Pertumbuhan Ritel di Indonesia Tinggi

Monday, August 13, 2007

Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan pasar dan toko di Indonesia sangat tinggi, bahkan tertinggi di antara negara-negara di Asia Tenggara. Penyebabnya, jumlah penduduk yang besar serta mulai membaiknya pertumbuhan ekonomi dan indeks kepercayaan konsumen.

Direktur Servis Riteler PT ACNielsen Indonesia Yongky Surya Susilo mengatakan, tahun 2006, pertumbuhan ritel (pasar dan toko) di Indonesia adalah sebesar 14,3 persen. Jumlah itu dilihat dari total pertumbuhan pasar modern dan tradisional yang meningkat dari 1,79 unit menjadi 1,85 unit. Sementara untuk pertumbuhan tahun 2004 dan 2005, sebesar 13,8 persen dan 17,7 persen.

Secara persentase, pertumbuhan pasar dan toko modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar dan toko tradisional, yaitu toko modern tumbuh 14 persen, sedangkan toko tradisional hanya 3 persen. Namun, dalam hitungan jumlah, toko tradisional jumlahnya masih lebih banyak, yaitu 58.855 unit, sementara toko modern hanya 1.061 unit.

Pertumbuhan ritel di Indonesia sangat cepat, baik pasar dan toko tradisional maupun yang modern, kedua-duanya sama-sama tumbuh. Pertumbuhan ritel di Indonesia yang sampai dua digit, bahkan lebih besar dari pertumbuhan rata-rata ritel negara Asia hanya 7 persen, ungkap Yongky.

Diakui Manajer Humas Alfamart Didit Setiadi, Senin (13/8), ritel modern mulai banyak peminatnya, terutama yang sudah diwaralabakan. Selain selain merek dagangnya sudah dikenal, kebutuhan konsumsi masyarakat semakin besar, daya beli masyarakat telah membaik. Itu terlihat dari pertumbuhan Alfamart secara nasional berkisar 11 persen, termasuk toko Alfamart yang diwaralabakan.

”Dari 2.000 gerai yang ada saat ini, 35 persennya dikelola secara waralaba dan operasional mandiri. Sayangnya, pemain waralaba ritel masih terbatas, dan didominasi pemain-pemain lama, diantaranya Alfamart, Indomart, Ceriamart, dan Market Omi,” kata Didit.

Faktor pendorong tingginya pertumbuhan ritel adalah jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah besar, serta urbanisasi yang mengakibatkan makin banyak jumlah penduduk yang tinggal di kota. Selain itu, kegiatan belanja, terutama di pasar modern, kini sudah menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Bahkan, 83 persen masyarakat menganggap, belanja merupakan bagian dari hiburan.

Tahun ini, diperkirakan pertumbuhan ritel di Indonesia sekitar 15-18 persen. Sebab, hingga semester I 2007, pertumbuhan makro ekonomi Indonesia adalah yang terbaik selama 10 tahun terakhir. Ditambah lagi, tren kenaikan indeks kepercayaan konsumen, dari 28 persen menjadi 30 persen. Indikatornya adalah terjadi peningkatan pembelian komoditas-komoditas ritel yang besar, seperti rumah, apartemen, dan kendaraan bermotor.

Di Bandung contohnya, sama seperti di Jakarta dan Surabaya, pertumbuhan pasar ritelnya menjanjikan yaitu sebesar 10,5 persen. Dilihat dari nilai yang terbelanjakan, tumbuh dari Rp 2,88 triliun (2005) menjadi Rp 3,18 triliun (2006).

Menurut Yongky, tahun depan pertumbuhan ritel diprediksi juga meningkat, sebab pertubuhan makro yang terus membaik, dan indeks kepercayaan konsumen yang diyakini mampu mencapai 32 persen. ”Melihat tren pembelian mobil sampai 30.000 per bulan dan motor sampai 300.000 per bulan, saya perkirakan tren ritel tahun depan sangat bagus,” ujar Yongky.

Meskipun pertumbuhan ritel modern terbilang cepat, Yongky menambahkan, ritel tradisional masih bisa bersaing. Sebab, berdasarkan survei, 95 persen konsumen lebih suka berbelanja produk basah di pasar tradisional. Tahun lalu, nilai belanja masyarakat tercatat mencapai Rp 63,58 triliun, sedangkan tahun 2005 mencapai Rp 57,24 triliun. (THT)

Sumber: Kompas

0 comments: