Biarkan Waktu yang Buktikan Kekuatannya...

Wednesday, August 15, 2007

Ada yang menganggap waktu adalah raja, atau memosisikan waktu sebagai uang. Bahkan, sebagian orang menjadikannya sebagai cara untuk menjawab sebuah permasalahan. Itu pun ada benarnya. Cara itulah yang digunakan pebisnis untuk melihat eksistensi sebuah unit usaha.

Sepuluh tahun terakhir, arus waralaba makin deras mengalir. Bermunculan unit-unit usaha yang menawarkan sistem bisnis secara waralaba atau lebih tersohor dengan nama franchise. Namun, tak semuanya benar-benar pantas menyandang nama waralaba. Sebab, yang bermunculan itu kebanyakan lebih berbentuk business opportunity atau peluang bisnis.

Secara kasatmata, waralaba dan peluang bisnis memang hampir sama. Namun, pelaksanaan usahanya jauh berbeda. Waralaba lebih memiliki kekhususan produk dan keunikan yang sangat sulit dijiplak. Sementara peluang usaha bersifat sederhana dan produknya mudah dijiplak oleh pengusaha yang tertarik membuka usaha sejenis.

Syarat kedua, kata Iwan Ridwansyah, Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama, adalah sifat profitabilitasnya, yaitu punya jaminan keuntungan. Itu bisa terlihat dari keuntungan yang selama ini telah diraupnya secara berkelanjutan.
"Jika itu terbukti, berarti usaha itu bukan sekadar usaha semusim. Bahkan, usaha ini juga harus punya minimal tiga prototipe atau outlet yang terbukti sukses," ujar Iwan, Selasa (14/8).

Lain lagi dengan Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, yang sangat percaya bahwa waktu dan pengalaman bisa membuktikan sebuah unit usaha itu layak disebut waralaba. Setidaknya usaha itu sudah berjalan selama lima tahun, dan tidak hanya satu atau dua tahun.

Peluang usaha lebih menarik bagi pelaku usaha pemula dan yang masih awam. Sebab, dalam peluang usaha tidak ada standardisasi yang terlalu baku sehingga terwaralaba bisa mengembangkan usahanya secara bebas. Apalagi, orang Indonesia umumnya susah untuk mengikuti aturan yang berlaku dan suka membuat aturan sendiri.

Oleh sebab itu, Aep Mulyana, pemilik distro berlabel d'loops, mencoba menawarkan konsep business opportunity berbentuk distro kepada investor yang tertarik. Distro itu tidak hanya terdiri dari satu distro yang sudah punya nama di Bandung, tetapi lima distro yang sudah punya nama besar. Kelima distro itu adalah d'loops, Wadezig!, Rolypoly, Badger, dan Theodore.

Aep mengaku, keberanian itu muncul setelah melihat pasar clothing yang makin besar dan diminati, bahkan mulai bermunculan di kota-kota selain Bandung. Selain itu, masing-masing distro yang bergabung telah menjalankan usahanya lebih dari empat tahun. Meskipun konsep peluang bisnis distro yang dijual berlabel Collabo itu baru dimulai awal tahun 2007, outlet keduanya sudah siap beroperasi tahun ini juga di Yogyakarta. Franchise fee yang ditawarkan sebesar Rp 110 juta-Rp 160 juta.

Sikap wirausaha
Banyak terjadi salah kaprah dari pelaku waralaba. Sebab, orang mengira dengan membeli sistem dan manajemen, usahanya bisa maju dan berhasil. Sementara dia hanya berongkang-ongkang kaki. Padahal, yang dibutuhkan agar usaha bisa berjalan dan memberi keuntungan maksimal adalah kerja keras dan sikap wirausaha yang harus dikembangkan pewaralaba dan terwaralaba untuk membesarkan usaha tersebut.


"Di Indonesia yang terjadi malah sebaliknya, setelah membeli waralaba tidak punya niat untuk mengembangkannya. Itu keliru. Sebab, franchise itu adalah bisnis dengan model kerja sama yang saling menguntungkan," kata Iwan.

Selain sikap kewirausahaan yang belum banyak dimiliki franchisee, pemerintah pun dinilai belum agresif mengembangkan bisnis waralaba dan peluang bisnis. Kalau ditelisik lebih dalam lagi, peluang usaha merupakan bentuk lain usaha kecil dan menengah (UKM) yang sudah memiliki sistem yang jelas. Kurangnya perlindungan pemerintah, khususnya pada hak paten produk, kata Iwan, menyebabkan bisnis dan produk peluang bisnis mudah ditiru dan sangat rentan kolaps.

Dari sisi ketenagakerjaan, sebenarnya waralaba dan peluang bisnis mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah relatif banyak. Collabo, misalnya, untuk sebuah gerai berukuran 40 meter persegi, setidaknya dibutuhkan lima pegawai yang bertugas sebagai pramuniaga, kasir, dan pengurus gudang stok.

Belum lagi untuk gerai-gerai ritel waralaba yang mulai menjamur di wilayah perkotaan hingga daerah kabupaten, penyerapan tenaga kerjanya sangat besar. Bayangkan, jika satu gerai menyerap 3-10 pekerja, dan sebuah bisnis waralaba yang sudah stabil minimal punya 10 gerai, tenaga kerja yang terserap sebanyak 30-100 orang.

Banyaknya peluang usaha yang ditawarkan dengan harga sangat murah, mulai dari Rp 2,5 juta, memang sangat menggiurkan. Namun, kata Anang, yang terpenting adalah bagaimana mengubah peluang bisnis itu menjadi bisnis waralaba yang menjanjikan dalam dua sampai tiga tahun ke depan. "Tentu saja itu butuh pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari buku, serta butuh waktu untuk proses usahanya," ujarnya.

Kompas, Rabu, 15 Agustus 2007
(Timbuktu Harthana)

0 comments: