Waralaba: Semua karena Nama

Monday, August 14, 2006

Nama besar adalah aset. Ia punya nilai jual yang bahkan bisa mencapai miliaran dolar. Tanpa harus mengeja nama McDonald’s, seorang anak kecil bisa mengenali logo restoran dari kejauhan berkat golden arc-nya.

Alhasil, tahun lalu, dengan 31.888 gerai di seluruh dunia, perusahaan itu menuai pendapatan bersih US$20,45 miliar (Rp204,5 triliun) atau nyaris sepersepuluh PDB Indonesia. Berikut sejumlah fakta menarik seputar waralaba di Indonesia.

Waralaba Asing Pertama yang Ekspansi ke Indonesia
Jika merunut sejarah, waralaba asing pertama yang hadir di Indonesia adalah Bobo, sebuah majalah anak-anak milik Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Majalah yang mengambil ikon kelinci bergigi tonggos ini sejatinya berasal dari Belanda. Bobo edisi bahasa Indonesia mulai terbit pada 1972.

Untuk industri makanan, Kentucky Fried Chicken (KFC) adalah waralaba asing pertama yang menjejakkan kakinya di Indonesia. Pemegang hak waralaba tunggal, PT Fastfood Indonesia Tbk., milik kelompok usaha Gelael, membuka restoran KFC pertama di Jl. Melawai, Jakarta Selatan, pada Oktober 1979. Pertumbuhan gerai KFC terakselerasi pasca-krisis ekonomi 1998. Dalam setahun, restoran ayam goreng yang dirintis Kolonel Sanders ini bisa menelurkan 10 sampai 15 gerai. Kini, restoran siap saji ini memiliki 245 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk sejumlah konter ekspres.

Waralaba Termurah
Sejumlah nama baru pewaralaba menetapkan besaran investasi yang relatif miring. Tujuannya untuk menggaet sebanyak mungkin terwaralaba dalam waktu singkat. Sebut nama Edam Burger, Mr. Burger, atau Lucky Crepes. Tiga waralaba makanan siap saji itu mematok biaya awal Rp1—5 juta saja. Itu sudah termasuk konter, perlengkapan memasak, dan pelatihan pegawai.

Selain itu, ada juga perusahaan sekelas Campina Ice Cream yang turut melebarkan sayap dengan sistem waralaba murah meriah. Dengan hanya Rp3 juta, sudah termasuk uang jaminan dan peralatan seperti sewa freezer dan etalase, terwaralaba bisa membuka Campina Scoop Counter.

Waralaba Termahal
Kalau yang lain banting-bantingan harga, kelompok Es Teler 77 sebaliknya. Tahun lalu mereka memperkenalkan Peaches Tea House yang nilai investasinya lumayan mahal, mencapai Rp2 miliar.

Waralaba Gerai Terbanyak
Nama Edam Burger memang masih dipandang sebelah mata. Namun, edannya, ia mampu menjungkalkan jagat waralaba. Saat ini, sekitar 2.000 konter Edam Burger dikelola dengan sistem waralaba. Edam mampu mengalahkan jaringan ritel Indomaret yang hanya memiliki 671 gerai waralaba, dari keseluruhan 1.401 toko. Sementara itu, master franchise McDonald’s Indonesia memiliki 108 restoran di seluruh Nusantara.

Edam Burger, yang dirintis Made Ngurah Bagiana, bermula dari gerobak kayu yang dikayuhnya sendiri pada 1990. Tiga tahun kemudian, usaha kemitraannya berkembang menjadi 300 gerobak kayu yang menjual burger, hotdog, dan pizza. Tak bisa dimungkiri, kemitraan dengan Kemfoods milik Bob Sadino dan Bogasari mendongkrak kepercayaan masyarakat untuk menjadi mitra.

Seluruh daging olahan diambil dari Kemfoods, sementara terigu untuk membuat roti dari Bogasari. Selain memiliki 2.000 konter waralaba yang tersebar di sejumlah kota besar, Made juga memiliki 12 pabrik roti. Untuk calon terwaralaba, Edam Burger memberi lima opsi franchise fee dengan harga terjangkau, mulai Rp1 juta hingga Rp3 juta, tergantung bentuk konter.

Pemilik Waralaba Paling Fenomenal
Semula, nama Johnny Andrean identik dengan bisnis kecantikan. Ia punya salon, sekolah tata rambut dan make-up, serta rangkaian produk perawatan rambut. Semua bermerek Johnny Andrean. Kini, di Indonesia ada lebih dari 200 gerai Salon Johnny Andrean.

Akan tetapi, kini nama Johnny justru melekat di industri bakery. Dalam kurun waktu tiga tahun, PT Talkindo Selaksa Anugerah, anak usaha Johnny Andrean Group yang mengelola waralaba bakery BreadTalk, sudah memiliki 19 gerai. Lelaki itu berhasil menciptakan fenomena tersendiri. Waralaba bakery asal Singapura itu menabrak sejumlah pakem, seperti sistem open kitchen dan menempatkan kasir di depan. Jadi, mau tak mau, konsumen yang akan membayar mengular di depan gerai.

Meski belum melaksanakan sistem waralaba, J.Co Donuts and Coffee kembali mengulang fenomena BreadTalk. Pengunjung rela antre demi mendapatkan sepotong donat dan secangkir kopi. Baru satu tahun berdiri, J.Co sudah memiliki 11 gerai. Tahun depan, mereka akan ekspansi ke Singapura, negeri asal “kakak kandung”-nya, BreadTalk.

Sumber: wartaekonomi.com

0 comments: