Pahami Hak dan Kewajiban Dalam Bisnis Waralaba

Monday, July 18, 2005

Waralaba menyimpan potensi konflik, kendati bisnis ini diyakini masih menjadi ladang usaha yang paling menarik. Oleh karena itu, baik franchisee maupun franchisor harus memahami dan melaksanakan apa yang tertuang dalam kontrak antara kedua pihak.

Masih lekat di ingatan, Es Teller 77 mengebrak bisnis waralaba lokal. Walaupun Es Teller 77 kini tidak seramai dulu, jaringan itu sudah go international dengan membuka cabangnya di salah satu negara bagian Australia, Singapura dan Malaysia. Bisnis waralaba lokal itu kemudian disusul oleh ayam bakar Wong Solo dan masih banyak lagi.

Walaupun pada akhirnya bisnis itu tutup di beberapa tempat dan buka baru di tempat lain, usaha waralaba terutama yang bergerak di bidang ritel untuk makanan dan minuman, memang seakan tidak ada berakhir. Bahkan di saat krisis.
Bisnis waralaba diyakini masih akan menjadi usaha yang paling menarik, terutama di sektor ritel. Tapi permasalahan yang muncul tampaknya selaras dengan perkembangan tersebut.

Simak saja di beberapa pengadilan seperti Jakarta dan Surabaya, mencatat puluhan kasus perdata tersebut. Maklum, bisnis yang menyangkut hak cipta tersebut masih relatif baru di Indonesia. Karena bisnis ini hanya menjual sistem dan merek, kekisruhan pun sangat wajar terjadi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi pebisnis waralaba ini sebenarnya cukup banyak. Tapi ada dua hal penting yang menurut pakar waralaba Amir Karamoy harus mendapat penekanan. Yakni manajemen hubungan atau franchise relationship management dan marketing franchise management.

Waralaba pada prinsipnya adalah hak atas sistem yang bisa dijual kepada pihak lain. Jadi, manajemen di sini akan menjadi baik apabila si pembeli franchise dan franchisor saling memperhatikan hubungan antarkeduanya yang menyangkut hak dan kewajiban. Misalnya kemampuan mengendalikan hubungan sesuai dengan harapan kedua pihak. Sedangkan hak dan kewajiban biasanya selalu dituangkan dalam suatu perjanjian.

Amir menekankan pentingnya untuk mewaspadai penyimpangan atas hal-hal yang sudah disetujui bersama. Seperti janji untuk memberikan training setiap tiga bulan sekali. Jika hal tersebut tidak dipenuhi maka akan timbul masalah. Juga kewajiban membayar royalti yang tidak tepat waktu. Memang, penyimpangan terhadap hal-hal yang sudah disepakati tersebut tidak selalu menimbulkan masalah karena adanya toleransi untuk satu hal dan hal lainnya.

Bisnis waralaba ini sering menimbulkan konflik, karena hal-hal yang sudah diperjanjikan, salah satu pihak ada yang tidak memenuhi. Misalnya sudah dituliskan bahwa setiap tiga bulan sekali pihak franchisor akan melakukan inspeksi dalam hal pembukuan atau training misalnya. Demikian sebaliknya pihak franchisee tidak memenuhi kewajiban membayar royaltinya.

Jadi, kata Amir, seyogyanya masing-masing pihak tepat waktu. Kalau tidak, harus dijelaskan alasannya, ujarnya.Hal lain yang seringkali menjadi konflik adalah pihak franchisor kabur, atau pihak franchisee yang mengganti merek sehingga akan terhindar dari kewajiban membayar fee royalti.
Manajemen pemasaranAmir selanjutnya mengemukakan bahwa hal yang penting diketahui pebisnis waralaba adalah manajemen pemasaran waralaba. "Ini hal yang baru di Indonesia," kata Amir. Sehingga, perlu dikembangkan pemahaman yang baik.

Dalam marketing franchise ini, si pemasar harus pandai mencari franchisee dan memiliki keahlian memadai di bidang franchise. Misalnya, pemasar harus tahu berapa tahun si franchisee akan menikmati balik modalnya, atau berapa return yang akan diterimanya setiap tahun.Si pemasar juga harus dituntut untuk mengetahui analisis lokasi yang konon 60% sangat menentukan keberhasilan bisnis tersebut. Jadi, pemasar harus memiliki pengetahuan yang banyak tentang bisnis tersebut, selain harus paham terhadap produk yang ahrus dijualnya itu sendiri.

Di Indonesia, Amir menyebut keahlian di bidang franchise ini masih langka. Sehingga, dia menekankan pentingnya pengetahuan tentang bisnis waralaba ini dikembangkan. Caranya? sebagai sosok yang selalu bergerak di bidang waralaba, pihaknya memiliki kewajiban untuk membantu mengembangkan pemahaman tentang bisnis itu, melalui berbagai training khusus tentang marketing franchise dan franchise relationship.

Saat ini, bisnis waralaba yang paling ramai masih di bidang ritel terutama makanan, minuman dan cafe. Namun, kini juga mulai berkembang untuk bidang kesehatan seperti apotik, rumahsakit/klinik 24 jam dan optik.Akhir tahun lalu, pertumbuhan bisnis waralaba cukup bagus, dengan franchise lokal tumbuh lebih besar dibandingkan waralaba asing, dengan perbandingan pertumbuhan 14,2%:9,5%. Namun, tren ke depan, pertumbuhan asing tahun ini diperkirakan akan lebih cepat ketimbang lokal.

Hal itu, tidak lain karena pengusaha pendukung bisnis waralaba untuk lokal adalah pengusaha kelas menengah kecil. Sedangkan untuk franchise asing didukung oleh pengusaha besar yang sarat dengan modal besar, ketersediaan dana yang cukup dan sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik.Saat ini saja, setidak ada beberapa pengusaha yang menguasai paling tidak empat franchise untuk bidang berlainan. (am)

Sumber: SMFranchise
Read more...

Menjadi Entrepreneur: Siapa Takut?

Meski sudah ada SOP-nya, jiwa entrepreneurship tetap dibutuhkan.
Apa saja rahasia menjadi ter waralaba yang sukses?

Tak disangka, saat antre mengambil uang pensiun di sebuah bank, seorang Asep Gosiman justru menemukan peluang bisnis yang luar biasa besar.

Ia bertemu kawan lamanya, sesama pensiunan (eks) Bank Bumi Daya (BBD) yang berhasil menjalankan bisnis waralaba Indomaret. "Biasalah, berawal dari bertanya kabar, eh, malah dapat inspirasi bisnis,"kenang Asep.

Pertemuan tahun 2000 itu membuat niat mantan wakil kepala BBD cabang Tokyo, Jepang, ini untuk menjadi entrepreneur makin berkobar. Asep pun menghubungi PT Indomarco Prismatama (IP), mengutarakan keinginannya untuk menjadi ter waralaba. Setahun kemudian, setelah menggelontorkan dana Rp825 juta untuk menyediakan lokasi, peralatan, serta membayar segala macam fee dan perizinan, gerai Indomaret milik Asep pun beroperasi di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

Menurut Asep, menjalankan bisnis waralaba ternyata mudah. Pasalnya, IP memberi standard operating procedure (SOP) yang mudah diikuti, seperti semua sistem operasi terpusat, terpadu, terintegrasi, dan online. Sebagaimana ditegaskan Markus Hendarto, manajer senior pengembangan bisnis dan waralaba PT Indomarco Prismatama, "Paket sistem yang kami berikan sudah teruji selama lebih dari sepuluh tahun." Ketika berdiri pada 1988, lanjut Markus, Indomaret belum menganut sistem waralaba. Baru pada 1997 mereka resmi me waralaba kannya.

Selain itu, Asep merasa diuntungkan dengan sistem one day service untuk pengiriman barang: pagi pesan, sore barang sampai di toko. "Saya dulu pernah berdagang kelontong. Jadi, tahu persis repotnya menyediakan stok barang, memberi harga, men-display toko, dan sebagainya," urai Asep. Ia sadar, bisnis ritel amat bergantung pada pasokan barang. Kalau barang yang dicarinya tidak ada, konsumen dengan mudah melenggang ke toko lain.

Sistem waralaba juga membuat upaya pengembangan bisnis menjadi lebih cepat. "Dengan sistem waralaba, Indomaret bisa mengembangkan usaha sekaligus mengajak masyarakat menjadi entrepreneur," kata Laurensius Tirta Widjaja, direktur operasional PT Indomarco Prismatama. Saat ini Indomaret memiliki 1.146 gerai, dengan 536 di antaranya berbentuk waralaba.

Lain lagi pengalaman Antarina S.F. Amir. Pemilik lisensi dan managing director High Scope (HS) Indonesia ini merasakan mudahnya berbisnis dengan sistem waralaba. Pada 1996 ia memboyong HS ke Indonesia dengan membeli hak waralaba -nya dari Singapura, dan empat tahun kemudian Antarina memperoleh master lisensi HS langsung dari AS. Dengan begitu, ia berhak me waralaba kan HS untuk kawasan Asia Pasifik. "Tahun 1996 itu saya mengawalinya lewat satu preschool di Pondok Indah dengan 100 murid," kenang Rina. Kini, HS memiliki tujuh sekolah (TB Simatupang, Alfa Indah, Kelapa Gading, Kuningan, Bintaro, Pluit, dan Medan) dengan 1.500-an murid.

Sementara itu, Sukyatno Nugroho, preskom PT Top Food Indonesia, menunjukkan fakta bahwa Es Teller 77 menjadi satu-satunya waralaba lokal yang memiliki 252 gerai, tak cuma di Indonesia tetapi juga di Singapura (8 gerai), Malaysia (1), dan Australia (3). "Kami menawarkan jaringan pemasaran yang lebih luas," tutur juragan Es Teller 77 ini.

McDonald's Indonesia buka suara soal rahasia keberhasilan mereka. "Kunci sukses owner operator McDonald's (sebutan mereka untuk waralaba --Red.) ada pada keseriusan pemilihan ter waralaba dan kapabilitas mereka untuk menerapkan sistem yang sudah distandarisasikan," ungkap Rini T. Wardhani, communication manager PT McDonald's Indonesia.

Keseriusan dalam pemilihan ter waralaba memang bukan main-main. "Kami selalu melakukan seleksi terhadap calon ter waralaba, karena ibaratnya kami akan hidup bersama selama lima tahun," ucap Markus. Ia menunjukkan, proses seleksi sudah terjadi sejak calon ter waralaba memenuhi kriteria persyaratan dan menerima paket sistem.

Jangan Mudah Tergiur
Sejatinya, masih banyak "Asep" lain yang ingin menjadi entrepreneur dalam waktu singkat. Caranya, paling mudah ya lewat waralaba. Di sini ter waralaba tinggal menjalankan segala "petuah" agar bisnis bisa berjalan lancar.

Namun, pada prakteknya, SOP tak serta merta harus selalu diikuti secara zakelijk. Dengar kata Antarina, "Meski dalam sistem waralaba semua aturan sudah baku, tetap dibutuhkan jiwa entrepreneurship." Maksudnya, ter waralaba juga harus jeli melihat kebutuhan pasar. Ia bercita-cita mengindonesiakan HS dengan menambah beberapa sistem dan prosedur agar penyelenggaraan sekolah bisa lebih efektif.

Anang Sukandar, ketua Asosiasi Franchise Indonesia, mengingatkan calon ter waralaba agar tak terbuai oleh janji-janji muluk yang diberikan pe waralaba. Lanjut dia, sebaiknya si calon secara cermat menganalisis latar belakang perusahaan pe waralaba. "Jangan cuma tergiur untungnya," kata Anang.

Asep pun mengerti. Itu sebabnya, sebelum bergabung dengan Indomaret, ia "berguru" kepada rekannya yang sudah lebih dulu bergabung. "Alasan saya memilih waralaba adalah untuk menapaki bisnis dengan risiko kegagalan minimum," ungkap Asep. Dia tak menampik jika sebagai pengusaha juga berharap mendapat keuntungan dalam waktu tak terlalu lama.


Menurut perhitungan pihak Indomaret, para ter waralaba umumnya punya payback period 3,5 tahun. "Setelah empat tahun bergabung, satu gerai saya mampu memberikan keuntungan Rp500 juta," kata Asep, bangga. Padahal, ia memiliki tiga gerai lain. Nikmat, bukan?

Lima Jurus Sukses Ber waralaba:
1. Cari informasi tentang bisnis yang akan dimasuki, termasuk prospek bisnis, royalty fee, atau annual fee.

2. Jangan cepat percaya dengan tawaran yang diberikan pe waralaba. Apalagi jika tergiur oleh untungnya saja.

3. Cari tahu reputasi bisnis pe waralaba. Banyaknya ter waralaba yang bergabung bukan berarti perusahaan tersebut otomatis mempunyai kinerja yang bagus pula.
4. Mampu menjadi inovator. Tidak sekadar menjalankan SOP, tetapi juga harus jeli melihat peluang.

5. Jangan sekadar menaruh investasi pada bisnis waralaba, tetapi tidak ada usaha untuk mengembangkannya. Komitmen, kerja keras, dan pencapaian target juga merupakan keharusan.

Sumber: Warta Ekonomoi (Disarikan dari wawancara)
ARI WINDYANINGRUM, DIVERA WICAKSONO, EVI RATNASARI, DAN HANDEN FEBRYANTO
Read more...