Potret Terkini Bisnis Waralaba

Thursday, November 24, 2005

Oleh : Firdanianty

Dalam setahun terakhir banyak bermunculan waralaba baru dengan jenis usaha yang makin beragam. Siapakah yang jaringannya terbanyak, tercepat, dan paling memuaskan?

Ketika tengah dibangun, orang sudah bisa memastikan bahwa bangunan di dekat pintu masuk salah satu kompleks perumahan di wilayah Bogor itu bukan untuk tempat tinggal. Dilihat dari bentuknya, bangunan berukuran sekitar 400 m2 itu memang tidak seperti rumah. Ternyata, benar. Beberapa bulan kemudian setelah pembangunan selesai, di bagian atas bangunan itu tertampang tulisan besar: Indomaret.

Tak lama kemudian, minimarket itu pun diresmikan. Dan, dalam hitungan singkat swalayan baru ini mampu menyedot pengunjung yang biasanya membeli kebutuhan sehari-hari di warung dekat rumah. "Barangnya lebih lengkap dan harganya juga lebih murah," komentar warga kompleks yang berbelanja di situ.

Terlepas dari pro-kontra mengenai keberadaan minimarket yang ditengarai mematikan usaha warung-warung kecil yang berada di kawasan perumahan, mesti diakui bisnis toko semacam Indomaret atau Alfamart tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Jumlah gerai Indomaret, misalnya, seperti diungkapkan Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama Laurensius Tirta Widjaja - pengelola jaringan minimarket Indomaret - hingga akhir September 2005 mencapai 1.262 buah. Ketika tulisan ini dibuat, Indomaret memiliki 1.300 gerai yang beroperasi.

Kendati jaringan toko Indomaret sudah sangat luas, Lauren -- demikian panggilan akrab Laurensius -- mengaku jumlah itu masih di bawah target yang ditetapkan. Sampai akhir tahun ini pihaknya menargetkan penambahan gerai Indomaret hingga 1.600 gerai. "Saya yakin target ini bisa tercapai," katanya optimistis. Pasalnya, selain mengembangkan di wilayah Jabodetabek, Indomaret juga agresif melebarkan jaringan hingga Bandar Lampung, Jember dan Bali. Di Jember, misalnya, yang mulai dikembangkan akhir tahun lalu, kini sudah ada sekitar 60 gerai. Di Bali, ada satu gerai, sedangkan di Lampung rencananya akan dibuka 5-6 gerai baru. "Kami masih menjajaki market-nya dulu. Apalagi, ini merupakan pasar baru bagi Indomaret," ujarnya merendah.

Yang menarik, saat ini Indomaret tidak hanya dikenal sebagai toko modern, tetapi juga toko waralaba (franchise) yang memberi kesempatan kepada pemilik modal bersama-sama belajar berwirausaha. Terbukti, dari jumlah gerai yang ada saat ini, 50%-nya dikembangkan dengan pola waralaba. "Target kami, 70%-80% dari total gerai yang dimiliki dikembangkan dengan pola tersebut. Ini arah yang ingin kami kembangkan," kata Lauren menandaskan.

Sepertinya Indomaret tak mengalami kesulitan mengembangkan diri menjadi pemain besar di bisnis ini dengan jumlah jaringan terbanyak. Model kerja sama dengan sistem waralaba yang dikembangkan sejak 1998 kiranya membantu minimarket ini melebarkan jaringannya ke daerah-daerah. Ditambah, pola pikir masyarakat masa kini yang lebih menyukai kenyamanan saat berbelanja dan enggan menawar harga, mendorong mereka berbelanja di pasar modern ketimbang pasar tradisional.

Di daerah pun, pergeseran pola belanja makin terlihat. Tak mengherankan, pemilik modal di daerah melihat fenomena ini sebagai daya tarik untuk menanamkan uangnya. Nama besar Indomaret dan jaringan distribusinya yang kuat menjadi modal utama terwaralaba (franchisee) ini menarik minat pemodal.


Sebagai gambaran, jumlah gerai Indomaret di Semarang hingga September lalu sudah mencapai 115. Melihat permintaan pasar yang tinggi, Lauren berencana meningkatkan jumlah gerai di Semarang menjadi 200-300. Begitu pula di Jawa Barat. Bila semula Indomaret hanya dikembangkan di Bandung, kini telah merambah Cirebon dan Garut.
Dilihat dari banyaknya gerai yang dimiliki, Indomaret mesti bersaing ketat dengan Alfamart yang bergerak di bisnis serupa dan sama-sama dikembangkan dengan pola waralaba.


Selain Indomaret dan Alfamart, Edam Burger, yang menjual produk burger, juga tak bisa dipandang sebelah mata. Dihitung dari jumlah gerainya yang hanya 20, jaringan Edam Burger memang tak sebanyak Indomaret ataupun Alfamart. Namun, jangan salah kira. Jumlah konternya yang mencapai 2.000 membuat Edam Burger memiliki jaringan terbanyak dibandingkan dengan waralaba lokal lainnya.

Dari sisi waralaba asing, Kentucky Fried Chicken terhitung mempunyai jaringan terbanyak. Restoran siap saji asal AS yang dikenal dengan sebutan KFC ini memiliki 245 gerai. Fabian Gelael, Direktur Operasional PT Fast Food Indonesia -- pemegang master franchise KFC -- mengenang, penambahan paling pesat gerainya terjadi pascakrisis- ekonomi tahun 1998.

Semula gerainya masih dapat dihitung dengan jari tangan. Namun, sejak tahun itu penambahan gerainya diakui Fabian melonjak sampai 10-15 gerai setahun. "Habis resesi orang kan mengalami down grade pengeluaran. Dari yang biasanya main ke kafe jadi mampir ke sini," ujar lajang kelahiran Jakarta, 1970 itu. Data jumlah jaringan waralaba lokal dan asing selengkapnya dapat dilihat pada Tabel.

Keberhasilan waralaba tidak hanya dilihat dari jumlah jaringannya. Kecepatan pertumbuhan juga menjadi indikator utama waralaba dalam mengembangkan diri. Contohnya, Modern Photo Studio atau biasa disingkat M Photo Studio. Kendati baru memulai waralaba Februari tahun lalu, M Photo Studio telah memiliki 67 gerai. Dari jumlah itu, 33 gerai merupakan milik terwaralaba dan sisanya milik sendiri. Kecepatan pertumbuhan M Photo Studio bisa jadi karena ramainya pengunjung gerainya.

Menurut General Manager M Photo Studio Roby Tjiptadjaya, 95% dari gerai yang beroperasi mampu mencapai breakeven point (BEP) kurang dari dua tahun dengan omset Rp 40-60 juta/bulan. Bila di dalam perjalanannya ditemukan gerai yang memperlihatkan tanda-tanda kesulitan dalam memenuhi target pencapaian BEP, pihak pewaralaba (franchisor) akan memberi bantuan langsung. "Bentuk bantuannya bisa berupa promosi gratis dan lain-lain, tergantung (pada) kebutuhan gerai tersebut," tutur Roby. Di antara gerai yang dimilikinya saat ini, menurutnya, yang terlaris adalah gerai di Lippo Karawaci dan Kelapa Gading. "Namun, rata-rata gerai memiliki performa baik," katanya menambahkan.

Selain M Photo Studio, waralaba lain yang mampu tumbuh melesat di usianya yang masih relatif muda adalah resto ayam tulang lunak milik Sia Cipta Wijaya. Resto pertamanya yang diberi nama Restoran Ayam Tulang Lunak Malioboro dibangun pada Januari 2000, terletak di Jl. Kediri 50, Kuta, Bali. Produk andalannya adalah ayam presto, yakni ayam yang dimasak hingga tulangnya lunak dan bisa dimakan.

Puas membangun satu gerai resto di Bali, dalam kurun 6 bulan, tepatnya pada 24 Juni 2000, Cipta menambah gerainya di Jl. Hayam Wuruk 88, Denpasar, Bali. Untuk gerai kedua Cipta menggunakan nama lain, yaitu Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk (ATL-HW). Kebetulan target pasar kedua resto ini berbeda sehingga harga jualnya pun tak sama. ATL-HW lebih ditujukan untuk konsumen lokal dengan harga terjangkau.

Setelah berjalan selama dua tahun, Cipta mulai berpikiran mengembangkan usaha restonya dengan sistem waralaba. Setelah memahami model bisnisnya, ia pun mencari konsultan waralaba yang dapat membantunya mengembangkan jaringan dengan pola waralaba. Gerai dengan sistem waralaba pertama dibuka pada 17 Januari 2003 dengan mengambil nama ATL-HW. Gerai kedua menyusul pada Oktober 2003. Hingga kini Resto ATL-HW telah memiliki 17 gerai yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta seperti Green Ville, Jakarta Barat; Pondok Indah; dan Jl. Gunawarman, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Di samping jumlah cabang yang banyak dan pertumbuhan yang melesat cepat, ramainya pengunjung gerai juga menjadi indikator keberhasilan suatu waralaba. McDonald's yang berlokasi di Sarinah, Jl. Thamrin, Jakarta barangkali bisa menjadi acuan untuk mengukur ramai-tidaknya pengunjung. Gerai yang dibuka pada 1991 dengan luas sekitar 770 m2 ini tiap bulan dikunjungi 185-200 ribu orang. "Dilihat dari jumlah pengunjung, belum ada yang bisa menandingi outlet kami di Sarinah," ujar Manajer Operasional McDonald's Indonesia Family Restaurants, Didit Permana, dengan nada bangga. Bahkan, di bulan puasa pun, gerai yang buka selama 24 jam setiap hari ini tetap ramai dikunjungi, meski tak sebanyak hari-hari biasa.

Keberhasilan McDonald's Cabang Sarinah menyedot pengunjung, salah satunya, menurut Didit, karena tempatnya dilengkapi dengan McCafe. "Ini satu-satunya di Indonesia," ujarnya seraya mengungkapkan, McCafe mulai ada di gerai Sarinah tiga tahun lalu. Kehadiran McCafe dibuat relevan dengan lingkungan sekitar. Kendati McDonald's mempunyai payung yang sama, soal pemasaran tiap gerai bisa saja berbeda. Melihat areanya terdiri dari gedung perkantoran, hunian dan pusat hiburan, Didit tak heran, tingkat lalu lalangnya pun tinggi. Ini justru memberi peluang mengembangkan unit lain, seperti McCafe. "Kami berusaha beradaptasi dengan kebutuhan konsumen di tiap area," katanya.

Lokasi McDonald's Sarinah yang berdekatan dengan perkantoran memungkinkan pengunjung makan sambil rapat di sana. Kebetulan, gerai McDonald's Sarinah bisa di-set up untuk rapat dengan kapasitas 16-20 orang. Bahkan, ruangannya pun dilengkapi fasilitas multimedia. "Dari sisi biaya tentunya lebih murah ketimbang menyewa tempat di gedung atau hotel. Lagi pula, pada saat break pengunjung bisa mengecek e-mail," kata Didit berpromosi. Yang jelas, sejak kehadiran McDonald's di Sarinah, manajemen selalu berupaya agar resto yang menjual burger khas Amerika ini selalu menjadi idaman masyarakat. "Kami ingin McD menjadi the way to eat bagi semua orang," ujarnya menambahkan.

Waralaba lain yang tak kalah ramai adalah Hard Rock Cafe (HRC). Yoris Sebastian, GM HRC Jakarta dan Bali, menuturkan, dari sisi pengunjung, HRC Jakarta lebih banyak daripada HRC Bali. Namun dari segi omset, HRC Bali justru lebih tinggi daripada HRC Jakarta. Mengapa? "Mereka yang datang ke Bali umumnya untuk liburan. Lalu, mereka mampir ke HRC Bali sehingga spending-nya pun lebih besar. Di samping itu, mereka banyak membeli marchandise HRC," katanya. Jadi, pengunjungnya memang memiliki anggaran khusus untuk belanja di HRC dan lebih royal. Dalam sepekan pengunjung HRC Bali mencapai 4.500 orang. Berarti, sebulan pengunjungnya 20 ribuan orang. Adapun peengunjung HRC Jakarta bisa mencapai 1,5 kali lipat pengunjung HRC Bali.

Yoris membeberkan, pihaknya berhasil menarik minat pengunjung karena memiliki falsafah "Global brand but regional thinking". Dengan begitu, perspektif dan cara pengelolaannya dilakukan secara regional atau berbeda dari HRC di negara lain. Contohnya, HRC yang menghadirkan band tiap malam hanya ada di Asia. HRC juga bertekad menjadi local champion. Untuk menuju ke sana, HRC Indonesia harus mampu meningkatkan konten lokalnya yang juga disukai turis. "Saya terapkan untuk lokal, menjalankan operation yang masuk akal dan exit expectations," ujarnya.

Dilihat dari fasilitasnya, lokasi HRC sekarang terasa lebih nyaman bagi pengunjung. Letak Plaza EX yang strategis dengan bentuk gedung yang unik dan dekat dengan department store besar, menjadi keunggulan HRC. Apalagi, ada fasilitas taksi Express dan Silver Bird yang bisa diakses dari Hotel Grand Hyatt, ditambah lapangan parkir yang luas. "Orang tentu merasa lebih nyaman di plaza ini," kata Yoris. Karena itu, meskipun harga makanannya dinaikkan, pelanggan tidak banyak yang komplain.

Di samping jumlah jaringan dan pengunjung, kinerja baik-buruknya waralaba juga dapat dipantau dari upayanya memuaskan pelanggan. My Salon, seperti dikatakan Direkturnya, Thomas Lie, sudah menstandardisasi berbagai layanan yang diberikan melalui pusat pelatihan. Menurutnya, upaya itu dilakukan demi menyamakan mutu gerai My Salon. Untuk creambath, misalnya, My Salon mensyaratkan waktunya minimal 30 menit. "Itu untuk creambath yang bagian mijit-mijit kepala saja, belum termasuk cuci rambut selama 10 menit," katanya.

Thomas menyadari, kualitas layanan yang diberikan karyawan, stylist (penata rambut dan make-up) serta kasir sangat menentukan keberlangsungan usaha salonnya. Maka, untuk menjaga agar pengunjung selalu merasa puas datang ke tempatnya, ia rutin memberikan pelatihan kepada mereka. "Tiap tiga bulan sekali para stylist bergiliran di-upgrade ke training center ketika mereka sedang off," ujarnya seraya menambahkan, lama pelatihan hanya sehari agar tidak mengganggu jadwal kerja para stylist. Apa yang diberikan dalam pelatihan?

Menurutnya, mereka diberi teknik-teknik pemotongan dan penataan rambut serta make-up terbaru. Sebagian pelatihnya berasal dari pusat pelatihan My Salon yang berjumlah empat orang. Ada pula pelatih dari pemasok kosmetik yang dipakai My Salon, seperti dari Wella, L'oreal dan Makarizo. "Untuk trainer yang berasal dari supplier, kami sama sekali tidak bayar. Terkadang kami juga menyewa hairstylist atau make-up artis terkenal seperti Gusnaldi untuk memberi pelatihan," Thomas memaparkan.

Sementara itu, kasir diberi pelatihan manner. Materi yang diberikan lebih ke arah kebiasaan, misalnya cara menyapa tamu. Pelatihan untuk kasir juga lebih sering diadakan ketimbang untuk stylist, yakni sebulan sekali. Ketika disinggung mengapa tidak memberikan pelatihan manner ke para sytlist, Thomas menjawab, "Stylist bukan superman. Sudah banyak beban yang mereka tanggung."

Selain itu, di My Salon, Thomas menerapkan peraturan yang jelas dan tegas. "Mereka diberi buku peraturan yang harus dijalankan," ujarnya. Di antaranya, karyawan yang datang telat semenit akan didenda Rp 1.000. Denda itu akan dikumpulkan, lalu disetorkan ke kantor pusat. Nantinya uang denda tersebut diserahkan kembali ke cabang yang bersangkutan jika memerlukannya. "Duitnya bukan untuk kantor pusat, tapi dikembalikan ke karyawan saat mereka membutuhkan," ungkap Thomas.

Selain itu, untuk mencegah timbulnya kesalahpahaman, Thomas juga melarang penggunaan bahasa gaul oleh para stylist-nya. "Daripada konsumen tersinggung, lebih baik dilarang sajalah, " ujarnya menandaskan. Disadarinya, salon sangat identik dengan bahasa gaul. Namun, sebagian besar konsumen ternyata tidak menyukainya.

Tentu, berbagai aturan yang digariskan dalam buku peraturan takkan berguna bila tidak dijalankan dan pelaksanaannya tidak diawasi dengan benar. Sebagai pengawas, Thomas menunjuk kasir yang berjumlah dua orang di masing-masing gerai My Salon. Selain mengawasi, para kasir inilah yang memberi sanksi. Apabila kasir lalai dalam menjalankan tugasnya dan hal ini diketahui tim audit dari pusat, yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi yang jauh lebih berat ketimbang karyawan yang melakukan kesalahan. "Dengan begitu, semua karyawan akan mematuhi peraturan yang ada di My Salon," katanya lugas.

Untuk meyakinkan bahwa semua peraturan sudah dijalankan dengan baik dan benar, Thomas membentuk tim audit yang bertugas mengaudit cabang-cabang yang mendapat komplain dari pelanggan. "Kami sangat menghargai konsumen yang melakukan komplain," katanya seraya menjelaskan, tim audit baru akan bergerak jika mendengar keluhan pelanggan.

Sementara itu, untuk menjaga kualitas produk, ia memberikan jaminan bahwa bahan baku yang digunakan tidak dicampur dengan bahan lain. "Tanpa niat menuduh salon lain, terkadang ada lho bahan perawatan yang dioplos dengan yang murahan," ungkap Thomas membeberkan. Maklum, harga bahan perawatan rambut cukup mahal. Sekadar contoh, bahan untuk hair spa dari L'Oreal saja harganya sekitar Rp 70 ribu/pot kecil.

Di tempat lain, Londre, yang memberi layanan cuci pakaian, memandang kepuasaan pelanggan sebagai bagian dari kinerja karyawan. Direktur Pengelola PT Italindo Citramodern, perusahaan yang memayungi Londre, Syeanne Teguhsaputra, berpendapat, menjaga kepercayaan pelanggan adalah hal yang utama. Karena itulah, mutu layanan mesti dijaga dengan baik. Bila ada klaim, Londre tak segan bersikap proaktif menawarkan solusi kepada pelanggan. "Kami ingin win-win solution," katanya.

Keramah-tamahan dan perhatian adalah syarat mutlak yang diberikan Londre ke pelanggannya. "Pelanggan harus mendapatkan layanan yang terbaik, apa pun yang dibawa pelanggan kepada kami," ujar Syeanne yang murah senyum ini. Menurutnya, inilah salah satu faktor yang membuat pelanggannya puas atas layanan Londre. Berkaitan dengan kepuasan pelanggan, peran terpenting yang dijadikan ujung tombak Londre adalah karyawan front-line.

"Merekalah yang tanggap memenuhi keinginan dan mengidentifikasi kebutuhan pelanggan sampai hal-hal mendetil," ujarnya. Sesuai dengan tag line-nya "Londre, Pusat Cuci Profesional", layanan yang disediakan juga tidak sebatas untuk pakaian saja. Perlengkapan rumah, karpet, sofa, dan segala sesuatu yang terbuat dari tekstil atau bahan sintesis dan kulit adalah materi-materi yang juga bisa diterima di Londre untuk dibersihkan. "Biasanya menjelang hari raya, terutama Idul Fitri, permintaan meningkat karena banyak pelanggan yang ingin tampil bersih di hari raya. Bukan hanya pakaiannya, tapi juga isi rumahnya," ungkap Syeanne.

Sejak 2003, Londre mengembangkan cabangnya dengan sistem waralaba. Kini, 40% cabang Londre dibangun dengan sistem waralaba. Menurut Syeanne, investor yang berminat akan diseleksi dengan ketat berdasarkan semangat kemitraan jangka panjang. Syeanne juga mengingatkan para mitranya agar selalu mengutamakan sikap saling menghormati dan menghargai orang lain. Ia bertekad budaya ini akan terus dikembangkannya di Londre.

Meski terlihat gampang, mempertahankan bisnis yang dibangun dengan sistem waralaba sebenarnya tak mudah. Banyak keluhan dari pemilik dana yang telanjur menanamkan uangnya di bisnis waralaba karena hasilnya tak seperti yang dibayangkan semula. Biasanya mereka gagal mengembangkan waralabanya lantaran tak memahami bisnis ini dengan benar. Bisa jadi, yang mereka lihat awalnya hanya keuntungannya.

Mereka kurang memperhatikan risiko investasi dan faktor-faktor lainnya. Padahal, membeli waralaba bukan berarti uang akan datang dengan sendirinya. Persepsi ini harus diluruskan. Dalam pengelolaannya, bisnis waralaba tak ada bedanya dari bisnis lain yang membutuhkan keseriusan agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Tanpa kerja keras dan ketekunan pemiliknya, waralaba sehebat apa pun takkan dapat berkembang sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, sering terdengar keluhan dari terwaralaba yang merasa diabaikan pewaralabanya. Banyak pula terwaralaba yang tak puas terhadap pewaralabanya. Untuk mencari tahu kondisi yang sebenarnya, SWA melakukan survei mengenai tingkat kepuasaan terwaralaba dan pengunjung gerai. Dari 30 terwaralaba yang diwawancarai, sebagian besar menyatakan sangat tidak puas dengan pewaralabanya. Bila ditelusuri lebih lanjut, ketidakpuasan tersebut antara lain disebabkan minimnya dukungan manajemen dan sumber daya manusia, melesetnya hasil usaha, serta kurangnya dukungan promosi dan pemasaran. Data selengkapnya dapat dilihat pada Grafik.

Dalam hal hasil usaha, misalnya, banyak pewaralaba yang mengiming-imingi janji pengembalian investasi dalam waktu kurang dari dua tahun. Kenyataannya, hal itu tidak selalu terbukti. Berdasarkan survei SWA, 60% terwaralaba menyatakan hasil usaha yang diperoleh telah sesuai dengan investasi yang dikeluarkan. Namun, hanya 10% yang menyatakan sangat sesuai dan benar-benar puas dengan hasil usaha yang diperoleh. Selebihnya, 16,7% mengaku nvestasi yang dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil usaha dan 13,3% lainnya menyatakan biasa-biasa saja.

Kendati banyak menyimpan kecewa, sebagian besar investor (83,3%) masih merasakan manfaat membeli waralaba. Manfaat yang mereka rasakan, antara lain, menjadi bagian dari jaringan bisnis yang eksis dan terkenal (33,3%), dapat menambah penghasilan (16,7%), minat konsumen terus bertambah (13,3%), mendapat dukungan manajemen yang bagus (10%) dan mudah berpromosi (10%). Hanya 16,7% yang mengaku tidak merasakan manfaat membeli waralaba.


Selain itu, terungkap pula hal-hal yang masih dirasakan kurang dari para pewaralaba, antara lain, sistemnya kurang bagus (50%), kurangnya dukungan manajemen (30%), SDM-nya kurang berkualitas (30%), adanya perbedaan standardisasi antargerai (20%) dan distribusi produknya sering terlambat (20%).

Di samping itu, dari survei yang dilakukan SWA terhadap 250 pengunjung gerai waralaba, muncul sejumlah nama yang memenuhi kriteria memuaskan pelanggan. Indikator yang menjadi kriteria kepuasan pelanggan dalam survei ini: kualitas produk/jasa yang diberikan, kelengkapan produk/jasa, harga yang ditawarkan, layanan karyawan, penataan barang/desain interior ruangan, fasilitas penunjang dan bangunan fisik yang dimiliki.


Dari sejumlah nama yang ada, Salon & Spa Martha Tilaar menduduki peringkat teratas dengan nilai kepuasan rata-rata 75,1. Di bawahnya ada CafeDome (74,4), HRC (74,2), Starbucks (73,2) dan Klub Ade Rai (72,8).

Menanggapi keberhasilannya menduduki peringkat teratas dalam survei ini, Svein Idar Moldskred, GM PT Cantika Puspa Pesona, perusahaan yang memayungi Salon & Spa Martha Tilaar, mengemukakan, pihaknya sangat ketat dan tegas terhadap para terwaralabanya. "Franchisee harus mengikuti aturan dari kami, mulai dari desain interior gerai, produk, rekrutmen karyawan, dan lain-lain," ujar Svein menandaskan.

Terwaralaba tidak diperkenankan melakukan improvisasi, kecuali atas izin dan persetujuan manajemen puncak Martha Tilaar Spa pusat. "Franchisee boleh saja berimprovisasi, tapi kami harus tahu dulu alasannya dan apa yang ingin mereka tambahkan. Sejauh tidak melewati batas dan disetujui oleh top management, maka bisa diaplikasikan," tuturnya menjelaskan.

Yang jelas, demi kepuasan pelanggan, semua detail mulai dari penataan barang, desain interior, fisik bangunan hingga fasilitas penunjang diatur kantor pusat. Bahkan, Martha Tilaar Spa memiliki tim ahli sendiri, antara lain arsitektur dan tim desain interior yang mampu menangani semua itu. "Kami kirim arsitek kami ke mereka (terwaralaba -Red.) untuk mendesain bangunannya," ungkap Svein. Sejauh ini, Martha Tilaar Spa didesain dengan konsep back to nature dengan menonjolkan warna-warna alami dan interior yang mengedepankan budaya dan geografi Indonesia.

Melihat kegigihan para pewaralaba dalam mengembangkan dan membenahi usahanya, bukan tak mungkin sistem waralaba tetap diminati orang. Namun, pengamat bisnis waralaba dari AK Consulting, Amir Karamoy, mengemukakan hal yang berbeda. Menurutnya, tahun ini bisnis waralaba tidak bersinar seterang tahun-tahun sebelumnya. "Hingga 2004 bisnis waralaba di Tanah Air, khususnya waralaba asing, mengalami pertumbuhan pesat," ujarnya.

Akan tetapi, memasuki 2005, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS -- ditambah kenaikan harga bahan bakar minyak yang mencekik leher -- menimbulkan keresahan di kalangan pemegang waralaba. Terlebih, tren suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam beberapa bulan terakhir cenderung meningkat. Sejak Oktober lalu Bank Indonesia menempuh kebijakan menaikkan suku bunga SBI. Saat ini SBI berjangka satu bulan mencapai 12,25%. Bagi pemilik dana, investasi di SBI tentu dianggap lebih aman karena diterbitkan BI.

Kendati demikian, Amir berani mengatakan, kondisi seperti ini hanya berlangsung sesaat. Dia yakin, bisnis waralaba masih akan terus tumbuh. Waralaba asing diperkirakan tumbuh 10%-15% sampai akhir tahun ini. Sementara pertumbuhan pemain lokal, ia menyayangkan, berjalan lambat dan cenderung stagnan. Padahal, bisnis waralaba lokal dinilai Amir memiliki potensi yang sangat besar.

Ke depan, "Saya melihat kecenderungan terjadinya peningkatan di bisnis waralaba lokal," kata Amir optimistis. Diakuinya, banyak kasus bermunculan sehubungan dengan pengelolaan waralaba lokal. Namun, jangan sampai hal ini menjadi hambatan bagi pemilik dana yang ingin belajar berwirausaha melalui sistem waralaba. Dalam hal ini, ia menyayangkan sikap pemerintah yang kurang memberi dukungan terhadap bisnis waralaba. "Sejauh ini belum ada respons dari pemerintah untuk lebih mendorong pertumbuhan bisnis ini," ujarnya.

Memang, diakuinya, Departemen Perindustrian dan Perdagangan pada pemerintahan sebelumnya sempat membuat rancangan undang-undang mengenai bisnis waralaba. Namun, peraturan itu hingga kini baru sebatas draf saja. "Sampai sekarang belum ada kelanjutannya," ia menandaskan. Tak mengherankan, sampai saat ini belum ada perlindungan dari pemerintah terhadap keberlangsungan bisnis ini di Tanah Air.

Meski demikian, Amir meminta para pewaralaba dan terwaralaba tidak menyerah. Ia menyarankan agar mereka membenahi diri bila tak ingin bisnisnya berantakan. Bagaimanapun, diperlukan kerja sama yang berkesinambungan antara pewaralaba dan terwaralaba agar bisnis yang ditekuni terus tumbuh dan mampu memuaskan kedua belah pihak.

Sumber: SWA

0 comments: