Minimarket: Ini Dia Pendekar Waralaba!

Monday, February 19, 2007

Indomaret menjadi peritel minimarket dengan jumlah gerai waralaba terbesar di Indonesia. Tahun ini, Alfamart mencoba mengejar dengan target 50% waralaba dalam 2.000 gerainya.

Minimarket = Indomaret = Waralaba
Image semacam ini tampaknya sukses dibangun oleh para petinggi PT Indomarco Prismatama sebagai pengelola minimarket Indomaret. Buktinya, sampai akhir tahun lalu, dominasi Indomaret dalam jumlah gerai, termasuk gerai waralaba, tak terkejar pesaingnya seperti Alfamart dan Starmart.


Bahkan, Didit Setiadi, PR manager PT Sumber Alfaria Trijaya, pengelola Alfamart, tanpa ragu-ragu mengakui dominasi Indomaret, sambil menyebut Alfamart masih berada di posisi kedua di bawah sang penguasa pasar ini. Hingga akhir tahun lalu, Alfamart baru punya 1.700 gerai dengan 35%-nya gerai waralaba, sedangkan Indomaret memiliki 1.859 gerai dengan 770 di antaranya gerai waralaba.

Apakah dominasi Indomaret masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini? Mungkin saja. Namun sayangnya, sampai saat ini, sulit mengorek keterangan dari pengelola Indomaret mengenai rencana ekspansi mereka di 2007. Mereka hanya menyebut target omzet yang diharapkan tumbuh 25% menjadi Rp7,12 triliun.

Berbeda dengan pesaingnya, Alfamart, yang secara tegas menyebutkan tahun ini jumlah gerainya akan naik hingga ke level 2.000. “Dari jumlah ini, 50% di antaranya akan dikelola oleh masyarakat lewat pola waralaba dan operator mandiri,” ungkap Didit.

Ada banyak alasan mengapa akhirnya peritel seperti Indomaret dan Alfamart lebih memilih pola waralaba. Pertama, menurut pengamat ritel Hidayat, karena pola ini menyediakan dana murah dibandingkan pinjaman bank. Terlebih-lebih bagi Alfamart. Sejak Philip Morris, pemilik baru PT HM Sampoerna Tbk., menjual kepemilikan sahamnya di Alfa, maka otomatis sumber dana murah yang selama ini mengalir dari Sampoerna langsung terputus.

Kedua, makin banyak aturan main yang akan dibuat pemerintah daerah untuk menahan laju ekspansi peritel modern seperti Alfa di daerah. Sebut saja di Jakarta, Pemda DKI baru saja mengeluarkan keputusan untuk menghentikan pemberian izin untuk minimarket di seluruh wilayah DKI Jakarta mulai tahun ini.

Alfamart sendiri telah merasakan banyak ganjalan akibat aturan pemda, seperti yang mereka alami di Serang. Belum lama ini, Pemda Serang menutup gerai Alfamart karena larangan izin minimarket modern di wilayahnya. Namun, kini gerai itu kembali dibuka setelah merek Alfamart diganti dengan Punten dan dikelola paguyuban warga Banten.

Itu sebabnya, langkah ekspansi akan dilakukan Alfamart ke daerah yang minim aturan untuk minimarket modern seperti Jawa dan Lampung. Setidaknya, pada 2007, mereka berencana membuka 50 hingga 100 minimarket di daerah Jawa Tengah dengan mengusung pola waralaba dan modal sendiri.

Harapannya, tentu saja, jumlah ini bisa segera mengejar pesaingnya, Indomaret, yang saat ini menguasai 35% pangsa pasar minimarket. Jadi, waralaba memang masih akan jadi senjata pamungkas para peritel yang mengusung konsep minimarket sampai peraturan menghentikannya.

Senin, 19 Februari 2007
wartaekonomi.com
Read more...

Survey AC Nielsen : Alfamart Peritel Paling Top

Monday, February 12, 2007

Mengalahkan nama-nama peritel besar lainnya, Alfamart terpilih sebagai brand ritel nasional nomor wahid berdasarkan survei Nielsen.

Hal tersebut disampaikan Direktur Retailer Service and Business Development AC Nielsen Yongky Surya Susilo, dalam seminar bertajuk 'Asing Incar Industri Ritel Nasional', di hotel Arya Duta, Jalan Prapatan, Jakarta Pusat, Senin (12/2/2007).

"Alfamart jadi brand ritel nomor satu di Indonesia, dulu cuma 50-an, sekarang jadi 1500an outlet, Alfamart benar-benar Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan manajemen seluruhnya orang Indonesia," ujang Yongky.

Dikatakan Yongky, Indonesia saat ini berada dalam jalur pertumbuhan ritel yang sangat cepat.
Pada tahun 2005-2006 angka penjualan naik 14,3 persen. Pada tahun 2005 penjualan melalui ritel mencapai Rp 57,24 miliar dan tahun 2006 mencapai Rp 63,58 miliar.

Yongky juga melihat Indonesia sangat potensial untuk didatangi oleh peritel-peritel multi nasional karena melihat prospek jumlah penduduk yang besar dan sifat konsumeristik masyarakat Indonesia yang tinggi.

Berdasarkan data Pusat Studi Properti Indonesia, pasokan pusat perbelanjaan wilayah Jabotabek naik dari tahun 2005 ke 2006. Pada tahun 2005 di Jakarta terdapat 246 ribu unit, dan di Bodotabek terdapat sebanyak 195 ribu unit, sehingga totalnya menjadi 530 ribu unit. Dan tahun 2006 di Jakarta, jumlah pusat perbelanjaan menjadi sebanyak 441 ribu unit dan Bodetabek sebanyak 105 ribu unit menjadi total 635 ribu unit. (hdi/qom)

Sumber: Detikfinance
Read more...

Izin Minimarket di Jakarta Distop Sementara

Perizinan minimarket di Jakarta selama tahun 2007 akan dihentikan sementara.
Hal itu dilakukan mengingat saat ini jumlah minimarket yang semakin menjamur.

Pemda DKI sedang melakukan penataan
"Izin sementara ditunda dulu, karena kalau tidak ada kebijakan jelas, kita tidak bisa membedakan mana yang waralaba atau induknya," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dalam seminiar bertajuk "Asing Incar Industri Ritel Nasional", di hotel Arya Duta, Jalan Prapatan, Jakarta Pusat, Senin (12/2/2007).

Dijelaskan Fauzi, saat ini Pemda DKI tengah menunggu masukan dari berbagai pihak terkait penataan minimarket tersebut termasuk mengenai penentuan jarak ideal pendirian minimarket.

"Pembatasan minimarket kita akan menentukan jarak idealnya, kita masih tunggu masukan dari berbagai pihak, ada waralaba. ada juga yang punya induknya, maka yang perlu dilakukakan adalah penataan," jelas Fauzi.

Diakui Fauzi, petumbuhan ritel 20% pada tahun 2006 telah membantu menggerakkan perekonomian Jakarta yang tumbuh 6 persen. Oleh karena itu perlu diatur dan dilakukan penataan serta selektif dalam pemberian izin karena beberapa wilayah di Jakarta, seperti di Jakarta Pusat telah mengalami kejenuhan jumlah ritel atau minimarket. Sementara di wilayah Jakarta Timur masih memiliki peluang untuk pendirian minimarket.

Fauzi memberikan perbandingan, dengan jumlah ritel yang ada di Jakarta berbanding jumlah penduduk, bahwa di Jakarta satu ritel melayani 370 ribu orang, sedang di Bangkok, Thailand, sebuah ritel hanya melayani sebanyak 170 ribu orang.
"Artinya kita masih kurang pusat perbelanjaan di Jakarta, namun kita harus hati-hati karena pusat perbelanjaan masih kosong dan kurang pembeli, karenanya jangan terjebak dengan perizinan yang tidak tepat sasaran," ucap Fauzi.

Sementara disampaikan oleh Direktur Bina Pasar dan Distribusi Departemen Perdagangan Gunaryo, pihaknya mendukung penataan mini market yang dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta, agar dalam satu pemukiman minimarket tidak berdekatan.
"Distop dulu izinnya oleh Pemda DKI Jakarta, yang baru melakukan penataan baru di Jakarta," kata Gunaryo. (hdi/qom)

Sumber: Detikfinance
Read more...

Veneta System Berniat Ekspansi Ke Asia Tenggara

Friday, February 9, 2007

Veneta System sebagai salah satu konsep bisnis franchise (waralaba) refill center for inkjet, toner, and ribbon sedang menjajaki ekspansi ke luar negeri. Langkah itu akan diawali ke negara-negara regional seperti Asia Tenggara.

“Kami sedang mempelajari perluasan bisnis ke Thailand, Vietnam, dan Malaysia, “ kata Andrianus Widjaja, franchise director PT Veneta Media Usaha (Veneta System) kepada WartaEkonomi di sela-sela ‘Franchise Gathering’ pada Jum’at (2/2) lalu.

Konsep bisnis franchise refill center for inkjet, toner, and ribbon dari Veneta System telah berlembang di luar negeri. Negara-negara yang dimaksud seperti Australia, Jepang, dan Uni Emirat Arab (UEA). “(Padahal) konsep bisnis waralaba Veneta System sudah tidak berkembang di negara asal yaitu Italia, “ ujarnya.

Andri berkomentar konsep bisnis waralaba Veneta System tidak berkembang di sejumlah negara lantaran negara-negara itu tidak menggunakan refill for inkjet, toner, and ribbon. Negara-negara tersebut seperti Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa.

Menyinggung perkembangan konsep bisnis waralaba Veneta System di Indonesia, ucap Andri, sangat cepat. Sampai awal Februari 2007 Veneta System telah mempunyai 71 outlet di Indonesia seperti Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Yogya, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Bali, Banjarmasin, Balikpapan, Medan, Lampung, Padang, dan Batam.

“Sebanyak 82 outlet lagi diharapkan akan hadir sampai akhir 2007 seperti Pekanbaru, Pangkalpinang, Jambi, Aceh, Pontianak, Palangkaraya, Bontang, Palu, dan Makasar, “ jelasnya.

Andri mengklaim market share terbesar dalam konsep bisnis waralaba refill center for inkjet, toner, and ribbon dipegang Veneta System. Namun dia tidak menyebutkan angka tersebut secara pasti. “Kami satu-satunya franchise refill center for inkjet, toner, and ribbon yang serius di Indonesia, “ paparnya.

Veneta System memperkenalkan konsep bisnis franchise refill center for inkjet, toner, and ribbon mulai 2003. Padahal, Veneta System telah hadir di Indonesia sejak 2001. Kemudian, pada 2002 Veneta System membuka empat outlet di beberapa lokasi wialyah Jakarta.

wartaekonomi.com
Mochamad Ade Maulidin
Read more...