Salam Goodbye Alfamart buat HM Sampoerna

Monday, June 4, 2007

Dampak penjualan saham milik Putera Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk. rupanya masih berlanjut. Kali ini terkait dengan Alfamart (PT Sumber Alfaria Trijaya/SAT), perusahaan afiliasi HM Sampoerna.

Seperti diketahui, Djoko Susanto, pemilik dan pendiri Alfamart melakukan buy back 70% saham PT Philip Morris Indonesia (PMI), perusahaan yang mengambil alih saham Putera di perusahaan rokok raksasa ini.

Nah, setelah aksi buy back tersebut, tampaknya hubungan bisnis antara HM Sampoerna dan Alfamart tak lagi mesra. Faktanya, mulai Mei-Juni 2007 ini produk-produk HM Sampoerna sudah tak lagi memperoleh hak pemasangan overhead dispenser (OHD) – medium logo sponsor – di gerai-gerai Alfamart. Logo yang dipasang justru Djarum dan Bentoel, dua pesaing HM Sampoerna.

Ini memang sebuah perubahan dramatis. Pasalnya, berkembangnya jaringan Alfamart tak bisa dilepaskan dari jasa Putera Sampoerna (HM Sampoerna). Sebaliknya, meraksasanya HM Sampoerna juga tak bisa mengabaikan peran penting Djoko, yang amat berperan dalam membangun jaringan distribusi dan penjualan produk-produk HM Sampoerna.
Asal tahu saja, selama bertahun-tahun Djoko memimpin PT Panamas, distributor produk-produk HM Sampoerna.“Sekarang kami memang membuat komitmen dengan Djarum dan Bentoel,” kata Djoko mengakui. Dengan raut wajah sedih, lelaki yang dijuluki “dewa rokok” ini menjelaskan bahwa dirinya tak bisa lagi mempertahankan hubungannya dengan HM Sampoerna.

Menurutnya, setelah akuisisi HM Sampoerna oleh PMI, banyak kebijakan terhadap Alfamart yang diubah. Djoko menyebutkan, jaringan minimarket-nya kini tak lagi mendapat hak eksklusif dalam menerima pasokan produk-produk HM Sampoerna. Kuota Dji Sam Soe dan produk HM Sampoerna lainnya yang biasa diterima Alfamart menyusut. Alfamart hanya mendapat pasokan barang sepersepuluh dari pasokan biasanya. “Perlakuan HM Sampoerna terhadap kami berubah 360 derajat, sudah seperti langit dengan bumi. Kami sangat dirugikan karena jumlah produk yang dikirim tak dapat memenuhi kebutuhan kami,” papar Djoko.

Ia mengungkapkan, selama ini pihaknya merasa sangat lunak terhadap HM Sampoerna, karena bagaimanapun ada kedekatan emosional. Ia sendiri mengaku sebenarnya ingin kerja sama itu tetap terjalin. Sayangnya, menurut dia, kondisinya sudah sulit diperbaiki.

Yang menarik, mendengar konflik yang terjadi antara Alfamart dengan HM Sampoerna, Djarum sebagai pesaing kuat Sampoerna tak menyia-nyiakan peluang emas. Bagaimanapun, dengan sekitar 2 ribu gerai yang dimilikinya, Alfamart cukup powerful sebagai perangkat distribusi dan promosi. Toh, dalam hal ini, seperti diakui Djoko, tim manajemen SAT yang lebih proaktif dengan membawa usulan kerja sama ke pihak Djarum, dan ternyata disambut hangat.

Konteks kerja samanya adalah aktivitas promosi dan pemasaran. Resminya dimulai per 1 Juni 2007, tapi pelaksanaannya sejak akhir Mei. Logo Djarum kini memang telah terpajang di gerai-gerai Alfamart. Juga logo Bentoel, karena kerja sama dibangun Alfamart pula dengan Bentoel. Sebagai sponsor utama, kabarnya Djarum membayar uang sewa OHD dengan nilai yang lebih besar dibanding mitra sebelumnya (HM Sampoerna).

Djarum kini memperoleh hak penempatan logo OHD di sebagain besar gerai Alfamart, yakni mencapai 1.500 toko; sedangkan 500 gerai sisanya diisi Bentoel. “Kami rasa sebuah tindakan keliru sudah dilakukan Sampoerna. Ternyata mitra baru kami ini jauh lebih baik,” kata Djoko mengklaim. Putusnya hubungan Alfamart-HM Sampoerna ini, di sisi lain menginformasikan pula bahwa HM Sampoerna sekarang memang benar-benar dikelola oleh tim manajemen baru.

Sudarmadi & Siti Ruslina (SWA).

0 comments: