Istilah-istilah dalam Waralaba

Wednesday, January 3, 2007

Pewaralaba/ Pemberi Waralaba/ Franchisor
adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki Pemberi Waralaba.

Terwaralaba/ Penerima Waralaba/ Franchisee
adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki Pemberi Waralaba.

Penerima Waralaba Utama (Master Franchisee)
adalah Penerima Waralaba yang melaksanakan hak membuat Perjanjian Waralaba Lanjutan yang diperoleh dari Pemberi Waralaba dan berbentuk Perusahaan Nasional.

Penerima Waralaba Lanjutan
adalah badan usaha atau perorangan yang menerima hak untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki Pemberi Waralaba melalui Penerima Waralaba Utama.

Perjanjian Waralaba
adalah perjanjian secara tertulis antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba Utama.

Perjanjian Waralaba Lanjutan
adalah perjanjian secara tertulis antara Penerima Waralaba Utama dengan Penerima Waralaba Lanjutan.

Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba (STPUW)
adalah bukti pendaftaran yang diperoleh Penerima Waralaba setelah yang bersangkutan mengajukan permohonan STPUW dan memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan ini.
Read more...

Ragam Tipe Waralaba

Menurut International Franchise Association, secara umum terdapat beberapa bentuk format bisnis waralaba:

1. Unit franchising
2. Area development franchising
3. Subfranchising
4. Conversion or affiliation franchising
5. Nontraditional franchising

Unit Franchising
Bentuk waralaba ini adalah yang paling umum. Dalam unit franchise, pewaralaba memberikan hak kepada terwaralaba untuk menjalankan sejumlah satu (single) bisnis waralabanya dalam lokasi/daerah yang telah ditentukan. Ada 2 pihak yang berkepentingan dalam bentuk ini, yaitu Pewaralaba dan Terwaralaba.

Area Development Franchising
Dalam area development franchising, pewaralaba memberikan hak kepada terwaralaba (disebut area developer) suatu daerah tertentu yang harus dikembangkan. Terwaralaba tersebut memiliki hak dan kewajiban untuk membuka dan mengoperasikan sendiri sejumlah unit waralaba tertentu sesuai dengan jadwal rencana pengembangan yang telah ditetapkan sebelumnya. Biasanya, jika target jadwal rencana pengembangan waralaba yang bersangkutan tidak tercapai, pewaralaba akan memutuskan kontrak perjanjian pengembangan waralaba pada daerah tersebut. Walau begitu, unit waralaba yang telah berdiri tetap dapat dioperasikan oleh terwaralaba. Ada 2 pihak yang berkepentingan dalam bentuk ini, yaitu Pewaralaba dan Terwaralaba.

Subfranchising
Subfranchising, kadang disebut juga master franchising, sifatnya mirip dengan area development franchising, hanya saja bentuk waralaba ini melibatkan 3 pihak. Perbedaannya adalah, pada bentuk waralaba ini franchisee memiliki pilihan antara membuka sendiri unit waralabanya atau menjual kembali unit waralaba (sub franchising) kepada pihak lain (ke-3), selama tujuan pengembangan waralaba dalam suatu daerah dapat tercapai. Bentuk kesepakatan ini umum digunakan oleh sistem waralaba internasional (terutama pewaralaba Amerika Serikat), biasanya disebut dengan “master franchising”, dan franchisee sebagai sub franchisor disebut sebagai “master franchisee”.

Affiliation or Conversion Franchising
Bentuk waralaba ini terjadi jika seorang pemilik dari suatu bisnis yang telah berjalan ingin berafiliasi dengan suatu jaringan waralaba yang telah terkenal. Tujuannya adalah agar bisnis tersebut dapat memanfaatkan keuntungan dari merek terkenal dan juga sistem operasi dari jejaring waralaba yang bersangkutan. Dalam affiliation franchising ini, terwaralaba biasanya diperbolehkan untuk tetap menggunakan merek lama yang telah mereka miliki diikuti dengan merek terkenal dari sang pewaralaba. Bentuk waralaba ini banyak diterapkan di industri perhotelan.

Nontraditional Franchising
Pada bentuk waraba ini, pewaralaba menjual waralabanya untuk ditempatkan pada tempat-tempat tertentu yang khusus. Misalkan, suatu unit waralaba yang dijual didalam lokasi bisnis (mis: ritel) milik orang lain. Dalam hal ini pewaralaba membuat 2 perjanjian, yaitu perjanjian dengan terwaralaba dan perjanjian dengan pemilik bisnis.

Sumber: waralaba.com
Read more...

Definisi Waralaba

Menurut International Franchise Association (www.Franchise.org), Franchise atau Waralaba pada hakekatnya memiliki 3 elemen berikut: Merek, Sistem Bisnis, & Biaya (Fees).

Merek
Dalam setiap perjanjian Waralaba, sang Pewaralaba (Franchisor) – selaku pemilik dari Sistem Waralabanya memberikan lisensi kepada Terwaralaba (Franchisee) untuk dapat menggunakan Merek Dagang/Jasa dan logo yang dimiliki oleh Pewaralaba.

Sistem Bisnis
Keberhasilan dari suatu organisasi Waralaba tergantung dari penerapan Sistem/Metode Bisnis yang sama antara Pewaralaba dan Terwaralaba. Sistem bisnis tersebut berupa pedoman yang mencakup standarisasi produk, metode untuk mempersiapkan atau mengolah produk atau makanan, atau metode jasa, standar rupa dari fasilitas bisnis, standar periklanan, sistem reservasi, sistem akuntansi, kontrol persediaan, dan kebijakan dagang, dll.

Biaya (Fees)
Dalam setiap format bisnis Waralaba, sang Pewaralaba baik secara langsung atau tidak langsung menarik pembayaran dari Terwaralaba atas penggunaan merek dan atas partisipasi dalam sistem Waralaba yang dijalankan. Biaya biasanya terdiri atas Biaya Awal, Biaya Royalti, Biaya Jasa, Biaya Lisensi dan atau Biaya Pemasaran bersama. Biaya lainnya juga dapat berupa biaya atas jasa yang diberikan kepada Terwaralaba (mis: biaya manajemen).

Karakteristik lain dari Waralaba
Pihak-pihak yang terkait dalam Waralaba sifatnya berdiri sendiri. Terwaralaba berada dalam posisi independen terhadap Pewaralaba. Independen maksudnya adalah Terwaralaba berhak atas laba dari usaha yang dijalankannya, bertanggung jawab atas beban-beban usaha waralabanya sendiri (mis: pajak dan gaji pegawai). Di luar itu, Terwaralaba terikat pada aturan dan perjanjian dengan Pewaralaba sesuai dengan kontrak yang disepakati bersama.

Definisi-definisi Waralaba lainnya, antara lain:

Amir Karamoy (Konsultan Waralaba)
“Waralaba adalah suatu pola kemitraan usaha antara perusahaan yang memiliki merek dagang dikenal dan sistem manajemen, keuangan dan pemasaran yang telah mantap, disebut pewaralaba, dengan perusahaan/individu yang memanfaatkan atau menggunakan merek dan sistem milik pewaralaba, disebut terwaralaba. Pewaralaba wajib memberikan bantuan teknis, manajemen dan pemasaran kepada terwaralaba dan sebagai imbal baliknya, terwaralaba membayar sejumlah biaya (fees) kepada pewaralaba. Hubungan kemitraan usaha antara kedua pihak dikukuhkan dalam suatu perjanjian lisensi/waralaba.

Peraturan Menteri Perdagangan (no. 12/2006)
“Waralaba (Franchise) adalah perikatan antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba dimana Penerima Waralaba diberikan hak untuk menjalankan usaha dengan memanfaatkan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki Pemberi Waralaba dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh Pemberi Waralaba dengan sejumlah kewajiban menyediakan dukungan konsultasi operasional yang berkesinambungan oleh Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba”

Sumber: waralaba.com
Read more...

Sejarah Waralaba

Walaupun Franchise dipopulerkan di negara Amerika Serikat, namun asal mula kata Franchise berawal dari Eropa, yaitu Perancis dan Inggris. Kata Franchise sendiri bermakna "kebebasan" (Freedom).

Di masa itu, bangsawan diberikan wewenang oleh raja untuk menjadi tuan tanah pada daerah-daerah tertentu. Pada daerah tersebut, sang bangsawan dapat memanfaatkan tanah yang dikuasainya dengan imbalan pajak/upeti yang dikembalikan kepada kerajaan. Sistem tersebut menyerupai royalti, seperti layaknya bentuk Franchise saat ini.

Di Amerika Serikat sendiri, Franchise mengalami booming pada tahun 60-70an setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2. Pada saat itu, banyak terjadi praktek penipuan bisnis yang mengaku sebagai Franchise, salah satunya dengan cara menjual sistem bisnis Franchise yang ternyata belum teruji keberhasilannya di lapangan.

Selain itu, Franchisor pun lebih fokus untuk menjual Franchise milik mereka dibandingkan membangung dan menyempurnakan sistem bisnis Franchisenya. Banyak investor baru yang gagal oleh modus seperti ini, hal ini menjadi salah satu pendorong terbentuknya IFA (International Franchise Association) pada tahun 1960.

Salah satu tujuan didirikannya IFA adalah untuk menciptakan iklim industri bisnis Franchise yang dapat dipercaya, oleh karenanya IFA menciptakan kode etik Franchise sebagai pedoman bagi anggota-anggotanya. Walau begitu, kode etik Franchise masih perlu didukung oleh perangkat hukum agar dapat memastikan tiap-tiap pihak dalam industri ini terlindungi.

Pada tahun 1978, Federal Trade Commission (FTC) mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap Franchisor yang akan memberikan penawaran peluang waralaba kepada publik untuk memiliki UFOC (Uniform Franchise Offering Circular).

UFOC adalah dokumen yang berisi informasi lengkap mengenai peluang bisnis Franchise yang ditawarkan, seperti: sejarah bisnis, pengelola, hal yang berkaitan dengan hukum, prakiraan investasi, deskripsi konsep bisnis, dan salinan dari perjanjian Franchise. Selain itu daftar nama, alamat dan nomor telepon dari pemilik Franchise adalah informasi yang diwajibkan. UFOC bertujuan untuk menyampaikan informasi yang cukup mengenai perusahaan untuk membantu calon Franchisee dalam mengambil keputusan.

Franchise = Waralaba
Di Indonesia, kata “Franchise” ditransalasikan sebagai “Waralaba” (wara=lebih; laba=untung), jadi waralaba berarti “Lebih Untung”. Pertumbuhan Franchise di Indonesia berawal dari masuknya waralaba asing pada tahun 80-90an.

KFC, McDonalds, Burger King, Wendys adalah sebagian dari jejaring waralaba asing yang masuk ke Indonesia pada awal-awal berkembangnya Franchise di Indonesia. Perusahaan-perusahaan waralaba lokal pun mulai bertumbuhan pada masa itu, salah satunya adalah yang termasuk pelopor waralaba lokal yaitu Es Teler 77.

Pada tahun 1991 berdiri Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) sebagai wadah yang menaungi pewaralaba dan terwaralaba. Diharapkan dengan berdirinya AFI ini dapat tercipta industri waralaba yang kuat dan dapat menjadi pendorong utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang berbasiskan usaha kecil dan menengah.

Sumber: waralaba.com
Read more...

J.Co Donuts - Produk Paling Hot 2006

Meski bukan produk baru, toh beberapa produsen berhasil membuat produknya tampil bersinar tahun ini. Di antaranya, Mizone dan J.CO Donuts. Melakukan berbagai inovasi tanpa batas adalah resep suksesnya.

Nice flavour. Nice shapes. Nice color. Itulah serentet kata yang terlontar dari mulut Sisca, 31, mengenai Mizone. Rasanya beda banget, begitu kata Oki, 21. Botolnya bisa buat tempat minuman kalau sudah habis, aku Ocha, 18. Lebih gampang dicari di warung pinggir jalan, ucap Gita, 25. Dan, masih puluhan ungkapan sejenis yang wara-wiri di banyak milis di jagat maya menyoal sukses minuman Mizone.

Kehadiran Mizone memang tergolong cukup istimewa. Hanya dalam tempo setahun sejak diluncurkan ke pasar, 27 September 2005, Mizone cepat merangsek pasar minuman isotonik dan mampu bercokol di posisi kedua sesudah Pocari Sweat. Bahkan, Mizone ikut menggoyang pasar minuman panas dalam yang selama ini digawangi Cap Kaki Tiga. “Kategori panas dalam agak gerah juga karena pasarnya tersedot Mizone,” ungkap Harry Sanusi, CEO Grup Kino.

Di mata Thomas Darmawan, ketua Gapmmi (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia), Mizone adalah merek yang punya pengaruh kuat sepanjang tahun ini. Sepak terjang Mizone, katanya, banyak diikuti oleh produsen lainnya yang mengusung produk sejenis. Sampai-sampai kesuksesan Mizone itu juga “digoyang” oleh isu pemakaian bahan pengawet yang kini ramai diperbincangkan.
Diskusi Warta Ekonomi bersama Roy Sembel (staf pengajar Magister Manajemen Universitas Bina Nusantara), Yuswohady (chief executive MarkPlus Institute of Marketing), dan John T. Tanuwidjaja (vice-president business management AndrewTani&Co.) juga menempatkan Mizone sebagai satu dari empat produk yang dianggap paling berpengaruh tahun ini.

Lainnya adalah donat J.CO Donuts & Coffee, minuman teh hijau dalam kemasan, dan reksadana terproteksi. Hasil diskusi menilai keempatnya merupakan produk yang cukup kuat di pasar, inovatif, dan penjualannya naik tinggi sepanjang tahun ini.

Harry Sanusi, yang juga mencatat Mizone sebagai produk paling berpengaruh tahun ini, menggelar riset kecil-kecilan di sejumlah tempat untuk menemukan rahasia sukses produk buatan PT Aqua Golden Mississippi Tbk. itu. Hasilnya? Mizone sukses karena tiga hal utama, yaitu tampilan kemasan, rasa, dan harganya.

Tampil dengan sosok botol bongsor berwarna biru yang menyegarkan dan cuma dibanderol Rp2.500 di pasar, Mizone 500 ml tentu gampang merebut perhatian konsumen yang mencari isi lebih banyak dan harga lebih murah untuk minuman bernutrisi. “Harganya 20%—30% lebih murah daripada pesaingnya, Pocari Sweat,” kata Harry. Sebab, saat ini, Pocari Sweat ukuran 330 ml dilempar ke pasar seharga Rp3.500 per kaleng.

Selain itu, Mizone, yang hadir dengan dua pilihan rasa yaitu orange lime dan passion fruit, jadi tampil beda dibanding pesaingnya, Pocari Sweat, yang rasanya “hambar”. Belum lagi, dukungan jalur distribusi Mizone, yang memanfaatkan jalur distribusi air mineral Aqua, membuat produk ini singgah hingga ke warung pinggir jalan. “Kalau dipikir, itu semua kan kembali ke rumus 4P yang sudah ada,” ujar Harry, tergelak. Artinya, Mizone adalah produk yang memenuhi semua unsur 4P (product, price, place, promotion).

Inovasi (pada) Produk Lawas Minuman isotonik semacam Mizone memang bukan produk baru karena di pasar sudah lama hadir Pocari Sweat asal Jepang. Hal yang sama juga berlaku untuk produk donat yang disesaki Dunkin’ Donuts dan Country Donuts.

Hal yang membuat merek-merek baru seperti Mizone dan J.CO Donuts akhirnya punya nilai lebih dan bahkan sanggup meraih pangsa pasar dalam waktu singkat adalah berkat inovasi yang dilakukan produsennya. Baik itu pada proses produksi, bahan baku, penampilan, maupun cara promosinya. Sebut, misalnya, donat dari J.CO Donuts & Coffee yang diusung juragan gerai salon Johnny Andrean.

Menurut Roy Sembel, J.CO mampu mengubah wajah bisnis donat yang selama ini ada di Indonesia. Tampil dengan konsep open kitchen (dapur terbuka), yang memungkinkan konsumen menyaksikan langsung pembuatan donat, memberi pengalaman lain kepada konsumen. Hal senada diucapkan Yuswohady. Ia melihat J.CO sanggup mendobrak pakem sebagai merek lokal yang mampu bersaing dengan merek global. “Selama ini kan yang menggebrak biasanya global brand,” kata Yuswohady.

Daniel Surya, chief representative Landor Indonesia, perusahaan jasa branding, pun sepakat bahwa J.CO Donuts memang pantas disebut sebagai salah satu produk paling berpengaruh tahun ini. “Yang istimewa adalah penciptaan mereknya sebagai merek lokal yang bersaing dengan merek global,” kata Daniel yang juga direktur Young and Rubicam Brands ini. Selain itu, tambahnya, J.CO berhasil mengubah pandangan orang terhadap donat, yaitu menjadi makanan selingan yang layak dibeli, meski mereka harus antre untuk mendapatkannya.

Keinginan untuk memasuki bisnis donat, menurut Johnny Andrean, presdir PT J.CO Donuts & Coffee, sebenarnya sudah ada sejak lima tahun lalu, jauh sebelum ia membeli BreadTalk, waralaba toko roti asal Singapura. Kala itu, ia ingin masuk ke bisnis donat tanpa harus menjadi bayang-bayang pemain dan merek yang sudah ada.

Intinya, suami Tina Andrean, seorang perancang gaun pengantin, ini ingin membuat dan menciptakan pasar sendiri lewat inovasi yang diberikan pada donatnya. Mulai dari donatnya yang dibuat lebih lembut dan punya banyak pilihan rasa, hingga penyajiannya yang dibuat fresh (langsung) dari oven dalam keadaan hangat.
“Saat J.CO hadir, belum ada satu pun donat yang fresh from the oven,” kata pria yang juga pemilik jaringan Salon Kecantikan Johnny Andrean ini.

Keberanian Johnny mengusung merek sendiri dianggap nilai lebih J.CO sebagai produk paling berpengaruh dibanding merek lain seperti Mizone. Sebab, menurut Yuna Prabawangi, presdir PT Asuransi Raksa Pratikara, pemilik J.CO sanggup menancapkan mereknya dengan sangat bagus dan begitu cepat. Apalagi, merek yang diusung adalah merek lokal yang mampu bersaing dengan merek global. Jadi, “Merek lokal bisa lebih terinspirasi untuk bersaing dengan merek global lainnya,” katanya.

Rasanya Yuna tak keliru. Sebab, menurut Johnny, saat ini ia berhasil membangun 15 gerai J.CO Donuts & Coffee dari target 18 gerai hingga tahun ini. “Dalam waktu dua tahun lagi, J.CO harus hadir di seluruh Indonesia,” tegas Johnny kepada Warta Ekonomi.

Sukses berkat inovasi pada produk lawas pun berhasil diraih para produsen teh lewat produk teh hijaunya. Sebab, para produsen teh di Indonesia bergerak ke arah medan peperangan baru yaitu persaingan dalam inovasi kemasan dan rasa. Melepas produk teh hijau dalam kemasan botol lewat merek Frestea-nya pada 14 Septem¬ber 2005, PT Coca-Cola Indonesia menjadi produsen yang terbilang ikut mengedukasi pasar lewat slogannya, “Frestea Green ... Juga Sehat”.

Maksudnya, teh hijau dalam bentuk kemasan botol pun memberi manfaat yang sama bagi kesehatan tubuh. Namun, pemain lain belakangan mencoba memberi nilai lebih dengan menawarkan kemasan botol plastik yang tampil lebih menarik, sekaligus “meredam” rasa pahit teh hijau dengan menambah rasa manis pada produk ini.

Bagi Harry, lewat inovasi itulah para produsen teh hijau, termasuk Sosro, pada akhirnya berhasil memberi nilai lebih pada produk minuman teh hijau dalam kemasan. “Mereka cukup pintar karena mencoba kembali ke pakem bisnis minuman di Indonesia, yaitu lidah orang Indonesia yang suka rasa manis,” ungkapnya. Hal serupa dikatakan Thomas, bahwa sejak dahulu produk makanan dan minuman di Indonesia memang tak pernah bisa meninggalkan selera lidah lokal yang sangat menyukai rasa manis.

Jadi, ke depan, katanya, para produsen teh akan kembali bersaing dalam menciptakan berbagai inovasi dalam urusan rasa. Sebagai bukti, saat ini di pasar telah hadir teh hijau dalam kemasan botol dengan rasa madu dari Nu dan rasa jeruk madu dari Sosro. Thomas menambahkan bahwa memang sulit menentukan merek minuman teh hijau dalam kemasan yang paling kuat di pasar. Sebab, “Green tea itu produk generik.

Jadi, memang sedikit membingungkan untuk menentukan merek mana yang kuat,” katanya. Alhasil, meski di pasaran produsen mengusung mereknya masing-masing, seperti Green-t (Sosro), Zestea (2 Tang), dan Frestea Green (Coca-Cola), toh merek-merek tadi jadi tenggelam karena yang tertancap di pasar adalah “merek” green tea (teh hijau) itu sendiri.

Jadi, katanya, dalam jangka panjang, merek Mizone jauh lebih kuat tertancap di pasar ketimbang merek teh hijau. Sementara itu, dari sisi potensi, jelas peluang pasar produk teh hijau bakal terus membengkak apabila konsumen menjadikannya sebagai minuman harian.

Melejit berkat Retouch
Selain produk minuman, upaya memberi sentuhan baru pada produk lama juga dilakukan oleh kalangan bisnis jasa keuangan, khususnya para pemain yang menjual produk reksadana. Peristiwa redemption yang terjadi di tahun 2003 terulang lagi pada 2005. Nilai aktiva bersih (NAB) reksadana yang mencapai Rp113 triliun pada Januari 2005 merosot hingga tinggal Rp35 triliun pada September 2005 dan jenis reksadana yang mengalami penurunan tajam NAB adalah reksadana pendapatan tetap (fixed income).

Para pengelola jasa keuangan pun segera melirik jenis reksadana terproteksi (capital protected fund), yaitu jenis reksadana yang memberikan proteksi atas investasi awal investor melalui mekanisme pengelolaan portofolionya. Dalam rangka pemberian proteksi atas investasi awal tersebut, manajer investasi reksadana terproteksi akan menginvestasikan sebagian dana yang dikelolanya pada efek/surat berharga bersifat utang yang masuk dalam kategori layak investasi (investment grade). Maka, pada saat jatuh tempo, nilai efek bersifat utang sekurang-kurangnya dapat menutupi jumlah nilai yang diproteksi.

Lewat produk inilah, nilai pasar reksadana, khususnya reksadana terproteksi, cepat kembali merangkak naik. Sementara pertumbuhan NAB jenis reksadana lainnya tergolong stagnan, NAB reksadana terproteksi justru meroket. Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal, pada awal Januari 2006 NAB reksadana terproteksi sebesar Rp3,22 triliun dan pada Juli mencapai Rp9,108 triliun, atau tumbuh 182,4% dalam tujuh bulan pertama 2006.

Maka dari itu, menurut Ishadi S.K., presdir PT Televisi Transforma Indonesia, reksadana terproteksi layak menjadi produk paling berpengaruh tahun ini karena membuat terobosan di tengah kelesuan bursa. “Tahun ini bagus sekali,” kata pria yang ikut membidani kelahiran Trans TV itu.

Hindarmojo Hinuri, dirut PT BNI Securities, juga menempatkan reksadana terproteksi sebagai produk paling berpengaruh tahun ini. Alasannya, pertumbuhan produk itu terbilang istimewa karena hingga Oktober 2006 saja jumlah dana yang dikelola sudah mencapai Rp40 triliun. Menurut Michael Tjoajadi, direktur PT Schroder Indonesia, ada dua nama yang memimpin pasar reksadana terproteksi saat ini, yaitu Mandiri dan Fortis.

Kalau sudah begini, siapa pun tak bisa membantah pendapat yang mengatakan bahwa inovasi adalah senjata untuk bisa memenangkan persaingan. Beberapa sudah berhasil membuktikannya. Bagaimana dengan Anda?

wartaekonomi.com
Read more...