Waralaba : Alternatif Usaha Dimasa Pensiun

Wednesday, November 14, 2007

Bagi para manager, dewan direksi atau pimpinan di instansi pemerintah, memasuki masa pensiun merupakan periode kehidupan yang cukup kritikal, tidak jarang seorang yang demikian aktif dan produktif semasa bekerja, setelah memasuki masa pensiun kondisi fisik dan produktifitasnya menurun dengan cepat.

Saking sibuknya ketika bekerja sampai tidak memiliki persiapan ketika masa pensiun tiba. Ibarat mobil yang selama ini bekerja aktif tiba-tiba harus dimasukkan garasi, sehingga kondisi mesinnya memburuk karena jadi jarang dipanaskan dan dipakai.

Di dalam Franchise Brief yang diterbitkan oleh IFA (international Franchise Associations); dikisahkan tentang kegalauan Sally Haufman (62 tahun) yang baru saja pensiun setelah berkarir selama 40 tahun di bagian penjualan di IBM. Ketika ia pensiun di usia 61 tahun; Ia sudah lama berangan-angan untuk menjadi bos sendiri. Namun pertanyaannya Bos seperti apa? Berkaitan dengan keterbatasan dana dan usia; Ia pada waktu itu berpikir hanya ada dua pilihan yaitu menjadi broker real estate atau membeli hak waralaba.

Ia memilih opsi kedua, dan saat ini ia memiliki dua outlet fitness khusus wanita yang bernama "Slim & Tone" di daerah Pensylvania.

Menurut Franchise Info Mall Inc, saat ini di Amerika Serikat jumlah franchisee yang memulai usaha waralaba diatas usia 55 tahun terus mengalamai kenaikan. Lima tahun lalu jumlah franchisee di usia pensiun hampir 0%. Tahun ini jumlah kelompok usia pensiun yang membeli hak waralaba telah mencapai 8%. Hal ini diakui pula oleh PostNet salah satu perusahaan waralaba di Amerika, yang menyatakan bahwa dari tahun 2002 jumlah franchisee yang berusia di atas 50 tahun telah meningkat dari 20% menjadi 35% di tahun ini.

Mengapa bisnis waralaba cocok untuk para pensiunan berdompet tebal? Beberapa fakta dari usaha waralaba berikut merupakan jawabannya:

1. Bisnis waralaba merupakan format bisnis yang bekerja dengan sistem cloning.
Franchise tidak perlu memiliki pengalaman sebelumnya di bisnis yang akan digeluti. Franchisor (Pewaralaba) akan menyediakan berbagai panduan yang lengkap untuk menuntun franchisee (Terwaralaba). Ibaratnya franchisee cukup mengikuti instruksi dan mencontoh apa yang dilakukan oleh franchisor.

2. Masa pembelajaran usaha waralaba lebih singkat dengan sukses rate yang jauh lebih tinggi dibandingkan membuka usaha secara konvensional, dengan membangun merek sendiri. Sehingga bagi para pensiunan yang memiliki dana dan usia relatif terbatas, format waralaba sangat cocok dimasuki.

3. Terdapat berbagai pilihan usaha waralaba yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dana, latar belakang pengalaman dan hobi dari para pensiunan. Mulai dari berjualan jagung rebus sampai berjualan kavling di internet (internet service provider).

Jika memang demikian, sudah saatnya bisnis waralaba dijadikan alternatif investasi bagi para pensiunan pemilik modal di Indonesia. Uang pensiun tetap berkembang, alih-alih menambah pengangguran malah mampu memberikan lapangan kerja dan paling tidak memberikan warisan yang lebih bernilai berupa kail & pancing bagi anak cucu, bukan sekedar ikan yang gemuk.

Nah, selamat berwaralaba.

Sumber : SMfranchise (c)

0 comments: