KFC: Terus Genjot Kualitas Produk, Layanan dan Gerai

Thursday, April 26, 2007

Kentucky Fried Chicken (KFC) adalah resto makanan cepat saji asal Amerika Serikat yang terus mengepakkan sayapnya. Di bawah payung PT Fast Food Indonesia (FFI) sebagai pemegang master franchise di Indonesia, KFC sekarang memayungi 277 gerai yang tersebar di seantero Tanah Air.

Tahun ini, FFI menargetkan menambah 70 gerai sehingga pada penghujung 2007 gerai KFC di Indonesia akan mencapai 347.

Menurut Fabian Gelael, Direktur Operasional FFI, sampai saat ini pihaknya belum tergoda men-subfranchise-kan KFC. “Kami khawatir kesulitan mengontrol franchisee,” ujar Fabian. Misalnya, kalau gerai sepi, nanti franchisee tergoda memasukkan barang-barang non-KFC, seperti siomay dan sejenisnya. “Sales-nya akan makin turun dan dari satu outlet yang rusak itu akan menyebar ke outlet lain seperti virus. Kami tidak mau seperti itu.” Fabian memaparkan, selama ini pengembangan gerai KFC selalu didasarkan pada kondisi modal yang ada. “Kami mengambil dana sendiri dari hasil keuntungan kotor kami, 10%-15%. Saat ini kami belum memerlukan subfranchise. Lebih baik kami meng-hold dulu karena opportunity-nya pasti datang,” ujarnya yakin.

Diakuinya, untuk membuka satu gerai saja minimal diperlukan setoran modal Rp 2,5 miliar, termasuk untuk sewa/kontrak tempat. Pengeluaran terbesar tersedot untuk pengadaan mesin-mesin alias alat masak, seperti original recipe pressurize machine dan open fryer. Investasi tersebut juga sudah termasuk biaya initial fee per store yang disetor ke pemilik merek, Yum!, sebesar US$ 35 ribu. Selain itu, pihak FFI pun wajib membayar royalty fee 6,6% dari penghasilan bersih FFI per tahun. “Mahal sekali memang,” ungkap Fabian. Namun, sepertinya FFI tetap semringah. Pasalnya, gerai-gerai KFC juga mampu menghimpun pundi-pundi uang untuk FFI. Tahun 2006, pendapatan KFC mencapai Rp 1,25 triliun. Tahun ini, Fabian menargetkan Rp 1,4 triliun.

Kinerja yang moncer itu dinilai Fabian karena pihaknya tak pernah lelah mengejar kualitas, baik produk, layanan, maupun gerai. Untuk menjamin mutu produk dan rasa di semua gerai KFC Indonesia, FFI memegang teguh standar yang telah digariskan prinsipalnya. Untuk itu, bumbu ayamnya, seperti resep asli dari Colonel Sanders, masih dikirim langsung dari AS. Sementara untuk pasokan ayam, FFI mengandalkan 18 pemasok besar yang mempunyai blasting system (mesin yang mampu membekukan ayam dalam jumlah besar dan dalam tempo 40 menit). Selain itu, proses penggorengannya pun sangat ketat menerapkan aturan standardisasi. “Kami kalau memasak ayam, harus dengan suhu 171 derajat Celcius dan tak boleh kurang satu derajat pun. Kalau tidak, rasanya akan berubah,” Fabian menerangkan.

Untuk memantau standardisasi itu, FFI memonitor lewat tim quality assurance (tim standar yang ada di seluruh KFC di dunia) yang dibagi menjadi 7 regional di Indonesia. “Masing-masing regional mengecek dari store ke store, mulai dari suplai ayam, bumbu, hingga barang jadi,” ujar Fabian. Selain kualitas, inovasi produk terus digeber pula. “Kami selalu mengeluarkan 2-3 menu baru setiap tahun yang disesuaikan dengan kondisi pasar.” Menurutnya, pasar Indonesia berbeda dari AS. “Konsumen di Indonesia menginginkan restoran yang warm, ada sofanya, dan untuk hang out tidak malu-maluin,” ujarnya. Karena itu, FFI merombak gerai-gerai KFC menjadi berbentuk kafe.

Dalam pandangan Fabian, store asset KFC harus selalu up-to-date. “Desainnya harus baru karena setiap orang sekarang ingin sekali melihat sesuatu yang baru,” katanya. Sementara ketika akan membuka gerai, yang pertama dilihat adalah lokasi. “Selanjutnya, buying power-nya, dan kemudian perkembangan masyarakat setempat,” katanya lagi. Menyadari bahwa salah satu elemen persaingan terpenting terletak pada unsur harga, maka strategi harga KFC selalu disesuaikan dengan bahan baku setempat dan harga cargo handling-nya. “Target pasar kami kelas A sampai kelas B dan tentu membandingkan dengan harga kompetitor.” Adapun dari sisi layanan, karyawan KFC setahun dua kali selama 1-2 bulan mendapat pelatihan dengan modul, antara lain kepuasan pelanggan.

Kepada karyawan juga selalu dipompakan motivasi “we are the owner of Kentucky”. “Mereka adalah ujung tombak kami. Apa pun yang mereka lakukan, efeknya akan kembali ke kami,” ujar Fabian.

Eddy Dwinanto Iskandar dan Henni T. Soelaeman (SWA)

0 comments: