Anta Tour: Sebanyak 3-5 Cabang Di Luar Jakarta Akan Dibuka ANTA Tour

Thursday, June 28, 2007

Amelia Bharata, dirut PT Anta Express Tour & Travel Service (Anta Tour) Tbk, menyatakan jaringan penjualan tiket akan dikembangkan perusahaan tersebut dengan sistem waralaba. Hal itu akan dilakukan dengan tiga sampai lima cabang di luar Jakarta. Setiap pembukaan satu cabang waralaba dikeluarkan investasi sebesar Rp500 juta-Rp1 miliar.

Pada 2007 Anta Tour menargetkan laba bersih sebesar Rp10,5 miliar. Langkah itu akan dicapai dengan penambahan jumlah client base dan kenaikan harga tiket sebesar 3%-5%. Jika dibandingkan 2006 terjadi kenaikan laba bersih dari Rp8,7 miliar. Sampai triwulan I 2007 laba bersih telah dicapai perusahaan tersebut sebesar Rp1,47 miliar. Jika dibandingkan kurun waktu yang sama tahun lalu naik sebesar 313%.

Pada sisi lain Anta Tour tidak membagikan dividen tahun buku 2006. Hal itu dilakukan guna menambah modal perusahaan sebesar Rp8,5 miliar. Sisanya, Rp286,71 juta dipakai sebagai dana cadangan.

wartaekonomi.com

Read more...

Pengusaha Waralaba Wajib Daftar

Tuesday, June 26, 2007

Para pembeli maupun prinsipal waralaba nantinya akan diwajibkan mendaftar ke Departemen Perdagangan. Ketentuan ini tercantum dalam revisi PP No 16 tahun 1997 tentang waralaba.

"Selama ini sifatnya masih sukarela. Dengan adanyanya penyempurnaan PP ini ada kewajiban bagi mereka untuk mendaftar sehingga tercipta ketertiban berusaha didalam negeri," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman usai raker di Gedung DPR/MPR, Selasa (26/6/2007).

Revisi PP ini merupakan bagian dari paket kebijakan UMKM yang dirilis pemerintah 12 Juni lalu. Menurut Ardiansyah, penyempurnaan ini merupakan turunan dari UU Usaha Kecil bidang kemitraan.

Ia menjelaskan, PP ini disempurnakan terkait banyaknya pengaduan dari pembeli waralaba karena usahanya tidak didukung prinsipal pemberi waralaba. Dengan adanya pendaftaran tersebut, kata Ardiansyah, dapat membantu penyelesaian jika muncul , seihingga kedua belah pihak bisa terlindungi.

Ditambahkannya, prinsip waralaba adalah membuka kesempatan pada orang yang tidak punya basic sebagai pengusaha tapi bisa terjun menjadi pengusaha dengan waralaba.

"Sehingga untuk membuka waralaba harus ada syarat yang harus dipenuhi, misalnya usaha tersebut sudah teruji sekian tahun. Jangan sampai pembeli waralaba justru tidak di backup oleh prinsipal meski sudah ada kontak diantara mereka," jelasnya.

Dengan revisi ini, lanjut Ardiansyah, si pembeli waralaba bisa mengetahui laporan keuangan yang diwaralabakan.

"Penyempurnaan PP tersebut sudah ditanda-tangani oleh Menteri Perdagangan kemarin, bahkan sudah selesai koordinasi interdepartemen, tinggal menunggu tanda tangan presiden. Diharapkan tahun ini bis diimplementasikan," ungkapnya. (qom/qom)

Sumber: detikfinance
Read more...

Petrus Puspo Sutopo. Pemilik Waralaba Bakmi Mie-Kita

Monday, June 4, 2007

Langkah memulai bisnis bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah. Banyak pertimbangan di sana sini, bahkan tak sedikit yang kemudian mengurungkan niat untuk membuka usaha. Namun tidak bagi Petrus Puspo Sutopo.

Bakat bisnis Petrus yang memang sudah terasah semenjak kecil, akhirnya terealisasi dengan usaha gigihnya merintis sebuah sistem bisnis, yang sekarang di bawah nama dagang Bakmi Mie-Kita. “Saya mentalnya gambling, memang mental yang diperlukan untuk menjadi pengusaha,” Petrus mengakui.

Penuturan tersebut dibuktikan dengan pengalamannya ketika merintis pertama kali bisnis tersebut. Ia memberanikan diri memulai bisnis hanya dengan modal Rp300 ribu sekitar 14 tahun yang lalu. Itupun pinjaman dari seorang teman. Apa yang dilakukannya? “Ketika itu Saya percaya diri masuk ke gedung Kompas untuk mengiklankan sistem bisnis dengan harapan ada yang tertarik untuk bekerjasama. Ya, modal utama Petrus ketika itu adalah sistem yang dikembangkannya dari pemikiran dan pengalamannya selama bertahun-tahun.

Gayung pun bersambut
Bisnis makanan yang selalu dicari orang jadi pilihan. Untuk pertama kali, sistem tersebut diterapkan pada bisnis makanan Bakmi Majapahit yang berlokasi di Mall Taman Anggrek dan kemudian Bakmi Safari 88 di Taman Safari Cisarua. Setelah kedua usaha berkembang, Petrus pun kemudian memiliki ide untuk membangun usaha Bakmi bernama Bakmi Mie-Kita yang saat ini telah dikenal dengan salah satu bisnis waralaba di Tanah Air.

Waralaba Bakmi Mie-Kita dengan franchisee fee Rp35 juta ini mulai dipatenkan pada tahun 2005 saat ini memiliki total 13 outlet di berbagai daerah. Tiga diantaranya milik sendiri, sementara lainnya merupakan kerjasama dengan para franchisee. Memang bukan jumlah yang besar. Tapi untuk menjaga kelangsungan bisnis waralaba ini Petrus punya alasan. “Bagi Saya tak perlu outlet banyak-banyak. Tapi yang penting outlet yang ada kuat,” ujarnya. Untuk itu ia terbilang sangat selektif dalam menerima franchisee serta ketat memberlakukan sistem yang telah dibuat.

Bahkan seperti permintaannya, 80% dari outlet merupakan milik franchisee sendiri (bukan sewaan,-Red). Jikapun sewa tempatnya adalah di mall sehingga memiliki pasar yang jelas. Bahkan di tengah perjalanan, jika franchisee terbukti menyimpang, tak segan-segan Petrus menutup gerainya.

Selain komitmen pada sistem yang kuat, menurut Petrus, membangun sebuah waralaba yang kuat juga membutuhkan keunggulan produk. Untuk itu tak heran jika Bakmi Mie-Kita memiliki lebih dari 100 pilihan menu dengan citarasa yang menurutnya khas.

Bisnis di bawah bendera PT Sistem Waralaba Bakmi Mie-Kita ini menurut Petrus juga cukup membanggakan dari sisi pencinta rasa. Sesuai dengan filosofi bisnis yang dibuat, yaitu ‘Sekali Coba Tetap Disuka’, sambung Petrus, pelanggan Bakmie-Mie Kita cukup konsisten. Secara angka, omset di Jakarta secara rata-rata bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Diakui bahwa angka lebih fantastis justru ada di luar Jakarta. “Di luar Jakarta Kami jago. Balikpapan bisa mencapai Rp90 juta hingga Rp120 juta per bulan, sementara Pontianak bisa sampai Rp80-an juta,” Petrus menguraikan.

Semangat bisnis tampak semakin kuat ketika Petrus juga menawarkan berbagai jasa di bawah bendera yang sama. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Jika ada franchisee yang baru akan membuka usaha, Petrus juga menyediakan berbagai keperluan, mulai dari penyediaan mesin mie, menawarkan renovasi bangunan, disain interior, instalasi gas dan sebagainya.

Pandangan Tentang Bisnis
Bila mencoba membuat urutan prioritas hal-hal yang penting diperlukan dalam membangun sebuah bisnis, baginya ada 4 hal yang mesti dimiliki. “Belajar dari pengalaman, pertama itu yang penting adalah skill, kemudian kejujuran, keuletan, baru modal,” ujar Petrus.


Pria yang pernah mengecap rasanya jadi karyawan dari nol ini menyadari kalau dirinya bukanlah orang yang bertipe sebagai pekerja. Alasannya ia tidak bisa diatur orang lain. “Jika disuruh masuk jam 7 (pagi) atau pulang jam 5 (sore) itu Saya tidak bisa. Tapi kalau perlu bisa saja Saya bekerja dari pagi hingga paginya lagi,” urai Petrus.

Makanya tak heran jika akhirnya ia memilih untuk berwirausaha. Seiring dengan filosofi hidupnya yang ingin menolong orang. “Dari kecil Saya hidup banyak ditolong orang, maka Saya bercita-cita ingin menolong orang. Saya juga ingin seperti bidan. Tapi kalau bidan membantu kelahiran, maka Saya ingin mencetak pengusaha-pengusaha baru,” tandas Petrus. (SH)

Sumber: wirausaha.com
http://www.wirausaha.com/utama/profil/petrus_puspo_sutopo.html
Read more...

Salam Goodbye Alfamart buat HM Sampoerna

Dampak penjualan saham milik Putera Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk. rupanya masih berlanjut. Kali ini terkait dengan Alfamart (PT Sumber Alfaria Trijaya/SAT), perusahaan afiliasi HM Sampoerna.

Seperti diketahui, Djoko Susanto, pemilik dan pendiri Alfamart melakukan buy back 70% saham PT Philip Morris Indonesia (PMI), perusahaan yang mengambil alih saham Putera di perusahaan rokok raksasa ini.

Nah, setelah aksi buy back tersebut, tampaknya hubungan bisnis antara HM Sampoerna dan Alfamart tak lagi mesra. Faktanya, mulai Mei-Juni 2007 ini produk-produk HM Sampoerna sudah tak lagi memperoleh hak pemasangan overhead dispenser (OHD) – medium logo sponsor – di gerai-gerai Alfamart. Logo yang dipasang justru Djarum dan Bentoel, dua pesaing HM Sampoerna.

Ini memang sebuah perubahan dramatis. Pasalnya, berkembangnya jaringan Alfamart tak bisa dilepaskan dari jasa Putera Sampoerna (HM Sampoerna). Sebaliknya, meraksasanya HM Sampoerna juga tak bisa mengabaikan peran penting Djoko, yang amat berperan dalam membangun jaringan distribusi dan penjualan produk-produk HM Sampoerna.
Asal tahu saja, selama bertahun-tahun Djoko memimpin PT Panamas, distributor produk-produk HM Sampoerna.“Sekarang kami memang membuat komitmen dengan Djarum dan Bentoel,” kata Djoko mengakui. Dengan raut wajah sedih, lelaki yang dijuluki “dewa rokok” ini menjelaskan bahwa dirinya tak bisa lagi mempertahankan hubungannya dengan HM Sampoerna.

Menurutnya, setelah akuisisi HM Sampoerna oleh PMI, banyak kebijakan terhadap Alfamart yang diubah. Djoko menyebutkan, jaringan minimarket-nya kini tak lagi mendapat hak eksklusif dalam menerima pasokan produk-produk HM Sampoerna. Kuota Dji Sam Soe dan produk HM Sampoerna lainnya yang biasa diterima Alfamart menyusut. Alfamart hanya mendapat pasokan barang sepersepuluh dari pasokan biasanya. “Perlakuan HM Sampoerna terhadap kami berubah 360 derajat, sudah seperti langit dengan bumi. Kami sangat dirugikan karena jumlah produk yang dikirim tak dapat memenuhi kebutuhan kami,” papar Djoko.

Ia mengungkapkan, selama ini pihaknya merasa sangat lunak terhadap HM Sampoerna, karena bagaimanapun ada kedekatan emosional. Ia sendiri mengaku sebenarnya ingin kerja sama itu tetap terjalin. Sayangnya, menurut dia, kondisinya sudah sulit diperbaiki.

Yang menarik, mendengar konflik yang terjadi antara Alfamart dengan HM Sampoerna, Djarum sebagai pesaing kuat Sampoerna tak menyia-nyiakan peluang emas. Bagaimanapun, dengan sekitar 2 ribu gerai yang dimilikinya, Alfamart cukup powerful sebagai perangkat distribusi dan promosi. Toh, dalam hal ini, seperti diakui Djoko, tim manajemen SAT yang lebih proaktif dengan membawa usulan kerja sama ke pihak Djarum, dan ternyata disambut hangat.

Konteks kerja samanya adalah aktivitas promosi dan pemasaran. Resminya dimulai per 1 Juni 2007, tapi pelaksanaannya sejak akhir Mei. Logo Djarum kini memang telah terpajang di gerai-gerai Alfamart. Juga logo Bentoel, karena kerja sama dibangun Alfamart pula dengan Bentoel. Sebagai sponsor utama, kabarnya Djarum membayar uang sewa OHD dengan nilai yang lebih besar dibanding mitra sebelumnya (HM Sampoerna).

Djarum kini memperoleh hak penempatan logo OHD di sebagain besar gerai Alfamart, yakni mencapai 1.500 toko; sedangkan 500 gerai sisanya diisi Bentoel. “Kami rasa sebuah tindakan keliru sudah dilakukan Sampoerna. Ternyata mitra baru kami ini jauh lebih baik,” kata Djoko mengklaim. Putusnya hubungan Alfamart-HM Sampoerna ini, di sisi lain menginformasikan pula bahwa HM Sampoerna sekarang memang benar-benar dikelola oleh tim manajemen baru.

Sudarmadi & Siti Ruslina (SWA). Read more...