Indomaret:Memberikan yang Terbaik bagi Investor

Thursday, April 26, 2007

Bisa dipastikan, hampir di setiap perumahan di Jabodetabek, hadir Indomaret. Minimarket dengan warna kuning dan biru yang mencolok ini sampai Februari lalu memiliki 1.913 gerai. Dari jumlah tersebut, 803 gerai dikembangkan lewat model waralaba.

Sistem waralaba ini mulai diterapkan PT Indomarco Prismatama (IP) -- perusahaan yang menaungi Indomaret -- pada 1997, sembilan tahun setelah Indomaret didirikan.

Diungkapkan Laurensius Tirta Widjaja, Direkur Operasional IP, pihaknya menargetkan sampai akhir 2007 gerai Indomaret bisa mencapai 2.400-an, dengan pengembangan pola waralaba minimal 60%-70%. “Visi Indomaret adalah menjadi aset nasional dalam bentuk jaringan ritel waralaba yang unggul dalam persaingan global,” katanya. Ke depan, pihaknya menargetkan mengembangkan toko sebanyak-banyaknya, dan 80%-90%-nya dikembangkan dengan model waralaba.

Memang, setelah 1997, pola pengembangan bisnis Indomaret dilakukan dengan dua cara: modal sendiri dan waralaba. Meski ke depan akan menggejot pola waralaba, menurut Laurensius, pihaknya tidak akan sembarangan menjual waralaba, terutama ke daerah-daerah.

Dalam pandangannya, yang harus diperhatikan adalah kesiapan pasar. “Dan, kami juga harus memberi keyakinan,” ungkapnya. Maka, ia tak mau agresif menggempur pasar daerah. “Seperti di Yogya dan Lampung, kami belum berani menjual waralaba meski sudah ada investor yang meminta,” ceritanya. Karena pertimbangan belum siap dijual dengan sistem waralaba, Indomaret memiliki sendiri gerai di daerah tersebut. “Kami tidak mau investor kecewa karena ketidaksiapan pasar menerima keberadaan toko modern.”

Dijelaskan Laurensius, banyak hal yang menjadi pertimbangan Indomaret saat membuka toko. Misalnya, melihat karakter atau budaya masyarakat di suatu daerah yang masih belum menerima konsep toko modern seperti Indomaret. Artinya, masyarakatnya lebih suka berbelanja di pasar tradisional dan melakukan tawar-menawar. Maka, yang penting, menurutnya, membuat masyarakat yakin dengan kehadiran toko modern ini. Di Jabodetabek, jumlah waralaba Indomaret sudah mencapai 70%. Sementara di Bandung, Semarang dan Surabaya, rata-rata hanya 30-40 gerai waralaba. “Kami akan kebut komposisinya, “ imbuhnya.

Ia mengakui, merek Indomaret sudah kuat, sehingga pihaknya tidak mau sembarangan membuka gerai dan memberikan waralaba. “Kami ingin memberikan kualitas dan kepercayaan. Harapan kami, investasi mereka bisa berbuah,” ungkapnya. Membangun citra merek, menurutnya, sangat tidak mudah. Karena itu, pihaknya tidak mau terlalu agresif menyerang pasar. “Jangan gara-gara menjual satu outlet waralaba di satu daerah yang belum siap masyarakatnya bisa sampai merugikan investor sendiri.” Dengan cara yang hati-hati tersebut, calon investor justru akan yakin dengan bisnis yang ditawarkan Indomaret.

Sampai saat ini, Laurensius mengklaim, kegagalan gerai waralaba Indomaret di bawah 10%. Penyebabnya lebih banyak karena lokasi yang kurang strategis. “Kegagalan juga bisa disebabkan ketidakbecusan pemilik,” tambahnya. Memang, dikatakannya, ada mitra bisnis yang tidak proaktif dan tak mau memberi masukan.

Untuk target ekspansi dengan pola waralaba, pihak IP telah melakukan berbagai langkah, misalnya memperkuat sumber daya manusia. Laurensius berpendapat, selain produk, Indomaret pun menjual jasa yang terkait dengan kenyamanan konsumen. “Toko harus nyaman dan konsumen dilayani dengan baik, selain produk juga harus tertata apik di rak,” ujarnya. Karena itu, IP senaniasa melakukan pelatihan SDM. Untuk menarik konsumen, IP menggeber pula promosi hadiah langsung selain hadiah undian, seperti mobil. “Itu yang membuat konsumen semakin loyal,” katanya. Hadiah langsung, menurutnya, sangat efektif. “Berdasarkan survei internal, konsumen senang hadiah langsung dan hadiahnya reasonable serta menarik.”

Kelengkapan toko pun menjadi fokus perhatian. Contohnya, menjual elpiji, voucer elektronik, dan roti yang dimasak di toko. Tahun 2006, IP melengkapi salah satu toko dengan minuman kopi, teh dan makanan siap saji. “Kami harus lebih convenient,” kata Laurensius. Tahun yang sama, Indomaret juga menjual Ice Tart Cake yang bisa dikirimkan untuk pesta ulang tahun atau acara lain. Terobosan produk tersebut untuk memperkuat merek Indomaret. “Isi dan kontennya terus di-improve dan diinovasi sehingga memudahkan konsumen,” ujarnya.

“Apa pun yang dibeli bisa didapatkan di Indomaret.” Tahun ini, bekerja sama dengan Bank Mandiri, Indomaret menerapkan pembayaran dengan kartu kredit, selain sebelumnya dengan Debit BCA. “Ini membuat konsumen makin nyaman,” ujar Laurensius. Sistem pembayaran dengan kartu kredit ini telah diujicobakan di 50 toko. Ke depan, akan diberlakukan di seluruh Indomaret. “Responsnya bagus,” ujarnya.

Yang paling gres adalah pembayaran lewat flash card. “Kartu ini sudah ada dananya. Mereka belanja tinggal bawa kartu ini,” katanya. Sampai kini fasilitas pembayaran yang paling banyak digunakan adalah melalui kartu debit, bisa mencapai Rp 15 miliar/bulan.

Untuk waralaba Indomaret, Laurensius menjelaskan, investor rata-rata perlu menyiapkan investasi Rp 250-300 juta. Rata-rata payback-nya 3-3,5 tahun. Franchise fee-nya Rp 36 juta/bulan, sedangkan royalty fee rata-rata 2%-4% per bulan. “Sekarang, kami tidak memakai fee administrasi, gratis. Tujuannya, memberikan pelayanan terbaik bagi investor Indomaret,” tuturnya.

Farida Nawang Nurini, Darandono dan Henni T. Soelaeman (SWA)

0 comments: