Baru pada Wong Solo kami menemukan sebuah merek yang terkenal, standar baku, hingga peluang investasi yang menarik.' Wanita berdarah Solo-Surabaya ini membandingkannya dengan tawaran waralaba dari RM Sederhana, yang dianggapnya kurang menarik. 'Belum apa-apa harus memberi 10% pada manajemen, dan sisanya dibagi dengan karyawan dan pembeli waralaba,' katanya.

Buat Puspo Wardoyo, peresmian gerai ke-25 milik Budi dan Devi pada 13 Juni lalu menjadi bukti bahwa waralaba nya diminati para investor. 'Sebab saat meluncurkan waralaba Wong Solo pada 1997, tidak ada yang merespons,' katanya. Namun kini ia malah harus menolak permintaan ratusan calon investor lainnya, karena targetnya untuk memiliki 20 gerai Wong Solo di Jakarta sudah terpenuhi pada 2003 ini.

Fenomena Wong Solo dikomentari oleh Johnny Salmon, managing director PT Sumber Kreasi Cipta Logam, pemilik waralaba Julia Jewelry. Katanya, 'Itu jelas keajaiban yang tidak datang setiap waktu.' Mengapa? Sebab, Johnny mengaku membutuhkan waktu 25 tahun untuk sampai berhasil me waralaba kan toko perhiasannya. 'Bagian yang paling susah adalah membuat sistemnya,' aku Johnny.

Padahal, menurut pengamat waralaba Amir Karamoy, sistem usaha yang mudah diajarkan adalah salah satu syarat penting apabila seorang pengusaha ingin me waralaba kan usahanya. Selain itu, ada beberapa hal lainnya yang mesti dibuat standar bakunya, mulai dari proses produksi, operasional, pembukuan, sumber daya manusia, dan sebagainya.

Mengenai pembuatan standar, Puspo punya cerita sendiri. Katanya, membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa membakukan bumbu di Wong Solo. 'Bayangkan, produksi bumbu massal di pabrik dikecilkan lagi untuk ukuran satu porsi. Ini jelas butuh teknologi untuk bisa memperoleh ukuran yang pas,' paparnya. Jelas Puspo enggan merinci apa saja bahan baku untuk bumbunya. 'Supaya jangan ada `Wong Solo` lainnya,' kilahnya.

Hal itu dibenarkan Devi Kusumawati yang mengaku bahwa tak cuma bumbu, tetapi, oleh Ayam Bakar Wong Solo, sayuran pun dibakukan dalam hitungan gram. Ini jauh berbeda dengan sistem produksi di Bakmi Japos yang menurutnya belum dibakukan. 'Tergantung kokinya. Kalau tak dikontrol, rasanya bisa tak sama,' kata Devi. Standarisasi bahan baku, bumbu, dan proses pengolahannya menjadi hal penting saat usaha makanan ingin di waralaba kan.


Johnny Salmon mengaku harus membayar konsultan perhiasan asing untuk membantunya membuat sistem. 'Waktu itu sebelum krisis, saya membayar sekitar US$85.000,' ungkapnya. Padahal, soal pengalaman dalam bisnis perhiasan, jam terbang Johnny jelas sangat panjang. Akan tetapi, hal itu toh tak serta merta membuat Johnny mampu mendesain sistem waralaba yang memikat investor. Maka, tak heran kalau akhirnya ia baru berhasil melakukan tes waralaba pertamanya di Yogyakarta pada Oktober 2002. Padahal, sejak 1994 Johnny sudah kepincut dengan waralaba.

Namun, sistem yang baik saja tak cukup membuat sebuah waralaba langsung dilirik investor. Sebab, menurut Amir Karamoy lagi, merek tersebut juga harus terkenal dan terbukti menguntungkan. Soal terbukti menguntungkan, ini bisa dilihat dari laporan keuangan perusahaan, yang mestinya diaudit oleh kantor akuntan publik. Untuk urusan terkenal, ini bisa dijajaki lewat survei, atau terkadang juga bisa relatif.

Misalnya, Julia Jewelry, sebagai merek, ia boleh saja masih asing bagi para investor. Namun, reputasi Johnny Salmon sebagai pemiliknya jelas melebihi popularitas Julia Jewelry. Buktinya, hanya dalam hitungan bulan sejak ia meluncurkan gerai waralaba pertamanya di Yogyakarta, kini Johnny sudah meresmikan enam gerai baru yang dibangun lewat cara waralaba. 'Masyarakat cepat paham sebab yang punya adalah saya,' aku Johnny, tanpa bermaksud sombong. Maklum, Johnny sudah bergelut di bisnis perhiasan lebih dari 25 tahun.


Lalu dalam 15 tahun terakhir, ia juga dikenal sebagai eksportir utama perhiasan Indonesia ke pasar Eropa. Ribuan gerai perhiasan di Jerman dan Belanda menjadi pelanggan setia produk Johnny. Reputasinya makin lengkap karena ia adalah mantan ketua umum Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia (APEPI) selama dua periode.

Sebaliknya, Puspo Wardoyo mesti berjuang keras sebelum Ayam Bakar Wong Solo-nya dilirik investor. Namanya masih belum populer saat ia menawarkan sistem waralaba pada 1997. 'Tak ada yang kenal Puspo Wardoyo. Merek Wong Solo pun belum bergaung. Malah yang ada, orang melamar untuk menjadi pegawai saya,' kata Puspo, terbahak. Bahkan sesudah ia membuka cabang di beberapa kota di Jawa Tengah lewat cara semi waralaba, dengan dana modal ventura, gelagat untuk terkenal pun tampak.

Nama Puspo baru dikenal setelah ia masuk Jakarta pada 2001. Ini pun sesudah ia merasa yakin bahwa namanya dan Ayam Bakar Wong Solo cukup sering diberitakan lewat media-media di Jakarta. Saat itulah, bersamaan dengan peresmian gerainya di Jl. Kalimalang, Jakarta Timur, ia mengumumkan bahwa Ayam Bakar Wong Solo bisa bekerja sama dengan orang lain lewat pola waralaba. 'Sejak itu kami pun diserbu oleh peminat waralaba,' katanya. Kini, Ayam Bakar Wong Solo memiliki 27 gerai, dengan 12 di antaranya berada di Jakarta.

Pengalaman Mellyana Rani, presdir PT Sarwagata Keluarga Sarana, dalam menawarkan waralaba restoran, kafe, dan sekaligus galeri Bebek Bali-nya lain lagi. Mellyana membutuhkan waktu enam tahun dan memiliki tiga cabang, sebelum akhirnya ia menawarkan waralaba Bebek Bali kepada para investor. Untuk membantu menciptakan sistemnya, Mellyana memakai jasa Amir Karamoy sebagai konsultan.

Kini resto-kafe-galeri Bebek Bali tengah menunggu pinangan investor. Perjuangan yang tak mudah. Sebab, Devi Kusumawati, yang juga sempat melirik Bebek Bali dan akhirnya mundur, menilai bahwa jumlah orang yang menyukai bebek masih sangat sedikit. Di sini, orang lebih menyukai ayam. Cuma yang barangkali luput dari pengamatan Devi, menu bebek di sini justru banyak disajikan oleh restoran-restoran kelas atas. Jadi, kalau konsumen kalangan ini yang disasar Bebek Bali, jumlahnya mungkin memang tak banyak, tetapi daya belinya sangat tinggi.

Sistem yang baku, atau merek yang terkenal, memang tak sepenuhnya menjamin suatu waralaba bakal menuai sukses. Masih ada faktor lain, seperti: apakah lokasinya sudah pas, kemudahan akses, dan sebagainya. Tanpa itu, hampir pasti suatu waralaba akan mengalami kegagalan.

wartaekonomi.com

GENUK CHRISTIASTUTI, PRANANDA HERDIAWAN, SALIM SHAHAB, DAN HENDARU
Read more...

Bisnis Waralaba: Cara Cepat Menjadi Kaya

Wednesday, July 2, 2003

Ekspansi usaha pakai modal sendiri? Lama sekali. Cobalah pakai jalur waralaba.
Puspo Wardoyo membuktikannya. Kini ia kaya raya dengan puluhan gerai Ayam Bakar Wong Solo. Anda tertarik?

Ada sejumlah kriteria yang mesti dipenuhi sebelum berbisnis via waralaba.
Anang Sukandar pening. Bersama dua juri lainnya, ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) itu diminta memilih hanya tiga dari 80 waralaba lokal, dengan 32 di antaranya semi waralaba, yang layak menerima penghargaan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Setelah dinilai sesuai kriteria, akhirnya terpilihlah delapan waralaba lokal. Urusan belum selesai. Delapan nama itu mesti diperas lagi sampai hanya memunculkan tiga pemenang. Mereka adalah International Language Program (ILP), Indomaret, dan Ayam Bakar Wong Solo. 'Ketiganya secara bisnis sudah cukup baik,' ungkap Anang.

Pemilihan waralaba terbaik yang diselenggarakan dalam ajang Pameran Produksi Indonesia 2003 tadi adalah bagian kecil dari geliat bisnis waralaba, yang belakangan kian terasa gairahnya. Jika Anda sempat, cobalah tengok gerai BreadTalk, waralaba roti milik George Quek asal Singapura, di Mal Kelapa Gading, Jakarta. Setiap hari antrean penuh sesak. Baru beberapa hari beroperasi, Johnny Andrean, sang pemiliknya, sudah pasang target bakal membuka gerai BreadTalk baru di kawasan Pluit, Jakarta Utara.

Kemudian 2003 juga bakal menjadi tahun yang sibuk bagi Puspo Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Sebab, tahun ini, dari target 20 waralaba yang ia tawarkan untuk seputar Jabotabek, semuanya ludes terjual. Bahkan 12 gerai di antaranya sudah beroperasi. Selain itu, tahun ini pula, dua gerai RM Ayam Bakar Wong Solo di Malaysia dan Singapura juga diharapkan beroperasi.

Sementara itu, Salon Lutuye, salon yang menyasar kalangan berusia 45 tahun sebagai konsumennya, memulai ekspansinya dengan pola waralaba sejak 2001. Hasilnya, hanya dalam tempo dua tahun Lutuye sudah beranak pinak dengan 30 gerainya--70% di antaranya berlokasi di kawasan Jabotabek.

Pemain baru di bisnis waralaba adalah Grup Ristra milik Retno Iswari S. Tranggono. Pada tahun ini Grup Ristra mulai menawarkan program waralaba kepada para investornya untuk membuka beberapa gerai salon dengan merek Salon Ristra. Kemudian di bisnis makanan adalah restoran, kafe, dan galeri Bebek Bali, yang juga menawarkan kepada para investor yang berminat membeli hak waralaba nya. Lalu di bisnis perhiasan, ada Johnny Salmon yang mulai me waralaba kan toko perhiasannya dengan merek Julia Jewelry.

Fenomena BreadTalk, Lutuye, Ristra, atau Ayam Bakar Wong Solo mengindikasikan bahwa tahun 2003 agaknya bisnis waralaba bakal menemukan kembali gairahnya. Ini tentu kabar gembira buat para pemilik modal yang sudah terlalu lama menyimpan uangnya di bank, karena tak tahu bisnis apa yang mesti digarapnya. Kini, terbuka peluang bisnis yang siap digarapnya. Juga buat para pemilik merek, terbuka pula peluang baginya untuk mengembangkan usaha tanpa harus mengerahkan dana sendiri.

Pilihan waralaba sebagai sarana ekspansi agaknya tak terlalu keliru. Hasil riset di AS yang melibatkan 2.500 perusahaan menunjukkan bahwa dengan format waralaba, peluang untuk sukses mencapai 85%--90%. Bandingkan dengan format bisnis biasa yang hanya 35%--45%. Riset lain yang dilakukan Arthur Andersen, John Naisbitt, dan The US Federal Trade Commission, sebagaimana dikutip konsultan waralaba Amir Karamoy, menunjukkan bahwa rata-rata keberhasilan berbisnis via waralaba bahkan mencapai 92%. Lalu dari sisi omzet, industri waralaba di AS mencapai US$800-an miliar per tahun.

Di Indonesia? Studinya belum ada, tetapi Amir memperkirakan hanya sekitar 30%. Mengapa begitu rendah? 'Sebab, Indonesia belum memiliki aturan tentang persyaratan suatu usaha layak di waralaba kan,' ucap Amir. Di samping itu, tambah Amir, banyak perusahaan lokal yang menyebut dirinya waralaba, padahal sebenarnya bukan. 'Banyak yang cuma bagi hasil, kerja sama usaha, atau cabang milik sendiri. Hanya karena menggunakan merek dagang yang sama, seolah-olah dianggap waralaba. Padahal bukan,' tandas Amir.

Secara umum, waralaba adalah suatu sistem pemasaran vertikal, di mana franchisor (pe waralaba) memberikan hak kekayaan intelektualnya kepada franchisee (ter waralaba) dengan sejumlah imbalan dan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan/atau penjualan barang dan jasa tertentu. Artinya, franchisor bersedia mengalihkan konsep perusahaannya kepada franchisee, baik itu penggunaan nama perusahaan, dekorasi, knowhow maupun dukungan teknis terhadap franchisee, seperti pemberian pelatihan kepada karyawan, bagaimana mengelola perusahaan, pengadaan barang-barang, dan sebagainya, selama perjanjian berlangsung, dengan pembayaran royalti dan fee.

Andrias Harefa, seorang pengamat waralaba, menyebutkan bahwa maraknya bisnis ini dipicu oleh tingginya semangat untuk berwirausaha. Hanya, ia menganggap waralaba justru mendorong seseorang menjadi pengusaha karbitan. Bahkan, mengutip pendapat orang lain, Andrias menilai waralaba ini sebagai shut down entrepreneur. 'Kalau jiwa entrepreneur-nya masih setengah jadi, dia bisa mengambil waralaba. Namun, waralaba tidak cocok bagi orang yang punya skill dan spirit entrepreneur yang tinggi,' tambahnya. Tipe yang disebut terakhir ini, menurut Andrias, adalah tipe orang yang kreatif dan inovatif.

Lebih Tinggi dari Deposito

Terus tumbuhnya waralaba lokal maupun asing mengindikasikan bahwa bisnis ini memang menguntungkan. Amir Karamoy setuju. Ia lalu membandingkan, jika uang disimpan dalam bentuk deposito, hasilnya cuma 11%--12% per tahun. Bandingkan dengan bisnis restoran yang bisa memberikan return 20%-an. 'Akan tetapi risikonya jelas berbeda. Sebagai pengusaha, dia tentu akan berupaya meminimalkan risiko. Jadi, akhirnya lebih menarik berinvestasi dalam satu bidang usaha ketimbang menaruh dananya dalam bentuk deposito,' tutur Amir.

Pernyataan Amir dibuktikan oleh Puspo Wardoyo dengan Ayam Bakar Wong Solo-nya. Menurut Puspo, yang menawarkan tiga paket investasi waralaba, ada gerai-gerai Wong Solo yang hasilnya luar biasa, ada pula yang biasa-biasa saja. 'Namun, yang biasa pun hasilnya tetap lebih besar daripada suku bunga deposito. Bisa sampai dua kali lipat, bahkan lebih,' tuturnya.

Waralaba tak hanya membuat kaya si franchisee, tetapi juga franchisornya. Masih menurut penuturan Puspo, ia membuka restoran ayam bakar pertama kali di Medan pada 1997. Ia kemudian mencoba membuka cabang di kota yang sama dan di Aceh. Cuma masalahnya, Puspo kesulitan permodalan. 'Untuk membuka satu restoran, saya mesti mengumpulkan uang dulu. Kalau begini terus, kapan saya bisa membuka ratusan gerai? Kapan saya bisa kaya?' tutur Puspo, yang saat itu belum mengenal konsep waralaba. Memang terbersit dalam benak Puspo untuk meminjam ke bank. Namun, setelah dia hitung berulang kali, risikonya ternyata terlalu besar. Maka, batallah Puspo mengajukan permohonan kredit ke bank.

Puspo mulai melirik jalur waralaba setelah ia mendapatkan pengalaman dari franchisee McDonald's, dan menerima bimbingan sebuah lembaga di Kanada. Maka, bulatlah tekadnya untuk menggunakan waralaba sebagai sarana pengembangan usaha. Hasilnya, hingga 2003, Puspo sudah membuka 27 gerai Ayam Bakar Wong Solo yang tersebar di berbagai kota, dengan 12 di antaranya ada di Jakarta. Bahkan, hingga kini, permohonan untuk memiliki hak waralaba Ayam Bakar Wong Solo terus mengalir, sehingga Puspo kewalahan menolaknya.

Ekspansi lewat waralaba juga ditempuh Purdie E. Chandra, pemilik lembaga pendidikan Primagama yang berpusat di Yogyakarta. Menurut Purdie, awalnya ia membuka cabang dengan modal sendiri. Namun kemudian ia merasa bahwa cara seperti itu tidak efektif. Maka, Purdie pun memilih waralaba. 'Ekspansi jadi lebih mudah dan cepat karena tidak memakai dana sendiri,' katanya.

Hasilnya, kini ia memiliki 80 cabang waralaba --dari total 280 cabang Primagama. 'Idealnya, antara milik sendiri dan waralaba seimbang,' ucap Purdie. Ia mengaku, hingga kini, permohonan banyak pihak untuk mendapatkan hak waralaba Primagama terus mengalir.

Kriteria Waralaba

Sebagian orang mungkin menganggap Primagama, Wong Solo, atau Lutuye ekspansif. Akan tetapi, jika dilihat secara nasional, pertumbuhan bisnis waralaba lokal sesungguhnya tak terbilang tinggi. Lambannya pertumbuhan waralaba lokal ini disebabkan belum siapnya franchisor lokal untuk ber waralaba. Kebanyakan mereka belum memiliki konsep bisnis yang mantap dan teruji. Sementara itu, menurut Anang Sukandar, mapannya pemain asing disebabkan mereka memiliki setidaknya tiga kekuatan, yakni branding, akuntabilitas, dan kredibilitasnya teruji. Di samping itu, tentu memenuhi kriteria waralaba itu sendiri.

Menurut Andrias Harefa, hal yang terpenting dalam waralaba adalah standarisasi. Celakanya, untuk urusan ini, lanjut Andrias, 'Sebagian besar pe waralaba lokal malah belum memiliki standar.' Untuk bisa memiliki standar, ada sejumlah tahapan. Di antaranya, harus bisa mengatur diri terlebih dulu, lalu memiliki sejumlah cabang untuk bisa mengontrol standarisasinya. Kalau itu sudah, tandas Andrias, 'Baru bisa mengembangkan bentuk-bentuk lain. Jadi, jangan begitu ketemu formula, lantas mengaku siap waralaba.'

Budi Hastanto dan Devi Kusumawati, investor bisnis waralaba, mengaku bahwa keduanya memilih Ayam Bakar Wong Solo salah satunya karena pertimbangan standarisasi. Keunggulan Wong Solo, di mata mereka, adalah bahwa restoran ini tak tergantung pada koki (juru masak). Pasalnya, semuanya sudah ada takarannya.

Standarisasi juga dilakukan oleh Purdie Chandra dengan Primagama-nya. Caranya, Purdie membuat modul pelajaran yang sama. Kemudian untuk pelatihan terhadap tenaga pengajarnya pun dilakukan secara serempak. Dengan cara seperti ini, menurut Purdie, banyak cabang waralaba nya yang sukses.

Kecuali standarisasi, image dan branding juga penting. Mellyana Rani, pemilik resto-kafe-galeri Bebek Bali, menyadarinya. Itu sebabnya ia menggunakan nama Bebek Bali. Pertama, daging bebek tak asing di lidah orang Indonesia. Kedua, Rani juga ingin menjual nama Bali. 'Saya suka Bali, dan semua orang tahu soal Bali. Maka, saya gunakan nama Bali,' tuturnya. Rani mengaku menawarkan waralaba Bebek Bali karena terinspirasi oleh banyaknya waralaba asing yang masuk ke Indonesia. Dan sukses. Dengan menjual nama Bali, Rani berharap bisa go international. Harapannya terkabul. Rani kini mengaku sedang dalam negosiasi dengan investor dari negeri jiran.

Kecuali standarisasi dan nama besar, ternyata investor juga cenderung memilih sistem waralaba yang mudah untuk diadaptasi. Faktor inilah yang mendorong Linda Teresia memilih waralaba Video Ezzy asal Australia. Linda lalu menjual hak waralaba nya melalui PT Video Ezzy Internasional. 'Pemilihan pe waralaba dari Australia ini karena kami ingin mengadaptasi ilmu dari ahlinya di bidang penyewaan VCD,' cetus marketing manager PT Video Ezzy Internasional itu.

Hasilnya jitu, setidaknya untuk kasus Indonesia. Linda lalu membandingkannya dengan pengalaman di Thailand, yang selama lima tahun pihaknya hanya berhasil membuka 80 gerai. Bagaimana di Indonesia? 'Dalam tempo dua tahun, kami berhasil membuka 100 gerai,' ungkap Linda.

Lokasi yang Strategis

Akan tetapi, seluruh kriteria tadi belum menjadi jaminan sukses bagi investor. Ada faktor lain yang mesti dipertimbangkan. Misalnya, Purdie Chandra menemukan bahwa kegagalan dari beberapa cabang waralaba Primagama disebabkan oleh soal pemilihan lokasi dan kepatuhan pada sistem.

Soal lokasi, baik Purdie maupun Puspo mengungkapkan bahwa banyak pelamar yang mereka tolak karena lokasinya yang kurang bagus. 'Minimal jarak antara cabang empat kilometer,' tutur Purdie. Pe waralaba lain, seperti Garant Mobel Indonesia, sebuah franchisor furnitur pertama yang baru membuka usahanya di Indonesia, memberi batasan jarak 15 kilometer.

Selain dua hal itu, Anang Sukandar mengingatkan bahwa mereka yang berminat terhadap bisnis waralaba haruslah mau menjadi pelaksana. 'Owner must be operator,' tandas Anang. Mengapa? Sebab, pertama, waralaba adalah jalan lain dari seseorang, tentunya pemilik modal, untuk menjadi pengusaha. Kedua, biaya untuk memperoleh hak waralaba tak sedikit. Misalnya, untuk memperoleh waralaba Primagama, Purdie mengutarakan, biaya lisensinya saja Rp150 juta. Lalu ada fee royalti yang 10,7% dari penjualan kotor per bulan. Melihat besarnya investasi, sayang, bukan, kalau pemilik tak ikut mengelola jalannya perusahaan?

Kiat Berbisnis Melalui Waralaba
1. Anda harus menikmati pekerjaan

2. Jangan terlalu banyak inventori
3. Jangan terlalu banyak karyawan
4. Pastikan Anda memiliki modal yang cukup
5. Pilih lokasi yang pas

Kriteria dalam Memilih Waralaba
1. Harus ada standarisasi (dari proses produksi, operasional, pembukuan, dan SDM)
2. Profitable
3. Proven track record (berpengalaman dan mereknya sudah dikenal).

Ini bisa diukur dengan:
- franchisornya sudah memiliki minimal 10 franchisee
- franchisor sudah beroperasi lebih dari lima tahun
- franchisor harus transparan dalam melakukan franchise
4. Mereknya harus unik atau memiliki ciri khas
5. Marketable
6. Sistemnya bisa dan relatif mudah diajarkan atau dilatih
7. Affordable (tidak terlalu susah, terjangkau untuk investasi)

Jenis Waralaba yang potensial:
1. Makanan

2. Pendidikan
3. Perawatan tubuh
4. Ritel

wartaekonomi.com
SALIM SHAHAB, GENUK CHRISTIASTUTI, HENDARU, PRANANDA HERDIAWAN, DAN ADE RACHMAWATI DEVI
Read more...