Bakrie Telecom Perkenalkan Gerai Franchise

Monday, January 28, 2008

Oleh : Taufik Hidayat

PT Bakrie Telecom (BT) terus membuktikan komitmen mempermudah dan memperluas akses telekomunikasi bagi masyarakat dengan pembukaan gerai baru di Plaza Marina, Surabaya. Gerai bernama Gerai Franchise diresmikan oleh Erik Meijer, Wakil Direktur Utama BT.

“Dengan pembukaan Gerai Franchise ini, kami berharap dapat meningkatkan pelayanan BT kepada pelanggan Esia dan Wifone secara khusus dan masyarakat secara umum. Gerai Franchise juga menjadi tempat informasi dan pelayanan yang berkualitas, selain melayani penjualan langsung ke masyarakat. Ini juga berarti kami menciptakan kesempatan berusaha bagi UKM setempat untuk mengelolanya.” ujar Erik.

Pada dasarnya Esia memiliki 2 (dua) tipe gerai, satu yang dikelola sendiri dan gerai yang dikelola bersama mitra setempat (Franchise). Dalam konsep Gerai Franchise, BT tidak hanya ingin memperluas pangsa pasar namun juga ingin meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan yang selama ini menjadi bagian terpenting dari kinerja BT. Keberadaan Gerai Esia juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada masyarakat di
mana layanan BT telah tersedia. “Pemilihan nama Gerai Franchise juga menunjukkan kesetaraan antara BT dan mitranya. Kesetaraan ini juga mengacu pada prinsip
keterbukaan informasi dan pelayanan yang prima baik dari BT maupun mitranya. Sehingga komitmen BT dan mitranya kepada masyarakat sekitarnya akan lebih cepat
terealisasi,” papar Erik.

Mengingat potensi pasar, terutama di Jawa Timur yang demikian besar, BT berharap putra daerah mampu berbuat banyak. “Kami menginginkan dengan adanya Gerai Franchise, putra daerah juga mendapat kesempatan yang lebih luas untuk menjadi mitra kami. Jadi di manapun berada, kami selalu berusaha mendorong masyarakat
untuk menjadi lebih maju bersama BT,” imbuh Erik.

Saat ini, Esia dan Wifone di Surabaya telah beroperasi penuh pada frekuensi 800 MHz. Interkoneksi juga telah lengkap, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan yang lebih baik dibandingkan beberapa jaringan CDMA lainnya.

Selain di kota Surabaya, Gerai Franchise juga telah resmi beroperasi di kota Gresik, Mojokerto, Pasuruan, dan Lamongan sejak akhir Desember 2007. Untuk daerah
Sumatera akan segera dibuka di kota Binjai.

Sumber : SWA
URL : http://www.swa.co.id/primer/manajemen/strategi/details.php?cid=1&id=7009
Read more...

Langkah Pasti Memulai Bisnis

Friday, January 25, 2008

Banyak orang yang ingin berbisnis, namun ketika serius berpikir tentang keinginan tersebut ia kembali mengurungkan niatnya. Pasalnya sering muncul kebingungan di benak mereka. Misalnya, bingung akan menjalankan usaha apa, atau bingung akan memulai bisnis dari mana.

Ahmad Khoerussalim Ikhs, pendidik sekaligus praktisi di bidang kewirausahaan menyebut kebiasaan banyak orang tersebut sebagai blocking mental. Artinya, seseorang mengalami ketakutan untuk memulai, khawatir untuk memulai, serta sulit untuk memulai. Menurut Salim, kondisi tersebut bisa terjadi karena seseorang tidak bisa menerima challenge.

Lantas apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan memulai bisnis seperti kasus di atas? Jika Anda salah seorang yang menjalani pengalaman serupa, semoga resep Salim berikut bisa membantu.

Sebagai sebuah kebiasaan buruk, blocking mental menurut Salim perlu disingkirkan. Caranya tak lain adalah dengan mengubah minset yang selama ini tercipta di kepala. “Jangan berpikir bergantung pada orang lain. Tapi berpikir lah bagaimana mengusahakan sesuatu yang bisa membantu orang lain,” ujar Salim.

Kebingungan sebelum memulai usaha menurutnya biasa muncul karena seseorang tidak memiliki wawasan yang terbuka tentang berbagai hal di dunia bisnis. Untuk itu, ada baiknya bagi mereka yang ingin berbisnis lebih mengembangkan pengetahuan di berbagai bidang.

Jadi jangan harap seseorang yang malas untuk menggali informasi dan pengetahuan di berbagai bidang di dunia bisnis bisa dengan cepat melangkahkan kaki memulai bisnis. Karena itu, perluaslah cakrawala pengetahuan Anda sebelum memulai bisnis.

Satu lagi pesan bagi yang akan memulai bisnis. Berbisnis janganlah bertujuan mencari pendapatan tetap. Melainkan, buatlah tujuan tetap berpendapatan. Pengaruhnya akan cukup besar. Tidak percaya? “Seorang karyawan atau pekerja memang bisa memperoleh pendapatan rutin setiap bulannya. Tapi bagi pengusaha, bisa berpeluang lebih dari itu. Seorang pengusaha bisa tetap berpendapatan setiap hari,” kata Salim menutup percakapan. (SH)

Sumber: wirausaha.com
http://www.wirausaha.com/bisnis/kewirausahaan/langkah_pasti_memulai_bisnis.html
Read more...

Point-point Kesuksesan Usaha Waralaba

Sunday, January 20, 2008

Apabila anda telah memutuskan untuk membeli waralaba, hendaknya perlu diperhatikan point-point kesuksesan usaha waralaba sebagai berikut:

1. Pada fase pemilihan waralaba, pilihlah jenis waralaba yang sesuai dengan hasrat dan minat Anda, yang Anda yakin akan berkembang dan menguntungkan di masa dekat dan jangka panjang. Hindari memilih jenis waralaba untuk sekedar ikut trend dan sedang banyak digemari semata.

2. Miliki Goal yang jelas dan terukur, dengan jangka waktu yang masuk akal/realistis, dan sesuaikan kebijakan-kebijakan jangka pendek Anda dengan tujuan yang telah dirumuskan tersebut. Pilah-pilah hal yang perlu dilakukan sekarang, ditunda, atau dihapuskan sama sekali untuk menghemat waktu dan sejalan dengan prioritas kerja.

3. Rumuskan rencana-rencana yang akan mendukung goal Anda tersebut, dan lakukan dengan kegigihan dan semangat, jangan lupa berdoa dan tingkatkan rasa kepedulian terhadap sesama, jangan lupa bahwa dalam setiap kesuksesan, selalu ada kepedulian terhadap sesama dan pelayanan untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain, makin banyak seseorang berkontribusi, maka makin banyak pula seseorang akan menerima imbalannya, hal ini berlaku dalam setiap bisnis, termasuk bisnis franchise.

4. Dapatkan info sebanyak-banyaknya dari pewaralaba dalam setiap kesempatan, baik dalam training, dalam pertemuan, khususnya dalam pertemuan awal, misalnya pada saat franchise expo. Bertanya sebanyak mungkin untuk memperoleh pengetahuan maksimal mengenai bidang usaha yang akan dijalani. Hadiri pameran dan seminar yang berhubungan dengan franchise sebanyak mungkin untuk memperoleh pembanding dan alternatif yagn terbaik.

5. Kerjakan segala sesuatu se-efisien mungkin. Dengan melakukan proses franchise, banyak pihak penerima franchise (terwaralaba) masuk ke dalam pola pemikiran bahwa mengeluarkan uang adalah cara untuk menghemat usaha dan tenaga, dalam titik yang ekstrem hal ini dapat mengakibatkan pengeluaran yang tidak perlu dan pemborosan.

6. Bina hubungan baik dan pertahankan kontak yang intensif dengan pihak pewaralaba dan pihak lain yang telah berhasil di bidang tersebut, dimana kita ketahui bahwa kesuksesan seringkali meninggalkan jejak untuk diikuti.

7. Bersikap jujur dan mempertahankan reputasi. Hal ini perlu diterapkan terhadap semua pihak, baik terhadap pewaralaba, terhadap staff, konsumen, dan bahkan anggota keluarga. Dengan bersikat jujur dan berintegritas tinggi, seorang pengusaha akan memperoleh rasa hormat dari lingkungannya yang akhirnya akan memberikan kemudahan dalam berbagai hal dan aspek usahanya.

8. Gali potensi dan kreativitas, walau dalam sebuah sistem waralaba telah digariskan banyak hal yang dapat mempermudah pelakunya untuk menjalankan usaha, bukan berarti membatasi diri dengan tidak melakukan inovasi dan memanfaatkan kreativitas yang dimiliki, tentunya dengan catatan hal tersebut masih ada dalam ruang lingkup standar yang diberlakukan pewaralaba.

9. Orientasi konsumen, dalam setiap bisnis tentunya harus berfokus terhadap kepuasan konsumen selain juga pada proses pengadaannya. Terlebih lagi pada sebuah usaha waralaba, konsumen akan memandang pelayanan dan kepuasan terhadap produk adalah sebagai bagian dari sebuah citra merk secara keseluruhan.

10. Tetap semangat, bekerja secara berkesinambungan dan terus mengembangkan diri demi tercapainya tujuan hidup, peningkatan dan pertumbuhan secara konstan, yang membuahkan hasil yang pasti dan bukan diperoleh dari jalan pintas dan tidak dapat bertahan lama.

(artikel oleh: franchise-id.com)
http://www.franchise-id.com/101tips/point-kesuksesan-usaha-waralaba.php
Read more...

Franchise baru atau lama (established)?

Dengan banyaknya jenis franchise baru yang ditawarkan, seringkali pencari waralaba menjadi bingung, apakah harus memilih waralaba baru yang menawarkan berbagai fitur menarik dan inovatif, atau haruskan memilih waralaba yang telah berdiri lebih lama, tampak stabil dan dalam fase maturity.

Berikut ini adalah beberapa informasi yang berguna untuk Anda yang sedang melakukan pertimbangan berdasarkan hal tersebut di atas:

Apakah sebuah waralaba adalah baru ataupun lama, terkadang bukanlah menjadi patokan mengenai keberhasilan dan pertumbuhan, bisa saja waralaba yang baru didirikan menjadi sangat prospektif dan memberikan keuntungan, dan juga bisa berkembang sangat baik di masa depan, dan sebaliknya, bukan tidak mungkin waralaba yang telah lama berdiri ternyata memberikan hanya sedikit return.

Namun demikian faktor resiko memang dapat dikatakan berhubungan dengan berapa lama sebuah franchise telah berdiri, untuk waralaba yang baru saja hadir, tentu faktor resiko menjadi relatif lebih tinggi daripada waralaba yang telah lama tersedia, namun dapat dilihat apakah waralaba yang baru tersebut adalah bagian dari sebuah group yang terdiri dari beberapa waralaba lain yang telah sukses.

Bila dikaitkan dengan individu yang akan menjalankan waralaba tersebut (franchisee), maka dapat dikelompokan menjadi type: risk taker, moderate, dan risk avoider. Bila seseorang adalah type pengambil resiko, maka ada kecenderungan ia dapat mengambil sebuah waralaba yang baru berdiri, dengan harapan menjadi pendahulu dari merk tersebut, dengan berbagai keuntungan dalam hal kemudahan proses, biaya setup yang lebih rendah, penguasaan pasar, dan lain sebagainya.

Sebaliknya bagi penghindar resiko, maka cenderung untuk mengambil jenis franchise yang telah lebih lama established untuk meminimalkan resiko, dengan konsekuensi bahwa waralaba tersebut telah memiliki jauh lebih banyak unit/cabang, biaya setup yang lebih tinggi, dan menawarkan lebih sedikit kemudahan sehubungan lebih banyak peminatnya.

Terlepas dari baru atau lamanya sebuah waralaba, hal terpenting yang perlu diketahui adalah konsep bisnis dari sebuah waralaba, apakah cukup solid, memiliki target/potensial market yang baik, dan sesuai dengan minat calon terwaralaba?

Untuk mengetahui hal ini perlu dilakukan riset, yang dapat dimulai dengan menghadiri expo franchise dan meminta business proposal kit dari pewaralaba. Di luar negeri kit sejenis ini telah menjadi standar, dimana pewaralaba telah menyiapkan berbagai media cetak dan video untuk memberikan penjelasan mengenai bidang usahanya agar pencari informasi bisa mendapatkan pemahaman yang baik mengenai usaha franchisor.

(artikel oleh: franchise-id.com)
http://www.franchise-id.com/101tips/franchise-baru-atau-lama.php
Read more...

Apakah 3 to 6 itu?

Thursday, January 10, 2008

Pusat pengembangan anak 3to6 adalah bagian dari ILP Group dan ILP (International Language Programs), yaitu pemimpin pasar dunia pendidikan yang terpercaya.
ILP melihat pertumbuhan akan suatu program pengembangan yang khusus diciptakan bagi anak-anak usia dini yaitu Bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

Walaupun diciptakan oleh ILP, 3to6 bukan merupakan bagian dari program kursus bahasa ILP. Pusat perhatian 3to6 berbeda, sesuai dengan namanya, lebih fokus pada pendidikan anak-anak.

Mengenal Bahasa Inggris bisa menjadi menyenangkan. 3to6 akan menjadi tahap pengenalan Bahasa Inggris pertama bagi anak-anak untuk terlibat secara aktif dalam beraktivitas dan gerakan motorik dalam lingkungan berbahasa Inggris.

Ayo bermain dan belajar bersama!
3to6 adalah lembaga pendidikan yang mengembangkan kreativitas anak dengan melibatkan orang tua untuk bersama-sama mengenal Bahasa Inggris.

3to6 diperuntukkan bagi anak-anak usia 3 sampai 6 tahun. Anak-anak akan di bagi ke dalam 3 level kelas; Mini Stars untuk anak-anak 3-4 tahun, Little Stars untuk anak-anak 4-5 tahun dan Super Stars untuk anak-anak 5-6 tahun. Masing-masing kelas akan berjalan selama + 1 tahun dan anak-anak bisa bergabung kapan saja.

Di 3to6 kami berkomitmen untuk menciptakan:
* Program pendidikan yang berkualitas dimana kemampuan bersosialisasi, pengembangan emosi dan kognitif, fisik dan kreativitas anak-anak ditingkatkan secara maksimal
* Kesempatan belajar yang bervariasi sehingga sesuai untuk anak-anak dari segala latar belakang
* Mengenal bahasa Inggris dengan bimbingan tim pengajar yang berpengalaman, terlatih dan penuh perhatian.
* Lingkungan pendidikan yang mengikutsertakan keluarga untuk ikut terlibat dalam pengajaran dan permainan

Di 3to6 anak-anak akan di latih untuk:
* Berpetualang
* Berkreasi
* Berkomunikasi
* Berinteraksi
* Bersosialisasi
* Memecahkan masalah
Read more...

Terjun Langsung Ke Dunia Usaha...!

Wednesday, January 9, 2008

Di dalam milis wirausaha, kerap kita jumpai e-mail yang nadanya menghimbau seseorang untuk segera terjun ke dunia usaha. Kata-kata himbauannya kira-kira seperti ini : Langsung aja mandi, gak usah kebanyakan mikir....!

E-mail seperti itu sudah sering muncul di berbagai milis internet. Namun demikian, kenyataan tetap memperlihatkan, bahwasanya pendamba kewirausahaan yang masih belum berani terjun total, jumlahnya cukup banyak. Ada yang masih bertahan dalam status sebagai pegawai orang lain, dan ada juga yang setelah sekian lama, masih saja dalam keadaan bertanya-kanan-bertanya-kiri tanpa tujuan yang jelas. Lho, kenapa begitu?

Saya sangat setuju dengan himbauan langsung terjun ini. Sebab benar, kalau terlalu banyak pertimbangan ini-itu, biasanya minat tinggallah minat, yang selamanya tidak kunjung menjadi kenyataan. Namun demikian, saya merasa perlu memberikan tambahan kata-kata: dengan catatan. Catatan apa?
Catatan bahwa sebelum terjun, calon pengusaha seyogyanya sudah mempunyai sebuah peta perjalanan yang benar dan baik. Benar artinya sesuai dengan yang dibutuhkan, baik artinya dilengkapi data-data yang terpercaya.

Ambil contoh, kalau kita ingin berlayar dari Jakarta menuju Sorong di Papua, maka harus ada peta yang akan menuntun kita melayari rute-rute pelayaran yang aman. Dengan peta yang sama kita juga akan dapat menentukan tempat-tempat di mana akan transit, seperti Surabaya, Makassar, Ambon untuk selanjutnya sampai di Sorong.

Bayangkan kalau kita tidak mempunyai peta sama sekali, betapa besarnya risiko pelayaran tersebut?

Apa yang dimaksud dengan peta perjalanan dalam urusan memulai sebuah bisnis, tidak lain adalah sebuah rencana usaha, atau dalam istilah yang umum, disebut Business Plan (BP).
Dengan BP inilah, seorang kandidat pengusaha akan dapat memantapkan kepercayaan dirinya, untuk tidak ragu-ragu terjun serius ke dalam bisnis. Sebab, ia akan tahu secara pasti apa sebenarnya tujuan usahanya (visi), sebagaimana dalam contoh di atas, seakan-akan pelayarannya telah ditetapkan menuju kota Sorong. Ia akan tahu pula, misi-misi apa sajakah yang harus dilakukan, yang digambarkan bagaimana perjalanannya akan melalui kota-kota Surabaya, Makassar dan Ambon untuk transit.

Di samping itu, dengan BP, seorang pengusaha menjadi arif untuk tidak memasuki bidang-bidang yang berisiko bagi bisnisnya, sebagaimana kapalnya akan berlayar menjauhi tempat-tempat berbahaya yang penuh batu karang, alur badai dan lain sebagainya. Ia pun akan mengerti dari mana ia akan memperoleh dan mengelola sumber-sumber daya yang diperlukan, termasuk sumber daya keuangan, seperti halnya bagaimana ia akan mendapatkan bahan bakar saat memulai pelayaran, dan bagaimana pengisian selanjutnya di perjalanan.

Tidaklah cukup terjun ke dunia usaha yang maha luas # yang luasnya bagaikan lautan tak bertepi # hanya berbekal motivasi saja. Memang motivasi adalah modal dasar kita untuk melakukan segala sesuatu, karena tanpa motivasi orang akan loyo sebelum bertindak apa pun. Namun demikian, tanpa sebuah peta yang benar dan baik, kemungkinan terbesarnya kita akan menemui risiko yang bukan tidak mungkin akan berakibat fatal bagi bisnis, sekaligus masa depan kita. Tidak peduli seberapa besar pun motivasi yang kita miliki.

Stephen Covey mempunyai penggambaran yang menarik tentang motivasi ini. Ia mengandaikan, kalau seseorang ingin berkendara berkeliling di dalam kota Michigan, sedangkan orang itu tidak mempunyai peta kota tersebut, lalu malah meggunakan peta kota Detroit, maka semakin tinggi motivasinya, makin cepat pula ia akan tersesat.

Kita tidak akan menutup mata akan adanya beberapa orang tertentu yang dengan berani terjun ke dunia bisnis tanpa panduan apa pun pada awalnya, dan sukses! Akan tetapi, berapa banyak jumlah orang yang demikian? Terus terang saya tidak mempunya data yang akurat tentang hal tsb., tapi menurut pengamatan jumlahnya tidak akan banyak, 10% pun sudah terlalu banyak. Dari sejumlah kasus seperti itu, umumnya yang berperan adalah faktor keberuntungan, yang tentu saja tidak akan dapat menjadi acuan bagi kita.

Mungkin Anda pernah membaca tentang sejarah asal muasal nenek moyang bangsa Indonesia? Literatur mengatakan bahwa bangsa kita ini sebenarnya berasal dari sebuah daerah di Asia, yang waktu itu dinamakan India Belakang. Kalau tidak salah, letaknya kira-kira berdekatan dengan negeri Vietnam sekarang ini.

Nah, waktu itu, disebabkan musim paceklik dan bencana alam, ditambah lagi dengan kezaliman penguasa, beribu-ribu penduduk melakukan eksodus, melarikan diri dengan kapal-kapal kayu mengarungi samudera maha luas untuk mengungsi. Mereka memutuskan pergi ke arah selatan dengan harapan akan menemukan sebuah negeri baru yang masih kosong untuk dapat mereka tinggali. Maka tanpa persiapan yang memadai, ribuan orang itu pun beramai-ramai berlayar ke selatan menggunakan ratusan bahkan ribuan kapal-kapal kecil yang terbuat dari kayu.

Apa yang terjadi? Sebagian kecil dari mereka, tidak sampai 30% nya selamat mencapai daratan baru yang dinamakan Nusantara, tapi sebagian besarnya, lebih dari 70% gagal mencapai tujuan. Sebagian tenggelam di tengah laut dan menjadi mangsa ikan hiu, sebagian lagi tersapu badai hilang entah ke mana, dan selebihnya mati karena sakit dan kelaparan.

Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa sejarah ini adalah bahwa barang siapa terjun ke suatu kancah perjuangan tanpa persiapan yang matang, apalagi tanpa persiapan sama sekali, maka kemungkinan survivalnya adalah kecil sekali, tidak sampai 30%, bahkan mungkin jauh lebih kecil lagi.

Saya, dan tentu saja kita semua, pasti tidak menginginkan ada kejadian di mana calon-calon wirausahawan Indonesia yang jumlahnya ribuan, terjun berama-ramai ke dalam dunia wiraswasta begitu saja tanpa berbekal peta yang benar dan baik, untuk kemudian sebagian besar lenyap tersapu bersih oleh ganasnya lautan dunia usaha, atau menjadi mangsa binatang-binatang bisnis (business animal) yang buas atau mungkin juga tersesat di rimba raya perdagangan dan industri, sampai kehabisan sumber daya sama sekali.

Saya sedih dan terharu ketika beberapa waktu yang lalu, sempat membaca e-mail seorang rekan yang menceritakan bagaimana ia, karena begitu terobsesi dengan buku-buku seri financial freedom dari Robert Rich Dad Poor Dad Kiyosaki, dengan serta merta melepaskan pekerjaan dan jabatan yang mapan di Citibank Jakarta, untuk kemudian terjun penuh ke dunia bisnis.

Ternyata, keputusan yang hanya didasari oleh motivasi menggebu-gebu itu memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa cuma dalam waktu relatif singkat, ia harus kehilangan segala-galanya. Menjadi miskin dan harus mencari-cari pekerjaan baru guna mengulang perjalanan karir kembali dari bawah, dan saya lebih terharu lagi ketika rekan ini pada baris-baris terakhir e-mailnya dengan jiwa besar dan patriotik sekali mengaku tidak menyesal dan suatu saat akan kembali ke dunia wirausaha..

Dunia bisnis adalah sebuah kancah perjuangan. Kalau kita bandingkan itu sebagai sebuah peperangan, maka panglima perang Sun Tzu pernah bersabda: Apabila Anda menginginkan kemenangan di medan perang, maka terlebih dahulu Anda harus mengenal dengan baik keadaan sekitar, sungai-sungai, gunung-gunung serta hutan-hutan yang ada, dengan demikian baru pintu kemenangan akan terbuka untuk Anda ..

Safety Net
Masih takut untuk terjun segera ke dunia usaha?
Kalau sebuah Business Plan belum cukup untuk membuat Anda berani terjun berbisnis, maka ijinkan saya untuk berbagi beberapa kiat tambahan guna memberikan rasa aman lebih jauh. Kiat-kiat ini, fungsinya mirip dengan perangkat safety net, semacam jaring pengaman yang biasa digunakan oleh para pemain akrobat, khususnya pemain trapeze. Dengan demikian, bila Anda jatuh, masih ada sesuatu yang akan menjaga keselamatan Anda sehingga tidak perlu mengalami bencana yang terlalu fatal.

Memulai Usaha Tidak Berarti Harus Menyediakan Sejumlah Uang: Kebanyakan orang mengartikan mulainya sebuah usaha identik dengan keharusan menyediakan sejumlah besar uang untuk investasi awal. Apakah itu untuk kantor, pabrik, peralatan, overhead dan lain sebagainya. Sebenarnya, tidaklah harus demikian. Sebuah upaya kewirausahaan dapat dimulai tanpa investasi apa pun. Modal dengkul pun bisa.

Pada kesempatan mendatang saya akan sampaikan sebuah artikel, bagaimana seorang wirausahawan dapat mengembangkan diri mulai dari modal dengkul, sampai dapat berbisnis helikopter. Oleh sebab itu, camkanlah bahwa Anda tidak boleh dan tidak usah mengeluarkan dana apa pun di awal usaha.

Pergunakan Potensi Orang Lain: Prinsip BODOL (Bisnis Optimis Duit Orang Lain) adalah prinsip yang benar, selama Anda dapat memegang etika bisnis dengan baik. Kalau Anda mempunyai sebuah konsep usaha yang bagus, Anda dapat menuliskannya dalam sebuah proposal yang menarik, lalu cari seseorang dari kuadran I (Investor) untuk bekerja sama.

Pergunakan Kemapanan Bisnis Orang Lain: Ini adalah sebuah konsep yang sudah sangat dikenal, wujudnya antara lain bisa berupa franchise atau semacamnya.

Berbagi Tugas Strategis Dengan Istri/Suami: Kiprah Anda di dunia usaha akan jauh lebih aman kalau Anda berbagi tugas dengan pasangan, yaitu sementara Anda berjuang di dunia kewirausahaan, istri atau suami tetap bekerja sebagai karyawan. Dengan demikian, pengeluaran rumah tangga dapat dialokasikan pada penghasilan pasangan Anda, dan tidak boleh diganggu gugat untuk keperluan bisnis. Dan banyak Lagi.

Saya berharap, tulisan ini sedikit banyak akan dapat memberi sumbangan bagi rekan-rekan wirausahawan guna menambah wawasan pemikiran sekaligus membantu rekan-rekan lain yang mungkin masih merasa gamang untuk terjun langsung ke dunia bisnis. Bagi yang barangkali masih belum terlalu familiar dengan apa yang disebut Business Plan dan ingin berdiskusi lebih jauh, silahkan menghubungi saya.

Pada kesempatan mendatang, mudah-mudahan saya akan bisa menyusulkan sebuah tulisan lagi tentang bagaimana tidak terjun, melainkan turun perlahan ke dunia bisnis dengan bantuan tali pengaman.

Salam sukses,
Rusman Hakim

Pengamat Kewirausahaan
Email: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Group: gacerindo-club@yahoogroups.com
Mobile: 0816-144.2792
sumber: Gacerindo.com
Read more...

Carrefour Dikhawatirkan Gusur Peritel Lokal

Wednesday, January 2, 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Akuisisi Alfa oleh Carrefour dikhawatirkan tidak hanya akan menggusur pasar tradisional, tapi juga peritel moderen lokal. Sebab, dengan akuisisi itu, Carrefour dapat ekspansi dalam bentuk minimarket yang hanya boleh dimiliki pemain lokal.

Di dalam revisi Peraturan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi yang terbaru, disebutkan perusahaan terbuka diperlakukan sama dengan perusahaan lokal. Artinya, perusahaan terbuka boleh memiliki minimarket dengan luas kurang dari 1.200 meter persegi.

"Kalau akuisisi itu terjadi, maka lengkap dan sempurnalah asing menjajah Indonesia," ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia Susanto pada Tempo, Rabu (2/1) di Jakarta. Pasalnya, menurut dia, ritel sebagai sektor yang sangat krusial karena menyangkut hajat hidup orang banyak. "Jika sektor ini sudah dikuasai asing, bahkan dalam bentuk terkecil yang terdekat dengan masyarakat, maka asing bisa menentukan mulai dari jenis hingga harga dari produk yang banyak dikonsumsi masyarakat," kata Susanto.

Seperti diberitakan, 17 Desember lalu PT Carrefour Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan pemegang saham utama Alfa, PT Sigmantara Alfindo dan Prime Horizon Pte Ltd. Selanjutnya Carrefour akan memulai negosiasi untuk memiliki 75 persen saham Alfa.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta mendukung proses akuisisi itu. Tapi ia meminta Carrefour pasca-akuisisi tetap konsisten berusaha di bidang hipermarket, tanpa harus memperluasnya menjadi supermarket atau minimarket. "Rantai makanan harus tetap seperti awal mulanya. Hipermarket harus tetap menjadi hipermarket, bukan menjadi supermarket atau di bawahnya agar tidak menjadi pemain dominan di ritel," papar Tutum.

Untuk mencegah hal itu, menurut dia, seharusnya pemerintah lebih jeli dalam membuat aturan teknis--turunan--dari Daftar Negatif Investasi tersebut. "Harus ada aturan detil bahwa pemilik lokal minimarket itu walaupun boleh yang sudah masuk bursa, tapi misalnya: manajemen tidak boleh dikuasai asing dan tidak boleh ada nama pemain asing dalam akta jual beli yang dikeluarkan notaris," jelasnya. Dengan begitu, menurut dia, pemain lokal yang benar-benar memiliki minimarket dengan sistem waralaba tersebut. "Dan hal ini senapas dengan semangat pemerintah daerah yang membatasi izin minimarket," tutur Tutum.

Seperti diketahui, pemerintah daerah Jakarta telah menhentikan sementara izin usah aminimarket selama tahun 2007, sebab saat ini jumlah minimarket yang semakin menjamur. Kendati pertumbuhan ritel telah banyak menggerakkan perekonomian kota, tapi pemerintah menilai perlu dilakukan penataan serta selektif dalam pemberian izin karena beberapa daerah sudah mengalami kejenuhan jumlah ritel atau minimarket.

R.R. Ariyani
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2008/01/02/brk,20080102-114648,id.html Read more...

Waralaba: Bisnis yang Terus Tumbuh

Tuesday, January 1, 2008

Oleh : Firdanianty/SWA

Kendati banyak yang berguguran, bisnis waralaba terus berkembang, baik yang ingin membeli maupun yang menawarkan kian bertambah. Namun, investor tetap dituntut hati-hati bila tak ingin uangnya menguap.

Di penghujung 2003, Immanuel Kusnadi iseng-iseng mengunjungi pameran franchise di Jakarta Convention Center. Dari sekian banyak tawaran untuk menjadi franchisee – pembeli hak franchise (waralaba) – di pameran itu, matanya tertuju pada satu stan yang cukup ramai didatangi pengunjung: MultiPlus Business Center. Dari pemaparan yang dijelaskan penjaga stan, ia melihat waralaba ini memiliki keunikan dan keunggulan yang tak dimiliki pemain lain.

“Uniknya, waktu itu belum ada konsep business centre yang mencuat,” ujar Kusnadi yang pernah bekerja di restoran siap saji Wendy's area Hong Kong dan Indonesia. Kebetulan pula, jumlah pemain di industri ini belum banyak. Kendati masih jarang, ia menilai, bisnis seperti ini makin dibutuhkan masyarakat. Karena alasan itulah, Kusnadi memutuskan membeli waralaba ini.

Namun, sebelum sampai pada keputusan membeli, ia memberanikan diri meminta referensi dari franchisor untuk melihat franchisee yang sudah berjalan. Ketika itu, jumlah gerai yang dikelola MultiPlus baru empat. Dan, satu gerai di antaranya baru berjalan beberapa bulan.

Meskipun jumlahnya belum banyak, langkahnya menjadi franchisee tidak surut. Kini, setelah berjalan selama hampir empat tahun, profesional di bidang teknologi informasi ini mengaku happy menekuni business office-nya. Ia berpendapat, selaku franchisor, MultiPlus memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan produk-produknya. Hingga sekarang, penghasilan Kusnadi dari gerai yang dikelolanya terus tumbuh, rata-rata 15%-20% per tahun.

Pengalaman Ricky Irawan lain lagi. Pemilik lima gerai Indomaret ini mengaku membeli waralaba ini lantaran tertarik mendengar kisah temannya yang sudah sukses lebih dulu. “Teman saya cerita betapa enaknya menjadi franchisee Indomaret. Semuanya sudah diatur secara profesional. Tidak perlu capek mengurusi tetek bengek operasional.

Kami memang diberi opsi bila ingin menyediakan karyawan sendiri. Namun, tentu saja kemampuan karyawan harus sesuai dengan kualifikasi standar Indomaret. Kami tidak mau repot-repot, serahkan saja pada Indomaret,” paparnya enteng.

Cerita sukses menjalani bisnis waralaba sudah sering kita dengar. Toh, tak sedikit pula di antara mereka yang terpaksa kecewa karena bisnis yang dikelolanya tidak semanis yang dijanjikan franchisor. Andrew Mulianto, misalnya, mengisahkan kawannya yang mempunyai gerai Bakmi Japos di salah satu kota di Jawa Barat. Sang teman tergiur membeli hak waralaba karena dinilainya menarik dan cukup prospektif. Ternyata, gerainya hanya mampu bertahan 6 bulan, setelah itu ditutup.

Berdasarkan pengamatannya, Andrew berpendapat, beberapa waralaba sekarang sudah memasuki tahap seleksi. Bahkan, “Banyak pemain yang pasarnya sudah terlalu sempit,” ujarnya menambahkan. Dulu, ia sempat tertarik mengelola Apotek K24, tetapi niat itu dia urungkan. “Investasinya cukup besar, sekitar Rp 600 juta. Tapi setelah dihitung-hitung biaya operasionalnya juga tinggi, sementara pendapatannya tidak besar,” tuturnya memberi alasan.

Setelah mencari-cari, tahun lalu Andrew memutuskan membeli hak waralaba TX Travel. “Saya tertarik membeli franchise ini karena pemiliknya (Anthonius Teddy – Red.). Dari beberapa pameran waralaba, konsep dan pemikiran pemilik TX Travel berbeda,” ujar mantan karyawan perusahaan farmasi ini. Selain itu, Andrew menilai, untuk bisnis travel, pasarnya masih menjanjikan. Terbukti, tiap bulan TX Travel meraup omset sekitar Rp 200 juta.

Berbicara maraknya bisnis franchise, sejatinya bukan cerita baru. Dari tahun ke tahun perkembangan bisnis ini di Tanah Air cukup pesat. Berdasarkan data The Bridge Franchise Consultant, SWA mendapat gambaran bahwa market size bisnis waralaba selama tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang signifikan. Dilihat dari total franchise yang ditawarkan di Indonesia, terjadi lonjakan yang tinggi pada 2004-2005.

Di tahun 2004, jumlah yang ditawarkan ke pasar: 284 waralaba. Setahun kemudian berkembang menjadi 403 waralaba. Berarti, ada 119 franchise baru yang muncul dalam satu tahun. Hingga akhir 2007, jumlah itu diperkirakan tumbuh menjadi 600, dan tahun depan diduga mencapai 700 franchise.

Sayangnya, tak semua mampu bertahan hidup dalam kurun waktu lama. Dari tahun ke tahun, jumlah waralaba yang ditutup juga semakin banyak. Tahun 2004 yang ditutup hanya 6% dari jumlah yang ditawarkan; dua tahun berikutnya (2006) meningkat menjadi 14%; dan di 2007 diperkirakan mencapai 21%.

Di antara 10 kategori yang diwaralabakan, bisnis restoran dan kafe paling banyak ditawarkan ke pasar. Market size-nya juga paling besar, rata-rata tumbuh lebih dari 20% per tahun. Di bawahnya bisnis kios, yang tahun lalu tumbuh 19%. Lembaga pendidikan yang diwaralabakan juga semakin banyak. Tahun lalu, jumlahnya meningkat 16%, atau 2% lebih tinggi dibanding 2005 yang tumbuh 14%.

Beberapa orang yang diwawancarai SWA mengakui pesatnya pertumbuhan bisnis franchise. Konsultan AK & Partners, Amir Karamoy umpamanya, mengungkapkan, sejak tiga tahun terakhir pertumbuhan pasar franchise memang luar biasa. Untuk waralaba lokal ia memperkirakan pasarnya tumbuh berkisar 8%-9% per tahun.

Adapun waralaba asing meningkat 12% -13% per tahun. ”Persentase ini diukur dari pertumbuhan gerai franchise atau franchisor-nya,” Amir menjelaskan. Di samping itu, dari segi merek yang diwaralabakan mengalami pertumbuhan pula.

Di tempat lain, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menyoroti perkembangan bisnis ini dari jumlah omset yang terus menggelembung. Memang, tidak ada angka pastinya. Namun, AFI memperkirakan, omset bisnis waralaba di Indonesia melonjak cepat sejak 2001-2006.

Tahun 2001 omsetnya sekitar US$ 3 miliar (setara Rp 27 triliun); sedangkan di 2006 naik dua kali lipat menjadi US$ 6 miliar (setara 54 triliun). Menurutnya, omset itu berasal dari gabungan pemain asing dan lokal, termasuk kesempatan bisnis (business opportunity) yang belakangan makin banyak jumlahnya. Menggiurkan memang. Akan tetapi, itu belum seberapa dibandingkan dengan omset bisnis serupa di negara-negara lain.

Masih merujuk data AFI, pada 2003 omset bisnis sejenis di Taiwan mencapai US$ 13 miliar. Bahkan di Belanda – yang luasnya hanya sepertiga Pulau Jawa – omset bisnis ini pada 2003 mencapai US$ 16 miliar. Sementara itu, dilihat dari jumlah waralaba yang beroperasi di Indonesia, dapat dikatakan perkembangan pesat terjadi sebelum krisis melanda negeri ini.

Pada 1992, waralaba asing yang beroperasi di Indonesia berjumlah 29, sedangkan lokal baru 6. Tiga tahun kemudian, asing melonjak menjadi 117, terpaut jauh dari lokal yang hanya 15. Hingga 2005, jumlah franchise asing masih lebih banyak dibanding lokal, atau 237 dibanding 129. Namun, memasuki 2006 makin banyak pebisnis lokal yang mewaralabakan usahanya, sehingga jumlah waralaba lokal berhasil melampaui asing.

Dari total 450 waralaba yang beroperasi di Indonesia, AFI memprediksi, jumlah gerai yang dimiliki mencapai lebih dari 10 ribu. Keberhasilan ini tentu saja berdampak positif terhadap terbukanya lapangan kerja baru. Bila diasumsikan satu gerai dapat menampung lima orang tenaga kerja, maka diperkirakan saat ini ada sekitar 50 ribu tenaga kerja yang berkontribusi langsung terhadap perkembangan bisnis ini.

Toh, Amir melihat, yang pertumbuhan gerainya terlalu cepat biasanya tidak bertahan lama. Ia mencontohkan salah satu waralaba burger – sayang ia tak berkenan menyebutkan mereknya – yang tiap bulan bisa membidik 20-30 franchisee. “Menurut saya mereka ini bukan menjalankan pola franchise,” katanya berkomentar. Sebab, lanjutnya, tidak mudah menjalankan bisnis ini bila dilakukan secara benar.

Umumnya, bisnis-bisnis yang tumbuh cepat hanya menjual merek dengan syarat membeli produk dari pemiliknya – dalam istilah Anang disebut business opportunity. Dengan pola demikian, Amir menilai, tidak ada baik pembinaan maupun bantuan dalam bentuk pelatihan yang diberikan pemilik kepada pembeli merek. ”Pembeli merek langsung dilepas,” tandas Amir.

Dengan cara demikian, indikator kegagalannya jelas tinggi. Buktinya, Amir merekrut 30 member, 20 di antaranya tidak bisa bertahan hidup. “Menurut catatan saya, yang gugur, 60%-nya adalah franchise lokal, sedangkan asing relatif bagus,” katanya sambil menambahkan bahwa asing yang gugur tidak banyak, berkisar 2%-5% saja.

Ia menilai, waralaba asing mempunyai persiapan yang lebih matang untuk berkembang. ”Itu sebabnya, susah mendapatkan franchise asing,” ujarnya. Anang mengatakan, sukses-tidaknya bisnis ini bisa dilihat dari pertumbuhan angka penjualan, pangsa pasar dan neraca rugi-laba selama tiga tahun terakhir. Bila bisa memperlihatkan keuntungan selama tiga tahun terakhir, bisa dikatakan sukses.

Ukuran lainnya, dapat dilihat dari jumlah gerai yang dimiliki. Bila jumlah gerai masih di bawah 100, ia beranggapan, yang bersangkutan belum layak dikatakan sukses. Bagaimana dengan pertumbuhan gerai Indomaret dan Alfamart yang sudah mencapai ribuan? Menanggapi pertanyaan ini, Anang menilai, kedua minimarket ini belum bisa dianggap sukses 100%, sebab manajemen stok masih di bawah kendali franchisor. ”Pengelolaan penyediaan barang masih dipegang franchisor,” tukasnya.

Selama ini kedua minimarket itu lebih banyak bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki uang, tapi tidak terjun langsung mengelola usahanya. Terlepas dari penilaian tersebut, harus diakui, di antara beragam jenis waralaba yang ditawarkan di pasar, kedua minimarket itu termasuk yang paling diminati investor. Tak heran, perkembangannya demikian pesat hingga mampu membiakkan ribuan gerai di seluruh Indonesia.

Seperti diungkapkan Direktur Pengembangan Bisnis PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT) Joseph Hendra, hingga Desember 2006 jumlah gerai milik Alfamart mencapai 1.750. Tahun ini, pengembangan gerai ditargetkan hingga 1.900. “Kami berharap, 500 gerai di antaranya adalah milik mitra kami,” ujar Joseph.

Saat ini, lanjutnya, bentuk kerja sama yang ditawarkan ada dua kategori. Pertama, membidik orang-orang berduit. Kedua, membantu instansi dan masyarakat kecil yang ingin bermitra, disebut operator mandiri. Konsep ini mulai disosialisasi tahun 2003. Selama dua tahun terakhir, ia mengakui, jumlah peminat operator mandiri semakin banyak. Tahun ini, ia berharap jumlah mitra yang berasal dari operator mandiri mencapai 500 gerai.

Diakui Joseph, konsep operator mandiri berbeda dari waralaba. Bedanya? Konsep waralaba ditujukan bagi masyarakat yang ingin berbisnis dan memiliki kemampuan finansial, termasuk menyediakan toko. Untuk menjadi pewaralaba di Alfamart, investor perlu menyiapkan investasi sebesar Rp 250-350 juta, belum termasuk investasi toko. Selain itu, pemilik modal diwajibkan membayar fee waralaba senilai Rp 75 juta untuk periode lima tahun. Sementara itu, operator mandiri ditujukan bagi masyarakat yang ingin berwirausaha.

Bagi yang tidak memiliki modal, investasi awal akan dibantu oleh Alfamart yang bekerja sama dengan lembaga keuangan bank dan nonbank. Jadi, mitra hanya menyiapkan tempat. Selanjutnya, Alfamart memberikan investasi awal senilai Rp 180-200 juta untuk membuat perlengkapan dan peralatan toko, seperti rak dan AC, serta memasok barang dagangan.
Pengembalian investasi maksimum dilakukan empat tahun, atau memotong keuntungan bersih yang diperoleh sesuai dengan kesepakatan awal.

Joseph membenarkan, persaingan di waralaba ritel seperti Alfamart semakin ketat dan selektif. Bahkan, menurutnya, ada yang nekat melakukan strategi banting harga. “Franchise fee yang semula ditawarkan Rp 75 juta, kini hanya Rp 36 juta dengan other income dipatok Rp 2 juta per bulan. Artinya, dalam waktu lima tahun (60 bulan), perolehan other income sebesar Rp 120 juta,” paparnya.

Di lain pihak, Alfamart yang mencetak rekor MURI sebagai minimarket pertama di Indonesia yang memperoleh ISO 9001 ini mematok fee royalti sekitar Rp 45 juta dengan other income Rp 6 juta per bulan (6 x 60 bulan = Rp 360 juta). “Kadang-kadang franchisee terkecoh.

Di awalnya terlihat pesaing lebih murah Rp 9 juta. Namun di dalamnya ada other income senilai Rp 6 juta,” ungkap Joseph yang telah 33 tahun berkarier di dunia ritel.Hubungan yang baik antara franchisor dan franchisee, diakui Deputi Direktur Pengembangan Waralaba SAT Maria Harjono, merupakan kunci keberhasilan waralaba.

Ia menuturkan, sejauh ini kemitraan yang dijalankan SAT dengan para franchisee berlangsung transparan. ”Di awal kerja sama kami memaparkan sejumlah risiko yang muncul dalam mengelola bisnis ini. Persaingan yang ketat karena harus berbagi kue dengan pemain lain, mengharuskan mitra Alfamart lebih kreatif untuk memenangi persaingan,” Maria menjabarkan. Di samping itu, Kami mengupayakan memilih calon yang mau terjun langsung mengelola tokonya agar lebih mudah mengontrolnya,” ia menambahkan.

Berkaitan dengan konsep operator mandiri, Joseph memberi contoh kerja sama yang dilakukannya dengan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Darunnajah. Dijelaskannya, pesantren yang berlokasi di daerah Ulujami, Jakarta Selatan ini sudah memiliki dua gerai minimarket Alfamart yang kerja samanya dimulai tahun 2001.

Minimarket ini dikelola dengan sistem kekeluargaan, di mana para pengelolanya adalah para santri sendiri. ”Mereka membuat usahanya terus berkembang. Selama ini keuntungannya dibagi kepada setiap karyawan, persis seperti manajemen koperasi,” tambah Maria yang ditimpali Joseph, hasil survei AC Nielsen tahun lalu menyebutkan Alfamart lebih ramah dalam melayani pengunjung.

Sisi lain yang menarik diikuti dari industri ini adalah munculnya bisnis-bisnis baru yang diwaralabakan pemiliknya. Perhatikan saja, siapa menyangka bisnis penukaran valuta asing (valas atau money changer) bisa diwaralabakan? Agus Widodo, pemilik PT Tren Valasindo berani membuktikan. Bisnis yang didirikan Agus tahun 2002 ini ditawarkan dengan sistem waralaba sejak 2006. ”Saat ini baru dua gerai yang di-franchise-kan, menyusul satu gerai akan diresmikan bulan April ini,” ungkapnya.

Kendati membangun bisnis ini tidak semudah bisnis-bisnis lain, Agus optimistis tahun ini bisa menambah 10 gerai lagi. “Dalam satu bulan ke depan sudah ada 3-4 investor yang siap membuka gerai,” katanya sumringah. Diakui Agus, franchise yang satu ini terbilang baru di Indonesia. Namun, ia melihat pasar ceruk (niche market)-nya masih terbuka lebar. Tingkat kompetisinya pun tidak seketat bisnis resto dan kafe. Hingga sekarang, baru Tren Valasindo saja yang berani mewaralabakan bisnisnya.

Pemain money changer lain, sepertinya belum ngeh bahwa bisnis ini pun bisa diwaralabakan. Karena itu, sementara waktu Agus merasa belum punya pesaing. ”Bisnis ini masih prospektif untuk dipilih,” kata mantan karyawan Bank Bali ini berpromosi. Perjalanan staf pengajar di Entrepreneur University ini awalnya sempat mengalami kendala.

Menurut Agus, ia mulai menawarkan sistem franchise tahun 2004. Namun, gerai pertama yang dibangun berdasarkan sistem ini baru terealisasi dua tahun kemudian. Maklum, Agus menyebutkan, modal awal membangun bisnis ini lumayan besar, sekitar Rp 1 miliar. Lagi pula, masyarakat beranggapan, mendirikan money changer harus memiliki ilmu di bidang valas.

Karena itu, pasar yang dibidik sangat spesifik, yaitu para pensiunan yang sebelumnya bekerja di lembaga keuangan dan memahami tentang pengelolaan money changer. Alhasil, meski jumlah gerai yang dimilikinya sedikit, dari sisi keuntungan ia boleh berbangga.

Asal tahu saja, gerai pertamanya mampu mencetak pendapatan Rp 24 miliar sebulan. Wow! ”Tak sedikit perusahaan asing yang menjadi nasabah kami,” ujarnya mengklaim.
Yang pasti, ia tak segan membantu para franchisee-nya, seperti memberikan sejumlah database pelanggan.

Yang tak kalah menarik, di antara pemegang master franchise dari luar negeri, banyak yang akhirnya ketagihan mengambil waralaba lain setelah sukses menjalankan bisnis pertama. Novita Tandry, misalnya. Pemegang master franchise Tumble Tots Indonesia – lembaga pendidikan anak asal Inggris – ini, beberapa waktu lalu mengambil waralaba dari Jepang. Hanya saja, bisnis yang dipilihnya kali ini berbeda dari sebelumnya, yaitu salon bernama Quick Cut.

Bisnis ini diliriknya lantaran memiliki keunikan. ”Semua peralatan yang digunakan di Quick Cut sebelumnya disterilkan dulu,” ungkapnya membeberkan. Menurut wanita kelahiran 1971 ini, cara itu bertujuan menghindari tertularnya penyakit kulit.

Keunikan lainnya, ia menambahkan, sesuai dengan nama yang disandangnya, Quick Cut memiliki kecepatan dan ketepatan dalam memotong rambut. Bila ingin sukses mengelola bisnis franchise, Novita berpesan, pemodal harus melakukannya sendiri. Latar belakang pendidikan psikologi yang dimilikinya, diakui Novita, sangat membantu dalam mengembangkan Tumble Tots.

Sejak diwaralabakan di Indonesia pada 1995, lembaga pendidikan yang menyasar anak-anak usia 6 bulan hingga 7 tahun ini sudah memiliki puluhan cabang. Di sisi lain, para franchisor harus pula berpikir makro. Misalnya, bisnis yang diwaralabakan jenisnya restoran. Maka, si pendiri restoran tidak boleh berpikir asal jual saja.

Amir menjelaskan, konflik yang muncul antara franchisor dengan franchisee biasanya dipicu ketidaksesuaian dalam perjanjian. Misalnya, franchisor tidak bisa memenuhi janji yang disepakati dalam perjanjian awal. Akibatnya, franchisee merasa kurang diperhatikan.

Selain itu, masih menurut Amir, banyak franchisor yang tidak siap menjalani sistem waralaba. Umpamanya, bila suatu saat franchise menambah gerai, berarti jumlah SDM-nya pun perlu ditambah. Penambahan SDM dengan sendirinya meningkatkan biaya. Nah, ketika pelaku usaha memandang biaya sebagai bagian yang mengurangi profit, dia tentu memilih tidak menambah karyawan.

Sebagai ilustrasi, ketika memiliki lima gerai, Anda mungkin cukup mempekerjakan lima karyawan. Akan tetapi, bila jumlah gerai meningkat, misalnya menjadi 20, sudah pasti tenaga kerjanya perlu ditambah. Seandainya ngotot dengan lima karyawan saja, “Ya, pasti nggak jalan dong,” katanya sambil menambahkan, masalah ini sering terjadi di beberapa franchise. Karena itu, Amir menegaskan, dalam membangun bisnis waralaba, yang perlu disiapkan bukan hanya soal kapital. ”Kapital yang besar bukanlah prioritas,” tandasnya.

Untuk bisa sukses di bisnis ini, harus ada budaya korporat dan penerapan manajemen modern. Sejauh ini ia melihat Indomaret dan Alfamart mempunyai sistem yang baik. Sayangnya, kebanyakan franchise masih dikelola keluarga sehingga terkesan tidak transparan. ”Agak sulit menjalankan bisnis dengan manajemen keluarga,” tukasnya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi: mengelola bisnis franchise tidak boleh single fighter. Amir memperhatikan, tak sedikit franchisor yang memegang posisi presdir sekaligus direktur keuangan, direktur pemasaran dan direktur SDM. Dengan model manajemen yang seperti itu, franchisor tinggal menunggu waktu mati saja.

Perubahan yang dilakukan Es Teler 77 mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi franchisor lain yang baru memulai. Terhitung sejak 1994, waralaba ini melakukan rejuvinasi. Gagasan ini, dijelaskan pemiliknya, Sukyatno, didasari pemikiran bahwa ia tidak ingin usahanya mematikan pedagang-pedagang kecil. Karena itu, gerai Es Teler 77 yang berlokasi di pinggir jalan dipindahkan ke mal-mal. Adapun tujuannya, menyejajarkan produk ini dengan franchise asing.

”Saya berasumsi, yang datang ke plaza punya kelas sendiri sehingga Es Teler 77 terhindar dari persaingan dengan pedagang kaki lima,” tutur pelopor bisnis franchise di Tanah Air ini, yang mengaku bangga bila melihat mitranya sukses. Hingga sekarang, gerai yang masih beroperasi mencapai 280, berkurang dari sebelumnya yang berjumlah 300. Penyusutan ini selain disebabkan terbakarnya 13 gerai akibat kerusuhan Mei 1998, juga ada beberapa gerai yang disatukan lalu pindah ke mal.

Perubahan juga dilakukan Sukyatno, sebab ia merasa Es Teler 77 perlu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi bisnis sekarang. ”Kalau masuk ke gerai kami, ada gambar-gambar khas anak muda,” ungkapnya. Memang benar, Sukyatno meredesain gerai-gerainya dan menggeser segmen yang dibidiknya. “Kini bergeser ke anak-anak muda usia 15-20 tahun,” ia berujar.

Di segmen itu, menurutnya, mereka memiliki rentang waktu cukup lama untuk menikmati sajian yang dihidangkan. ”Kalau sudah bekerja dan mulai berduit, mereka tidak lagi tertarik makan Es Teler,” ia menjelaskan Bagaimanapun, aspek manajerial dan kesinambungan bisnis memang harus terus diperhatikan. Sejauh ini, harus diakui, bisnis waralaba cenderung sebagai transaksi jual-beli saja. Pandangan ini barangkali tidak sepenuhnya benar. Namun, dari beberapa konflik yang mengemuka antara franchisor dan franchisee, dapat ditarik pelajaran bahwa bisnis ini sejatinya bukan sekadar menaruh uang lalu terima beres.

Majalah ini tak henti-hentinya mengingatkan bahwa para pemilik dana perlu menyadari, tujuan mereka membeli franchise adalah belajar berwirausaha. Percayalah, di balik kisah sukses seorang entrepreneur, selalu ada kegigihan, keuletan, dan kesabaran untuk menjalaninya. Di luar pertumbuhan yang ada, bisnis ini memang akan dan terus berkonsolidasi dengan hukum yang jelas. Siapa lengah, ia tergilas.

Reportase: J. Ray Agung Pangestu dan Siti Ruslina.
Riset: Leni Siskawati.
Read more...