Dari Kondektur Menjadi Pengusaha Bus

Friday, July 18, 2008

Lewat kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy Jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur bus. Kini bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel, pabrik cat, mal, hingga toko bangunan.

Soal nasib urusan belakang. Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini membuahkan hasil. Grup usaha PT. Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 karyawan.

Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis mal di Brebes, Tegal & Pemalang. "Nasib itu urutan kesekian. Siapa pun yang bekerja keras pasti bisa berhasil," ucap lelaki kelahiran Brebes, Maret 1961 ini mantap.

Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, kerajaan bisnisnya itu ia rintis dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan. "Saya benar-benar mulai dari nol besar," tandas bapak tiga anak ini.

Merintis Sukses Dari Berdagang Bambu

Simak saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu ayahnya bertani di sawah.

Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik Sri Subekti pada 1981. "Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah," tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja serabutan itu.

Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. "Usaha ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua usaha yang tidak bisa saya lupakan," tutur Muhadi.

Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp 470.000 saban bulan.

Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. "Kekurangannya saya pinjam dari bank," ucapnya terus terang.

Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang masa sulitnya menjadi kondektur.

Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan.

Masih Muda Sudah Kaya Raya

Konglomerasi bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai melirik bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih terbuka lebar di Tegal. Selain itu, "Saya ingin menjadi pelopor pengembang pribumi, daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya.

Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di Tegal dan satunya lagi di Brebes.

Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan upakarti dari presiden. "Saya bangga, karena saya ini cuma orang desa," tuturnya merendah.

Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak lepas dari peran bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati sekarang utangnya masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. "Saya baru malu kalau tak bisa membayar," tegasnya.

Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas puas dengan hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas bermewah-mewah dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya sebuah ruang seluas 24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya Cimohong, Bulakamba, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, dari kota kecil inilah Muhadi mengendalikan bisnisnya yang sudah menggurita.

Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan

Sudah lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi. Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya berjalan mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu usahanya yang terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula bioskopnya sempat menjadi maskot dan sasaran hiburan warga Tegal. Namun, usaha itu menjadi berantakan akibat membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah. Bioskopnya menjadi sepi pengunjung dan pemasukannya makin seret hingga berbuntut rugi. Tak heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya itu.

Selain bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada 1997 hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan membutuhkan dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak ada bank yang berani mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah saat itu lantaran imbasnya begitu dahsyat menerpa usahanya. "Berat sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah ada", kenang Muhadi.
Read more...

Sutarjo, Hidupnya Tak Jauh dari Ikan

Tuesday, July 15, 2008

Hidup Sutarjo tak pernah bisa jauh dari hewan berhabitat air itu. Dulunya ia seorang nelayan, sekarang sukses menjadi juragan ikan (bakar) .

Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Banyak yang mempercayai kebenaran ungkapan itu. Maka merantau ke Jakarta tanpa bekal pendidikan, pengalaman kerja, atau mungkin kecukupan modal buat membuka usaha jangan harap mampu bertahan hidup.

Sebab tidak sedikit kejadian, di tengah sengitnya persaingan hidup setumpuk ijasah pun acap tidak membantu banyak alias terbuang percuma.

Tetapi Sutarjo seolah hendak menepis itu. Karena tidak puas selama 12 belas tahun hanya menjalani hidup sebagai nelayan di Pacitan, Jawa Timur, ia nekat mengadu peruntungan di kota. Hanya bermodal satu tekad, ingin mandiri dengan memulai penghidupan baru tahun 1990 ia berangkat ke Jakarta bersama istri dan seorang anaknya. Dan buktinya, setelah sekian tahun segala perjuangannya tidak sia-sia. Nama resto Ikan Bakar “Pak Tarjo” Permata Hijau sekarang telah memiliki beberapa cabang dan selalu ramai. Sedangkan pembelinya mulai dari kalangan orang biasa, artis, dan pejabat.

Sejumlah selebriti, mulai dari penyanyi hingga artis sinetron, semacam Gunawan, Desy Ratnasari, pemeran Ucil, serta para kru sinetron Si Doel Anak Sekolahan dan lain-lain termasuk di antara penggemar ikan hasil bakaran Sutarjo. “Banyak sekali, deh. Terus bapak-bapak anggota MPR/ DPR yang ke sini rasanya tiap hari,” tukas pria ramah ini tanpa memerinci.

Keberhasilan Sutarjo jelas tidak diraih semudah membalik telapak tangan. Mengandalkan ijasah SMP apa lagi tanpa embel-embel sertifikat pengalaman kerja jelas mustahil. Jatuh-bangun sebagai orang susah sempat dialami saat meretas langkah dari nol, dari pengalaman pahitnya ditipu orang maupun upaya keras bekerja siang-malam. “Kalau diriwayatkan kisah saya pahit banget,” tukas pria kelahiran 1968 itu mengawali riwayatnya.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta Sutarjo dan keluarganya menempati kontrakan sempit di daerah Kreo berharga sewa Rp 7 ribu sebulan. Beruntung tidak lama mendapatkan pekerjaan di Cipete sebagai cleaning service. Untuk menghemat pengeluaran dari kontrakan sampai ke tempat bekerja ditempuh dengan berjalan kaki.

Selang dua bulan bekerja Sutarjo memutuskan keluar. Dari uang sisa gaji bulan kedua ia belikan gerobak untuk berdagang sayur keliling. Hanya sekitar dua bulan berdagang, dirinya kembali melamar pekerjaan sebagai satpam dan pindah ke Kampung Rawa. Tetapi ternyata penghidupan sebagai satpam waktu itu juga tidak lebih baik, gaji yang diterima sekadar cukup untuk bayar uang kontrakan. Untuk menyambung hidup hingga sebulan, Sutarjo memberanikan diri meminta kayu kaso dari toko bangunan di depan tempat kerjanya. Akhirnya dengan sisa uang Rp 30 ribu di tangan, istrinya dibuatkan kios rokok di dekat lapangan tenis di daerah Plumpang.

Sekitar setahun kemudian atas ijin istri Sutarjo mencoba lagi berdagang sayur. “Karena gaji satpam tidak memungkinkan, saya keluar,” ujarnya. Lalu berjalan satu bulan kemudian, ia telah memiliki sedikit tambahan modal usaha dan mulai berjualan air minum kemasan meski dengan cara hutang terlebih dulu. “Ceritanya, setelah punya warung rokok, kebetulan ada langganan pedagang teh botol keliling. Karena dagang sayur biasanya hingga pukul 10.00, saya hutang minuman satu dus, jualan lagi di lampu merah,” tuturnya lebih lanjut.

Pria ini benar-benar tak kenal lelah. Pagi-pagi, selesai menyiapkan warung rokok yang dijaga Triyati, istrinya, ia segera berangkat menjajakan sayur-mayur. Rampung berjualan, tanpa beristirahat dulu ia langsung memanggul minuman kemasan untuk kembali berdagang di lampu merah. Sore sekitar pukul 5.00 ia pulang, mandi, shalat, baru menyusul istrinya, ganti menunggui kios rokok sambil menjual mie rebus hingga jam 12.00 malam. Sementara pagi buta, jam 03.00 ia sudah harus ke pasar belanja sayur.

Usaha keras tersebut akhirnya sedikit membuahkan hasil. Pada 1995 kios rokok miliknya sudah berubah menjadi warteg dan setahun kemudian ia pun mulai berjualan sayur keliling. Pada waktu itu ia sudah mampu beli motor dan punya dua orang karyawan. Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Begitu terjadi kerusuhan pada akhir 1997 keadaan kembali berbalik. Ia mengaku, sesudah kejadian itu semua usaha seret dan sulit sekali mencari uang. Ia sempat habis-habisan dan tinggal mengantongi uang Rp 20 ribu.

Dalam keadaan bingung sehingga nyaris putus asa sebab merasa semua usaha sudah dijalani dan dikerjakan sekuat mungkin, ia hanya mampu berdoa. “Seolah mendapat hidayah, saya jadi teringat kalau pernah menjadi nelayan,” kenang Tarjo. Sutarjo jelas bukan hendak mengulang mata pencaharian yang sama, sebaliknya timbullah gagasan membuka usaha ikan bakar. Walaupun sempat ragu karena tidak cukup modal, atas dukungan istri semangatnya kembali bangkit. “Insyaallah, asal berusaha disertai doa dengan yakin pasti berhasil,” ucapnya menirukan istrinya waktu itu. Benar juga, dari sedikit, tiap kali belanja, jualannya selalu habis. Dasar jalannya memang dari situ, kehidupannya pun mulai membaik.

Namun tahun 2000 masalah baru kembali menghampiri. Pada saat usaha ikan bakar tersebut tengah menanjak tiba-tiba Sutarjo harus pindah dari lokasi yang ia tempati. Pasalnya kompleks Alfa Indah di mana ia berjualan hendak diperluas oleh pengembangnya sehingga mau tidak mau ia harus hengkang. Padahal untuk mendapatkan lokasi strategis seperti semula tidak gampang.
“Saya sempat putus asa, alhamdulillah saya ketemu dengan ustadz Mashudi. Beliau selalu menuntun dan membimbing saya agar tidak sampai patah arang dan sabar terhadap ujian. Saya bahkan dianjurkan memperbanyak do’a, shalat malam, bersyukur atas apa pun yang telah diterima,” ujarnya.

Tahun 2001 ia mendapatkan lokasi, tetap mengontrak setahun sebesar Rp 3 juta. Lokasi baru di jalan arteri Permata Hijau itu agaknya justru membawa hoki. Sehari jumlah pengunjung antara 200-600 orang dengan omset tidak kurang Rp 5 juta. Setelah setahun akhirnya malah sudah terbeli dengan harga Rp 9 juta/m2. Tidak berapa lama kemudian Tarjo juga mulai membuka cabang di Pantai Indah Kapuk, Auri Laguna, Ciledug, Bogor, dan Serpong. Sayang, beberapa di antaranya kurang berhasil dan ditutup. “Kesalahan saya karena manjemen yang kurang hati-hati,” akunya. “Tetapi insyaallah akan segera buka lagi di Pasar Minggu, dan di dekat kantor Bulog jalan Gatot Subroto,” imbuh bapak dari Tina Malinda, Ahmad Ridho, Nurhayati Nabila ini.

Ketika didesak, Sutarjo mau sedikit membuka rahasia mengapa banyak pembeli ketagihan dengan ikan bakar racikannya yakni berani bumbu. Dikatakan, setiap harinya alokasi khusus buat belanja bumbu dan rempah-rempah saja ia tidak kurang Rp 400 ribu. Untuk bahan baku, karena ikan bersifat musiman, jika pas sulit maka ia tidak mau memaksakan diri karena bisa berakibat barang yang didapat kurang baik kualitasnya.

Baginya, kalau sekadar membuat masakan, orang lain pun banyak yang bisa melakukan. Tetapi kunci utamanya terletak pada kemauan membenahi dan mempertahankan kualitas tersebut, baik dalam hal rasa maupun pelayanan. Maka di samping tidak mengejar keuntungan besar, pria sederhana ini juga berusaha dekat dengan para pelanggan, selalu bersikap sopan, tidak kasar, serta mau mengakrabkan diri. Dan di atas itu semua yaitu kejujuran.

Sebab, soal menjaga kejujuran ia pernah punya pengalaman sendiri. Akibat kekurangpengetahuannya, suatu saat dirinya pernah menerima tawaran pinjaman penambahan modal usaha dari seorang oknum aparat kelurahan. Ketika pembayaran angsuran sudah berjalan beberapa kali, tiba-tiba datang surat tagihan pembayaran dari pihak kelurahan. Ternyata setoran yang terdahulu terlanjur masuk ke kantong oknum yang bersangkutan. Selain itu, menurutnya, dalam menjalankan bisnis rumah makan yang paling riskan justru terletak pada soal sepele, yaitu mudah terjadi salah paham dengan pengelola.

Sementara itu, soal karyawan restoran yang saat ini total berjumlah 26 orang, Tarjo mengaku tidak menerapkan pembagian kerja secara khusus. Semua pegawai diajari melakukan semua hal, kecuali yang meracik bumbu. Menariknya karyawan banyak diambil dari anak-anak daerah yang putus sekolah. Pria berkulit gelap ini punya alasan dengan berkaca pada dirinya.

“Karena saya pernah mengalami, ke mana-mana cari pekerjaan ditolak karena tidak punya ijasah dan kemampuan. Masalahnya soal ijasah, untuk anak daerah banyak yang tidak sekolah, sedangkan kalau ditanya kemampuan kalau belum belajar, ya pasti belum tahu,” katanya. “Maka yang saya ambil adalah yang punya kemauan. Kalau belum bisa saya ajari, gajinya juga tidak kecil, antara Rp 350 ribu-Rp 1 juta, terima bersih. Tempat sudah disediakan, pengobatan ditanggung, apalagi kalau cuma makan dan minum, gratis,” tambahnya.

Hubungannya dengan pengelolaan cabang, tujuh bersaudara ini mengungkapkan, jikalau dirinya tidak memaksakan anggota keluarganya atau sanak saudara mesti terlibat dalam usahanya. Pengalamannya juga membuktikan, sebab tanpa adanya kemauan sejak awal sesuatu yang dilakukan bakal membuahkan hasil yang tidak maksimal.

Saat ini telah banyak yang tertarik ingin membeli franchise namun sayangnya Sutarjo mengaku belum siap menggandeng mitra. “Banyak sekali yang ingin franchise, ada permintaan dari Aceh, Riau, Deli, Jambi, NTT, Surabaya, Pekalongan, Semarang, dan lain-lain. Tetapi guru dan istri saya memberikan pertimbangan agar terlebih dahulu melihat kemampuan diri saya. Soalnya kemampuan saya masih terbatas, dan itu butuh perhitungan tinggi, paling tidak konsultan,” pupusnya, paling tidak untuk sementara waktu.

Paling tidak sekarang ia sudah pantas berbangga, dengan usahanya ia telah banyak dikenal orang. Satu lagi terbukti, berkat keberanian, kegigihan, dan semangat tinggi, seseorang bisa menuai sukses. Dari segi materi, Sutarjo bersama istri dan anak-anaknya kini sudah merasa nyaman. Mereka menempati rumah sendiri di atas tanah seluas 670 m2 di Ciledug, Tangerang, yang ia beli 2005 lalu, ditambah 3 mobil dan 10 buah sepeda motor untuk operasional.

Sumber : http://www.majalahpengusaha.com

Read more...