Paulus Indra, Waroeng Podjok dan Waralaba

Monday, February 28, 2005

PAULUS Indra (61) tertawa lepas tatkala ditanya mengapa ia mematok harga yang tinggi untuk hampir semua jenis makanan di Waroeng Podjok. Harga yang tinggi itu tampak jika dikomparasi dengan harga makanan di restoran-restoran menengah ke atas, termasuk dari franchise asing di sejumlah pusat perbelanjaan.

Indra menyebutkan, dari aspek harga memang benar ia mematok angka relatif tinggi. Namun, ia mengingatkan, ada aspek lain yang mestinya menjadi tema, yakni betapa sebuah gagasan bernas yang ditopang oleh kerja keras bisa melahirkan profit yang melegakan.

Ia menuturkan, tatkala hendak melahirkan Waroeng Podjok, hampir sepuluh tahun silam, ia berangkat dari pemikiran sederhana. Mengapa negara adidaya Amerika Serikat mampu melahirkan banyak franchise atau waralaba yang kemudian mendunia. Amerika melepas resto ayam goreng sampai ke makanan dengan penekanan pada daging bakar. Dan, rata-rata resto seperti itu mendapat sambutan hangat pasar.

Mengilapnya bisnis franchise Amerika tak lepas dari image building yang bagus, reputasi, manajemen yang hebat, serta mutu yang terjaga. "Sejumlah restoran berlabel franchise dari Hongkong, Singapura, dan Republik Rakyat China juga sukses melebarkan sayap usahanya ke berbagai negara, termasuk Indonesia," ujar Indra, Sabtu (26/2).

Indra berpikir, Indonesia juga punya banyak jenis masakan yang lezat dan cocok untuk lidah antarbangsa, sebutlah sop, soto, nasi goreng, dan sate (dengan beberapa variannya). Masih banyak makanan khas yang menjadi tipikal Indonesia, misalnya ikan bakar (dengan sambel khasnya), gado-gado, dan beberapa jenis sayuran. Makanan-makanan dan minuman ringan juga amat variatif.
Dari pemahaman ini Indra mendapat gagasan membuka warung dengan menjual makanan yang menjadi tipikal Indonesia. Tetapi, ia tidak mau membuka warung di rumah, ruko, atau bahkan di kaki lima karena tidak banyak memberi nilai tambah.


Ia kemudian membuka Waroeng Podjok di Plaza Senayan delapan tahun silam. Dan, agar muncul impresi Indonesia yang pekat, interior warung ia desain sedemikian rupa sehingga benar-benar bersuasana Indonesia tempo doeloe. Kursi, meja, serta perangkat makan ia beli pada siapa saja yang punya agar warungnya benar-benar mewujud dalam suasana masa silam.

Aksesori ruang warung ia beri perhatian lebih sehingga muncul iklan-iklan abad ke-19, perangkat radio, terompet, suling tahun 1900, setrika (menggunakan arang), stoples tahun 1920, sepeda, dan alat masak. Bentuk majalah dan koran zaman dulu juga ia tampilkan di sana. Misalnya, gambar iklan susu tahun 1919, iklan bir tahun 1930, dan sejumlah iklan rokok yang terkenal tahun 1946.

"Untuk mendapatkan itu semua, saya kerja keras. Berbulan-bulan saya datang ke rumah-rumah warga. Saya cari orang-orang yang menyimpan barang-barang antik, koran, dan majalah tempo doeloe. Syukur banyak warga membantu saya," tutur Indra.

Ujar Indra, jangan meremehkan barang tua itu. Harga selembar iklan rokok, sebutlah misalnya Roko Prijaji, ia beli Rp 3 juta. Ketika ia hendak beli lagi iklan yang sama, setahun kemudian, harganya sudah melonjak menjadi Rp 17 juta per lembar. Iklan Amstel Bier yang dulu hanya Rp 2 juta per lembar, kini menjadi Rp 13 juta per lembar.

Langkah berikutnya, ia menghimpun segenap jago masak berbagai masakan Indonesia untuk berlabuh di warungnya. Warung pertama di Plaza Senayan amat sukses sehingga ia kemudian membuka beberapa warung dengan tema yang sama di beberapa plaza lainnya. Indra kemudian lebih dikenal sebagai usahawan yang dapat membawa makanan khas Indonesia, atau beberapa jenis makanan rumahan ke plaza dengan harga yang benar-benar plaza.

INDRA sendiri kemudian bisa menerima mengapa publik lebih mengenal dia sebagai usahawan warung makanan Indonesia di plaza. Padahal selain Waroeng Podjok, ia mempunyai sejumlah kafe yang juga tidak kalah atraktifnya. Ia, misalnya, membuka Cafe Wien di beberapa plaza yang bersuasana Austria. Ia mempunyai Cafe Tator yang lebih menekankan pada "warung kopi" di plaza.
Timebreak dan Patio Cafe yang lebih dekat ke anak muda, dan Mario’s Cafe yang lebih pas untuk masyarakat kelas ekonomi ke atas, juga ia hadirkan.

Selain berbisnis kafe, pria kelahiran Bengkulu 14 Oktober 1944 ini juga adalah Direktur Utama Puri Tur, sebuah perusahaan operator tur dan pelayanan travel yang cukup dikenal dalam 30 tahun terakhir.

Setelah bisnis kafe dan travel-nya berjalan baik, Indra ingin melebarkan sayap usahanya dengan menekuni bisnis waralaba di dalam dan luar negeri. Untuk tahap pertama, Cafe Tator, Cafe Wien, dan Waroeng Podjok, ia lepas ke pasar. Para investor ternyata berminat sehingga sudah ada sejumlah orang yang menggunakan nama-nama warung dan kafe tersebut dalam konteks waralaba.

Di antara peminat tersebut, ada yang membuka tiga kafe waralaba di Grand Indonesia (Hotel Indonesia, yang kini tengah dibangun).
"Sambutan publik cukup baik, dan saya berharap dalam waktu dekat investor di luar negeri, misalnya Hongkong, Singapura, Kuala Lumpur, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat menyambut bola yang saya lepas," tutur Indra. Ia pun menaruh asa, tahun ini investor luar negeri sudah mulai menaruh minat terhadap franchise-nya dan kelak, ia dapat meraih hasil yang optimal.

Jika waralaba ini sukses, menurut Indra, bukan saja ia akan mendapat nama, melainkan Indonesia juga mendapat kredit sebab minuman dan makanan-makanannya yang lezat jadi lebih dikenal publik luar negeri.

Istrinya, Lucy, dan tiga anaknya (Mario, Marco, dan Maria) yang sudah berangkat dewasa menjadi tulang punggung bisnis Indra. "Saya happy, mereka sudah mandiri dan enak diajak diskusi," ujar Indra. Di sela-sela kesibukannya, Indra suka menyempatkan diri berolahraga dan menekuni hobinya di bidang otomotif.

Kompas, Senin, 28 Februari 2005
(Abun Sanda)

0 comments: