Bisnis Raksasa Salon Kecantikan

Tuesday, January 27, 2004

PUSAT perbelanjaan atau mal-mal menjadi pilihan mengembangkan bisnis salon kecantikan. Setidaknya, demikian bagi Johnny Andrean, Yoppie Andrean, Rudi Hadisuwarno, dan Suhendro Adikoro. Bagi para pengusaha yang telah mempunyai belasan hingga ratusan cabang salon ini, mal adalah ladang bisnis yang sangat menjanjikan.

MESKI demikian, ketatnya persaingan di bisnis perawatan kecantikan ini memaksa para pelakunya menerapkan strategi baru untuk terus mengembangkan usahanya atau sekadar mempertahankan yang sudah ada.
Masing-masing pengusaha berusaha menerapkan kiat-kiat khusus menjaring pelanggan.

Tantangan terberat, mereka pun harus berusaha menekan harga tetapi tetap mempertahankan mutu pelayanan. Pilihan mengembangkan usaha dengan sistem waralaba (franchise) dan joint partner diterapkan sejak tahun 1990-an.

Hasilnya sangat memuaskan. Selain menambah keuntungan bersih perusahaan dengan bertambah banyaknya cabang, pengembangan usaha melalui waralaba dan joint partner ini bisa dikatakan sukses. Terbukti, dengan mampu memperkuat nama masing-masing sebagai pusat pelayanan perawatan rambut terkemuka.

Johnny Andrean yang merintis salon pertamanya di tahun 1978, saat ini telah mengembangkan 163 cabang salon dengan merek (brand) namanya di seluruh Indonesia. Sebanyak 50 persen dari seluruh cabangnya itu dikelola melalui kerja sama dengan investor. Investor tersebut berfungsi sebagai penyedia modal, tetapi tidak bertanggung jawab terhadap pengelolaan usaha. Seluruh manajemen dari cabang-cabang salon menjadi kewenangan kantor pusat bisnis Johnny Andrean.

Cabang salon Johnny Andrean tidak hanya di kota-kota besar, melainkan di beberapa kota menengah dan kecil, seperti Cirebon, Surakarta, dan Sidoarjo. Di samping salon, Johnny Andrean juga membuka 37 sekolah dan pusat pelatihan keterampilan gunting rambut.

Sementara itu, Salon Rudy Hadisuwarno mengembangkan sistem waralaba. Sebanyak 80 persen dari seluruh salon milik penata rambut Rudy Hadisuwarno dikembangkan dengan sistem waralaba. Mengenai lokasinya, 60 persen di mal atau pusat pertokoan, dan selebihnya di ruko atau perumahan.

Saat ini, Rudy mempunyai sekitar 130 cabang di Indonesia, terbagi atas beberapa nama sesuai dengan segmen pelanggan. Hadisuwarno Salon, misalnya, ditujukan bagi masyarakat dari kalangan ekonomi atas. "Segmen pelanggan dari salon ini umumnya berusia 35 tahun ke atas dan mapan dari segi keuangan," kata Rudy.

Untuk pengunjung dari kalangan menengah ke atas, Rudy menyediakan Rudy Salon. Ada pula Brown Salon dengan segmen pengunjung khusus remaja berusia antara 13 hingga 30 tahun.
Selain itu, tersedia pula Rudy Hadisuwarno Training Center. Menurut Rudy, salon ini ditujukan bagi masyarakat dari kalangan bawah. Pasalnya, salon ini didirikan sebagai sarana pendidikan keterampilan bagi sejumlah siswa. "Pengunjung yang datang ke salon ini umumnya tidak berharap terlalu banyak karena penata rambutnya merupakan siswa yang masih dalam taraf belajar," katanya.

Perbedaan salon-salon tersebut terletak pada lokasi, harga, interior ruangan, peralatan salon, hingga pengalaman kerja para karyawan. Rudy mengatakan, salon untuk pelanggan dari kalangan atas umumnya memiliki fasilitas atau pelayanan yang semakin baik.
Rudy juga memperluas segmen pelanggan hingga ke anak-anak. Saat ini, ia memiliki dua jenis salon untuk anak-anak, yaitu KiddyCuts dan FunCut. Pelanggan KiddyCuts umumnya berasal dari kalangan kelas atas, sedangkan FunCut memiliki pelanggan dari kalangan menengah.

Yopie salon mengembangkan bisnis perawatan rambut sejak tahun 1996. Hingga saat ini, Yopie Salon memiliki sekitar 90 cabang di Indonesia, meliputi Yopie Salon Kawula Muda, Yopie Salon Profesional, dan Yopie Salon Training Center.

Manajer Yopie Salon Ivan Yauhanes mengatakan, pelanggan Yopie Salon dan Yopie Salon Profesional meliputi kelas menengah atas. Berbeda halnya dengan Yopie Salon Training Center. Pusat pelatihan ini bertujuan menjaring pelanggan dari kalangan menengah ke bawah.
"Yopie Salon Training Center didirikan sebagai ajang belajar para siswa untuk menjadi tenaga yang terampil. Dengan demikian, tarif umumnya lebih murah," jelasnya.

Perbedaan lainnya terlihat dari produk yang digunakan. Yopie Salon Training Center menggunakan produk lokal, sementara Yopie Salon dan Yopie Salon Profesional menggunakan produk impor dari Taiwan. "Para siswa dibimbing oleh pengajar. Apabila terjadi kesalahan fatal dalam tata rambut, kompensasi berupa perbaikan tata rambut dari pengajar," katanya.

Adapun waralaba Yopie Salon mencapai 55 persen dari jumlah salon. Dari jumlah tersebut, sebanyak lima salon berada di ruko, selebihnya berada di mal atau pusat perbelanjaan.
Di samping tiga salon di atas, Salon Lutuye juga sukses melebarkan bisnisnya melalui waralaba. Salon yang berdiri pada 20 Oktober 1997 itu sudah memiliki belasan salon yang tersebar di Jabotabek.

Lutuye yang mempunyai moto Gaya, Gaul, Global ini dikenal piawai dalam hal pewarnaan rambut. Menurut Manajer Unit di Tebet, Raja Khairi, tahun ini Lutuye mengandalkan pewarnaan rambut highlight merah marun. Sasaran Lutuye bukan hanya remaja, tetapi eksekutif muda, baik pria dan wanita, hingga ibu-ibu muda.

MENURUT General Manager Salon Johnny Andrean Yenny Ingkiriwang, dibutuhkan dana minimal sebesar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta sebagai modal awal bagi peminat yang ingin bergabung sebagai joint partner. Investor umumnya menawarkan tempat kepada manajemen Johnny Andrean. Apabila terjadi kecocokan di antara keduanya, kerja sama terus berlanjut dengan pembukaan outlet baru Salon Johnny Andrean.

Pemasukan tambahan bagi pihak manajemen Johnny Andrean berupa pembagian keuntungan sebesar 50 persen dari total keuntungan outlet. Yenny menambahkan, ada komitmen yang disepakati bersama dari kedua belah pihak. Pertama, mereka harus satu misi dan visi dengan perusahaan induk. Kedua, mereka bersedia menerima persyaratan yang telah ditentukan manajemen Johnny Andrean. Misalnya saja, setiap salon Johnny Andrean harus memakai produk dan peralatan sesuai standar.

Dalam sistem waralaba Rudy Hadisuwarno, pemilik salon waralaba bertindak sebagai pemberi modal atau investor. Pemilik dapat pula menentukan lokasi salon. Sedangkan mengenai pengelolaan salon, tetap menjadi kewenangan manajemen Rudy Hadisuwarno.
Untuk bisa bergabung menjadi partner Rudy dibutuhkan modal awal antara Rp 250 juta hingga Rp 500 juta sesuai jenis salon yang didirikan.

Berbeda dengan Rudy dan Andrean, Yopie Salon mewajibkan pemilik waralaba membayar royalti antara Rp 125 juta hingga Rp 150 juta kepada Yopie Salon. "Pembayaran ini disesuaikan dengan lokasi dan luasnya tempat yang dipergunakan," kata Ivan.
Setelah membayar royalti merek dagang untuk jangka lima tahun itu, Yopie Salon menyediakan seluruh peralatan dan interior ruangan salon. Akan tetapi, manajemen dikelola sepenuhnya oleh Yopie Salon. Adapun produk-produk perawatan di salon dibiayai secara bersama antara pemilik dengan Yopie Salon.

Keuntungan salon waralaba dibagikan setiap bulan. Menurut Ivan, keuntungan berkisar antara 10 hingga 20 persen dari total pendapatan. Setiap bulan, Yopie Salon juga melaporkan kepada pemilik mengenai jumlah tamu, jumlah perawatan, serta jumlah pendapatan. Bagi hasil keuntungan yang diterapkan adalah 50:50.

Eveline Adutae, salah satu pemilik cabang Salon Lutuye, mengaku tertarik dengan sistem waralaba karena keinginannya mempunyai salon sendiri. Setelah mendapatkan gelar sarjana hukum, Eveline memperdalam hobinya di bidang perawatan rambut dan kulit. "Dari hasil cari sana-sini, akhirnya, saya memutuskan untuk memilih Lutuye saja," katanya.

Ibu berusia 41 tahun ini merasa senang. Alasannya, ia masih diberi kebebasan mengembangkan bisnis salon ini. "Saya senang karena masih diberi kebebasan memilih produk pendamping dan tambahan pelayanan, seperti lulur dan refleksi," ungkapnya.
Meskipun diberi kebebasan, ia mengaku tidak mau kebablasan. Ia pun masih memakai tenaga terlatih dari Lutuye.

Berdirinya salon impian Eveline itu menghabiskan dana sekitar Rp 240 juta. Dana itu digunakan sekitar Rp 107 juta untuk pengurusan izin yang dibayarkan pada Lutuye. Sementara sisanya, untuk dana pembelian alat-alat salon sesuai standar Salon Lutuye.

Pemberlakuan royalti sebesar tujuh persen yang harus dibayarkan Eveline kepada pihak manajemen pusat Lutuye berlaku pada bulan ketujuh nanti. "Bulan Mei nanti baru saya akan bayar. Itu pun kalau pendapatan setiap bulannya mampu mencapai Rp 45 juta," kata Eveline. Ketika pendapatan setiap bulannya tidak mampu mencapai Rp 45 juta, maka tak perlu dipotong tujuh persen," katanya.

DI tahun 2004 ini, Yenny mengatakan tidak mempunyai target khusus mengenai perkembangan bisnis salon yang dikelolanya. "Saat ini kami lebih memilih diam dan melihat situasi bisnis salon yang ada saja. Terus terang, sejak krisis moneter tahun 1997-1998, keuntungan bisnis kami menurun tajam. Kami sudah sangat beruntung tetap dapat mempertahankan keberadaan seluruh outlet dan semua karyawan kami," katanya.

Rata-rata di setiap outlet terdapat 10-15 karyawan, termasuk penata rambut (stylist). Saat ini, jumlah pengunjung minimal 50 orang per hari masih dapat dipertahankan di seluruh outlet.
Tahun-tahun mendatang, manajemen Johnny Andrean baru akan merencanakan lebih lanjut tentang pengembangan bisnisnya berdasarkan hasil pengamatan di tahun ini.

Yopie Salon juga tidak memiliki target tertentu untuk mendirikan waralaba di tahun ini. Sebab, Yopie Salon tidak ingin mengambil risiko waralaba yang didirikan tidak berhasil atau tidak produktif. "Kami perlu menjaga citra salon. Dengan demikian, pendirian waralaba melalui seleksi yang ketat," kata Ivan.

Sementara itu, Rudy Hadisuwarno menargetkan pendirian 10 cabang setiap tahun. Adapun para pegawai umumnya dari pusat pelatihan maupun sekolah-sekolah milik Rudy.
Meski demikian, baik Rudy, Johnny, maupun Yopie tidak memastikan seluruh siswa yang belajar di sekolah-sekolah tersebut dapat langsung direkrut menjadi pegawai. "Kami tidak menjamin semua siswa yang belajar dapat direkrut. Akan tetapi, mereka yang berprestasi dapat langsung kami rekrut," kata Rudy.

Eveline menambahkan, bisnis salon ini tidak ada matinya. "Sekarang ini kebutuhan salon sudah bukan monopoli wanita. Buktinya, pria dan anak-anak justru sudah mulai merawat diri di salon," tambah Eveline.

Menurut ibu yang juga bekerja di salah satu kantor pemerintah ini, meski salonnya baru dibuka tiga bulan lalu, pendapatannya sudah cukup lumayan. Setidaknya, 10 karyawan yang bekerja di salonnya mendapatkan gaji penuh. (K03/K05/K08)

0 comments: