Soegito: Dari Kontraktor ke Waralaba Bakso

Tuesday, August 29, 2006

Oleh: Emilius Caesar Alexey

Kehebatan seorang pengusaha bukan terlihat saat dia mencapai puncak, melainkan saat dia bangkit setelah terpuruk.
Kata-kata itu meluncur dari mulut Soegito, pemilik restoran bakso Gito-Goti, usaha waralaba makanan lokal pertama di Pulau Bangka—usaha yang dimulai dari gerobak bakso keliling pada tahun 2002.

Jiwa wirausaha Soegito sudah muncul sejak dia masih bersekolah di sebuah SMEA di Madiun, Jawa Timur, pada akhir tahun 1970-an. Ia menyebutkan pengalaman para pemuda keturunan Tionghoa yang memberinya kesadaran bahwa dia hanya bisa sukses dan kaya jika memiliki usaha sendiri.

Itu yang membuatnya menolak tawaran seorang saudaranya untuk bekerja di PLN ketika dia lulus sekolah menengah. Orangtuanya marah karena penolakan itu. Sebaliknya, Soegito justru pergi ke Jakarta sebagai ungkapan protesnya.
"Saya masih muda dan merasa mampu melakukan segalanya. Namun, sesampainya di Jakarta saya justru menjadi gelandangan karena tidak memiliki keterampilan dan modal," tuturnya.

Beruntung Soegito bertemu dengan sepupunya yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Melalui koneksi saudaranya itu, dia bekerja di bagian logistik di sebuah kontraktor dengan gaji Rp 75.000 per bulan. Tidak puas dengan gaji yang dirasanya kecil, Soegito keluar dan membuka usaha penjualan bensin di tepi jalan. Lagi-lagi dia tidak puas karena penghasilan yang kecil.

Jiwa tidak mudah puas dan keinginan untuk mencoba pengalaman baru membuat Soegito menerima tawaran sepupunya untuk pindah ke Palembang pada tahun 1981. Kebetulan sang sepupu juga dipindahkan ke Sumatera Selatan untuk merintis proyek pembukaan lahan pasang surut.

Di Palembang, Soegito muda kembali dititipkan di salah satu kontraktor. Meskipun pendidikannya berlatar ekonomi, Soegito meminta diizinkan untuk belajar dan bekerja di bidang teknik terapan di lapangan.
Di situlah dia banyak belajar dan membuktikan kemampuannya. Namanya menjadi terkenal di dunia kontraktor dan Soegito diperebutkan oleh banyak perusahaan.

Pada awal tahun 1990-an, ketika sukses di dunia kontraktor, Soegito mulai kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi swasta di Palembang dan membuka perusahaan kontraktor sendiri. Soegito pun mulai mengurusi banyak proyek sebagai subkontraktor.
"Saat itu saya merupakan bujangan kaya dengan masa depan cerah. Bukan hanya perusahaan, saya juga memiliki tanah, rumah besar, dan tongkang," tutur Soegito. Ia kemudian menikah dan memiliki tujuh anak.

Hanya saja, krisis perekonomian di akhir tahun 1997 membawa dampak pada usahanya. Usahanya bangkrut dan dia kehilangan segala-galanya.
Sempat empat bulan menganggur, Soegito memberanikan diri untuk membuka usaha bakso di Jalan Radial, Palembang. Usaha bakso itu dibuka setelah melakukan "riset" atas bakso- bakso yang enak di Palembang.

Hasil riset itu berbuah. Para pengunjung berdatangan silih berganti sehingga omzet penjualan mencapai puluhan juta rupiah per bulan hanya dalam waktu tiga bulan sejak dibuka. Pada bulan keempat, Soegito sudah membuka cabang pertama. Cabang kedua dan ketiganya dibuka dalam tujuh bulan berikutnya.

Hanya saja, pasang surut harus dia alami. Usahanya menurun, sampai tahun 2001 ia memutuskan bahwa usahanya harus direlokasi kalau ingin bertahan hidup.
"Saya memiliki tujuh anak yang harus dihidupi dan disekolahkan. Jika keuntungan saya kecil, saya khawatir anak-anak tidak akan mempunyai biaya yang cukup untuk pendidikan," ungkapnya.

Atas usul seorang kawan dan setelah berunding dengan istrinya, Soegito bertekad memulai usaha baru di Pulau Bangka. Kebetulan pada awal tahun 2002 Bangka Belitung mulai menjadi provinsi baru.

Mendorong gerobak
Ia memulai usahanya di Sungai Liat, ibu kota Kabupaten Bangka. Semula dia menumpang di rumah paman istrinya sambil mencari-cari lahan untuk berjualan. Namun, Soegito tidak menemukan lahan yang strategis. Akhirnya, Soegito memutuskan berjualan bakso secara keliling dengan gerobak. Gerobaknya dibuat sendiri, bakso dan bakminya juga disiapkan dengan bahan-bahan paling baik.

"Hati saya masih berdesir jika ingat langkah pertama keluar dari rumah paman dengan mendorong gerobak. Saya adalah mantan orang kaya yang mencoba bangkit dengan gerobak bakso," ungkapnya.

Setelah lima bulan berjualan keliling, pelanggannya mulai banyak dan omzetnya mencapai Rp 600.000 per hari. Soegito pun mulai memberanikan diri membuka warung pertamanya di Sungai Liat, yang diberi nama Gito-Goti.

Soegito lalu membuka restoran pertamanya di Pangkal Pinang. Larisnya restoran di Pangkal Pinang itu membuat warung bakso di Sungai Liat dia ubah menjadi restoran.
Lima cabang restoran atau warung bakso juga dibuka di beberapa lokasi lainnya. Namun, beberapa di antaranya ditutup kembali karena kurang menguntungkan.

Masih belum puas dengan cabang-cabang usaha baksonya, Soegito berusaha menciptakan sistem waralaba untuk restorannya. Sistem itu menguntungkan karena dia tidak perlu mengeluarkan modal, tetapi dapat menikmati bagi hasil keuntungan.

Soegito menetapkan standar perizinan dan manajemen waralaba yang ketat. Seorang pengusaha lain sedang berminat atas waralaba bakso Gito-Goti sehingga ini akan menjadi restoran waralaba bakso lokal yang pertama di Pulau Bangka.

Kompas, Selasa, 29 Agustus 2006
Read more...

Waralaba: Semua karena Nama

Monday, August 14, 2006

Nama besar adalah aset. Ia punya nilai jual yang bahkan bisa mencapai miliaran dolar. Tanpa harus mengeja nama McDonald’s, seorang anak kecil bisa mengenali logo restoran dari kejauhan berkat golden arc-nya.

Alhasil, tahun lalu, dengan 31.888 gerai di seluruh dunia, perusahaan itu menuai pendapatan bersih US$20,45 miliar (Rp204,5 triliun) atau nyaris sepersepuluh PDB Indonesia. Berikut sejumlah fakta menarik seputar waralaba di Indonesia.

Waralaba Asing Pertama yang Ekspansi ke Indonesia
Jika merunut sejarah, waralaba asing pertama yang hadir di Indonesia adalah Bobo, sebuah majalah anak-anak milik Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Majalah yang mengambil ikon kelinci bergigi tonggos ini sejatinya berasal dari Belanda. Bobo edisi bahasa Indonesia mulai terbit pada 1972.

Untuk industri makanan, Kentucky Fried Chicken (KFC) adalah waralaba asing pertama yang menjejakkan kakinya di Indonesia. Pemegang hak waralaba tunggal, PT Fastfood Indonesia Tbk., milik kelompok usaha Gelael, membuka restoran KFC pertama di Jl. Melawai, Jakarta Selatan, pada Oktober 1979. Pertumbuhan gerai KFC terakselerasi pasca-krisis ekonomi 1998. Dalam setahun, restoran ayam goreng yang dirintis Kolonel Sanders ini bisa menelurkan 10 sampai 15 gerai. Kini, restoran siap saji ini memiliki 245 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk sejumlah konter ekspres.

Waralaba Termurah
Sejumlah nama baru pewaralaba menetapkan besaran investasi yang relatif miring. Tujuannya untuk menggaet sebanyak mungkin terwaralaba dalam waktu singkat. Sebut nama Edam Burger, Mr. Burger, atau Lucky Crepes. Tiga waralaba makanan siap saji itu mematok biaya awal Rp1—5 juta saja. Itu sudah termasuk konter, perlengkapan memasak, dan pelatihan pegawai.

Selain itu, ada juga perusahaan sekelas Campina Ice Cream yang turut melebarkan sayap dengan sistem waralaba murah meriah. Dengan hanya Rp3 juta, sudah termasuk uang jaminan dan peralatan seperti sewa freezer dan etalase, terwaralaba bisa membuka Campina Scoop Counter.

Waralaba Termahal
Kalau yang lain banting-bantingan harga, kelompok Es Teler 77 sebaliknya. Tahun lalu mereka memperkenalkan Peaches Tea House yang nilai investasinya lumayan mahal, mencapai Rp2 miliar.

Waralaba Gerai Terbanyak
Nama Edam Burger memang masih dipandang sebelah mata. Namun, edannya, ia mampu menjungkalkan jagat waralaba. Saat ini, sekitar 2.000 konter Edam Burger dikelola dengan sistem waralaba. Edam mampu mengalahkan jaringan ritel Indomaret yang hanya memiliki 671 gerai waralaba, dari keseluruhan 1.401 toko. Sementara itu, master franchise McDonald’s Indonesia memiliki 108 restoran di seluruh Nusantara.

Edam Burger, yang dirintis Made Ngurah Bagiana, bermula dari gerobak kayu yang dikayuhnya sendiri pada 1990. Tiga tahun kemudian, usaha kemitraannya berkembang menjadi 300 gerobak kayu yang menjual burger, hotdog, dan pizza. Tak bisa dimungkiri, kemitraan dengan Kemfoods milik Bob Sadino dan Bogasari mendongkrak kepercayaan masyarakat untuk menjadi mitra.

Seluruh daging olahan diambil dari Kemfoods, sementara terigu untuk membuat roti dari Bogasari. Selain memiliki 2.000 konter waralaba yang tersebar di sejumlah kota besar, Made juga memiliki 12 pabrik roti. Untuk calon terwaralaba, Edam Burger memberi lima opsi franchise fee dengan harga terjangkau, mulai Rp1 juta hingga Rp3 juta, tergantung bentuk konter.

Pemilik Waralaba Paling Fenomenal
Semula, nama Johnny Andrean identik dengan bisnis kecantikan. Ia punya salon, sekolah tata rambut dan make-up, serta rangkaian produk perawatan rambut. Semua bermerek Johnny Andrean. Kini, di Indonesia ada lebih dari 200 gerai Salon Johnny Andrean.

Akan tetapi, kini nama Johnny justru melekat di industri bakery. Dalam kurun waktu tiga tahun, PT Talkindo Selaksa Anugerah, anak usaha Johnny Andrean Group yang mengelola waralaba bakery BreadTalk, sudah memiliki 19 gerai. Lelaki itu berhasil menciptakan fenomena tersendiri. Waralaba bakery asal Singapura itu menabrak sejumlah pakem, seperti sistem open kitchen dan menempatkan kasir di depan. Jadi, mau tak mau, konsumen yang akan membayar mengular di depan gerai.

Meski belum melaksanakan sistem waralaba, J.Co Donuts and Coffee kembali mengulang fenomena BreadTalk. Pengunjung rela antre demi mendapatkan sepotong donat dan secangkir kopi. Baru satu tahun berdiri, J.Co sudah memiliki 11 gerai. Tahun depan, mereka akan ekspansi ke Singapura, negeri asal “kakak kandung”-nya, BreadTalk.

Sumber: wartaekonomi.com Read more...

Bisnis Waralaba: Tujuh Jurus Sukses: The Untold Story

Persaingan kian sengit. Wajah bisnis kian tak ramah. Maka, kendati Anda membeli suatu waralaba, yang mengklaim sistemnya siap pakai, kalau mau sukses, jangan terlena dan cuma duduk ongkang-ongkang. Ikuti pengalaman terwaralaba yang sukses.

Lina, seorang pelanggan salon waralaba, tampak kesal. Kunjungan pertama ke salon yang menurut brosurnya mengutamakan layanan berkualitas profesional ini sungguh mengecewakan. Sebab, tak hanya proses pemijatan di kepala yang terasa terlalu keras dan cepat selesai, malah bajunya pun basah kena air saat rambutnya dicuci. Dalam hati ia mengumpati pegawai yang tidak profesional, seperti pria yang tadi melayaninya itu.

Lina tak sendirian. Pakar waralaba Amir Karamoy pun mengaku menerima banyak keluhan dari para pembeli waralaba (terwaralaba) salon soal kualitas SDM-nya. Padahal, mereka telah mengikuti pelatihan dari pewaralaba. “Merekrut SDM untuk salon memang tak mudah,” ungkap Amir. Itu sebabnya, lanjut dia, para calon terwaralaba mesti menyiapkan diri menghadapi hal-hal yang tak terduga.

Selain itu, untuk sukses berbisnis waralaba, terwaralaba sebaiknya jangan hanya ikut aturan yang dibuat pewaralaba. Persaingan kian sengit. Rumus standar tak lagi memadai jika terwaralaba ingin sukses. Mereka harus mau melakukan upaya ekstra. Apa saja? Sejumlah terwaralaba—Riza Rosalina, Jemmy, Baron Respati, Wingky W. Kushadi, Asep Gosiman, dan Lukman Hakim—ternyata mau berbagi kiat suksesnya.

1. Jangan Takut Keluar dari Aturan Baku Sistem yang baku
Itulah yang biasa ditawarkan para pewaralaba kepada para pembelinya. Namun, ada baiknya terwaralaba mencoba untuk berkreasi. Inilah yang dilakukan Riza Rosalina, yang membeli waralaba Sanggar Kreativitas Bobo (SKB) dari Grup Gramedia, tahun 2000 lalu. Dalam paket itu, SKB menyajikan metode pengajaran yang terlalu konvensional.

Merasa kurang sreg, dokter gigi ini pun melakukan modifikasi. Ia menerapkan metode active learning. Kebetulan, seorang kawannya sukses menerapkan metode ini di lembaga pendidikan yang dikelolanya. Agar metodenya berjalan baik, Riza pun bersikeras memakai ruangan yang lebih luas, melebihi yang diatur dalam perjanjian waralaba.

Pengalaman pribadi Riza, 43, juga mendukung perlunya modifikasi. Anaknya kebetulan bersekolah di sebuah sekolah swasta di Cibubur yang menerapkan metode active learning.
Sebelum menerapkan metode itu, Riza membuka banyak buku psikologi tentang anak. Ia juga rajin ikut seminar yang membahas soal kepribadian anak. “Saya tak ingin sekadar menjalankan bisnis. Saya harus tahu perkembangan setiap anak didik,” ujar ibu dua anak ini.

Riza boleh bersyukur. Kini, hampir semua dari 17 SKB-nya menerapkan metode active learning, termasuk yang ada di Jl. Pondok Betung Raya No. 48, Bintaro, Tangerang. Patut dicatat, Riza menjadi satu-satunya pembeli waralaba SKB angkatan pertama yang sukses. Dua lainnya keburu gulung tikar.

2. Siapkan Dana Ekstra untuk Promosi
Promosi, entah berupa spanduk, umbul-umbul, baliho, brosur, buletin, atau iklan radio, biasanya sudah diatur dalam perjanjian. Begitu juga besarnya anggaran. Namun, Jemmy tak mau ikut aturan itu. Pembeli waralaba Bread Story ini bersikeras mengeluarkan dana ekstra untuk promosi. Alasannya, ini gerai pertama. Jadi, pasti butuh usaha ekstra untuk menarik perhatian pengunjung. Dan, untuk itu, Jemmy tak mau melulu mengandalkan promosi dari pewaralaba.

Lalu, apa bentuk promosi yang digelar pria yang berdomisili di Surabaya ini? Ia membuat pertunjukan musik dan bahkan badut untuk pembukaan gerai pertamanya di Malang Town Square. Dampaknya cukup menggembirakan. Sebagai pembeli pertama waralaba Bread Story, ia berhasil mencapai break-even point (BEP) sesuai yang dijanjikan pewaralaba.
Sukses itu membuatnya tancap gas. Ia langsung membuka gerai kedua di Plaza Marina, Surabaya, dan tahun ini berharap bisa membuka tiga gerai Bread Story lagi di Surabaya.

Dana ekstra untuk promosi juga dikeluarkan Wingky Waluyo Kushadi, pembeli waralaba kursus pendidikan Primagama. Untuk menarik minat siswa ke lembaga kursusnya, ia memberikan kupon undian kepada mereka yang membayar tunai di muka. Kupon itu diundi pada akhir tahun. Hadiahnya: sepeda motor dan komputer.

Dana promosi juga ia cadangkan untuk memberikan garansi uang kembali 80% jika murid Primagama tidak lulus ujian akhir nasional. Ada catatan di sini, sang murid ini punya angka kehadiran 80% di kelas. “Kami mulai menerapkannya tahun 2004,” ungkap Wingky. Itu berarti setahun sesudah ia membeli waralaba Primagama.

3. Bagaimanapun, Anda Harus Melihat Lokasi Sendiri
Pewaralaba biasanya yang menetapkan kriteria lokasi gerai waralaba. Pembeli tinggal duduk manis. Namun, pengalaman berbeda dialami Lukman Hakim, pembeli waralaba Indomaret. Saat ditawari suatu lokasi oleh Indomaret, ia tak langsung setuju. Lukman ikut mondar-mandir meninjau lokasi sampai hatinya merasa sreg. Hasilnya memuaskan. Gerai itu mencapai BEP hanya dalam waktu 24 bulan. Padahal, Indomaret saja mematok 43 bulan. Kini, Lukman sukses mengelola empat gerai Indomaret.

Survei lokasi sendiri juga dilakukan Baron Respati. Meski pemilik waralaba Kafe O La La telah memberikan panduan umum untuk memilih lokasi, toh Baron merasa perlu melakukan riset sendiri. Sebab, ia punya tiga kriteria dalam memilih lokasi, yaitu lalu lintas pengunjung, tingkat hunian di gedung, serta pengelola gedung. Berkat jitu dalam memilih lokasi, jadilah kini Baron memiliki lima gerai Kafe O La La. Ia sukses. Gerai-gerainya itu ada di Grha SCTV, Gedung Bank Permata, Gajah Mada Plaza, Wisma Mulia, dan Graha Paramita (Kuningan).

Ikut memilih lokasi sendiri juga dilakukan Jemmy. Syaratnya, gerai Bread Story-nya harus menjadi pionir alias belum ada pesaing. Kalau sudah ada, jangan harap ia mau buka gerai di sana.
Wingky Kushadi pun punya kriteria dalam memilih lokasi. Katanya, omzet terbaik jika lokasi gerai dekat dengan ATM bank. Mengapa? “Sebab, tak perlu biaya pemasaran,” kata pria 28 tahun ini sambil terbahak. Saat antrean panjang di ATM, para nasabah jadi akan melihat gerai Primagama di situ. “Jadi numpang beken,” gelaknya, lagi. Berkat pilihan lokasi yang tetap, kini, dari puluhan gerai Primagama milik Wingky, separonya telah BEP.

4. Anda Juga Butuh Dana Ekstra untuk Kesejahteraan Karyawan
Di bisnis waralaba, untuk urusan karyawan, biasanya terwaralaba tinggal merem. Semuanya sudah diatur, mulai dari pelatihan, kualitas, bahkan sampai ke gajinya. Cuma, kalau ingin sukses, Anda mesti menyiapkan dana ekstra untuk urusan SDM ini.

Itulah yang dilakukan Riza Rosalina. Maklum, dalam bisnis pendidikan, seperti SKB miliknya, kualitas SDM—khususnya tenaga pengajar—sangat menentukan. Nah, agar mereka tak tergiur pindah ke “ladang” lain, Riza mesti mengeluarkan dana ekstra untuk uang makan, kesehatan, dan bonus prestasi. Papar Riza, “Uang makan saya berikan jika mereka pulang lebih dari pukul 14.00.” Sementara urusan gaji (uang per sesi pengajaran), transportasi, dan tunjangan hari raya ditentukan oleh pewaralaba.

Cara yang sama dilakukan Wingky. Ia menambah jumlah insentif bagi para kepala cabangnya (pimpinan tertinggi di gerai waralaba Primagama). Sesuai aturan, insentif untuk kepala cabang yang berhasil menarik murid masuk Primagama adalah 1%. Nah, Wingky berinisiatif menambah menjadi 2%.

5. Jangan Abaikan Lingkungan dan Selera Lokal
Peduli dengan selera lokal dilakukan Baron Respati di setiap gerai Kafe O La La-nya. Misalnya, ia sengaja membuat tema dan perlakuan berbeda untuk setiap gerai miliknya. Gerai di Kuningan sengaja ia buat trendi, modern, dan berbau Perancis. Lalu, gerai di Wisma Mulia yang dekat rumah sakit, seluruh tampilan dibuatnya bersih. Ia pun memakai dapur berkonsep open kitchen. Sementara gerai di Bank Permata tampil dengan konsep modern, yang di Gajah Mada Plaza kental nuansa Tionghoa.

Lain lagi cerita Jemmy. Ia memilih secara selektif varian roti di Bread Story dan menyesuaikannya dengan selera lokal. Alasannya, “Antara satu kota dan kota lain, kesukaan masyarakatnya berbeda-beda.”

6. Menjadi Pembeli Pertama Jauh Lebih Baik
Banyak calon investor yang ragu menjadi pembeli pertama sebuah waralaba. Alasannya, sistemnya belum teruji dan banyak trial and error-nya. Namun, Baron Respati justru menentang arus. Ia malah bersemangat jadi pembeli pertama. “Sebab, belum ada pesaing,” celetuknya. Baron menjadi pembeli pertama waralaba Kafe O La La tahun 2000. Keuntungan lainnya, sebagai pembeli pertama, ia mendapat harga khusus.

Saat ini, paket waralaba Kafe O La La ditawarkan dengan harga Rp50 juta oleh pemiliknya. Adapun total investasi yang diperlukan untuk satu gerai mencapai Rp300—500 juta, termasuk franchise fee.

Riza juga menjadi pembeli pertama waralaba SKB dari Grup Gramedia. Apa keuntungannya? Selain memperoleh potongan harga untuk franchise fee, ia pun mendapatkan pengajar terbaik hasil pelatihan dari pemilik waralaba. “Para pengajarnya mereka persiapkan betul,” ungkap Riza, yang masih tetap berpraktek sebagai dokter gigi di daerah Tanah Kusir, Jakarta. Selain itu, banyak hal yang bisa dinegosiasikan secara terbuka dengan pewaralaba. Ini karena mereka pun ingin terwaralabanya sukses.

7. Menyisihkan Waktu Itu Penting
Membeli sebuah waralaba bukan berarti pembelinya tinggal ongkang-ongkang dan semuanya akan berjalan sendiri. Kalau mau sukses, terwaralaba harus mau menyisihkan waktu untuk memantau gerainya. Ini dilakoni terwaralaba Indomaret, Asep Gosiman. Bahkan, Asep mengaku merasa nikmat jika berada di gerainya dan tetap mengawasi pegawainya. Manfaatnya? “Kalau ada yang keliru bisa langsung dibenahi,” katanya, gamblang. Contohnya, melihat pegawainya mahal senyum saat melayani pembeli, Asep bisa langsung menegur.

Lain lagi cerita Wingky. Selama tiga bulan pertama, ia rajin menunggui gerai Primagama-nya. Kini, setelah yakin segalanya berjalan baik, Wingky cukup berkomunikasi dengan para kepala cabangnya.
Kalau Baron, ia memang menyiapkan waktu khusus untuk mengunjungi lima gerainya setiap hari. Ia memantau langsung perkembangan omzetnya, sehingga jika terjadi penurunan ia bisa langsung segera melakukan perbaikan. Selain itu, ungkap Baron, ia jadi lebih cepat tahu keluhan pelanggan.

Jadi, tak ada cara mudah untuk sukses.

Senin, 14 Agustus 2006 12:41 WIB -
wartaekonomi.com
Read more...