Potret Terkini Bisnis Waralaba

Thursday, November 24, 2005

Oleh : Firdanianty

Dalam setahun terakhir banyak bermunculan waralaba baru dengan jenis usaha yang makin beragam. Siapakah yang jaringannya terbanyak, tercepat, dan paling memuaskan?

Ketika tengah dibangun, orang sudah bisa memastikan bahwa bangunan di dekat pintu masuk salah satu kompleks perumahan di wilayah Bogor itu bukan untuk tempat tinggal. Dilihat dari bentuknya, bangunan berukuran sekitar 400 m2 itu memang tidak seperti rumah. Ternyata, benar. Beberapa bulan kemudian setelah pembangunan selesai, di bagian atas bangunan itu tertampang tulisan besar: Indomaret.

Tak lama kemudian, minimarket itu pun diresmikan. Dan, dalam hitungan singkat swalayan baru ini mampu menyedot pengunjung yang biasanya membeli kebutuhan sehari-hari di warung dekat rumah. "Barangnya lebih lengkap dan harganya juga lebih murah," komentar warga kompleks yang berbelanja di situ.

Terlepas dari pro-kontra mengenai keberadaan minimarket yang ditengarai mematikan usaha warung-warung kecil yang berada di kawasan perumahan, mesti diakui bisnis toko semacam Indomaret atau Alfamart tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Jumlah gerai Indomaret, misalnya, seperti diungkapkan Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama Laurensius Tirta Widjaja - pengelola jaringan minimarket Indomaret - hingga akhir September 2005 mencapai 1.262 buah. Ketika tulisan ini dibuat, Indomaret memiliki 1.300 gerai yang beroperasi.

Kendati jaringan toko Indomaret sudah sangat luas, Lauren -- demikian panggilan akrab Laurensius -- mengaku jumlah itu masih di bawah target yang ditetapkan. Sampai akhir tahun ini pihaknya menargetkan penambahan gerai Indomaret hingga 1.600 gerai. "Saya yakin target ini bisa tercapai," katanya optimistis. Pasalnya, selain mengembangkan di wilayah Jabodetabek, Indomaret juga agresif melebarkan jaringan hingga Bandar Lampung, Jember dan Bali. Di Jember, misalnya, yang mulai dikembangkan akhir tahun lalu, kini sudah ada sekitar 60 gerai. Di Bali, ada satu gerai, sedangkan di Lampung rencananya akan dibuka 5-6 gerai baru. "Kami masih menjajaki market-nya dulu. Apalagi, ini merupakan pasar baru bagi Indomaret," ujarnya merendah.

Yang menarik, saat ini Indomaret tidak hanya dikenal sebagai toko modern, tetapi juga toko waralaba (franchise) yang memberi kesempatan kepada pemilik modal bersama-sama belajar berwirausaha. Terbukti, dari jumlah gerai yang ada saat ini, 50%-nya dikembangkan dengan pola waralaba. "Target kami, 70%-80% dari total gerai yang dimiliki dikembangkan dengan pola tersebut. Ini arah yang ingin kami kembangkan," kata Lauren menandaskan.

Sepertinya Indomaret tak mengalami kesulitan mengembangkan diri menjadi pemain besar di bisnis ini dengan jumlah jaringan terbanyak. Model kerja sama dengan sistem waralaba yang dikembangkan sejak 1998 kiranya membantu minimarket ini melebarkan jaringannya ke daerah-daerah. Ditambah, pola pikir masyarakat masa kini yang lebih menyukai kenyamanan saat berbelanja dan enggan menawar harga, mendorong mereka berbelanja di pasar modern ketimbang pasar tradisional.

Di daerah pun, pergeseran pola belanja makin terlihat. Tak mengherankan, pemilik modal di daerah melihat fenomena ini sebagai daya tarik untuk menanamkan uangnya. Nama besar Indomaret dan jaringan distribusinya yang kuat menjadi modal utama terwaralaba (franchisee) ini menarik minat pemodal.


Sebagai gambaran, jumlah gerai Indomaret di Semarang hingga September lalu sudah mencapai 115. Melihat permintaan pasar yang tinggi, Lauren berencana meningkatkan jumlah gerai di Semarang menjadi 200-300. Begitu pula di Jawa Barat. Bila semula Indomaret hanya dikembangkan di Bandung, kini telah merambah Cirebon dan Garut.
Dilihat dari banyaknya gerai yang dimiliki, Indomaret mesti bersaing ketat dengan Alfamart yang bergerak di bisnis serupa dan sama-sama dikembangkan dengan pola waralaba.


Selain Indomaret dan Alfamart, Edam Burger, yang menjual produk burger, juga tak bisa dipandang sebelah mata. Dihitung dari jumlah gerainya yang hanya 20, jaringan Edam Burger memang tak sebanyak Indomaret ataupun Alfamart. Namun, jangan salah kira. Jumlah konternya yang mencapai 2.000 membuat Edam Burger memiliki jaringan terbanyak dibandingkan dengan waralaba lokal lainnya.

Dari sisi waralaba asing, Kentucky Fried Chicken terhitung mempunyai jaringan terbanyak. Restoran siap saji asal AS yang dikenal dengan sebutan KFC ini memiliki 245 gerai. Fabian Gelael, Direktur Operasional PT Fast Food Indonesia -- pemegang master franchise KFC -- mengenang, penambahan paling pesat gerainya terjadi pascakrisis- ekonomi tahun 1998.

Semula gerainya masih dapat dihitung dengan jari tangan. Namun, sejak tahun itu penambahan gerainya diakui Fabian melonjak sampai 10-15 gerai setahun. "Habis resesi orang kan mengalami down grade pengeluaran. Dari yang biasanya main ke kafe jadi mampir ke sini," ujar lajang kelahiran Jakarta, 1970 itu. Data jumlah jaringan waralaba lokal dan asing selengkapnya dapat dilihat pada Tabel.

Keberhasilan waralaba tidak hanya dilihat dari jumlah jaringannya. Kecepatan pertumbuhan juga menjadi indikator utama waralaba dalam mengembangkan diri. Contohnya, Modern Photo Studio atau biasa disingkat M Photo Studio. Kendati baru memulai waralaba Februari tahun lalu, M Photo Studio telah memiliki 67 gerai. Dari jumlah itu, 33 gerai merupakan milik terwaralaba dan sisanya milik sendiri. Kecepatan pertumbuhan M Photo Studio bisa jadi karena ramainya pengunjung gerainya.

Menurut General Manager M Photo Studio Roby Tjiptadjaya, 95% dari gerai yang beroperasi mampu mencapai breakeven point (BEP) kurang dari dua tahun dengan omset Rp 40-60 juta/bulan. Bila di dalam perjalanannya ditemukan gerai yang memperlihatkan tanda-tanda kesulitan dalam memenuhi target pencapaian BEP, pihak pewaralaba (franchisor) akan memberi bantuan langsung. "Bentuk bantuannya bisa berupa promosi gratis dan lain-lain, tergantung (pada) kebutuhan gerai tersebut," tutur Roby. Di antara gerai yang dimilikinya saat ini, menurutnya, yang terlaris adalah gerai di Lippo Karawaci dan Kelapa Gading. "Namun, rata-rata gerai memiliki performa baik," katanya menambahkan.

Selain M Photo Studio, waralaba lain yang mampu tumbuh melesat di usianya yang masih relatif muda adalah resto ayam tulang lunak milik Sia Cipta Wijaya. Resto pertamanya yang diberi nama Restoran Ayam Tulang Lunak Malioboro dibangun pada Januari 2000, terletak di Jl. Kediri 50, Kuta, Bali. Produk andalannya adalah ayam presto, yakni ayam yang dimasak hingga tulangnya lunak dan bisa dimakan.

Puas membangun satu gerai resto di Bali, dalam kurun 6 bulan, tepatnya pada 24 Juni 2000, Cipta menambah gerainya di Jl. Hayam Wuruk 88, Denpasar, Bali. Untuk gerai kedua Cipta menggunakan nama lain, yaitu Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk (ATL-HW). Kebetulan target pasar kedua resto ini berbeda sehingga harga jualnya pun tak sama. ATL-HW lebih ditujukan untuk konsumen lokal dengan harga terjangkau.

Setelah berjalan selama dua tahun, Cipta mulai berpikiran mengembangkan usaha restonya dengan sistem waralaba. Setelah memahami model bisnisnya, ia pun mencari konsultan waralaba yang dapat membantunya mengembangkan jaringan dengan pola waralaba. Gerai dengan sistem waralaba pertama dibuka pada 17 Januari 2003 dengan mengambil nama ATL-HW. Gerai kedua menyusul pada Oktober 2003. Hingga kini Resto ATL-HW telah memiliki 17 gerai yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta seperti Green Ville, Jakarta Barat; Pondok Indah; dan Jl. Gunawarman, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Di samping jumlah cabang yang banyak dan pertumbuhan yang melesat cepat, ramainya pengunjung gerai juga menjadi indikator keberhasilan suatu waralaba. McDonald's yang berlokasi di Sarinah, Jl. Thamrin, Jakarta barangkali bisa menjadi acuan untuk mengukur ramai-tidaknya pengunjung. Gerai yang dibuka pada 1991 dengan luas sekitar 770 m2 ini tiap bulan dikunjungi 185-200 ribu orang. "Dilihat dari jumlah pengunjung, belum ada yang bisa menandingi outlet kami di Sarinah," ujar Manajer Operasional McDonald's Indonesia Family Restaurants, Didit Permana, dengan nada bangga. Bahkan, di bulan puasa pun, gerai yang buka selama 24 jam setiap hari ini tetap ramai dikunjungi, meski tak sebanyak hari-hari biasa.

Keberhasilan McDonald's Cabang Sarinah menyedot pengunjung, salah satunya, menurut Didit, karena tempatnya dilengkapi dengan McCafe. "Ini satu-satunya di Indonesia," ujarnya seraya mengungkapkan, McCafe mulai ada di gerai Sarinah tiga tahun lalu. Kehadiran McCafe dibuat relevan dengan lingkungan sekitar. Kendati McDonald's mempunyai payung yang sama, soal pemasaran tiap gerai bisa saja berbeda. Melihat areanya terdiri dari gedung perkantoran, hunian dan pusat hiburan, Didit tak heran, tingkat lalu lalangnya pun tinggi. Ini justru memberi peluang mengembangkan unit lain, seperti McCafe. "Kami berusaha beradaptasi dengan kebutuhan konsumen di tiap area," katanya.

Lokasi McDonald's Sarinah yang berdekatan dengan perkantoran memungkinkan pengunjung makan sambil rapat di sana. Kebetulan, gerai McDonald's Sarinah bisa di-set up untuk rapat dengan kapasitas 16-20 orang. Bahkan, ruangannya pun dilengkapi fasilitas multimedia. "Dari sisi biaya tentunya lebih murah ketimbang menyewa tempat di gedung atau hotel. Lagi pula, pada saat break pengunjung bisa mengecek e-mail," kata Didit berpromosi. Yang jelas, sejak kehadiran McDonald's di Sarinah, manajemen selalu berupaya agar resto yang menjual burger khas Amerika ini selalu menjadi idaman masyarakat. "Kami ingin McD menjadi the way to eat bagi semua orang," ujarnya menambahkan.

Waralaba lain yang tak kalah ramai adalah Hard Rock Cafe (HRC). Yoris Sebastian, GM HRC Jakarta dan Bali, menuturkan, dari sisi pengunjung, HRC Jakarta lebih banyak daripada HRC Bali. Namun dari segi omset, HRC Bali justru lebih tinggi daripada HRC Jakarta. Mengapa? "Mereka yang datang ke Bali umumnya untuk liburan. Lalu, mereka mampir ke HRC Bali sehingga spending-nya pun lebih besar. Di samping itu, mereka banyak membeli marchandise HRC," katanya. Jadi, pengunjungnya memang memiliki anggaran khusus untuk belanja di HRC dan lebih royal. Dalam sepekan pengunjung HRC Bali mencapai 4.500 orang. Berarti, sebulan pengunjungnya 20 ribuan orang. Adapun peengunjung HRC Jakarta bisa mencapai 1,5 kali lipat pengunjung HRC Bali.

Yoris membeberkan, pihaknya berhasil menarik minat pengunjung karena memiliki falsafah "Global brand but regional thinking". Dengan begitu, perspektif dan cara pengelolaannya dilakukan secara regional atau berbeda dari HRC di negara lain. Contohnya, HRC yang menghadirkan band tiap malam hanya ada di Asia. HRC juga bertekad menjadi local champion. Untuk menuju ke sana, HRC Indonesia harus mampu meningkatkan konten lokalnya yang juga disukai turis. "Saya terapkan untuk lokal, menjalankan operation yang masuk akal dan exit expectations," ujarnya.

Dilihat dari fasilitasnya, lokasi HRC sekarang terasa lebih nyaman bagi pengunjung. Letak Plaza EX yang strategis dengan bentuk gedung yang unik dan dekat dengan department store besar, menjadi keunggulan HRC. Apalagi, ada fasilitas taksi Express dan Silver Bird yang bisa diakses dari Hotel Grand Hyatt, ditambah lapangan parkir yang luas. "Orang tentu merasa lebih nyaman di plaza ini," kata Yoris. Karena itu, meskipun harga makanannya dinaikkan, pelanggan tidak banyak yang komplain.

Di samping jumlah jaringan dan pengunjung, kinerja baik-buruknya waralaba juga dapat dipantau dari upayanya memuaskan pelanggan. My Salon, seperti dikatakan Direkturnya, Thomas Lie, sudah menstandardisasi berbagai layanan yang diberikan melalui pusat pelatihan. Menurutnya, upaya itu dilakukan demi menyamakan mutu gerai My Salon. Untuk creambath, misalnya, My Salon mensyaratkan waktunya minimal 30 menit. "Itu untuk creambath yang bagian mijit-mijit kepala saja, belum termasuk cuci rambut selama 10 menit," katanya.

Thomas menyadari, kualitas layanan yang diberikan karyawan, stylist (penata rambut dan make-up) serta kasir sangat menentukan keberlangsungan usaha salonnya. Maka, untuk menjaga agar pengunjung selalu merasa puas datang ke tempatnya, ia rutin memberikan pelatihan kepada mereka. "Tiap tiga bulan sekali para stylist bergiliran di-upgrade ke training center ketika mereka sedang off," ujarnya seraya menambahkan, lama pelatihan hanya sehari agar tidak mengganggu jadwal kerja para stylist. Apa yang diberikan dalam pelatihan?

Menurutnya, mereka diberi teknik-teknik pemotongan dan penataan rambut serta make-up terbaru. Sebagian pelatihnya berasal dari pusat pelatihan My Salon yang berjumlah empat orang. Ada pula pelatih dari pemasok kosmetik yang dipakai My Salon, seperti dari Wella, L'oreal dan Makarizo. "Untuk trainer yang berasal dari supplier, kami sama sekali tidak bayar. Terkadang kami juga menyewa hairstylist atau make-up artis terkenal seperti Gusnaldi untuk memberi pelatihan," Thomas memaparkan.

Sementara itu, kasir diberi pelatihan manner. Materi yang diberikan lebih ke arah kebiasaan, misalnya cara menyapa tamu. Pelatihan untuk kasir juga lebih sering diadakan ketimbang untuk stylist, yakni sebulan sekali. Ketika disinggung mengapa tidak memberikan pelatihan manner ke para sytlist, Thomas menjawab, "Stylist bukan superman. Sudah banyak beban yang mereka tanggung."

Selain itu, di My Salon, Thomas menerapkan peraturan yang jelas dan tegas. "Mereka diberi buku peraturan yang harus dijalankan," ujarnya. Di antaranya, karyawan yang datang telat semenit akan didenda Rp 1.000. Denda itu akan dikumpulkan, lalu disetorkan ke kantor pusat. Nantinya uang denda tersebut diserahkan kembali ke cabang yang bersangkutan jika memerlukannya. "Duitnya bukan untuk kantor pusat, tapi dikembalikan ke karyawan saat mereka membutuhkan," ungkap Thomas.

Selain itu, untuk mencegah timbulnya kesalahpahaman, Thomas juga melarang penggunaan bahasa gaul oleh para stylist-nya. "Daripada konsumen tersinggung, lebih baik dilarang sajalah, " ujarnya menandaskan. Disadarinya, salon sangat identik dengan bahasa gaul. Namun, sebagian besar konsumen ternyata tidak menyukainya.

Tentu, berbagai aturan yang digariskan dalam buku peraturan takkan berguna bila tidak dijalankan dan pelaksanaannya tidak diawasi dengan benar. Sebagai pengawas, Thomas menunjuk kasir yang berjumlah dua orang di masing-masing gerai My Salon. Selain mengawasi, para kasir inilah yang memberi sanksi. Apabila kasir lalai dalam menjalankan tugasnya dan hal ini diketahui tim audit dari pusat, yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi yang jauh lebih berat ketimbang karyawan yang melakukan kesalahan. "Dengan begitu, semua karyawan akan mematuhi peraturan yang ada di My Salon," katanya lugas.

Untuk meyakinkan bahwa semua peraturan sudah dijalankan dengan baik dan benar, Thomas membentuk tim audit yang bertugas mengaudit cabang-cabang yang mendapat komplain dari pelanggan. "Kami sangat menghargai konsumen yang melakukan komplain," katanya seraya menjelaskan, tim audit baru akan bergerak jika mendengar keluhan pelanggan.

Sementara itu, untuk menjaga kualitas produk, ia memberikan jaminan bahwa bahan baku yang digunakan tidak dicampur dengan bahan lain. "Tanpa niat menuduh salon lain, terkadang ada lho bahan perawatan yang dioplos dengan yang murahan," ungkap Thomas membeberkan. Maklum, harga bahan perawatan rambut cukup mahal. Sekadar contoh, bahan untuk hair spa dari L'Oreal saja harganya sekitar Rp 70 ribu/pot kecil.

Di tempat lain, Londre, yang memberi layanan cuci pakaian, memandang kepuasaan pelanggan sebagai bagian dari kinerja karyawan. Direktur Pengelola PT Italindo Citramodern, perusahaan yang memayungi Londre, Syeanne Teguhsaputra, berpendapat, menjaga kepercayaan pelanggan adalah hal yang utama. Karena itulah, mutu layanan mesti dijaga dengan baik. Bila ada klaim, Londre tak segan bersikap proaktif menawarkan solusi kepada pelanggan. "Kami ingin win-win solution," katanya.

Keramah-tamahan dan perhatian adalah syarat mutlak yang diberikan Londre ke pelanggannya. "Pelanggan harus mendapatkan layanan yang terbaik, apa pun yang dibawa pelanggan kepada kami," ujar Syeanne yang murah senyum ini. Menurutnya, inilah salah satu faktor yang membuat pelanggannya puas atas layanan Londre. Berkaitan dengan kepuasan pelanggan, peran terpenting yang dijadikan ujung tombak Londre adalah karyawan front-line.

"Merekalah yang tanggap memenuhi keinginan dan mengidentifikasi kebutuhan pelanggan sampai hal-hal mendetil," ujarnya. Sesuai dengan tag line-nya "Londre, Pusat Cuci Profesional", layanan yang disediakan juga tidak sebatas untuk pakaian saja. Perlengkapan rumah, karpet, sofa, dan segala sesuatu yang terbuat dari tekstil atau bahan sintesis dan kulit adalah materi-materi yang juga bisa diterima di Londre untuk dibersihkan. "Biasanya menjelang hari raya, terutama Idul Fitri, permintaan meningkat karena banyak pelanggan yang ingin tampil bersih di hari raya. Bukan hanya pakaiannya, tapi juga isi rumahnya," ungkap Syeanne.

Sejak 2003, Londre mengembangkan cabangnya dengan sistem waralaba. Kini, 40% cabang Londre dibangun dengan sistem waralaba. Menurut Syeanne, investor yang berminat akan diseleksi dengan ketat berdasarkan semangat kemitraan jangka panjang. Syeanne juga mengingatkan para mitranya agar selalu mengutamakan sikap saling menghormati dan menghargai orang lain. Ia bertekad budaya ini akan terus dikembangkannya di Londre.

Meski terlihat gampang, mempertahankan bisnis yang dibangun dengan sistem waralaba sebenarnya tak mudah. Banyak keluhan dari pemilik dana yang telanjur menanamkan uangnya di bisnis waralaba karena hasilnya tak seperti yang dibayangkan semula. Biasanya mereka gagal mengembangkan waralabanya lantaran tak memahami bisnis ini dengan benar. Bisa jadi, yang mereka lihat awalnya hanya keuntungannya.

Mereka kurang memperhatikan risiko investasi dan faktor-faktor lainnya. Padahal, membeli waralaba bukan berarti uang akan datang dengan sendirinya. Persepsi ini harus diluruskan. Dalam pengelolaannya, bisnis waralaba tak ada bedanya dari bisnis lain yang membutuhkan keseriusan agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Tanpa kerja keras dan ketekunan pemiliknya, waralaba sehebat apa pun takkan dapat berkembang sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, sering terdengar keluhan dari terwaralaba yang merasa diabaikan pewaralabanya. Banyak pula terwaralaba yang tak puas terhadap pewaralabanya. Untuk mencari tahu kondisi yang sebenarnya, SWA melakukan survei mengenai tingkat kepuasaan terwaralaba dan pengunjung gerai. Dari 30 terwaralaba yang diwawancarai, sebagian besar menyatakan sangat tidak puas dengan pewaralabanya. Bila ditelusuri lebih lanjut, ketidakpuasan tersebut antara lain disebabkan minimnya dukungan manajemen dan sumber daya manusia, melesetnya hasil usaha, serta kurangnya dukungan promosi dan pemasaran. Data selengkapnya dapat dilihat pada Grafik.

Dalam hal hasil usaha, misalnya, banyak pewaralaba yang mengiming-imingi janji pengembalian investasi dalam waktu kurang dari dua tahun. Kenyataannya, hal itu tidak selalu terbukti. Berdasarkan survei SWA, 60% terwaralaba menyatakan hasil usaha yang diperoleh telah sesuai dengan investasi yang dikeluarkan. Namun, hanya 10% yang menyatakan sangat sesuai dan benar-benar puas dengan hasil usaha yang diperoleh. Selebihnya, 16,7% mengaku nvestasi yang dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil usaha dan 13,3% lainnya menyatakan biasa-biasa saja.

Kendati banyak menyimpan kecewa, sebagian besar investor (83,3%) masih merasakan manfaat membeli waralaba. Manfaat yang mereka rasakan, antara lain, menjadi bagian dari jaringan bisnis yang eksis dan terkenal (33,3%), dapat menambah penghasilan (16,7%), minat konsumen terus bertambah (13,3%), mendapat dukungan manajemen yang bagus (10%) dan mudah berpromosi (10%). Hanya 16,7% yang mengaku tidak merasakan manfaat membeli waralaba.


Selain itu, terungkap pula hal-hal yang masih dirasakan kurang dari para pewaralaba, antara lain, sistemnya kurang bagus (50%), kurangnya dukungan manajemen (30%), SDM-nya kurang berkualitas (30%), adanya perbedaan standardisasi antargerai (20%) dan distribusi produknya sering terlambat (20%).

Di samping itu, dari survei yang dilakukan SWA terhadap 250 pengunjung gerai waralaba, muncul sejumlah nama yang memenuhi kriteria memuaskan pelanggan. Indikator yang menjadi kriteria kepuasan pelanggan dalam survei ini: kualitas produk/jasa yang diberikan, kelengkapan produk/jasa, harga yang ditawarkan, layanan karyawan, penataan barang/desain interior ruangan, fasilitas penunjang dan bangunan fisik yang dimiliki.


Dari sejumlah nama yang ada, Salon & Spa Martha Tilaar menduduki peringkat teratas dengan nilai kepuasan rata-rata 75,1. Di bawahnya ada CafeDome (74,4), HRC (74,2), Starbucks (73,2) dan Klub Ade Rai (72,8).

Menanggapi keberhasilannya menduduki peringkat teratas dalam survei ini, Svein Idar Moldskred, GM PT Cantika Puspa Pesona, perusahaan yang memayungi Salon & Spa Martha Tilaar, mengemukakan, pihaknya sangat ketat dan tegas terhadap para terwaralabanya. "Franchisee harus mengikuti aturan dari kami, mulai dari desain interior gerai, produk, rekrutmen karyawan, dan lain-lain," ujar Svein menandaskan.

Terwaralaba tidak diperkenankan melakukan improvisasi, kecuali atas izin dan persetujuan manajemen puncak Martha Tilaar Spa pusat. "Franchisee boleh saja berimprovisasi, tapi kami harus tahu dulu alasannya dan apa yang ingin mereka tambahkan. Sejauh tidak melewati batas dan disetujui oleh top management, maka bisa diaplikasikan," tuturnya menjelaskan.

Yang jelas, demi kepuasan pelanggan, semua detail mulai dari penataan barang, desain interior, fisik bangunan hingga fasilitas penunjang diatur kantor pusat. Bahkan, Martha Tilaar Spa memiliki tim ahli sendiri, antara lain arsitektur dan tim desain interior yang mampu menangani semua itu. "Kami kirim arsitek kami ke mereka (terwaralaba -Red.) untuk mendesain bangunannya," ungkap Svein. Sejauh ini, Martha Tilaar Spa didesain dengan konsep back to nature dengan menonjolkan warna-warna alami dan interior yang mengedepankan budaya dan geografi Indonesia.

Melihat kegigihan para pewaralaba dalam mengembangkan dan membenahi usahanya, bukan tak mungkin sistem waralaba tetap diminati orang. Namun, pengamat bisnis waralaba dari AK Consulting, Amir Karamoy, mengemukakan hal yang berbeda. Menurutnya, tahun ini bisnis waralaba tidak bersinar seterang tahun-tahun sebelumnya. "Hingga 2004 bisnis waralaba di Tanah Air, khususnya waralaba asing, mengalami pertumbuhan pesat," ujarnya.

Akan tetapi, memasuki 2005, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS -- ditambah kenaikan harga bahan bakar minyak yang mencekik leher -- menimbulkan keresahan di kalangan pemegang waralaba. Terlebih, tren suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam beberapa bulan terakhir cenderung meningkat. Sejak Oktober lalu Bank Indonesia menempuh kebijakan menaikkan suku bunga SBI. Saat ini SBI berjangka satu bulan mencapai 12,25%. Bagi pemilik dana, investasi di SBI tentu dianggap lebih aman karena diterbitkan BI.

Kendati demikian, Amir berani mengatakan, kondisi seperti ini hanya berlangsung sesaat. Dia yakin, bisnis waralaba masih akan terus tumbuh. Waralaba asing diperkirakan tumbuh 10%-15% sampai akhir tahun ini. Sementara pertumbuhan pemain lokal, ia menyayangkan, berjalan lambat dan cenderung stagnan. Padahal, bisnis waralaba lokal dinilai Amir memiliki potensi yang sangat besar.

Ke depan, "Saya melihat kecenderungan terjadinya peningkatan di bisnis waralaba lokal," kata Amir optimistis. Diakuinya, banyak kasus bermunculan sehubungan dengan pengelolaan waralaba lokal. Namun, jangan sampai hal ini menjadi hambatan bagi pemilik dana yang ingin belajar berwirausaha melalui sistem waralaba. Dalam hal ini, ia menyayangkan sikap pemerintah yang kurang memberi dukungan terhadap bisnis waralaba. "Sejauh ini belum ada respons dari pemerintah untuk lebih mendorong pertumbuhan bisnis ini," ujarnya.

Memang, diakuinya, Departemen Perindustrian dan Perdagangan pada pemerintahan sebelumnya sempat membuat rancangan undang-undang mengenai bisnis waralaba. Namun, peraturan itu hingga kini baru sebatas draf saja. "Sampai sekarang belum ada kelanjutannya," ia menandaskan. Tak mengherankan, sampai saat ini belum ada perlindungan dari pemerintah terhadap keberlangsungan bisnis ini di Tanah Air.

Meski demikian, Amir meminta para pewaralaba dan terwaralaba tidak menyerah. Ia menyarankan agar mereka membenahi diri bila tak ingin bisnisnya berantakan. Bagaimanapun, diperlukan kerja sama yang berkesinambungan antara pewaralaba dan terwaralaba agar bisnis yang ditekuni terus tumbuh dan mampu memuaskan kedua belah pihak.

Sumber: SWA
Read more...

Kiat Sukses Membeli Waralaba

Oleh : Sudarmadi

Mengembangkan waralaba tak selamanya berujung sukses. Tidak sedikit yang gagal dan bangkrut. Bagaimana meraih kesuksesan sebagai terwaralaba?

Beberapa bulan belakangan ini wajah Haris Sunarto (38 tahun) tampak murung. Rupanya ia merasa cemas, gerai resto fried chicken yang dikembangkannya lewat waralaba di Kota Depok makin lama makin sepi. Sejak ia dirikan dua tahun lalu, tak kunjung ramai pembeli. Sehingga, bayang-bayang kebangkrutan terus menghantui pikirannya.

Padahal, dari sisi lokasi, posisi gerainya sangat strategis, persis di tepi Jl. Margonda Raya yang dikelilingi permukiman padat penduduk serta dua kampus besar -- Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma. Yang terjadi, gerai milik Haris malah kalah ramai ketimbang gerai fried chicken saingannya yang didirikan sejumlah mahasiswa kos di kawasan itu.

Haris mengaku kesal bukan kepalang. Dulu, ia dijanjikan pewaralaba (franchisor)-nya akan balik modal dalam 2,5 tahun -- bahkan bisa 1,5 tahun. Apa lacur? Mimpi punya gerai fried chicken yang sukses seperti McDonald's tampaknya tinggal angan-angan. Jangankan bisa balik modal, bayangan untuk bisa menutup ongkos operasional saja tak ada. Gerainya benar-benar sepi, meski ia sudah berusaha menuruti semua arahan yang diberikan pewaralaba. Haris pun merasa sakit hati, bisnis waralaba yang katanya akan sangat menguntungkan itu ternyata tak lebih dari omong kosong.

Kekesalan Haris adalah contoh realitas yang dialami para terwaralaba/pembeli waralaba (franchisee) di banyak kota. Kenyataannya, tak semua bisnis yang dikembangkan dengan waralaba benar-benar mampu mendatangkan untung bagi investor sebagaimana dijanjikan pewaralabanya. Maklum, tak sedikit bisnis yang sebenarnya belum terbukti menguntungkan dan citra mereknya juga belum cukup kuat, tetapi buru-buru dikembangkan secara waralaba karena pemiliknya hanya ingin mengejar fee waralaba dan initial fee. Sebab itu, investor yang ingin sukses memiliki bisnis waralaba memang dituntut hati-hati.

Kejelian memilih waralaba sebenarnya hanyalah sebagian dari serangkaian kiat sukses di bisnis ini. Maklum, faktor sukses dalam mengembangkan bisnis waralaba memang cukup multidimensional. Misalnya, pada aspek mentalitas. Hal pertama yang perlu ditegaskan, memang benar berbisnis waralaba berpotensi sukses lebih besar ketimbang membangun usaha sendiri. Sebab, telah memiliki sistem dan merek yang kuat dari pewaralaba. Namun, bisnis ini tetap membutuhkan keterlibatan dan perhatian penuh investor.

Ia tak bisa dilihat sebagai investasi portofolio seperti saham atau properti yang dengan diam saja suatu saat nilai uang kita akan membiak. "Kalau berpikir dengan beli franchise berarti dengan ongkang-ongkang kaki bisa sukses, itu menyesatkan. Pembeli franchise yang gagal biasanya yang pola pikirnya seperti itu," tutur Bambang Pangestu, praktisi franchising serta pendiri dan pemilik lembaga kursus bahasa Inggris ILP, yang juga sukses dikembangkan secara waralaba.

Agar sukses mengembangkan bisnis waralaba, tetap diperlukan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) pembeli waralaba. Maklum, jiwa ini akan memengaruhi kegigihan dan keuletannya dalam membangun bisnis waralaba yang dibeli. Harus dicatat, meski rata-rata waralaba yang dibeli sudah punya sistem dan prosedur pengelolaan bisnis yang baku, di mana pun bisnis sering mengalami masa-masa tak mulus sehingga butuh kemampuan pembeli waralaba mencari solusi kreatif yang sifatnya lokal.

Pendapat ini diamini Asep Gosiman, pemilik empat gerai waralaba Indomaret. Baginya, jiwa kewirausahaan memang diperlukan pembeli waralaba seperti dirinya yang membidangi waralaba toko ritel. Asep mencontohkan, ketika penjualan toko sedang tidak bagus, mereka yang berjiwa kewirausahaan biasanya langsung terdorong mencari solusi dan tak mudah patah semangat. "Kalau tak punya jiwa entrepreneur, biasanya hanya menyalahkan franchisor," kata Asep yang punya gerai Indomaret di Bekasi (3) dan Cijantung (1).

Bagi pemilik dana yang ingin mencoba berbisnis dengan membeli waralaba, ada beberapa tahapan penting yang sebaiknya dijalankan. Pertama, sebelum memulai segalanya, calon pembeli melihat posisinya, baik latar belakang pendidikan, bidang bisnis yang diminati, maupun pengalaman. Pengalaman yang dimaksudkan bisa berupa pengalaman kerja di luar atau pengalaman berbisnis sendiri. Perlu juga bertanya pada diri sendiri, apakah memang suka berhubungan dan mengelola orang lain serta pernahkah punya pengalaman gagal-sukses dalam mengelola orang?

Juga perlu, mengaca kemampuan keuangannya, termasuk seberapa banyak aset likuid yang dimiliki, jumlah uang yang dimiliki yang siap diinvestasikan dan "hilang" untuk membeli waralaba. Mengetahui posisi keuangan, minat, pengalaman dan kemampuan berbisnis akan sangat membantu dalam mengarahkan pilihan bidang waralaba yang cocok dan berpotensi sukses.

Setelah mengetahui jenis-jenis industri, sebaiknya calon pembeli waralaba mengevaluasi mana bidang industri yang menjadi minatnya dan cukup berpotensi dikembangkan di wilayahnya.
Di sini calon pembeli memang harus mengetahui pasar yang bakal dimasuki. "Franchise yang sukses dikembangkan di suatu tempat belum tentu sukses di daerah Anda," pakar waralaba Utomo Njoto mengingatkan.

Utomo mencontohkan, waralaba resto Subway yang di Amerika Serikat sukses gemilang dan bahkan penetrasinya melewati McDonald's, di Indonesia tak kunjung menuai kinerja bagus. "Di sini pesan pentingya, calon pembeli franchise harus pintar-pintar mengalkulasi kelayakan skala ekonomi suatu franchise untuk dikembangkan di suatu tempat." Baru setelah mengetahui bidang-bidang yang berpotensi dikembangkan di suatu pasar, calon pembeli waralaba harus menggali alternatif waralaba terbaik yang ada, mengevaluasi, kemudian menyeleksinya.

Ada baiknya calon pembeli waralaba memiliki banyak sumber informasi untuk memutuskan, jangan hanya mengandalkan informasi sepihak dari perusahaan penjual waralaba. Sumber informasi bisa asosiasi perusahaan, buku, konsultan, website dan artikel di media massa yang belakangan memang sering mengupas bisnis waralaba dan kiprah para pelakunya. Pertanyaan besarnya, tentu, seberapa prospektif dan menguntungkan warabala tersebut, seperti apa track record perusahaannya serta bagaimana kinerja keuangannya.

Untuk menggali berbagai informasi seputar beberapa waralaba yang mau dibeli, salah satu langkah yang tak boleh ditinggalkan ialah menggali informasi dan pengalaman dari terwaralaba yang lebih dulu membelinya (existing franchisee). Dengan mengontak mereka biasanya akan diperoleh informasi yang lebih objektif. Ada banyak pertanyaan yang bisa diajukan ke mereka. Antara lain, puaskah Anda dengan waralaba dan pewaralaba, serta berapa lama bisa mencapai return on investment.

Soal memilih waralaba apa yang bakal dibeli ini memang paling krusial. Waralaba yang sebaiknya dipilih tentu yang keuangannya benar-benar solid. Jangan sampai membeli hak waralaba dari perusahaan sakit yang menyimpan bom kebangkrutan. Karena itu, sebisa mungkin calon pembeli waralaba melakukan due diligence secara diam-diam. "Cari informasi sebanyak-banyaknya soal franchisor itu mulai soal kepuasan pelanggan, kepuasan franchisee, hingga reputasi pewaralaba di hadapan supplier dan bankir," Utomo menyarankan.

Tentu, yang juga harus digali lebih dalam adalah soal isi tawaran waralaba itu sendiri, termasuk fee dan kontrak-kontrak ikatan yang ada, dan bandingkan dengan waralaba sejenis lainnya yang sama-sama potensial dibeli. "Pokoknya, cari informasi sedalamnya ke franchisor agar tak beli kucing dalam karung," ujar Utomo tandas.

Agar lebih aman, sebaiknya memilih waralaba yang bisnisnya tak gampang ditiru pesaing di kemudian hari. Juga, diferensiasinya jelas dan entry barrier buat pemain lain sangat sulit. Waralaba tersebut pun yang benar-benar telah terbukti menguntungkan selama bertahun-tahun berturut-turut, setidaknya dalam 3-4 tahun terakhir.

Bagaimana kalau itu bisnis baru kemudian di-waralabakan? Untuk kasus seperti ini, harus hati-hati karena berarti belum ada track record sukses dari unit bisnis yang diwaralabakan. Maka, harus ditelusuri siapa grup usaha yang menopang bisnis itu dan track record-nya. Pasalnya, kalau itu merupakan waralaba baru, tetapi didukung grup bonafide, bisa menjadi peluang bagus dan kita bisa mendapatkan fee waralaba yang lebih murah karena termasuk terwaralaba angkatan pertama.

Contohnya, seperti yang dialami Tju Wie Sen, pengusaha yang membeli bisnis waralaba otomotif di Jakarta. Tju membeli waralaba yang boleh dibilang baru 1,5 tahun lalu, yakni Shop & Drive yang membidangi perbengkelan mobil. Meski waktu itu masih baru dan Tju termasuk pembeli waralaba pertama, Shop & Drive dikelola perusahaan yang reputasinya tak perlu diragukan, PT Astra Otopart. Sehingga, Tju tak ragu membeli waralabanya. Dengan investasi Rp 130 juta (di luar tempat), ia mengembangkan waralabanya di Jalan Boulevard, Taman Surya, Jakarta.

Ternyata, perkembangannya sangat polsitif. Dengan aktif berpomosi di lokasi sekitar gerai, ketika bisnis baru berjalan dua bulan penjualannya sudah menutup cost sehingga tak perlu menyuntik dana untuk biaya operasional. Dua bulan pertama beroperasi, omsetnya sekitar Rp 30 juta/bulan dengan gross profit sekitar 20%. Kini omsetnya sudah meningkat 300%, yaitu di atas Rp 90 juta/bulan. Jadi, dalam kasus Tju, ia sukses membeli waralaba yang entitasnya baru, tetapi ada dukungan grup yang bereputasi baik sehingga bisa menopang sukses.

Reputasi ini memang perlu dipertanyakan karena membeli waralaba bukanlah bisnis jual-beli putus jangka pendek dan sekali transaksi. Maklum, setelah terjadi transaksi, terwaralaba masih butuh berbagai dukungan. Pewaralaba yang reputasinya baik dan sudah lama menggeluti bisnisnya akan sangat perhatian dan memberi dukungan, baik dari segi teknis, administratif maupun pelatihan. Mereka akan berpikir seribu kali untuk hit and run dan mengorbankan track record.

Asep Gosiman mengalami sendiri. Dengan membeli waralaba Indomaret yang reputasinya ia yakini baik, maka bila penjualan tidak mencapai target, misalnya, pihaknya dibantu. Misalnya, kemudian Indomaret pun memberi perhatian dan berusaha meningkatkan penjualan di tokonya. "Bahkan untuk promosi dan mendongkrak penjulan, Indomaret yang mengajukan proposal ke pemilik toko untuk melakukan kerja sama promosi," Asep menceritakan pengalamannya.

Yang jelas, tahapan berikutnya, setelah pilihan mengerucut pada satu waralaba, mesti menyiapkan pendanaan investasi. Ada banyak opsi: kredit bank, pinjam keluarga, patungan dengan rekan, atau memakai tabungan sendiri. Pilihan mana yang diambil sangat tergantung pada kondisi masing-masing investor. Namun, bila dirasa tak perlu sekali meminjam, sebaiknya lebih baik menggunakan kekuatan keuangan sendiri. Maklum, umumnya bila harus meminjam bank, yang ditakutkan adalah terlalu tipisnya profit margin usahanya karena harus membayar bunga bank. Apalagi, biasanya margin bisnis waralaba tak sebesar kalau bisnis sendiri. "Kalau harus pinjam bank, kok sepertinya malah bisa bikin kemrungsung," ujar Bambang Pangestu yang bisnis waralabanya, ILP, banyak diburu investor.

Langkah terakhir sebelum beroperasi, calon terwaralaba mesti minta diberi pelatihan oleh pewaralaba. Termasuk, pelatihan buat staf, karena peran mereka juga sangat krusial dan sering menjadi titik gagal waralaba. Maklum, di garis inilah ujung tombak bisnis waralaba. Meski merek waralaba sudah bagus, tetap harus merekrut sumber daya manusia di garis depan yang benar-benar unggulan dan berpotensi dikembangkan.

Pada tahapan ketika bisnis waralaba sudah beroperasi, seperti disarankan Utomo, pewaralaba sebaiknya terus mengikuti prosedur operasional standar (SOP) yang diberikan pewaralaba. Umumnya, SOP yang mereka berikan terbukti sukses di banyak gerai terwaralaba lain. Namun, tetap saja terwaralaba jangan menggantungkan segalanya pada upaya pewaralaba. Contohnya, soal promosi dan akuisisi pelanggan baru di pasar, terwaralaba harus berinisiatif mencari media promosi lokal untuk menggenjot penjualan. Antara lain, melakukan cobranding dengan mitra lokal dan promosi gabungan.

Bila diamati, pembeli waralaba yang sukses rata-rata memang orang yang kreatif dan mencoba mencari celah-celah promosi di wilayahnya meski hal itu tak diatur pewaralaba. Terwawaralaba yang sukses harus mencari solusi kreatif terhadap persoalan pasar di wilayahnya. Sebab, bagaimanapun, dia lebih tahu soal pasar di wilayahnya ketimbang pewaralaba.

Contoh gampangnya, ia lebih tahu radio lokal mana yang tingkat pendengarnya paling massif untuk target pasar yang dituju. Jadi, dalam promosi, ia tak melulu menggantungkan program promosi nasional yang dilakukan pewaralaba. Tak ada ruginya kreatif dan agresif mengembangkan bisnis waralaba. Dunia mencatat, banyak terwaralaba yang sangat sukses sehingga kemudian mengambil alih perusahaan pewaralabanya. Sejarah McDonald's dan Glorea Jeans Coffe sudah membuktikannya.

Tabel:
Pertanyaan Penting kepada Pemilik Waralaba
- Berapa investasi awal secara keseluruhan yang dibutuhkan termasuk modal kerja dan fee waralaba?
- Berapa lama payback period-nya (berdasarkan EBITDA: artinya tidak memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi)?
- Berapa target penjualan per tahun untuk mencapai payback period tersebut?
- Target ini didukung atau dihasilkan dari evaluasi terhadap kinerja historis gerai pewaralaba yang ada ataukah tidak? Asumsi-asumsi apa yang digunakan dalam pencapaian payback period tersebut (biaya sewa, listrik, telepon, gaji karyawan, dsb.)?
- Dari pembeli waralaba yang ada, berapa tahun rata-rata bisa balik modal? Yang tercepat berapa tahun?
- Adakah pembeli waralaba yang gagal? Kenapa?
- Berapa rata-rata keuntungan bulanan gerai waralaba yang sudah ada?
- Bolehkah kita melakukan studi banding ke beberapa gerai terwaralaba?

Pertanyaan Penting kepada Investor yang Lebih Dulu Membeli Waralaba yang Sama
- Puaskah Anda terhadap kinerja bisnis waralaba yang Anda beli dan pemilik waralabanya? Kenapa?
- Berapa lama Anda bisa mencapai return on investment? Apakah itu sesuai dengan target?
- Berapa kisaran pendapatan Anda dari bisnis waralaba ini dan apakah itu sesuai dengan ekspektasi Anda?
- Apakah master franchise menyediakan pelatihan memadai buat Anda sebelum bisnis dimulai? Adakah biaya atau fee tak terduga yang ditarik pewaralaba?
- Apakah teritori yang diberikan kepada Anda cukup memadai untuk mewujudkan target Anda? Apa saja aturan yang bagi Anda memberatkan yang diwajibkan pemilik waralaba?
- Apakah pemilik waralaba benar-benar memberikan dukungan promosi dan periklanan memadai?
- Seberapa serius pemilik waralaba membantu Anda mencapai sukses?
- Anda sendiri sebelumnya berlatar belakang apa?

Sumber: SWA
Read more...

Lika-liku Memburu Brand yang Layak Di-franchise-kan

Oleh : Eva Martha Rahayu

Waralaba Bakso Kota dan Purwacaraka Music Studio merupakan contoh kisah sukses sistem waralaba melalui perantara. Bagaimana mengendus sejumlah brand yang berpotensi diwaralabakan?

Kalau saja Nurcholish tidak merayu Cak Man (pemilik Bakso Kota) untuk mewaralabakan bisnisnya, bisa jadi merek bakso asal Malang cuma jago kandang. Tidak bisa dipungkiri, berkat jasa Nurcholish sebagai konseptor waralaba dalam meyakinkan pedagang bakso itu, jaringan Bakso Kota terus ekspansi di luar Kota Apel. Mulai dari sekitar Jakarta (Depok dan Plasa Semanggi), Yogya, sebentar lagi buka di Banjarmasin dan Tebet (Jakarta). Tidak mustahil jika brand itu mulai melekat kuat di benak para penggemar bakso beberapa daerah.

Nurcholish bercerita ihwal ia kepincut mempromosikan Bakso Kota. Bermula dari kebiasaannya menyambangi istri yang tengah kuliah di Malang setiap 20 hari sekali, ia selalu menyempatkan mampir makan di Bakso Kota di Jl. Kedaung, Malang. Ia merasakan keunikannya dalam citarasa, tempat dan pelayanan warung bakso yang selalu ramai pembeli itu. Tanpa mau menunda waktu lebih lama, ia pun nekat berkenalan dengan si empunya Bakso Kota dan keluarganya. Lagi-lagi dengan keberaniannya, ia pun melontarkan gagasannya agar Bakso Kota diwaralabakan.

Bagaimana tanggapan Cak Man? "Mulanya yang bersangkutan ketakutan dengan ide itu. Soalnya ia pernah tertipu," ujar Nurcholish mengenang saat-saat pendekatan dengan Cak Man sekitar Juni 2004. Toh, Nurcholish pantang menyerah. Jika sebelumnya 20 hari sekali mengunjungi Bakso Kota, frekuensinya lalu ditingkatkan menjadi dua minggu sekali untuk kembali meyakinkan pengusaha bakso itu.

Ujung-ujungnya, Cak Man tak kuasa lagi menolak.
"Akhirnya saya diberi kesempatan buka Bakso Kota di Depok. Cabang ini merupakan prototipe untuk gerai waralaba Bakso Kota," Nurcholish menjelaskan. Jadi, ia butuh waktu sekitar tiga bulan untuk meyakinkan Cak Man supaya mewaralabakan Bakso Kota.

Nurcholish punya jurus sendiri untuk menepis rasa bimbang Cak Man. "Saya coba yakinkan Pak Abdurrahman Toekiman (Cak Man). Meski sudah terkenal di Malang, alangkah baiknya ekspansi ke kota lain dengan sistem waralaba. Selain itu, saya terangkan bahwa banyak para pakar pemasaran yang yakin kalau waralaba adalah konsep bagus dan bisa menyerap tenaga kerja banyak," ungkapnya. Katakanlah untuk satu gerai, kita sudah mempekerjakan lima tenaga kerja. Menurutnya, usaha mikro bisa menjadi landasan pemerintah kita. Ini terbukti saat krismon, justru yang bertahan adalah UKM.

Tidak hanya Nurcholish yang butuh waktu untuk meyakinkan pemilik merek/usaha. Koma Untoro umpamanya, harus bersabar menunggu beberapa bulan agar musisi Purwacaraka bersedia mewaralabakan sekolah musiknya. "Ketika saya datang tahun 2002 dengan mengusung konsep waralaba, gayung memang bersambut. Tapi, kami butuh waktu untuk proses penggodokan konsep lebih matang," ujar konseptor franchise Purwacaraka Music Studio (PMS) itu.

Diakui Koma, awalnya Purwacaraka kurang optimistis. Alasannya tidak memiliki banyak waktu untuk mengelola dan tidak begitu paham seluk-beluk bisnis dengan pola waralaba. Kendati baru mulai, bukan hambatan bagi PMS untuk segera mengepakkan sayap. Makanya, meski baru digodok beberapa bulan, konsep waralaba PMS segera ditawarkan ke investor. Tergolong berani memang. Hasilnya? Ternyata, tahun pertama cukup berat untuk menjaring pemilik modal. Alhasil, pertumbuhan gerai melambat.

Pada tahun pertama PMS cuma mampu membuka 10 gerai. Setahun kemudian, tepatnya akhir 2003 -- setelah ramai program reality show menyanyi di TV seperti Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol, jumlah peserta PMS langsung melejit 50%. Selain itu, penambahan gerainya pun berlangsung cepat.
Kini, PMS telah memiliki 50 gerai, dan tiap gerai mempunyai rata-rata 300 peserta kursus. Intuisi bisnis Koma dan Nurcholish cukup tajam. Koma sukses mengusung konsep waralaba PMS.

Demikian pula Nurcholish dengan bendera Bakso Kota yang dikibarkannya. Bagaimana mereka melihat peluang bahwa suatu usaha layak diwaralabakan? "Saya melihat waktu itu belum ada sekolah musik yang berkembang pesat. Rata-rata penyelenggaranya individu dan institusi yang terkenal cuma Yamaha," tutur Koma. Dan, pilihan Koma jatuh pada Purwacaraka bukan asal tunjuk. Pertimbangannya, Purwacaraka merupakan figur yang masih disanjung dan kondang reputasinya. Sebagai musisi, kelebihan Purwacaraka adalah dibekali latar belakang pendidikan akademis yang ciamik, yaitu sarjana dari Institut Teknologi Bandung. Ini mampu menepis citra negatif, pemusik kebanyakan orang jalanan.

Selain nama besar Purwacaraka, kelebihan lain PMS, "Komitmen tinggi si pemilik terhadap pendidikan musik di Tanah Air, khususnya untuk anak-anak," kata Koma yang juga tercatat sebagai mentor Entrepreneur University milik Lembaga Pendidikan Primagama itu. Nilai tambah lainnya, tingginya jam terbang yang dimiliki Purwacaraka di bidang musik. Bagi Koma sebuah waralaba harus besar dulu untuk dikenal orang. Caranya mesti membuka cabang sebanyak-banyaknya. PMS pertama kali dibuka 15 tahun lalu di Jl. Sriwijaya 44 Bandung.

Sementara itu, Nurcholish mengungkapkan, ada beberapa persyaratan usaha agar layak diwaralabakan. Pertama, usaha itu harus unik atau memiliki karakteristik. "Saya yakin Bakso Kota mempunyai persyaratan itu. Sebab, bakso yang dikenal di masyarakat adalah bakso Solo (bakso ditambah mi atau bihun). Sedangkan kekhasan Bakso Kota ini berasal dari Malang, yang ada pangsit gorengnya," ia menerangkan.

Perbedaan Bakso Kota dan bakso Malang yang banyak beredar: Bakso Kota dominan bahan pangsit (kulit pangsit), sedangkan bakso Malang mungkin hanya lembaran pangsit digoreng yang diberi sedikit daging. Yang jelas, ada beberapa jenis pangsit di Bakso Kota. Sebut saja pangsit gorengan panjang, gorengan usus, plus gorengan mekar. Sebenarnya, antara gorengan panjang dengan gorengan mekar itu sama (isi dan kulit pangsitnya sama). Hanya bentuknya yang berbeda. Memang, di Malang jenis pangsit ini sudah jamak. Namun, di Jakarta dan sekitarnya, sulit ditemukan pangsit gorengan panjang. Itulah prinsip dasar yang membedakan Bakso Kota dari bakso Malang secara umum.

Kriteria kedua, usaha itu bisa diduplikasi. Jadi, Bakso Kota yang ada di Depok dan Malang harus sama baik dalam hal rasa, penyajian maupun harga. Itulah sebabnya, untuk menyeragamkan, cabang di luar Malang selalu dikirimi bumbu dan saus racikan dari kota dingin itu. Adapun untuk pembuatan baksonya cukup dilakukan transfer knowledge.

Baik Koma maupun Nurcholish mempunyai pola kerja sama sendiri dengan pemilik merek. "Pola kerja sama kami saling menguntungkan dengan bagi hasil. Tidak ada aturan atau negosiasi khusus. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Saya lebih banyak menjalankan pemasaran," ujar Koma yang ogah buka kartu soal bagi hasilnya lebih rinci. Akan tetapi, ia mengakui biaya kursus siswa PMS lebih mahal 40% dibandingkan dengan Sekolah Musik Yamaha. Meski demikian, pihaknya tidak gentar menghadapi ketatnya persaingan. Pasalnya PMS, sebagaimana diklaim Koma, unggul dalam aktivitas sering menggelar konser yang melibatkan para siswa PMS dan mengundang public figure.

"Setelah konsep waralaba jalan, saya menjadi tim pemasaran dan pengembangan. Ada pembagian persentase antara Pak Abdurrahman sebagai pemilik dan saya. Untuk bagi hasil franchise fee saya mendapat 30% dan Pak Abdurrahman 70%. Sedangkan untuk royalty fee saya dapat 20% dan pemiliknya 80%," papar Nurchoslih berterus terang mengenai pola kerja samanya dengan juragan Bakso Kota.

Adapun besarnya fee royalti yang berlaku saat ini: 5% omset penjualan per bulan. Untuk fee waralaba ada tiga tipe yang kisarannya Rp 30-90 juta untuk masa kontrak 3-5 tahun. Setelah itu dapat diperpanjang kembali.

Sejatinya, di luar Bakso Kota dan Purwacaraka Music Studio, masih banyak merek lain yang layak diwaralabakan. Menurut Peter Yunkim Gunawan saat ini ada tiga pemain lokal yang patut dijual secara franchise. "Contohnya masakan Cina dari Tawan Restaurant, masakan Jepang ala Ichiban Sushi, dan Scoops Ice Cream," kata konsultan waralaba Young & Kim Consultant itu dalam jawaban e-mail-nya memproyeksikan. Ketiga usaha makanan itu, di mata Peter masing-masing memiliki kelebihan.

Peter menerangkan, Tawan Restaurant mengawali bisnisnya pada 1996 di Megamal Pluit. Waktu krismon, banyak pengelola resto yang rontok, tapi Tawan tetap bertahan. Setiap membuka cabang tak pernah sepi pengunjung. Beberapa lokasi gerai cabangnya ada di Mal Taman Anggrek, Citraland dan Plaza Setiabudi. Untuk menu resto Cina berkualitas, harga tarif makanan Tawan dinilai Peter relatif murah. Dan, makanan andalannya aneka bubur. Yang menarik, hingga sekarang pemilik resto itu belum berniat mewaralabakan, padahal sudah banyak calon investor yang mengincar.

Cikal bakal bisnis Ichiban Sushi, sebagaimana dituturkan Peter, dirintis dari food court di Plaza Senayan. Resto yang melangkah sejak tahun 1996 itu terkenal dengan harga terjangkau. Meski dibuat oleh orang lokal, kualitas sushi yang ditawarkan Ichiban Sushi tak kalah dari ramuan chef asli Jepang. Sementara itu, Scoops Ice Cream memulai bisnisnya dari Jl. Barito, Kebayoran Baru. "Suasana cozy dan citarasa es krimnya khas, sehingga sering orang mengira itu produk impor. Pemiliknya tengah menyiapkan diri untuk terjun ke waralaba, lantaran animo calon investor sangat tinggi," ungkap Peter.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei SWA, selain ketiga brand yang disodorkan Peter, ada beberapa merek lain yang layak diwaralabakan. Semisal Oil Mart (ritel oli), Gado-gado Boplo (restoran), ACI Ministore (minimarket 24 jam), Eazy Rent A Car (rental mobil), Beautika (restoran), Sekolah Catur Utut Adianto (pendidikan), Natasha Skin Care (klinik kecantikan), dan Juliana Jaya (kursus menjahit).
Siapa berminat mewaralabakan?

Kamis, 24 November 2005
Read more...