Bisnis Waralaba: Cara Cepat Menjadi Kaya

Wednesday, July 2, 2003

Ekspansi usaha pakai modal sendiri? Lama sekali. Cobalah pakai jalur waralaba.
Puspo Wardoyo membuktikannya. Kini ia kaya raya dengan puluhan gerai Ayam Bakar Wong Solo. Anda tertarik?

Ada sejumlah kriteria yang mesti dipenuhi sebelum berbisnis via waralaba.
Anang Sukandar pening. Bersama dua juri lainnya, ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) itu diminta memilih hanya tiga dari 80 waralaba lokal, dengan 32 di antaranya semi waralaba, yang layak menerima penghargaan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Setelah dinilai sesuai kriteria, akhirnya terpilihlah delapan waralaba lokal. Urusan belum selesai. Delapan nama itu mesti diperas lagi sampai hanya memunculkan tiga pemenang. Mereka adalah International Language Program (ILP), Indomaret, dan Ayam Bakar Wong Solo. 'Ketiganya secara bisnis sudah cukup baik,' ungkap Anang.

Pemilihan waralaba terbaik yang diselenggarakan dalam ajang Pameran Produksi Indonesia 2003 tadi adalah bagian kecil dari geliat bisnis waralaba, yang belakangan kian terasa gairahnya. Jika Anda sempat, cobalah tengok gerai BreadTalk, waralaba roti milik George Quek asal Singapura, di Mal Kelapa Gading, Jakarta. Setiap hari antrean penuh sesak. Baru beberapa hari beroperasi, Johnny Andrean, sang pemiliknya, sudah pasang target bakal membuka gerai BreadTalk baru di kawasan Pluit, Jakarta Utara.

Kemudian 2003 juga bakal menjadi tahun yang sibuk bagi Puspo Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Sebab, tahun ini, dari target 20 waralaba yang ia tawarkan untuk seputar Jabotabek, semuanya ludes terjual. Bahkan 12 gerai di antaranya sudah beroperasi. Selain itu, tahun ini pula, dua gerai RM Ayam Bakar Wong Solo di Malaysia dan Singapura juga diharapkan beroperasi.

Sementara itu, Salon Lutuye, salon yang menyasar kalangan berusia 45 tahun sebagai konsumennya, memulai ekspansinya dengan pola waralaba sejak 2001. Hasilnya, hanya dalam tempo dua tahun Lutuye sudah beranak pinak dengan 30 gerainya--70% di antaranya berlokasi di kawasan Jabotabek.

Pemain baru di bisnis waralaba adalah Grup Ristra milik Retno Iswari S. Tranggono. Pada tahun ini Grup Ristra mulai menawarkan program waralaba kepada para investornya untuk membuka beberapa gerai salon dengan merek Salon Ristra. Kemudian di bisnis makanan adalah restoran, kafe, dan galeri Bebek Bali, yang juga menawarkan kepada para investor yang berminat membeli hak waralaba nya. Lalu di bisnis perhiasan, ada Johnny Salmon yang mulai me waralaba kan toko perhiasannya dengan merek Julia Jewelry.

Fenomena BreadTalk, Lutuye, Ristra, atau Ayam Bakar Wong Solo mengindikasikan bahwa tahun 2003 agaknya bisnis waralaba bakal menemukan kembali gairahnya. Ini tentu kabar gembira buat para pemilik modal yang sudah terlalu lama menyimpan uangnya di bank, karena tak tahu bisnis apa yang mesti digarapnya. Kini, terbuka peluang bisnis yang siap digarapnya. Juga buat para pemilik merek, terbuka pula peluang baginya untuk mengembangkan usaha tanpa harus mengerahkan dana sendiri.

Pilihan waralaba sebagai sarana ekspansi agaknya tak terlalu keliru. Hasil riset di AS yang melibatkan 2.500 perusahaan menunjukkan bahwa dengan format waralaba, peluang untuk sukses mencapai 85%--90%. Bandingkan dengan format bisnis biasa yang hanya 35%--45%. Riset lain yang dilakukan Arthur Andersen, John Naisbitt, dan The US Federal Trade Commission, sebagaimana dikutip konsultan waralaba Amir Karamoy, menunjukkan bahwa rata-rata keberhasilan berbisnis via waralaba bahkan mencapai 92%. Lalu dari sisi omzet, industri waralaba di AS mencapai US$800-an miliar per tahun.

Di Indonesia? Studinya belum ada, tetapi Amir memperkirakan hanya sekitar 30%. Mengapa begitu rendah? 'Sebab, Indonesia belum memiliki aturan tentang persyaratan suatu usaha layak di waralaba kan,' ucap Amir. Di samping itu, tambah Amir, banyak perusahaan lokal yang menyebut dirinya waralaba, padahal sebenarnya bukan. 'Banyak yang cuma bagi hasil, kerja sama usaha, atau cabang milik sendiri. Hanya karena menggunakan merek dagang yang sama, seolah-olah dianggap waralaba. Padahal bukan,' tandas Amir.

Secara umum, waralaba adalah suatu sistem pemasaran vertikal, di mana franchisor (pe waralaba) memberikan hak kekayaan intelektualnya kepada franchisee (ter waralaba) dengan sejumlah imbalan dan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan/atau penjualan barang dan jasa tertentu. Artinya, franchisor bersedia mengalihkan konsep perusahaannya kepada franchisee, baik itu penggunaan nama perusahaan, dekorasi, knowhow maupun dukungan teknis terhadap franchisee, seperti pemberian pelatihan kepada karyawan, bagaimana mengelola perusahaan, pengadaan barang-barang, dan sebagainya, selama perjanjian berlangsung, dengan pembayaran royalti dan fee.

Andrias Harefa, seorang pengamat waralaba, menyebutkan bahwa maraknya bisnis ini dipicu oleh tingginya semangat untuk berwirausaha. Hanya, ia menganggap waralaba justru mendorong seseorang menjadi pengusaha karbitan. Bahkan, mengutip pendapat orang lain, Andrias menilai waralaba ini sebagai shut down entrepreneur. 'Kalau jiwa entrepreneur-nya masih setengah jadi, dia bisa mengambil waralaba. Namun, waralaba tidak cocok bagi orang yang punya skill dan spirit entrepreneur yang tinggi,' tambahnya. Tipe yang disebut terakhir ini, menurut Andrias, adalah tipe orang yang kreatif dan inovatif.

Lebih Tinggi dari Deposito

Terus tumbuhnya waralaba lokal maupun asing mengindikasikan bahwa bisnis ini memang menguntungkan. Amir Karamoy setuju. Ia lalu membandingkan, jika uang disimpan dalam bentuk deposito, hasilnya cuma 11%--12% per tahun. Bandingkan dengan bisnis restoran yang bisa memberikan return 20%-an. 'Akan tetapi risikonya jelas berbeda. Sebagai pengusaha, dia tentu akan berupaya meminimalkan risiko. Jadi, akhirnya lebih menarik berinvestasi dalam satu bidang usaha ketimbang menaruh dananya dalam bentuk deposito,' tutur Amir.

Pernyataan Amir dibuktikan oleh Puspo Wardoyo dengan Ayam Bakar Wong Solo-nya. Menurut Puspo, yang menawarkan tiga paket investasi waralaba, ada gerai-gerai Wong Solo yang hasilnya luar biasa, ada pula yang biasa-biasa saja. 'Namun, yang biasa pun hasilnya tetap lebih besar daripada suku bunga deposito. Bisa sampai dua kali lipat, bahkan lebih,' tuturnya.

Waralaba tak hanya membuat kaya si franchisee, tetapi juga franchisornya. Masih menurut penuturan Puspo, ia membuka restoran ayam bakar pertama kali di Medan pada 1997. Ia kemudian mencoba membuka cabang di kota yang sama dan di Aceh. Cuma masalahnya, Puspo kesulitan permodalan. 'Untuk membuka satu restoran, saya mesti mengumpulkan uang dulu. Kalau begini terus, kapan saya bisa membuka ratusan gerai? Kapan saya bisa kaya?' tutur Puspo, yang saat itu belum mengenal konsep waralaba. Memang terbersit dalam benak Puspo untuk meminjam ke bank. Namun, setelah dia hitung berulang kali, risikonya ternyata terlalu besar. Maka, batallah Puspo mengajukan permohonan kredit ke bank.

Puspo mulai melirik jalur waralaba setelah ia mendapatkan pengalaman dari franchisee McDonald's, dan menerima bimbingan sebuah lembaga di Kanada. Maka, bulatlah tekadnya untuk menggunakan waralaba sebagai sarana pengembangan usaha. Hasilnya, hingga 2003, Puspo sudah membuka 27 gerai Ayam Bakar Wong Solo yang tersebar di berbagai kota, dengan 12 di antaranya ada di Jakarta. Bahkan, hingga kini, permohonan untuk memiliki hak waralaba Ayam Bakar Wong Solo terus mengalir, sehingga Puspo kewalahan menolaknya.

Ekspansi lewat waralaba juga ditempuh Purdie E. Chandra, pemilik lembaga pendidikan Primagama yang berpusat di Yogyakarta. Menurut Purdie, awalnya ia membuka cabang dengan modal sendiri. Namun kemudian ia merasa bahwa cara seperti itu tidak efektif. Maka, Purdie pun memilih waralaba. 'Ekspansi jadi lebih mudah dan cepat karena tidak memakai dana sendiri,' katanya.

Hasilnya, kini ia memiliki 80 cabang waralaba --dari total 280 cabang Primagama. 'Idealnya, antara milik sendiri dan waralaba seimbang,' ucap Purdie. Ia mengaku, hingga kini, permohonan banyak pihak untuk mendapatkan hak waralaba Primagama terus mengalir.

Kriteria Waralaba

Sebagian orang mungkin menganggap Primagama, Wong Solo, atau Lutuye ekspansif. Akan tetapi, jika dilihat secara nasional, pertumbuhan bisnis waralaba lokal sesungguhnya tak terbilang tinggi. Lambannya pertumbuhan waralaba lokal ini disebabkan belum siapnya franchisor lokal untuk ber waralaba. Kebanyakan mereka belum memiliki konsep bisnis yang mantap dan teruji. Sementara itu, menurut Anang Sukandar, mapannya pemain asing disebabkan mereka memiliki setidaknya tiga kekuatan, yakni branding, akuntabilitas, dan kredibilitasnya teruji. Di samping itu, tentu memenuhi kriteria waralaba itu sendiri.

Menurut Andrias Harefa, hal yang terpenting dalam waralaba adalah standarisasi. Celakanya, untuk urusan ini, lanjut Andrias, 'Sebagian besar pe waralaba lokal malah belum memiliki standar.' Untuk bisa memiliki standar, ada sejumlah tahapan. Di antaranya, harus bisa mengatur diri terlebih dulu, lalu memiliki sejumlah cabang untuk bisa mengontrol standarisasinya. Kalau itu sudah, tandas Andrias, 'Baru bisa mengembangkan bentuk-bentuk lain. Jadi, jangan begitu ketemu formula, lantas mengaku siap waralaba.'

Budi Hastanto dan Devi Kusumawati, investor bisnis waralaba, mengaku bahwa keduanya memilih Ayam Bakar Wong Solo salah satunya karena pertimbangan standarisasi. Keunggulan Wong Solo, di mata mereka, adalah bahwa restoran ini tak tergantung pada koki (juru masak). Pasalnya, semuanya sudah ada takarannya.

Standarisasi juga dilakukan oleh Purdie Chandra dengan Primagama-nya. Caranya, Purdie membuat modul pelajaran yang sama. Kemudian untuk pelatihan terhadap tenaga pengajarnya pun dilakukan secara serempak. Dengan cara seperti ini, menurut Purdie, banyak cabang waralaba nya yang sukses.

Kecuali standarisasi, image dan branding juga penting. Mellyana Rani, pemilik resto-kafe-galeri Bebek Bali, menyadarinya. Itu sebabnya ia menggunakan nama Bebek Bali. Pertama, daging bebek tak asing di lidah orang Indonesia. Kedua, Rani juga ingin menjual nama Bali. 'Saya suka Bali, dan semua orang tahu soal Bali. Maka, saya gunakan nama Bali,' tuturnya. Rani mengaku menawarkan waralaba Bebek Bali karena terinspirasi oleh banyaknya waralaba asing yang masuk ke Indonesia. Dan sukses. Dengan menjual nama Bali, Rani berharap bisa go international. Harapannya terkabul. Rani kini mengaku sedang dalam negosiasi dengan investor dari negeri jiran.

Kecuali standarisasi dan nama besar, ternyata investor juga cenderung memilih sistem waralaba yang mudah untuk diadaptasi. Faktor inilah yang mendorong Linda Teresia memilih waralaba Video Ezzy asal Australia. Linda lalu menjual hak waralaba nya melalui PT Video Ezzy Internasional. 'Pemilihan pe waralaba dari Australia ini karena kami ingin mengadaptasi ilmu dari ahlinya di bidang penyewaan VCD,' cetus marketing manager PT Video Ezzy Internasional itu.

Hasilnya jitu, setidaknya untuk kasus Indonesia. Linda lalu membandingkannya dengan pengalaman di Thailand, yang selama lima tahun pihaknya hanya berhasil membuka 80 gerai. Bagaimana di Indonesia? 'Dalam tempo dua tahun, kami berhasil membuka 100 gerai,' ungkap Linda.

Lokasi yang Strategis

Akan tetapi, seluruh kriteria tadi belum menjadi jaminan sukses bagi investor. Ada faktor lain yang mesti dipertimbangkan. Misalnya, Purdie Chandra menemukan bahwa kegagalan dari beberapa cabang waralaba Primagama disebabkan oleh soal pemilihan lokasi dan kepatuhan pada sistem.

Soal lokasi, baik Purdie maupun Puspo mengungkapkan bahwa banyak pelamar yang mereka tolak karena lokasinya yang kurang bagus. 'Minimal jarak antara cabang empat kilometer,' tutur Purdie. Pe waralaba lain, seperti Garant Mobel Indonesia, sebuah franchisor furnitur pertama yang baru membuka usahanya di Indonesia, memberi batasan jarak 15 kilometer.

Selain dua hal itu, Anang Sukandar mengingatkan bahwa mereka yang berminat terhadap bisnis waralaba haruslah mau menjadi pelaksana. 'Owner must be operator,' tandas Anang. Mengapa? Sebab, pertama, waralaba adalah jalan lain dari seseorang, tentunya pemilik modal, untuk menjadi pengusaha. Kedua, biaya untuk memperoleh hak waralaba tak sedikit. Misalnya, untuk memperoleh waralaba Primagama, Purdie mengutarakan, biaya lisensinya saja Rp150 juta. Lalu ada fee royalti yang 10,7% dari penjualan kotor per bulan. Melihat besarnya investasi, sayang, bukan, kalau pemilik tak ikut mengelola jalannya perusahaan?

Kiat Berbisnis Melalui Waralaba
1. Anda harus menikmati pekerjaan

2. Jangan terlalu banyak inventori
3. Jangan terlalu banyak karyawan
4. Pastikan Anda memiliki modal yang cukup
5. Pilih lokasi yang pas

Kriteria dalam Memilih Waralaba
1. Harus ada standarisasi (dari proses produksi, operasional, pembukuan, dan SDM)
2. Profitable
3. Proven track record (berpengalaman dan mereknya sudah dikenal).

Ini bisa diukur dengan:
- franchisornya sudah memiliki minimal 10 franchisee
- franchisor sudah beroperasi lebih dari lima tahun
- franchisor harus transparan dalam melakukan franchise
4. Mereknya harus unik atau memiliki ciri khas
5. Marketable
6. Sistemnya bisa dan relatif mudah diajarkan atau dilatih
7. Affordable (tidak terlalu susah, terjangkau untuk investasi)

Jenis Waralaba yang potensial:
1. Makanan

2. Pendidikan
3. Perawatan tubuh
4. Ritel

wartaekonomi.com
SALIM SHAHAB, GENUK CHRISTIASTUTI, HENDARU, PRANANDA HERDIAWAN, DAN ADE RACHMAWATI DEVI

1 comments:

Youth is warcraft leveling not a time of life;warcraft leveling it is a wow lvl state of mind; wow power level it is not power leveling amatter of World of warcraft Power Leveling rosy cheeks, red wrath of the lich king power leveling lips and supple knees;WOTLK Power Leveling it is a matter of thewill,wlk Power Leveling a quality of buy aoc gold the imagination,aoc gold a vigor of the emotions; it is thefreshness of the deep springs wow gold of life. Youth means a tempera-mental maplestory mesos predominance of courage over timidity, of the appetite formaple story mesos adventure over the love of ease. wow gold This often existsin a man of 60 more than a boy of 20. Nobody grows old merely by anumber of years.