Waralaba, Membangun Bisnis yang Menjual Gengsi

Thursday, November 16, 2006

Di saat kebutuhan hidup sehari-hari sudah terpenuhi dengan mudah, manusia tetap ingin memiliki sesuatu yang lebih baik. Produk atau jasa pemuas yang dicari pun yang terbaik. Fungsi serta harga nomor dua, yang penting adalah gengsi yang didapat.

Ada beratus-ratus warung, restoran, dan toko kue di Kota Bandung, tetapi hanya beberapa yang punya nilai lebih untuk didatangi, tentunya dengan nama atau merek yang populer. Begitu pentingnya merek sampai-sampai bisnis merek menjadi andalan untuk memperebutkan pelanggan. Cara inilah yang sekarang sedang tren dikembangkan melalui waralaba.

Banyak orang beranggapan lebih berkelas jika berbelanja satu botol kecap di Alfamart atau membeli donat dan kopi di JCo ketimbang di warung ujung gang. Bahkan, dinilai lebih "bergengsi" jika mengikuti kursus bahasa Inggris di International Language Program (ILP) daripada di dekat rumah.

Prof Sucherly, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisnis Universitas Padjadjaran, menuturkan, kebutuhan manusia ada dua bentuk, kebutuhan rasional dan emosional. Kebutuhan rasional dipenuhi karena tujuan atau fungsinya, sedangkan emosional lebih karena alasan pencitraan. Kebutuhan emosional itulah yang dibidik bisnis waralaba. Merek mendorong konsumen berperilaku konsumtif. "Sekarang, orang makan tidak mau cuma di warung, maunya di restoran bermerek," ujarnya, Rabu (15/11) di Bandung.

Dalam bisnis ini, yang ditawarkan bukan lagi produk, melainkan kepuasan layanan bagi pelanggan, baik fungsional maupun emosional. Sucherly menjelaskan, merek adalah hal terpenting dalam bisnis waralaba. Semakin terkenal mereknya, peluang keuntungan usahanya pun semakin besar meski risikonya juga semakin besar.

Hakikatnya, bisnis waralaba dilakukan untuk memperbesar keuntungan pewaralaba serta mengurangi risiko perluasan bisnis. Pewaralaba tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membangun pabrik, atau takut dengan ancaman keamanan yang memengaruhi iklim usaha. Semua itu ditanggung terwaralaba.

Banyak yang melirik bisnis waralaba, ungkap Didit Setiadi, Manajer Humas Alfamart, karena semua hal yang berkaitan dengan manajemen usaha hingga promosi dilakukan pewaralaba. "Namun, jangan salah pilih jenis waralaba karena banyak perusahaan baru yang belum jelas menawarkan sistem waralaba. Track record-nya harus jelas," katanya.

Pewaralaba harus bisa memberikan pelatihan dan pengawasan agar mereknya tidak jatuh pamor karena dikelola pihak kedua. Terwaralaba harus mempertahankan merek yang dibelinya dengan memberikan pelayanan yang lebih bagus ketimbang pesaingnya. (Timbuktu Harthana)

Kompas, Kamis, 16 November 2006
Read more...

Waralaba Makanan Masih Dominan Jenis Ritel Cukup Menjanjikan

Bisnis waralaba di Kota Bandung semakin diminati karena memberikan keuntungan dalam jangka waktu pendek. Usaha waralaba ini masih didominasi waralaba makanan, yang memiliki peluang besar menarik konsumen karena termasuk kebutuhan pokok.

Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisnis Universitas Padjadjaran Prof Sucherly, lebih dari 50 persen dari sekitar 290 usaha waralaba asing dan lokal bergerak di sektor produk makanan. Sisanya bergerak di bidang produk sandang, pendidikan, dan jasa.
"Makanan adalah produk yang dibutuhkan sehari-hari oleh masyarakat sehingga jenis itu yang paling banyak ditawarkan franchisor (pewaralaba) dan diminati franchisee (terwaralaba)," ujar Sucherly, Rabu (15/11) di Bandung.


Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Hendri Hendarta mengatakan, waralaba produk makanan sangat menjanjikan. Konsumen Indonesia masih cenderung memilih mengonsumsi makanan bermerek terkenal, baik yang disajikan di restoran waralaba internasional maupun lokal.

Ia menjelaskan, investasi yang harus ditanamkan terwaralaba di bidang makanan sangat beragam, mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 1 miliar, bergantung pada besar-kecil usaha serta merek yang diwaralabakan. Lokasi usaha juga menentukan besarnya investasi.

Ada dua sistem pembagian keuntungan dalam waralaba, yaitu royalti dan bagi hasil. Pada sistem royalti, pewaralaba mendapatkan bagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan kontrak meskipun terwaralaba merugi.

Sementara dalam bagi hasil, keuntungan pewaralaba ditentukan oleh pendapatan terwaralaba sehingga semakin besar pendapatan terwaralaba, semakin besar keuntungan yang akan dibagikan kepada pewaralaba.

Rata-rata, dalam bisnis waralaba pengembalian modal didapat setelah 3-5 tahun sejak pertama kali usaha dibuka. "Seperti waralaba ritel, umumnya pewaralaba akan mendapat keuntungan sekitar 1 persen apabila pendapatan per bulan sudah di atas Rp 100 juta," ujar Hendri.

Ritel
Waralaba perdagangan ritel saat ini banyak menjadi pilihan. Ritel berbentuk waralaba dalam empat tahun terakhir tumbuh sekitar 10 persen per tahun.
Tahun lalu, kata Manajer Humas Alfamart Didit Setiadi, pertumbuhan ritel minimarket 19 persen dengan omzet Rp 45 triliun. Toko-toko ritel atau minimarket pun dibangun sampai ke perkampungan dan perumahan. Bahkan jarak antartoko ritel waralaba relatif berdekatan. Bisnis ini diminati pelaku-pelaku usaha baru dengan modal terbatas.

Para pelaku ritel waralaba itu biasanya memiliki aset berbentuk bangunan, tanah, atau modal. Usia pelaku usaha waralaba ritel beragam, mulai dari wiraswasta muda hingga pensiunan yang masih ingin memiliki penghasilan di hari tua dengan membuka toko bersistem waralaba. "Wiraswasta muda usia 30-45 tahun banyak yang bergabung dalam usaha waralaba ini," ujar Didit. (THT)

Kompas, Kamis, 16 November 2006
Read more...

Alfamart Targetkan Toko Untuk Masyarakat

Friday, October 6, 2006

Mini market Alfamart menargetkan hingga akhir tahun 2006 sekitar 40 persen toko-tokonya yang tersebar di seluruh Jawa dan Lampung bisa dimiliki oleh masyarakat. Saat ini, kata Manajer Humas Alfamart Didit Setiadi, baru 35 persen dari sekitar 1.500 toko yang dimiliki masyarakat, baik secara perorangan, koperasi, maupun yayasan.

Kepemilikan toko oleh masyarakat dalam bentuk waralaba dan pengusahaan lokal itu dilakukan secara mitra manajemen. "Alfamart bertindak sebagai jaringan distribusi retail sehingga seluruh pasokan barang akan disediakan oleh Alfamart," kata Didit di Kota Bandung, Kamis (5/10).

Sementara itu, ujar Deny Liaw, Kepala Cabang Alfamart Bandung, pertumbuhan kepemilikan toko oleh masyarakat di Jawa Barat sangat besar, mencapai 45 persen dari 136 toko yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Menurut Deny, kepemilikan toko Alfamart secara bisnis cukup menguntungkan. Sebab, hanya dengan investasi Rp 400 juta-Rp 500 juta, pengusaha sudah bisa membeli toko Alfamart.

Adapun pengusaha yang sudah mempunyai lahan dan toko sendiri bisa berinvestasi Rp 150 juta-Rp 200 juta serta membayar biaya waralaba sebesar Rp 45 juta selama lima tahun. Tahun ini, kata Deny, pertumbuhan toko Alfamart mencapai 15 persen, yaitu berkembang menjadi 1.500 toko. (THT)

Kompas, Jumat, 06 Oktober 2006
Read more...

Soegito: Dari Kontraktor ke Waralaba Bakso

Tuesday, August 29, 2006

Oleh: Emilius Caesar Alexey

Kehebatan seorang pengusaha bukan terlihat saat dia mencapai puncak, melainkan saat dia bangkit setelah terpuruk.
Kata-kata itu meluncur dari mulut Soegito, pemilik restoran bakso Gito-Goti, usaha waralaba makanan lokal pertama di Pulau Bangka—usaha yang dimulai dari gerobak bakso keliling pada tahun 2002.

Jiwa wirausaha Soegito sudah muncul sejak dia masih bersekolah di sebuah SMEA di Madiun, Jawa Timur, pada akhir tahun 1970-an. Ia menyebutkan pengalaman para pemuda keturunan Tionghoa yang memberinya kesadaran bahwa dia hanya bisa sukses dan kaya jika memiliki usaha sendiri.

Itu yang membuatnya menolak tawaran seorang saudaranya untuk bekerja di PLN ketika dia lulus sekolah menengah. Orangtuanya marah karena penolakan itu. Sebaliknya, Soegito justru pergi ke Jakarta sebagai ungkapan protesnya.
"Saya masih muda dan merasa mampu melakukan segalanya. Namun, sesampainya di Jakarta saya justru menjadi gelandangan karena tidak memiliki keterampilan dan modal," tuturnya.

Beruntung Soegito bertemu dengan sepupunya yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Melalui koneksi saudaranya itu, dia bekerja di bagian logistik di sebuah kontraktor dengan gaji Rp 75.000 per bulan. Tidak puas dengan gaji yang dirasanya kecil, Soegito keluar dan membuka usaha penjualan bensin di tepi jalan. Lagi-lagi dia tidak puas karena penghasilan yang kecil.

Jiwa tidak mudah puas dan keinginan untuk mencoba pengalaman baru membuat Soegito menerima tawaran sepupunya untuk pindah ke Palembang pada tahun 1981. Kebetulan sang sepupu juga dipindahkan ke Sumatera Selatan untuk merintis proyek pembukaan lahan pasang surut.

Di Palembang, Soegito muda kembali dititipkan di salah satu kontraktor. Meskipun pendidikannya berlatar ekonomi, Soegito meminta diizinkan untuk belajar dan bekerja di bidang teknik terapan di lapangan.
Di situlah dia banyak belajar dan membuktikan kemampuannya. Namanya menjadi terkenal di dunia kontraktor dan Soegito diperebutkan oleh banyak perusahaan.

Pada awal tahun 1990-an, ketika sukses di dunia kontraktor, Soegito mulai kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi swasta di Palembang dan membuka perusahaan kontraktor sendiri. Soegito pun mulai mengurusi banyak proyek sebagai subkontraktor.
"Saat itu saya merupakan bujangan kaya dengan masa depan cerah. Bukan hanya perusahaan, saya juga memiliki tanah, rumah besar, dan tongkang," tutur Soegito. Ia kemudian menikah dan memiliki tujuh anak.

Hanya saja, krisis perekonomian di akhir tahun 1997 membawa dampak pada usahanya. Usahanya bangkrut dan dia kehilangan segala-galanya.
Sempat empat bulan menganggur, Soegito memberanikan diri untuk membuka usaha bakso di Jalan Radial, Palembang. Usaha bakso itu dibuka setelah melakukan "riset" atas bakso- bakso yang enak di Palembang.

Hasil riset itu berbuah. Para pengunjung berdatangan silih berganti sehingga omzet penjualan mencapai puluhan juta rupiah per bulan hanya dalam waktu tiga bulan sejak dibuka. Pada bulan keempat, Soegito sudah membuka cabang pertama. Cabang kedua dan ketiganya dibuka dalam tujuh bulan berikutnya.

Hanya saja, pasang surut harus dia alami. Usahanya menurun, sampai tahun 2001 ia memutuskan bahwa usahanya harus direlokasi kalau ingin bertahan hidup.
"Saya memiliki tujuh anak yang harus dihidupi dan disekolahkan. Jika keuntungan saya kecil, saya khawatir anak-anak tidak akan mempunyai biaya yang cukup untuk pendidikan," ungkapnya.

Atas usul seorang kawan dan setelah berunding dengan istrinya, Soegito bertekad memulai usaha baru di Pulau Bangka. Kebetulan pada awal tahun 2002 Bangka Belitung mulai menjadi provinsi baru.

Mendorong gerobak
Ia memulai usahanya di Sungai Liat, ibu kota Kabupaten Bangka. Semula dia menumpang di rumah paman istrinya sambil mencari-cari lahan untuk berjualan. Namun, Soegito tidak menemukan lahan yang strategis. Akhirnya, Soegito memutuskan berjualan bakso secara keliling dengan gerobak. Gerobaknya dibuat sendiri, bakso dan bakminya juga disiapkan dengan bahan-bahan paling baik.

"Hati saya masih berdesir jika ingat langkah pertama keluar dari rumah paman dengan mendorong gerobak. Saya adalah mantan orang kaya yang mencoba bangkit dengan gerobak bakso," ungkapnya.

Setelah lima bulan berjualan keliling, pelanggannya mulai banyak dan omzetnya mencapai Rp 600.000 per hari. Soegito pun mulai memberanikan diri membuka warung pertamanya di Sungai Liat, yang diberi nama Gito-Goti.

Soegito lalu membuka restoran pertamanya di Pangkal Pinang. Larisnya restoran di Pangkal Pinang itu membuat warung bakso di Sungai Liat dia ubah menjadi restoran.
Lima cabang restoran atau warung bakso juga dibuka di beberapa lokasi lainnya. Namun, beberapa di antaranya ditutup kembali karena kurang menguntungkan.

Masih belum puas dengan cabang-cabang usaha baksonya, Soegito berusaha menciptakan sistem waralaba untuk restorannya. Sistem itu menguntungkan karena dia tidak perlu mengeluarkan modal, tetapi dapat menikmati bagi hasil keuntungan.

Soegito menetapkan standar perizinan dan manajemen waralaba yang ketat. Seorang pengusaha lain sedang berminat atas waralaba bakso Gito-Goti sehingga ini akan menjadi restoran waralaba bakso lokal yang pertama di Pulau Bangka.

Kompas, Selasa, 29 Agustus 2006
Read more...

Waralaba: Semua karena Nama

Monday, August 14, 2006

Nama besar adalah aset. Ia punya nilai jual yang bahkan bisa mencapai miliaran dolar. Tanpa harus mengeja nama McDonald’s, seorang anak kecil bisa mengenali logo restoran dari kejauhan berkat golden arc-nya.

Alhasil, tahun lalu, dengan 31.888 gerai di seluruh dunia, perusahaan itu menuai pendapatan bersih US$20,45 miliar (Rp204,5 triliun) atau nyaris sepersepuluh PDB Indonesia. Berikut sejumlah fakta menarik seputar waralaba di Indonesia.

Waralaba Asing Pertama yang Ekspansi ke Indonesia
Jika merunut sejarah, waralaba asing pertama yang hadir di Indonesia adalah Bobo, sebuah majalah anak-anak milik Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Majalah yang mengambil ikon kelinci bergigi tonggos ini sejatinya berasal dari Belanda. Bobo edisi bahasa Indonesia mulai terbit pada 1972.

Untuk industri makanan, Kentucky Fried Chicken (KFC) adalah waralaba asing pertama yang menjejakkan kakinya di Indonesia. Pemegang hak waralaba tunggal, PT Fastfood Indonesia Tbk., milik kelompok usaha Gelael, membuka restoran KFC pertama di Jl. Melawai, Jakarta Selatan, pada Oktober 1979. Pertumbuhan gerai KFC terakselerasi pasca-krisis ekonomi 1998. Dalam setahun, restoran ayam goreng yang dirintis Kolonel Sanders ini bisa menelurkan 10 sampai 15 gerai. Kini, restoran siap saji ini memiliki 245 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk sejumlah konter ekspres.

Waralaba Termurah
Sejumlah nama baru pewaralaba menetapkan besaran investasi yang relatif miring. Tujuannya untuk menggaet sebanyak mungkin terwaralaba dalam waktu singkat. Sebut nama Edam Burger, Mr. Burger, atau Lucky Crepes. Tiga waralaba makanan siap saji itu mematok biaya awal Rp1—5 juta saja. Itu sudah termasuk konter, perlengkapan memasak, dan pelatihan pegawai.

Selain itu, ada juga perusahaan sekelas Campina Ice Cream yang turut melebarkan sayap dengan sistem waralaba murah meriah. Dengan hanya Rp3 juta, sudah termasuk uang jaminan dan peralatan seperti sewa freezer dan etalase, terwaralaba bisa membuka Campina Scoop Counter.

Waralaba Termahal
Kalau yang lain banting-bantingan harga, kelompok Es Teler 77 sebaliknya. Tahun lalu mereka memperkenalkan Peaches Tea House yang nilai investasinya lumayan mahal, mencapai Rp2 miliar.

Waralaba Gerai Terbanyak
Nama Edam Burger memang masih dipandang sebelah mata. Namun, edannya, ia mampu menjungkalkan jagat waralaba. Saat ini, sekitar 2.000 konter Edam Burger dikelola dengan sistem waralaba. Edam mampu mengalahkan jaringan ritel Indomaret yang hanya memiliki 671 gerai waralaba, dari keseluruhan 1.401 toko. Sementara itu, master franchise McDonald’s Indonesia memiliki 108 restoran di seluruh Nusantara.

Edam Burger, yang dirintis Made Ngurah Bagiana, bermula dari gerobak kayu yang dikayuhnya sendiri pada 1990. Tiga tahun kemudian, usaha kemitraannya berkembang menjadi 300 gerobak kayu yang menjual burger, hotdog, dan pizza. Tak bisa dimungkiri, kemitraan dengan Kemfoods milik Bob Sadino dan Bogasari mendongkrak kepercayaan masyarakat untuk menjadi mitra.

Seluruh daging olahan diambil dari Kemfoods, sementara terigu untuk membuat roti dari Bogasari. Selain memiliki 2.000 konter waralaba yang tersebar di sejumlah kota besar, Made juga memiliki 12 pabrik roti. Untuk calon terwaralaba, Edam Burger memberi lima opsi franchise fee dengan harga terjangkau, mulai Rp1 juta hingga Rp3 juta, tergantung bentuk konter.

Pemilik Waralaba Paling Fenomenal
Semula, nama Johnny Andrean identik dengan bisnis kecantikan. Ia punya salon, sekolah tata rambut dan make-up, serta rangkaian produk perawatan rambut. Semua bermerek Johnny Andrean. Kini, di Indonesia ada lebih dari 200 gerai Salon Johnny Andrean.

Akan tetapi, kini nama Johnny justru melekat di industri bakery. Dalam kurun waktu tiga tahun, PT Talkindo Selaksa Anugerah, anak usaha Johnny Andrean Group yang mengelola waralaba bakery BreadTalk, sudah memiliki 19 gerai. Lelaki itu berhasil menciptakan fenomena tersendiri. Waralaba bakery asal Singapura itu menabrak sejumlah pakem, seperti sistem open kitchen dan menempatkan kasir di depan. Jadi, mau tak mau, konsumen yang akan membayar mengular di depan gerai.

Meski belum melaksanakan sistem waralaba, J.Co Donuts and Coffee kembali mengulang fenomena BreadTalk. Pengunjung rela antre demi mendapatkan sepotong donat dan secangkir kopi. Baru satu tahun berdiri, J.Co sudah memiliki 11 gerai. Tahun depan, mereka akan ekspansi ke Singapura, negeri asal “kakak kandung”-nya, BreadTalk.

Sumber: wartaekonomi.com Read more...

Bisnis Waralaba: Tujuh Jurus Sukses: The Untold Story

Persaingan kian sengit. Wajah bisnis kian tak ramah. Maka, kendati Anda membeli suatu waralaba, yang mengklaim sistemnya siap pakai, kalau mau sukses, jangan terlena dan cuma duduk ongkang-ongkang. Ikuti pengalaman terwaralaba yang sukses.

Lina, seorang pelanggan salon waralaba, tampak kesal. Kunjungan pertama ke salon yang menurut brosurnya mengutamakan layanan berkualitas profesional ini sungguh mengecewakan. Sebab, tak hanya proses pemijatan di kepala yang terasa terlalu keras dan cepat selesai, malah bajunya pun basah kena air saat rambutnya dicuci. Dalam hati ia mengumpati pegawai yang tidak profesional, seperti pria yang tadi melayaninya itu.

Lina tak sendirian. Pakar waralaba Amir Karamoy pun mengaku menerima banyak keluhan dari para pembeli waralaba (terwaralaba) salon soal kualitas SDM-nya. Padahal, mereka telah mengikuti pelatihan dari pewaralaba. “Merekrut SDM untuk salon memang tak mudah,” ungkap Amir. Itu sebabnya, lanjut dia, para calon terwaralaba mesti menyiapkan diri menghadapi hal-hal yang tak terduga.

Selain itu, untuk sukses berbisnis waralaba, terwaralaba sebaiknya jangan hanya ikut aturan yang dibuat pewaralaba. Persaingan kian sengit. Rumus standar tak lagi memadai jika terwaralaba ingin sukses. Mereka harus mau melakukan upaya ekstra. Apa saja? Sejumlah terwaralaba—Riza Rosalina, Jemmy, Baron Respati, Wingky W. Kushadi, Asep Gosiman, dan Lukman Hakim—ternyata mau berbagi kiat suksesnya.

1. Jangan Takut Keluar dari Aturan Baku Sistem yang baku
Itulah yang biasa ditawarkan para pewaralaba kepada para pembelinya. Namun, ada baiknya terwaralaba mencoba untuk berkreasi. Inilah yang dilakukan Riza Rosalina, yang membeli waralaba Sanggar Kreativitas Bobo (SKB) dari Grup Gramedia, tahun 2000 lalu. Dalam paket itu, SKB menyajikan metode pengajaran yang terlalu konvensional.

Merasa kurang sreg, dokter gigi ini pun melakukan modifikasi. Ia menerapkan metode active learning. Kebetulan, seorang kawannya sukses menerapkan metode ini di lembaga pendidikan yang dikelolanya. Agar metodenya berjalan baik, Riza pun bersikeras memakai ruangan yang lebih luas, melebihi yang diatur dalam perjanjian waralaba.

Pengalaman pribadi Riza, 43, juga mendukung perlunya modifikasi. Anaknya kebetulan bersekolah di sebuah sekolah swasta di Cibubur yang menerapkan metode active learning.
Sebelum menerapkan metode itu, Riza membuka banyak buku psikologi tentang anak. Ia juga rajin ikut seminar yang membahas soal kepribadian anak. “Saya tak ingin sekadar menjalankan bisnis. Saya harus tahu perkembangan setiap anak didik,” ujar ibu dua anak ini.

Riza boleh bersyukur. Kini, hampir semua dari 17 SKB-nya menerapkan metode active learning, termasuk yang ada di Jl. Pondok Betung Raya No. 48, Bintaro, Tangerang. Patut dicatat, Riza menjadi satu-satunya pembeli waralaba SKB angkatan pertama yang sukses. Dua lainnya keburu gulung tikar.

2. Siapkan Dana Ekstra untuk Promosi
Promosi, entah berupa spanduk, umbul-umbul, baliho, brosur, buletin, atau iklan radio, biasanya sudah diatur dalam perjanjian. Begitu juga besarnya anggaran. Namun, Jemmy tak mau ikut aturan itu. Pembeli waralaba Bread Story ini bersikeras mengeluarkan dana ekstra untuk promosi. Alasannya, ini gerai pertama. Jadi, pasti butuh usaha ekstra untuk menarik perhatian pengunjung. Dan, untuk itu, Jemmy tak mau melulu mengandalkan promosi dari pewaralaba.

Lalu, apa bentuk promosi yang digelar pria yang berdomisili di Surabaya ini? Ia membuat pertunjukan musik dan bahkan badut untuk pembukaan gerai pertamanya di Malang Town Square. Dampaknya cukup menggembirakan. Sebagai pembeli pertama waralaba Bread Story, ia berhasil mencapai break-even point (BEP) sesuai yang dijanjikan pewaralaba.
Sukses itu membuatnya tancap gas. Ia langsung membuka gerai kedua di Plaza Marina, Surabaya, dan tahun ini berharap bisa membuka tiga gerai Bread Story lagi di Surabaya.

Dana ekstra untuk promosi juga dikeluarkan Wingky Waluyo Kushadi, pembeli waralaba kursus pendidikan Primagama. Untuk menarik minat siswa ke lembaga kursusnya, ia memberikan kupon undian kepada mereka yang membayar tunai di muka. Kupon itu diundi pada akhir tahun. Hadiahnya: sepeda motor dan komputer.

Dana promosi juga ia cadangkan untuk memberikan garansi uang kembali 80% jika murid Primagama tidak lulus ujian akhir nasional. Ada catatan di sini, sang murid ini punya angka kehadiran 80% di kelas. “Kami mulai menerapkannya tahun 2004,” ungkap Wingky. Itu berarti setahun sesudah ia membeli waralaba Primagama.

3. Bagaimanapun, Anda Harus Melihat Lokasi Sendiri
Pewaralaba biasanya yang menetapkan kriteria lokasi gerai waralaba. Pembeli tinggal duduk manis. Namun, pengalaman berbeda dialami Lukman Hakim, pembeli waralaba Indomaret. Saat ditawari suatu lokasi oleh Indomaret, ia tak langsung setuju. Lukman ikut mondar-mandir meninjau lokasi sampai hatinya merasa sreg. Hasilnya memuaskan. Gerai itu mencapai BEP hanya dalam waktu 24 bulan. Padahal, Indomaret saja mematok 43 bulan. Kini, Lukman sukses mengelola empat gerai Indomaret.

Survei lokasi sendiri juga dilakukan Baron Respati. Meski pemilik waralaba Kafe O La La telah memberikan panduan umum untuk memilih lokasi, toh Baron merasa perlu melakukan riset sendiri. Sebab, ia punya tiga kriteria dalam memilih lokasi, yaitu lalu lintas pengunjung, tingkat hunian di gedung, serta pengelola gedung. Berkat jitu dalam memilih lokasi, jadilah kini Baron memiliki lima gerai Kafe O La La. Ia sukses. Gerai-gerainya itu ada di Grha SCTV, Gedung Bank Permata, Gajah Mada Plaza, Wisma Mulia, dan Graha Paramita (Kuningan).

Ikut memilih lokasi sendiri juga dilakukan Jemmy. Syaratnya, gerai Bread Story-nya harus menjadi pionir alias belum ada pesaing. Kalau sudah ada, jangan harap ia mau buka gerai di sana.
Wingky Kushadi pun punya kriteria dalam memilih lokasi. Katanya, omzet terbaik jika lokasi gerai dekat dengan ATM bank. Mengapa? “Sebab, tak perlu biaya pemasaran,” kata pria 28 tahun ini sambil terbahak. Saat antrean panjang di ATM, para nasabah jadi akan melihat gerai Primagama di situ. “Jadi numpang beken,” gelaknya, lagi. Berkat pilihan lokasi yang tetap, kini, dari puluhan gerai Primagama milik Wingky, separonya telah BEP.

4. Anda Juga Butuh Dana Ekstra untuk Kesejahteraan Karyawan
Di bisnis waralaba, untuk urusan karyawan, biasanya terwaralaba tinggal merem. Semuanya sudah diatur, mulai dari pelatihan, kualitas, bahkan sampai ke gajinya. Cuma, kalau ingin sukses, Anda mesti menyiapkan dana ekstra untuk urusan SDM ini.

Itulah yang dilakukan Riza Rosalina. Maklum, dalam bisnis pendidikan, seperti SKB miliknya, kualitas SDM—khususnya tenaga pengajar—sangat menentukan. Nah, agar mereka tak tergiur pindah ke “ladang” lain, Riza mesti mengeluarkan dana ekstra untuk uang makan, kesehatan, dan bonus prestasi. Papar Riza, “Uang makan saya berikan jika mereka pulang lebih dari pukul 14.00.” Sementara urusan gaji (uang per sesi pengajaran), transportasi, dan tunjangan hari raya ditentukan oleh pewaralaba.

Cara yang sama dilakukan Wingky. Ia menambah jumlah insentif bagi para kepala cabangnya (pimpinan tertinggi di gerai waralaba Primagama). Sesuai aturan, insentif untuk kepala cabang yang berhasil menarik murid masuk Primagama adalah 1%. Nah, Wingky berinisiatif menambah menjadi 2%.

5. Jangan Abaikan Lingkungan dan Selera Lokal
Peduli dengan selera lokal dilakukan Baron Respati di setiap gerai Kafe O La La-nya. Misalnya, ia sengaja membuat tema dan perlakuan berbeda untuk setiap gerai miliknya. Gerai di Kuningan sengaja ia buat trendi, modern, dan berbau Perancis. Lalu, gerai di Wisma Mulia yang dekat rumah sakit, seluruh tampilan dibuatnya bersih. Ia pun memakai dapur berkonsep open kitchen. Sementara gerai di Bank Permata tampil dengan konsep modern, yang di Gajah Mada Plaza kental nuansa Tionghoa.

Lain lagi cerita Jemmy. Ia memilih secara selektif varian roti di Bread Story dan menyesuaikannya dengan selera lokal. Alasannya, “Antara satu kota dan kota lain, kesukaan masyarakatnya berbeda-beda.”

6. Menjadi Pembeli Pertama Jauh Lebih Baik
Banyak calon investor yang ragu menjadi pembeli pertama sebuah waralaba. Alasannya, sistemnya belum teruji dan banyak trial and error-nya. Namun, Baron Respati justru menentang arus. Ia malah bersemangat jadi pembeli pertama. “Sebab, belum ada pesaing,” celetuknya. Baron menjadi pembeli pertama waralaba Kafe O La La tahun 2000. Keuntungan lainnya, sebagai pembeli pertama, ia mendapat harga khusus.

Saat ini, paket waralaba Kafe O La La ditawarkan dengan harga Rp50 juta oleh pemiliknya. Adapun total investasi yang diperlukan untuk satu gerai mencapai Rp300—500 juta, termasuk franchise fee.

Riza juga menjadi pembeli pertama waralaba SKB dari Grup Gramedia. Apa keuntungannya? Selain memperoleh potongan harga untuk franchise fee, ia pun mendapatkan pengajar terbaik hasil pelatihan dari pemilik waralaba. “Para pengajarnya mereka persiapkan betul,” ungkap Riza, yang masih tetap berpraktek sebagai dokter gigi di daerah Tanah Kusir, Jakarta. Selain itu, banyak hal yang bisa dinegosiasikan secara terbuka dengan pewaralaba. Ini karena mereka pun ingin terwaralabanya sukses.

7. Menyisihkan Waktu Itu Penting
Membeli sebuah waralaba bukan berarti pembelinya tinggal ongkang-ongkang dan semuanya akan berjalan sendiri. Kalau mau sukses, terwaralaba harus mau menyisihkan waktu untuk memantau gerainya. Ini dilakoni terwaralaba Indomaret, Asep Gosiman. Bahkan, Asep mengaku merasa nikmat jika berada di gerainya dan tetap mengawasi pegawainya. Manfaatnya? “Kalau ada yang keliru bisa langsung dibenahi,” katanya, gamblang. Contohnya, melihat pegawainya mahal senyum saat melayani pembeli, Asep bisa langsung menegur.

Lain lagi cerita Wingky. Selama tiga bulan pertama, ia rajin menunggui gerai Primagama-nya. Kini, setelah yakin segalanya berjalan baik, Wingky cukup berkomunikasi dengan para kepala cabangnya.
Kalau Baron, ia memang menyiapkan waktu khusus untuk mengunjungi lima gerainya setiap hari. Ia memantau langsung perkembangan omzetnya, sehingga jika terjadi penurunan ia bisa langsung segera melakukan perbaikan. Selain itu, ungkap Baron, ia jadi lebih cepat tahu keluhan pelanggan.

Jadi, tak ada cara mudah untuk sukses.

Senin, 14 Agustus 2006 12:41 WIB -
wartaekonomi.com
Read more...

Investasi pada Waralaba

Sunday, May 14, 2006

Belakangan ini banyak muncul waralaba (franchise) yang ditawarkan kepada masyarakat. Waralaba yang ditawarkan sangat bervariasi dari skala kecil sampai skala paling besar.

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1997 menyatakan waralaba adalah perikatan di mana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Pemilik waralaba atau HAKI disebut franchisor dan pihak yang menggunakan waralaba disebut franchise. Waralaba dapat dikelompokkan dalam waralaba dari luar negeri dan dari dalam negeri. Masyarakat lebih menyukai waralaba dari luar negeri karena sistem yang lebih jelas, merek yang sudah diterima di berbagai dunia, dan karena masyarakat Indonesia kelihatan lebih menghormati produk luar negeri.

Faktor penyebab seseorang membeli waralaba adalah ingin cepat menjadi pengusaha dan pengetahuan sederhana yang dimiliki waralaba untuk selanjutnya dapat belajar dari profesional.
Dalam bisnis waralaba, investor harus membayar dua ongkos, yaitu ongkos awal (initial fee) dan ongkos royalti. Biaya awal harus dilakukan investor untuk memulai usaha.


Besarnya tergantung skala bisnis yang diwaralabakan, dapat dimulai dari Rp 10 juta sampai dengan Rp 1 miliar. Biaya ini merupakan pengeluaran yang dilakukan franchisor untuk membuat tempat usaha agar sesuai spesifikasi franchisor dan ongkos sebagai penggunaan HAKI. Dalam pembukuan investor, ongkos awal ini dapat disusutkan selama periode HAKI yang dipergunakan.

Ongkos royalti dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Tetapi, umumnya biaya ini merupakan persentase dari pendapatan kotor sebesar 5-15 persen. Berdasarkan tinjauan ke beberapa waralaba, nilai biaya royalti yang sangat layak sekitar 10 persen dan tidak bisa lebih. Bila harus membayar lebih dari 10 persen, biaya tersebut merupakan biaya pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

Bila ingin berusaha waralaba, mental harus diubah dari kebiasaan sehari-hari dilayani menjadi pelayan bagi pihak lain. Walaupun staf sudah mendapat pelatihan, mereka umumnya melihat pemilik sebagai patron dan pelanggan ingin melakukan hubungan dengan pemilik.
Pemasaran perlu dilakukan pemegang waralaba. Pengendalian sehari-hari harus dilakukan agar usaha berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tindakan seperti ini sangat dibutuhkan untuk waralaba yang kecil investasinya.

Situasi agak berbeda pada waralaba yang investasi awalnya cukup besar, misalkan sekitar Rp 1 miliar. Waralaba ini sudah punya sistem yang sangat bagus dan investor tidak perlu banyak berkecimpung dalam waralaba tersebut. Investor dapat menggaji profesional, hanya menerima laporan, dan mengendalikan usaha sekali dua minggu atau sekali sebulan.

Waralaba ini sangat cocok sekali untuk mereka yang memiliki dana besar dan tidak tahu ingin berinvestasi apa. Hasil kecil waralaba tidak menjadi persoalan karena investor punya investasi di bidang lain dan investasi pada waralaba hanya untuk investasi serta keinginan menjadi pengusaha.

Tingkat pengembalian
Dalam memilih waralaba, margin keuntungan yang normal sesuai industri atau lebih kecil dari industrinya dan harus memberi minimum tingkat pengembalian 15 persen. Bila hanya memberi pengembalian 10 persen, lebih baik investasi pada instrumen keuangan yang aman dengan tingkat pengembalian 10 persen, yaitu obligasi pemerintah.

Artinya, investor harus mendapat premium bila melakukan investasi pada industri yang berisiko. Risiko premium tersebut minimum sekitar 5 persen dan jumlah itu sudah paling minimum.

Waralaba yang sangat menguntungkan dan berkembang kelihatannya masih sektor makanan. Tetapi, investor juga harus hati-hati karena terlalu bebasnya pemilik waralaba dapat merugikan investor. Investasi pada waralaba industri pendidikan juga sangat layak, terutama pendidikan taman bermain atau taman kanak-kanak.

Aspek legal perlu diperhatikan agar tidak merasa kecewa ketika menjalankan waralaba. Perjanjian perlu diteliti kata demi kata dan lebih baik menggunakan kantor hukum yang mempunyai keahlian dalam bidang waralaba. Kontrak sebaiknya memberi keuntungan bagi kedua pihak (win-win solution). Kontrak harus memuat jelas kewajiban pemilik waralaba dan periode waralaba. Kewajiban pengguna waralaba juga harus dituliskan dalam kontrak.

Risiko investor adalah ketidakpastian karena franchisor tidak menepati janji. Risiko permintaan yang tak sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya akibat kesalahan strategi. Tidak dapat cepat beradaptasi dengan bisnis waralaba juga menjadi risiko karena menurut pendapat investor sudah baik, tetapi menurut pelanggan belum.

Karena itu, investor harus melakukan penelitian mendalam waralaba tersebut. Investor dapat menyewa konsultan untuk mendapat waralaba yang diinginkan agar sesuai keinginan dan risikonya minimum. Kehati-hatian sangat diperlukan, selamat berinvestasi dan berusaha.

Kompas, Minggu, 14 Mei 2006
Adler Haymans Manurung
Read more...

Ardi Joanda, Sudah Dipuncak, Coba Taklukkan Gunung Lain

Tuesday, February 21, 2006

KETIKA Anda sudah berada di puncak gunung, apalagi yang akan Anda lakukan? "Saya akan menaklukkan gunung lainnya," kata Ardi Joanda (36), mantan Chief Executive Officer (CEO) perusahaan furnitur terkenal, Da Vinci.

Bagi Ardi, ia harus turun gunung dan kemudian mendaki gunung lain untuk kemudian ditakhlukkannya.

Mengacu pada filosofi inilah, Ardi yang memulai kariernya di Da Vinci tahun 1994 dan kemudian meraih posisi CEO tahun 2001-2005, memutuskan untuk keluar dari Da Vinci dan kemudian beralih menjadi wirausaha. Padahal, Da Vinci tumbuh menjadi perusahaan furniture terkenal di Indonesia.

Apa yang mendorong Ardi melepaskan posisi CEO Da Vinci di saat perusahaan yang ikut dirintisnya sejak masih kecil itu berkibar? "Tidak semua orang berani pensiun dini. Yang jelas, saya ingin mengubah hidup saya.

Mengubah kuadran
The power of entrepreneur, kekuatan menjadi wirausaha," kata Ardi Joanda mantap. Menjadi CEO sekalipun, kata Ardi, dia tidak bisa memberikan sesuatu kepada anak cucunya kelak. Ardi memilih berjualan snow ice, es krim salju yang healthy. Pria lajang ini pemilik lisensi waralaba Charmy Snow Ice di Indonesia.

Perusahaan induk Charmy didirikan di Taiwan tahun 1979 dan baru dua tahun terakhir ini go international. Mengapa pilihannya es krim? Ardi kemudian bercerita, ketika masih kuliah di Selandia Baru. Saat liburan di Auckland, ada konser. Ada tawaran menjual es krim. "Saya iseng-iseng mendaftar.

Saya dikasih satu meja, topi, dan modal awal 12 es krim. Saya menjual pukul 16.00-20.00, dan selama empat jam saya berhasil memperoleh 480 dollar NZ. Padahal bekerja di McD hanya digaji 8-9 dollar NZ per jam," cerita Ardi dalam percakapan dengan Kompas di Semarang, Sabtu (11/2) pekan lalu.

Sejak itu Ardi yang mengenyam pendidikan SD dan SMP di Pontianak itu meyakini dirinya punya bakat berbisnis. Selepas lulus dari Victoria University of Wellington tahun 1993, lelaki kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 15 Januari 1970 yang mengambil studi commercial administration itu bekerja di Da Vinci, perusahaan furnitur milik Tony Phua, pebisnis Singapura.

Ardi membantu Da Vinci buka sejak dari nol, ketika toko pertama di Duta Merlin Blok D No 1 Jakarta, kemudian buka showroom di Tanah Abang 2 dan Jalan Fatmawati Jakarta, hingga mampu memiliki gedung jangkung Da Vinci di lokasi strategis di Jalan Sudirman.

Mengapa Da Vinci bisa berkibar dalam waktu sepuluh tahun? Putra seorang penjual makanan kering di pasar tradisional di Pontianak ini mengungkapkan, tiga tahun setelah ia bergabung dengan Da Vinci, terjadi krisis ekonomi. "Di satu sisi, krisis ekonomi membuat banyak bisnis ambruk. Tapi di sisi lain, banyak orang kaya mendadak karena punya tabungan dalam dollar AS. Mereka tak tahu untuk apa uangnya," kata alumnus SMA Santo Yosef Jakarta itu.

Momen itulah yang dimanfaatkan Da Vinci, yang menggelar pameran tunggal sejak tahun 1997 hingga 2003 di berbagai kota. "Yang membuat Da Vinci besar adalah pameran. Kami bekerja sama dengan pabrik mebel dari Italia.
Memang banyak yang bertanya-tanya, bagaimana Da Vinci bisa mengambil satu hall besar seluas 4.000 m2 sampai 6.000 m2 sendirian?" cerita Ardi lagi. Setelah keluar dari Da Vinci, Ardi mencari peluang bisnis baru.


Suatu hari ia bersama adik angkatnya Lawrence ke Taiwan, dan mencicipi es krim Charmy. "Hmm, es krim ini sungguh enak dan bisa mendatangkan uang. Produk ini unik karena teksturnya tipis. Ini produk yang sehat dengan kolestrol rendah. Tidak menggunakan tepung kanji sehingga kandungan karbohidratnya rendah. Unsur gulanya tidak setinggi di Indonesia. Taiwan sangat concern pada healthy food," kata Ardi. "Dengan Charmy, saya ingin menegaskan, tidak perlu merasa bersalah jika makan es krim," kata Ardi yang kini memiliki delapan waralaba, termasuk di Kota Semarang.

Dalam waktu dekat, Ardi yang menggandeng mitra bisnisnya di Jawa Tengah, David dan Ivan Setiawan, akan membuka cabang baru di Solo dan Yogyakarta. Ardi berpendapat, membuka waralaba Charmy saat ini harus di mal. Karena itulah, Charmy buka di jembatan penghubung Plasa Simpang Lima.

"Kami tak sengaja bertemu dengan Pak Yutata, pemilik Plasa Simpang Lima, dan mendapatkan lokasi dengan view bagus," jelasnya. Bagi Ardi, sukses ditentukan tiga elemen.

Pertama, smart , dan ini selalu bisa di-upgrade, baca buku, ngobrol dengan orang lain karena learning is never ending process.
Kedua, kerja keras dan ini sangat penting.
Ketiga, luck disertai kesempatan dan kemauan. Bobotnya ketiganya sama.

Sedangkan hoki bisa diperbaiki dengan berbuat baik dan minta kepada Tuhan. Ia juga mengingatkan perlu selalu positive thinking disertai aura percaya diri dan selalu optimistis. (robert adhi ksp)

Sumber: Kompas Read more...

Alfa Express, Adik Kandung Alfamart

Thursday, January 12, 2006

Oleh : Eva Martha Rahayu/S. Ruslina

Tampaknya kegelisahan tengah menggayuti pikiran Djoko Susanto, Komisaris PT Alfa Retailindo Tbk. Dia memikirkan bagaimana nasib Alfa Retailindo - perusahaan yang dibesarkannya sejak dari bayi - pasca kepemilikan Philip Morris International (PMI).

Sebagai pemegang 70% saham PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), Djoko khawatir investor baru itu tidak memiliki pengalaman mengelola bisnis ritel, sementara dirinya juga tidak tahu, akan terus bertahan di sana atau tidak.

Itu sebabnya, baru-baru ini Djoko membuat sekoci minimarket baru yang dinamakan Alfa Express (Alex). Tujuannya jelas, jika pihak PMI mau benar-benar melepas kepemilikan sahamnya di perusahaan pengelola jaringan Alfamart, Djoko dkk. siap meleburkan Alfamart dengan Alex. Sebaliknya jika tidak, terpaksa Alex bertahan dan bersaing langsung dengan saudara kandungnya, Alfamart. Asal tahu saja, selain sebagai pendiri dan pengelola Alfamart, Djoko juga masih memegang 30% saham Alfamart melalui bendera PT Sigmantara Alfindo (SA).

Alex didirikan Djoko bersama lima orang rekannya di bawah payung PT Kencana Disindo (KD) tahun 2005. Minimarket yang sudah beroperasi lima bulan itu kini memiliki 65 gerai yang tersebar di Jabodetabek. “Waktu itu kami menunggu dua bulan nasib pengelolaan Alfamart akan dibawa ke mana pasca masuknya manajemen PMI per Maret 2005. Tapi, kok nggak ada kabar juga, sehingga kami berenam berinisiatif mendirikan Alex,” Djoko menjelaskan mengenai latar belakang peluncuran Alex.


Dalam perkembangannya, performa Alex diklaim Djoko tidak jelek-jelek amat. “Rata-rata omset satu oulet Alex menyamai Alfamart sekitar Rp 200 juta per bulan,” ujar Djoko. Wajar saja lantaran nilai investasi yang dibutuhkan untuk mendirikan Alex juga besar. Meski Djoko enggan memaparkan berapa riil investasinya, sebagai gambaran ia mencontohkan di satu gerai harus mempekerjakan 8-10 orang dengan displai barang dan toko mirip Alfamart. Lagi pula, 65 gerai itu milik KD, karena belum diwaralabakan sebagaimana Alfamart.

Kendati manajemen SAT dan KD terpisah, suplai produk Alex dibantu pengelola Alfamart dengan cara membayar distribution fee. “Distribusi barang-barang Alex tidak masalah. Sebab SAT menggunakan sistem operator independen (franchisee) yang memberlakukan biaya distribusi ke semua pelanggan, termasuk Alex,” Djoko menguraikan.

Toh, kehadiran Alex diakui Djoko hanya bersifat sementara, sembari menunggu keputusan resmi PMI. Bila melihat gelagatnya, sepak terjang bisnis PMI sudah makin jelas arahnya menyatakan bahwa mereka tidak bergerak di bidang ritel dan hanya akan konsentrasi di industri rokok. Di antaranya mengelola perusahaan distribusi Panamas yang dulu sempat dipimpin Djoko. Ia mengatakan, ”Kehadiran Alex untuk mengantisipasi kalau ternyata PMI meminta pengelola Alfamart mundur,” pria 54 tahun ini menuturkan.

Untunglah hingga kini manajemen PMI tidak melakukan intervensi jauh terhadap pengelolaan Alfamart. Bahkan pada Oktober 2005 masih sempat menginjeksi modal Rp 20 miliar untuk kegiatan operasional 1.200 gerai Alfamart hingga akhir 2005. Pendeknya, semua masih dikelola oleh manajemen lama. “Paling tidak mereka kirim tim audit untuk me-review laporan keuangan Alfamart,” tambah ayah lima anak itu.

Komitmen PMI untuk fokus di bisnis rokok bukan isapan jempol. Selain Alfamart, rupanya PMI juga hendak menjual kepemilikan sahamnya di PT Alfa Retailindo Tbk. (AR), pengelola jaringan Alfa Supermarket. Alasannya, PMI merasa tidak kompeten di bidang ritel. PT HM Sampoerna, yang notabene dimiliki PMI, menguasai 23,4% saham di AR. Sementara SA merupakan pemegang saham mayoritas AR, yakni 56% dan publik memiliki 20%.

Masalahnya setelah 9 bulan berjalan, PMI belum memberikan titik terang berapa harga saham Alfamart dan Alfa Supermarket dilepas. Ia berharap harganya masih terbilang wajar. Artinya, harga itu dibanderol tidak jauh dari nilai buku (book value) PMI di SAT sebesar Rp 480 miliar. Adapun total aset SAT sekitar Rp 850 miliar. Namun yang jelas, AR memiliki kekuatan dalam hal kepemilikan hak paten atas Alfamart. Artinya, baik langsung maupun tak langsung, PMI tidak boleh memiliki SAT yang secara legal bergerak di bidang ritel.

Bagi Sugianto Wibawa, munculnya Alex sebagai strategi Djoko mengantisipasi keputusan yang bakal ditetaskan PMI di tubuh SAT. Ibaratnya langkah Djoko dkk. itu sedia payung sebelum hujan. Menurutnya kalau sampai Djoko harus meninggalkan Alfamart yang telah dibangunnya dari nol, mau tidak mau ia menyiapkan sekoci baru.

Prospek Alex di tangan Djoko dkk., menurut prediksi Sugianto bakal moncer. Tak bisa dipungkiri Djoko sudah terbukti bertangan dingin membesarkan Alfamart dan Alfa Supermarket. Lagi pula, PMI cukup sulit melanjutkan Alfamart. Mengapa? “Karena PMI adalah PMA yang terkena aturan tidak boleh mengelola ritel dengan luas area di bawah 500 m2. Sebab akan mematikan perusahaan-perusahaan skala menengah-kecil,” ujar pengamat ritel dari Aprindo itu.


Sumber: SWA
Read more...

Cuci dan Salon Mobil, Tadinya Hanya Low Level

Thursday, January 5, 2006

Pertumbuhan jumlah kendaraan yang terus meningkat ikut mengerek pasar cuci dan salon mobil. Iklim negeri kita yang kurang bagus buat kendaraan, menambah potensi pasar ini semakin besar. Bagaimana industri ini bisa berkembang?

Bukan hanya pakaian yang selalu menjadi lambang kepribadian seseorang. Kini, kendaraan pun menjadi cermin kepribadian pemakainya. Apalagi kalau bicara harga mobil yang mahal, perawatan kendaraan sudah sepatutnya menjadi perhatian pemiliknya. Tapi, bisnis model begini sempat tidak dilirik banyak orang. Alasannya kurang bergengsi, bisnis low level yang tidak menghasilkan.

Belakangan, bisnis ini punya prospek yang sangat tinggi, bahkan muncul bak cendawan di musim jamur. Iklan-iklan baris di berbagai media cetak juga banyak menawarkan jasa serupa, yakni cuci dan salon mobil. Di berbagai lokasi perparkiran mal pun, banyak area yang disewa untuk salon mobil.

Menurut pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya, Agus W. Suhadi, potensi pasar salon mobil sangat besar karena mengikuti pertumbuhan jumlah kendaraan. Tinggal bagaimana para pemain ini mampu mengkomunikasikan ke pasar, benefit dari salon mobilnya. “Saya tidak punya data pasar, tetapi asumsinya, jika pertumbuhan kendaraan roda empat meningkat, maka kebutuhan akan salon-salon mobil akan mengalami peningkatan pula,” papar Suhadi.

Benarkah demikian? Henry Indraguna, President Director The Auto Bridal Indonesia pun mengakui, potensi pasar salon mobil sangat besar. Terlebih, iklim di Indonesia sangat buruk buat kendaraan. Hujannya mengandung asam yang berlebihan, iklimnya tropis, kultur tanahnya juga masih jorok, sehingga pemilik kendaraan membutuhkan perawatan kendaraan yang prima.

Problemnya, papar Henry, pemilik mobil di Indonesia masih acuh tak acuh alias cuek dengan keadaan mobilnya. Belum lagi, persepsi konsumen terhadap tarif cuci mobil sebesar Rp25 ribu masih dibilang mahal. Padahal, mereka membeli kendaraan tersebut hingga ratusan juta. “Saya lihat banyak sekali mobil di setiap kota itu rusak karena kurangnya pengetahuan dan tempat untuk me-maintain mobil,” ungkapnya.

Inilah tantangan pertama yang dihadapi The Auto Bridal. Persepsi konsumen terhadap salon perawatan kendaraan seharusnya murah, memang tidak salah. Selama ini, lokasi cuci mobil selalu kotor, banyak oli, lumutan, dan tempatnya selalu di belakang. Artinya, konsep cuci mobil di Indonesia belum tertata dengan bagus. Maka, The Auto Bridal mencoba mengeliminir persepsi itu dengan mengedepankan konsep otletnya. Pertama, tempat harus benar-benar concern pada pencucian mobil seperti salon. Kedua, alat atau tool-nya harus sesuai dengan ekspektasi target market, yakni golongan menengah-atas. Ketiga, bahan bakunya menggunakan snow.

Selanjutnya, The Auto Bridal juga mengedepankan kualitas layanan dari SDM mereka. Sebelum diterjunkan, para manpower ini harus disekolahkan dulu. Mereka tidak bisa bekerja di sana jika belum lulus. Setelah itu, mereka dites selama satu bulan. Jika lulus tes ini, barulah dapat sertifikat dan menjalani kontrak kerja selama lima tahun. Jika keluar, mereka tidak diperbolehkan bekerja pada bidang yang sama dan ada pinaltinya, karena mereka disekolahkan secara gratis.

Bisnis cuci mobil dan salon ini mengalami pertumbuhan yang luar biasa sejak didirikan pada Januari 2004. Gerai pertama didirikan di Jalan Setia Budi, Bandung. Rencananya, bulan ke-enam baru akan buka franchise. Tetapi, baru berjalan dua bulan, sudah banyak permintaan. Walhasil, dalam kurun setahun, sudah ada 12 otlet. Bahkan otlet pertama tadi pun dibeli oleh peminat. Praktis, The Auto Bridal tidak punya otlet, seluruhnya franchise. Kini setelah berjalan 18 bulan, jumlahnya mencapai 18 otlet. “Jadi, at least, setiap bulan tambah satu outlet,” paparnya.

Otlet-otlet The Auto Bridal tersebar tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di kota-kota kecil seperti Tuban dan Tegal. Untuk kota-kota kecil, The Auto Bridal membuat paket-paket middle low. Untuk kota besar, seperti Jakarta dan Semarang, targetnya 70% salon dan 30% dicuci. Sedangkan di kota kecil, dibalik, 70% dicuci, sisanya salon.

Boleh jadi, pertumbuhan The Auto Bridal sangat fantastik, mengingat komunikasinya juga sangat intens. Setiap kali pembukaan otlet baru, mereka selalu mengundang bintang iklan Sarah Azhari. Pilihan terhadap Sarah ini lantaran dia sudah dikenal oleh publik dan menjadi icon di sinetron Montir-montir Cantik. “Jadi setiap grand opening, kami selalu mengundang Sarah Azhari dan memintanya mencuci mobil,” papar Henry.

Tidak hanya itu. Setiap pembukaan pun selalu dimunculkan dalam program Auto Blitz di Metro TV setiap Rabu. Promo-promo lain pun banyak dilakukan, termasuk pemberitaan media. “Ini yang membuat The Auto Bridal jadi besar dan punya brand name,” tambahnya.

Meski jasa cuci dan salon mobil banyak ditawarkan di berbagai media cetak lewat iklan baris, Henry mengaku tidak ada kompetitor yang selevel dengan The Auto Bridal. Termasuk salon mobil yang ditawarkan di sejumlah parkir di mal. “So far, sepengetahuan kami, belum ada.”
Tapi sukses The Auto Bridal, kata Henry, kemungkinan dalam waktu dekat akan diikuti oleh pemain lain yang selevel. Ini hukum bisnis yang biasa terjadi. “Saya yakin, sebentar lagi akan banyak (kompetitor), karena orang melirik Auto Bridal sukses. Jadi semua pasti ikut-ikutan. Saya jamin itu,” tandasnya.

Menurut Agus W. Suhadi, keberhasilan salon mobil amat tergantung pada komunikasi soal benefit kepada konsumen. Apalagi, harganya tergolong lumayan tinggi. Di Auto Bridal, tarif untuk salon mobil mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta rupiah. Komunikasi yang intensif, papar Suhadi, menjadi penting, karena customer awalnya cuma cuci.

Suhadi menjelaskan, pelanggan salon mobil ini agak beda karena mereka punya banyak uang. Mereka pastinya ingin mendapat pelayanan yang lebih khusus. “Mereka ingin diservis secara personal sehingga butuh orang-orang khusus pula untuk menjelaskan,” katanya.

Harga, imbuh Suhadi, seberapa pun besarnya—selama bisa di-compete dengan benefit—bisa diterima oleh customer. Benefit harus terlihat dari harga yang dipatok sebesar Rp500.000. Sebab, kalau tidak, orang tidak akan memilih layanan itu dan beralih kepada yang lain.

Kompas, 5 Januari 2006
(Tajwini Jahari & Miranda Hutagalung/Majalah Marketing)
Read more...