Waralaba, Membangun Bisnis yang Menjual Gengsi

Thursday, November 16, 2006

Di saat kebutuhan hidup sehari-hari sudah terpenuhi dengan mudah, manusia tetap ingin memiliki sesuatu yang lebih baik. Produk atau jasa pemuas yang dicari pun yang terbaik. Fungsi serta harga nomor dua, yang penting adalah gengsi yang didapat.

Ada beratus-ratus warung, restoran, dan toko kue di Kota Bandung, tetapi hanya beberapa yang punya nilai lebih untuk didatangi, tentunya dengan nama atau merek yang populer. Begitu pentingnya merek sampai-sampai bisnis merek menjadi andalan untuk memperebutkan pelanggan. Cara inilah yang sekarang sedang tren dikembangkan melalui waralaba.

Banyak orang beranggapan lebih berkelas jika berbelanja satu botol kecap di Alfamart atau membeli donat dan kopi di JCo ketimbang di warung ujung gang. Bahkan, dinilai lebih "bergengsi" jika mengikuti kursus bahasa Inggris di International Language Program (ILP) daripada di dekat rumah.

Prof Sucherly, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisnis Universitas Padjadjaran, menuturkan, kebutuhan manusia ada dua bentuk, kebutuhan rasional dan emosional. Kebutuhan rasional dipenuhi karena tujuan atau fungsinya, sedangkan emosional lebih karena alasan pencitraan. Kebutuhan emosional itulah yang dibidik bisnis waralaba. Merek mendorong konsumen berperilaku konsumtif. "Sekarang, orang makan tidak mau cuma di warung, maunya di restoran bermerek," ujarnya, Rabu (15/11) di Bandung.

Dalam bisnis ini, yang ditawarkan bukan lagi produk, melainkan kepuasan layanan bagi pelanggan, baik fungsional maupun emosional. Sucherly menjelaskan, merek adalah hal terpenting dalam bisnis waralaba. Semakin terkenal mereknya, peluang keuntungan usahanya pun semakin besar meski risikonya juga semakin besar.

Hakikatnya, bisnis waralaba dilakukan untuk memperbesar keuntungan pewaralaba serta mengurangi risiko perluasan bisnis. Pewaralaba tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membangun pabrik, atau takut dengan ancaman keamanan yang memengaruhi iklim usaha. Semua itu ditanggung terwaralaba.

Banyak yang melirik bisnis waralaba, ungkap Didit Setiadi, Manajer Humas Alfamart, karena semua hal yang berkaitan dengan manajemen usaha hingga promosi dilakukan pewaralaba. "Namun, jangan salah pilih jenis waralaba karena banyak perusahaan baru yang belum jelas menawarkan sistem waralaba. Track record-nya harus jelas," katanya.

Pewaralaba harus bisa memberikan pelatihan dan pengawasan agar mereknya tidak jatuh pamor karena dikelola pihak kedua. Terwaralaba harus mempertahankan merek yang dibelinya dengan memberikan pelayanan yang lebih bagus ketimbang pesaingnya. (Timbuktu Harthana)

Kompas, Kamis, 16 November 2006
Read more...

Waralaba Makanan Masih Dominan Jenis Ritel Cukup Menjanjikan

Bisnis waralaba di Kota Bandung semakin diminati karena memberikan keuntungan dalam jangka waktu pendek. Usaha waralaba ini masih didominasi waralaba makanan, yang memiliki peluang besar menarik konsumen karena termasuk kebutuhan pokok.

Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisnis Universitas Padjadjaran Prof Sucherly, lebih dari 50 persen dari sekitar 290 usaha waralaba asing dan lokal bergerak di sektor produk makanan. Sisanya bergerak di bidang produk sandang, pendidikan, dan jasa.
"Makanan adalah produk yang dibutuhkan sehari-hari oleh masyarakat sehingga jenis itu yang paling banyak ditawarkan franchisor (pewaralaba) dan diminati franchisee (terwaralaba)," ujar Sucherly, Rabu (15/11) di Bandung.


Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Hendri Hendarta mengatakan, waralaba produk makanan sangat menjanjikan. Konsumen Indonesia masih cenderung memilih mengonsumsi makanan bermerek terkenal, baik yang disajikan di restoran waralaba internasional maupun lokal.

Ia menjelaskan, investasi yang harus ditanamkan terwaralaba di bidang makanan sangat beragam, mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 1 miliar, bergantung pada besar-kecil usaha serta merek yang diwaralabakan. Lokasi usaha juga menentukan besarnya investasi.

Ada dua sistem pembagian keuntungan dalam waralaba, yaitu royalti dan bagi hasil. Pada sistem royalti, pewaralaba mendapatkan bagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan kontrak meskipun terwaralaba merugi.

Sementara dalam bagi hasil, keuntungan pewaralaba ditentukan oleh pendapatan terwaralaba sehingga semakin besar pendapatan terwaralaba, semakin besar keuntungan yang akan dibagikan kepada pewaralaba.

Rata-rata, dalam bisnis waralaba pengembalian modal didapat setelah 3-5 tahun sejak pertama kali usaha dibuka. "Seperti waralaba ritel, umumnya pewaralaba akan mendapat keuntungan sekitar 1 persen apabila pendapatan per bulan sudah di atas Rp 100 juta," ujar Hendri.

Ritel
Waralaba perdagangan ritel saat ini banyak menjadi pilihan. Ritel berbentuk waralaba dalam empat tahun terakhir tumbuh sekitar 10 persen per tahun.
Tahun lalu, kata Manajer Humas Alfamart Didit Setiadi, pertumbuhan ritel minimarket 19 persen dengan omzet Rp 45 triliun. Toko-toko ritel atau minimarket pun dibangun sampai ke perkampungan dan perumahan. Bahkan jarak antartoko ritel waralaba relatif berdekatan. Bisnis ini diminati pelaku-pelaku usaha baru dengan modal terbatas.

Para pelaku ritel waralaba itu biasanya memiliki aset berbentuk bangunan, tanah, atau modal. Usia pelaku usaha waralaba ritel beragam, mulai dari wiraswasta muda hingga pensiunan yang masih ingin memiliki penghasilan di hari tua dengan membuka toko bersistem waralaba. "Wiraswasta muda usia 30-45 tahun banyak yang bergabung dalam usaha waralaba ini," ujar Didit. (THT)

Kompas, Kamis, 16 November 2006
Read more...