Waralaba: Bisnis yang Terus Tumbuh

Tuesday, January 1, 2008

Oleh : Firdanianty/SWA

Kendati banyak yang berguguran, bisnis waralaba terus berkembang, baik yang ingin membeli maupun yang menawarkan kian bertambah. Namun, investor tetap dituntut hati-hati bila tak ingin uangnya menguap.

Di penghujung 2003, Immanuel Kusnadi iseng-iseng mengunjungi pameran franchise di Jakarta Convention Center. Dari sekian banyak tawaran untuk menjadi franchisee – pembeli hak franchise (waralaba) – di pameran itu, matanya tertuju pada satu stan yang cukup ramai didatangi pengunjung: MultiPlus Business Center. Dari pemaparan yang dijelaskan penjaga stan, ia melihat waralaba ini memiliki keunikan dan keunggulan yang tak dimiliki pemain lain.

“Uniknya, waktu itu belum ada konsep business centre yang mencuat,” ujar Kusnadi yang pernah bekerja di restoran siap saji Wendy's area Hong Kong dan Indonesia. Kebetulan pula, jumlah pemain di industri ini belum banyak. Kendati masih jarang, ia menilai, bisnis seperti ini makin dibutuhkan masyarakat. Karena alasan itulah, Kusnadi memutuskan membeli waralaba ini.

Namun, sebelum sampai pada keputusan membeli, ia memberanikan diri meminta referensi dari franchisor untuk melihat franchisee yang sudah berjalan. Ketika itu, jumlah gerai yang dikelola MultiPlus baru empat. Dan, satu gerai di antaranya baru berjalan beberapa bulan.

Meskipun jumlahnya belum banyak, langkahnya menjadi franchisee tidak surut. Kini, setelah berjalan selama hampir empat tahun, profesional di bidang teknologi informasi ini mengaku happy menekuni business office-nya. Ia berpendapat, selaku franchisor, MultiPlus memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan produk-produknya. Hingga sekarang, penghasilan Kusnadi dari gerai yang dikelolanya terus tumbuh, rata-rata 15%-20% per tahun.

Pengalaman Ricky Irawan lain lagi. Pemilik lima gerai Indomaret ini mengaku membeli waralaba ini lantaran tertarik mendengar kisah temannya yang sudah sukses lebih dulu. “Teman saya cerita betapa enaknya menjadi franchisee Indomaret. Semuanya sudah diatur secara profesional. Tidak perlu capek mengurusi tetek bengek operasional.

Kami memang diberi opsi bila ingin menyediakan karyawan sendiri. Namun, tentu saja kemampuan karyawan harus sesuai dengan kualifikasi standar Indomaret. Kami tidak mau repot-repot, serahkan saja pada Indomaret,” paparnya enteng.

Cerita sukses menjalani bisnis waralaba sudah sering kita dengar. Toh, tak sedikit pula di antara mereka yang terpaksa kecewa karena bisnis yang dikelolanya tidak semanis yang dijanjikan franchisor. Andrew Mulianto, misalnya, mengisahkan kawannya yang mempunyai gerai Bakmi Japos di salah satu kota di Jawa Barat. Sang teman tergiur membeli hak waralaba karena dinilainya menarik dan cukup prospektif. Ternyata, gerainya hanya mampu bertahan 6 bulan, setelah itu ditutup.

Berdasarkan pengamatannya, Andrew berpendapat, beberapa waralaba sekarang sudah memasuki tahap seleksi. Bahkan, “Banyak pemain yang pasarnya sudah terlalu sempit,” ujarnya menambahkan. Dulu, ia sempat tertarik mengelola Apotek K24, tetapi niat itu dia urungkan. “Investasinya cukup besar, sekitar Rp 600 juta. Tapi setelah dihitung-hitung biaya operasionalnya juga tinggi, sementara pendapatannya tidak besar,” tuturnya memberi alasan.

Setelah mencari-cari, tahun lalu Andrew memutuskan membeli hak waralaba TX Travel. “Saya tertarik membeli franchise ini karena pemiliknya (Anthonius Teddy – Red.). Dari beberapa pameran waralaba, konsep dan pemikiran pemilik TX Travel berbeda,” ujar mantan karyawan perusahaan farmasi ini. Selain itu, Andrew menilai, untuk bisnis travel, pasarnya masih menjanjikan. Terbukti, tiap bulan TX Travel meraup omset sekitar Rp 200 juta.

Berbicara maraknya bisnis franchise, sejatinya bukan cerita baru. Dari tahun ke tahun perkembangan bisnis ini di Tanah Air cukup pesat. Berdasarkan data The Bridge Franchise Consultant, SWA mendapat gambaran bahwa market size bisnis waralaba selama tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang signifikan. Dilihat dari total franchise yang ditawarkan di Indonesia, terjadi lonjakan yang tinggi pada 2004-2005.

Di tahun 2004, jumlah yang ditawarkan ke pasar: 284 waralaba. Setahun kemudian berkembang menjadi 403 waralaba. Berarti, ada 119 franchise baru yang muncul dalam satu tahun. Hingga akhir 2007, jumlah itu diperkirakan tumbuh menjadi 600, dan tahun depan diduga mencapai 700 franchise.

Sayangnya, tak semua mampu bertahan hidup dalam kurun waktu lama. Dari tahun ke tahun, jumlah waralaba yang ditutup juga semakin banyak. Tahun 2004 yang ditutup hanya 6% dari jumlah yang ditawarkan; dua tahun berikutnya (2006) meningkat menjadi 14%; dan di 2007 diperkirakan mencapai 21%.

Di antara 10 kategori yang diwaralabakan, bisnis restoran dan kafe paling banyak ditawarkan ke pasar. Market size-nya juga paling besar, rata-rata tumbuh lebih dari 20% per tahun. Di bawahnya bisnis kios, yang tahun lalu tumbuh 19%. Lembaga pendidikan yang diwaralabakan juga semakin banyak. Tahun lalu, jumlahnya meningkat 16%, atau 2% lebih tinggi dibanding 2005 yang tumbuh 14%.

Beberapa orang yang diwawancarai SWA mengakui pesatnya pertumbuhan bisnis franchise. Konsultan AK & Partners, Amir Karamoy umpamanya, mengungkapkan, sejak tiga tahun terakhir pertumbuhan pasar franchise memang luar biasa. Untuk waralaba lokal ia memperkirakan pasarnya tumbuh berkisar 8%-9% per tahun.

Adapun waralaba asing meningkat 12% -13% per tahun. ”Persentase ini diukur dari pertumbuhan gerai franchise atau franchisor-nya,” Amir menjelaskan. Di samping itu, dari segi merek yang diwaralabakan mengalami pertumbuhan pula.

Di tempat lain, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menyoroti perkembangan bisnis ini dari jumlah omset yang terus menggelembung. Memang, tidak ada angka pastinya. Namun, AFI memperkirakan, omset bisnis waralaba di Indonesia melonjak cepat sejak 2001-2006.

Tahun 2001 omsetnya sekitar US$ 3 miliar (setara Rp 27 triliun); sedangkan di 2006 naik dua kali lipat menjadi US$ 6 miliar (setara 54 triliun). Menurutnya, omset itu berasal dari gabungan pemain asing dan lokal, termasuk kesempatan bisnis (business opportunity) yang belakangan makin banyak jumlahnya. Menggiurkan memang. Akan tetapi, itu belum seberapa dibandingkan dengan omset bisnis serupa di negara-negara lain.

Masih merujuk data AFI, pada 2003 omset bisnis sejenis di Taiwan mencapai US$ 13 miliar. Bahkan di Belanda – yang luasnya hanya sepertiga Pulau Jawa – omset bisnis ini pada 2003 mencapai US$ 16 miliar. Sementara itu, dilihat dari jumlah waralaba yang beroperasi di Indonesia, dapat dikatakan perkembangan pesat terjadi sebelum krisis melanda negeri ini.

Pada 1992, waralaba asing yang beroperasi di Indonesia berjumlah 29, sedangkan lokal baru 6. Tiga tahun kemudian, asing melonjak menjadi 117, terpaut jauh dari lokal yang hanya 15. Hingga 2005, jumlah franchise asing masih lebih banyak dibanding lokal, atau 237 dibanding 129. Namun, memasuki 2006 makin banyak pebisnis lokal yang mewaralabakan usahanya, sehingga jumlah waralaba lokal berhasil melampaui asing.

Dari total 450 waralaba yang beroperasi di Indonesia, AFI memprediksi, jumlah gerai yang dimiliki mencapai lebih dari 10 ribu. Keberhasilan ini tentu saja berdampak positif terhadap terbukanya lapangan kerja baru. Bila diasumsikan satu gerai dapat menampung lima orang tenaga kerja, maka diperkirakan saat ini ada sekitar 50 ribu tenaga kerja yang berkontribusi langsung terhadap perkembangan bisnis ini.

Toh, Amir melihat, yang pertumbuhan gerainya terlalu cepat biasanya tidak bertahan lama. Ia mencontohkan salah satu waralaba burger – sayang ia tak berkenan menyebutkan mereknya – yang tiap bulan bisa membidik 20-30 franchisee. “Menurut saya mereka ini bukan menjalankan pola franchise,” katanya berkomentar. Sebab, lanjutnya, tidak mudah menjalankan bisnis ini bila dilakukan secara benar.

Umumnya, bisnis-bisnis yang tumbuh cepat hanya menjual merek dengan syarat membeli produk dari pemiliknya – dalam istilah Anang disebut business opportunity. Dengan pola demikian, Amir menilai, tidak ada baik pembinaan maupun bantuan dalam bentuk pelatihan yang diberikan pemilik kepada pembeli merek. ”Pembeli merek langsung dilepas,” tandas Amir.

Dengan cara demikian, indikator kegagalannya jelas tinggi. Buktinya, Amir merekrut 30 member, 20 di antaranya tidak bisa bertahan hidup. “Menurut catatan saya, yang gugur, 60%-nya adalah franchise lokal, sedangkan asing relatif bagus,” katanya sambil menambahkan bahwa asing yang gugur tidak banyak, berkisar 2%-5% saja.

Ia menilai, waralaba asing mempunyai persiapan yang lebih matang untuk berkembang. ”Itu sebabnya, susah mendapatkan franchise asing,” ujarnya. Anang mengatakan, sukses-tidaknya bisnis ini bisa dilihat dari pertumbuhan angka penjualan, pangsa pasar dan neraca rugi-laba selama tiga tahun terakhir. Bila bisa memperlihatkan keuntungan selama tiga tahun terakhir, bisa dikatakan sukses.

Ukuran lainnya, dapat dilihat dari jumlah gerai yang dimiliki. Bila jumlah gerai masih di bawah 100, ia beranggapan, yang bersangkutan belum layak dikatakan sukses. Bagaimana dengan pertumbuhan gerai Indomaret dan Alfamart yang sudah mencapai ribuan? Menanggapi pertanyaan ini, Anang menilai, kedua minimarket ini belum bisa dianggap sukses 100%, sebab manajemen stok masih di bawah kendali franchisor. ”Pengelolaan penyediaan barang masih dipegang franchisor,” tukasnya.

Selama ini kedua minimarket itu lebih banyak bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki uang, tapi tidak terjun langsung mengelola usahanya. Terlepas dari penilaian tersebut, harus diakui, di antara beragam jenis waralaba yang ditawarkan di pasar, kedua minimarket itu termasuk yang paling diminati investor. Tak heran, perkembangannya demikian pesat hingga mampu membiakkan ribuan gerai di seluruh Indonesia.

Seperti diungkapkan Direktur Pengembangan Bisnis PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT) Joseph Hendra, hingga Desember 2006 jumlah gerai milik Alfamart mencapai 1.750. Tahun ini, pengembangan gerai ditargetkan hingga 1.900. “Kami berharap, 500 gerai di antaranya adalah milik mitra kami,” ujar Joseph.

Saat ini, lanjutnya, bentuk kerja sama yang ditawarkan ada dua kategori. Pertama, membidik orang-orang berduit. Kedua, membantu instansi dan masyarakat kecil yang ingin bermitra, disebut operator mandiri. Konsep ini mulai disosialisasi tahun 2003. Selama dua tahun terakhir, ia mengakui, jumlah peminat operator mandiri semakin banyak. Tahun ini, ia berharap jumlah mitra yang berasal dari operator mandiri mencapai 500 gerai.

Diakui Joseph, konsep operator mandiri berbeda dari waralaba. Bedanya? Konsep waralaba ditujukan bagi masyarakat yang ingin berbisnis dan memiliki kemampuan finansial, termasuk menyediakan toko. Untuk menjadi pewaralaba di Alfamart, investor perlu menyiapkan investasi sebesar Rp 250-350 juta, belum termasuk investasi toko. Selain itu, pemilik modal diwajibkan membayar fee waralaba senilai Rp 75 juta untuk periode lima tahun. Sementara itu, operator mandiri ditujukan bagi masyarakat yang ingin berwirausaha.

Bagi yang tidak memiliki modal, investasi awal akan dibantu oleh Alfamart yang bekerja sama dengan lembaga keuangan bank dan nonbank. Jadi, mitra hanya menyiapkan tempat. Selanjutnya, Alfamart memberikan investasi awal senilai Rp 180-200 juta untuk membuat perlengkapan dan peralatan toko, seperti rak dan AC, serta memasok barang dagangan.
Pengembalian investasi maksimum dilakukan empat tahun, atau memotong keuntungan bersih yang diperoleh sesuai dengan kesepakatan awal.

Joseph membenarkan, persaingan di waralaba ritel seperti Alfamart semakin ketat dan selektif. Bahkan, menurutnya, ada yang nekat melakukan strategi banting harga. “Franchise fee yang semula ditawarkan Rp 75 juta, kini hanya Rp 36 juta dengan other income dipatok Rp 2 juta per bulan. Artinya, dalam waktu lima tahun (60 bulan), perolehan other income sebesar Rp 120 juta,” paparnya.

Di lain pihak, Alfamart yang mencetak rekor MURI sebagai minimarket pertama di Indonesia yang memperoleh ISO 9001 ini mematok fee royalti sekitar Rp 45 juta dengan other income Rp 6 juta per bulan (6 x 60 bulan = Rp 360 juta). “Kadang-kadang franchisee terkecoh.

Di awalnya terlihat pesaing lebih murah Rp 9 juta. Namun di dalamnya ada other income senilai Rp 6 juta,” ungkap Joseph yang telah 33 tahun berkarier di dunia ritel.Hubungan yang baik antara franchisor dan franchisee, diakui Deputi Direktur Pengembangan Waralaba SAT Maria Harjono, merupakan kunci keberhasilan waralaba.

Ia menuturkan, sejauh ini kemitraan yang dijalankan SAT dengan para franchisee berlangsung transparan. ”Di awal kerja sama kami memaparkan sejumlah risiko yang muncul dalam mengelola bisnis ini. Persaingan yang ketat karena harus berbagi kue dengan pemain lain, mengharuskan mitra Alfamart lebih kreatif untuk memenangi persaingan,” Maria menjabarkan. Di samping itu, Kami mengupayakan memilih calon yang mau terjun langsung mengelola tokonya agar lebih mudah mengontrolnya,” ia menambahkan.

Berkaitan dengan konsep operator mandiri, Joseph memberi contoh kerja sama yang dilakukannya dengan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Darunnajah. Dijelaskannya, pesantren yang berlokasi di daerah Ulujami, Jakarta Selatan ini sudah memiliki dua gerai minimarket Alfamart yang kerja samanya dimulai tahun 2001.

Minimarket ini dikelola dengan sistem kekeluargaan, di mana para pengelolanya adalah para santri sendiri. ”Mereka membuat usahanya terus berkembang. Selama ini keuntungannya dibagi kepada setiap karyawan, persis seperti manajemen koperasi,” tambah Maria yang ditimpali Joseph, hasil survei AC Nielsen tahun lalu menyebutkan Alfamart lebih ramah dalam melayani pengunjung.

Sisi lain yang menarik diikuti dari industri ini adalah munculnya bisnis-bisnis baru yang diwaralabakan pemiliknya. Perhatikan saja, siapa menyangka bisnis penukaran valuta asing (valas atau money changer) bisa diwaralabakan? Agus Widodo, pemilik PT Tren Valasindo berani membuktikan. Bisnis yang didirikan Agus tahun 2002 ini ditawarkan dengan sistem waralaba sejak 2006. ”Saat ini baru dua gerai yang di-franchise-kan, menyusul satu gerai akan diresmikan bulan April ini,” ungkapnya.

Kendati membangun bisnis ini tidak semudah bisnis-bisnis lain, Agus optimistis tahun ini bisa menambah 10 gerai lagi. “Dalam satu bulan ke depan sudah ada 3-4 investor yang siap membuka gerai,” katanya sumringah. Diakui Agus, franchise yang satu ini terbilang baru di Indonesia. Namun, ia melihat pasar ceruk (niche market)-nya masih terbuka lebar. Tingkat kompetisinya pun tidak seketat bisnis resto dan kafe. Hingga sekarang, baru Tren Valasindo saja yang berani mewaralabakan bisnisnya.

Pemain money changer lain, sepertinya belum ngeh bahwa bisnis ini pun bisa diwaralabakan. Karena itu, sementara waktu Agus merasa belum punya pesaing. ”Bisnis ini masih prospektif untuk dipilih,” kata mantan karyawan Bank Bali ini berpromosi. Perjalanan staf pengajar di Entrepreneur University ini awalnya sempat mengalami kendala.

Menurut Agus, ia mulai menawarkan sistem franchise tahun 2004. Namun, gerai pertama yang dibangun berdasarkan sistem ini baru terealisasi dua tahun kemudian. Maklum, Agus menyebutkan, modal awal membangun bisnis ini lumayan besar, sekitar Rp 1 miliar. Lagi pula, masyarakat beranggapan, mendirikan money changer harus memiliki ilmu di bidang valas.

Karena itu, pasar yang dibidik sangat spesifik, yaitu para pensiunan yang sebelumnya bekerja di lembaga keuangan dan memahami tentang pengelolaan money changer. Alhasil, meski jumlah gerai yang dimilikinya sedikit, dari sisi keuntungan ia boleh berbangga.

Asal tahu saja, gerai pertamanya mampu mencetak pendapatan Rp 24 miliar sebulan. Wow! ”Tak sedikit perusahaan asing yang menjadi nasabah kami,” ujarnya mengklaim.
Yang pasti, ia tak segan membantu para franchisee-nya, seperti memberikan sejumlah database pelanggan.

Yang tak kalah menarik, di antara pemegang master franchise dari luar negeri, banyak yang akhirnya ketagihan mengambil waralaba lain setelah sukses menjalankan bisnis pertama. Novita Tandry, misalnya. Pemegang master franchise Tumble Tots Indonesia – lembaga pendidikan anak asal Inggris – ini, beberapa waktu lalu mengambil waralaba dari Jepang. Hanya saja, bisnis yang dipilihnya kali ini berbeda dari sebelumnya, yaitu salon bernama Quick Cut.

Bisnis ini diliriknya lantaran memiliki keunikan. ”Semua peralatan yang digunakan di Quick Cut sebelumnya disterilkan dulu,” ungkapnya membeberkan. Menurut wanita kelahiran 1971 ini, cara itu bertujuan menghindari tertularnya penyakit kulit.

Keunikan lainnya, ia menambahkan, sesuai dengan nama yang disandangnya, Quick Cut memiliki kecepatan dan ketepatan dalam memotong rambut. Bila ingin sukses mengelola bisnis franchise, Novita berpesan, pemodal harus melakukannya sendiri. Latar belakang pendidikan psikologi yang dimilikinya, diakui Novita, sangat membantu dalam mengembangkan Tumble Tots.

Sejak diwaralabakan di Indonesia pada 1995, lembaga pendidikan yang menyasar anak-anak usia 6 bulan hingga 7 tahun ini sudah memiliki puluhan cabang. Di sisi lain, para franchisor harus pula berpikir makro. Misalnya, bisnis yang diwaralabakan jenisnya restoran. Maka, si pendiri restoran tidak boleh berpikir asal jual saja.

Amir menjelaskan, konflik yang muncul antara franchisor dengan franchisee biasanya dipicu ketidaksesuaian dalam perjanjian. Misalnya, franchisor tidak bisa memenuhi janji yang disepakati dalam perjanjian awal. Akibatnya, franchisee merasa kurang diperhatikan.

Selain itu, masih menurut Amir, banyak franchisor yang tidak siap menjalani sistem waralaba. Umpamanya, bila suatu saat franchise menambah gerai, berarti jumlah SDM-nya pun perlu ditambah. Penambahan SDM dengan sendirinya meningkatkan biaya. Nah, ketika pelaku usaha memandang biaya sebagai bagian yang mengurangi profit, dia tentu memilih tidak menambah karyawan.

Sebagai ilustrasi, ketika memiliki lima gerai, Anda mungkin cukup mempekerjakan lima karyawan. Akan tetapi, bila jumlah gerai meningkat, misalnya menjadi 20, sudah pasti tenaga kerjanya perlu ditambah. Seandainya ngotot dengan lima karyawan saja, “Ya, pasti nggak jalan dong,” katanya sambil menambahkan, masalah ini sering terjadi di beberapa franchise. Karena itu, Amir menegaskan, dalam membangun bisnis waralaba, yang perlu disiapkan bukan hanya soal kapital. ”Kapital yang besar bukanlah prioritas,” tandasnya.

Untuk bisa sukses di bisnis ini, harus ada budaya korporat dan penerapan manajemen modern. Sejauh ini ia melihat Indomaret dan Alfamart mempunyai sistem yang baik. Sayangnya, kebanyakan franchise masih dikelola keluarga sehingga terkesan tidak transparan. ”Agak sulit menjalankan bisnis dengan manajemen keluarga,” tukasnya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi: mengelola bisnis franchise tidak boleh single fighter. Amir memperhatikan, tak sedikit franchisor yang memegang posisi presdir sekaligus direktur keuangan, direktur pemasaran dan direktur SDM. Dengan model manajemen yang seperti itu, franchisor tinggal menunggu waktu mati saja.

Perubahan yang dilakukan Es Teler 77 mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi franchisor lain yang baru memulai. Terhitung sejak 1994, waralaba ini melakukan rejuvinasi. Gagasan ini, dijelaskan pemiliknya, Sukyatno, didasari pemikiran bahwa ia tidak ingin usahanya mematikan pedagang-pedagang kecil. Karena itu, gerai Es Teler 77 yang berlokasi di pinggir jalan dipindahkan ke mal-mal. Adapun tujuannya, menyejajarkan produk ini dengan franchise asing.

”Saya berasumsi, yang datang ke plaza punya kelas sendiri sehingga Es Teler 77 terhindar dari persaingan dengan pedagang kaki lima,” tutur pelopor bisnis franchise di Tanah Air ini, yang mengaku bangga bila melihat mitranya sukses. Hingga sekarang, gerai yang masih beroperasi mencapai 280, berkurang dari sebelumnya yang berjumlah 300. Penyusutan ini selain disebabkan terbakarnya 13 gerai akibat kerusuhan Mei 1998, juga ada beberapa gerai yang disatukan lalu pindah ke mal.

Perubahan juga dilakukan Sukyatno, sebab ia merasa Es Teler 77 perlu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi bisnis sekarang. ”Kalau masuk ke gerai kami, ada gambar-gambar khas anak muda,” ungkapnya. Memang benar, Sukyatno meredesain gerai-gerainya dan menggeser segmen yang dibidiknya. “Kini bergeser ke anak-anak muda usia 15-20 tahun,” ia berujar.

Di segmen itu, menurutnya, mereka memiliki rentang waktu cukup lama untuk menikmati sajian yang dihidangkan. ”Kalau sudah bekerja dan mulai berduit, mereka tidak lagi tertarik makan Es Teler,” ia menjelaskan Bagaimanapun, aspek manajerial dan kesinambungan bisnis memang harus terus diperhatikan. Sejauh ini, harus diakui, bisnis waralaba cenderung sebagai transaksi jual-beli saja. Pandangan ini barangkali tidak sepenuhnya benar. Namun, dari beberapa konflik yang mengemuka antara franchisor dan franchisee, dapat ditarik pelajaran bahwa bisnis ini sejatinya bukan sekadar menaruh uang lalu terima beres.

Majalah ini tak henti-hentinya mengingatkan bahwa para pemilik dana perlu menyadari, tujuan mereka membeli franchise adalah belajar berwirausaha. Percayalah, di balik kisah sukses seorang entrepreneur, selalu ada kegigihan, keuletan, dan kesabaran untuk menjalaninya. Di luar pertumbuhan yang ada, bisnis ini memang akan dan terus berkonsolidasi dengan hukum yang jelas. Siapa lengah, ia tergilas.

Reportase: J. Ray Agung Pangestu dan Siti Ruslina.
Riset: Leni Siskawati.

0 comments: