Bisnis Waralaba Mampu Kurangi Pengangguran

Wednesday, August 29, 2007

Maraknya bisnis waralaba di Tanah Air akhir-akhir ini tidak sekadar menjadi usaha yang tahan krisis, tetapi kini juga mampu mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Hal ini terlihat dari kemampuan merekrut tenaga kerja yang banyak.

Hal ini dikemukakan Manajer Umum Primagama Group Teguh Sunaryo pada acara seminar "Tren Waralaba dalam Perekonomian Indonesia", di Universitas Islam Indonesia, Selasa (28/8). "Selama ini waralaba dilihat hanya sebagai usaha baru biasa. Padahal, kegiatan ekonomi ini justru cukup banyak merekrut tenaga kerja baru," katanya.

Teguh mengungkapkan, lembaga pendidikan nonformal Primagama Group yang berumur 27 tahun, misalnya, saat ini memiliki 600 gerai di Indonesia dan tenaga kerjanya 7.000 orang. "Kami bahkan merekrut lagi 1.000 tenaga pendidik untuk berkarier di sini. Hal ini sebagai rencana Primagama untuk memiliki sekitar 990 gerai," ujarnya.

Mereka yang ingin membuka usaha waralaba Primagama, lanjut Teguh, ternyata selain diminati pegawai yang akan pensiun, juga banyak dari anak-anak pengusaha dan alumni pascasarjana. Dari waralaba Primagama yang mereka buka, satu kantor saja bisa mempekerjakan sekitar 25 orang.
Menurut Teguh, besarnya penyerapan tenaga kerja ini juga terjadi pada waralaba lainnya. Yang penting, dalam membuka waralaba adalah keberanian untuk memulainya.

Globalisasi
Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya, menyatakan untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih baik saat era globalisasi tahun 2020, Indonesia membutuhkan orang-orang kaya lebih banyak lagi. Hal ini diperlukan untuk memperkecil kesenjangan orang kaya dan orang miskin. Usaha waralaba sangat dimungkinkan untuk melahirkan orang-orang kayu baru tersebut.

Saat ini, penduduk Indonesia yang sangat kaya baru 5.000 orang. Adapun katagori kaya ada lima juta orang dan golongan menengah 20 juta orang. Sementara, yang miskin, untuk di perkotaan, seperti di DKI Jakarta, bisa dijumpai pada satu wilayah rukun tetangga seluas 1.000 meter persegi dihuni 2.000 orang. Di pedesaan, kondisi yang paling banyak terlihat kondisi rumah mereka yang sangat memprihatinkan, mandi, cuci, dan buang air ke kali, makan tidak kenyang, serta sama sekali tidak ada mimpi untuk mengubah hidupnya.

Menurut Marzuki, untuk mengubahnya, bangsa Indonesia harus berani bermimpi untuk menjadi kaya. Hal itu hanya bisa diwujudkan dengan tiga hal, yakni memiliki tanah atau sumber daya alam, keterampilan, dan kepandaian. Kalau ketiganya dikelola dengan baik, maka akan lahir orang-orang kaya baru. (FUL)


Sumber: Kompas
Read more...

Bisnis Waralaba Semakin Marak

Wednesday, August 15, 2007

Dibutuhkan Jaminan Usaha bagi Pelaku Bisnisnya

Usaha waralaba atau franchise dan peluang bisnis atau business opportunity di Jawa Barat kian marak. Hal itu terlihat dari banyaknya jumlah pengusaha yang menawarkan bisnisnya secara waralaba serta tingginya minat pasar.
Sayangnya, jaminan usaha bagi pewaralaba dan terwaralaba masih belum terlindungi.

Menurut Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar, Selasa (14/8), jumlah waralaba lokal di Indonesia semakin banyak, mencapai 450 jenis produk usaha hingga awal 2007. Namun, dari jumlah tersebut, yang memenuhi syarat usaha sebagai bisnis waralaba hanya 15 persen atau sekitar 50-60 jenis usaha. Sisanya lebih bersifat peluang bisnis yang memiliki risiko lebih besar.

"Meski banyak yang menawarkan bisnis waralaba, yang sebenarnya ditawarkan itu adalah peluang bisnis. Belum banyak jumlah waralaba lokal di Indonesia karena mereka harus bisa membuktikan track record bisnisnya, punya keunikan, dan sukses," kata Anang.

Bermunculannya peluang bisnis dan waralaba dianggap hal yang menguntungkan bagi pewaralaba (franchisor) maupun terwaralaba (franchisee). Sebab, kata Sekretaris Program Studi Manajemen Universitas Widyatama Iwan Ridwansyah, dengan mengalirnya dana dari terwaralaba, pewaralaba bisa memperluas usaha dengan menjual sistem bisnis dan merek dagangnya.

Sementara bagi terwaralaba, sistem waralaba merupakan bentuk jalan pintas pengelolaan usaha yang tidak dimulai dari nol (awal). Bahkan, waralaba merupakan salah satu bentuk investasi menjanjikan di tengah bentuk investasi dari perbankan yang saat ini semakin rendah bunganya.

Namun, kata Iwan, fenomena bermunculannya peluang-peluang bisnis yang ditawarkan dalam bentuk waralaba itu lebih dipicu kelonggaran aturan pemerintah yang mengatur sistem bisnis atas dasar waralaba. Hingga kini belum ada aturan tegas yang menjamin pewaralaba dan terwaralaba memperoleh keuntungan yang optimal.

"Fenomena pengusaha menawarkan peluang usaha dengan mengatasnamakan waralaba lebih dikarenakan kiat untuk membesarkan usahanya, tapi tidak memberikan jaminan usaha bagi franchisee. Akibatnya, banyak peluang usaha yang ditawarkan tidak memberikan keuntungan bagi franchisee-nya dan malah bangkrut," ujar Iwan. Jaminan

Anang mengatakan, baru saja dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, menggantikan ketentuan sebelumnya yaitu PP No 16/1997. Munculnya PP terbaru itu dipastikan mampu mengerem pertumbuhan peluang bisnis yang mengatasnamakan waralaba.
Sebab, setiap bisnis waralaba harus bisa memenuhi syarat dan membuktikan profitabilitas dan keunikan usahanya, serta prototipe usahanya sudah berjalan dan sukses. Terlebih lagi untuk pewaralaba, harus memberikan bimbingan dan pelatihan pemasaran yang berkesinambungan. "Jika peluang bisnis yang mengaku waralaba tapi tidak memberikan bimbingan, mereka bisa dituntut," papar Anang.

Keberadaan PP No 42/2007, menurut Manajer Humas Alfamart Didit Setiadi, adalah filter untuk membatasi maraknya peluang bisnis atau waralaba yang eksistensi usahanya belum terbukti. Harapannya, PP mampu menjamin hak-hak terwaralaba sebagai investor yang menanamkan modalnya kepada pewaralaba dan menertibkan peluang bisnis yang tidak layak usaha.

Bagi pewaralaba, PP itu diharapkan menjadi panduan untuk lebih berhati-hati dalam memasarkan bisnisnya dan menjadi acuan untuk membenahi sistem usahanya. Akan tetapi, Didit menyayangkan, PP tersebut belum mencantumkan sanksi yang dibebankan kepada pewaralaba ataupun terwaralaba yang melanggar kesepakatan bersama. (THT)

Sumber: Kompas
Read more...

Biarkan Waktu yang Buktikan Kekuatannya...

Ada yang menganggap waktu adalah raja, atau memosisikan waktu sebagai uang. Bahkan, sebagian orang menjadikannya sebagai cara untuk menjawab sebuah permasalahan. Itu pun ada benarnya. Cara itulah yang digunakan pebisnis untuk melihat eksistensi sebuah unit usaha.

Sepuluh tahun terakhir, arus waralaba makin deras mengalir. Bermunculan unit-unit usaha yang menawarkan sistem bisnis secara waralaba atau lebih tersohor dengan nama franchise. Namun, tak semuanya benar-benar pantas menyandang nama waralaba. Sebab, yang bermunculan itu kebanyakan lebih berbentuk business opportunity atau peluang bisnis.

Secara kasatmata, waralaba dan peluang bisnis memang hampir sama. Namun, pelaksanaan usahanya jauh berbeda. Waralaba lebih memiliki kekhususan produk dan keunikan yang sangat sulit dijiplak. Sementara peluang usaha bersifat sederhana dan produknya mudah dijiplak oleh pengusaha yang tertarik membuka usaha sejenis.

Syarat kedua, kata Iwan Ridwansyah, Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama, adalah sifat profitabilitasnya, yaitu punya jaminan keuntungan. Itu bisa terlihat dari keuntungan yang selama ini telah diraupnya secara berkelanjutan.
"Jika itu terbukti, berarti usaha itu bukan sekadar usaha semusim. Bahkan, usaha ini juga harus punya minimal tiga prototipe atau outlet yang terbukti sukses," ujar Iwan, Selasa (14/8).

Lain lagi dengan Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, yang sangat percaya bahwa waktu dan pengalaman bisa membuktikan sebuah unit usaha itu layak disebut waralaba. Setidaknya usaha itu sudah berjalan selama lima tahun, dan tidak hanya satu atau dua tahun.

Peluang usaha lebih menarik bagi pelaku usaha pemula dan yang masih awam. Sebab, dalam peluang usaha tidak ada standardisasi yang terlalu baku sehingga terwaralaba bisa mengembangkan usahanya secara bebas. Apalagi, orang Indonesia umumnya susah untuk mengikuti aturan yang berlaku dan suka membuat aturan sendiri.

Oleh sebab itu, Aep Mulyana, pemilik distro berlabel d'loops, mencoba menawarkan konsep business opportunity berbentuk distro kepada investor yang tertarik. Distro itu tidak hanya terdiri dari satu distro yang sudah punya nama di Bandung, tetapi lima distro yang sudah punya nama besar. Kelima distro itu adalah d'loops, Wadezig!, Rolypoly, Badger, dan Theodore.

Aep mengaku, keberanian itu muncul setelah melihat pasar clothing yang makin besar dan diminati, bahkan mulai bermunculan di kota-kota selain Bandung. Selain itu, masing-masing distro yang bergabung telah menjalankan usahanya lebih dari empat tahun. Meskipun konsep peluang bisnis distro yang dijual berlabel Collabo itu baru dimulai awal tahun 2007, outlet keduanya sudah siap beroperasi tahun ini juga di Yogyakarta. Franchise fee yang ditawarkan sebesar Rp 110 juta-Rp 160 juta.

Sikap wirausaha
Banyak terjadi salah kaprah dari pelaku waralaba. Sebab, orang mengira dengan membeli sistem dan manajemen, usahanya bisa maju dan berhasil. Sementara dia hanya berongkang-ongkang kaki. Padahal, yang dibutuhkan agar usaha bisa berjalan dan memberi keuntungan maksimal adalah kerja keras dan sikap wirausaha yang harus dikembangkan pewaralaba dan terwaralaba untuk membesarkan usaha tersebut.


"Di Indonesia yang terjadi malah sebaliknya, setelah membeli waralaba tidak punya niat untuk mengembangkannya. Itu keliru. Sebab, franchise itu adalah bisnis dengan model kerja sama yang saling menguntungkan," kata Iwan.

Selain sikap kewirausahaan yang belum banyak dimiliki franchisee, pemerintah pun dinilai belum agresif mengembangkan bisnis waralaba dan peluang bisnis. Kalau ditelisik lebih dalam lagi, peluang usaha merupakan bentuk lain usaha kecil dan menengah (UKM) yang sudah memiliki sistem yang jelas. Kurangnya perlindungan pemerintah, khususnya pada hak paten produk, kata Iwan, menyebabkan bisnis dan produk peluang bisnis mudah ditiru dan sangat rentan kolaps.

Dari sisi ketenagakerjaan, sebenarnya waralaba dan peluang bisnis mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah relatif banyak. Collabo, misalnya, untuk sebuah gerai berukuran 40 meter persegi, setidaknya dibutuhkan lima pegawai yang bertugas sebagai pramuniaga, kasir, dan pengurus gudang stok.

Belum lagi untuk gerai-gerai ritel waralaba yang mulai menjamur di wilayah perkotaan hingga daerah kabupaten, penyerapan tenaga kerjanya sangat besar. Bayangkan, jika satu gerai menyerap 3-10 pekerja, dan sebuah bisnis waralaba yang sudah stabil minimal punya 10 gerai, tenaga kerja yang terserap sebanyak 30-100 orang.

Banyaknya peluang usaha yang ditawarkan dengan harga sangat murah, mulai dari Rp 2,5 juta, memang sangat menggiurkan. Namun, kata Anang, yang terpenting adalah bagaimana mengubah peluang bisnis itu menjadi bisnis waralaba yang menjanjikan dalam dua sampai tiga tahun ke depan. "Tentu saja itu butuh pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari buku, serta butuh waktu untuk proses usahanya," ujarnya.

Kompas, Rabu, 15 Agustus 2007
(Timbuktu Harthana)
Read more...

Pertumbuhan Ritel di Indonesia Tinggi

Monday, August 13, 2007

Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan pasar dan toko di Indonesia sangat tinggi, bahkan tertinggi di antara negara-negara di Asia Tenggara. Penyebabnya, jumlah penduduk yang besar serta mulai membaiknya pertumbuhan ekonomi dan indeks kepercayaan konsumen.

Direktur Servis Riteler PT ACNielsen Indonesia Yongky Surya Susilo mengatakan, tahun 2006, pertumbuhan ritel (pasar dan toko) di Indonesia adalah sebesar 14,3 persen. Jumlah itu dilihat dari total pertumbuhan pasar modern dan tradisional yang meningkat dari 1,79 unit menjadi 1,85 unit. Sementara untuk pertumbuhan tahun 2004 dan 2005, sebesar 13,8 persen dan 17,7 persen.

Secara persentase, pertumbuhan pasar dan toko modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar dan toko tradisional, yaitu toko modern tumbuh 14 persen, sedangkan toko tradisional hanya 3 persen. Namun, dalam hitungan jumlah, toko tradisional jumlahnya masih lebih banyak, yaitu 58.855 unit, sementara toko modern hanya 1.061 unit.

Pertumbuhan ritel di Indonesia sangat cepat, baik pasar dan toko tradisional maupun yang modern, kedua-duanya sama-sama tumbuh. Pertumbuhan ritel di Indonesia yang sampai dua digit, bahkan lebih besar dari pertumbuhan rata-rata ritel negara Asia hanya 7 persen, ungkap Yongky.

Diakui Manajer Humas Alfamart Didit Setiadi, Senin (13/8), ritel modern mulai banyak peminatnya, terutama yang sudah diwaralabakan. Selain selain merek dagangnya sudah dikenal, kebutuhan konsumsi masyarakat semakin besar, daya beli masyarakat telah membaik. Itu terlihat dari pertumbuhan Alfamart secara nasional berkisar 11 persen, termasuk toko Alfamart yang diwaralabakan.

”Dari 2.000 gerai yang ada saat ini, 35 persennya dikelola secara waralaba dan operasional mandiri. Sayangnya, pemain waralaba ritel masih terbatas, dan didominasi pemain-pemain lama, diantaranya Alfamart, Indomart, Ceriamart, dan Market Omi,” kata Didit.

Faktor pendorong tingginya pertumbuhan ritel adalah jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah besar, serta urbanisasi yang mengakibatkan makin banyak jumlah penduduk yang tinggal di kota. Selain itu, kegiatan belanja, terutama di pasar modern, kini sudah menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Bahkan, 83 persen masyarakat menganggap, belanja merupakan bagian dari hiburan.

Tahun ini, diperkirakan pertumbuhan ritel di Indonesia sekitar 15-18 persen. Sebab, hingga semester I 2007, pertumbuhan makro ekonomi Indonesia adalah yang terbaik selama 10 tahun terakhir. Ditambah lagi, tren kenaikan indeks kepercayaan konsumen, dari 28 persen menjadi 30 persen. Indikatornya adalah terjadi peningkatan pembelian komoditas-komoditas ritel yang besar, seperti rumah, apartemen, dan kendaraan bermotor.

Di Bandung contohnya, sama seperti di Jakarta dan Surabaya, pertumbuhan pasar ritelnya menjanjikan yaitu sebesar 10,5 persen. Dilihat dari nilai yang terbelanjakan, tumbuh dari Rp 2,88 triliun (2005) menjadi Rp 3,18 triliun (2006).

Menurut Yongky, tahun depan pertumbuhan ritel diprediksi juga meningkat, sebab pertubuhan makro yang terus membaik, dan indeks kepercayaan konsumen yang diyakini mampu mencapai 32 persen. ”Melihat tren pembelian mobil sampai 30.000 per bulan dan motor sampai 300.000 per bulan, saya perkirakan tren ritel tahun depan sangat bagus,” ujar Yongky.

Meskipun pertumbuhan ritel modern terbilang cepat, Yongky menambahkan, ritel tradisional masih bisa bersaing. Sebab, berdasarkan survei, 95 persen konsumen lebih suka berbelanja produk basah di pasar tradisional. Tahun lalu, nilai belanja masyarakat tercatat mencapai Rp 63,58 triliun, sedangkan tahun 2005 mencapai Rp 57,24 triliun. (THT)

Sumber: Kompas
Read more...