Midas Bernama Johnny

Thursday, April 26, 2007

Di tangannya, BreadTalk dan J.Co menjadi fenomena bisnis makanan di Tanah Air. Apa kunci suksesnya?

Di dunia waralaba Indonesia, rasanya tak berlebihan, bila untuk sementara waktu – sekali lagi, sementara waktu – Johnny Andrean dianggap sebagai Midas.

Lihatlah, dari seorang hair stylist, Johnny sukses membawa BreadTalk menjadi fenomena dunia roti di Tanah Air. Bukan cuma membuat orang rela antre, kecepatan berekspansinya pun mengagumkan.

Sejak hadir di Indonesia pada Maret 2003 di Mal Kelapa Gading ext. 3 Jakarta, cabangnya terus menyebar. Kini, sudah 30 gerai tersebar di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, Pekanbaru, Solo, Yogyakarta, Palembang, Batam, dan Medan. Dibanderol di kisaran Rp 4-8 ribu per roti, produk ini hampir selalu ludes terjual.

Salah satu kunci sukses waralaba yang dibawa langsung dari Singapura ini, ditegaskan Johnny, adalah butik roti dengan desain interior yang open kitchen. Gaya dapur terbuka ini membuat pengunjung dan pembeli dapat melihat langsung bagaimana produk dibuat sehingga tahu bahwa yang dijual benar-benar fresh from the oven. “Supaya pembeli kami tahu bahwa kualitas higienis produk itu terjamin dengan masa berlaku satu hari,” tambah Gita Herdi, Manajer Humas Grup Johnny Andrean.

Tentu saja, konsep dapur terbuka ini menjadi hal menarik karena banyak pengusaha makanan yang tabu membuka dapurnya. “Buat apa takut terbongkar?” ucap Gita. “Pada open kitchen ini, yang ditunjukkan proses pembuatannya saja! Resep mulai dari pemilihan bahan baku dan adonannya, itu yang jadi rahasia kami,” tambahnya. Perkara roti yang diganti setiap hari, tentu saja tidak terlalu istimewa sebab tukang roti asongan pun melakukannya. Lalu apa yang menjadi keistimewaan BreadTalk?

Gita menegaskan, keistimewaannya terletak pada tahap praproduksi. Sebelum meluncurkan produk baru dengan nama yang unik, pihaknya menyiapkan secara selektif selama dua-tiga bulan sebelumnya. Untuk mengetahui rasa baru yang bisa diterima konsumen, digelar survei riset consumer insight di setiap gerai. Kepada pengunjung disajikan beberapa contoh calon produk roti paling gres. Kemudian, setiap bulan ada penambahan dua-tiga varian rasa dengan nama-nama yang mudah diingat, misalnya Fire Floss.

Gita tidak menampik BreadTalk mengundang pengusaha lain mengikuti jejak serupa. Untuk menghadapi persaingan, ia menegaskan pihaknya selalu konsisten menjaga kualitas, mulai dari proses praproduksi sampai pascaproduksi. Dan, tentu saja selalu berinovasi produk. Seperti yang baru saja dilakukan yakni meluncurkan empat kreasi terbaru: Toasted Cheese, Twister, Hot Temptation, dan Sakura. Keempat varian ini merupakan bagian dari kampanye edukasi tentang roti sebagai makanan alternatif terbaik pengganti nasi. “Kami menyebutnya sebagai Fun Dinning ala BreadTalk. Keempat varian terbaru ini bisa dijadikan sebagai alternatif untuk starter, appetizer, main course, dan dessert,” Inggrid, PR Eksekutif BreadTalk, menguraikan.

Johnny sendiri hanya tersenyum ketika dikatakan usaha butik rotinya ini menjadi trend-setter bisnis roti di Indonesia. Bahkan, tak sedikit yang ingin bermitra. “Sampai saat ini, BreadTalk Indonesia belum mau saya waralabakan meski yang bersedia menjadi franchisee banyak sekali,” tambah lelaki yang memegang master franchise BreadTalk di Indonesia ini. Alasannya, ia masih menata diri dan menjaga kualitas produk agar tetap mudah terkontrol.

Kehati-hatian, tampaknya amat dipegang Johnny dalam berekspansi. Yang menarik, ia justru berekspansi dengan mengibarkan donat J.Co. Dan seperti halnya di roti, tangan Midasnya kembali bekerja. Ia sukses. Kedai donat dan kopi yang dinamakan J.Co Donuts & Coffee juga menimbulkan kehebohan tersendiri. Dengan konsep mirip Starbucks, tapi open kitchen, resto ini menjadi tempat kongko baru kawula muda. Yang menarik, banyak yang menganggap donat Johnny tak ubahnya BreadTalk, waralaba asing. “Padahal murni buatan lokal,” tandas Indriana Liztya, Manajer PR & Promosi J.Co Donuts & Coffee.

J.Co memang disiapkan Johnny sebagai produk bercitarasa dan berkesan global. Karena itu, harga jual yang dibanderol lebih tinggi dibanding donat di pasaran. Setengah lusin donat glaze, misalnya, berkisar Rp 23-25 ribu untuk assorted. Dan itu semua disambut pasar. Berawal di Supermal Karawaci Tangerang pada 26 Juni 2005, jaringan J.Co sekarang mencapai 20 gerai. Lokasinya, di mana ada BreadTalk, umumnya di sana ada J.Co, sebab resto ini memang menyasar kalangan menengah-atas yang terbiasa dengan gaya hidup dinamis, charm (menarik), dan modern.

Hampir 50% bahan baku J.Co diimpor. Cokelat, misalnya, dari Belgia, sedangkan susu dari Selandia Baru. Biji kopinya pun langsung di-roasted di Italia dan Kosta Rika yang dipadukan dengan biji kopi lokal. Karena itulah, positioning J.Co ditetapkan sebagai produk berkualitas premium. Selaiknya BreadTalk, Johnny juga menggelar survei pendahuluan untuk membaca selera konsumen. Kegiatan ini dilakukan dua minggu hingga sebulan sebelum varian baru diluncurkan. Survei menjadi ajang masukan dalam membuat varian donat dan minuman terbaru.

Nama-nama donat pun sengaja dibuat untuk memancing rasa ingin tahu pembeli. Contohnya: Al Cappone (donat dengan topping kenari); dan Cheese Me Up (donat yang dilumuri keju cair di atasnya, bukan parutan seperti biasanya).Kini, J.Co memiliki lebih dari 19 varian rasa. Cheese Me Up, Glaze Donut, dan Al Cappone adalah nama yang banyak dipilih konsumen.

Untuk minumannya, ada Cappuccino untuk kategori minuman panas, Toffee O (minuman nonkopi), dan Thai Tea untuk minuman dingin sekali (over ice). Di luar itu, ada dua produk yang baru diluncurkan: Don Mochinno (donat ber-topping cokelat dengan gambar dua hati dan berisi kapucino); serta minuman Mochabella yang memadukan kopi dan cokelat. “Produk ini dihadirkan untuk memenuhi selera konsumen yang tidak terlalu suka kopi atau cokelat saja,” papar Johnny di sela-sela acara peluncuran produk terbaru J.Co Donuts & Coffee di Senayan City.

Kendati pemiliknya sama, manajemen J.Co terpisah dari BreadTalk. BreadTalk dengan bendera PT Talkindo Selaksa Anugrah (TSA); sedangkan J.Co dalam naungan PT J.Co Donuts & Coffee. Tujuannya, disebutkan Johnny, supaya ia bisa lebih fokus dalam pengelolaannya. Khusus J.Co, Johnny membangun tim spesialis yang bertugas menciptakan varian-varian baru donat dan minuman. Sama halnya dengan tim spesialis BredTalk yang mengurusi pengembangan roti terbaru, minimum sebulan sekali ada satu varian donat terbaru yang diluncurkan.

Sampai saat ini, seperti halnya BreadTalk, J.Co juga belum mau diwaralabakan khususnya untuk pasar dalam negeri. “Untuk pasar lokal, kami masih mau pegang sendiri. Untuk pasar luar negeri pun, kami nggak serta-merta menyetujuinya,” ujar Johnny. Rencananya, untuk pasar luar negeri, sistem waralaba sedang disiapkan dan dimatangkan.

Tahun 2007, J.Co siap go international, seperti ke Singapura, Hong Kong dan Australia. “Semuanya dalam proses dan penjajakan sambil memilih calon franchisee yang benar-benar pas untuk pasar luar negeri,” Gita menandaskan. Bagi Johnny, J.Co bagaikan bayi yang sedang diajari berjalan dengan benar. “Biar napak dahulu dengan baik, agar tidak mudah sempoyongan kalau ada ‘angin keras’,” ungkapnya diplomatis.

Tingginya minat yang ingin menjadi franchisee J.Co dijadikan tolok ukur dalam pembenahan diri. Juga, bentuk apresiasi publik karena produknya dapat diterima. Johnny pun tahu, masyarakat umum sering tidak ngeh bahwa J.Co sebenarnya murni buatan anak negeri. “Artinya, brand positioning yang sengaja mengglobal berhasil,” tambah Gita. Sejak dibuka sampai sekarang, J.Co tumbuh 1%-5% per bulan dengan jumlah penjualan rata-rata 10-20 ribu potong per hari di setiap gerai.

Sementara itu, total pertumbuhan bisnis BreadTalk mencapai 10%-15% per tahun. Johnny hanya tertawa penuh arti mendengar angka pertumbuhan itu. Baginya, angka-angka itu sebagai bukti kesungguhannya membangun bisnis food & beverage-nya. Ketika ditanya kunci utama kesuksesan bisnisnya, ia menjawab: disiplin pada janji, serta tepat waktu kepada calon mitra, mitra, karyawan, dan konsumen. “Intinya bisnis kan membangun kepercayaan atau reputasi,” tukasnya sembari tersenyum.

Sosok tinggi langsing berkacamata minus itu kembali menyapa tamu J.Co satu per satu. “Seperti itu kerjaan Bapak (Johnny – Red.) kalau ada di gerai,” kata Gita. Tujuannya supaya lebih dekat dan tidak mengecewakan konsumen.

Oleh : Tutut Handayani dan Rias Andriati (SWA)

0 comments: