Investasi pada Waralaba

Sunday, May 14, 2006

Belakangan ini banyak muncul waralaba (franchise) yang ditawarkan kepada masyarakat. Waralaba yang ditawarkan sangat bervariasi dari skala kecil sampai skala paling besar.

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1997 menyatakan waralaba adalah perikatan di mana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Pemilik waralaba atau HAKI disebut franchisor dan pihak yang menggunakan waralaba disebut franchise. Waralaba dapat dikelompokkan dalam waralaba dari luar negeri dan dari dalam negeri. Masyarakat lebih menyukai waralaba dari luar negeri karena sistem yang lebih jelas, merek yang sudah diterima di berbagai dunia, dan karena masyarakat Indonesia kelihatan lebih menghormati produk luar negeri.

Faktor penyebab seseorang membeli waralaba adalah ingin cepat menjadi pengusaha dan pengetahuan sederhana yang dimiliki waralaba untuk selanjutnya dapat belajar dari profesional.
Dalam bisnis waralaba, investor harus membayar dua ongkos, yaitu ongkos awal (initial fee) dan ongkos royalti. Biaya awal harus dilakukan investor untuk memulai usaha.


Besarnya tergantung skala bisnis yang diwaralabakan, dapat dimulai dari Rp 10 juta sampai dengan Rp 1 miliar. Biaya ini merupakan pengeluaran yang dilakukan franchisor untuk membuat tempat usaha agar sesuai spesifikasi franchisor dan ongkos sebagai penggunaan HAKI. Dalam pembukuan investor, ongkos awal ini dapat disusutkan selama periode HAKI yang dipergunakan.

Ongkos royalti dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Tetapi, umumnya biaya ini merupakan persentase dari pendapatan kotor sebesar 5-15 persen. Berdasarkan tinjauan ke beberapa waralaba, nilai biaya royalti yang sangat layak sekitar 10 persen dan tidak bisa lebih. Bila harus membayar lebih dari 10 persen, biaya tersebut merupakan biaya pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

Bila ingin berusaha waralaba, mental harus diubah dari kebiasaan sehari-hari dilayani menjadi pelayan bagi pihak lain. Walaupun staf sudah mendapat pelatihan, mereka umumnya melihat pemilik sebagai patron dan pelanggan ingin melakukan hubungan dengan pemilik.
Pemasaran perlu dilakukan pemegang waralaba. Pengendalian sehari-hari harus dilakukan agar usaha berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tindakan seperti ini sangat dibutuhkan untuk waralaba yang kecil investasinya.

Situasi agak berbeda pada waralaba yang investasi awalnya cukup besar, misalkan sekitar Rp 1 miliar. Waralaba ini sudah punya sistem yang sangat bagus dan investor tidak perlu banyak berkecimpung dalam waralaba tersebut. Investor dapat menggaji profesional, hanya menerima laporan, dan mengendalikan usaha sekali dua minggu atau sekali sebulan.

Waralaba ini sangat cocok sekali untuk mereka yang memiliki dana besar dan tidak tahu ingin berinvestasi apa. Hasil kecil waralaba tidak menjadi persoalan karena investor punya investasi di bidang lain dan investasi pada waralaba hanya untuk investasi serta keinginan menjadi pengusaha.

Tingkat pengembalian
Dalam memilih waralaba, margin keuntungan yang normal sesuai industri atau lebih kecil dari industrinya dan harus memberi minimum tingkat pengembalian 15 persen. Bila hanya memberi pengembalian 10 persen, lebih baik investasi pada instrumen keuangan yang aman dengan tingkat pengembalian 10 persen, yaitu obligasi pemerintah.

Artinya, investor harus mendapat premium bila melakukan investasi pada industri yang berisiko. Risiko premium tersebut minimum sekitar 5 persen dan jumlah itu sudah paling minimum.

Waralaba yang sangat menguntungkan dan berkembang kelihatannya masih sektor makanan. Tetapi, investor juga harus hati-hati karena terlalu bebasnya pemilik waralaba dapat merugikan investor. Investasi pada waralaba industri pendidikan juga sangat layak, terutama pendidikan taman bermain atau taman kanak-kanak.

Aspek legal perlu diperhatikan agar tidak merasa kecewa ketika menjalankan waralaba. Perjanjian perlu diteliti kata demi kata dan lebih baik menggunakan kantor hukum yang mempunyai keahlian dalam bidang waralaba. Kontrak sebaiknya memberi keuntungan bagi kedua pihak (win-win solution). Kontrak harus memuat jelas kewajiban pemilik waralaba dan periode waralaba. Kewajiban pengguna waralaba juga harus dituliskan dalam kontrak.

Risiko investor adalah ketidakpastian karena franchisor tidak menepati janji. Risiko permintaan yang tak sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya akibat kesalahan strategi. Tidak dapat cepat beradaptasi dengan bisnis waralaba juga menjadi risiko karena menurut pendapat investor sudah baik, tetapi menurut pelanggan belum.

Karena itu, investor harus melakukan penelitian mendalam waralaba tersebut. Investor dapat menyewa konsultan untuk mendapat waralaba yang diinginkan agar sesuai keinginan dan risikonya minimum. Kehati-hatian sangat diperlukan, selamat berinvestasi dan berusaha.

Kompas, Minggu, 14 Mei 2006
Adler Haymans Manurung
Read more...