Berinvestasi di Berbagai Macam Bisnis Franchise

Thursday, November 8, 2007

Awalnya karena ingin mengisi waktu luang, tapi tetap bisa mengurus anaknya, Wantini H. Tjahja banyak berinvestasi di berbagai macam bisnis franchise di bilangan Cibubur. Tak hanya itu, properti dan bisnis sektor riil lainnya juga jadi incarannya.

Hidup berkecukupan dengan mengandalkan penghasilan suami yang berlebih bukanlah watak Wantini H. Tjahja. Kendati sebagai ibu rumah tangga, jiwa entrepreneurship-nya terus menggelora. Pikirannya pun terus berputar bagaimana bisa mengembangbiakkan duit yang berlebih itu. Hanya saja, satu prinsip wanita kelahiran Cianjur 10 Mei 1964 ini: investasi jalan, tapi anak tetap bisa terurus dengan baik. “Intinya, saya ingin punya kegiatan, tapi juga nggak mau meninggalkan anak-anak saya,” Wantini menegaskan.

Ia mengakui, dirinya bisa seperti sekarang karena dukungan suaminya, termasuk ketika ia menemukan usaha yang pas setelah sekian lama mencarinya, yaitu terjun ke bisnis waralaba (franchise). Alasannya, bisnis franchise sistemnya sudah terbentuk dan berjalan, sehingga tak perlu dikontrol setiap hari. Maka, secara bertahap ia membeli waralaba yang ia anggap sudah bonafide. Tak tanggung-tanggung, saat ini ia memiliki 6 bisnis waralaba, dan sampai sekarang ia pun masih terus mencari waralaba-waralaba yang lainnya. Ke-6 waralaba yang sudah digenggamnya itu berlokasi di Cibubur.

Istri Handrian Tjahja – Direktur holding company Grup Mulia – ini sangatlah selektif dalam memilih waralaba. “Saya tidak akan masuk ke bisnis franchise yang saya tidak bisa menjiwai,” kata alumni Sekolah Tinggi Bahasa Asing ini sambil mencontohkan waralaba makanan. Artinya, setiap waralaba yang dipilih Wantini, biasanya karena ada latar belakangnya, baik karena pengalaman maupun latar belakang berbagai pendidikan yang ia ambil.

Ibu dua anak ini mencontohkan, sebelum mengambil franchise Laundrette (waralaba pertama yang dibelinya), ia adalah pelanggan setia yang sudah bertahun-tahun. “Jadi saya sudah tahu kualitas Laundrette,” ia bercerita. Hingga suatu waktu, karena saking seringnya mencucikan pakaian di laundry yang berlokasi di daerah Kuningan Jakarta ini, seorang pegawai Laundrette menawarkan bisnis waralaba pada Wantini. Dan, di tahun 2003, Wantini membeli hak waralaba Laundrette. “Saat itu franchise fee-nya masih murah, sekitar Rp 25 juta. Ini belum termasuk gedung,” kata wanita yang saat ini memiliki lima gerai Laundrette – semuanya berada di beberapa perumahan dan kawasan bisnis di Cibubur.

Lalu, waralaba kedua yang ia beli adalah Salon & Day Spa Martha Tilaar pada 2004. Menurutnya, franchise fee-nya Rp 300 juta belum termasuk gedung dan isinya yang harus sesuai dengan strandardisasi pihak pemberi hak waralabanya (franchisor). “Total investasinya di luar gedung Rp 1 miliar,” ujar ibu dari Ceacilia Divany Hanan (4,5 tahun) dan Valensia Sebastian Hanan (3,5 tahun) ini.

Kemudian Puri Ayu (waralaba yang khusus menjual produk kecantikan Martha Tilaar) ia ambil tahun 2006. Waralaba ini menyasar mereka yang tidak sempat ke Spa Martha Tilaar, tapi ingin membeli produknya. Investasinya sekitar Rp 750 juta termasuk sewa tempat di Cibubur Junction Rp 500 juta per lima tahun.

Di tahun yang sama, ia juga mengambil waralaba Coldwell Banker. Investasinya Rp 600 juta, belum termasuk tempat. Dan terakhir adalah waralaba International Language Program dan 3 to 6 yang baru berjalan pada Oktober tahun ini. Investasinya lebih dari Rp 1 miliar belum termasuk gedung. “Total investasi untuk seluruh franchise yang saya miliki di luar gedung di bawah Rp 15 miliar,” wanita yang berpenampilan modis ini membeberkan. Untuk gedung, semua tempat bisnisnya adalah milik sendiri, kecuali franchise Martha Tilaar, baik Spa maupun Puri Ayu, karena tak boleh dibeli.

Memang sebelum terjun menjadi pengusaha waralaba, Wantini lebih banyak menempatkan investasinya di properti. Saat ini, ia memiliki 12 ruko dan 6 rumah. Semuanya berada di wilayah Cibubur, terutama di Perumahan Kota Wisata Cibubur tempat ia tinggal. “Kalau punya uang lebih, sudah sejak dulu saya membeli properti, agar pada saat suami pensiun dan anak-anak sudah besar nanti ada sesuatu yang dimiliki,” kata Wantini mengungkap tujuan investasinya.

Semua rukonya itu ia pakai sendiri untuk mengembangkan bisnis franchise-nya. Sementara rumahnya ada yang disewakan, dan ada pula yang dipakai sebagai tempat penginapan para karyawannya. Ia mengenang, sebelum digunakan sendiri, ruko-rukonya itu sempat menganggur. Maklum, pada saat dirinya mulai tinggal di Kota Wisata pada 1999, penghuninya belum banyak dan pelbagai fasilitas penunjang hidup pun masih sedikit, belum sebanyak sekarang. “Ada ruko yang kosong sampai tiga tahun karena bingung mau diisi apa,” kata Wantini.

Mantan karyawan Humpus ini merasa beruntung berinvestasi di properti, karena rata-rata gain yang dinikmati seandainya dijual bisa mencapai 100% lebih. Seperti ruko yang ia beli tiga-empat tahun lalu rata-rata Rp 300 juta per unit, saat ini sudah berharga Rp 600 juta per unit. Demikian pula dengan rumah berukuran besar 650 x 500 meter yang saat dibeli sekitar Rp 900 juta, sekarang sudah berharga Rp 2,5 miliar. Jenis rumah yang ia beli pun beragam, dan rata-rata kalau dikontrakkan berkisar Rp 60-70 juta per tahun.

Sementara itu, keuntungan dari bisnis franchise-nya pun bervariasi. “Masing-masing franchise yang saya beli beragam pembagian keuntungannya,” kata Wantini. Seperti Laundrette dan Puri Ayu, pembagian keuntungannya 40% bagi pihaknya, dan 60% buat franchisor. Adapun sebagai franchisee Codwell Banker, ia harus menyerahkan 1,5% penjualan ke pihak franchisor. Dengan sistem pembagian yang berbeda itulah, ia mengaku agak sulit mengungkap berapa keuntungan yang ia kantongi setahun. Yang pasti, ”Semua bisnis saya tidak ada yang rugi dan bisa berjalan dengan baik,” ucapnya diplomatis.

Yang menggembirakan, karena kegigihannya memasarkan bisnis franchise-nya, salah satu pelanggannya adalah menantu Presiden SBY, Anisa Pohan, yang sering mendatangi salon dan spa milik Wantini. Tak hanya menantunya, SBY dan istrinya sering pula me-laundry pakaian di sana. “Dari Senin sampai Jumat, kami datang ke Istana untuk membawa baju beliau,” kata Wantini bangga. Bahkan, selain SBY, Sudi Silalahi (Menteri Sekretaris Kabinet) dan Hari Sabarno (mantan Menteri Dalam Negeri) juga jadi pelanggannya.

Masih ada lagi bisnis yang digeluti Wantini, yaitu warung Internet dan pom bensin. Dari dua bisnis ini yang paling menguntungkan adalah pom bensin. “Rata-rata omset Rp 250 juta per hari dan sudah berjalan tiga tahun,” paparnya sambil menyebutkan bahwa investasinya Rp 5 miliar. “Sebenarnya ini bisnis suami saya, tapi saya juga ikut mengelola,” ia menerangkan.

Selain sektor riil, Wantini juga memiliki sejumlah asuransi karena telah menjadi kebutuhannya, termasuk asuransi pendidikan untuk anaknya. Tak tanggung-tanggung, yang ia pilih asuransi dalam mata uang dolar karena berharap anaknya bisa sekolah di luar negeri. Selain asuransi pendidikan, ia juga memiliki asuransi jiwa hingga properti. Jenisnya pun beragam, ada yang berbentuk unit link dan asuransi murni untuk proteksi.

Hanya saja, Wantini mengaku kapok berinvestasi di pasar modal seperti saham. Sekitar 10 tahun silam ia pernah bermain saham karena ikut-ikutan. Padahal dirinya tak menguasai bidang ini. “Uang saya amblas semua. Jadi saya kapok,” pengendara sedan BMW Seri 5 ini menandaskan. Makanya, ketimbang berinvestasi saham, ia lebih memilih berinvestasi perhiasan seperti emas dan berlian. Di samping bisa dipakai juga sangat likuid untuk dicairkan atau diganti dengan model-model terbaru. Sayang, ia tak menyebutkan berapa nilai investasi perhiasannya itu.

Yang jelas, secara keseluruhan portofolio Wantini adalah 60% di properti; 30% di bisnis franchise dan sektor riil lainnya; sisanya di perhiasan, asuransi dan produk keuangan. Ke depan, ia akan lebih fokus pada franchise di bidang pendidikan.

Franchise yang Dibeli Wantini H. Tjahja
(1) Laundrette (laundry and dry cleaning).
(2) Salon & Day Spa Martha Tilaar.
(3) Puri Ayu (produk kecantikan Martha Tilaar).
(4) Coldwell Banker (agen properti).
(5) International Language Program (ILP, kursus bahasa Inggris).
(6) 3 to 6 (pusat pendidikan anak usia 3-6 tahun, satu grup dengan ILP).

Jaga, Jangan Sampai Uang Dapur Terganggu
Bagi para ibu rumah tangga yang ingin berinvestasi, maka yang perlu diperhatikan adalah memisahkan antara dana aktif dan tidak aktif. Artinya, harus dipisahkan mana dana yang berpengaruh terhadap cash flow rumah tangga, dan mana dana yang dialokasikan untuk investasi. Sehingga, aktivitas investasi yang dilakukan jangan sampai memakan uang rumah tangga.

Lalu, investasi apa pun yang dilakukan, pertimbangkan tujuannya. Apakah untuk pendidikan anak, untuk menghadapi pensiun, atau untuk tujuan-tujuan lainnya. “Intinya apa pun investasinya harus punya tujuan,” kata Ahmad Gozali. Misalnya, Wantini yang masuk ke properti untuk persiapan pensiun, perhiasan untuk dipakai plus investasi, dan bisnis franchise untuk menambah income tapi anak tetap terawat dengan baik. Kalau orangnya sangat mapan sehingga kebutuhan lain – seperti dana pendidikan anak atau pensiun – sudah tercukupi, orang seperti ini biasanya berinvestasi dengan tujuan sekadar membunuh waktu sambil membiakkan duit. Jadi, sebaiknya mereka punya visi yang lebih kuat. Tak hanya mengumpulkan uang.

Contoh visinya adalah untuk membuka lapangan pekerjaan, ingin memajukan daerahnya sendiri, mengembangkan produk tertentu, ataupun mengembangkan hobi. Nah dari visi itu, mana yang lebih cocok sehingga bisa disesuaikan dengan bisnis yang dipilihnya kemudian. “Jadi di sini tak hanya mengembangkan uang, tapi juga mencari kepuasan,” kata perencana keuangan Safir Senduk ini. Apalagi, Wantini terlihat selektif memilih bisnis franchise yang betul-betul ia paham dan memiliki latar belakang pengalaman pribadi, sehingga bisa menjiwai.

Nah, kalau sudah cukup banyak bisnisnya, sebaiknya ia membuat sebuah holding company dan memiliki orang-orang profesional yang dipercaya. Jadi tidak ia sendiri yang mengontrol perusahaan, tapi ada yang ikut membantu. “Apalagi seperti Ibu Wantini, di samping mengelola bisnis, tetap menginginkan anak-anaknya terawasi,” tuturnya.

Oleh : Dede Suryadi (SWA)

0 comments: