i-Tutor.Net:Setahun Buka 420 Cabang

Thursday, April 26, 2007

Luar biasa! Mungkin ini kata yang tepat untuk melukiskan cepatnya i-Tutor.Net dalam mengembangkan cabangnya di Indonesia. Tengok saja, dalam setahun, di tangan Sofian Tjandra, pemegang master franchise i-Tutor.Net, warabala pendidikan asal Singapura ini telah memiliki 420 cabang di sini.

Tak hanya itu, pemegang gelar Ph.D. dari Universitas De La Salle, Manila, Filipina ini juga dipercaya prinsipalnya mengembangkan jaringan i-Tutor.Net di dunia. Kepercayan itu diberikan pada Sofian karena ia berhasil memodifikasi sistem pendidikan yang memadukan IQ dan EQ ini dengan cara baru, cocok bagi negara yang infrastruktur Internetnya kurang bagus dan mahal seperti Indonesia. “Saya menggabungkan edutainment, intranet learning dan active learning karena anak-anak juga dipacu untuk mau bicara di depan setelah melihat apa yang tergambar di layar proyektor,” katanya.

Di sini ia membuat terobosan dengan menambah layar proyektor, seperti menonton film di bioskop di setiap kelas. Tujuannya, menyiasati problem akses Internet di Indonesia yang mahal dan tidak semua anak memiliki personal computer (PC) di rumahnya. Selain itu, konsep yang dirancang Sofian merupakan perpaduan antara keterampilan, teknologi dan nilai-nilai moral. Jadi, siswa bukan hanya pintar berbahasa asing, melainkan juga memahami nilai-nilai moral tersebut.

Aslinya, sistem pendidikan ini dijalankan melalui pengajaran lewat Internet sehingga anak-anak bisa belajar di rumah. “Waktu itu, i-Tutor masih dalam bentuk Internet learning,” ia mengenang saat dirinya pertama kali mengenal waralaba ini dari temannya, seorang profesor dari Singapura. Kebetulan temannya adalah salah satu pendiri i-Tutor.Net. Sistem pendidikan ini memang dibangun oleh 60 profesor yang ahli di bidangnya, 10 di antaranya adalah pakar psikologi anak.i-Tutor.Net dibawa Sofian ke Indonesia pada 2001 dengan basis pengajaran melalui Internet sebagaimana yang diterapkan di negeri asalnya. Sayang, karena infrastruktur Internet di sini kurang kondusif, sistem pendidikan ini tidak sukses. Sofian tak menyerah.

Setelah berkonsultasi dengan temannya itu, ia mendapatkan kebebasan memodifikasi pendidikan sesuai dengan kondisi negaranya. “Saya diminta membuat konsep intranet yang cocok,” imbuhnya. Hasilnya, konsep baru yang memadukan edutainment, intranet learning dan active learning diterima baik oleh prinsipalnya, juga masyarakat di sini. Konsep baru ini pun mulai ia waralabakan dan berhasil menggaet 100 franchisee.

Dengan konsep barunya itu, Sofian diberi hak mewaralabakan di dunia, terutama di negara yang memiliki kesamaan dengan Indonesia. “Semua harus lewat pintu gerbang Indonesia, sebab untuk i-Tutor dengan konsep baru itu saya yang buat,” tutur Sofian bangga. Saat ini, ia sudah mengembangkannya di Cina (11 cabang), Vietnam (tiga), serta Filipina, Thailand dan Malaysia (masing-masing satu).

Untuk mempercepat jaringan cabangnya, pada Januari 2006 Sofian mulai menerapkan sistem sponsorship. Artinya, para franchisee yang bisa menggaet orang baru untuk membuka cabang i-Tutor.Net berhak mendapat uang bonus. “Mereka bisa menerima bonus 30%-40% dari franchising fee,” ujar lulusan Ekonomi Manajemen, Universitas Kristen Indonesia itu. Melalui cara tersebut, ia yakin “virus” ini bisa membuat para franchisee terpacu mengembangkan bisnis waralaba ini. Bahkan, franchisee yang bisa membangun jaringan dengan mensponsori 20 cabang dalam waktu tiga bulan berhak atas uang tunai Rp 100 juta plus mobil Xenia atau Avanza.

Sofian menyebut langkah ini sebagai “Single Level Multiple Benefit”. Ia juga mengembangkannya dengan sistem distributorship yang memungkinkan franchisee memiliki hak mengelola seluruh franchise i-Tutor.Net di suatu wilayah. Tingkatan distributor mulai dari Exclusive Royal Master Distributor (ERMD) untuk wilayah provinsi, Exclusive Master Distributor (EMD) untuk wilayah kabupaten atau kota, dan Exclusive Distributor (ED) untuk wilayah kecamatan.

Kompensasi untuk ERMD adalah mendapat bagian 5% dari franchise fee, royalty fee, dan penjualan merchandise (kaus, tas, dan lain-lain). Sementara EMD mendapat kompensasi 5%-10% dari pendapatan di wilayahnya. Harga untuk menjadi ED kala pertama kali ditawarkan hanya Rp 15 juta, tapi sekarang Rp 30 juta. Untuk EMD harga awalnya Rp 25 juta, sekarang naik menjadi hingga Rp 50 juta (tergantung wilayah).

Cara lainnya, mengajak perorangan yang bukan franchisee untuk menawarkan peluang membuka waralaba ini. Mereka ini disebut Innovative Business Opportunity (IBO). “Kalau Anda berhasil mengajak orang menjadi franchisee, Anda berhak fee 10% dari nilai franchise fee-nya,” ujarnya.

Sofian mengakui sistem sponsorship dan distributor inilah yang membuat cabangnya berkembang pesat. Tak mengherankan, dalam setahun -- Januari 2006-Januari 2007 -- mampu membuka 420 cabang. “Saya ingin membangun 10 ribu cabang di seluruh Indonesia dalam dua tahun ke depan,” katanya. Ia optimistis target itu bisa tercapai, karena pihaknya punya formula khusus untuk mencapainya.

Dede Suryadi dan Herning Banirestu (SWA)

0 comments: