Alfa Express, Adik Kandung Alfamart

Thursday, January 12, 2006

Oleh : Eva Martha Rahayu/S. Ruslina

Tampaknya kegelisahan tengah menggayuti pikiran Djoko Susanto, Komisaris PT Alfa Retailindo Tbk. Dia memikirkan bagaimana nasib Alfa Retailindo - perusahaan yang dibesarkannya sejak dari bayi - pasca kepemilikan Philip Morris International (PMI).

Sebagai pemegang 70% saham PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), Djoko khawatir investor baru itu tidak memiliki pengalaman mengelola bisnis ritel, sementara dirinya juga tidak tahu, akan terus bertahan di sana atau tidak.

Itu sebabnya, baru-baru ini Djoko membuat sekoci minimarket baru yang dinamakan Alfa Express (Alex). Tujuannya jelas, jika pihak PMI mau benar-benar melepas kepemilikan sahamnya di perusahaan pengelola jaringan Alfamart, Djoko dkk. siap meleburkan Alfamart dengan Alex. Sebaliknya jika tidak, terpaksa Alex bertahan dan bersaing langsung dengan saudara kandungnya, Alfamart. Asal tahu saja, selain sebagai pendiri dan pengelola Alfamart, Djoko juga masih memegang 30% saham Alfamart melalui bendera PT Sigmantara Alfindo (SA).

Alex didirikan Djoko bersama lima orang rekannya di bawah payung PT Kencana Disindo (KD) tahun 2005. Minimarket yang sudah beroperasi lima bulan itu kini memiliki 65 gerai yang tersebar di Jabodetabek. “Waktu itu kami menunggu dua bulan nasib pengelolaan Alfamart akan dibawa ke mana pasca masuknya manajemen PMI per Maret 2005. Tapi, kok nggak ada kabar juga, sehingga kami berenam berinisiatif mendirikan Alex,” Djoko menjelaskan mengenai latar belakang peluncuran Alex.


Dalam perkembangannya, performa Alex diklaim Djoko tidak jelek-jelek amat. “Rata-rata omset satu oulet Alex menyamai Alfamart sekitar Rp 200 juta per bulan,” ujar Djoko. Wajar saja lantaran nilai investasi yang dibutuhkan untuk mendirikan Alex juga besar. Meski Djoko enggan memaparkan berapa riil investasinya, sebagai gambaran ia mencontohkan di satu gerai harus mempekerjakan 8-10 orang dengan displai barang dan toko mirip Alfamart. Lagi pula, 65 gerai itu milik KD, karena belum diwaralabakan sebagaimana Alfamart.

Kendati manajemen SAT dan KD terpisah, suplai produk Alex dibantu pengelola Alfamart dengan cara membayar distribution fee. “Distribusi barang-barang Alex tidak masalah. Sebab SAT menggunakan sistem operator independen (franchisee) yang memberlakukan biaya distribusi ke semua pelanggan, termasuk Alex,” Djoko menguraikan.

Toh, kehadiran Alex diakui Djoko hanya bersifat sementara, sembari menunggu keputusan resmi PMI. Bila melihat gelagatnya, sepak terjang bisnis PMI sudah makin jelas arahnya menyatakan bahwa mereka tidak bergerak di bidang ritel dan hanya akan konsentrasi di industri rokok. Di antaranya mengelola perusahaan distribusi Panamas yang dulu sempat dipimpin Djoko. Ia mengatakan, ”Kehadiran Alex untuk mengantisipasi kalau ternyata PMI meminta pengelola Alfamart mundur,” pria 54 tahun ini menuturkan.

Untunglah hingga kini manajemen PMI tidak melakukan intervensi jauh terhadap pengelolaan Alfamart. Bahkan pada Oktober 2005 masih sempat menginjeksi modal Rp 20 miliar untuk kegiatan operasional 1.200 gerai Alfamart hingga akhir 2005. Pendeknya, semua masih dikelola oleh manajemen lama. “Paling tidak mereka kirim tim audit untuk me-review laporan keuangan Alfamart,” tambah ayah lima anak itu.

Komitmen PMI untuk fokus di bisnis rokok bukan isapan jempol. Selain Alfamart, rupanya PMI juga hendak menjual kepemilikan sahamnya di PT Alfa Retailindo Tbk. (AR), pengelola jaringan Alfa Supermarket. Alasannya, PMI merasa tidak kompeten di bidang ritel. PT HM Sampoerna, yang notabene dimiliki PMI, menguasai 23,4% saham di AR. Sementara SA merupakan pemegang saham mayoritas AR, yakni 56% dan publik memiliki 20%.

Masalahnya setelah 9 bulan berjalan, PMI belum memberikan titik terang berapa harga saham Alfamart dan Alfa Supermarket dilepas. Ia berharap harganya masih terbilang wajar. Artinya, harga itu dibanderol tidak jauh dari nilai buku (book value) PMI di SAT sebesar Rp 480 miliar. Adapun total aset SAT sekitar Rp 850 miliar. Namun yang jelas, AR memiliki kekuatan dalam hal kepemilikan hak paten atas Alfamart. Artinya, baik langsung maupun tak langsung, PMI tidak boleh memiliki SAT yang secara legal bergerak di bidang ritel.

Bagi Sugianto Wibawa, munculnya Alex sebagai strategi Djoko mengantisipasi keputusan yang bakal ditetaskan PMI di tubuh SAT. Ibaratnya langkah Djoko dkk. itu sedia payung sebelum hujan. Menurutnya kalau sampai Djoko harus meninggalkan Alfamart yang telah dibangunnya dari nol, mau tidak mau ia menyiapkan sekoci baru.

Prospek Alex di tangan Djoko dkk., menurut prediksi Sugianto bakal moncer. Tak bisa dipungkiri Djoko sudah terbukti bertangan dingin membesarkan Alfamart dan Alfa Supermarket. Lagi pula, PMI cukup sulit melanjutkan Alfamart. Mengapa? “Karena PMI adalah PMA yang terkena aturan tidak boleh mengelola ritel dengan luas area di bawah 500 m2. Sebab akan mematikan perusahaan-perusahaan skala menengah-kecil,” ujar pengamat ritel dari Aprindo itu.


Sumber: SWA

0 comments: