Hati-hati Memutar Uang di Bisnis Franchise

Sunday, December 30, 2007

Boom bisnis waralaba telah menyedot investasi Rp 5 triliun lebih dengan tingkat kesuksesan dan kegagalan yang berimbang. Mengapa pengelolaannya banyak yang gagal di tengah jalan? Apa yang harus dilakukan agar investasi tak melayang?

Investor Indonesia memang agresif.
Ketika produk perbankan seperti tabungan dan deposito tidak lagi memberi imbal yang menarik, mereka mengalirkan dana ke tempat lain yang dianggap lebih menguntungkan. Sejumlah produk investasi seperti reksa dana, saham dan obligasi menjadi sasaran.

Begitu juga wahana lain, seperti tanah, rumah, ruko dan apartemen. Bahkan, tak sedikit investor yang menubruk tawaran berisiko sangat tinggi hanya karena iming-iming menggiurkan. Padahal, cerita amblasnya dana nasabah di tangan pengelola yang berani obral janji seperti itu sudah berulang terdengar. Sepertinya, para investor tak pernah mau belajar dari pengalaman.

Bisnis franchise?
Inilah model bisnis yang dalam 10 tahun terakhir menyihir banyak pemilik modal, terutama mereka yang ingin terjun menjadi entrepreneur tanpa mau repot merintis dari nol. Waralaba sangat digandrungi para pensiunan, istri pejabat, artis, dan anak-anak muda yang bisa pinjam modal orang tua untuk memulai bisnis. Tingginya minat akan bisnis waralaba antara lain terlihat dari antusiasnya pengunjung dalam setiap kali pameran franchise, juga laris manisnya seminar dan buku-buku bertemakan franchise.

Meski belum ada pihak berkompeten yang menyajikan data nilai investasi, melalui perhitungan sederhana, yaitu dengan mengalikan jumlah gerai masing-masing franchise (lokal dan asing) dengan dana yang diperlukan untuk investasi masing-masing gerai, akan mudah diperoleh angka perkiraan. Berdasarkan perhitungan seperti itu, diperoleh angka fantastis sebesar Rp 5 triliun dana yang tersalurkan ke investasi franchise sampai 2006. Jumlah ini belum termasuk nilai investasi di bisnis lisensi dan keagenan yang tentunya tak kalah fantastis.

Dari angka Rp 5 triliun tadi, separuh lebih, yaitu Rp 3 triliun, tersalur ke investasi franchise lokal dan Rp 2 triliun ke franchise asing. Jika diamsusikan perbandingan kepemilikan gerai antara franchisor dan franchisee (investor) 70:30, diperkirakan dana franchisee yang terbenam di bisnis ini mencapai Rp 1,5 triliun.

Masalahnya, seperti halnya penanaman modal di bisnis lain, investasi di franchise pun tak kalis dari risiko. Memang cukup banyak investor franchise yang berhasil, yang 10 tahun lalu bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, kini menjadi miliuner yang menguasai sejumlah gerai waralaba. Sebaliknya, meski jarang terpublikasi, tidak sedikit pula investor yang gagal di tengah jalan.

Fenomena di sekitar kita memperlihatkan banyaknya gerai waralaba yang tutup, apakah itu di bidang resto, salon, kedai burger, toko buku, laundry, ritel, hingga lembaga pendidikan, dari yang berskala besar hingga kecil, dari yang mampu bertahan dalam beberapa tahun hingga yang beroperasi hanya dalam hitungan bulan. Namun seperti bunyi pepatah, bisnis franchise ini patah tumbuh hilang berganti, selalu menghadirkan franchisor dan franchisee baru.

Amir Karamoy, Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia yang juga pemilik Konsultan AK & Partners, mencatat rata-rata pertumbuhan bisnis franchise lokal mencapai 8%-9% per tahun, sedangkan franchise asing 12%-13%. Namun, perbedaan tingkat kegagalan keduanya sangat mencolok: menurut catatan Amir, berkisar 50%-60% untuk franchise lokal dan hanya 2%-3% untuk franchise asing.
Jika catatan Amir akurat, dari total investasi waralaba lokal yang mencapai Rp 3 triliun, separuh lebih melayang sia-sia. Mengapa franchise lokal banyak yang berguguran? Satu hal yang pasti, faktor kegagalan ini bisa datang dari pihak franchisor, franchisee, atau andil kedua belah pihak. Dari sisi franchisor, bisa karena bisnisnya belum “terbukti”, tapi sudah diwaralabakan. Banyak juga franchisor yang tidak paham manajemen franchise, bahkan ada yang melakukan tindakan kontraproduktif terhadap bisnisnya.

Di Amerika Serikat dan Malaysia, ada ketentuan pengusaha yang akan mewaralabakan bisnisnya minimal harus mempunyai 2-3 gerai serta harus telah beroperasi minimal setahun dengan posisi keuangan minimal sudah laba selama setahun terakhir. “Jadi, mereka sudah proven dan profit. Jangan sampai masih trial and error tapi sudah meminta franchisee mengikuti dia,” ujar Lanny Kwandy, pemilik Bridge Franchise, Retail & Franchise Consultant. Nah, aturan seperti ini belum ada di Indonesia.

Di sisi lain, tidak jarang para investor franchise sangat bernafsu sehingga kurang menguji kelayakannya sebagaimana seharusnya. Dan yang sering dilupakan, mereka mengira membeli waralaba sama saja dengan melakukan investasi di produk tak bergerak, seperti tanah dan bangunan, yang tidak memerlukan upaya keras dalam mengelola. Padahal, meminang bisnis franchise tak ubahnya menjadi entrepreneur yang harus mengenal benar knowledge bisnis tersebut, termasuk mencari terobosan-terobosan untuk menggulirkan bisnisnya.

Kondisi demikian jelas tidak bisa dibiarkan, diperlukan payung hukum yang bisa melindungi kepentingan franchise ataupun franchisor-nya. Apalagi, seperti telah disinggung di depan, investasi di bisnis ini telah melibatkan dana triliunan rupiah. Siapa yang akan bertanggung jawab jika banyak waralaba berguguran dan investasi melayang?

Betapapun, bisnis franchise telah memberi sumbangan besar terhadap perekonomian Indonesia. Bisnis ini tidak saja menyerap banyak tenaga kerja, tapi juga telah melahirkan tak sedikit wirausaha, profesional dan profesi baru. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti calon investor franchise, tapi lebih untuk mengingatkan agar lebih waspada dan berhati-hati dalam menggeluti bisnis waralaba.

Dengan taksiran omset yang menurut Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, mencapai US$ 6 miliar pada 2006, posisi negeri ini masih kalah jauh dari negara-negara tetangga. Dengan kata lain, Indonesia masih memerlukan banyak franchisor dan franchisee untuk memperkecil ketertinggalan.

Oleh : Sujatmaka (SWA)
Read more...

Makin Banyak Pilihan Kredit Usaha Waralaba

Tuesday, December 18, 2007

Seiring booming-nya bisnis waralaba di Tanah Air, semakin banyak pula bank yang menawarkan kredit modal usaha bagi bisnis tersebut. Meski tak banyak bank yang menyediakan kredit waralaba sebagai produk bernama khusus kredit waralaba, namun dalam kenyataannya bank tak sedikit yang ikut menyalurkan kredit ke bidang ini.

Bank yang secara khusus memiliki produk kredit waralaba saat ini adalah Bank Himpunan Saudara 1906. Namun sebenarnya, meski tidak memiliki produk khusus bernama kredit waralaba bank-bank lain seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Permata juga turut menyediakan kredit ini.

Pada periode Januari hingga Agustus 2007 saja misalnya, BRI telah menyalurkan dana Rp8,6 triliun kredit bagi usaha di bidang waralaba. Dalam penyaluran kreditya, ia mengatakan pihaknya tidak membatasi plafon. Alhasil jumlah kredit yang disalurkan pun beragam, ada yang hingga Rp700 juta, namun ada juga yang di bawah Rp100 juta.

Ketertarikan bank membiayai bisnis waralaba tentunya tak terlepas dari profil risiko yang dimiliki bisnis waralaba ketimbang bisnis yang benar-benar baru didirikan. Dengan tetap memberikan beberapa persyaratan kepada nasabah sebagai prinsip kehati-hatian, namun persyaratan yang diberikan untuk kredit usaha waralaba teriblang relatif lebih mudah dibandingkan persyaratan untuk kredit usaha yang baru didirikan.

Kredit waralaba tersedia bagi pewaralaba dan terwaralaba, tergantung bank penyedia. Di Bank Saudara contohnya, seperti tertulis pada websitenya, menydiakan jenis kredit untuk franchisor maupun franchisee.

Kredit franchisor ditujukan bagi bagi pewaralaba yang ingin ekspansi usaha yaitu untuk membuka cabang baru milik sendiri atau untuk disalurkan lagi kepada calon franchisee (two step loan). Sementara jenis kedua, jenis kredit bagi franchisee. Kredit jenis ini diberikan langsung kepada calon franchisee, atau franchisee yang ingin menambah cabang (outlet) baru atau menambah franchise baru.

Lantas apa persyaratan yang harus dilengkapi pebisnis? Di Bank HS, ada beberapa dokumen harus dilengkapi oleh calon debitur dari kalangan franchisor. Calon debitur harus menyerahkan data atau profil perusahaan. Termasuk di dalamnya jenis produk/jasa franchisor termasuk perkembangan produk/jasa tersebut.

Selain franchisor menyerahkan laporan keuangan, proyeksi perhitungan usaha untuk calon franchisee serta rencana kegiatan usaha. Franchisor yang mengajukan kredit juga harus memiliki legalitas usaha termasuk ijin usaha franchise yang biasa disebut dengan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba (STPUW).

Disamping itu telah dilakukan standar operasi usaha dan sistrem manajamen (SPO). Usaha franchise yang dibiayai juga disyaratkan memiliki keunikan dan peluang pasar yang masih besar. Selanjutnya calon debitur kredit jenis ini juga harus melengkapi persyaratan kredit bank pada umumnya.

Sementara persyaratan untuk jenis kredit waralaba bagi franchisee calon debitur disyaratkan telah memiliki rekomendasi dari franchisor, berupa draft kontrak dan proyeksi usaha.
Selain bank-bank di atas, bahkan perusahaan modal ventura juga ada yang mengambil celah kredit untuk industri waralaba ini.


Ingin mencoba? Kumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum pebisnis mengajukan kredit. Dengan demikian semoga pebisnis tidak salah pilih bank yang tepat sebagai tempat mendapatkan kredit usaha. Selamat mencoba. (SH)

Sumber: Wirausaha
Read more...

Tips Memilih Lokasi yang Strategis

Saturday, December 15, 2007

Salah satu keputusan yang sangat penting sebelum memulai bisnis waralaba adalah memilih lokasi yang strategis. Mengapa? Karena LOKASI sangat berperan menentukan tingkat kesuksesan usaha Anda.

Jika tidak atau belum memiliki bayangan seberapa strategis lokasi yang ingin Anda pilih, sebaiknya meminta kepada franchisor untuk memberi gambaran tentang lokasi itu. Atau, mintalah nasehat kepada franchisor dimana sebaiknya lokasi yang tepat untuk usaha Anda.

Biasanya, franchisor melakukan studi (riset) pasar sebelum memberikan persetujuan kepada franchisee. Riset ini salah satunya mengenai trade area franchise untuk mengetahui secara demografis potensi usaha dan informasi yang berhubungan dengan lokasi. Tidak ada salahnya jika Anda meminta lebih rinci gambaran dan potensi lokasi yang direncanakan. Berikut beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi.

1. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk menjadi salah satu indikator besarnya potensi pasar usaha yang ingin Anda geluti, meskipun hal ini belum menjadi ukuran final. Anda bisa menanyakan kepada franchisor, berapa total jumlah penduduk atau rumah tangga yang berada dalam wilayah dagang Anda? Apakah area itu masih memiliki ruang untuk tumbuh? Apakah area itu sudah sangat padat oleh lokasi perumahan atau apartemen dan apa efeknya terhadap franchise? Berapa lama populasi/penduduk itu ada di area itu?

2. Penghasilan
Jika kepadatan penduduk tidak linear dengan daya beli masyarakatnya, maka berarti lokasi itu tidak tepat. Karena itu, perlu Anda cermati bagaimana penghasilan penduduk di area trade Anda. Anda perlu mengetahui, berapa rata-rata pendapatan keluarga di area itu? Berapa income penduduk yang ditargetkan dari usaha Anda? Apakah lingkungan dekat menyukai jika mereka ditawarkan produk dari usaha franchise Anda?

3. Jumlah usaha
Adakalanya, lokasi yang dipilih merupakan pusat atau sentra perdagangan. Nah, apakah banyaknya usaha berpengaruh kepada lokasi? Apakah tipe bisnis di area itu menggunakan produk atau service yang ditawarkan franchise?

4. Tempat
Ada beberapa tipe tempat yang bisa dipilih untuk usaha Anda seperti mal, sentra usaha, perumahan, pinggir jalan dan sebagainya. Anda perlu menanyakan, apakah kebanyakan franchisee yang sukses berada di lokasi franchise seperti di dalam mal, di bagian yang paling ramai, di bagian terpisah dari mal, stand atau bangunan tersendiri atau di sentra industri? Franchisor harus dapat memberikan informasi mengenai tipe-tipe tempat ini.

5. Jumlah Traffic
Berapa banyak kendaraan yang lalu lalang di lokasi itu per harinya? Apakah orang yang lalu lalang akan dapat melihat tanda bisnis (plang) Anda? Apakah lokasinya mudah diakses?

6. Pusat keramaian
Jika lokasi berada di bagian mal, kebanyakan pusat lalu lalang yang terbaik adalah di outlet-outlet makanan. Kadang-kadang, di sebrang jalan mal juga menjadi tempat yang di penuhi orang lalu lalang dan biasanya harga sewanya juga lebih murah. Bisa juga lokasinya di rumah sakit, kampus atau di pusat-pusat orang datang.

7. Akses karyawan
Bisa saja lokasi yang jarak tempuhnya sangat jauh menjadi kontra produktif buat karyawan Anda. Karena itu, lokasi sebaiknya terbilang cukup dekat terutama bagi karyawan utama Anda.

8. Zona
Jika lokasi yang Anda pilih bukan daerah perdagangan atau tidak cocok dengan usaha Anda, sebaiknya tidak dipaksakan. Maka, perlu juga Anda menanyakan, apakah zona lokasi cukup pantas untuk bisnis Anda.

9. Kompetisi
Pertimbangkan juga tingkat kompetisi usaha yang ingin Anda jalankan. Jika di lokasi tersebut sudah jenuh dengan usaha yang menawarkan produk sejenis, bisa jadi lokasi itu menjadi tidak strategis buat Anda. Perlu juga Anda mengenal apa kompetisi yang terdekat dengan usaha Anda?

10. Appearance
Anda pasti ingin usaha Anda terlihat berwibawa dan lingkungan di sekeliling lokasi tidak mengganggu usaha franchise Anda. Tanyakan kepada franchisor, apakah area lokasi cukup bersih dan terkendali? Apakah lingkungannya juga cukup baik?


Selanjutnya, jangan pernah segan-segan meminta franchisor membantu Anda bernegosiasi untuk mendapatkan lokasi yang strategis dan harga sewa yang lebih murah. Karena bisa saja dalam kasus tertentu, usaha tersebut dibutuhkan, misalnya oleh real estat untuk menjaring pasar.

Sumber: plasawarabala
http://www.plasawaralaba.com/home.php?link=article&value=7&date=2007-09-06%2005:00:33
Read more...

Menemukan Usaha Dengan Karakteristik Yang Cocok

Informasi waralaba mulai banyak bertebaran. Para peminat pun sudah banyak menerima informasi dan secara hati-hati telah mempertimbangkan berbagai alternatif.


Anda, barangkali salah satu yang juga telah memutuskan untuk bisa sukses dengan menginginkan usaha sendiri. Lebih khusus Anda telah memutuskan untuk membeli hak waralaba.

Nah, ketika sudah memutuskan untuk membeli waralaba dan mendapatkan banyak informasi, apa yang harus dilakukan berikutnya? Apa yang dapat Anda harapkan dari perusahaan franchise. Bagaimana Anda tahu telah menemukan yang tepat buat Anda?
Jeff Elgin, CEO of FranChoice, Inc punya saran untuk para pencari usaha waralaba sehingga mereka memperoleh yang diinginkan sesuai harapan.


Pra Persiapan
Sebelum memutuskan, langkah pertama yang harus diambil adalah Anda harus hati-hati dan mengevaluasi diri.

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang bisa memandu Anda untuk mengenal sejauh mana Anda mengetahui keinginan dan sejumlah konsekwensinya.

- Apa kekuatan dan kelemahan Anda?
- Apa yang ingin Anda lakukan dan apa yang membuat Anda bahagia di lingkungan kerja?
- Apa yang membuat Anda tidak bahagia atau frustrasi. Apakah Anda menyukai jualan, bekerja dengan customer, mengelola karyawan?
- Apakah teknologinya cukup up to date dan Anda nyaman dengan perubahan?
- Apa yang bisa Anda tolelir menyangkut resiko? Kemudian berikutnya, buat daftar karakteristik yang Anda inginkan di bisnis waralaba. Seberapa penting resiko keuangan bagi Anda?
- Apa yang paling realistis dari investasi dan income Anda yang menjadi tujuan dari bisnis?
- Apa yang Anda rasakan tentang resiko dan status?
- Berapa jam dalam seminggu yang bisa Anda dedikasikan untuk bekerja?


Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjelaskan apa yang Anda butuhkan untuk menemukan bisnis yang cocok dengan preferensi (pilihan) dan keinginan Anda.
Anda akan mendapatkan gambaran seperti apa bisnis Anda di kemudian hari.

Selanjutnya, Anda hanya membutuhkan proses untuk menemukan secara individu perusahaan waralaba dan menentukannya bahwa perusahaan tersebut cocok dengan rencana Anda.

Menemukan Perusahaan Waralaba
Banyak sumber informasi tentang peluang waralaba, entah itu dari buku, iklan atau situs internet. Di sana ada ribuan peluang franchise yang dapat Anda pertimbangkan. Tidak perlu semuanya harus Anda telusuri, cukup mengambil beberapa yang menjadi concern Anda.

Langkah pertama, Anda hanya perlu melihat yang paling memungkinkan buat Anda. Pertimbangkan karakteristik yang sudah Anda identifikasi sebelumnya seperti uraian di atas. Lihatlah industrinya atau sub industrinya lebih dahulu sebelum melihat perusahaannya. Dalam pandangan yang sekilas, terutama dari sisi industrinya, apakah karakteristiknya mendekati kecocokan?

Sebagai contoh, sebut saja Anda telah memutuskan sebuah usaha waralaba yang Anda akan terlibat pekerjaan secara jam kerja normal, yang memiliki sedikit karyawan untuk di-manage, dan Anda hanya perlu mengeluarkan investasi Rp. 150 juta. Kriteria ini akan membuat Anda mengeliminasi banyak ritel dan waralaba di industri makanan, karena di industri ini banyak membutuhkan waktu dan karyawan.

Lebih lanjut, Anda dapat mengabaikan investasi yang tidak Anda inginkan. Apabila Anda tidak mau mengerjakan sendiri, Anda bisa meminta bantuan dari konsultan franchise untuk membantu menemukan yang sesuai dengan kriteria usaha yang Anda inginkan.

Berikut panduan yang Anda butuhkan untuk menemukan perusahaan yang cocok dengan yang Anda cari. Sekali Anda telah mengidentifikasi perusahaan yang terlihat menarik dari permukaannya, maka cobalah pelajari tentang perusahaan itu.

Proses Penyisihan
Ada lima langkah dalam proses investigasi ini yang umumnya dilakukan dalam pencarian usaha franchise. Langkah ini dimulai dengan Anda mengontak perusahaan pemberi hak waralaba di mana Anda menginginkan banyak informasi darinya.

1. Information yang Umum
Franchisor akan mulai dengan menyediakan kepada Anda berbagai informasi perusahaan baik melalui brosur maupun lainnya. Mereka, kemudian akan menanyakan kepada Anda tentang informasi yang mereka sediakan kepada Anda. Dan meminta Anda mengisi atau menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui karakteristik umum yang Anda cari. Asumsinya, masing-masing pihak masih saling tertarik atau pertukaran informasi, yang akan diproses ke langkah selanjutnya.

2. Dokumen Terkait
Anda juga harus mempelajari referensi yang memberikan informasi terkait dengan perusahaan yang ingin Anda bidik. Informasi terpenting yang perlu anda dapatkan antara lain:

- Sejarah perusahaan tersebut dan pendiri serta para direksinya.
- Diskripsi bisnis yang lengkap kenapa di-franchise-kan.
- Semua cost dan fee yang akan dibebankan kepada Anda di bawah perjanjian.
- Semua kewajiban masing-masing pihak selama masa perjanjian.
- Semua yang berhubungan dengan perkara perusahaan atau para pelakunya.
- Semua kegagalan bisnis, perpindahan kepemilikan, term-term perjanjian franchise, atau informasi terkait kesuksessan dari unit-unit existing di dalam system.
- Audit financial setidaknya tiga tahun terakhir.
- Daftar existing franchisee.
- Kopi dokumen perjanjian secara lengkap.

3. Menemui Franchisee
Kebanyakan sumber informasi yang paling akurat adalah dari existing franchisee. Apapun yang Anda temukan yang berlaku pada existing franchisee, secara pasti akan berlaku juga kepada Anda jika jadi investor. Kunjungi mereka untuk meyakinkan Anda.

Lebih dulu, Anda harus menemukan apakah kebanyakan franchisee merasa happy dan supportif. Kadang-kadang sebagian tidak begitu. Dengarkan sejumlah komplain, tetapi juga tentukan apa yang membuat franchisee ini berbeda dengan yang lainnya.

Jika Anda bisa mengidentifikasi secara positif dan objektif, selanjutnya Anda akan baik-baik saja. Jika Anda menemukan diri Anda merasakah seperti kebanyakan franchisee yang tidak happy, bagaimanapun usaha tersebut tidak tepat buat Anda. Berikut daftar area prinsipil yang perlu Anda telusuri selama proses pencarian:

Program pelatihan.
Seberapa baik program trainiung pendahuluan dan dukungan persiapan kepada franchisee untuk membuka dan menjalani bisnisnya?

Support pembukaan.
Seberapa mudah franchisor membuat proses mendapatkan unit pertama dibuka dan dioperasikan?


Ongoing Support.
Seberapa efektif support yang berkelanjutan dari franchisor dalam membantu franchisee dalam menangani promblem setiap hari di dalam menjalankan bisnisnya?

Program pemasaran.
Kebanyakan franchisor mengumpulkan dana untuk kegiatan marketing dari setiap franchisee. Apakah para franchiseee merasakan adanya support dari kegiatan pemasaran tersebut?


Purchasing Power.
Apakah franchisor menggunakan kekuatan kolektif pembelian dengan total sistem untuk mendapatkan diskon dari suplayer?

Hubungan franchisor-franchisee.
Apakah franchisor cukup supportif, fokus meraih sukses, responsif, efektif, organized dan dapat dipercaya?

Investasi.
Apakah seluruh investasi yang dibebankan sangat reasonable?

Penghasilan.
Ini memang masalah kritikal dan perlu sense yang kuat melihat apa yang bisa dihasilkan. Berapa banyak uang yang bisa diberikan dari bisnis itu? Seberapa cepat produk yang dimiliki bisa mendulang uang setelah pembukaan.


4. Temui Franchisor.
Ketika proses pencarian, Anda pasti ingin bertemu secara personal dengan orang kunci di peruasahaan franchise. Boleh jadi Anda akan ketemu berbagai staf kunci. Yakinlah bahwa untuk mendapatkan mereka Anda harus lebih terbuka dengan rencana Anda membuka bisnis.

Anda akan mengharapkan bertemu presiden dari perusahaan itu tetapi dia tidak akan menjawab telepon ketika Anda menghadapi persoalan. Temui secara langsung siapa yang menyediakan operation support dan pelatihan kepada Anda dan dapatkan opini dari mereka yang kompeten. Ingatlah dan catat beberapa pertanyaan atau isu yang mungkin Anda miliki di pertemuan.

5. Buatlah Keputusan
Barangkali waktu yang Anda butuhkan selama proses investigasi memakan waktu empat minggu. Maka berikut, waktunya untuk menyelesaikan atau memutuskan jika perusahaan itu tepat untuk Anda. Betul atau tidak Anda akan tahu. Pada kasus lain, inilah waktunya untuk buat keputusan dan bergerak.


Jika perusahaan tersebut memiliki semua yang Anda inginkan, maka lakukanlah. Jika tidak, tinggalkan dan cari lagi sampai Anda menemukan perusahaan yang tepat.

Sumber: plasawaralaba
Read more...

Abdul Rahman Tukiman - Bocah Gunung Yang Menjadi Pengusaha Sukses

Friday, December 14, 2007

Bocah gunung yang satu ini masa kecilnya dijalani dengan kemiskinan. Beruntung, dari usaha berdagang bakso malang ia kini mejadi pengusaha sukses.

Masa kecilnya dilalui di suatu dusun kecil yaitu desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa timur. Desa itu boleh dibilang secara ekonomi kurang maju. Selain karena terpencil juga kondisi alam sekitarnya yang berbukit batu dan gersang sehingga kurang menguntungkan bagi pertanian. Namun ditengah serba tidak menyenangkan tersebut, menumbuhkan jiwa tangguh, tahan menderita, tidak mudah mengeluh dan tidak pernah mau menyerah dalam diri seoarang anak yang bernama Abdul Rahman Tukiman.

Dilahirkan pada tanggal 4 April 1961 dari pasangan Bapak Saimun dan Ibu Paijem ini, masa kecil Abdul Rahman Tukiman bisa dibilang dilalui dengan cukup berat. Pasalnya, meski orang tuanya memiliki sawah ladang yang cukup luas namun sejak usia 9 tahun ia sudah menjadi anak yatim. Otomatis, sawah ladang yang luas itu pun menjadi semakin seperti tidak bertuan karena tidak ada yang mengelola. Sementara, kakak, adik dan ibunya masih tetap harus makan dan bertumpu pada hasil sawah ladang tersebut. Tidak ada jalan lain, akhirnya untuk menyambung hidup terpaksa petak demi petak sawah telah habis digadaikan. Akibatnya, kehidupan keluarga ini menjadi tidak menentu dan semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Namun kegetiran tersebut tidak lantas terus diratapi olah Cak Man begitu sapaan akrab Abdul Rahman Tukiman. Justru menjadi cambuk. Seiring usianya beranjak ramaja, berbekal tekad yang kuat anak ke 5 dari 8 bersaudara ini kemudian terlecut hatinya untuk keluar dari kemiskinan dengan meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota.

Waktu itu ia belum tahu mau pergi ke kota mana, apalagi uang saku yang dikumpulkan juga kurang. Dalam kondisi yang hampir putus asa, nasib baik pun datang. Tiba-tiba ada seorang pengusaha Bakso bernama Bapak Sumaji tengah mencari pemuda desa untuk diajak bekerja di Malang. Mendengar itu Cak Man tanpa pikir panjang pekerjaannya lantas menyambut tawaran tersebut.

Berdagang Bakso
Meski terasa berat meninggalkan Ibu dan keluarganya, langkah Cak Man tetap mantap untuk bekerja di Kota. Pertama menginjakkan kaki di Malang, semua pekerjaan dilakoninya. Mulai dari membantu memasak bakso, mencuci peralatan masak sampai menyiapkan bakso di rombong/gerobak-bakso yang akan dibawa juragannya berjualan keliling.

Lama-lama pekerjaan itu membosankannya, akhirnya ia pun berniat untuk ikut jualan Bakso keliling juga. “Pertama kali jualan tahun 1980 ketika masih berusia 19 tahun senang banget rasanya,” kisahnya. Tidak diduga, hasil jualan baksonya ternyata laris manis. Alhasil, sejak saat itu berjualan bakso, menjadi hari-hari yang terasa indah baginya karena pendapatannya melebihi apa yang didapatkan ketika masih membantu mencari kayu di desa.

Setelah melewati masa-masa susah dan senang berjualan bakso ditambah pengalaman ikut bersama 3 juragan, terpikir dalam hati Cak Man untuk berjualan sendiri. Karena setelah dihitung-hitung ternyata berjualan sendiri bakso sangat menguntungkan. Namun sekali lagi, semua terbentur modal. Waktu itu Cak Man tidak memiliki uang sama sekali untuk modal usaha.

Baru pada 1984, bermodalkan hasil tabungannya selama 2 tahun sebesar Rp 77 ribu, Cak Man memberanikan diri membuka warung bakso. “Mulailah tahun itu saya berjualan bakso sendiri,” ujarnya.

Prinsipnya pada waktu itu sederhana, “Seperti orang belajar silat,” katanya. Berbekal pengalaman bekerja pada 3 juragan bakso yang masing-masing memiliki jurus andalan, tentunya ia juga bisa uga memiliki jurus ampuh yang merupakan penggabungan dari ketiga jurus andalan 3 pendekar tersebut. “Dengan mengkombinasikan kelebihan dari 3 juragan tersebut, saya yakin bahwa bakso buatannya menjadi jauh lebih unggul dan digemari masyarakat,” imbuhnya lagi.

Seperti halnya usaha-usaha lainnya, pada hari-hari pertama diwarnai ketidak-menentuan, hari ini ramai, hari berikutnya sepi. Menghadapi kondisi seperti ini, bukan malah menyurutkan hati Cak Man untuk berhenti berjualan tetapi makin menambah semangatnya untuk bagaimana membuat baksonya enak dimata pelanggan.

Sukses Digenggaman
Kerja keras dan keuletannya membuahkan hasil. Warung baksonya setiap hari dibanjiri pelanggan. Cabang-cabang lain pun kemudian didirikannya. Kesuksesan lambat laun diraihnya Cak Man. Sampai akhirnya ia memfranchisekan usahanya dan pada Februari 2007 mendirikan PT Kota Jaya, untuk mengurusi manajemen usaha baksonya agar lebih modern.

Hebatnya lagi, kini setelah 23 tahun usaha baksonya berjalan, ia telah memiliki 57 buah gerai dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Dengan asumsi setiap gerai mempekerjakan 16 karyawan (di luar pemilik gerai), maka dengan 60 gerai yang ada saat ini, wong ndeso Cak Man mampu menampung jumlah tenaga kerja sebanyak : 57 x 16 = 960 orang.

Tidak hanya itu, kemana-mana ia kini sudah tidak lagi jalan kaki atau naik sepeda onthel. Ia sudah bisa naik mobil mewah lengkap dengan driver yang selalu siap mengantar kemana ia pergi. Rumahnya pun sangat besar terdiri dari dua lantai seluas 1000 m2. Istrinya adalah Hj. Mariyah Maryatun. Anak pertamanya, Andik Purwanto sedang menyelesaikan kuliahnya di FIA, Universitas Brawijaya, Malang. Anak kedua, Yuli Nur Avianti yang masih duduk di bangku SLTA, dan anak ketika Cantika Putri Rahmadani masih balita.

Meski semua telah diraih, Cak Man tak lantas lupa dengan asal muasalnya yang wong ndeso dan katro. Ia masih rendah hati dan santun terhadap siapapun.

Cak Man mengakui, selama merintis usaha banyak hal berkesan yang pernah dialaminya, terutama pada tahun 1990 – 2000. Contohnya, pada 1993 ia dari hasil jualan bakso ia berhasil membeli mobil bekas buatan tahun 1986. Namun karena rumahnya masih di dalam gang kecil, maka setiap malam ia terpaksa tidur di dalam mobil sambil menunggu mobilnya yang diparkir di tepi jalan.

Disamping itu, ia juga berhasil membuka gerai baru di Jl. Ciliwung, Jl. Mayjen Wiyono dan di beberapa tempat lain di kotamadya Malang. Dari sinilah akhirnya mendudukkan Cak Man dengan Bakso Kotanya sebagai pedagang bakso-malang papan atas yang memiliki gerai terbanyak. Tidak hanya itu, Cak Man kemudian juga mampu membeli rumah di Jl. Kedawung II/11. Rumah baru tersebut disamping sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat memasak dan penampungan para karyawannya.

Meski berasal dari desa di lereng gunung, Cak Man memiliki visi kedepan yang sangat kuat. Cak Man berkeyakinan bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan untuk menggapainya perlu usaha yang sungguh-sungguh dibarengi dengan kemauan belajar kepada siapapun.

“Kunci saya membangun usaha hingga sebesar adalah senantiasa meningkatkan mutu dan layanan, membuat inovasi baru (semula hanya 6 varian saat ini sudah 22 varian), sering mengikuti kegiatan pelatihan, mematenkan merek dagang dan menerapkan manajemen modern,” ujarnya.

Lebih dari itu yang tak kalah penting dan selalu dipegang teguh Cak Man adalah selalu berpikir untuk jangka panjang. “Dahulu kalau hanya berjualan bakso tradisional, saya tidak perlu melakukan macam-macam. Sekarang, tidak bisa diam begitu saja.

Sekarang, Bakso Kota Cak Man sudah memposisikan diri sebagai salah satu resto cepat saji asli Indonesia yang berjuang untuk dapat bersaing dengan resto cepat saji mancanegara seperti KFC, McDonald, Hoka-hoka Bento dan lain sebagainya. Jadi, saya harus berbenah diri untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan,” terangnya.#

Zaziri - PlasaWaralaba
Read more...

Teliti Sebelum Membeli

Saturday, December 8, 2007

Janji franchisor bisa membukukan BEP dalam waktu singkat jangan langsung dipercaya. Perlu kehati-hatian dalam memilih franchise yang prospektif.

Bisnis harus melahirkan profit. Prinsip itulah yang harus dipegang oleh para franchisee atau pembeli waralaba dalam menentukan pilihannya. Jangan pernah terkecoh oleh manisnya janji-janji para franchisor. Tetapi bukan berarti Anda harus mengedepankan kecurigaan yang berlebihan. Franchise terbukti banyak memberikan keuntungan terhadap para investornya. Hanya saja kejelian perlu dimiliki oleh para calon investor.

Sinyalemen Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar perlu menjadi perhatian para franchisee. Disebutkan, dari 129 franchise lokal, hanya 15%-nya saja yang franchiseable atau memenuhi syarat sebagai franchise. Sisanya belum bisa dikategorikan sebagai usaha franchise tetapi sudah mengklaim sebagai usaha waralaba. Mereka ini baru bisa dimasukkan sebagai business opportunity.

Lalu apa yang harus menjadi pegangan bagi franchisee dalam memilih waralaba? Secara instan, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian para franchisee sebelum membeli sebuah usaha franchise.

Pertama, usaha yang difranchisekan tersebut harus sukses dahulu. Bagaimana membuktikannya? Sebuah usaha franchise bisa dikategorikan sukses dapat dibuktikan dengan neraca keuangan rugi laba. Bisa juga dibuktikan dengan kasat mata lewat jumlah customer, misalnya antrian pelanggan di counter usaha tersebut.

Kedua, usaha tersebut memiliki keunikan atau differensiasi. Kunikan yang dimiliki usaha tersebut untuk membedakan dengan usaha-usaha lainnya yang sejenis di industrinya. Mengapa keunikan ini penting? Karena keunikan ini menjadi nilai tambah yang akan menjadi daya tarik bagi customer. Keunikan bisa ditentukan dari produknya, bisa juga lewat layanannya. Sekedar contoh, gado-gado yang menambah bumbunya dengan kacang mede akan berbeda dengan bumbu kacang tanah saja. Jadi, tambahan kacang mede tersebut akan menambah nikmat rasa bumbu gado-gado. Itulah keunikan atau differensiasi.

Lainnya yang juga penting diperhatikan oleh para franchisee adalah usaha franchise yang ditawarkan tersebut harus mempunyai sistem dan standar operasional yang baku. Konsep ini pun implementasinya harus sudah teruji di lapangan, tidak hanya sekedar teori. Maka, tidak salah jika calon investor mencoba untuk mengenal dapur operationalnya secara dalam.Yang tidak kalah penting, franchisee juga perlu mengenal program pemasaran dari franchisor. Program pemasaran ini berkaitan erat dengan masa depan usaha menghadapi tingkat persaingan di industrinya. Program pemasaran franchisor tidak bisa diabaikan begitu saja karena menyangkut upaya untuk meningkatkan awareness dan image brand dari waktu ke waktu.

Investigasi
Sekali lagi, kehati-hatian menjadi factor penting bagi franchisee dalam memilih franchise untuk menghindari kegagalan di masa depan. Sekarang ini, perkembangan usaha franchise sangat pesat dan terus tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Tetapi, data yang ada menunjukkan peluang sukses waralaba baru 60%. Fakta tersebut kalah jauh dibandingkan dengan di Amerika yang peluang suksesnya di atas 90%. Karena itu, franchisee perlu melakukan investigasi terhadap usaha yang diliriknya sebelum memutuskan untuk membelinya.

Investigasi yang perlu dilakukan para franchise menyangkut :

Pertama, kredibilitas dan akuntabilitas franchisor serta bisnis franchise-nya. Mengapa ini perlu dilakukan? Setidaknya untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti bahwa usaha yang akan dibeli itu bisa diandalkan. Caranya, periksa reputasi perusahaan tersebut dan nama-nama pemegang sahamnya. Para franchisee bisa mengusut dan menanyakan siapa para CEO-nya, latar belakang mereka dan bagaimana komitmen mereka terhadap usahanya itu. Jika mereka termasuk yang hit and run, sebaiknya ditinggalkan saja.

Kedua, Franchisee juga perlu mengetahui secara jeli struktur organisasi dari perusahaan franchise dan fungsi dari bidang masing-masing. Kenapa ini perlu? Perusahaan yang tidak solid, sudah pasti tidak akan bisa bertahan lama. Nah, kekompakan sebuah perusahaan bisa dilihat dari struktur organisasinya dan staf-stafnya yang mengisi pos masing-masing bagian. Mereka yang mengisi pos-pos di setiap bagian struktur organisasi tersebut yang akan membantu dan memberikan support kepada para franchisee. Jika tidak solid dan tidak kapabel, bagaimana mungkin bisa memberikan advice kepada para franchisee.

Ketiga, jangan hanya mengandalkan investigasi dari luar, lakukan juga dari dalam perusahaan franchisor. Langkah ini perlu dilakukan untuk mengukur klaim yang dilakukan franchisor kepada para investornya. Caranya, datangi perusahaan franchisor, amati suasana dan keadaan di perusahaan tersebut. Cobalah berbicara dengan para staf di perusahaan tersebut untuk mengetahui sistem bantuan yang akan diberikan nantinya.

Keempat, cari tahu siapa saja para franchisee dari usahan tersebut dan berdialoglah dengan mereka. Sebab, dari mereka ini informasi bisa didapat lebih objektif, sekaligus untuk mendapatkan data penjualan dan kemungkinan keuntungan yang bisa diraih. Jika ada mantan franchisee dari usaha ini, perlu juga dikejar untuk mengetahui sebab-sebab pemutusan hubungan.

Kelima, bandingkan dengan dua atau tiga usaha franchise sejenis atawa kompetitornya untuk mendapatkan perbandingan yang lebih objektif sebelum memutuskan membelinya. Bisa jadi, punya kompetitor usaha franchise tersebut jauh lebih baik.

Terakhir, cari second opinion dari sang ahli atau para konsultan franchise sebelum memutuskan membeli waralaba. Pendapat para ahli ini bisa menjadi panduan paling sempurna untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan, baik menyangkut hukum, brand peruahaan maupun peluang bisnisnya.

Dari berbagai sumber
Read more...

TX TRAVEL Kerjasama Dengan Reliance

Friday, December 7, 2007

Reliance Pacific Berhad (RBP), perusahaan agen perjalanan (travel agent) asal Malaysia menggandeng TX Travel untuk memperluas jaringan pemasarannya.

Reliance merupakan salah satu agen perjalanan terkemuka di Asia dan telah bergerak di bisnis ini selama 38 tahun. Perusahaan ini telah masuk bursa Malaysia pada 1993. Reliance memiliki jejaring tersebar di 30 kantor di Malayaisa dan Singapura, 300 distributor di Malaysia 200 agen dan wholesaler di 30 negara di dunia.

Menurut Tan Sin Chong, Managing Director Reliance, kerjasama ini merupakan salah satu strategi untuk memperluas jangkauan. Indonesia adalah negara dengan populasi penduduk yang besar 250 juta jiwa, merupakan potensi yang belum tergarap. “Dengan kerjasama ini saya berharap dapat meningkatkan volume penjualan sebesar RM 8 – 10 juta hingga akhir Maret 2008. Dan, kami prediksikan akan meningkat 100% pada 2009 nanti,” katanya.

TX Travel dipilih lantaran waralaba perjalanan ini tumbuh dengan pesat di Indonesia. TX Travel memiliki jaringan distribusi di seluruh Indonesia. TX Travel berdiri pada 2004 lalu sebagai bagian divisi ritel dari Jakarta Express yang sudah berdiri sejak 1991 sebagai Travel Wholesale. Perusahaan ini sudah melayani ribuan agen perjalanan di Indonesia dengan kantornya di Jakarta, Surabaya, bandung, Medan, Semarang dan Batam.

Menurut Anthonius Teddy, Managing Director PT Jakarta Express Utama—pengelola TX Travel—kerjasama dengan Reliance akan meningkatkan penjualan dan melengkapi produk yang ditawarkan TX Travel seperti : penjualan tiket pesawat, voucher hotel, paket tur pesawat, kapal pesiar dan sebagainya.

Sumber: Majalah Pengusaha
Read more...

Membeli Waralaba Setelah Usia 55

Tuesday, November 27, 2007

Dulu ketika seseorang memasuki usia 55, biasanya orang tersebut akan mempertimbangkan untuk pensiun. Namun, sekarang 55 seperti baru 35. Yang usianya 50-an, kini menyadari mereka memiliki banyak hal tersisa yang bisa ditawarkan dan juga pengalaman.

Mereka banyak menghabiskan waktu bukan memikirkan pensiun, namun menghitung apa yang mereka ingin kerjakan untuk masa dewasa yang kedua kalinya.

Banyak yang berada dalam golongan ini adalah kumpulan orang yang mempunyai waktu dan energi untuk panggilan baru. Banyak pula yang menyadari setelah bertahun-tahun di dunia perusahaan kemudian mereka menginginkan fleksibiltas dan kesempatan lebih yang hasilnya langsung terkait dengan kerja.

Apakah tujuannya untuk menghasilkan kekayaan, untuk memberi dan membantu orang lain atau agar tetap memiliki kesibukan dan kreativitas, maka kian banyak orang di atas usia 55 berpikir untuk mengejar American Dream bagi mereka. Kita menyaksikan banyak di antara mereka beralih ke peluang franchise sebagai alternatif untuk memulai bisnis mereka dari awal.

Franchise memiliki sejarah yang dinamis.
Ray Kroc di usia 50-an ketika memulai McDonald’s, sedangkan Kolonel Sanders lebih dari 65 saat mengawali Kentucky Fried Chicken. Banyak pewaralaba aktif mencari terwaralaba yang lebih dari 55, sebab mereka memiliki pengalaman, kearifan dan sumber daya kapital yang telah dikembangkannya sehingga bisa menopang secara baik waralaba.

Jika anda menginginkan waralaba bagus yang cocok bagi anda sebagai terwalaba manula, pertimbangkan elemen-elemen suksesnya waralaba berikut ini:

Pahami peranan waralaba.
Selalu penting untuk memahami apa yang akan kerjakan dari hari ke hari. Dalam waralaba, hal ini mungkin kecil seperti melayani konsumen dengan produk atau jasa, ketika fokus anda mungkin pada bisnis yang lain. Ingat juga bahwa setelah bertahun-tahun mempunyai bos, kini anda akan menjalaninya, dan berarti perlu nyaman dengan tanggung jawab tersebut.

Berusaha nyaman melakukan pekerjaan di semua tingkatan.
Setelah menghabiskan tahunan di dunia perusahaan anda mungkin tidak bisa lagi mendelegasikan pekerjaan. Anda perlu secara hati-hati mempertimbangkan apakah anda akan oke bertindak sebagai CEO hingga mengurus toilet. Meletakkan aset pribadi anda dalam risiko. Kebanyakan orang mengakumulasi aset yang substansial ketika mencapai usia 50-an dan mungkin tak menginginkan risiko atas aset tersebut.
Pertimbangkan dengan hati-hati sumber keuangan yang akan dipakai membiayai bisnis anda khususnya jika dari rekening pensiun, sebelum mencari waralaba.

Ubah gaya hidup anda.
Banyak yang ketika mencapai usia 55 mereka memutuskan ingin lebih bergaya fleksibel yang memebrikan banyak waktu, kesempatan bepergian, atau prioritas lain. Ketika menginvestigasi bisnis waralaba potensial, pastikan peranan terwaralaba hubungannya dengan masalah gaya hidup.

Siapkan rencana keluar (exit plan).
Meskipun hal ini menjadi pertimbangan penting bagi semua terwaralaba (franchisee), namun lebih khusus untuk mereka yang sudah lewat usia 55. Putuskan berapa lama lagi anda ingin bekerja dan apa yang akan dilakukan jika anda sudah menemui saat dimana tak ingin melakukannya lagi. Apakah anda ingin menjual atau mewariskannya. Anda sebaiknya memulai proses ini (waralaba) dengan menetapkan akhirnya di benak.

Anda bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan selama proses menemukan kembali (reinventing) diri anda dalam hidup ini.
Anda mendapatkan peluang bagus kedua untuk membangun hidup yang lebih berarti bagi anda dan juga memberikan pengambalian finansial. Hal yang perlu dilakukan adalah meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh berpikir apa yang diinginkan dengan kepemilikan bisnis tersebut dan investigasi semua peluang secara baik untuk memastikan bahwa anda memilih yang memberikan sesuautu yang penting menurut anda.

Pilih waralaba yang anda inginkan menjadi terwaralaba
Anda akan sangat populer ketika memulai mengontak mereka, sebab pengalaman hisup anda, kecerdasan bisnis dan stabilitas keuangan. Anda bisa membantu kedua sisi transaksi dengan mengomunikasikan kepada diri anda dan perusahaan waralaba diman anda hendak menjalankan bisnis dan apa yang ingin anda capai. Dengan sedikit ketelitian dan gagasan, tahun-tahun terbaik akan ada di hadapan anda.

Sumber: Entrepreneur.com Read more...

KidZania, Waralaba untuk Si Kecil

Saturday, November 24, 2007

Ana Shofiana S - detikfinance

Kecil-kecil sudah jadi kasir supermarket. Jangan curiga dulu, ini bukan pekerja anak tapi bocah cilik yang sedang berperan menjadi orang dewasa.
Anak-anak kecil yang berperan jadi orang dewasa itu sedang bermain di kota edutainment KidZania. Kota anak-anak ini juga punya mata uang sendiri KidZo.

Ya, KidZania, waralaba taman bermain dan belajar itu kini hadir di Jakarta, lantai 6 Pacific Place Mall, kawasan niaga terpadu Sudirman (SCBD). Kidzania yang asal Meksiko itu baru ada di Meksiko dan Jepang.

Di Indonesia, KidZania ada di bawah bendera PT Aryan Indonesia. Untuk mendirikan kota kecil di Jakarta ini, PT Aryan mengeluarkan kocek sebesar US$ 15 juta.
"Tapi 100 persen ini punya kita. Hubungan dengan Mr Xavier hanya franchise saja," kata President Kidzania Indonesia Muhammad Riza, dalam jumpa pers di Pacific Plaza Shopping Mall, kawasan SCBD, Senayan, Sabtu (24/11/2007).

Indonesia adalah negara kedua yang mengambil franchise tempat bermain yang pertama didirikan oleh Xavier Lopez Ancona di Santa Fe Shopping Mall, Meksiko, pada 1 September 1999.

Jakarta dengan jumlah penduduk 16,55 juta penduduk, dan 29,1 persen diantaranya dianggap menjadi pasar potensial untuk perkembangan KidZania. Selanjutnya PT Aryan Indonesia akan membidik Surabaya sebagai kota KidZania berikutnya di Indonesia.

Beberapa perusahaan tertarik bergabung dengan PT Aryan untuk ikut berpartnership
atau mensponsori. Misalnya Air Asia untuk flight simulation, BCA untuk ATM dan Bank, Pepsodent untuk klinik gigi, dan masih banyak lagi perusahaan yang ikut ambil bagian membangun kota yang memang dikhususkan untuk anak berusia 1 hingga 13 tahun ini. Tercatat 32 perusahaan ikut nimbrung di sini.

Dengan luas area 7.500 m2, KidZania bisa memuat 2.400 anak-anak setiap harinya.
Dalam sehari, Kidzania membuka dua sesi. Sesi pertama dimulai pukul 09.00-14.00 WIB, sesi kedua mulai pukul 15.00-20.00 WIB.

Anak-anak yang bermain di kota liliput ini cukup merogoh tiket Rp 75.000 (2-3 th), Rp 111.000 (4-13 th) dan Rp 90.000 (di atas 13 th). Sedangkan tiket Sabtu, Minggu dan hari besar masing-masing menjadi Rp 95.000, Rp 150.000, Rp 150.000.

Xavier sebagai CEO meyakinkan bahwa Kidzania akan menarik hati anak-anak. Setelah di Jakarta. Kidzania akan dibangun di Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Portugal dan Spanyol. Paling lambat tahun 2009, Kidzania sudah dibuka di 4 negara tersebut. (ana/ir)

Sumber : detikfinance
Read more...

Peluang Usaha Waralaba Pulsa Telepon

Monday, November 19, 2007

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Jakarta - Telepon seluler alias ponsel kini bukan lagi barang mewah. Apalagi bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.
Mulai dari pedagang asongan, sopir bajaj, tukang ojek, dan satpam pun kini semuanya mengantongi ponsel.

Tren itu menimbulkan berbagai peluang usaha yang bisa mendatangkan uang. Misalnya bisnis pulsa yang takkan mati karena kebutuhan pulsa yang tiada henti.

Untuk menjangkau konsumen low-end seperti diatas, perusahaan layanan telekomunikasi mengeluarkan paket pulsa yang murah meriah. Pulsa kini dijual mulai dari Rp 5 ribu.
Untuk memangkas biaya kemasan dan distribusi, pulsa dijual dengan sistem elektronik. Lebih praktis, cepat, dan hemat.

Peluang bisnis seperti ini yang ditangkap Hitam Putih Electronic Voucher. Meski sudah banyak yang membuka bisnis serupa, tetap saja masih banyak konsumen pulsa yang harus dilayani.
"Provider operator mengalokasikan voucher isi ulang dalam bentuk voucher 90% dan fisik 10%," kata Manager Hitam Putih Agung Hendy kepada detikFinance.

Hitam Putih menawarkan beberapa kelebihan seperti layanan transaksi 24 jam, proses transaksi yang cepat, dan harga kompetitif. Hendy optimistis bisnis seperti ini akan prospektif dan bisa mendapat return of investment kurang dari satu bulan.

Modal awal yang harus disediakan bekisar Rp 10-70 juta, tergantung jumlah outlet yang diinginkan. Anda tinggal menyediakan lokasi maksimal 2x2 m ditempat yang strategis, ponsel, dan tenaga pelaksana yang akan ditraining.

Dengan modal Rp 10 juta misalnya, Anda akan mendapat satu outlet khas Hitam Putih yang mencakup satu handphone untuk operasional, satu papan harga pulsa, satu buku nota dan kalkulator, dan dua kursi duduk.
Anda juga mendapat paket promosi usaha, deposit voucher elektronik untuk semua operator senilai Rp 1 juta, dan training.

Di setiap pulsa yang Anda jual, keuntungan minimalnya Rp 1.500 (jenis operator apapun). Dengan asumsi setidaknya terjadi 50 transaksi setiap harinya, maka omset per hari Rp 75.000.
Dalam sebulan keuntungan menjadi Rp 2.250.000. Jika dikurangi gaji pegawai misalkan Rp 600.000, sewa tempat Rp 100.000, dan pembayaran royalti fee 7% Rp 157.500, maka laba bersih per bulan jadi Rp 1.392.500.

Mmmm....tertarik?

Anda bisa menguhubungi kantornya di Jl Affandi (Gejayan) No 20 Yogyakarta. Telp (0274) 582347 Email: my_hitamputih@yahoo.com. (lih/qom)

Sumber : detikfinance
Read more...

Peluang Usaha Langsing dengan Waralaba

Friday, November 16, 2007

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Ingin melangsingkan badan di pusat kebugaran? Pasti banyak diantara Anda yang langsung mengurungkan niat begitu mengetahui biaya yang harus dikeluarkan.
Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan dari kantong Anda untuk mendapatkan tubuh ideal mencapai Rp 3-10 juta untuk setiap kali terapi.

Padahal, untuk mencapai bentuk tubuh yang diinginkan, biasanya dibutuhkan 3-4 kali terapi. Jadi tinggal dikalikan saja, mahal kan?

Melihat kondisi seperti ini, Roni Poniman yang sejak 1980-an berkecimpung di dunia pelangsingan tubuh berkeinginan menciptakan fasilitas pelangsingan tubuh yang murah meriah.

Dengan alat yang disebut Body Renova, setiap terapi pelangsingan tubuh hanya dibandrol Rp 60.000. Kalau mengambil paket lima kali terapi, Anda dapat satu kali gratis terapi. Bahkan jika mengambil paket 10 kali terapi dapat gratis dua terapi.

Dibawah bendera My Body Slim, Roni berhasil menggaet konsumen hingga 100 pasien per harinya dengan moto Low Cost Slimming Center.

My Body Slim kini bisa ditemukan di beberapa rumah sakit terkemuka. Dan rencana selanjutnya adalah memperluas jaringannya dengan konsep franchise.
"Yang kita incar adalah dengan membuka outlet di ruko-ruko perumahan. Jadi dekat dengan konsumen," kata Roni pada detikFinance.

Modal untuk membuka waralaba 'My Body Slim' sekitar Rp 115 juta. Roni menjamin, investasi itu bisa balik modal kurang dari satu tahun.
"Karena setiap harinya bisa datang pasien 30-150 orang," lanjutnya.

Dengan modal itu, franchisee akan mendapat 6 unit mesin Body Renova, dan seperangkat software database sidik jari.
Jadi, setiap pasien cukup menggunakan jarinya untuk mengecek catatan terapinya. "Paperless," tegasnya.

Franchisee juga akan mendapat pelatihan khusus dan alat kedokteran lainnya seperti support serum.
Yang unik dari pusat pelangsingan ini adalah proses terapi yang berbeda dengan pusat pelangsingan lainnya.

Pasien yang berobat cukup duduk manis dibelit alat penggempur lemak (Body Renova) bersama dengan lima pasien lainnya dalam satu ruangan. Saat alat penggempur lemak itu bekerja, Anda dan pasien lainnya akan disuguhi penjelasan mengenai obesitas.

"Jadi kita juga melakukan edukasi untuk merubah mindset pasien sehingga mereka mau merubah pola hidupnya," katanya.

Ditengah maraknya obesitas yang melanda masyarakat, terapi pelangsingan yang murah meriah sudah pasti ditunggu.

Anda tertarik?

Hubungi My Body Slim: Jl. KH Wahid Hasyim No 62 C, Jakarta 10350. Telpon 39833810, Fax: 3923859
Atau email: ronitopmaster@yahoo.com.sg
(lih/qom)

Sumber : detikfinance
Read more...

Waralaba : Alternatif Usaha Dimasa Pensiun

Wednesday, November 14, 2007

Bagi para manager, dewan direksi atau pimpinan di instansi pemerintah, memasuki masa pensiun merupakan periode kehidupan yang cukup kritikal, tidak jarang seorang yang demikian aktif dan produktif semasa bekerja, setelah memasuki masa pensiun kondisi fisik dan produktifitasnya menurun dengan cepat.

Saking sibuknya ketika bekerja sampai tidak memiliki persiapan ketika masa pensiun tiba. Ibarat mobil yang selama ini bekerja aktif tiba-tiba harus dimasukkan garasi, sehingga kondisi mesinnya memburuk karena jadi jarang dipanaskan dan dipakai.

Di dalam Franchise Brief yang diterbitkan oleh IFA (international Franchise Associations); dikisahkan tentang kegalauan Sally Haufman (62 tahun) yang baru saja pensiun setelah berkarir selama 40 tahun di bagian penjualan di IBM. Ketika ia pensiun di usia 61 tahun; Ia sudah lama berangan-angan untuk menjadi bos sendiri. Namun pertanyaannya Bos seperti apa? Berkaitan dengan keterbatasan dana dan usia; Ia pada waktu itu berpikir hanya ada dua pilihan yaitu menjadi broker real estate atau membeli hak waralaba.

Ia memilih opsi kedua, dan saat ini ia memiliki dua outlet fitness khusus wanita yang bernama "Slim & Tone" di daerah Pensylvania.

Menurut Franchise Info Mall Inc, saat ini di Amerika Serikat jumlah franchisee yang memulai usaha waralaba diatas usia 55 tahun terus mengalamai kenaikan. Lima tahun lalu jumlah franchisee di usia pensiun hampir 0%. Tahun ini jumlah kelompok usia pensiun yang membeli hak waralaba telah mencapai 8%. Hal ini diakui pula oleh PostNet salah satu perusahaan waralaba di Amerika, yang menyatakan bahwa dari tahun 2002 jumlah franchisee yang berusia di atas 50 tahun telah meningkat dari 20% menjadi 35% di tahun ini.

Mengapa bisnis waralaba cocok untuk para pensiunan berdompet tebal? Beberapa fakta dari usaha waralaba berikut merupakan jawabannya:

1. Bisnis waralaba merupakan format bisnis yang bekerja dengan sistem cloning.
Franchise tidak perlu memiliki pengalaman sebelumnya di bisnis yang akan digeluti. Franchisor (Pewaralaba) akan menyediakan berbagai panduan yang lengkap untuk menuntun franchisee (Terwaralaba). Ibaratnya franchisee cukup mengikuti instruksi dan mencontoh apa yang dilakukan oleh franchisor.

2. Masa pembelajaran usaha waralaba lebih singkat dengan sukses rate yang jauh lebih tinggi dibandingkan membuka usaha secara konvensional, dengan membangun merek sendiri. Sehingga bagi para pensiunan yang memiliki dana dan usia relatif terbatas, format waralaba sangat cocok dimasuki.

3. Terdapat berbagai pilihan usaha waralaba yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dana, latar belakang pengalaman dan hobi dari para pensiunan. Mulai dari berjualan jagung rebus sampai berjualan kavling di internet (internet service provider).

Jika memang demikian, sudah saatnya bisnis waralaba dijadikan alternatif investasi bagi para pensiunan pemilik modal di Indonesia. Uang pensiun tetap berkembang, alih-alih menambah pengangguran malah mampu memberikan lapangan kerja dan paling tidak memberikan warisan yang lebih bernilai berupa kail & pancing bagi anak cucu, bukan sekedar ikan yang gemuk.

Nah, selamat berwaralaba.

Sumber : SMfranchise (c) Read more...

Peluang Usaha Singkong pun Bisa Diwaralabakan

Tuesday, November 13, 2007

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Apa yang ada di benak Anda mendengar singkong? Pasti singkong rebus, singkong goreng, banter-banter singkong bakar dan kripik singkong.
Bagaimana kalau singkong lapis cokelat atau strawberry? Kalau rasa jagung bakar? Hmmm, pastinya lebih yummy.

Singkong aneka rasa itu bukan sekadar angan-angan belaka. Firmansyah Budi pun mengubah cemilan rakyat itu menjadi komoditi bisnis yang menggiurkan. Hanya bermodal alat dapur ibunya.

Desember 2005, ia memulai bisnis singkong (dalam bahasa Jawa disebut tela dari ketela) ini dengan merek dagang Tela Krez. Januari 2006, ia memutuskan mengembangkan bisnisnya dengan konsep waralaba.

Tak sia-sia, Tela Krez kini memiliki 120 outlet di 22 kota Indonesia. Bermula dari Yogyakarta, Jakarta, Malang, Surabaya, Ciledug, hingga Samarinda dan Makasar.
Kebanyakan orang ingin ikut menjajakan Tela Krez karena modal usaha yang murah. Hanya dengan Rp 3,5-4,5 juta, Anda bisa memulai bisnis ini.

Dengan modal itu, Anda mendapat sebuah outlet dengan peralatannya dan bahan baku awal. Anda juga bebas franchise fee selama 3 tahun. Tak hanya murah, return of invesment-nya juga cepat, hanya sekitar satu bulan.

Anda bisa memilih outlet permanen yang bisa ditempatkan di pusat perbelanjaan atau outlet dorongan yang bisa berkeliling.
Ada belasan rasa singkong yang bisa dijual. Penjualan normalnya mencapai 20-200 pack setiap hari, tergantung lokasi outlet. Setiap pack dijual variatif mulai Rp 3.000.

"Karena murah, anak SD juga bisa beli, karena empuk orang tua juga suka," kata Firmansyah pada detikFinance di sela-sela pameran waralaba akhir pekan lalu.
Jika penjualannya mencapai 20 pack sehari, maka omsetnya sekitar Rp 1,8 juta per hari.

Kalau ingin lebih mantap lagi, Anda bisa menanamkan Rp 5-6 juta sekaligus. Sama seperti sebelumnya, Anda mendapat outlet, perlengkapan, dan bahan baku awal. Tapi Anda bisa bebas franchise fee selama 5 tahun plus jaminan modal kembali dalam satu tahun.
Selain karena modal yang murah, dan return of investment yang cepat, risiko usahanya juga relatif kecil karena bisnis makanan bisa dipastikan tak pernah sepi.

Tela Krez juga pernah meraih penghargaan Indonesia Small Medium Business Entrepenuer Award 2007 kategori makanan tradisional dengan nilai ekonomis tinggi.

Berminat? Silakan menghubungi no telepon Firmansyah: 0274-7000211 atau email: homygroup@yahoo.com. (lih/qom)

Sumber : detikfinance
Read more...

9 Pertanyaan Wajib Sebelum Memiliki Waralaba

Sunday, November 11, 2007

John Naisbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends, menyatakan bahwa waralaba merupakan konsep pemasaran yang paling berhasil selama sejarah umat manusia.

Di Amerika Serikat setiap delapan menit sekali dibuka satu outlet waralaba. Hampir 40% dari usaha retail dijalankan dengan konsep waralaba. Di negara yang lebih muda perkembangan waralabanya, misalnya Malaysia, konsep waralaba hanya menguasasi 5% dari total industri retail.

Di Indonesia sendiri saat ini waralaba sudah mulai menunjukkan trend peningkatan dan kerap menjadi topik perbincangan bisnis baik di media maupun dalam praktek keseharian. Akibatnya semakin banyak orang yang tertarik untuk membeli hak waralaba. Namun sayangnya data yang ada menunjukkan bahwa peluang sukses waralaba di Indonesia hanya mencapai sekitar 60% saja. Bandingkan dengan di Amerika Serikat yang dapat mencapai diatas 90%.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan panduan kepada calon pembeli hak waralaba (calon franchisee), berupa pertanyaan-pertanyaan untuk menggali apakah waralaba cocok untuk dirinya atau tidak. Terdapat 9 pertanyaan yang harus dievaluasi, yaitu:

1. Apakah kita bersedia mengambil resiko menjadi seorang wirausaha?
Bagi yang terbiasa menjadi karyawan, kemudian banting stir menjadi pemilik; tentunya pola kerja, sikap dan resiko yang akan dipikulnya berubah 180 derajat. Jam kerja bukan lagi 40-60 jam seminggu namun akan bertambah menjadi 60-70 jam per minggu bahkan lebih. Sudah siapkah kita menghadapi semua ini?

2. Apakah kita akan menyukai cara berbisnis dengan format waralaba?
Banyak franchisee gagal dalam berusaha karena pada saat membeli hak waralaba, ia hanya membayangkan untuk menjadi kaya dan mendapatkan banyak uang. Namun setelah bisnisnya berjalan, ia merasa tertekan dan tidak menyukainya. Akhirnya usaha tersebut gagal.

Paradigma yang menyatakan bahwa memiliki bisnis sendiri berarti kita memiliki kebebasan dalam berkreasi dan mengaktualisasikan diri, harus dibuang jauh-jauh. Jika ingin membeli hak waralaba, kita, walaupun pemilik, harus suka untuk diatur oleh franchisor. Jika kita tipe orang yang tidak suka diatur orang lain, maka waralaba bukanlah bisnis yang tepat.

3. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dan berinteraksi dengan orang-orang?
Usaha waralaba banyak terkait dengan hubungan orang ke orang. Hubungan dengan karyawan, pemilik dana, franchisor, suplier maupun pelanggan. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dengan orang banyak? Jika ya, maka usaha waralaba mungkin cocok untuk kita.

4. Apakah kita memiliki modal yang cukup untuk membeli hak waralaba?
Banyak usaha waralaba gagal karena kekurangan modal kerja di tengah jalan. Jadi untuk meningkatkan peluang sukses, lebih baik jika kita memiliki modal lebih banyak dari yang disyaratkan oleh franchisor. Untuk itu paling tidak kita musti memperhitungkan modal kerja untuk 6 bulan sampai satu tahun ke depan.

5. Apakah kita telah mempelajari semua dokumen yang berkaitan dengan aspek hukum dari franchisor?
Umumnya sebelum kita memutuskan untuk membeli hak waralaba, Franchisor akan memberikan dokumen penawaran yang dinamakan Franchise Offering Circular.
Dalam PP No 16 Tahun 1997 dijelaskan di pasal 3 ayat 1, bahwa di dokumen ini harus tercantum paling sedikit hal mengenai:

a. Pemberi Waralaba, berikut keterangan mengenai kegiatan usahanya;
b. Hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang menjadi objek Waralaba;
c. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Penerima Waralaba;
d. Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba;
e. Hak dan kewajiban Pemberi dan Penerima Waralaba;
f. Pengakhiran, pembatalan, dan perpanjangan perjanjian Waralaba serta hal-hal lain yang perlu diketahui Penerima Waralaba dalam rangka pelaksanaan perjanjian Waralaba.

Selain itu dalam PP yang sama Pasal 3 ayat 2, dicantumkan pula bahwa Pemberi Waralaba (Franchisor) wajib memberikan waktu yang cukup kepada Penerima Waralaba (Franchisee) untuk meneliti hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Di Amerika Serikat, tenggang waktu ini lamanya minimum 10 hari kerja.

6. Apakah Franchisor yang kita minati merupakan perusahaan yang solid, liquid dan sukses?
Franchisor wajib memberikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kepada calon pembeli hak wralabanya. Laporan ini paling tidak membrikan informasi keuangan untuk periode 3 tahun. Selain sisi keuangan, kita juga mesti menilai apakah merek yang akan kita beli cukup dikenal dan memiliki image positif di pasar?

7. Apakah Franchisee yang ada sekarang secara umum gembira dan sukses atas usaha mereka?
Tanyakan pada franchise yang ada saat ini apakah mereka gembira dan puas atas putusan mereka membeli hak waralaba tersebut? Apakah investasi tersebut menguntungkan mereka? Jika jawaban kedua pertanyaan tersebut Ya, mungkin brand waralaba tersebut layak untuk dibeli.

8. Apakah anda menyukai staff franchisor yang mensupport anda?
Salah satu kunci sukses dari waralaba adalah adanya support dan bantuan yang terus menerus dari franchisor melalui staff franchise support mereka. Untuk menciptakan sinergi, maka kita harus cocok dengan staff tersebut. Jika tidak coba diskusikan dengan franchisor apakah dapat dicarikan alternatif staff pengganti?

9. Apakah kita mendapat dukungan dari keluarga?
Menjadi franchisee bukanlah pekerjaan paruh waktu, namun peklerjaan full time yang menyita waktu pribadi dan waktu keluarga. Apakah keluarga kita mendukung dalam hal ini?Jika jawaban atas 9 pertanyaan tersebut positif, maka jangan sia-siakan peluang yang disediakan oleh waralaba.
Selamat menjadi kapitalis baru!

Sumber: - Franchise Opportunities Guides
- SMfranchise
Read more...

J.Co Franchise Favorit di Malaysia

Saturday, November 10, 2007

Indro Bagus SU - detikfinance

Bisnis waralaba di Malaysia tidak seatraktif di Indonesia karena lebih banyak diisi pemain bermodal besar. Tapi J.Co, waralaba asli Indonesia mampu menembus pasar Malaysia.

Donat J.Co, menjadi salah satu franchise yang difavoritkan konsumen negeri jiran, dan menjadi salah satu waralaba asing terbesar di Malaysia.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh CEO Malaysia International Franchise Sdn Bhd, Shahrul Aslan Mohd Zulkifli, dalam seminar 'Franchise & License Indonesia Expo 2007' di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (10/11/2007).

Shahrul mengakui kondisi bisnis waralaba di negaranya tidak berkembang luwes seperti di Indonesia. Ada berbagai sebab mengapa franchise bermodal kecil susah berjaya di Malaysia. Tantangan utamanya adalah, biaya retail premises di Malaysia cukup tinggi, yaitu sekitar US$ 5-8 per meternya.

"Oleh sebab itu, bisnis ini tidak berkembang besar, kecuali untuk brand-brand besar yang memiliki modal yang memadai," ungkap Shahrul.

Ia menambahkan, jumlah mal di Malaysia tidak sebanyak di Indonesia. Tren yang berkembang di Malaysia, adalah berkembangnya franchise besar berupa hipermarket asing, bukan dalam bentuk mal-mal.

"Hambatan selanjutnya adalah, bank komersial di Malaysia tidak tertarik memberi pinjaman untuk membuka usaha franchise. Tidak seperti di Indonesia, industri ini didukung oleh kucuran dana dari bank komersial," jelas Shahrul.

Kebanyakan franchise asing di Malaysia mendapat tentangan dari pelaku pasar lokal, terutama dari sektor bisnis kecil. Dampaknya, franchise asing yang mendapat tentangan itu, tersingkir ke pinggiran kota, seperti misalnya hipermarket asing.

Per 31 Oktober 2007, jumlah franchise di Malaysia mencapai 318 brand. Jumlah yang tidak banyak ini, jelas Shahrul, karena di Malaysia franchise lokal sulit berkembang.

"Sebagaimana hambatan-hambatan tadi, franchise lokal di Malaysia sulit menyaingi brand asing yang ada. Tidak seperti di Indonesia, brand franchise lokal yang tidak besar pun bisa berkembang," kata Shahrul. (ir/ir)

Sumber : detikfinance
Read more...

Malaysia Beli Waralaba Auto Bridal

Satu lagi perusahaan waralaba (franchise) asli Indonesia dilirik investor asing.
Malaysia melalui Perbadanan Nasional Berhad (PNS) membeli master franchise waralaba Autu Bridal.

Penandatanganan Letter of Intent (Lol) dilakukan antara CEO Auto Bridal Fangky C Hartati dengan CEO PNS, Syahrul Aslan Mohammad Zulkifli, disela-sela 'Franchise & License Indonesia Expo 2007' di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (10/11/2007).

Dengan membeli master franchise ini maka kepengurusan untuk membeli franchise Auto Bridal di Malaysia, tidak perlu ke Indonesia melainkan ada dibawah wewenang PNS.

Untuk tahap pertama pengembangan Auto Bridal di Malaysia, PNS akan membangun semi automatic car wash di 200 pompa bensin Petronas milik pemerintah Malaysia, "Semi automatic car wash ini adalah produk baru, karena di Indonesia kita tidak punya semi automatic car wash, itu nanti hanya ada di Malaysia," kata Fangki.

Selanjutnya pada tahap kedua, akan dibangun outlet Auto Bridal seperti yang ada di Indonesia.

Di Indonesia ada empat jenis gerai Auto Bridal, yakni Motor Bridal, Auto Bridal Xpress, Auto Bridal dan Auto Bridal Priority.
Untuk membuka gerai di Auto Bridal, calon investor harus menyediakan modal antara Rp 200 juta sampai Rp 2 miliar tergantung tipe dari jenis gerai tadi."Fasilitas yang kita berikan berupa peralatan, support SDM, pemilihan lokasi dan branding. Juga renovasi lokasi, desain interior beserta three D, dan kita akan memberikan manual pengurusan izin. Tapi izin usahanya yang mengurus mereka kita hanya memberi manual izin," jelas Fangki.

Membeli franchise Auto Bridal memiliki kontrak sepanjang 5 tahun yang setelah itu bisa diperpanjang kembali dengan biaya lebih murah.

Auto Bridal saat ini telah memiliki 64 gerai yakni 55 untuk mobil, satu untuk Xpressdan 8 untuk motor yang tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Rencana ekspansi 2008, Auto Bridal akan memasuki pasar di Singapura danThailand.
Sementara target sampai akhir 2007, Auto Bridal akan membuka 8-10 gerailagi.

Pendapatan kotor per bulan Auto Bridal bisa mencapai Rp 60 juta dan penghasilan bersih Rp 40 juta. Biaya fee yang harus disetor setiap pemilik franchise ke kantor pusat yaitu mobil Rp150 juta per 5 tahun, motor Rp 100 juta per lima tahun dan Xpress Rp 100 juta per 5tahun.
(ir/oir)

Indro Bagus SU - detikfinance
Read more...

Investor Paling Minati Waralaba Minimarket dan Makanan

Indro Bagus SU - detikfinance

Jakarta - Dari sekian banyak jenis waralaba atau franchise, investor ternyata paling banyak minati usaha minimarket dan makanan.

Hal ini terlihat dari antusias pengunjung,-- yang kebanyakan berciat-cita ingin buka waralaba,-- dalam pameran dan conference waralaba terbesar di Indonesia yang bertajuk, 'Franchise & License Indonesia Expo 2007 ke-5 yang diselenggarakan 9-11 November 2007, di JCC, Jakarta, Sabtu (10/11/2007).

"Untuk brand-brand lokal, makanan dan minimarket paling banyak diminati, mungkin karena peluangnya cukup besar namun modal yang dikeluarkan tidak terlalu banyak," kata Communication Manager PT Panorama Convex, Ella Haryanto dalam pebincangannya dengan detikFinance, Sabtu (10/11/2007). PT Panorama Convex adalah penyeleggara acara pameran ini.

Sementara untuk brand asing, pengunjung meminati bidang pendidikan dan game station.
Pameran ini menggelar lebih dari sekitar 180-an brand, baik lokal maupun asing. Merek lokal kira-kira 70% dan asing 30%.

Menurut Ella dalam pameran ini, pihaknya menargetkan jumlah pengunjung 4.000 pengunjung per hari. Sementara jumlah pengunjung pada hari pembukaan Jumat kemarin (9/11/2007) sekitar 1.500 orang.

"Mungkin karena hari Jumat itu hari kerja, jadi pengunjung pun tidak banyak. Tetapi justru pengunjung di hari kerja itulah yang lebih berprospek melakukan komitmen awal pembukaan franchise. Target pengunjung selama 3 hari ini sekitar 15.000an orang," ujar Ella.
Sementara pengunjung hingga Sabtu siang ini diperkirakan telah mencapai
2.000-an orang.

Rahmawati, seorang ibu rumah tangga yang ditemui detikFinance mengatakan bahwa tujuannya datang ke pameran ini karena membuka usaha franchise minimarket.
Sementara Tia, seorang wiraswasta di Jakarta, juga mengatakan tujuannya datang ke pameran adalah untuk memperluas bidang usaha makanan.

Pameran ini juga menarik pengunjung dari luar Jawa. Seorang pengusaha dari Sumatera Selatan, bernama Dwi Budi Santoso, mengatakan tujuan datang ke pameran ini untuk mengembangkan usaha yang sudah dimilikinya di tempat asalnya.

"Saya tertarik membuka usaha minimarket dan makanan di Sumatera Selatan. Tapi saat ini, masih dalam proses cari data," kata Dwi. (ir/ir)

Sumber : detikfinance
Read more...

Berinvestasi di Berbagai Macam Bisnis Franchise

Thursday, November 8, 2007

Awalnya karena ingin mengisi waktu luang, tapi tetap bisa mengurus anaknya, Wantini H. Tjahja banyak berinvestasi di berbagai macam bisnis franchise di bilangan Cibubur. Tak hanya itu, properti dan bisnis sektor riil lainnya juga jadi incarannya.

Hidup berkecukupan dengan mengandalkan penghasilan suami yang berlebih bukanlah watak Wantini H. Tjahja. Kendati sebagai ibu rumah tangga, jiwa entrepreneurship-nya terus menggelora. Pikirannya pun terus berputar bagaimana bisa mengembangbiakkan duit yang berlebih itu. Hanya saja, satu prinsip wanita kelahiran Cianjur 10 Mei 1964 ini: investasi jalan, tapi anak tetap bisa terurus dengan baik. “Intinya, saya ingin punya kegiatan, tapi juga nggak mau meninggalkan anak-anak saya,” Wantini menegaskan.

Ia mengakui, dirinya bisa seperti sekarang karena dukungan suaminya, termasuk ketika ia menemukan usaha yang pas setelah sekian lama mencarinya, yaitu terjun ke bisnis waralaba (franchise). Alasannya, bisnis franchise sistemnya sudah terbentuk dan berjalan, sehingga tak perlu dikontrol setiap hari. Maka, secara bertahap ia membeli waralaba yang ia anggap sudah bonafide. Tak tanggung-tanggung, saat ini ia memiliki 6 bisnis waralaba, dan sampai sekarang ia pun masih terus mencari waralaba-waralaba yang lainnya. Ke-6 waralaba yang sudah digenggamnya itu berlokasi di Cibubur.

Istri Handrian Tjahja – Direktur holding company Grup Mulia – ini sangatlah selektif dalam memilih waralaba. “Saya tidak akan masuk ke bisnis franchise yang saya tidak bisa menjiwai,” kata alumni Sekolah Tinggi Bahasa Asing ini sambil mencontohkan waralaba makanan. Artinya, setiap waralaba yang dipilih Wantini, biasanya karena ada latar belakangnya, baik karena pengalaman maupun latar belakang berbagai pendidikan yang ia ambil.

Ibu dua anak ini mencontohkan, sebelum mengambil franchise Laundrette (waralaba pertama yang dibelinya), ia adalah pelanggan setia yang sudah bertahun-tahun. “Jadi saya sudah tahu kualitas Laundrette,” ia bercerita. Hingga suatu waktu, karena saking seringnya mencucikan pakaian di laundry yang berlokasi di daerah Kuningan Jakarta ini, seorang pegawai Laundrette menawarkan bisnis waralaba pada Wantini. Dan, di tahun 2003, Wantini membeli hak waralaba Laundrette. “Saat itu franchise fee-nya masih murah, sekitar Rp 25 juta. Ini belum termasuk gedung,” kata wanita yang saat ini memiliki lima gerai Laundrette – semuanya berada di beberapa perumahan dan kawasan bisnis di Cibubur.

Lalu, waralaba kedua yang ia beli adalah Salon & Day Spa Martha Tilaar pada 2004. Menurutnya, franchise fee-nya Rp 300 juta belum termasuk gedung dan isinya yang harus sesuai dengan strandardisasi pihak pemberi hak waralabanya (franchisor). “Total investasinya di luar gedung Rp 1 miliar,” ujar ibu dari Ceacilia Divany Hanan (4,5 tahun) dan Valensia Sebastian Hanan (3,5 tahun) ini.

Kemudian Puri Ayu (waralaba yang khusus menjual produk kecantikan Martha Tilaar) ia ambil tahun 2006. Waralaba ini menyasar mereka yang tidak sempat ke Spa Martha Tilaar, tapi ingin membeli produknya. Investasinya sekitar Rp 750 juta termasuk sewa tempat di Cibubur Junction Rp 500 juta per lima tahun.

Di tahun yang sama, ia juga mengambil waralaba Coldwell Banker. Investasinya Rp 600 juta, belum termasuk tempat. Dan terakhir adalah waralaba International Language Program dan 3 to 6 yang baru berjalan pada Oktober tahun ini. Investasinya lebih dari Rp 1 miliar belum termasuk gedung. “Total investasi untuk seluruh franchise yang saya miliki di luar gedung di bawah Rp 15 miliar,” wanita yang berpenampilan modis ini membeberkan. Untuk gedung, semua tempat bisnisnya adalah milik sendiri, kecuali franchise Martha Tilaar, baik Spa maupun Puri Ayu, karena tak boleh dibeli.

Memang sebelum terjun menjadi pengusaha waralaba, Wantini lebih banyak menempatkan investasinya di properti. Saat ini, ia memiliki 12 ruko dan 6 rumah. Semuanya berada di wilayah Cibubur, terutama di Perumahan Kota Wisata Cibubur tempat ia tinggal. “Kalau punya uang lebih, sudah sejak dulu saya membeli properti, agar pada saat suami pensiun dan anak-anak sudah besar nanti ada sesuatu yang dimiliki,” kata Wantini mengungkap tujuan investasinya.

Semua rukonya itu ia pakai sendiri untuk mengembangkan bisnis franchise-nya. Sementara rumahnya ada yang disewakan, dan ada pula yang dipakai sebagai tempat penginapan para karyawannya. Ia mengenang, sebelum digunakan sendiri, ruko-rukonya itu sempat menganggur. Maklum, pada saat dirinya mulai tinggal di Kota Wisata pada 1999, penghuninya belum banyak dan pelbagai fasilitas penunjang hidup pun masih sedikit, belum sebanyak sekarang. “Ada ruko yang kosong sampai tiga tahun karena bingung mau diisi apa,” kata Wantini.

Mantan karyawan Humpus ini merasa beruntung berinvestasi di properti, karena rata-rata gain yang dinikmati seandainya dijual bisa mencapai 100% lebih. Seperti ruko yang ia beli tiga-empat tahun lalu rata-rata Rp 300 juta per unit, saat ini sudah berharga Rp 600 juta per unit. Demikian pula dengan rumah berukuran besar 650 x 500 meter yang saat dibeli sekitar Rp 900 juta, sekarang sudah berharga Rp 2,5 miliar. Jenis rumah yang ia beli pun beragam, dan rata-rata kalau dikontrakkan berkisar Rp 60-70 juta per tahun.

Sementara itu, keuntungan dari bisnis franchise-nya pun bervariasi. “Masing-masing franchise yang saya beli beragam pembagian keuntungannya,” kata Wantini. Seperti Laundrette dan Puri Ayu, pembagian keuntungannya 40% bagi pihaknya, dan 60% buat franchisor. Adapun sebagai franchisee Codwell Banker, ia harus menyerahkan 1,5% penjualan ke pihak franchisor. Dengan sistem pembagian yang berbeda itulah, ia mengaku agak sulit mengungkap berapa keuntungan yang ia kantongi setahun. Yang pasti, ”Semua bisnis saya tidak ada yang rugi dan bisa berjalan dengan baik,” ucapnya diplomatis.

Yang menggembirakan, karena kegigihannya memasarkan bisnis franchise-nya, salah satu pelanggannya adalah menantu Presiden SBY, Anisa Pohan, yang sering mendatangi salon dan spa milik Wantini. Tak hanya menantunya, SBY dan istrinya sering pula me-laundry pakaian di sana. “Dari Senin sampai Jumat, kami datang ke Istana untuk membawa baju beliau,” kata Wantini bangga. Bahkan, selain SBY, Sudi Silalahi (Menteri Sekretaris Kabinet) dan Hari Sabarno (mantan Menteri Dalam Negeri) juga jadi pelanggannya.

Masih ada lagi bisnis yang digeluti Wantini, yaitu warung Internet dan pom bensin. Dari dua bisnis ini yang paling menguntungkan adalah pom bensin. “Rata-rata omset Rp 250 juta per hari dan sudah berjalan tiga tahun,” paparnya sambil menyebutkan bahwa investasinya Rp 5 miliar. “Sebenarnya ini bisnis suami saya, tapi saya juga ikut mengelola,” ia menerangkan.

Selain sektor riil, Wantini juga memiliki sejumlah asuransi karena telah menjadi kebutuhannya, termasuk asuransi pendidikan untuk anaknya. Tak tanggung-tanggung, yang ia pilih asuransi dalam mata uang dolar karena berharap anaknya bisa sekolah di luar negeri. Selain asuransi pendidikan, ia juga memiliki asuransi jiwa hingga properti. Jenisnya pun beragam, ada yang berbentuk unit link dan asuransi murni untuk proteksi.

Hanya saja, Wantini mengaku kapok berinvestasi di pasar modal seperti saham. Sekitar 10 tahun silam ia pernah bermain saham karena ikut-ikutan. Padahal dirinya tak menguasai bidang ini. “Uang saya amblas semua. Jadi saya kapok,” pengendara sedan BMW Seri 5 ini menandaskan. Makanya, ketimbang berinvestasi saham, ia lebih memilih berinvestasi perhiasan seperti emas dan berlian. Di samping bisa dipakai juga sangat likuid untuk dicairkan atau diganti dengan model-model terbaru. Sayang, ia tak menyebutkan berapa nilai investasi perhiasannya itu.

Yang jelas, secara keseluruhan portofolio Wantini adalah 60% di properti; 30% di bisnis franchise dan sektor riil lainnya; sisanya di perhiasan, asuransi dan produk keuangan. Ke depan, ia akan lebih fokus pada franchise di bidang pendidikan.

Franchise yang Dibeli Wantini H. Tjahja
(1) Laundrette (laundry and dry cleaning).
(2) Salon & Day Spa Martha Tilaar.
(3) Puri Ayu (produk kecantikan Martha Tilaar).
(4) Coldwell Banker (agen properti).
(5) International Language Program (ILP, kursus bahasa Inggris).
(6) 3 to 6 (pusat pendidikan anak usia 3-6 tahun, satu grup dengan ILP).

Jaga, Jangan Sampai Uang Dapur Terganggu
Bagi para ibu rumah tangga yang ingin berinvestasi, maka yang perlu diperhatikan adalah memisahkan antara dana aktif dan tidak aktif. Artinya, harus dipisahkan mana dana yang berpengaruh terhadap cash flow rumah tangga, dan mana dana yang dialokasikan untuk investasi. Sehingga, aktivitas investasi yang dilakukan jangan sampai memakan uang rumah tangga.

Lalu, investasi apa pun yang dilakukan, pertimbangkan tujuannya. Apakah untuk pendidikan anak, untuk menghadapi pensiun, atau untuk tujuan-tujuan lainnya. “Intinya apa pun investasinya harus punya tujuan,” kata Ahmad Gozali. Misalnya, Wantini yang masuk ke properti untuk persiapan pensiun, perhiasan untuk dipakai plus investasi, dan bisnis franchise untuk menambah income tapi anak tetap terawat dengan baik. Kalau orangnya sangat mapan sehingga kebutuhan lain – seperti dana pendidikan anak atau pensiun – sudah tercukupi, orang seperti ini biasanya berinvestasi dengan tujuan sekadar membunuh waktu sambil membiakkan duit. Jadi, sebaiknya mereka punya visi yang lebih kuat. Tak hanya mengumpulkan uang.

Contoh visinya adalah untuk membuka lapangan pekerjaan, ingin memajukan daerahnya sendiri, mengembangkan produk tertentu, ataupun mengembangkan hobi. Nah dari visi itu, mana yang lebih cocok sehingga bisa disesuaikan dengan bisnis yang dipilihnya kemudian. “Jadi di sini tak hanya mengembangkan uang, tapi juga mencari kepuasan,” kata perencana keuangan Safir Senduk ini. Apalagi, Wantini terlihat selektif memilih bisnis franchise yang betul-betul ia paham dan memiliki latar belakang pengalaman pribadi, sehingga bisa menjiwai.

Nah, kalau sudah cukup banyak bisnisnya, sebaiknya ia membuat sebuah holding company dan memiliki orang-orang profesional yang dipercaya. Jadi tidak ia sendiri yang mengontrol perusahaan, tapi ada yang ikut membantu. “Apalagi seperti Ibu Wantini, di samping mengelola bisnis, tetap menginginkan anak-anaknya terawasi,” tuturnya.

Oleh : Dede Suryadi (SWA)
Read more...