Hati-hati Memutar Uang di Bisnis Franchise

Sunday, December 30, 2007

Boom bisnis waralaba telah menyedot investasi Rp 5 triliun lebih dengan tingkat kesuksesan dan kegagalan yang berimbang. Mengapa pengelolaannya banyak yang gagal di tengah jalan? Apa yang harus dilakukan agar investasi tak melayang?

Investor Indonesia memang agresif.
Ketika produk perbankan seperti tabungan dan deposito tidak lagi memberi imbal yang menarik, mereka mengalirkan dana ke tempat lain yang dianggap lebih menguntungkan. Sejumlah produk investasi seperti reksa dana, saham dan obligasi menjadi sasaran.

Begitu juga wahana lain, seperti tanah, rumah, ruko dan apartemen. Bahkan, tak sedikit investor yang menubruk tawaran berisiko sangat tinggi hanya karena iming-iming menggiurkan. Padahal, cerita amblasnya dana nasabah di tangan pengelola yang berani obral janji seperti itu sudah berulang terdengar. Sepertinya, para investor tak pernah mau belajar dari pengalaman.

Bisnis franchise?
Inilah model bisnis yang dalam 10 tahun terakhir menyihir banyak pemilik modal, terutama mereka yang ingin terjun menjadi entrepreneur tanpa mau repot merintis dari nol. Waralaba sangat digandrungi para pensiunan, istri pejabat, artis, dan anak-anak muda yang bisa pinjam modal orang tua untuk memulai bisnis. Tingginya minat akan bisnis waralaba antara lain terlihat dari antusiasnya pengunjung dalam setiap kali pameran franchise, juga laris manisnya seminar dan buku-buku bertemakan franchise.

Meski belum ada pihak berkompeten yang menyajikan data nilai investasi, melalui perhitungan sederhana, yaitu dengan mengalikan jumlah gerai masing-masing franchise (lokal dan asing) dengan dana yang diperlukan untuk investasi masing-masing gerai, akan mudah diperoleh angka perkiraan. Berdasarkan perhitungan seperti itu, diperoleh angka fantastis sebesar Rp 5 triliun dana yang tersalurkan ke investasi franchise sampai 2006. Jumlah ini belum termasuk nilai investasi di bisnis lisensi dan keagenan yang tentunya tak kalah fantastis.

Dari angka Rp 5 triliun tadi, separuh lebih, yaitu Rp 3 triliun, tersalur ke investasi franchise lokal dan Rp 2 triliun ke franchise asing. Jika diamsusikan perbandingan kepemilikan gerai antara franchisor dan franchisee (investor) 70:30, diperkirakan dana franchisee yang terbenam di bisnis ini mencapai Rp 1,5 triliun.

Masalahnya, seperti halnya penanaman modal di bisnis lain, investasi di franchise pun tak kalis dari risiko. Memang cukup banyak investor franchise yang berhasil, yang 10 tahun lalu bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, kini menjadi miliuner yang menguasai sejumlah gerai waralaba. Sebaliknya, meski jarang terpublikasi, tidak sedikit pula investor yang gagal di tengah jalan.

Fenomena di sekitar kita memperlihatkan banyaknya gerai waralaba yang tutup, apakah itu di bidang resto, salon, kedai burger, toko buku, laundry, ritel, hingga lembaga pendidikan, dari yang berskala besar hingga kecil, dari yang mampu bertahan dalam beberapa tahun hingga yang beroperasi hanya dalam hitungan bulan. Namun seperti bunyi pepatah, bisnis franchise ini patah tumbuh hilang berganti, selalu menghadirkan franchisor dan franchisee baru.

Amir Karamoy, Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia yang juga pemilik Konsultan AK & Partners, mencatat rata-rata pertumbuhan bisnis franchise lokal mencapai 8%-9% per tahun, sedangkan franchise asing 12%-13%. Namun, perbedaan tingkat kegagalan keduanya sangat mencolok: menurut catatan Amir, berkisar 50%-60% untuk franchise lokal dan hanya 2%-3% untuk franchise asing.
Jika catatan Amir akurat, dari total investasi waralaba lokal yang mencapai Rp 3 triliun, separuh lebih melayang sia-sia. Mengapa franchise lokal banyak yang berguguran? Satu hal yang pasti, faktor kegagalan ini bisa datang dari pihak franchisor, franchisee, atau andil kedua belah pihak. Dari sisi franchisor, bisa karena bisnisnya belum “terbukti”, tapi sudah diwaralabakan. Banyak juga franchisor yang tidak paham manajemen franchise, bahkan ada yang melakukan tindakan kontraproduktif terhadap bisnisnya.

Di Amerika Serikat dan Malaysia, ada ketentuan pengusaha yang akan mewaralabakan bisnisnya minimal harus mempunyai 2-3 gerai serta harus telah beroperasi minimal setahun dengan posisi keuangan minimal sudah laba selama setahun terakhir. “Jadi, mereka sudah proven dan profit. Jangan sampai masih trial and error tapi sudah meminta franchisee mengikuti dia,” ujar Lanny Kwandy, pemilik Bridge Franchise, Retail & Franchise Consultant. Nah, aturan seperti ini belum ada di Indonesia.

Di sisi lain, tidak jarang para investor franchise sangat bernafsu sehingga kurang menguji kelayakannya sebagaimana seharusnya. Dan yang sering dilupakan, mereka mengira membeli waralaba sama saja dengan melakukan investasi di produk tak bergerak, seperti tanah dan bangunan, yang tidak memerlukan upaya keras dalam mengelola. Padahal, meminang bisnis franchise tak ubahnya menjadi entrepreneur yang harus mengenal benar knowledge bisnis tersebut, termasuk mencari terobosan-terobosan untuk menggulirkan bisnisnya.

Kondisi demikian jelas tidak bisa dibiarkan, diperlukan payung hukum yang bisa melindungi kepentingan franchise ataupun franchisor-nya. Apalagi, seperti telah disinggung di depan, investasi di bisnis ini telah melibatkan dana triliunan rupiah. Siapa yang akan bertanggung jawab jika banyak waralaba berguguran dan investasi melayang?

Betapapun, bisnis franchise telah memberi sumbangan besar terhadap perekonomian Indonesia. Bisnis ini tidak saja menyerap banyak tenaga kerja, tapi juga telah melahirkan tak sedikit wirausaha, profesional dan profesi baru. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti calon investor franchise, tapi lebih untuk mengingatkan agar lebih waspada dan berhati-hati dalam menggeluti bisnis waralaba.

Dengan taksiran omset yang menurut Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, mencapai US$ 6 miliar pada 2006, posisi negeri ini masih kalah jauh dari negara-negara tetangga. Dengan kata lain, Indonesia masih memerlukan banyak franchisor dan franchisee untuk memperkecil ketertinggalan.

Oleh : Sujatmaka (SWA)
Read more...

Makin Banyak Pilihan Kredit Usaha Waralaba

Tuesday, December 18, 2007

Seiring booming-nya bisnis waralaba di Tanah Air, semakin banyak pula bank yang menawarkan kredit modal usaha bagi bisnis tersebut. Meski tak banyak bank yang menyediakan kredit waralaba sebagai produk bernama khusus kredit waralaba, namun dalam kenyataannya bank tak sedikit yang ikut menyalurkan kredit ke bidang ini.

Bank yang secara khusus memiliki produk kredit waralaba saat ini adalah Bank Himpunan Saudara 1906. Namun sebenarnya, meski tidak memiliki produk khusus bernama kredit waralaba bank-bank lain seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Permata juga turut menyediakan kredit ini.

Pada periode Januari hingga Agustus 2007 saja misalnya, BRI telah menyalurkan dana Rp8,6 triliun kredit bagi usaha di bidang waralaba. Dalam penyaluran kreditya, ia mengatakan pihaknya tidak membatasi plafon. Alhasil jumlah kredit yang disalurkan pun beragam, ada yang hingga Rp700 juta, namun ada juga yang di bawah Rp100 juta.

Ketertarikan bank membiayai bisnis waralaba tentunya tak terlepas dari profil risiko yang dimiliki bisnis waralaba ketimbang bisnis yang benar-benar baru didirikan. Dengan tetap memberikan beberapa persyaratan kepada nasabah sebagai prinsip kehati-hatian, namun persyaratan yang diberikan untuk kredit usaha waralaba teriblang relatif lebih mudah dibandingkan persyaratan untuk kredit usaha yang baru didirikan.

Kredit waralaba tersedia bagi pewaralaba dan terwaralaba, tergantung bank penyedia. Di Bank Saudara contohnya, seperti tertulis pada websitenya, menydiakan jenis kredit untuk franchisor maupun franchisee.

Kredit franchisor ditujukan bagi bagi pewaralaba yang ingin ekspansi usaha yaitu untuk membuka cabang baru milik sendiri atau untuk disalurkan lagi kepada calon franchisee (two step loan). Sementara jenis kedua, jenis kredit bagi franchisee. Kredit jenis ini diberikan langsung kepada calon franchisee, atau franchisee yang ingin menambah cabang (outlet) baru atau menambah franchise baru.

Lantas apa persyaratan yang harus dilengkapi pebisnis? Di Bank HS, ada beberapa dokumen harus dilengkapi oleh calon debitur dari kalangan franchisor. Calon debitur harus menyerahkan data atau profil perusahaan. Termasuk di dalamnya jenis produk/jasa franchisor termasuk perkembangan produk/jasa tersebut.

Selain franchisor menyerahkan laporan keuangan, proyeksi perhitungan usaha untuk calon franchisee serta rencana kegiatan usaha. Franchisor yang mengajukan kredit juga harus memiliki legalitas usaha termasuk ijin usaha franchise yang biasa disebut dengan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba (STPUW).

Disamping itu telah dilakukan standar operasi usaha dan sistrem manajamen (SPO). Usaha franchise yang dibiayai juga disyaratkan memiliki keunikan dan peluang pasar yang masih besar. Selanjutnya calon debitur kredit jenis ini juga harus melengkapi persyaratan kredit bank pada umumnya.

Sementara persyaratan untuk jenis kredit waralaba bagi franchisee calon debitur disyaratkan telah memiliki rekomendasi dari franchisor, berupa draft kontrak dan proyeksi usaha.
Selain bank-bank di atas, bahkan perusahaan modal ventura juga ada yang mengambil celah kredit untuk industri waralaba ini.


Ingin mencoba? Kumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum pebisnis mengajukan kredit. Dengan demikian semoga pebisnis tidak salah pilih bank yang tepat sebagai tempat mendapatkan kredit usaha. Selamat mencoba. (SH)

Sumber: Wirausaha
Read more...

Tips Memilih Lokasi yang Strategis

Saturday, December 15, 2007

Salah satu keputusan yang sangat penting sebelum memulai bisnis waralaba adalah memilih lokasi yang strategis. Mengapa? Karena LOKASI sangat berperan menentukan tingkat kesuksesan usaha Anda.

Jika tidak atau belum memiliki bayangan seberapa strategis lokasi yang ingin Anda pilih, sebaiknya meminta kepada franchisor untuk memberi gambaran tentang lokasi itu. Atau, mintalah nasehat kepada franchisor dimana sebaiknya lokasi yang tepat untuk usaha Anda.

Biasanya, franchisor melakukan studi (riset) pasar sebelum memberikan persetujuan kepada franchisee. Riset ini salah satunya mengenai trade area franchise untuk mengetahui secara demografis potensi usaha dan informasi yang berhubungan dengan lokasi. Tidak ada salahnya jika Anda meminta lebih rinci gambaran dan potensi lokasi yang direncanakan. Berikut beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi.

1. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk menjadi salah satu indikator besarnya potensi pasar usaha yang ingin Anda geluti, meskipun hal ini belum menjadi ukuran final. Anda bisa menanyakan kepada franchisor, berapa total jumlah penduduk atau rumah tangga yang berada dalam wilayah dagang Anda? Apakah area itu masih memiliki ruang untuk tumbuh? Apakah area itu sudah sangat padat oleh lokasi perumahan atau apartemen dan apa efeknya terhadap franchise? Berapa lama populasi/penduduk itu ada di area itu?

2. Penghasilan
Jika kepadatan penduduk tidak linear dengan daya beli masyarakatnya, maka berarti lokasi itu tidak tepat. Karena itu, perlu Anda cermati bagaimana penghasilan penduduk di area trade Anda. Anda perlu mengetahui, berapa rata-rata pendapatan keluarga di area itu? Berapa income penduduk yang ditargetkan dari usaha Anda? Apakah lingkungan dekat menyukai jika mereka ditawarkan produk dari usaha franchise Anda?

3. Jumlah usaha
Adakalanya, lokasi yang dipilih merupakan pusat atau sentra perdagangan. Nah, apakah banyaknya usaha berpengaruh kepada lokasi? Apakah tipe bisnis di area itu menggunakan produk atau service yang ditawarkan franchise?

4. Tempat
Ada beberapa tipe tempat yang bisa dipilih untuk usaha Anda seperti mal, sentra usaha, perumahan, pinggir jalan dan sebagainya. Anda perlu menanyakan, apakah kebanyakan franchisee yang sukses berada di lokasi franchise seperti di dalam mal, di bagian yang paling ramai, di bagian terpisah dari mal, stand atau bangunan tersendiri atau di sentra industri? Franchisor harus dapat memberikan informasi mengenai tipe-tipe tempat ini.

5. Jumlah Traffic
Berapa banyak kendaraan yang lalu lalang di lokasi itu per harinya? Apakah orang yang lalu lalang akan dapat melihat tanda bisnis (plang) Anda? Apakah lokasinya mudah diakses?

6. Pusat keramaian
Jika lokasi berada di bagian mal, kebanyakan pusat lalu lalang yang terbaik adalah di outlet-outlet makanan. Kadang-kadang, di sebrang jalan mal juga menjadi tempat yang di penuhi orang lalu lalang dan biasanya harga sewanya juga lebih murah. Bisa juga lokasinya di rumah sakit, kampus atau di pusat-pusat orang datang.

7. Akses karyawan
Bisa saja lokasi yang jarak tempuhnya sangat jauh menjadi kontra produktif buat karyawan Anda. Karena itu, lokasi sebaiknya terbilang cukup dekat terutama bagi karyawan utama Anda.

8. Zona
Jika lokasi yang Anda pilih bukan daerah perdagangan atau tidak cocok dengan usaha Anda, sebaiknya tidak dipaksakan. Maka, perlu juga Anda menanyakan, apakah zona lokasi cukup pantas untuk bisnis Anda.

9. Kompetisi
Pertimbangkan juga tingkat kompetisi usaha yang ingin Anda jalankan. Jika di lokasi tersebut sudah jenuh dengan usaha yang menawarkan produk sejenis, bisa jadi lokasi itu menjadi tidak strategis buat Anda. Perlu juga Anda mengenal apa kompetisi yang terdekat dengan usaha Anda?

10. Appearance
Anda pasti ingin usaha Anda terlihat berwibawa dan lingkungan di sekeliling lokasi tidak mengganggu usaha franchise Anda. Tanyakan kepada franchisor, apakah area lokasi cukup bersih dan terkendali? Apakah lingkungannya juga cukup baik?


Selanjutnya, jangan pernah segan-segan meminta franchisor membantu Anda bernegosiasi untuk mendapatkan lokasi yang strategis dan harga sewa yang lebih murah. Karena bisa saja dalam kasus tertentu, usaha tersebut dibutuhkan, misalnya oleh real estat untuk menjaring pasar.

Sumber: plasawarabala
http://www.plasawaralaba.com/home.php?link=article&value=7&date=2007-09-06%2005:00:33
Read more...

Menemukan Usaha Dengan Karakteristik Yang Cocok

Informasi waralaba mulai banyak bertebaran. Para peminat pun sudah banyak menerima informasi dan secara hati-hati telah mempertimbangkan berbagai alternatif.


Anda, barangkali salah satu yang juga telah memutuskan untuk bisa sukses dengan menginginkan usaha sendiri. Lebih khusus Anda telah memutuskan untuk membeli hak waralaba.

Nah, ketika sudah memutuskan untuk membeli waralaba dan mendapatkan banyak informasi, apa yang harus dilakukan berikutnya? Apa yang dapat Anda harapkan dari perusahaan franchise. Bagaimana Anda tahu telah menemukan yang tepat buat Anda?
Jeff Elgin, CEO of FranChoice, Inc punya saran untuk para pencari usaha waralaba sehingga mereka memperoleh yang diinginkan sesuai harapan.


Pra Persiapan
Sebelum memutuskan, langkah pertama yang harus diambil adalah Anda harus hati-hati dan mengevaluasi diri.

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang bisa memandu Anda untuk mengenal sejauh mana Anda mengetahui keinginan dan sejumlah konsekwensinya.

- Apa kekuatan dan kelemahan Anda?
- Apa yang ingin Anda lakukan dan apa yang membuat Anda bahagia di lingkungan kerja?
- Apa yang membuat Anda tidak bahagia atau frustrasi. Apakah Anda menyukai jualan, bekerja dengan customer, mengelola karyawan?
- Apakah teknologinya cukup up to date dan Anda nyaman dengan perubahan?
- Apa yang bisa Anda tolelir menyangkut resiko? Kemudian berikutnya, buat daftar karakteristik yang Anda inginkan di bisnis waralaba. Seberapa penting resiko keuangan bagi Anda?
- Apa yang paling realistis dari investasi dan income Anda yang menjadi tujuan dari bisnis?
- Apa yang Anda rasakan tentang resiko dan status?
- Berapa jam dalam seminggu yang bisa Anda dedikasikan untuk bekerja?


Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjelaskan apa yang Anda butuhkan untuk menemukan bisnis yang cocok dengan preferensi (pilihan) dan keinginan Anda.
Anda akan mendapatkan gambaran seperti apa bisnis Anda di kemudian hari.

Selanjutnya, Anda hanya membutuhkan proses untuk menemukan secara individu perusahaan waralaba dan menentukannya bahwa perusahaan tersebut cocok dengan rencana Anda.

Menemukan Perusahaan Waralaba
Banyak sumber informasi tentang peluang waralaba, entah itu dari buku, iklan atau situs internet. Di sana ada ribuan peluang franchise yang dapat Anda pertimbangkan. Tidak perlu semuanya harus Anda telusuri, cukup mengambil beberapa yang menjadi concern Anda.

Langkah pertama, Anda hanya perlu melihat yang paling memungkinkan buat Anda. Pertimbangkan karakteristik yang sudah Anda identifikasi sebelumnya seperti uraian di atas. Lihatlah industrinya atau sub industrinya lebih dahulu sebelum melihat perusahaannya. Dalam pandangan yang sekilas, terutama dari sisi industrinya, apakah karakteristiknya mendekati kecocokan?

Sebagai contoh, sebut saja Anda telah memutuskan sebuah usaha waralaba yang Anda akan terlibat pekerjaan secara jam kerja normal, yang memiliki sedikit karyawan untuk di-manage, dan Anda hanya perlu mengeluarkan investasi Rp. 150 juta. Kriteria ini akan membuat Anda mengeliminasi banyak ritel dan waralaba di industri makanan, karena di industri ini banyak membutuhkan waktu dan karyawan.

Lebih lanjut, Anda dapat mengabaikan investasi yang tidak Anda inginkan. Apabila Anda tidak mau mengerjakan sendiri, Anda bisa meminta bantuan dari konsultan franchise untuk membantu menemukan yang sesuai dengan kriteria usaha yang Anda inginkan.

Berikut panduan yang Anda butuhkan untuk menemukan perusahaan yang cocok dengan yang Anda cari. Sekali Anda telah mengidentifikasi perusahaan yang terlihat menarik dari permukaannya, maka cobalah pelajari tentang perusahaan itu.

Proses Penyisihan
Ada lima langkah dalam proses investigasi ini yang umumnya dilakukan dalam pencarian usaha franchise. Langkah ini dimulai dengan Anda mengontak perusahaan pemberi hak waralaba di mana Anda menginginkan banyak informasi darinya.

1. Information yang Umum
Franchisor akan mulai dengan menyediakan kepada Anda berbagai informasi perusahaan baik melalui brosur maupun lainnya. Mereka, kemudian akan menanyakan kepada Anda tentang informasi yang mereka sediakan kepada Anda. Dan meminta Anda mengisi atau menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui karakteristik umum yang Anda cari. Asumsinya, masing-masing pihak masih saling tertarik atau pertukaran informasi, yang akan diproses ke langkah selanjutnya.

2. Dokumen Terkait
Anda juga harus mempelajari referensi yang memberikan informasi terkait dengan perusahaan yang ingin Anda bidik. Informasi terpenting yang perlu anda dapatkan antara lain:

- Sejarah perusahaan tersebut dan pendiri serta para direksinya.
- Diskripsi bisnis yang lengkap kenapa di-franchise-kan.
- Semua cost dan fee yang akan dibebankan kepada Anda di bawah perjanjian.
- Semua kewajiban masing-masing pihak selama masa perjanjian.
- Semua yang berhubungan dengan perkara perusahaan atau para pelakunya.
- Semua kegagalan bisnis, perpindahan kepemilikan, term-term perjanjian franchise, atau informasi terkait kesuksessan dari unit-unit existing di dalam system.
- Audit financial setidaknya tiga tahun terakhir.
- Daftar existing franchisee.
- Kopi dokumen perjanjian secara lengkap.

3. Menemui Franchisee
Kebanyakan sumber informasi yang paling akurat adalah dari existing franchisee. Apapun yang Anda temukan yang berlaku pada existing franchisee, secara pasti akan berlaku juga kepada Anda jika jadi investor. Kunjungi mereka untuk meyakinkan Anda.

Lebih dulu, Anda harus menemukan apakah kebanyakan franchisee merasa happy dan supportif. Kadang-kadang sebagian tidak begitu. Dengarkan sejumlah komplain, tetapi juga tentukan apa yang membuat franchisee ini berbeda dengan yang lainnya.

Jika Anda bisa mengidentifikasi secara positif dan objektif, selanjutnya Anda akan baik-baik saja. Jika Anda menemukan diri Anda merasakah seperti kebanyakan franchisee yang tidak happy, bagaimanapun usaha tersebut tidak tepat buat Anda. Berikut daftar area prinsipil yang perlu Anda telusuri selama proses pencarian:

Program pelatihan.
Seberapa baik program trainiung pendahuluan dan dukungan persiapan kepada franchisee untuk membuka dan menjalani bisnisnya?

Support pembukaan.
Seberapa mudah franchisor membuat proses mendapatkan unit pertama dibuka dan dioperasikan?


Ongoing Support.
Seberapa efektif support yang berkelanjutan dari franchisor dalam membantu franchisee dalam menangani promblem setiap hari di dalam menjalankan bisnisnya?

Program pemasaran.
Kebanyakan franchisor mengumpulkan dana untuk kegiatan marketing dari setiap franchisee. Apakah para franchiseee merasakan adanya support dari kegiatan pemasaran tersebut?


Purchasing Power.
Apakah franchisor menggunakan kekuatan kolektif pembelian dengan total sistem untuk mendapatkan diskon dari suplayer?

Hubungan franchisor-franchisee.
Apakah franchisor cukup supportif, fokus meraih sukses, responsif, efektif, organized dan dapat dipercaya?

Investasi.
Apakah seluruh investasi yang dibebankan sangat reasonable?

Penghasilan.
Ini memang masalah kritikal dan perlu sense yang kuat melihat apa yang bisa dihasilkan. Berapa banyak uang yang bisa diberikan dari bisnis itu? Seberapa cepat produk yang dimiliki bisa mendulang uang setelah pembukaan.


4. Temui Franchisor.
Ketika proses pencarian, Anda pasti ingin bertemu secara personal dengan orang kunci di peruasahaan franchise. Boleh jadi Anda akan ketemu berbagai staf kunci. Yakinlah bahwa untuk mendapatkan mereka Anda harus lebih terbuka dengan rencana Anda membuka bisnis.

Anda akan mengharapkan bertemu presiden dari perusahaan itu tetapi dia tidak akan menjawab telepon ketika Anda menghadapi persoalan. Temui secara langsung siapa yang menyediakan operation support dan pelatihan kepada Anda dan dapatkan opini dari mereka yang kompeten. Ingatlah dan catat beberapa pertanyaan atau isu yang mungkin Anda miliki di pertemuan.

5. Buatlah Keputusan
Barangkali waktu yang Anda butuhkan selama proses investigasi memakan waktu empat minggu. Maka berikut, waktunya untuk menyelesaikan atau memutuskan jika perusahaan itu tepat untuk Anda. Betul atau tidak Anda akan tahu. Pada kasus lain, inilah waktunya untuk buat keputusan dan bergerak.


Jika perusahaan tersebut memiliki semua yang Anda inginkan, maka lakukanlah. Jika tidak, tinggalkan dan cari lagi sampai Anda menemukan perusahaan yang tepat.

Sumber: plasawaralaba
Read more...

Abdul Rahman Tukiman - Bocah Gunung Yang Menjadi Pengusaha Sukses

Friday, December 14, 2007

Bocah gunung yang satu ini masa kecilnya dijalani dengan kemiskinan. Beruntung, dari usaha berdagang bakso malang ia kini mejadi pengusaha sukses.

Masa kecilnya dilalui di suatu dusun kecil yaitu desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa timur. Desa itu boleh dibilang secara ekonomi kurang maju. Selain karena terpencil juga kondisi alam sekitarnya yang berbukit batu dan gersang sehingga kurang menguntungkan bagi pertanian. Namun ditengah serba tidak menyenangkan tersebut, menumbuhkan jiwa tangguh, tahan menderita, tidak mudah mengeluh dan tidak pernah mau menyerah dalam diri seoarang anak yang bernama Abdul Rahman Tukiman.

Dilahirkan pada tanggal 4 April 1961 dari pasangan Bapak Saimun dan Ibu Paijem ini, masa kecil Abdul Rahman Tukiman bisa dibilang dilalui dengan cukup berat. Pasalnya, meski orang tuanya memiliki sawah ladang yang cukup luas namun sejak usia 9 tahun ia sudah menjadi anak yatim. Otomatis, sawah ladang yang luas itu pun menjadi semakin seperti tidak bertuan karena tidak ada yang mengelola. Sementara, kakak, adik dan ibunya masih tetap harus makan dan bertumpu pada hasil sawah ladang tersebut. Tidak ada jalan lain, akhirnya untuk menyambung hidup terpaksa petak demi petak sawah telah habis digadaikan. Akibatnya, kehidupan keluarga ini menjadi tidak menentu dan semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Namun kegetiran tersebut tidak lantas terus diratapi olah Cak Man begitu sapaan akrab Abdul Rahman Tukiman. Justru menjadi cambuk. Seiring usianya beranjak ramaja, berbekal tekad yang kuat anak ke 5 dari 8 bersaudara ini kemudian terlecut hatinya untuk keluar dari kemiskinan dengan meninggalkan desa tercinta untuk mengadu nasib di kota.

Waktu itu ia belum tahu mau pergi ke kota mana, apalagi uang saku yang dikumpulkan juga kurang. Dalam kondisi yang hampir putus asa, nasib baik pun datang. Tiba-tiba ada seorang pengusaha Bakso bernama Bapak Sumaji tengah mencari pemuda desa untuk diajak bekerja di Malang. Mendengar itu Cak Man tanpa pikir panjang pekerjaannya lantas menyambut tawaran tersebut.

Berdagang Bakso
Meski terasa berat meninggalkan Ibu dan keluarganya, langkah Cak Man tetap mantap untuk bekerja di Kota. Pertama menginjakkan kaki di Malang, semua pekerjaan dilakoninya. Mulai dari membantu memasak bakso, mencuci peralatan masak sampai menyiapkan bakso di rombong/gerobak-bakso yang akan dibawa juragannya berjualan keliling.

Lama-lama pekerjaan itu membosankannya, akhirnya ia pun berniat untuk ikut jualan Bakso keliling juga. “Pertama kali jualan tahun 1980 ketika masih berusia 19 tahun senang banget rasanya,” kisahnya. Tidak diduga, hasil jualan baksonya ternyata laris manis. Alhasil, sejak saat itu berjualan bakso, menjadi hari-hari yang terasa indah baginya karena pendapatannya melebihi apa yang didapatkan ketika masih membantu mencari kayu di desa.

Setelah melewati masa-masa susah dan senang berjualan bakso ditambah pengalaman ikut bersama 3 juragan, terpikir dalam hati Cak Man untuk berjualan sendiri. Karena setelah dihitung-hitung ternyata berjualan sendiri bakso sangat menguntungkan. Namun sekali lagi, semua terbentur modal. Waktu itu Cak Man tidak memiliki uang sama sekali untuk modal usaha.

Baru pada 1984, bermodalkan hasil tabungannya selama 2 tahun sebesar Rp 77 ribu, Cak Man memberanikan diri membuka warung bakso. “Mulailah tahun itu saya berjualan bakso sendiri,” ujarnya.

Prinsipnya pada waktu itu sederhana, “Seperti orang belajar silat,” katanya. Berbekal pengalaman bekerja pada 3 juragan bakso yang masing-masing memiliki jurus andalan, tentunya ia juga bisa uga memiliki jurus ampuh yang merupakan penggabungan dari ketiga jurus andalan 3 pendekar tersebut. “Dengan mengkombinasikan kelebihan dari 3 juragan tersebut, saya yakin bahwa bakso buatannya menjadi jauh lebih unggul dan digemari masyarakat,” imbuhnya lagi.

Seperti halnya usaha-usaha lainnya, pada hari-hari pertama diwarnai ketidak-menentuan, hari ini ramai, hari berikutnya sepi. Menghadapi kondisi seperti ini, bukan malah menyurutkan hati Cak Man untuk berhenti berjualan tetapi makin menambah semangatnya untuk bagaimana membuat baksonya enak dimata pelanggan.

Sukses Digenggaman
Kerja keras dan keuletannya membuahkan hasil. Warung baksonya setiap hari dibanjiri pelanggan. Cabang-cabang lain pun kemudian didirikannya. Kesuksesan lambat laun diraihnya Cak Man. Sampai akhirnya ia memfranchisekan usahanya dan pada Februari 2007 mendirikan PT Kota Jaya, untuk mengurusi manajemen usaha baksonya agar lebih modern.

Hebatnya lagi, kini setelah 23 tahun usaha baksonya berjalan, ia telah memiliki 57 buah gerai dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. Dengan asumsi setiap gerai mempekerjakan 16 karyawan (di luar pemilik gerai), maka dengan 60 gerai yang ada saat ini, wong ndeso Cak Man mampu menampung jumlah tenaga kerja sebanyak : 57 x 16 = 960 orang.

Tidak hanya itu, kemana-mana ia kini sudah tidak lagi jalan kaki atau naik sepeda onthel. Ia sudah bisa naik mobil mewah lengkap dengan driver yang selalu siap mengantar kemana ia pergi. Rumahnya pun sangat besar terdiri dari dua lantai seluas 1000 m2. Istrinya adalah Hj. Mariyah Maryatun. Anak pertamanya, Andik Purwanto sedang menyelesaikan kuliahnya di FIA, Universitas Brawijaya, Malang. Anak kedua, Yuli Nur Avianti yang masih duduk di bangku SLTA, dan anak ketika Cantika Putri Rahmadani masih balita.

Meski semua telah diraih, Cak Man tak lantas lupa dengan asal muasalnya yang wong ndeso dan katro. Ia masih rendah hati dan santun terhadap siapapun.

Cak Man mengakui, selama merintis usaha banyak hal berkesan yang pernah dialaminya, terutama pada tahun 1990 – 2000. Contohnya, pada 1993 ia dari hasil jualan bakso ia berhasil membeli mobil bekas buatan tahun 1986. Namun karena rumahnya masih di dalam gang kecil, maka setiap malam ia terpaksa tidur di dalam mobil sambil menunggu mobilnya yang diparkir di tepi jalan.

Disamping itu, ia juga berhasil membuka gerai baru di Jl. Ciliwung, Jl. Mayjen Wiyono dan di beberapa tempat lain di kotamadya Malang. Dari sinilah akhirnya mendudukkan Cak Man dengan Bakso Kotanya sebagai pedagang bakso-malang papan atas yang memiliki gerai terbanyak. Tidak hanya itu, Cak Man kemudian juga mampu membeli rumah di Jl. Kedawung II/11. Rumah baru tersebut disamping sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat memasak dan penampungan para karyawannya.

Meski berasal dari desa di lereng gunung, Cak Man memiliki visi kedepan yang sangat kuat. Cak Man berkeyakinan bahwa setiap orang harus punya cita-cita dan untuk menggapainya perlu usaha yang sungguh-sungguh dibarengi dengan kemauan belajar kepada siapapun.

“Kunci saya membangun usaha hingga sebesar adalah senantiasa meningkatkan mutu dan layanan, membuat inovasi baru (semula hanya 6 varian saat ini sudah 22 varian), sering mengikuti kegiatan pelatihan, mematenkan merek dagang dan menerapkan manajemen modern,” ujarnya.

Lebih dari itu yang tak kalah penting dan selalu dipegang teguh Cak Man adalah selalu berpikir untuk jangka panjang. “Dahulu kalau hanya berjualan bakso tradisional, saya tidak perlu melakukan macam-macam. Sekarang, tidak bisa diam begitu saja.

Sekarang, Bakso Kota Cak Man sudah memposisikan diri sebagai salah satu resto cepat saji asli Indonesia yang berjuang untuk dapat bersaing dengan resto cepat saji mancanegara seperti KFC, McDonald, Hoka-hoka Bento dan lain sebagainya. Jadi, saya harus berbenah diri untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan,” terangnya.#

Zaziri - PlasaWaralaba
Read more...

Teliti Sebelum Membeli

Saturday, December 8, 2007

Janji franchisor bisa membukukan BEP dalam waktu singkat jangan langsung dipercaya. Perlu kehati-hatian dalam memilih franchise yang prospektif.

Bisnis harus melahirkan profit. Prinsip itulah yang harus dipegang oleh para franchisee atau pembeli waralaba dalam menentukan pilihannya. Jangan pernah terkecoh oleh manisnya janji-janji para franchisor. Tetapi bukan berarti Anda harus mengedepankan kecurigaan yang berlebihan. Franchise terbukti banyak memberikan keuntungan terhadap para investornya. Hanya saja kejelian perlu dimiliki oleh para calon investor.

Sinyalemen Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar perlu menjadi perhatian para franchisee. Disebutkan, dari 129 franchise lokal, hanya 15%-nya saja yang franchiseable atau memenuhi syarat sebagai franchise. Sisanya belum bisa dikategorikan sebagai usaha franchise tetapi sudah mengklaim sebagai usaha waralaba. Mereka ini baru bisa dimasukkan sebagai business opportunity.

Lalu apa yang harus menjadi pegangan bagi franchisee dalam memilih waralaba? Secara instan, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian para franchisee sebelum membeli sebuah usaha franchise.

Pertama, usaha yang difranchisekan tersebut harus sukses dahulu. Bagaimana membuktikannya? Sebuah usaha franchise bisa dikategorikan sukses dapat dibuktikan dengan neraca keuangan rugi laba. Bisa juga dibuktikan dengan kasat mata lewat jumlah customer, misalnya antrian pelanggan di counter usaha tersebut.

Kedua, usaha tersebut memiliki keunikan atau differensiasi. Kunikan yang dimiliki usaha tersebut untuk membedakan dengan usaha-usaha lainnya yang sejenis di industrinya. Mengapa keunikan ini penting? Karena keunikan ini menjadi nilai tambah yang akan menjadi daya tarik bagi customer. Keunikan bisa ditentukan dari produknya, bisa juga lewat layanannya. Sekedar contoh, gado-gado yang menambah bumbunya dengan kacang mede akan berbeda dengan bumbu kacang tanah saja. Jadi, tambahan kacang mede tersebut akan menambah nikmat rasa bumbu gado-gado. Itulah keunikan atau differensiasi.

Lainnya yang juga penting diperhatikan oleh para franchisee adalah usaha franchise yang ditawarkan tersebut harus mempunyai sistem dan standar operasional yang baku. Konsep ini pun implementasinya harus sudah teruji di lapangan, tidak hanya sekedar teori. Maka, tidak salah jika calon investor mencoba untuk mengenal dapur operationalnya secara dalam.Yang tidak kalah penting, franchisee juga perlu mengenal program pemasaran dari franchisor. Program pemasaran ini berkaitan erat dengan masa depan usaha menghadapi tingkat persaingan di industrinya. Program pemasaran franchisor tidak bisa diabaikan begitu saja karena menyangkut upaya untuk meningkatkan awareness dan image brand dari waktu ke waktu.

Investigasi
Sekali lagi, kehati-hatian menjadi factor penting bagi franchisee dalam memilih franchise untuk menghindari kegagalan di masa depan. Sekarang ini, perkembangan usaha franchise sangat pesat dan terus tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Tetapi, data yang ada menunjukkan peluang sukses waralaba baru 60%. Fakta tersebut kalah jauh dibandingkan dengan di Amerika yang peluang suksesnya di atas 90%. Karena itu, franchisee perlu melakukan investigasi terhadap usaha yang diliriknya sebelum memutuskan untuk membelinya.

Investigasi yang perlu dilakukan para franchise menyangkut :

Pertama, kredibilitas dan akuntabilitas franchisor serta bisnis franchise-nya. Mengapa ini perlu dilakukan? Setidaknya untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti bahwa usaha yang akan dibeli itu bisa diandalkan. Caranya, periksa reputasi perusahaan tersebut dan nama-nama pemegang sahamnya. Para franchisee bisa mengusut dan menanyakan siapa para CEO-nya, latar belakang mereka dan bagaimana komitmen mereka terhadap usahanya itu. Jika mereka termasuk yang hit and run, sebaiknya ditinggalkan saja.

Kedua, Franchisee juga perlu mengetahui secara jeli struktur organisasi dari perusahaan franchise dan fungsi dari bidang masing-masing. Kenapa ini perlu? Perusahaan yang tidak solid, sudah pasti tidak akan bisa bertahan lama. Nah, kekompakan sebuah perusahaan bisa dilihat dari struktur organisasinya dan staf-stafnya yang mengisi pos masing-masing bagian. Mereka yang mengisi pos-pos di setiap bagian struktur organisasi tersebut yang akan membantu dan memberikan support kepada para franchisee. Jika tidak solid dan tidak kapabel, bagaimana mungkin bisa memberikan advice kepada para franchisee.

Ketiga, jangan hanya mengandalkan investigasi dari luar, lakukan juga dari dalam perusahaan franchisor. Langkah ini perlu dilakukan untuk mengukur klaim yang dilakukan franchisor kepada para investornya. Caranya, datangi perusahaan franchisor, amati suasana dan keadaan di perusahaan tersebut. Cobalah berbicara dengan para staf di perusahaan tersebut untuk mengetahui sistem bantuan yang akan diberikan nantinya.

Keempat, cari tahu siapa saja para franchisee dari usahan tersebut dan berdialoglah dengan mereka. Sebab, dari mereka ini informasi bisa didapat lebih objektif, sekaligus untuk mendapatkan data penjualan dan kemungkinan keuntungan yang bisa diraih. Jika ada mantan franchisee dari usaha ini, perlu juga dikejar untuk mengetahui sebab-sebab pemutusan hubungan.

Kelima, bandingkan dengan dua atau tiga usaha franchise sejenis atawa kompetitornya untuk mendapatkan perbandingan yang lebih objektif sebelum memutuskan membelinya. Bisa jadi, punya kompetitor usaha franchise tersebut jauh lebih baik.

Terakhir, cari second opinion dari sang ahli atau para konsultan franchise sebelum memutuskan membeli waralaba. Pendapat para ahli ini bisa menjadi panduan paling sempurna untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan, baik menyangkut hukum, brand peruahaan maupun peluang bisnisnya.

Dari berbagai sumber
Read more...

TX TRAVEL Kerjasama Dengan Reliance

Friday, December 7, 2007

Reliance Pacific Berhad (RBP), perusahaan agen perjalanan (travel agent) asal Malaysia menggandeng TX Travel untuk memperluas jaringan pemasarannya.

Reliance merupakan salah satu agen perjalanan terkemuka di Asia dan telah bergerak di bisnis ini selama 38 tahun. Perusahaan ini telah masuk bursa Malaysia pada 1993. Reliance memiliki jejaring tersebar di 30 kantor di Malayaisa dan Singapura, 300 distributor di Malaysia 200 agen dan wholesaler di 30 negara di dunia.

Menurut Tan Sin Chong, Managing Director Reliance, kerjasama ini merupakan salah satu strategi untuk memperluas jangkauan. Indonesia adalah negara dengan populasi penduduk yang besar 250 juta jiwa, merupakan potensi yang belum tergarap. “Dengan kerjasama ini saya berharap dapat meningkatkan volume penjualan sebesar RM 8 – 10 juta hingga akhir Maret 2008. Dan, kami prediksikan akan meningkat 100% pada 2009 nanti,” katanya.

TX Travel dipilih lantaran waralaba perjalanan ini tumbuh dengan pesat di Indonesia. TX Travel memiliki jaringan distribusi di seluruh Indonesia. TX Travel berdiri pada 2004 lalu sebagai bagian divisi ritel dari Jakarta Express yang sudah berdiri sejak 1991 sebagai Travel Wholesale. Perusahaan ini sudah melayani ribuan agen perjalanan di Indonesia dengan kantornya di Jakarta, Surabaya, bandung, Medan, Semarang dan Batam.

Menurut Anthonius Teddy, Managing Director PT Jakarta Express Utama—pengelola TX Travel—kerjasama dengan Reliance akan meningkatkan penjualan dan melengkapi produk yang ditawarkan TX Travel seperti : penjualan tiket pesawat, voucher hotel, paket tur pesawat, kapal pesiar dan sebagainya.

Sumber: Majalah Pengusaha
Read more...