Bisnis Raksasa Salon Kecantikan

Tuesday, January 27, 2004

PUSAT perbelanjaan atau mal-mal menjadi pilihan mengembangkan bisnis salon kecantikan. Setidaknya, demikian bagi Johnny Andrean, Yoppie Andrean, Rudi Hadisuwarno, dan Suhendro Adikoro. Bagi para pengusaha yang telah mempunyai belasan hingga ratusan cabang salon ini, mal adalah ladang bisnis yang sangat menjanjikan.

MESKI demikian, ketatnya persaingan di bisnis perawatan kecantikan ini memaksa para pelakunya menerapkan strategi baru untuk terus mengembangkan usahanya atau sekadar mempertahankan yang sudah ada.
Masing-masing pengusaha berusaha menerapkan kiat-kiat khusus menjaring pelanggan.

Tantangan terberat, mereka pun harus berusaha menekan harga tetapi tetap mempertahankan mutu pelayanan. Pilihan mengembangkan usaha dengan sistem waralaba (franchise) dan joint partner diterapkan sejak tahun 1990-an.

Hasilnya sangat memuaskan. Selain menambah keuntungan bersih perusahaan dengan bertambah banyaknya cabang, pengembangan usaha melalui waralaba dan joint partner ini bisa dikatakan sukses. Terbukti, dengan mampu memperkuat nama masing-masing sebagai pusat pelayanan perawatan rambut terkemuka.

Johnny Andrean yang merintis salon pertamanya di tahun 1978, saat ini telah mengembangkan 163 cabang salon dengan merek (brand) namanya di seluruh Indonesia. Sebanyak 50 persen dari seluruh cabangnya itu dikelola melalui kerja sama dengan investor. Investor tersebut berfungsi sebagai penyedia modal, tetapi tidak bertanggung jawab terhadap pengelolaan usaha. Seluruh manajemen dari cabang-cabang salon menjadi kewenangan kantor pusat bisnis Johnny Andrean.

Cabang salon Johnny Andrean tidak hanya di kota-kota besar, melainkan di beberapa kota menengah dan kecil, seperti Cirebon, Surakarta, dan Sidoarjo. Di samping salon, Johnny Andrean juga membuka 37 sekolah dan pusat pelatihan keterampilan gunting rambut.

Sementara itu, Salon Rudy Hadisuwarno mengembangkan sistem waralaba. Sebanyak 80 persen dari seluruh salon milik penata rambut Rudy Hadisuwarno dikembangkan dengan sistem waralaba. Mengenai lokasinya, 60 persen di mal atau pusat pertokoan, dan selebihnya di ruko atau perumahan.

Saat ini, Rudy mempunyai sekitar 130 cabang di Indonesia, terbagi atas beberapa nama sesuai dengan segmen pelanggan. Hadisuwarno Salon, misalnya, ditujukan bagi masyarakat dari kalangan ekonomi atas. "Segmen pelanggan dari salon ini umumnya berusia 35 tahun ke atas dan mapan dari segi keuangan," kata Rudy.

Untuk pengunjung dari kalangan menengah ke atas, Rudy menyediakan Rudy Salon. Ada pula Brown Salon dengan segmen pengunjung khusus remaja berusia antara 13 hingga 30 tahun.
Selain itu, tersedia pula Rudy Hadisuwarno Training Center. Menurut Rudy, salon ini ditujukan bagi masyarakat dari kalangan bawah. Pasalnya, salon ini didirikan sebagai sarana pendidikan keterampilan bagi sejumlah siswa. "Pengunjung yang datang ke salon ini umumnya tidak berharap terlalu banyak karena penata rambutnya merupakan siswa yang masih dalam taraf belajar," katanya.

Perbedaan salon-salon tersebut terletak pada lokasi, harga, interior ruangan, peralatan salon, hingga pengalaman kerja para karyawan. Rudy mengatakan, salon untuk pelanggan dari kalangan atas umumnya memiliki fasilitas atau pelayanan yang semakin baik.
Rudy juga memperluas segmen pelanggan hingga ke anak-anak. Saat ini, ia memiliki dua jenis salon untuk anak-anak, yaitu KiddyCuts dan FunCut. Pelanggan KiddyCuts umumnya berasal dari kalangan kelas atas, sedangkan FunCut memiliki pelanggan dari kalangan menengah.

Yopie salon mengembangkan bisnis perawatan rambut sejak tahun 1996. Hingga saat ini, Yopie Salon memiliki sekitar 90 cabang di Indonesia, meliputi Yopie Salon Kawula Muda, Yopie Salon Profesional, dan Yopie Salon Training Center.

Manajer Yopie Salon Ivan Yauhanes mengatakan, pelanggan Yopie Salon dan Yopie Salon Profesional meliputi kelas menengah atas. Berbeda halnya dengan Yopie Salon Training Center. Pusat pelatihan ini bertujuan menjaring pelanggan dari kalangan menengah ke bawah.
"Yopie Salon Training Center didirikan sebagai ajang belajar para siswa untuk menjadi tenaga yang terampil. Dengan demikian, tarif umumnya lebih murah," jelasnya.

Perbedaan lainnya terlihat dari produk yang digunakan. Yopie Salon Training Center menggunakan produk lokal, sementara Yopie Salon dan Yopie Salon Profesional menggunakan produk impor dari Taiwan. "Para siswa dibimbing oleh pengajar. Apabila terjadi kesalahan fatal dalam tata rambut, kompensasi berupa perbaikan tata rambut dari pengajar," katanya.

Adapun waralaba Yopie Salon mencapai 55 persen dari jumlah salon. Dari jumlah tersebut, sebanyak lima salon berada di ruko, selebihnya berada di mal atau pusat perbelanjaan.
Di samping tiga salon di atas, Salon Lutuye juga sukses melebarkan bisnisnya melalui waralaba. Salon yang berdiri pada 20 Oktober 1997 itu sudah memiliki belasan salon yang tersebar di Jabotabek.

Lutuye yang mempunyai moto Gaya, Gaul, Global ini dikenal piawai dalam hal pewarnaan rambut. Menurut Manajer Unit di Tebet, Raja Khairi, tahun ini Lutuye mengandalkan pewarnaan rambut highlight merah marun. Sasaran Lutuye bukan hanya remaja, tetapi eksekutif muda, baik pria dan wanita, hingga ibu-ibu muda.

MENURUT General Manager Salon Johnny Andrean Yenny Ingkiriwang, dibutuhkan dana minimal sebesar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta sebagai modal awal bagi peminat yang ingin bergabung sebagai joint partner. Investor umumnya menawarkan tempat kepada manajemen Johnny Andrean. Apabila terjadi kecocokan di antara keduanya, kerja sama terus berlanjut dengan pembukaan outlet baru Salon Johnny Andrean.

Pemasukan tambahan bagi pihak manajemen Johnny Andrean berupa pembagian keuntungan sebesar 50 persen dari total keuntungan outlet. Yenny menambahkan, ada komitmen yang disepakati bersama dari kedua belah pihak. Pertama, mereka harus satu misi dan visi dengan perusahaan induk. Kedua, mereka bersedia menerima persyaratan yang telah ditentukan manajemen Johnny Andrean. Misalnya saja, setiap salon Johnny Andrean harus memakai produk dan peralatan sesuai standar.

Dalam sistem waralaba Rudy Hadisuwarno, pemilik salon waralaba bertindak sebagai pemberi modal atau investor. Pemilik dapat pula menentukan lokasi salon. Sedangkan mengenai pengelolaan salon, tetap menjadi kewenangan manajemen Rudy Hadisuwarno.
Untuk bisa bergabung menjadi partner Rudy dibutuhkan modal awal antara Rp 250 juta hingga Rp 500 juta sesuai jenis salon yang didirikan.

Berbeda dengan Rudy dan Andrean, Yopie Salon mewajibkan pemilik waralaba membayar royalti antara Rp 125 juta hingga Rp 150 juta kepada Yopie Salon. "Pembayaran ini disesuaikan dengan lokasi dan luasnya tempat yang dipergunakan," kata Ivan.
Setelah membayar royalti merek dagang untuk jangka lima tahun itu, Yopie Salon menyediakan seluruh peralatan dan interior ruangan salon. Akan tetapi, manajemen dikelola sepenuhnya oleh Yopie Salon. Adapun produk-produk perawatan di salon dibiayai secara bersama antara pemilik dengan Yopie Salon.

Keuntungan salon waralaba dibagikan setiap bulan. Menurut Ivan, keuntungan berkisar antara 10 hingga 20 persen dari total pendapatan. Setiap bulan, Yopie Salon juga melaporkan kepada pemilik mengenai jumlah tamu, jumlah perawatan, serta jumlah pendapatan. Bagi hasil keuntungan yang diterapkan adalah 50:50.

Eveline Adutae, salah satu pemilik cabang Salon Lutuye, mengaku tertarik dengan sistem waralaba karena keinginannya mempunyai salon sendiri. Setelah mendapatkan gelar sarjana hukum, Eveline memperdalam hobinya di bidang perawatan rambut dan kulit. "Dari hasil cari sana-sini, akhirnya, saya memutuskan untuk memilih Lutuye saja," katanya.

Ibu berusia 41 tahun ini merasa senang. Alasannya, ia masih diberi kebebasan mengembangkan bisnis salon ini. "Saya senang karena masih diberi kebebasan memilih produk pendamping dan tambahan pelayanan, seperti lulur dan refleksi," ungkapnya.
Meskipun diberi kebebasan, ia mengaku tidak mau kebablasan. Ia pun masih memakai tenaga terlatih dari Lutuye.

Berdirinya salon impian Eveline itu menghabiskan dana sekitar Rp 240 juta. Dana itu digunakan sekitar Rp 107 juta untuk pengurusan izin yang dibayarkan pada Lutuye. Sementara sisanya, untuk dana pembelian alat-alat salon sesuai standar Salon Lutuye.

Pemberlakuan royalti sebesar tujuh persen yang harus dibayarkan Eveline kepada pihak manajemen pusat Lutuye berlaku pada bulan ketujuh nanti. "Bulan Mei nanti baru saya akan bayar. Itu pun kalau pendapatan setiap bulannya mampu mencapai Rp 45 juta," kata Eveline. Ketika pendapatan setiap bulannya tidak mampu mencapai Rp 45 juta, maka tak perlu dipotong tujuh persen," katanya.

DI tahun 2004 ini, Yenny mengatakan tidak mempunyai target khusus mengenai perkembangan bisnis salon yang dikelolanya. "Saat ini kami lebih memilih diam dan melihat situasi bisnis salon yang ada saja. Terus terang, sejak krisis moneter tahun 1997-1998, keuntungan bisnis kami menurun tajam. Kami sudah sangat beruntung tetap dapat mempertahankan keberadaan seluruh outlet dan semua karyawan kami," katanya.

Rata-rata di setiap outlet terdapat 10-15 karyawan, termasuk penata rambut (stylist). Saat ini, jumlah pengunjung minimal 50 orang per hari masih dapat dipertahankan di seluruh outlet.
Tahun-tahun mendatang, manajemen Johnny Andrean baru akan merencanakan lebih lanjut tentang pengembangan bisnisnya berdasarkan hasil pengamatan di tahun ini.

Yopie Salon juga tidak memiliki target tertentu untuk mendirikan waralaba di tahun ini. Sebab, Yopie Salon tidak ingin mengambil risiko waralaba yang didirikan tidak berhasil atau tidak produktif. "Kami perlu menjaga citra salon. Dengan demikian, pendirian waralaba melalui seleksi yang ketat," kata Ivan.

Sementara itu, Rudy Hadisuwarno menargetkan pendirian 10 cabang setiap tahun. Adapun para pegawai umumnya dari pusat pelatihan maupun sekolah-sekolah milik Rudy.
Meski demikian, baik Rudy, Johnny, maupun Yopie tidak memastikan seluruh siswa yang belajar di sekolah-sekolah tersebut dapat langsung direkrut menjadi pegawai. "Kami tidak menjamin semua siswa yang belajar dapat direkrut. Akan tetapi, mereka yang berprestasi dapat langsung kami rekrut," kata Rudy.

Eveline menambahkan, bisnis salon ini tidak ada matinya. "Sekarang ini kebutuhan salon sudah bukan monopoli wanita. Buktinya, pria dan anak-anak justru sudah mulai merawat diri di salon," tambah Eveline.

Menurut ibu yang juga bekerja di salah satu kantor pemerintah ini, meski salonnya baru dibuka tiga bulan lalu, pendapatannya sudah cukup lumayan. Setidaknya, 10 karyawan yang bekerja di salonnya mendapatkan gaji penuh. (K03/K05/K08)
Read more...

Bakmi Japos: Dari Anak Yatim Piatu Penjual Gundu

Thursday, January 8, 2004

Oleh : S. Ruslina

Boleh jadi mie memang bisa menjadi sahabat yang baik bagi orang yang tidak mau menyerah pada kerasnya kehidupan. Hengky Tjoa (45) dari Bakmi Japos harus terseok-seok sebelum kini mengibarkan diri sebagai "Rajanya Mie".
Asal tahu saja, Rajanya Mie dijadikan gimmick-pemikat dagang Hengky yang terbaca pada logo Bakmi Japos.

Hengky yang yatim piatu sebelum menginjak usia remaja itu harus menghidupi tiga adik-adiknya. Hengky antara lain pernah berjualan gundu, permen, sampai koran, atau apa saja yang bisa dijadikan uang. Selepas SMA, Hengky menjalani beragam bisnis mulai dari berjualan pakaian, ikan hias, usaha video rental, sampai berjualan ikan bakar, yang semuanya berakhir dengan satu kata: bangkrut.

"Waktu jualan ikan bakar di (Jalan) Radio Dalam setiap hari saya tekor melulu. Sialnya waktu itu hujan deras, tenda ambruk," kenang Hengky seakan menyempurnakan kisah sengsaranya.

Dia tidak menyerah. Pada tahun 1992, Hengky mengumpulkan apa saja yang tersisa untuk dijadikan bekal melanjutkan hidup. Ia menjual bangku, tenda warung, dan perkakas kerja yang akhirnya terkumpul Rp 750.000. Dari uang itulah lelaki yang senang memasak itu memulai usaha mi.
"Saya jualan pakai gerobak di depan kantor pemasaran perumahan Villa Japos. Saya jualan mi dengan harapan bisa diterima dan syukurlah mi saya diterima," tutur Hengky yang ditemui di Bakmi Japos, Bintaro Sektor 7.

Hengky yang semula belum mempunyai pengalaman di jagat mi itu bersedia belajar dari nol. Dia mempelajari cara pembuatan bahan dasar mi sekitar satu setengah tahun.
"Waktu pertama saya coba- coba dulu itu rasanya memang enggak karu-karuan. Saya coba terus sampai akhirnya terasa enak. Kalau mi saya tak enak, bagaimana saya bisa meyakinkan pembeli. Lidah saya kan juga mewakili taste banyak orang," kata Hengky yang memang penggemar berat mi.

Untuk sekadar promosi, Hengky membagikan selebaran kertas fotokopi yang berisi alamat dan menu Bakmi Japos yang saat itu hanya menyediakan mi ayam dan mi pangsit. Bakmi Hengky terbukti laris dan pembeli pun harus antre. Larisnya warung mi mengajarkan Hengky untuk lebih sabar dalam menghadapi manusia.
"Pernah saya ditunjuk-tunjuk dan dikata-katain pembeli. Dia bilang, ’Nanti saya gampar kamu.’ Itu karena dia tidak terlayani dengan cepat," kenang Hengky.

Perjalanan Hengky dengan Bakmi Japosnya tergolong dahsyat. Hanya dalam waktu singkat dan modal tak kurang dari Rp 750 ribu pada waktu itu, kini Bakmi Japos memiliki 22 cabang dengan omset miliaran rupiah setiap tahun. Prestasi ini tidak main-main. Tidak banyak pengusaha yang berhasil membalikkan sejarahnya dalam waktu singkat -- dari warung tenda menjadi pemilik dan pengembang waralaba Bakmi Japos.
"Modal saya keuletan. Saya hanya berpikir, bagaimana agar bakmi saya bisa diterima pasar," papar Hengky yang sempat jatuh-bangun sebagai penjual makanan mengenai rahasia suksesnya.

Setelah beberapa waktu berjalan, Hengky punya lima resep lain bagaimana memenangi pasar, yakni: menang rasa, menang harga, menang porsi, menang suasana dan menang pelayanan. Yang dimaksudkan menang rasa adalah baik bakmi maupun makanan lain seperti hot plate, sapo tahu, kepiting, udang asam manis buatannya, harus memiliki rasa khas yang disukai sekaligus dipercayai kehalalannya oleh pengunjung. Karena itu, Hengky sengaja menempatkan ruang dapur di muka restoran, agar pengunjung dapat melihat langsung proses memasak dan leluasa bertanya pada kru di dapur mengenai bahan-bahan yang digunakan.

Kemudian, menang harga dimaksudkan harga Bakmi Japos harus lebih murah ketimbang resto-resto bakmi di kelasnya. "Dengan uang Rp 10 ribu sudah bisa makan di Japos," ujarnya. Adapun konsep menang porsi, menurutnya, memberikan porsi lebih besar dan lebih banyak ketimbang yang lainnya. Dengan konsep porsi lebih besar, Hengky ingin menyampaikan kepada pelanggan bahwa porsi yang disajikan bisa disantap untuk beberapa anggota keluarga.

Seiring perjalanan waktu, ayah seorang anak ini menambah satu konsep lagi, yakni suasana. Untuk itu, Bakmi Japos cabang ke-6 di bilangan Bintaro Sektor 7, Tangerang menjadi gerai percontohan sekaligus kantor pusat. Gerai seluas 1.500 m2 ini meliputi dapur, ruang makan, ruang makan VIP, kafe dan tempat pertunjukan musik. Bahkan, khusus di tempat ini pula, Bakmi Japos buka 24 jam nonstop (tiga shift). "Tidak seperti kafe-kafe yang mengundang artis tenar, hiburan di sini hanya sebagai sarana pelengkap,? tutur Hengky.

Dari sekian konsep yang dijalankan, menurut Hengky, yang terbilang paling sulit direalisasi adalah menang pelayanan. Ada tiga versi pelayanan di Bakmi Japos, yakni: eat in (pelanggan makan di tempat), take a way (dibawa pulang), dan delivery order. Ketiganya membutuhkan perlakuan khusus agar dapat menjadi pelayanan yang diberikan secara optimal.

Guna mempercepat pertumbuhan, sejak 2003 Hengky menerapkan sistem waralaba. Dari 22 gerainya kini, 12 di antaranya dibangun dengan sistem waralaba. Investasi yang harus dikeluarkan kepada mitra waralaba berkisar Rp 1,5 miliar (untuk alat bantu kerja, SDM, dan pengadaan bahan baku, tidak termasuk sewa gedung). "Saya menargetkan break even point kurang-lebih tiga tahun," Hengky berujar. Bagi pewaralaba, mereka harus membayar royalti 6% total penjualan dan akan memperoleh keuntungan tipis 12%-14%. Kendati begitu, ternyata tak membuat mitranya lari meninggalkan Bakmi Japos. Sebab, dengan membuka Bakmi Japos, sepertinya sudah jaminan pengunjung bakal datang berduyun-duyun.

Dari pengalaman Hengky selama ini, setiap hari setidaknya 500 tamu berkunjung ke Bakmi Japos. Bahkan, ada beberapa gerai yang bisa menyedot 1.000 pengunjung per hari. Tahun 2004, Hengky berencana membuka 6 gerai di beberapa titik Ibu Kota. Selain itu, ia juga akan mencoba peruntungan keluar Jakarta, yakni membuka cabang Bandung. Bandung menjadi salah satu proyek percontohan, untuk melihat masih dapatkah pengontrolan dilakukan dengan baik.

Menurut Rhenald Kasali, pengamat dari Program Ilmu Manajemen Pascasarjana Universitas Indonesia, berkembangnya kewirausahaan Bakmi Japos, tak lain karena sosok Hengky yang memiliki semangat juang yang kuat. Dendam dengan kemiskinan membuatnya terus mencoba segala hal. Kemiskinan ini yang membuat dia berani menghadapi rintangan.

Setelah malang melintang mengais rezeki, pada akhirnya ia menemukan faktor keberuntungan. Sebenarnya, lanjut Rhenald, Hengky tak sekadar beruntung. Pria 45 tahun ini pasti memiliki kreativitas dan akal yang panjang. Kalau tidak, mana mungkin Bakmi Japos bisa berkembang seperti sekarang?

Sumber: SWA
Read more...

RM Sederhana: Berkembang dengan Kemitraan

Oleh : Darandono

Bustaman, pemilik Rumah Makan Sederhana, mengaku tidak menyangka bisnis yang dirintisnya akan sebesar sekarang. Padahal, ia merintis bisnis ini pada 1971 dengan menggunakan tenda ala kadarnya dan gerobak dorong.

Untuk memulai usaha ini, mantan pedagang rokok ini harus menjual seluruh rokok dagangannya untuk modal. Dari hasil penjualan rokok, saat itu ia hanya mendapat Rp 15 ribu. Uang segitu ternyata tidak cukup sebagai modal kerja.

Beruntung, istrinya mendapat pinjaman dari keluarga, meskipun tidak besar. Lalu, dengan Rp 30 ribu, pria kelahiran Padang 61 tahun lalu ini nekat membuka warung makan pertama di Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Selatan. "Kawasan tersebut sudah ramai dan belum banyak yang berjualan nasi (di sana)," kata Bustaman, membuka alasannya.

Dalam tempo setahun, hasilnya mulai terlihat. Setiap hari, warung ini mampu menjual sekitar 150 porsi dengan harga Rp 60/porsi atau dengan omset Rp 9 ribu/hari. Tahun 1974, ia membeli dua kios yang masing-masing berukuran 3x4 m seharga Rp 300 ribu dengan uang muka 20%, dan cililan Rp 9 ribu/bulan selama dua tahun. Setahun kemudian ia menyewa kios seluas 6x15 m di Roxy dengan harga sewa Rp 200 ribu/bulan.

Semenjak itulah, RM Sederhana tumbuh dengan mencetak penjualan Rp 300-400 ribu/hari. Ketika pada 1980 para pedagang di Benhil mendapat kemudahan memperoleh kredit pengembangan usaha, Bustaman pun tidak mau ketinggalan. Saat itu, ia mendapatkan kredit Rp 3 juta yang digunakan untuk membuka beberapa rumah makan. Maklum, bila hanya mengandalkan modal sendiri, RM Sederhana tak akan cepat berkembang.

Untuk mempercepat pengembangan RM Sederhana, Bustaman menggandeng mitra. Cara pertama, pola kerja sama dengan modal ditanggung bersama dan hasil dibagi dua. Pola kedua, Bustaman hanya sebagai pengelola, sedangkan semua modal ditanggung mitra. Dengan pola ini, 70% keuntungan untuk mitra dan 30% untuk pengelola. Dari 30% keuntungan yang didapat, 50% untuk Bustaman dan sisanya untuk karyawan.

Dengan pola pengembangan seperti itu, kini ada 30 lebih RM Sederhana. "Ada yang beromset di bawah Rp 1 juta/hari, ada juga yang mencapai Rp 3 juta/hari," katanya. Kunci sukses lainnya? "Yang penting, harganya terjangkau," ujarnya. Harga, menurutnya, hanyalah salah satu faktor. Ia juga memperhatikan kualitas, layanan dan kenyamanan pelanggan.

Ke depan, Bustaman akan terus mengembangkan jumlah rumah makannya. Sayang, diakuinya, sebagian tengah dilanda masalah, yakni beberapa mitra ingin membuka sendiri. "Kami sedang menyelesaikan dan menempuh jalur hukum," tuturnya.

Sumber: SWA Read more...

Izzi Pizza: Ingin Jadi Resto Piza Terbaik di Indonesia

Oleh : Herning Banirestu

Nama Izzi Pizza jauh lebih populer ketimbang PT Sri Agung Cahaya Sakti, pemilik resto tersebut. Meski usianya masih sangat muda, bisa digolongkan sebagai start-up company, perkembangannya sangat pesat.

Gerainya ada 7 buah dan menyebar di berbagai lokasi strategis Jakarta: Menteng, Pondok Indah, Gedung BEJ, Kemang, Cilandak Town Square, Kelapa Gading dan terakhir baru dibuka menjelang Lebaran tahun lalu di Mega Plaza Bekasi.

Pesatnya perkembangan Izzi Pizza tak lepas dari figur pemiliknya, Robert A. Eskapa, yang sangat serius menggarap konsep resto pizanya melalui riset selama satu tahun sebelum dibuka. Perusahaan yang berdiri pada Maret 2002 ini ingin menjadikan Izzi Pizza sebagai resto piza terbaik di Indonesia. Dengan menyuguhkan berbagai hidangan berbau Italia, resto ini makin kuat dengan tag line-nya, The Real Italian Pizza.

Meski pendatang baru, Izzi Pizza mampu merebut hati penggemar piza. Kekuatannya, pada personalize customer yang mereka terapkan dalam melayani pelanggan. Hubungan dengan konsumen sangat diperhatikan. Tak heran, repeat customer-nya diperkirakan mencapai 80%. Bahkan, breakeven point dapat diraih setelah satu gerai dibuka. Agar lebih dekat dengan pelanggan, mereka mengeluarkan Izzi Pizza Club. Pelanggan yang memegang kartu anggota ini berhak mendapatkan berbagai keuntungan, seperti diskon sampai point reward yang dapat ditukar dengan menu lain yang dijual di sana.

Izzi Pizza mengutamakan kebersihan hingga tiap sudut restonya. Begitu juga, kualitas bahan baku hidangannya. Perusahaan dengan 400-an pekerja ini menyebut karyawannya sebagai Associate. Komunikasi terbuka diutamakan demi transparansi antara manajemen dan karyawan. Tiap Jumat ada pertemuan yang digunakan untuk meningkatkan delivery, menurunkan biaya dan meningkatkan bisnis. Setiap hari diadakan outlet meeting, setiap minggu ada operational meeting, general meeting dilakukan setiap bulan, dan setiap tiga bulan sekali diadakan quaterly meeting.

Menurut Robert, yang ditawarkan Izzi Pizza bukan sekadar hidangan, tapi juga harga, rasa dan tempat. Tidak hanya hidangan Italia yang lezat, tapi juga lingkungan yang nyaman dengan layanan yang baik dan harga yang pantas. Nama Izzi -- yang dipilih agar mudah diingat dan Robert menyukainya -- ternyata ampuh menarik konsumen. Kemajuan teknologi pun dipakai guna memudahkan konsumen yang ingin pesan antar. Izzi Pizza memiliki satu nomor telepon yang bisa langsung melacak lokasi cabang terdekat yang dapat mengantarkan pesanan dengan cepat ke konsumen.

Konsumen pun bisa membayar pesanannya dengan kartu kredit. Perusahaan ini menargetkan 20 gerai dibuka hingga tahun depan. Di samping itu, produk-produk Izzi Pizza akan hadir pula di pasar modern, berupa spageti, piza dan lasagna dengan merek yang sama dengan nama restonya.

Sumber: SWA Read more...

Geliat Minimarket Islami

Konsep Islami beberapa tahun terakhir diterapkan oleh kalangan perbankan nasional dengan menghadirkan layanan perbankan syariah. Belakangan, giliran beberapa pebisnis ritel yang kelihatan berusaha mengadopsi nilai dan nuansa Islami.

Perhatikan saja, bila Anda mengunjungi gerai minimarket Al Hikmah, ada suasana agak berbeda dari gerai minimarket umumnya yang bertebaran di Jabotabek. Selain menjual produk berlabel halal, manajemen Al Hikmah mengharuskan seluruh pramuniaga wanita mengenakan jilbab.

Suasana Islami semakin terasa dengan mengalunnya lagu-lagu penyejuk rohani bagi kalangan Muslim.Selain Al Hikmah, konsep dan nuansa ritel Islami tampaknya juga berusaha dihadirkan oleh beberapa nama lain: Super Mini Market (SMM) yang dikelola Kopontren Daruut Tauhiid (Bandung), Al Amin (Bogor), dan Markaz yang kini memiliki 17 gerai dengan konsep waralaba.

Perkembangan jumlah gerai ritel berkonsep Islami memang tidak secepat gerai ritel konvensional, seperti Indomaret ataupun Alfamart. Alfamart, misalnya, hingga akhir 2003 menargetkan akan memiliki sekitar 600 gerai, sedangkan Indomaret memancang target 800 gerai (bahkan hingga akhir tahun depan 1.000 gerai). Adapun Markaz yang mulai dirintis sejak tahun 2000, baru memiliki 17 gerai yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta dan beberapa kota di Jawa Timur. "Tahun depan kami menargetkan memiliki 54 outlet," ujar Aji Haryo, Franchise Recruitment Officer PT Solar Sentra Distribusi, pengelola Markaz.

Menurut Aji, untuk mempercepat penambahan gerainya Markaz menawarkan sistem waralaba. Kelebihan yang ditonjolkan, antara lain menawarkan konsep waralaba Islami dengan investasi relatif rendah. Ia menjelaskan, untuk gerai seluas 50 m2 (stok awal sekitar 2 ribu item produk), peminat cukup membayar sekitar Rp 125 juta, plus fee waralaba Rp 25 juta untuk jangka waktu 5 tahun, sedangkan untuk gerai seluas 120 m2 (stok awal 4-5 ribu item produk), peminat harus membayar sekitar Rp 250 juta dengan fee Rp 35 juta untuk jangka waktu 5 tahun.
Adapun target omsetnya, disebutkan Aji, Rp 2-3 juta/hari untuk toko ukuran 50 m2, dan Rp 6-7 juta/m2 untuk toko seluas 120 m2.

Jelas, investasi di Markaz relatif lebih murah dibanding Alfamart, misalnya. Di jaringan ritel yang dikelola Grup Sampoerna ini, untuk tipe toko 36 rak (luas toko 60-90 m2), peminat harus membayar biaya sekitar Rp 300 juta, tipe 45 rak (90-150 m2) Rp 350 juta, dan tipe 54 rak (150 m2) Rp 400 juta. Biaya itu sudah termasuk fee waralaba.

Berbeda dari Markaz yang tergolong ekspansif di kalangan peritel berkonsep Islami, Al Hikmah agaknya lebih konservatif. Dengan memiliki dua gerai minimarket dan satu gerai supermarket saat ini, pengelolanya mengaku belum berencana menambah outlet hingga akhir 2003. Bahkan, tahun depan hanya akan menambah satu gerai di Bintaro.

Menurut Trio Nursalam, General Manager Pemasaran Al Hikmah, kelebihan minimarket-nya adalah membidik segmen menengah-bawah, sehingga harga murah dijadikan senjata untuk menarik konsumen. "Margin kotor yang kami dapat rata-rata sekitar 10%," katanya. Strategi harga murah ini dilakukan Al Hikmah dengan cara subsidi silang di antara beberapa produk yang dijual. Menurut Trio, agar tidak ditinggalkan konsumennya, Al Hikmah juga mengedepankan pelayanan kepada konsumen, dan menjaga kelengkapan produk sesuai dengan keinginan konsumen. "Selain harga, kelengkapan produk juga menjadi daya tarik konsumen," katanya.

Niken, 34 tahun, pengunjung minimarket Al Hikmah Rawamangun, mengakui kelengkapan produk yang ditawarkan menjadi daya tarik, apalagi beberapa produk sembako seperti telur dan susu harganya lebih murah dibanding minimarket lain. Trio memperkirakan, omset masing-masing gerai minimarket-nya Rp 3-4 juta/hari.

Langkah konservatif juga dipilih SMM yang berlokasi di Geger Kalong Girang, Bandung. SMM yang didirikan Kopontren Daruut Tauhiid pada 1994, belum berani berekspansi menambah gerai. Menurut Abdurrachman Yuri, pengelola SMM yang juga adik kandung Aa Gym, sampai saat ini SMM belum berencana menambah gerai. Alasannya, konsep SMM awalnya hanya untuk memberdayakan potensi masyarakat setempat. Sekarang, gerai toko dua lantai ini menyediakan sekitar 9 ribu item produk, dengan omset Rp 350 juta/bulan.

Menurut Anwar Hadi Isnianto, Vice President MQ Corporation, sebenarnya SMM tidak melabelkan sebagai jaringan ritel Islami. Memang, diakui Anwar, ketika terdengar adzan, minimarket itu sementara ditutup. Namun, menurutnya, nuansa Islami justru lebih ditekankan pada manajemen dan kualitas pelayanan yang didukung dengan menjual produk yang dijamin kehalalannya.Anwar mengungkapkan, tahun depan MQ Corporation hendak menekuni bisnis minimarket dengan label MQMart yang merupakan pengembangan dari MQNet.

Menurutnya, perkembangan MQNet sangat pesat, hanya dalam beberapa bulan telah memiliki 250 ribu member. Namun, ia belum bersedia menjelaskan panjang-lebar tentang konsep minimarket yang hendak dikembangkan. "Rencananya akan dikembangkan dengan pola franchise dan outlet pertamanya di Bandung," ujarnya.

Pudjianto, Direktur Pengelola Alfamart menyambut baik munculnya minimarket bernuansa Islami, karena kehadiran minimarket ini membidik segmen tersendiri yaitu kaum Muslim. Ia mencontohkan Tip Top, yang sudah dipersepsikan sebagai supermarket bernuansa Islami, sehingga memiliki pelanggan loyal, meskipun harganya belum tentu lebih murah.

Ia membenarkan dari sisi pelayanan, jaringan ritel bernuansa Islami memang terkesan lebih memberikan kenyamanan bagi konsumen. Namun, dari segi harga, ia kurang yakin bila jaringan minimarket bisa memberikan harga lebih murah, karena hal ini terkait dengan volume penjualan.

Ke depan, minimarket bernuansa Islami tampaknya masih terfokus pada memperbanyak jumlah gerai, dan belum berencana mengembangkan ke skala yang lebih besar seperti supermarket ataupun hypermarket. "Kami sedang melihat perkembangan, tapi dari pihak pemilik ke depan ada rencana mengarah ke hypermarket, meskipun ini baru sampai tahap pemikiran," papar Trio.

Oleh : Darandono/SWA
Read more...