Waralaba: Dan.. Modal pun Balik Lebih Cepat

Thursday, April 26, 2007

Oleh : Eva Martha Rahayu

Sejumlah franchisee berhasil mencapai waktu pengembalian modal lebih cepat dari yang ditargetkan franchisor. Apa rahasia suksesnya?

Tidak keliru Budi Rachmat lebih suka membeli hak waralaba dari hasil takeover. Berdasarkan pengamatannya, apabila mengambil alih usaha waralaba minimarket Alfamart yang sudah jalan, bisa diprediksi prospeknya. Dengan strategi itu, tidak mustahil ia mampu mencapai waktu pengembalian modal (pay back period) setahun lebih cepat dari yang ditargetkan franchisor, yakni selama 3,5 tahun.

Budi bercerita, pada mulanya prinsipal Alfamart menyodorkan beberapa alternatif lokasi. Namun, ia lebih tertarik di daerah Bendungan Jago, Kemayoran, yang dianggapnya lebih potensial karena letaknya di pinggir jalan besar. Benar saja. Begitu gerai Alfmart itu diambil alih olehnya tahun 2003, omset yang dibukukan cukup memuaskan: Rp 15-18 juta/hari atau Rp 300-450 juta/bulan.

Dari omset sebesar itu, ia mengaku meraup keuntungan bersih Rp 5-5,5 juta/bulan. Adapun nilai investasi satu gerai Alfamart yang sudah diinjeksikan Budi tercatat Rp 450 juta. Rinciannya: Rp 50 juta fee waralaba untuk masa kontrak lima tahun; Rp 200 juta set up toko; dan Rp 200 juta untuk sewa tempat.

Sukses dengan waralaba yang pertama, Budi tergoda untuk membuka gerai Alfamart yang kedua dan lebih gede pada 2005 dengan investasi Rp 750 juta. Lokasinya di Kedung Halang, sekitar Jl. Raya Bogor-Jakarta. “Di gerai kedua ini omzetnya lebih bagus lagi, bisa Rp 13 juta per hari, karena lokasinya di tepi jalan besar,” papar mantan karyawan Unilever yang kini memutuskan totalitas mengelola langsung usaha waralaba minimarket-nya. Itulah sebabnya ia yakin periode pengembalian modal di gerai kedua ini akan dicapai dalam tempo lebih cepat lagi dari (yang pertama) 2,5 tahun.

Pembeli hak waralaba dengan investasi di bawah Rp 100 juta pun tak mau ketinggalan menikmati gurihnya bisnis ini. Sebut saja pengalaman Muhammad Parikesit yang lebih akrab disapa Ari. Meski statusnya masih mahasiswa di Universitas Brawijaya Malang, ia sudah menjadi master franchise kebab Baba Rafi di Malang. “Saya punya tiga gerai Baba Rafi di Malang,” ujar pria berumur 25 tahun ini.

Hebatnya, dengan lokasi strategis gerai perdana di kompleks rumahnya di Telogo Mas, Malang, ia mampu mencapai pay back period dalam waktu empat bulan (November 2005 hingga Februari 2006). Padahal, franchisor menargetkan investasi kembali di bulan ke-11 atau ke-12. Omset per hari yang dicapai waktu itu rata-rata Rp 600 ribu. Sayangnya, kini di gerai pertama milik Ari mengalami penurunan omset menjadi Rp 300-400 ribu per hari. Penyebabnya, “Sudah mulai banyak bertebaran cabang kebab Baba Rafi di Kota Malang, sehingga persaingan semakin ketat,” Ari mengeluhkan.

Ari menjelaskan, modal yang ditanamkan untuk membeli bisnis waralaba Baba Rafi ke pemiliknya di Surabaya senilai Rp 25 juta. Dari investasi itu, ia mendapat satu gerobak full set, lokasi, peralatan masak, sistem manajemen dan tenaga kerja siap pakai yang sudah terlatih. Fee royalti sebesar 5% dari omset tiap bulan. Untuk omset, kalau dipukul rata Rp 300-350 ribu per hari. Dari omset sebesar itu dikurangi pengeluaran untuk bahan baku 46%; komisi pegawai 6%; sewa tempat dan operasional 10%; fee royalti 5%; penyusutan barang 3%; maka laba yang dikantongi mencapai 30% dari omset.

Tak puas cuma punya satu gerai kebab Baba Rafi, pada April 2006 Ari membuka gerai kedua di Jl. Borobudur, Malang, dan yang ketiga di kawasan Batu, Malang. Berbeda dari yang pertama, untuk gerai kedua ini pengembalian total modalnya diakui agak lama, yakni 8 bulan atau tercapai pada Desember 2006. “Meski begitu, kalau mengacu pada proyeksi franchisor termasuk cepat. Sebab prediksi mereka untuk pay back period gerai kedua ini dijanjikan pada bulan ke-13,” kata Ari seraya menyebutkan rata-rata omsetnya sehari Rp 450 ribu.

Nasib Bambang Winarko, 43 tahun, juga seberuntung Ari. Meski hanya investor waralaba kecil, ia cukup sukses mengelolanya. Oktober 2006, ia membeli waralaba pisang goreng Ta B'nana dengan investasi Rp 17 juta. “Selain harganya terjangkau, saya sendiri juga suka produk Ta B'nana,” lelaki yang lebih suka dipanggil Bawi itu menuturkan alasan ketertarikannya pada waralaba ini. Modal Rp 17 juta digunakan untuk membayar fee waralaba dua tahun Rp 10 juta; peralatan Rp 3,5 juta; deposit bahan baku Rp 2,5 juta; dan pelatihan tiga karyawan Rp 1 juta.

Berapa omsetnya? “Bervariasi, kalau sepi Rp 400 ribu/hari dan kalau ramai Rp 1 juta/hari,” papar Bawi yang menyatukan operasional gerai Ta B'nana dengan bisnis rumah makannya. Dengan omset sebesar itu, ia mengaku mencapai BEP dalam dua bulan. Artinya, lebih cepat dari waktu yang ditargetkan pewaralaba, dua-tiga bulan.

Di luar Budi Rachmat, Bawi dan Ari, masih ada sejumlah nama investor waralaba sukses yang patut diteladani. Umpamanya Imanuel Kusnadi, franchisee Multiplus di Kelapa Gading yang mampu BEP dalam tempo 8 bulan atau lebih cepat dari target pewaralaba 2-3 tahun. Lalu, Saut Sem Sinambela yang punya bisnis waralaba X4print di Rawamangun. Ia mampu meraih BEP dalam waktu 24 bulan, padahal target prinsipalnya 30 bulan.

Investor waralaba Smart Print tak mau ketinggalan. Semisal Devy Christianto mengelola cabang Smart Print di Jl. Yos Sudarso, Malang, mampu BEP di bulan kelima dari yang ditargetkan 12 bulan. Sementara itu, Simon Seputra menjalankan waralaba Smart Print di Bali berhasil BEP 6 bulan.

Bagaimana mereka bisa mencetak BEP atau pay back period lebih cepat dari target? “Tergantung tujuan kami sebenarnya. Jika kami ingin mengembangkan area bisnis, ya beli saja hak waralaba utama di daerah tertentu, sehingga orang lain yang akan buka di sana harus seizin kami.

Namun, kalau cuma punya satu tempat, kami lebih suka takeover yang track record-nya bagus. Dengan begitu, target cash flow lancar, tahun depan sudah dapat untung,” papar Budi buka kartu suksesnya. Hal terpenting kedua adalah lokasi. “Bangunlah gerai di daerah padat. Jangan cuma hitungan di atas kertas. Kami harus keliling daerah itu, amati tiap hari kalau perlu,” Budi menyarankan.

Pentingnya lokasi kian dipertegas Bawi. Ia sengaja memilih lokasi di pinggir jalan besar menuju kompleks permukiman Pekayon, Bekasi. Ramainya lalu lintas di sana cukup potensial menjaring pembeli pisang gorengnya yang harga sebuahnya Rp 2 ribu. Juga, soal kontinuitas stok produk mesti diperhatikan. “Jangan sampai kehabisan stok bahan, walaupun cuma sekali. Sebab pelanggan bisa pindah ke pisang crispy lain yang banyak tersebar di sekitar daerah ini,” ia mengungkapkan.

Nah, sebelum terjun ke pengelolaan waralabanya, disarankan agar calon investor, mempelajari betul sang franchisor. Alangkah lebih baik bila memilih yang sesuai dengan minat atau hobi Anda. Kemudian usahakan pilih yang fee waralabanya realistis. Selanjutnya, investigasi lokasi yang strategis.

Strategi yang dilancarkan Ari tak jauh berbeda. “Pertama, jangan terlalu keenakan dengan sistem yang sudah ada,” katanya mengingatkan. Maklum, biasanya dengan sistem franchise SOP sudah ada, sehingga investor enggan mencari tahu lagi keinginan pelanggan seperti apa. Maka, Ari selalu mewajibkan diri sendiri dan rekannya untuk paling tidak 2-3 hari sekali mengecek kondisi di masing-masing gerai. “Dengan begitu, kami tahu langsung masalahnya di mana. Pegawai pun jika tidak didatangi langsung, tidak akan berterus terang kendala yang dialami apa saja,” kata Ari.

Kiat kedua adalah ciptakan variasi atau kreasi baru yang lain dari standar yang sudah diberikan franchisor. Ari kerap memberi gimmick berupa hadiah kecil, seperti stiker bagi pelanggan loyal. “Kami melihat ini cukup efektif menarik konsumen. Dan baru kami saja investor yang melakukan model hadiah seperti ini,” Ari mengklaim dengan nada senang.

Setelah sukses mengelola dan mengembangkan waralaba masing-masing, sejumlah investor berniat untuk menambah gerai lagi, tapi sebagian tidak. Budi termasuk investor yang berminat ekspansi. Simak penuturannya. “Sistem pembagian keuntungan waralaba Alfamart kan tiap tiga bulan sekali. Sekarang saya sudah punya dua gerai. Kalau tambah satu lagi, saya bisa dapat keuntungan rutin tiap bulan kan,” ujar Budi.

Lain lagi dengan Bawi. Dengan pertimbangan ingin lebih fokus dulu mengembangkan Ta B'nana dan restonya, rencana buka gerai ditahan sementara. “Nanti sajalah, kalau kedua bisnis yang sudah ada stabil dulu,” ia menandaskan. Yang pasti, ia optimistis terhadap prospek Ta B'nana, lantaran banyak pelanggan yang melakukan repeat order baik pembelian langsung maupun delivery order, yang menyumbang 15% dari total omset.

Sumber: Swa
Reportase: Afiff Maulana Dewanda.
Riset: Leni Siskawati.

0 comments: