Bisnis dan Merek Lokal Franchiseable

Sunday, November 4, 2007

Di Bandung ada Restoran Ampera yang juga sangat laris dan punya basis pasar lokal yang kuat. Rumah makan Sari Sunda pun punya prestasi sepadan.

Masih di Bandung, ada toko kue Kartika Sari yang juga sukses dan terus bertahan sebagai pusat kue ternama di Kota Kembang, di samping itu ada pula Brownies Amanda.

Di Surabaya, nama Sate Ayam Lisidu tak kalah populer.
Sementara dari Jakarta, ada Restoran Sari Kuring; resto makanan Jepang Ita-Suki (di Pluit); Coto dan Konro Makassar (milik H. Daeng Tata di Tebet); dan yang patut disebut pula adalah Kedai Tiga Nyonya yang menjadi pilihan bagi penikmat masakan rumahan.
Kedai Tiga Nyonya milik Paul B. Nio kini punya dua kedai, yaitu di TIS Square (Tebet) dan di JI. KH Wahid Hasyim, Jakarta.

Paul yang mantan eksekutif Grup Summarecon, mengutarakan bahwa restonya menggunakan resep keluarga dilengkapi suasana makan layaknya rumah tempo doeloe. Di dua kedainya itu tiap hari 100-150 pelanggan yang datang, dan sering kali pelanggan
harus antre karena penuh dan rata-rata per pelanggan membelanjakan Rp 100 ribu setiap kali mampir.
Dalam pengamatan pakar waralaba Amir Karamoy, di bisnis makanan, jenis masakan etnis Indonesia memang punya potensi 1uar biasa untuk dikembangkan dengan pola waralaba. Alasannya, makanan etnis relatif lebih sehat (dengan sayur dan buahnya), yang sejalan dengan gaya hidup sehat yang makin ngetren.

Nama-nama yang layak diwaralabakan disebut pula oleh Petrus Gandamana, pemerhati bisnis waralaba yang juga Manajer Grup produk PT ISM Bogasari Flour Mills. Antara lain: Bakmi Apollo di Bogor; Bakso Malang Karapitan; Hot Cwie Mie Malang; Martabak Fatmawati; Martabak Air Mancur; serta Molen Kartika Sari dan Brownies Prima Rasa di Bandung. Mereka semua memiliki komitmen kuat untuk pengembangan usaha, tapi belum mampu keluar, ungkap Petrus.

Ezer Hizkia dari Han's Consulting mengakui bisnis franchise yang sedang naik daun dan masih berpotensi terus berkembang kebanyakan bisnis makanan.
Apalagi yang cuma membutuhkan modal kecil, risiko kecil, dan cepat balik modal, cetusnya. Tak heran, pihaknya pun kini tertarik mengembangkan sektor ini bekerja sarna dengan Carrefour, menggunakan bendera Andrew Creps. Bisnis penganan ringan berbahan terigu ini sejak Oktober tahun lalu sudah berkembang hingga di 10 lokasi.


Ezer mengklaim, salah satu franchisee-nya yang membuka gerai di plaza Mayangsari, Tasikmalaya, pada Oesember 2006, dalam bulan pertama saja bisa langsung menikmati omset Rp 45 juta. Padahal investasinya (di luar sewa tempatdan lokasi) cuma Rp 29 juta untuk tiga tahun.
Kami berharap tahun ini bisa berkembang hingga 20 gerai, cetus Ezer.

Selain resto sukses di tingkat lokal daerah, sebenarnya ada juga resto terkemuka yang belum diwaralabakan. Padahal, kinerja dan potensinya tak usah diragukan. Sebut saja Hoka-Hoka Bento. Jaringan resto asli Indonesia ini sudah punya 76 gerai tersebar di Jakarta, Bandung dan Surabaya, tetapi semuanya dikembangkan oleh pemiliknya sendiri, tanpa pol a waralaba.

Manajemen kami sedang merumuskan formula yang paling tepat, tapi belum tahu apakah akan diwaralabakan atau tidak, ujar Francisca Lucky P., Manajer Pemasaran PT Eka Bogainti (perusahaan pemilik dan pengelola Hoka-Hoka Bento).
Diakui Lucky, sebenarnya banyak peminat yang ingin menjadi franchisee resto ini, tapi pihaknya memang belum memutuskan. Mereka mungkin tertarik karena merek kami sudah kuat, dan produk kami juga diminati masyarakat segala usia,h tambahnya. Langkah Hoka-Hoka Bento yang dimiliki duo pengusaha Hendra Arifin dan Sutanto Joso ini ke depan memang menarik untuk terus ditunggu.


Sumber : http://www.swa.co.id/

1 comments:

Ken said...

Asia Martabak Jepang
Juara Martabak 2005
Kunjungi Web Kami Di
www.martabak.tk