Sistem Waralaba: Kiat Para Jawara Agar Dilirik Investor

Thursday, July 3, 2003

Untuk sukses me-waralaba kan produknya, ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Di antaranya, ada sistem yang baku dan merek yang terkenal. Berikut pengalaman sejumlah jawara waralaba dalam mengembangkan bisnisnya.

Bagi pasangan pengusaha muda Budi Hastanto dan Devi Kusumawati, memiliki waralaba Ayam Bakar Wong Solo merupakan kepuasan tersendiri. Maklum, keduanya membutuhkan proses yang panjang untuk bisa mendapatkan dan akhirnya meresmikan satu dari empat RM Wong Solo yang waralaba nya dibeli dari PT Sarana Bakar Digdaya. 'Kami mengenal waralaba sejak 1997 dan ingin memiliki salah satu di antaranya,' ungkap Devi Kusumawati. Maka sejak itu sederet merek waralaba mulai mereka cermati, dari Bakmi Japos-Rajanya Mie, Es Teller 77, RM Sederhana, Ayam Bakar Wong Solo, hingga Bebek Bali.

Devi melanjutkan, 'Beberapa di antaranya tak memiliki standar baku untuk bumbu, lainnya tidak menawarkan investasi menarik. Baru pada Wong Solo kami menemukan sebuah merek yang terkenal, standar baku, hingga peluang investasi yang menarik.' Wanita berdarah Solo-Surabaya ini membandingkannya dengan tawaran waralaba dari RM Sederhana, yang dianggapnya kurang menarik. 'Belum apa-apa harus memberi 10% pada manajemen, dan sisanya dibagi dengan karyawan dan pembeli waralaba,' katanya.

Buat Puspo Wardoyo, peresmian gerai ke-25 milik Budi dan Devi pada 13 Juni lalu menjadi bukti bahwa waralaba nya diminati para investor. 'Sebab saat meluncurkan waralaba Wong Solo pada 1997, tidak ada yang merespons,' katanya. Namun kini ia malah harus menolak permintaan ratusan calon investor lainnya, karena targetnya untuk memiliki 20 gerai Wong Solo di Jakarta sudah terpenuhi pada 2003 ini.

Fenomena Wong Solo dikomentari oleh Johnny Salmon, managing director PT Sumber Kreasi Cipta Logam, pemilik waralaba Julia Jewelry. Katanya, 'Itu jelas keajaiban yang tidak datang setiap waktu.' Mengapa? Sebab, Johnny mengaku membutuhkan waktu 25 tahun untuk sampai berhasil me waralaba kan toko perhiasannya. 'Bagian yang paling susah adalah membuat sistemnya,' aku Johnny.

Padahal, menurut pengamat waralaba Amir Karamoy, sistem usaha yang mudah diajarkan adalah salah satu syarat penting apabila seorang pengusaha ingin me waralaba kan usahanya. Selain itu, ada beberapa hal lainnya yang mesti dibuat standar bakunya, mulai dari proses produksi, operasional, pembukuan, sumber daya manusia, dan sebagainya.

Mengenai pembuatan standar, Puspo punya cerita sendiri. Katanya, membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa membakukan bumbu di Wong Solo. 'Bayangkan, produksi bumbu massal di pabrik dikecilkan lagi untuk ukuran satu porsi. Ini jelas butuh teknologi untuk bisa memperoleh ukuran yang pas,' paparnya. Jelas Puspo enggan merinci apa saja bahan baku untuk bumbunya. 'Supaya jangan ada `Wong Solo` lainnya,' kilahnya.

Hal itu dibenarkan Devi Kusumawati yang mengaku bahwa tak cuma bumbu, tetapi, oleh Ayam Bakar Wong Solo, sayuran pun dibakukan dalam hitungan gram. Ini jauh berbeda dengan sistem produksi di Bakmi Japos yang menurutnya belum dibakukan. 'Tergantung kokinya. Kalau tak dikontrol, rasanya bisa tak sama,' kata Devi. Standarisasi bahan baku, bumbu, dan proses pengolahannya menjadi hal penting saat usaha makanan ingin di waralaba kan.


Johnny Salmon mengaku harus membayar konsultan perhiasan asing untuk membantunya membuat sistem. 'Waktu itu sebelum krisis, saya membayar sekitar US$85.000,' ungkapnya. Padahal, soal pengalaman dalam bisnis perhiasan, jam terbang Johnny jelas sangat panjang. Akan tetapi, hal itu toh tak serta merta membuat Johnny mampu mendesain sistem waralaba yang memikat investor. Maka, tak heran kalau akhirnya ia baru berhasil melakukan tes waralaba pertamanya di Yogyakarta pada Oktober 2002. Padahal, sejak 1994 Johnny sudah kepincut dengan waralaba.

Namun, sistem yang baik saja tak cukup membuat sebuah waralaba langsung dilirik investor. Sebab, menurut Amir Karamoy lagi, merek tersebut juga harus terkenal dan terbukti menguntungkan. Soal terbukti menguntungkan, ini bisa dilihat dari laporan keuangan perusahaan, yang mestinya diaudit oleh kantor akuntan publik. Untuk urusan terkenal, ini bisa dijajaki lewat survei, atau terkadang juga bisa relatif.

Misalnya, Julia Jewelry, sebagai merek, ia boleh saja masih asing bagi para investor. Namun, reputasi Johnny Salmon sebagai pemiliknya jelas melebihi popularitas Julia Jewelry. Buktinya, hanya dalam hitungan bulan sejak ia meluncurkan gerai waralaba pertamanya di Yogyakarta, kini Johnny sudah meresmikan enam gerai baru yang dibangun lewat cara waralaba. 'Masyarakat cepat paham sebab yang punya adalah saya,' aku Johnny, tanpa bermaksud sombong. Maklum, Johnny sudah bergelut di bisnis perhiasan lebih dari 25 tahun.


Lalu dalam 15 tahun terakhir, ia juga dikenal sebagai eksportir utama perhiasan Indonesia ke pasar Eropa. Ribuan gerai perhiasan di Jerman dan Belanda menjadi pelanggan setia produk Johnny. Reputasinya makin lengkap karena ia adalah mantan ketua umum Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia (APEPI) selama dua periode.

Sebaliknya, Puspo Wardoyo mesti berjuang keras sebelum Ayam Bakar Wong Solo-nya dilirik investor. Namanya masih belum populer saat ia menawarkan sistem waralaba pada 1997. 'Tak ada yang kenal Puspo Wardoyo. Merek Wong Solo pun belum bergaung. Malah yang ada, orang melamar untuk menjadi pegawai saya,' kata Puspo, terbahak. Bahkan sesudah ia membuka cabang di beberapa kota di Jawa Tengah lewat cara semi waralaba, dengan dana modal ventura, gelagat untuk terkenal pun tampak.

Nama Puspo baru dikenal setelah ia masuk Jakarta pada 2001. Ini pun sesudah ia merasa yakin bahwa namanya dan Ayam Bakar Wong Solo cukup sering diberitakan lewat media-media di Jakarta. Saat itulah, bersamaan dengan peresmian gerainya di Jl. Kalimalang, Jakarta Timur, ia mengumumkan bahwa Ayam Bakar Wong Solo bisa bekerja sama dengan orang lain lewat pola waralaba. 'Sejak itu kami pun diserbu oleh peminat waralaba,' katanya. Kini, Ayam Bakar Wong Solo memiliki 27 gerai, dengan 12 di antaranya berada di Jakarta.

Pengalaman Mellyana Rani, presdir PT Sarwagata Keluarga Sarana, dalam menawarkan waralaba restoran, kafe, dan sekaligus galeri Bebek Bali-nya lain lagi. Mellyana membutuhkan waktu enam tahun dan memiliki tiga cabang, sebelum akhirnya ia menawarkan waralaba Bebek Bali kepada para investor. Untuk membantu menciptakan sistemnya, Mellyana memakai jasa Amir Karamoy sebagai konsultan.

Kini resto-kafe-galeri Bebek Bali tengah menunggu pinangan investor. Perjuangan yang tak mudah. Sebab, Devi Kusumawati, yang juga sempat melirik Bebek Bali dan akhirnya mundur, menilai bahwa jumlah orang yang menyukai bebek masih sangat sedikit. Di sini, orang lebih menyukai ayam. Cuma yang barangkali luput dari pengamatan Devi, menu bebek di sini justru banyak disajikan oleh restoran-restoran kelas atas. Jadi, kalau konsumen kalangan ini yang disasar Bebek Bali, jumlahnya mungkin memang tak banyak, tetapi daya belinya sangat tinggi.

Sistem yang baku, atau merek yang terkenal, memang tak sepenuhnya menjamin suatu waralaba bakal menuai sukses. Masih ada faktor lain, seperti: apakah lokasinya sudah pas, kemudahan akses, dan sebagainya. Tanpa itu, hampir pasti suatu waralaba akan mengalami kegagalan.

wartaekonomi.com

GENUK CHRISTIASTUTI, PRANANDA HERDIAWAN, SALIM SHAHAB, DAN HENDARU

2 comments:

This momentousdecree warcraft leveling came as a great beacon light wow lvl of hope to millions of negroslaves wow power level who had been seared power leveling in the flames of power leveling withering wrath of the lich king power leveling injustice.wrath of the lich king power leveling it came as a WOTLK Power Leveling joyous daybreak to end the long WOTLK Power Leveling night ofcaptivity.WOTLK Power Leveling but one hundred years wlk power leveling later, we must face aoc gold the tragic fact thatthe age of conan power leveling negro is still not free. aoc power leveling one hundred years later,age of conan power leveling the lifeof the negro ffxi gil is still sadly crippled by the final fantasy xi gil manacles ofsegregation guild wars gold and the chains of discrimination. one hundred yearslater, maplestory mesos the negro lives on a lonely island of poverty in themidst of a vast ocean of material prosperity.dog clothes one hundred yearslater, the negro is still languishing in the corners of americansociety and finds himself an exile in his own land.

This momentousdecree warcraft leveling came as a great beacon light wow lvl of hope to millions of negroslaves wow power level who had been seared power leveling in the flames of power leveling withering wrath of the lich king power leveling injustice.wrath of the lich king power leveling it came as a WOTLK Power Leveling joyous daybreak to end the long WOTLK Power Leveling night ofcaptivity.WOTLK Power Leveling but one hundred years wlk power leveling later, we must face aoc gold the tragic fact thatthe age of conan power leveling negro is still not free. aoc power leveling one hundred years later,age of conan power leveling the lifeof the negro ffxi gil is still sadly crippled by the final fantasy xi gil manacles ofsegregation guild wars gold and the chains of discrimination. one hundred yearslater, maplestory mesos the negro lives on a lonely island of poverty in themidst of a vast ocean of material prosperity.dog clothes one hundred yearslater, the negro is still languishing in the corners of americansociety and finds himself an exile in his own land.