Cuci dan Salon Mobil, Tadinya Hanya Low Level

Thursday, January 5, 2006

Pertumbuhan jumlah kendaraan yang terus meningkat ikut mengerek pasar cuci dan salon mobil. Iklim negeri kita yang kurang bagus buat kendaraan, menambah potensi pasar ini semakin besar. Bagaimana industri ini bisa berkembang?

Bukan hanya pakaian yang selalu menjadi lambang kepribadian seseorang. Kini, kendaraan pun menjadi cermin kepribadian pemakainya. Apalagi kalau bicara harga mobil yang mahal, perawatan kendaraan sudah sepatutnya menjadi perhatian pemiliknya. Tapi, bisnis model begini sempat tidak dilirik banyak orang. Alasannya kurang bergengsi, bisnis low level yang tidak menghasilkan.

Belakangan, bisnis ini punya prospek yang sangat tinggi, bahkan muncul bak cendawan di musim jamur. Iklan-iklan baris di berbagai media cetak juga banyak menawarkan jasa serupa, yakni cuci dan salon mobil. Di berbagai lokasi perparkiran mal pun, banyak area yang disewa untuk salon mobil.

Menurut pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya, Agus W. Suhadi, potensi pasar salon mobil sangat besar karena mengikuti pertumbuhan jumlah kendaraan. Tinggal bagaimana para pemain ini mampu mengkomunikasikan ke pasar, benefit dari salon mobilnya. “Saya tidak punya data pasar, tetapi asumsinya, jika pertumbuhan kendaraan roda empat meningkat, maka kebutuhan akan salon-salon mobil akan mengalami peningkatan pula,” papar Suhadi.

Benarkah demikian? Henry Indraguna, President Director The Auto Bridal Indonesia pun mengakui, potensi pasar salon mobil sangat besar. Terlebih, iklim di Indonesia sangat buruk buat kendaraan. Hujannya mengandung asam yang berlebihan, iklimnya tropis, kultur tanahnya juga masih jorok, sehingga pemilik kendaraan membutuhkan perawatan kendaraan yang prima.

Problemnya, papar Henry, pemilik mobil di Indonesia masih acuh tak acuh alias cuek dengan keadaan mobilnya. Belum lagi, persepsi konsumen terhadap tarif cuci mobil sebesar Rp25 ribu masih dibilang mahal. Padahal, mereka membeli kendaraan tersebut hingga ratusan juta. “Saya lihat banyak sekali mobil di setiap kota itu rusak karena kurangnya pengetahuan dan tempat untuk me-maintain mobil,” ungkapnya.

Inilah tantangan pertama yang dihadapi The Auto Bridal. Persepsi konsumen terhadap salon perawatan kendaraan seharusnya murah, memang tidak salah. Selama ini, lokasi cuci mobil selalu kotor, banyak oli, lumutan, dan tempatnya selalu di belakang. Artinya, konsep cuci mobil di Indonesia belum tertata dengan bagus. Maka, The Auto Bridal mencoba mengeliminir persepsi itu dengan mengedepankan konsep otletnya. Pertama, tempat harus benar-benar concern pada pencucian mobil seperti salon. Kedua, alat atau tool-nya harus sesuai dengan ekspektasi target market, yakni golongan menengah-atas. Ketiga, bahan bakunya menggunakan snow.

Selanjutnya, The Auto Bridal juga mengedepankan kualitas layanan dari SDM mereka. Sebelum diterjunkan, para manpower ini harus disekolahkan dulu. Mereka tidak bisa bekerja di sana jika belum lulus. Setelah itu, mereka dites selama satu bulan. Jika lulus tes ini, barulah dapat sertifikat dan menjalani kontrak kerja selama lima tahun. Jika keluar, mereka tidak diperbolehkan bekerja pada bidang yang sama dan ada pinaltinya, karena mereka disekolahkan secara gratis.

Bisnis cuci mobil dan salon ini mengalami pertumbuhan yang luar biasa sejak didirikan pada Januari 2004. Gerai pertama didirikan di Jalan Setia Budi, Bandung. Rencananya, bulan ke-enam baru akan buka franchise. Tetapi, baru berjalan dua bulan, sudah banyak permintaan. Walhasil, dalam kurun setahun, sudah ada 12 otlet. Bahkan otlet pertama tadi pun dibeli oleh peminat. Praktis, The Auto Bridal tidak punya otlet, seluruhnya franchise. Kini setelah berjalan 18 bulan, jumlahnya mencapai 18 otlet. “Jadi, at least, setiap bulan tambah satu outlet,” paparnya.

Otlet-otlet The Auto Bridal tersebar tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di kota-kota kecil seperti Tuban dan Tegal. Untuk kota-kota kecil, The Auto Bridal membuat paket-paket middle low. Untuk kota besar, seperti Jakarta dan Semarang, targetnya 70% salon dan 30% dicuci. Sedangkan di kota kecil, dibalik, 70% dicuci, sisanya salon.

Boleh jadi, pertumbuhan The Auto Bridal sangat fantastik, mengingat komunikasinya juga sangat intens. Setiap kali pembukaan otlet baru, mereka selalu mengundang bintang iklan Sarah Azhari. Pilihan terhadap Sarah ini lantaran dia sudah dikenal oleh publik dan menjadi icon di sinetron Montir-montir Cantik. “Jadi setiap grand opening, kami selalu mengundang Sarah Azhari dan memintanya mencuci mobil,” papar Henry.

Tidak hanya itu. Setiap pembukaan pun selalu dimunculkan dalam program Auto Blitz di Metro TV setiap Rabu. Promo-promo lain pun banyak dilakukan, termasuk pemberitaan media. “Ini yang membuat The Auto Bridal jadi besar dan punya brand name,” tambahnya.

Meski jasa cuci dan salon mobil banyak ditawarkan di berbagai media cetak lewat iklan baris, Henry mengaku tidak ada kompetitor yang selevel dengan The Auto Bridal. Termasuk salon mobil yang ditawarkan di sejumlah parkir di mal. “So far, sepengetahuan kami, belum ada.”
Tapi sukses The Auto Bridal, kata Henry, kemungkinan dalam waktu dekat akan diikuti oleh pemain lain yang selevel. Ini hukum bisnis yang biasa terjadi. “Saya yakin, sebentar lagi akan banyak (kompetitor), karena orang melirik Auto Bridal sukses. Jadi semua pasti ikut-ikutan. Saya jamin itu,” tandasnya.

Menurut Agus W. Suhadi, keberhasilan salon mobil amat tergantung pada komunikasi soal benefit kepada konsumen. Apalagi, harganya tergolong lumayan tinggi. Di Auto Bridal, tarif untuk salon mobil mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta rupiah. Komunikasi yang intensif, papar Suhadi, menjadi penting, karena customer awalnya cuma cuci.

Suhadi menjelaskan, pelanggan salon mobil ini agak beda karena mereka punya banyak uang. Mereka pastinya ingin mendapat pelayanan yang lebih khusus. “Mereka ingin diservis secara personal sehingga butuh orang-orang khusus pula untuk menjelaskan,” katanya.

Harga, imbuh Suhadi, seberapa pun besarnya—selama bisa di-compete dengan benefit—bisa diterima oleh customer. Benefit harus terlihat dari harga yang dipatok sebesar Rp500.000. Sebab, kalau tidak, orang tidak akan memilih layanan itu dan beralih kepada yang lain.

Kompas, 5 Januari 2006
(Tajwini Jahari & Miranda Hutagalung/Majalah Marketing)

0 comments: