MultiPlus,Tumbuh Cepat karena Menyasar Daerah Eksklusif

Thursday, April 26, 2007

Pertumbuhan gerai MultiPlus Business Services Center (MultiPlus) tergolong cepat. Tengok saja, tahun lalu gerainya baru berjumlah 58 unit, sedangkan saat ini telah mencapai 93 gerai, atau tumbuh 60%.

Ini belum termasuk yang dalam waktu dekat akan bergabung menjadi franchisee (mitra waralaba) MultiPlus yang berada di Surabaya, Mataram dan Lombok. Tak heran, Hariono Ginoto, Chief Executive Officer PT Multi Graha Realtindo – pengelola MultiPlus – yakin, pada tahun ini gerianya bakal mencapai 120 unit.

Tentu saja keyakinan Hariono itu beralasan. Pasalnya, saat ini sudah banyak yang mengajukan minat untuk menjadi franchisee-nya, seperti dari wilayah Jawa Tengah: Semarang, Solo dan Yogya; kemudian dari Batam dan Denpasar, Bali. Lalu, apa kunci sukses gerainya bisa tumbuh secepat itu? Hariono sendiri mengaku keberatan usaha waralabanya ini dianggap yang tercepat. Alasannya, menurut Hariono, yang layak mendapat predikat itu adalah Alfamart dan Indomaret. Namun, setelah dibandingkan, pertumbuhan gerainya dengan kedua supermarket itu dari tahun lalu hingga saat ini, MultiPlus tergolong paling cepat.

Dipaparkan Hariono, perusahaan penyedia fasilitas business centre – dari alat tulis, saluran telepon, mesin faksimile, mesin fotokopi, printer, kotak pos, Internet, multimedia hingga biro iklan – ini, bisa tumbuh cepat karena menyasar daerah yang eksklusif dan pasar potensial MultiPlus dilihat berdasarkan demografinya. Semakin ke tengah perkotaan, ternyata bisnis retail office ini semakin kecil nilai ekonominya. “Bisa saja kami masuk SCBD, tapi nilai ekonominya kecil karena di sana merupakan dunia perkantoran, semua fasilitas yang kami tawarkan ada di sana,” Hariono menuturkan. Makanya, Jakarta, menurutnya, semakin tertutup bagi MultiPlus untuk melebarkan sayapnya, sebab sudah banyak pusat perkantoran seperti SCBD itu. Tak heran, MultiPlus saat ini lebih berkonsentrasi menggarap pasar daerah.

Sejauh ini untuk menggarap pasar termasuk di daerah, MultiPlus tidak melakukan aktivitas pemasaran dan promosi yang agresif seperti yang dilakukan beberapa perusahaan waralaba lainnya. Hariono mengaku jarang melakukan aktivitas promosi seperti beriklan. Paling tidak, MultiPlus banyak berpartisipasi dalam acara pameran. Namun, setiap kali mengikuti pameran, stan MultiPlus menempati posisi paling depan yang langsung menarik perhatian pengunjung. Tak heran, waralaba ini banyak mendapat mitra franchisee-nya melalui ajang promosi below the line seperti ini. “Paling tidak setiap kali pameran kami mendapat empat franchisee,” ungkap Hariono.

Untuk menjadi mitra MultiPlus, franchisee memiliki kewajiban membayar fee waralaba senilai Rp 130 juta untuk masa lima tahun (angka ini naik lebih dari 100% dibandingkan dengan tahun pertama MultiPlus diwaralabakan); dan fee royaltinya 5%. Untuk sumber daya manusia (SDM) yang idealnya untuk setiap gerai diperlukan 9 orang, Hariono membagi perannya dengan franchisee di mana mitranya itu yang mencari SDM; sedangkan MultiPlus sebagai franchisor yang memberikan pelatihan. Boleh jadi 100% SDM dikelola franchisee, tapi MultiPlus tetap menempatkan satu orang manajer – yang disebut Franchisee Relation Officer – yang bertugas mengontrol gerai. Setiap manajer mengendalikan 12 gerai.

Dalam operasionalnya, setiap 6 bulan sekali gerai-gerai MultiPlus diaudit. Selain itu, pengadaan sistem teknologi informasi (TI) juga semakin komplet. Ada Internet yang online 24 jam untuk mengetahui kondisi setiap gerai. Ada CCTV di setiap gerai yang bisa diakses langsung dari pusat. Ada software yang bisa mengecek data pendapatan per hari. “Kami mengembangkan sendiri sistem TI. Ada intranet di mana kami buka forum online dengan franchisee, misalnya,” kata Hariono menjelaskan sistem kerja di MultiPlus.

Dengan penawaran waralaba seperti itu, tak sedikit franchisee MultiPlus yang memiliki lebih dari satu gerai. Namun, diakui Hariono, ada juga gerai yang terpaksa diambil alih, sebab terjadi konflik di antara para investor yang berkongsi, atau ada beberapa gerai MultiPlus yang direlokasi. “Yang jelas dari awal kami telling the truth. Makanya, target kami adalah franchisee yang educated,” ia menjelaskan.

Perusahaan yang menjadi kandidat The Best Franchise of the Year 2006 di Singapura ini, baru mewaralabakan usahanya di tahun 2004. Untuk itu kalau bicara tentang kesuksesan, ia dengan rendah hati mengatakan belum bisa menyebut MultiPlus sukses. Sementara, kalau bicara tentang kegagalan pebisnis waralaba secara umum itu disebabkan pasarnya sudah terlalu sempit, atau bisa pula lantaran ada cara berpikir yang berbeda antara franchisee dengan franchisor-nya. “Yang akan bertahan justru pemain yang berani telling the truth. Mungkin franchisor harus berani membicarakan hal yang terpahit. Memang kebanyakan orang tak akan tertarik bila bicara pahitnya dulu. Itu perlunya mencari niche market agar usaha ini menjadi eksklusif dan unik,” Hariono menandaskan.

Secara detail ia memberikan kunci sukses berbisnis waralaba.
Pertama, calon franchisee harus memiliki passion. Harus ada keyakinan dalam diri franchisee bahwa bisnisnya bisa berjalan.
Kedua, harus melihat bagaimana jam terbang franchisor.
Ketiga, tekun dan hati-hati dalam menjalani bisnis.
Keempat, idealnya setiap 6 bulan sekali usahanya diaudit seperti yang selama ini dilakukan MultiPlus.

Yang terpenting lagi, tidak ada pola one man show dalam sebuah perusahaan waralaba, karena itu adalah tidak sehat. Maka, secara jujur Hariono mengakui bahwa dirinya tak lagi one man show seperti dulu di tahun-tahun pertama mengembangkan MultiPlus. Hariono telah merekrut sejumlah profesional yang bisa membantunya dalam mengembangkan bisnis waralabanya, sehingga bisa eksis sampai sekarang.

Dede Suryadi dan Siti Ruslina (SWA).

0 comments: