Membeli Waralaba Setelah Usia 55

Tuesday, November 27, 2007

Dulu ketika seseorang memasuki usia 55, biasanya orang tersebut akan mempertimbangkan untuk pensiun. Namun, sekarang 55 seperti baru 35. Yang usianya 50-an, kini menyadari mereka memiliki banyak hal tersisa yang bisa ditawarkan dan juga pengalaman.

Mereka banyak menghabiskan waktu bukan memikirkan pensiun, namun menghitung apa yang mereka ingin kerjakan untuk masa dewasa yang kedua kalinya.

Banyak yang berada dalam golongan ini adalah kumpulan orang yang mempunyai waktu dan energi untuk panggilan baru. Banyak pula yang menyadari setelah bertahun-tahun di dunia perusahaan kemudian mereka menginginkan fleksibiltas dan kesempatan lebih yang hasilnya langsung terkait dengan kerja.

Apakah tujuannya untuk menghasilkan kekayaan, untuk memberi dan membantu orang lain atau agar tetap memiliki kesibukan dan kreativitas, maka kian banyak orang di atas usia 55 berpikir untuk mengejar American Dream bagi mereka. Kita menyaksikan banyak di antara mereka beralih ke peluang franchise sebagai alternatif untuk memulai bisnis mereka dari awal.

Franchise memiliki sejarah yang dinamis.
Ray Kroc di usia 50-an ketika memulai McDonald’s, sedangkan Kolonel Sanders lebih dari 65 saat mengawali Kentucky Fried Chicken. Banyak pewaralaba aktif mencari terwaralaba yang lebih dari 55, sebab mereka memiliki pengalaman, kearifan dan sumber daya kapital yang telah dikembangkannya sehingga bisa menopang secara baik waralaba.

Jika anda menginginkan waralaba bagus yang cocok bagi anda sebagai terwalaba manula, pertimbangkan elemen-elemen suksesnya waralaba berikut ini:

Pahami peranan waralaba.
Selalu penting untuk memahami apa yang akan kerjakan dari hari ke hari. Dalam waralaba, hal ini mungkin kecil seperti melayani konsumen dengan produk atau jasa, ketika fokus anda mungkin pada bisnis yang lain. Ingat juga bahwa setelah bertahun-tahun mempunyai bos, kini anda akan menjalaninya, dan berarti perlu nyaman dengan tanggung jawab tersebut.

Berusaha nyaman melakukan pekerjaan di semua tingkatan.
Setelah menghabiskan tahunan di dunia perusahaan anda mungkin tidak bisa lagi mendelegasikan pekerjaan. Anda perlu secara hati-hati mempertimbangkan apakah anda akan oke bertindak sebagai CEO hingga mengurus toilet. Meletakkan aset pribadi anda dalam risiko. Kebanyakan orang mengakumulasi aset yang substansial ketika mencapai usia 50-an dan mungkin tak menginginkan risiko atas aset tersebut.
Pertimbangkan dengan hati-hati sumber keuangan yang akan dipakai membiayai bisnis anda khususnya jika dari rekening pensiun, sebelum mencari waralaba.

Ubah gaya hidup anda.
Banyak yang ketika mencapai usia 55 mereka memutuskan ingin lebih bergaya fleksibel yang memebrikan banyak waktu, kesempatan bepergian, atau prioritas lain. Ketika menginvestigasi bisnis waralaba potensial, pastikan peranan terwaralaba hubungannya dengan masalah gaya hidup.

Siapkan rencana keluar (exit plan).
Meskipun hal ini menjadi pertimbangan penting bagi semua terwaralaba (franchisee), namun lebih khusus untuk mereka yang sudah lewat usia 55. Putuskan berapa lama lagi anda ingin bekerja dan apa yang akan dilakukan jika anda sudah menemui saat dimana tak ingin melakukannya lagi. Apakah anda ingin menjual atau mewariskannya. Anda sebaiknya memulai proses ini (waralaba) dengan menetapkan akhirnya di benak.

Anda bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan selama proses menemukan kembali (reinventing) diri anda dalam hidup ini.
Anda mendapatkan peluang bagus kedua untuk membangun hidup yang lebih berarti bagi anda dan juga memberikan pengambalian finansial. Hal yang perlu dilakukan adalah meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh berpikir apa yang diinginkan dengan kepemilikan bisnis tersebut dan investigasi semua peluang secara baik untuk memastikan bahwa anda memilih yang memberikan sesuautu yang penting menurut anda.

Pilih waralaba yang anda inginkan menjadi terwaralaba
Anda akan sangat populer ketika memulai mengontak mereka, sebab pengalaman hisup anda, kecerdasan bisnis dan stabilitas keuangan. Anda bisa membantu kedua sisi transaksi dengan mengomunikasikan kepada diri anda dan perusahaan waralaba diman anda hendak menjalankan bisnis dan apa yang ingin anda capai. Dengan sedikit ketelitian dan gagasan, tahun-tahun terbaik akan ada di hadapan anda.

Sumber: Entrepreneur.com Read more...

KidZania, Waralaba untuk Si Kecil

Saturday, November 24, 2007

Ana Shofiana S - detikfinance

Kecil-kecil sudah jadi kasir supermarket. Jangan curiga dulu, ini bukan pekerja anak tapi bocah cilik yang sedang berperan menjadi orang dewasa.
Anak-anak kecil yang berperan jadi orang dewasa itu sedang bermain di kota edutainment KidZania. Kota anak-anak ini juga punya mata uang sendiri KidZo.

Ya, KidZania, waralaba taman bermain dan belajar itu kini hadir di Jakarta, lantai 6 Pacific Place Mall, kawasan niaga terpadu Sudirman (SCBD). Kidzania yang asal Meksiko itu baru ada di Meksiko dan Jepang.

Di Indonesia, KidZania ada di bawah bendera PT Aryan Indonesia. Untuk mendirikan kota kecil di Jakarta ini, PT Aryan mengeluarkan kocek sebesar US$ 15 juta.
"Tapi 100 persen ini punya kita. Hubungan dengan Mr Xavier hanya franchise saja," kata President Kidzania Indonesia Muhammad Riza, dalam jumpa pers di Pacific Plaza Shopping Mall, kawasan SCBD, Senayan, Sabtu (24/11/2007).

Indonesia adalah negara kedua yang mengambil franchise tempat bermain yang pertama didirikan oleh Xavier Lopez Ancona di Santa Fe Shopping Mall, Meksiko, pada 1 September 1999.

Jakarta dengan jumlah penduduk 16,55 juta penduduk, dan 29,1 persen diantaranya dianggap menjadi pasar potensial untuk perkembangan KidZania. Selanjutnya PT Aryan Indonesia akan membidik Surabaya sebagai kota KidZania berikutnya di Indonesia.

Beberapa perusahaan tertarik bergabung dengan PT Aryan untuk ikut berpartnership
atau mensponsori. Misalnya Air Asia untuk flight simulation, BCA untuk ATM dan Bank, Pepsodent untuk klinik gigi, dan masih banyak lagi perusahaan yang ikut ambil bagian membangun kota yang memang dikhususkan untuk anak berusia 1 hingga 13 tahun ini. Tercatat 32 perusahaan ikut nimbrung di sini.

Dengan luas area 7.500 m2, KidZania bisa memuat 2.400 anak-anak setiap harinya.
Dalam sehari, Kidzania membuka dua sesi. Sesi pertama dimulai pukul 09.00-14.00 WIB, sesi kedua mulai pukul 15.00-20.00 WIB.

Anak-anak yang bermain di kota liliput ini cukup merogoh tiket Rp 75.000 (2-3 th), Rp 111.000 (4-13 th) dan Rp 90.000 (di atas 13 th). Sedangkan tiket Sabtu, Minggu dan hari besar masing-masing menjadi Rp 95.000, Rp 150.000, Rp 150.000.

Xavier sebagai CEO meyakinkan bahwa Kidzania akan menarik hati anak-anak. Setelah di Jakarta. Kidzania akan dibangun di Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Portugal dan Spanyol. Paling lambat tahun 2009, Kidzania sudah dibuka di 4 negara tersebut. (ana/ir)

Sumber : detikfinance
Read more...

Peluang Usaha Waralaba Pulsa Telepon

Monday, November 19, 2007

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Jakarta - Telepon seluler alias ponsel kini bukan lagi barang mewah. Apalagi bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.
Mulai dari pedagang asongan, sopir bajaj, tukang ojek, dan satpam pun kini semuanya mengantongi ponsel.

Tren itu menimbulkan berbagai peluang usaha yang bisa mendatangkan uang. Misalnya bisnis pulsa yang takkan mati karena kebutuhan pulsa yang tiada henti.

Untuk menjangkau konsumen low-end seperti diatas, perusahaan layanan telekomunikasi mengeluarkan paket pulsa yang murah meriah. Pulsa kini dijual mulai dari Rp 5 ribu.
Untuk memangkas biaya kemasan dan distribusi, pulsa dijual dengan sistem elektronik. Lebih praktis, cepat, dan hemat.

Peluang bisnis seperti ini yang ditangkap Hitam Putih Electronic Voucher. Meski sudah banyak yang membuka bisnis serupa, tetap saja masih banyak konsumen pulsa yang harus dilayani.
"Provider operator mengalokasikan voucher isi ulang dalam bentuk voucher 90% dan fisik 10%," kata Manager Hitam Putih Agung Hendy kepada detikFinance.

Hitam Putih menawarkan beberapa kelebihan seperti layanan transaksi 24 jam, proses transaksi yang cepat, dan harga kompetitif. Hendy optimistis bisnis seperti ini akan prospektif dan bisa mendapat return of investment kurang dari satu bulan.

Modal awal yang harus disediakan bekisar Rp 10-70 juta, tergantung jumlah outlet yang diinginkan. Anda tinggal menyediakan lokasi maksimal 2x2 m ditempat yang strategis, ponsel, dan tenaga pelaksana yang akan ditraining.

Dengan modal Rp 10 juta misalnya, Anda akan mendapat satu outlet khas Hitam Putih yang mencakup satu handphone untuk operasional, satu papan harga pulsa, satu buku nota dan kalkulator, dan dua kursi duduk.
Anda juga mendapat paket promosi usaha, deposit voucher elektronik untuk semua operator senilai Rp 1 juta, dan training.

Di setiap pulsa yang Anda jual, keuntungan minimalnya Rp 1.500 (jenis operator apapun). Dengan asumsi setidaknya terjadi 50 transaksi setiap harinya, maka omset per hari Rp 75.000.
Dalam sebulan keuntungan menjadi Rp 2.250.000. Jika dikurangi gaji pegawai misalkan Rp 600.000, sewa tempat Rp 100.000, dan pembayaran royalti fee 7% Rp 157.500, maka laba bersih per bulan jadi Rp 1.392.500.

Mmmm....tertarik?

Anda bisa menguhubungi kantornya di Jl Affandi (Gejayan) No 20 Yogyakarta. Telp (0274) 582347 Email: my_hitamputih@yahoo.com. (lih/qom)

Sumber : detikfinance
Read more...

Peluang Usaha Langsing dengan Waralaba

Friday, November 16, 2007

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Ingin melangsingkan badan di pusat kebugaran? Pasti banyak diantara Anda yang langsung mengurungkan niat begitu mengetahui biaya yang harus dikeluarkan.
Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan dari kantong Anda untuk mendapatkan tubuh ideal mencapai Rp 3-10 juta untuk setiap kali terapi.

Padahal, untuk mencapai bentuk tubuh yang diinginkan, biasanya dibutuhkan 3-4 kali terapi. Jadi tinggal dikalikan saja, mahal kan?

Melihat kondisi seperti ini, Roni Poniman yang sejak 1980-an berkecimpung di dunia pelangsingan tubuh berkeinginan menciptakan fasilitas pelangsingan tubuh yang murah meriah.

Dengan alat yang disebut Body Renova, setiap terapi pelangsingan tubuh hanya dibandrol Rp 60.000. Kalau mengambil paket lima kali terapi, Anda dapat satu kali gratis terapi. Bahkan jika mengambil paket 10 kali terapi dapat gratis dua terapi.

Dibawah bendera My Body Slim, Roni berhasil menggaet konsumen hingga 100 pasien per harinya dengan moto Low Cost Slimming Center.

My Body Slim kini bisa ditemukan di beberapa rumah sakit terkemuka. Dan rencana selanjutnya adalah memperluas jaringannya dengan konsep franchise.
"Yang kita incar adalah dengan membuka outlet di ruko-ruko perumahan. Jadi dekat dengan konsumen," kata Roni pada detikFinance.

Modal untuk membuka waralaba 'My Body Slim' sekitar Rp 115 juta. Roni menjamin, investasi itu bisa balik modal kurang dari satu tahun.
"Karena setiap harinya bisa datang pasien 30-150 orang," lanjutnya.

Dengan modal itu, franchisee akan mendapat 6 unit mesin Body Renova, dan seperangkat software database sidik jari.
Jadi, setiap pasien cukup menggunakan jarinya untuk mengecek catatan terapinya. "Paperless," tegasnya.

Franchisee juga akan mendapat pelatihan khusus dan alat kedokteran lainnya seperti support serum.
Yang unik dari pusat pelangsingan ini adalah proses terapi yang berbeda dengan pusat pelangsingan lainnya.

Pasien yang berobat cukup duduk manis dibelit alat penggempur lemak (Body Renova) bersama dengan lima pasien lainnya dalam satu ruangan. Saat alat penggempur lemak itu bekerja, Anda dan pasien lainnya akan disuguhi penjelasan mengenai obesitas.

"Jadi kita juga melakukan edukasi untuk merubah mindset pasien sehingga mereka mau merubah pola hidupnya," katanya.

Ditengah maraknya obesitas yang melanda masyarakat, terapi pelangsingan yang murah meriah sudah pasti ditunggu.

Anda tertarik?

Hubungi My Body Slim: Jl. KH Wahid Hasyim No 62 C, Jakarta 10350. Telpon 39833810, Fax: 3923859
Atau email: ronitopmaster@yahoo.com.sg
(lih/qom)

Sumber : detikfinance
Read more...

Waralaba : Alternatif Usaha Dimasa Pensiun

Wednesday, November 14, 2007

Bagi para manager, dewan direksi atau pimpinan di instansi pemerintah, memasuki masa pensiun merupakan periode kehidupan yang cukup kritikal, tidak jarang seorang yang demikian aktif dan produktif semasa bekerja, setelah memasuki masa pensiun kondisi fisik dan produktifitasnya menurun dengan cepat.

Saking sibuknya ketika bekerja sampai tidak memiliki persiapan ketika masa pensiun tiba. Ibarat mobil yang selama ini bekerja aktif tiba-tiba harus dimasukkan garasi, sehingga kondisi mesinnya memburuk karena jadi jarang dipanaskan dan dipakai.

Di dalam Franchise Brief yang diterbitkan oleh IFA (international Franchise Associations); dikisahkan tentang kegalauan Sally Haufman (62 tahun) yang baru saja pensiun setelah berkarir selama 40 tahun di bagian penjualan di IBM. Ketika ia pensiun di usia 61 tahun; Ia sudah lama berangan-angan untuk menjadi bos sendiri. Namun pertanyaannya Bos seperti apa? Berkaitan dengan keterbatasan dana dan usia; Ia pada waktu itu berpikir hanya ada dua pilihan yaitu menjadi broker real estate atau membeli hak waralaba.

Ia memilih opsi kedua, dan saat ini ia memiliki dua outlet fitness khusus wanita yang bernama "Slim & Tone" di daerah Pensylvania.

Menurut Franchise Info Mall Inc, saat ini di Amerika Serikat jumlah franchisee yang memulai usaha waralaba diatas usia 55 tahun terus mengalamai kenaikan. Lima tahun lalu jumlah franchisee di usia pensiun hampir 0%. Tahun ini jumlah kelompok usia pensiun yang membeli hak waralaba telah mencapai 8%. Hal ini diakui pula oleh PostNet salah satu perusahaan waralaba di Amerika, yang menyatakan bahwa dari tahun 2002 jumlah franchisee yang berusia di atas 50 tahun telah meningkat dari 20% menjadi 35% di tahun ini.

Mengapa bisnis waralaba cocok untuk para pensiunan berdompet tebal? Beberapa fakta dari usaha waralaba berikut merupakan jawabannya:

1. Bisnis waralaba merupakan format bisnis yang bekerja dengan sistem cloning.
Franchise tidak perlu memiliki pengalaman sebelumnya di bisnis yang akan digeluti. Franchisor (Pewaralaba) akan menyediakan berbagai panduan yang lengkap untuk menuntun franchisee (Terwaralaba). Ibaratnya franchisee cukup mengikuti instruksi dan mencontoh apa yang dilakukan oleh franchisor.

2. Masa pembelajaran usaha waralaba lebih singkat dengan sukses rate yang jauh lebih tinggi dibandingkan membuka usaha secara konvensional, dengan membangun merek sendiri. Sehingga bagi para pensiunan yang memiliki dana dan usia relatif terbatas, format waralaba sangat cocok dimasuki.

3. Terdapat berbagai pilihan usaha waralaba yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dana, latar belakang pengalaman dan hobi dari para pensiunan. Mulai dari berjualan jagung rebus sampai berjualan kavling di internet (internet service provider).

Jika memang demikian, sudah saatnya bisnis waralaba dijadikan alternatif investasi bagi para pensiunan pemilik modal di Indonesia. Uang pensiun tetap berkembang, alih-alih menambah pengangguran malah mampu memberikan lapangan kerja dan paling tidak memberikan warisan yang lebih bernilai berupa kail & pancing bagi anak cucu, bukan sekedar ikan yang gemuk.

Nah, selamat berwaralaba.

Sumber : SMfranchise (c) Read more...

Peluang Usaha Singkong pun Bisa Diwaralabakan

Tuesday, November 13, 2007

Alih Istik Wahyuni - detikfinance

Apa yang ada di benak Anda mendengar singkong? Pasti singkong rebus, singkong goreng, banter-banter singkong bakar dan kripik singkong.
Bagaimana kalau singkong lapis cokelat atau strawberry? Kalau rasa jagung bakar? Hmmm, pastinya lebih yummy.

Singkong aneka rasa itu bukan sekadar angan-angan belaka. Firmansyah Budi pun mengubah cemilan rakyat itu menjadi komoditi bisnis yang menggiurkan. Hanya bermodal alat dapur ibunya.

Desember 2005, ia memulai bisnis singkong (dalam bahasa Jawa disebut tela dari ketela) ini dengan merek dagang Tela Krez. Januari 2006, ia memutuskan mengembangkan bisnisnya dengan konsep waralaba.

Tak sia-sia, Tela Krez kini memiliki 120 outlet di 22 kota Indonesia. Bermula dari Yogyakarta, Jakarta, Malang, Surabaya, Ciledug, hingga Samarinda dan Makasar.
Kebanyakan orang ingin ikut menjajakan Tela Krez karena modal usaha yang murah. Hanya dengan Rp 3,5-4,5 juta, Anda bisa memulai bisnis ini.

Dengan modal itu, Anda mendapat sebuah outlet dengan peralatannya dan bahan baku awal. Anda juga bebas franchise fee selama 3 tahun. Tak hanya murah, return of invesment-nya juga cepat, hanya sekitar satu bulan.

Anda bisa memilih outlet permanen yang bisa ditempatkan di pusat perbelanjaan atau outlet dorongan yang bisa berkeliling.
Ada belasan rasa singkong yang bisa dijual. Penjualan normalnya mencapai 20-200 pack setiap hari, tergantung lokasi outlet. Setiap pack dijual variatif mulai Rp 3.000.

"Karena murah, anak SD juga bisa beli, karena empuk orang tua juga suka," kata Firmansyah pada detikFinance di sela-sela pameran waralaba akhir pekan lalu.
Jika penjualannya mencapai 20 pack sehari, maka omsetnya sekitar Rp 1,8 juta per hari.

Kalau ingin lebih mantap lagi, Anda bisa menanamkan Rp 5-6 juta sekaligus. Sama seperti sebelumnya, Anda mendapat outlet, perlengkapan, dan bahan baku awal. Tapi Anda bisa bebas franchise fee selama 5 tahun plus jaminan modal kembali dalam satu tahun.
Selain karena modal yang murah, dan return of investment yang cepat, risiko usahanya juga relatif kecil karena bisnis makanan bisa dipastikan tak pernah sepi.

Tela Krez juga pernah meraih penghargaan Indonesia Small Medium Business Entrepenuer Award 2007 kategori makanan tradisional dengan nilai ekonomis tinggi.

Berminat? Silakan menghubungi no telepon Firmansyah: 0274-7000211 atau email: homygroup@yahoo.com. (lih/qom)

Sumber : detikfinance
Read more...

9 Pertanyaan Wajib Sebelum Memiliki Waralaba

Sunday, November 11, 2007

John Naisbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends, menyatakan bahwa waralaba merupakan konsep pemasaran yang paling berhasil selama sejarah umat manusia.

Di Amerika Serikat setiap delapan menit sekali dibuka satu outlet waralaba. Hampir 40% dari usaha retail dijalankan dengan konsep waralaba. Di negara yang lebih muda perkembangan waralabanya, misalnya Malaysia, konsep waralaba hanya menguasasi 5% dari total industri retail.

Di Indonesia sendiri saat ini waralaba sudah mulai menunjukkan trend peningkatan dan kerap menjadi topik perbincangan bisnis baik di media maupun dalam praktek keseharian. Akibatnya semakin banyak orang yang tertarik untuk membeli hak waralaba. Namun sayangnya data yang ada menunjukkan bahwa peluang sukses waralaba di Indonesia hanya mencapai sekitar 60% saja. Bandingkan dengan di Amerika Serikat yang dapat mencapai diatas 90%.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan panduan kepada calon pembeli hak waralaba (calon franchisee), berupa pertanyaan-pertanyaan untuk menggali apakah waralaba cocok untuk dirinya atau tidak. Terdapat 9 pertanyaan yang harus dievaluasi, yaitu:

1. Apakah kita bersedia mengambil resiko menjadi seorang wirausaha?
Bagi yang terbiasa menjadi karyawan, kemudian banting stir menjadi pemilik; tentunya pola kerja, sikap dan resiko yang akan dipikulnya berubah 180 derajat. Jam kerja bukan lagi 40-60 jam seminggu namun akan bertambah menjadi 60-70 jam per minggu bahkan lebih. Sudah siapkah kita menghadapi semua ini?

2. Apakah kita akan menyukai cara berbisnis dengan format waralaba?
Banyak franchisee gagal dalam berusaha karena pada saat membeli hak waralaba, ia hanya membayangkan untuk menjadi kaya dan mendapatkan banyak uang. Namun setelah bisnisnya berjalan, ia merasa tertekan dan tidak menyukainya. Akhirnya usaha tersebut gagal.

Paradigma yang menyatakan bahwa memiliki bisnis sendiri berarti kita memiliki kebebasan dalam berkreasi dan mengaktualisasikan diri, harus dibuang jauh-jauh. Jika ingin membeli hak waralaba, kita, walaupun pemilik, harus suka untuk diatur oleh franchisor. Jika kita tipe orang yang tidak suka diatur orang lain, maka waralaba bukanlah bisnis yang tepat.

3. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dan berinteraksi dengan orang-orang?
Usaha waralaba banyak terkait dengan hubungan orang ke orang. Hubungan dengan karyawan, pemilik dana, franchisor, suplier maupun pelanggan. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dengan orang banyak? Jika ya, maka usaha waralaba mungkin cocok untuk kita.

4. Apakah kita memiliki modal yang cukup untuk membeli hak waralaba?
Banyak usaha waralaba gagal karena kekurangan modal kerja di tengah jalan. Jadi untuk meningkatkan peluang sukses, lebih baik jika kita memiliki modal lebih banyak dari yang disyaratkan oleh franchisor. Untuk itu paling tidak kita musti memperhitungkan modal kerja untuk 6 bulan sampai satu tahun ke depan.

5. Apakah kita telah mempelajari semua dokumen yang berkaitan dengan aspek hukum dari franchisor?
Umumnya sebelum kita memutuskan untuk membeli hak waralaba, Franchisor akan memberikan dokumen penawaran yang dinamakan Franchise Offering Circular.
Dalam PP No 16 Tahun 1997 dijelaskan di pasal 3 ayat 1, bahwa di dokumen ini harus tercantum paling sedikit hal mengenai:

a. Pemberi Waralaba, berikut keterangan mengenai kegiatan usahanya;
b. Hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang menjadi objek Waralaba;
c. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Penerima Waralaba;
d. Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba;
e. Hak dan kewajiban Pemberi dan Penerima Waralaba;
f. Pengakhiran, pembatalan, dan perpanjangan perjanjian Waralaba serta hal-hal lain yang perlu diketahui Penerima Waralaba dalam rangka pelaksanaan perjanjian Waralaba.

Selain itu dalam PP yang sama Pasal 3 ayat 2, dicantumkan pula bahwa Pemberi Waralaba (Franchisor) wajib memberikan waktu yang cukup kepada Penerima Waralaba (Franchisee) untuk meneliti hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Di Amerika Serikat, tenggang waktu ini lamanya minimum 10 hari kerja.

6. Apakah Franchisor yang kita minati merupakan perusahaan yang solid, liquid dan sukses?
Franchisor wajib memberikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kepada calon pembeli hak wralabanya. Laporan ini paling tidak membrikan informasi keuangan untuk periode 3 tahun. Selain sisi keuangan, kita juga mesti menilai apakah merek yang akan kita beli cukup dikenal dan memiliki image positif di pasar?

7. Apakah Franchisee yang ada sekarang secara umum gembira dan sukses atas usaha mereka?
Tanyakan pada franchise yang ada saat ini apakah mereka gembira dan puas atas putusan mereka membeli hak waralaba tersebut? Apakah investasi tersebut menguntungkan mereka? Jika jawaban kedua pertanyaan tersebut Ya, mungkin brand waralaba tersebut layak untuk dibeli.

8. Apakah anda menyukai staff franchisor yang mensupport anda?
Salah satu kunci sukses dari waralaba adalah adanya support dan bantuan yang terus menerus dari franchisor melalui staff franchise support mereka. Untuk menciptakan sinergi, maka kita harus cocok dengan staff tersebut. Jika tidak coba diskusikan dengan franchisor apakah dapat dicarikan alternatif staff pengganti?

9. Apakah kita mendapat dukungan dari keluarga?
Menjadi franchisee bukanlah pekerjaan paruh waktu, namun peklerjaan full time yang menyita waktu pribadi dan waktu keluarga. Apakah keluarga kita mendukung dalam hal ini?Jika jawaban atas 9 pertanyaan tersebut positif, maka jangan sia-siakan peluang yang disediakan oleh waralaba.
Selamat menjadi kapitalis baru!

Sumber: - Franchise Opportunities Guides
- SMfranchise
Read more...

J.Co Franchise Favorit di Malaysia

Saturday, November 10, 2007

Indro Bagus SU - detikfinance

Bisnis waralaba di Malaysia tidak seatraktif di Indonesia karena lebih banyak diisi pemain bermodal besar. Tapi J.Co, waralaba asli Indonesia mampu menembus pasar Malaysia.

Donat J.Co, menjadi salah satu franchise yang difavoritkan konsumen negeri jiran, dan menjadi salah satu waralaba asing terbesar di Malaysia.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh CEO Malaysia International Franchise Sdn Bhd, Shahrul Aslan Mohd Zulkifli, dalam seminar 'Franchise & License Indonesia Expo 2007' di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (10/11/2007).

Shahrul mengakui kondisi bisnis waralaba di negaranya tidak berkembang luwes seperti di Indonesia. Ada berbagai sebab mengapa franchise bermodal kecil susah berjaya di Malaysia. Tantangan utamanya adalah, biaya retail premises di Malaysia cukup tinggi, yaitu sekitar US$ 5-8 per meternya.

"Oleh sebab itu, bisnis ini tidak berkembang besar, kecuali untuk brand-brand besar yang memiliki modal yang memadai," ungkap Shahrul.

Ia menambahkan, jumlah mal di Malaysia tidak sebanyak di Indonesia. Tren yang berkembang di Malaysia, adalah berkembangnya franchise besar berupa hipermarket asing, bukan dalam bentuk mal-mal.

"Hambatan selanjutnya adalah, bank komersial di Malaysia tidak tertarik memberi pinjaman untuk membuka usaha franchise. Tidak seperti di Indonesia, industri ini didukung oleh kucuran dana dari bank komersial," jelas Shahrul.

Kebanyakan franchise asing di Malaysia mendapat tentangan dari pelaku pasar lokal, terutama dari sektor bisnis kecil. Dampaknya, franchise asing yang mendapat tentangan itu, tersingkir ke pinggiran kota, seperti misalnya hipermarket asing.

Per 31 Oktober 2007, jumlah franchise di Malaysia mencapai 318 brand. Jumlah yang tidak banyak ini, jelas Shahrul, karena di Malaysia franchise lokal sulit berkembang.

"Sebagaimana hambatan-hambatan tadi, franchise lokal di Malaysia sulit menyaingi brand asing yang ada. Tidak seperti di Indonesia, brand franchise lokal yang tidak besar pun bisa berkembang," kata Shahrul. (ir/ir)

Sumber : detikfinance
Read more...

Malaysia Beli Waralaba Auto Bridal

Satu lagi perusahaan waralaba (franchise) asli Indonesia dilirik investor asing.
Malaysia melalui Perbadanan Nasional Berhad (PNS) membeli master franchise waralaba Autu Bridal.

Penandatanganan Letter of Intent (Lol) dilakukan antara CEO Auto Bridal Fangky C Hartati dengan CEO PNS, Syahrul Aslan Mohammad Zulkifli, disela-sela 'Franchise & License Indonesia Expo 2007' di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (10/11/2007).

Dengan membeli master franchise ini maka kepengurusan untuk membeli franchise Auto Bridal di Malaysia, tidak perlu ke Indonesia melainkan ada dibawah wewenang PNS.

Untuk tahap pertama pengembangan Auto Bridal di Malaysia, PNS akan membangun semi automatic car wash di 200 pompa bensin Petronas milik pemerintah Malaysia, "Semi automatic car wash ini adalah produk baru, karena di Indonesia kita tidak punya semi automatic car wash, itu nanti hanya ada di Malaysia," kata Fangki.

Selanjutnya pada tahap kedua, akan dibangun outlet Auto Bridal seperti yang ada di Indonesia.

Di Indonesia ada empat jenis gerai Auto Bridal, yakni Motor Bridal, Auto Bridal Xpress, Auto Bridal dan Auto Bridal Priority.
Untuk membuka gerai di Auto Bridal, calon investor harus menyediakan modal antara Rp 200 juta sampai Rp 2 miliar tergantung tipe dari jenis gerai tadi."Fasilitas yang kita berikan berupa peralatan, support SDM, pemilihan lokasi dan branding. Juga renovasi lokasi, desain interior beserta three D, dan kita akan memberikan manual pengurusan izin. Tapi izin usahanya yang mengurus mereka kita hanya memberi manual izin," jelas Fangki.

Membeli franchise Auto Bridal memiliki kontrak sepanjang 5 tahun yang setelah itu bisa diperpanjang kembali dengan biaya lebih murah.

Auto Bridal saat ini telah memiliki 64 gerai yakni 55 untuk mobil, satu untuk Xpressdan 8 untuk motor yang tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Rencana ekspansi 2008, Auto Bridal akan memasuki pasar di Singapura danThailand.
Sementara target sampai akhir 2007, Auto Bridal akan membuka 8-10 gerailagi.

Pendapatan kotor per bulan Auto Bridal bisa mencapai Rp 60 juta dan penghasilan bersih Rp 40 juta. Biaya fee yang harus disetor setiap pemilik franchise ke kantor pusat yaitu mobil Rp150 juta per 5 tahun, motor Rp 100 juta per lima tahun dan Xpress Rp 100 juta per 5tahun.
(ir/oir)

Indro Bagus SU - detikfinance
Read more...

Investor Paling Minati Waralaba Minimarket dan Makanan

Indro Bagus SU - detikfinance

Jakarta - Dari sekian banyak jenis waralaba atau franchise, investor ternyata paling banyak minati usaha minimarket dan makanan.

Hal ini terlihat dari antusias pengunjung,-- yang kebanyakan berciat-cita ingin buka waralaba,-- dalam pameran dan conference waralaba terbesar di Indonesia yang bertajuk, 'Franchise & License Indonesia Expo 2007 ke-5 yang diselenggarakan 9-11 November 2007, di JCC, Jakarta, Sabtu (10/11/2007).

"Untuk brand-brand lokal, makanan dan minimarket paling banyak diminati, mungkin karena peluangnya cukup besar namun modal yang dikeluarkan tidak terlalu banyak," kata Communication Manager PT Panorama Convex, Ella Haryanto dalam pebincangannya dengan detikFinance, Sabtu (10/11/2007). PT Panorama Convex adalah penyeleggara acara pameran ini.

Sementara untuk brand asing, pengunjung meminati bidang pendidikan dan game station.
Pameran ini menggelar lebih dari sekitar 180-an brand, baik lokal maupun asing. Merek lokal kira-kira 70% dan asing 30%.

Menurut Ella dalam pameran ini, pihaknya menargetkan jumlah pengunjung 4.000 pengunjung per hari. Sementara jumlah pengunjung pada hari pembukaan Jumat kemarin (9/11/2007) sekitar 1.500 orang.

"Mungkin karena hari Jumat itu hari kerja, jadi pengunjung pun tidak banyak. Tetapi justru pengunjung di hari kerja itulah yang lebih berprospek melakukan komitmen awal pembukaan franchise. Target pengunjung selama 3 hari ini sekitar 15.000an orang," ujar Ella.
Sementara pengunjung hingga Sabtu siang ini diperkirakan telah mencapai
2.000-an orang.

Rahmawati, seorang ibu rumah tangga yang ditemui detikFinance mengatakan bahwa tujuannya datang ke pameran ini karena membuka usaha franchise minimarket.
Sementara Tia, seorang wiraswasta di Jakarta, juga mengatakan tujuannya datang ke pameran adalah untuk memperluas bidang usaha makanan.

Pameran ini juga menarik pengunjung dari luar Jawa. Seorang pengusaha dari Sumatera Selatan, bernama Dwi Budi Santoso, mengatakan tujuan datang ke pameran ini untuk mengembangkan usaha yang sudah dimilikinya di tempat asalnya.

"Saya tertarik membuka usaha minimarket dan makanan di Sumatera Selatan. Tapi saat ini, masih dalam proses cari data," kata Dwi. (ir/ir)

Sumber : detikfinance
Read more...

Berinvestasi di Berbagai Macam Bisnis Franchise

Thursday, November 8, 2007

Awalnya karena ingin mengisi waktu luang, tapi tetap bisa mengurus anaknya, Wantini H. Tjahja banyak berinvestasi di berbagai macam bisnis franchise di bilangan Cibubur. Tak hanya itu, properti dan bisnis sektor riil lainnya juga jadi incarannya.

Hidup berkecukupan dengan mengandalkan penghasilan suami yang berlebih bukanlah watak Wantini H. Tjahja. Kendati sebagai ibu rumah tangga, jiwa entrepreneurship-nya terus menggelora. Pikirannya pun terus berputar bagaimana bisa mengembangbiakkan duit yang berlebih itu. Hanya saja, satu prinsip wanita kelahiran Cianjur 10 Mei 1964 ini: investasi jalan, tapi anak tetap bisa terurus dengan baik. “Intinya, saya ingin punya kegiatan, tapi juga nggak mau meninggalkan anak-anak saya,” Wantini menegaskan.

Ia mengakui, dirinya bisa seperti sekarang karena dukungan suaminya, termasuk ketika ia menemukan usaha yang pas setelah sekian lama mencarinya, yaitu terjun ke bisnis waralaba (franchise). Alasannya, bisnis franchise sistemnya sudah terbentuk dan berjalan, sehingga tak perlu dikontrol setiap hari. Maka, secara bertahap ia membeli waralaba yang ia anggap sudah bonafide. Tak tanggung-tanggung, saat ini ia memiliki 6 bisnis waralaba, dan sampai sekarang ia pun masih terus mencari waralaba-waralaba yang lainnya. Ke-6 waralaba yang sudah digenggamnya itu berlokasi di Cibubur.

Istri Handrian Tjahja – Direktur holding company Grup Mulia – ini sangatlah selektif dalam memilih waralaba. “Saya tidak akan masuk ke bisnis franchise yang saya tidak bisa menjiwai,” kata alumni Sekolah Tinggi Bahasa Asing ini sambil mencontohkan waralaba makanan. Artinya, setiap waralaba yang dipilih Wantini, biasanya karena ada latar belakangnya, baik karena pengalaman maupun latar belakang berbagai pendidikan yang ia ambil.

Ibu dua anak ini mencontohkan, sebelum mengambil franchise Laundrette (waralaba pertama yang dibelinya), ia adalah pelanggan setia yang sudah bertahun-tahun. “Jadi saya sudah tahu kualitas Laundrette,” ia bercerita. Hingga suatu waktu, karena saking seringnya mencucikan pakaian di laundry yang berlokasi di daerah Kuningan Jakarta ini, seorang pegawai Laundrette menawarkan bisnis waralaba pada Wantini. Dan, di tahun 2003, Wantini membeli hak waralaba Laundrette. “Saat itu franchise fee-nya masih murah, sekitar Rp 25 juta. Ini belum termasuk gedung,” kata wanita yang saat ini memiliki lima gerai Laundrette – semuanya berada di beberapa perumahan dan kawasan bisnis di Cibubur.

Lalu, waralaba kedua yang ia beli adalah Salon & Day Spa Martha Tilaar pada 2004. Menurutnya, franchise fee-nya Rp 300 juta belum termasuk gedung dan isinya yang harus sesuai dengan strandardisasi pihak pemberi hak waralabanya (franchisor). “Total investasinya di luar gedung Rp 1 miliar,” ujar ibu dari Ceacilia Divany Hanan (4,5 tahun) dan Valensia Sebastian Hanan (3,5 tahun) ini.

Kemudian Puri Ayu (waralaba yang khusus menjual produk kecantikan Martha Tilaar) ia ambil tahun 2006. Waralaba ini menyasar mereka yang tidak sempat ke Spa Martha Tilaar, tapi ingin membeli produknya. Investasinya sekitar Rp 750 juta termasuk sewa tempat di Cibubur Junction Rp 500 juta per lima tahun.

Di tahun yang sama, ia juga mengambil waralaba Coldwell Banker. Investasinya Rp 600 juta, belum termasuk tempat. Dan terakhir adalah waralaba International Language Program dan 3 to 6 yang baru berjalan pada Oktober tahun ini. Investasinya lebih dari Rp 1 miliar belum termasuk gedung. “Total investasi untuk seluruh franchise yang saya miliki di luar gedung di bawah Rp 15 miliar,” wanita yang berpenampilan modis ini membeberkan. Untuk gedung, semua tempat bisnisnya adalah milik sendiri, kecuali franchise Martha Tilaar, baik Spa maupun Puri Ayu, karena tak boleh dibeli.

Memang sebelum terjun menjadi pengusaha waralaba, Wantini lebih banyak menempatkan investasinya di properti. Saat ini, ia memiliki 12 ruko dan 6 rumah. Semuanya berada di wilayah Cibubur, terutama di Perumahan Kota Wisata Cibubur tempat ia tinggal. “Kalau punya uang lebih, sudah sejak dulu saya membeli properti, agar pada saat suami pensiun dan anak-anak sudah besar nanti ada sesuatu yang dimiliki,” kata Wantini mengungkap tujuan investasinya.

Semua rukonya itu ia pakai sendiri untuk mengembangkan bisnis franchise-nya. Sementara rumahnya ada yang disewakan, dan ada pula yang dipakai sebagai tempat penginapan para karyawannya. Ia mengenang, sebelum digunakan sendiri, ruko-rukonya itu sempat menganggur. Maklum, pada saat dirinya mulai tinggal di Kota Wisata pada 1999, penghuninya belum banyak dan pelbagai fasilitas penunjang hidup pun masih sedikit, belum sebanyak sekarang. “Ada ruko yang kosong sampai tiga tahun karena bingung mau diisi apa,” kata Wantini.

Mantan karyawan Humpus ini merasa beruntung berinvestasi di properti, karena rata-rata gain yang dinikmati seandainya dijual bisa mencapai 100% lebih. Seperti ruko yang ia beli tiga-empat tahun lalu rata-rata Rp 300 juta per unit, saat ini sudah berharga Rp 600 juta per unit. Demikian pula dengan rumah berukuran besar 650 x 500 meter yang saat dibeli sekitar Rp 900 juta, sekarang sudah berharga Rp 2,5 miliar. Jenis rumah yang ia beli pun beragam, dan rata-rata kalau dikontrakkan berkisar Rp 60-70 juta per tahun.

Sementara itu, keuntungan dari bisnis franchise-nya pun bervariasi. “Masing-masing franchise yang saya beli beragam pembagian keuntungannya,” kata Wantini. Seperti Laundrette dan Puri Ayu, pembagian keuntungannya 40% bagi pihaknya, dan 60% buat franchisor. Adapun sebagai franchisee Codwell Banker, ia harus menyerahkan 1,5% penjualan ke pihak franchisor. Dengan sistem pembagian yang berbeda itulah, ia mengaku agak sulit mengungkap berapa keuntungan yang ia kantongi setahun. Yang pasti, ”Semua bisnis saya tidak ada yang rugi dan bisa berjalan dengan baik,” ucapnya diplomatis.

Yang menggembirakan, karena kegigihannya memasarkan bisnis franchise-nya, salah satu pelanggannya adalah menantu Presiden SBY, Anisa Pohan, yang sering mendatangi salon dan spa milik Wantini. Tak hanya menantunya, SBY dan istrinya sering pula me-laundry pakaian di sana. “Dari Senin sampai Jumat, kami datang ke Istana untuk membawa baju beliau,” kata Wantini bangga. Bahkan, selain SBY, Sudi Silalahi (Menteri Sekretaris Kabinet) dan Hari Sabarno (mantan Menteri Dalam Negeri) juga jadi pelanggannya.

Masih ada lagi bisnis yang digeluti Wantini, yaitu warung Internet dan pom bensin. Dari dua bisnis ini yang paling menguntungkan adalah pom bensin. “Rata-rata omset Rp 250 juta per hari dan sudah berjalan tiga tahun,” paparnya sambil menyebutkan bahwa investasinya Rp 5 miliar. “Sebenarnya ini bisnis suami saya, tapi saya juga ikut mengelola,” ia menerangkan.

Selain sektor riil, Wantini juga memiliki sejumlah asuransi karena telah menjadi kebutuhannya, termasuk asuransi pendidikan untuk anaknya. Tak tanggung-tanggung, yang ia pilih asuransi dalam mata uang dolar karena berharap anaknya bisa sekolah di luar negeri. Selain asuransi pendidikan, ia juga memiliki asuransi jiwa hingga properti. Jenisnya pun beragam, ada yang berbentuk unit link dan asuransi murni untuk proteksi.

Hanya saja, Wantini mengaku kapok berinvestasi di pasar modal seperti saham. Sekitar 10 tahun silam ia pernah bermain saham karena ikut-ikutan. Padahal dirinya tak menguasai bidang ini. “Uang saya amblas semua. Jadi saya kapok,” pengendara sedan BMW Seri 5 ini menandaskan. Makanya, ketimbang berinvestasi saham, ia lebih memilih berinvestasi perhiasan seperti emas dan berlian. Di samping bisa dipakai juga sangat likuid untuk dicairkan atau diganti dengan model-model terbaru. Sayang, ia tak menyebutkan berapa nilai investasi perhiasannya itu.

Yang jelas, secara keseluruhan portofolio Wantini adalah 60% di properti; 30% di bisnis franchise dan sektor riil lainnya; sisanya di perhiasan, asuransi dan produk keuangan. Ke depan, ia akan lebih fokus pada franchise di bidang pendidikan.

Franchise yang Dibeli Wantini H. Tjahja
(1) Laundrette (laundry and dry cleaning).
(2) Salon & Day Spa Martha Tilaar.
(3) Puri Ayu (produk kecantikan Martha Tilaar).
(4) Coldwell Banker (agen properti).
(5) International Language Program (ILP, kursus bahasa Inggris).
(6) 3 to 6 (pusat pendidikan anak usia 3-6 tahun, satu grup dengan ILP).

Jaga, Jangan Sampai Uang Dapur Terganggu
Bagi para ibu rumah tangga yang ingin berinvestasi, maka yang perlu diperhatikan adalah memisahkan antara dana aktif dan tidak aktif. Artinya, harus dipisahkan mana dana yang berpengaruh terhadap cash flow rumah tangga, dan mana dana yang dialokasikan untuk investasi. Sehingga, aktivitas investasi yang dilakukan jangan sampai memakan uang rumah tangga.

Lalu, investasi apa pun yang dilakukan, pertimbangkan tujuannya. Apakah untuk pendidikan anak, untuk menghadapi pensiun, atau untuk tujuan-tujuan lainnya. “Intinya apa pun investasinya harus punya tujuan,” kata Ahmad Gozali. Misalnya, Wantini yang masuk ke properti untuk persiapan pensiun, perhiasan untuk dipakai plus investasi, dan bisnis franchise untuk menambah income tapi anak tetap terawat dengan baik. Kalau orangnya sangat mapan sehingga kebutuhan lain – seperti dana pendidikan anak atau pensiun – sudah tercukupi, orang seperti ini biasanya berinvestasi dengan tujuan sekadar membunuh waktu sambil membiakkan duit. Jadi, sebaiknya mereka punya visi yang lebih kuat. Tak hanya mengumpulkan uang.

Contoh visinya adalah untuk membuka lapangan pekerjaan, ingin memajukan daerahnya sendiri, mengembangkan produk tertentu, ataupun mengembangkan hobi. Nah dari visi itu, mana yang lebih cocok sehingga bisa disesuaikan dengan bisnis yang dipilihnya kemudian. “Jadi di sini tak hanya mengembangkan uang, tapi juga mencari kepuasan,” kata perencana keuangan Safir Senduk ini. Apalagi, Wantini terlihat selektif memilih bisnis franchise yang betul-betul ia paham dan memiliki latar belakang pengalaman pribadi, sehingga bisa menjiwai.

Nah, kalau sudah cukup banyak bisnisnya, sebaiknya ia membuat sebuah holding company dan memiliki orang-orang profesional yang dipercaya. Jadi tidak ia sendiri yang mengontrol perusahaan, tapi ada yang ikut membantu. “Apalagi seperti Ibu Wantini, di samping mengelola bisnis, tetap menginginkan anak-anaknya terawasi,” tuturnya.

Oleh : Dede Suryadi (SWA)
Read more...

Bisnis dan Merek Lokal Franchiseable

Sunday, November 4, 2007

Di Bandung ada Restoran Ampera yang juga sangat laris dan punya basis pasar lokal yang kuat. Rumah makan Sari Sunda pun punya prestasi sepadan.

Masih di Bandung, ada toko kue Kartika Sari yang juga sukses dan terus bertahan sebagai pusat kue ternama di Kota Kembang, di samping itu ada pula Brownies Amanda.

Di Surabaya, nama Sate Ayam Lisidu tak kalah populer.
Sementara dari Jakarta, ada Restoran Sari Kuring; resto makanan Jepang Ita-Suki (di Pluit); Coto dan Konro Makassar (milik H. Daeng Tata di Tebet); dan yang patut disebut pula adalah Kedai Tiga Nyonya yang menjadi pilihan bagi penikmat masakan rumahan.
Kedai Tiga Nyonya milik Paul B. Nio kini punya dua kedai, yaitu di TIS Square (Tebet) dan di JI. KH Wahid Hasyim, Jakarta.

Paul yang mantan eksekutif Grup Summarecon, mengutarakan bahwa restonya menggunakan resep keluarga dilengkapi suasana makan layaknya rumah tempo doeloe. Di dua kedainya itu tiap hari 100-150 pelanggan yang datang, dan sering kali pelanggan
harus antre karena penuh dan rata-rata per pelanggan membelanjakan Rp 100 ribu setiap kali mampir.
Dalam pengamatan pakar waralaba Amir Karamoy, di bisnis makanan, jenis masakan etnis Indonesia memang punya potensi 1uar biasa untuk dikembangkan dengan pola waralaba. Alasannya, makanan etnis relatif lebih sehat (dengan sayur dan buahnya), yang sejalan dengan gaya hidup sehat yang makin ngetren.

Nama-nama yang layak diwaralabakan disebut pula oleh Petrus Gandamana, pemerhati bisnis waralaba yang juga Manajer Grup produk PT ISM Bogasari Flour Mills. Antara lain: Bakmi Apollo di Bogor; Bakso Malang Karapitan; Hot Cwie Mie Malang; Martabak Fatmawati; Martabak Air Mancur; serta Molen Kartika Sari dan Brownies Prima Rasa di Bandung. Mereka semua memiliki komitmen kuat untuk pengembangan usaha, tapi belum mampu keluar, ungkap Petrus.

Ezer Hizkia dari Han's Consulting mengakui bisnis franchise yang sedang naik daun dan masih berpotensi terus berkembang kebanyakan bisnis makanan.
Apalagi yang cuma membutuhkan modal kecil, risiko kecil, dan cepat balik modal, cetusnya. Tak heran, pihaknya pun kini tertarik mengembangkan sektor ini bekerja sarna dengan Carrefour, menggunakan bendera Andrew Creps. Bisnis penganan ringan berbahan terigu ini sejak Oktober tahun lalu sudah berkembang hingga di 10 lokasi.


Ezer mengklaim, salah satu franchisee-nya yang membuka gerai di plaza Mayangsari, Tasikmalaya, pada Oesember 2006, dalam bulan pertama saja bisa langsung menikmati omset Rp 45 juta. Padahal investasinya (di luar sewa tempatdan lokasi) cuma Rp 29 juta untuk tiga tahun.
Kami berharap tahun ini bisa berkembang hingga 20 gerai, cetus Ezer.

Selain resto sukses di tingkat lokal daerah, sebenarnya ada juga resto terkemuka yang belum diwaralabakan. Padahal, kinerja dan potensinya tak usah diragukan. Sebut saja Hoka-Hoka Bento. Jaringan resto asli Indonesia ini sudah punya 76 gerai tersebar di Jakarta, Bandung dan Surabaya, tetapi semuanya dikembangkan oleh pemiliknya sendiri, tanpa pol a waralaba.

Manajemen kami sedang merumuskan formula yang paling tepat, tapi belum tahu apakah akan diwaralabakan atau tidak, ujar Francisca Lucky P., Manajer Pemasaran PT Eka Bogainti (perusahaan pemilik dan pengelola Hoka-Hoka Bento).
Diakui Lucky, sebenarnya banyak peminat yang ingin menjadi franchisee resto ini, tapi pihaknya memang belum memutuskan. Mereka mungkin tertarik karena merek kami sudah kuat, dan produk kami juga diminati masyarakat segala usia,h tambahnya. Langkah Hoka-Hoka Bento yang dimiliki duo pengusaha Hendra Arifin dan Sutanto Joso ini ke depan memang menarik untuk terus ditunggu.


Sumber : http://www.swa.co.id/
Read more...