Gideon Hartono : Pendiri Apotik K-24

Monday, September 22, 2008

Pengusaha Yogyakarta ini sukses mengembangkan jaringan apotik, K-24 yang dibuka non stop 24 jam sehari. Bagi calon mitra bisnis, dibuka peluang untuk waralaba!.

Membangun bisnis, tidak selalu harus diawali dengan survai pasar yang njlimet. Apalagi sampai menghabiskan dana besar, yang belum tentu membawa hasil yang memuaskan. Naluri bisnis kadang menjadi panduan untuk keberhasilan.. Paling tidak, inilah yang dijalankan Gideon Hartono, yang bisa dibilang berhasil membangun jaringan bisnis apotik K-24.

Ketika ia memutuskan untuk membuka usaha apotik yang buka selama 24 jam di Jogja, ia sama sekali tidak mengawali dengan riset pasar. Ia juga tidak ambil pusing, apakah apotik yang dijalankannya bakal berhasil diterima masyarakat atau tidak. Yang jelas, Gideon hanya mengandalkan nalurinya sebagai seorang pebisnis. Nalurinya menyatakan bahwa masih ada peluang besar dalam bisnis apotik di kota pendidikan tersebut.

Ternyata insting bapak dua anak ini memang terbukti tajam. Nyatanya, ketika ia mengibarkan bisnis apotik dengan bendera K-24, sambutan masyarakat cukup bagus. Sejak dibuka pertama pada 24 Oktober 2002, jumlah pengunjung terus mengalami peningkatan. Pada tiga bulan pertama, sambutan masyarakat memang belum begitu terlihat. Tapi memasuki tiga bulan kedua, konsumen yang datang menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan.

Keberhasilan apotik pertama yang didirikan di kawasan Jl. Magelang, Jogja tersebut memacu semangatnya untuk mendirikan apotik sejenis di tempat lain. Selama tahun 2003, tepatnya pada 24 Maret dan 24 Agustus, dia membuka dua outlet K-24 lagi di kawasan Jl. Gejayan dan Jl. Kaliurang. Sementara 24-Februari lalu, ia memberanikan diri menebarkan sayap ke kota Semarang, Jawa Tengah untuk membuka outlet yang sama.

Agaknya, tanggal 24 bagi Gideon telah menjadi tanggal “keramat”. Nyatanya, setiap kali membuka outlet baru, selalu dilakukan pada tanggal 24. Bahkan gajian karyawan juga dilakukan pada tanggal tersebut. “Setiap membuka outlet baru, saya memang memilih tanggal 24, demikian pula dengan gajian karyawan, kalau tanggal 24 jatuh hari minggu gajiannya dimajukan bukan dimundurkan. Tapi semua itu tidak ada hubungan dengan hongsui karena saya tidak percaya hong sui ” kata dokter puskesmas Gondokusuman II, yang kini sedang mengambil cuti atas tanggungan

Bapak dua anak yang berstatus sebagai dokter umum ini, mengaku tidak mengira bila apotik yang didirikannya bakal berkembang sedemikian cepat. Belum lama ini, ia bahkan mendapat penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) karena apotik K-24 dimasukkan sebagai apotik jaringan pertama yang sejak dibuka selama 24 jam, 365 hari tanpa mengenal tutup maupun libur dengan harga yang sama baik siang, maupun malam, baik hari kerja maupun hari libur. “Sejak buka sampai sekarang, kami tak pernah tutup sekalipun,” papar Gideon yang merasa senang dengan penghargaan tersebut.

Menurut Gideon, ia tidak mengira jika potensi pasar apotik di Jogja dan Semarang, ternyata masih sedemikian besarnya. Ia mengaku omset setiap outlet yang dikelolanya terus menunjukkan angka kenaikan. Saat ini, setiap outlet rata-rata perbulan, berhasil mencatat transaksi antara 350-500 items obat , dengan nilai penjualan antara Rp 250-300 juta.

Gideon mengaku tidak mengambil keuntungan besar dari obat yang dijualnya. Ia mengambil keuntungan dari omset penjualan. Padahal kalau ia mau, ia mendapat margin yang cukup besar dari distributor antara 20-40 persennya. Tapi margin keuntungan itu, akunya tidak dia ambil semua,”Saya hanya mengambil yang sekitar 17 hingga 25 persen saja, sisanya biar konsumen yang menikmati,” paparnya.

Menurut Gideon, dia menggeluti apotik tidak selamanya berorientasi profit. Ada idealisme yang ingin ia wujudkan melalui apotik tersebut, antara lain memberikan pelayanan masyarakat untuk mendapatkan kemudahan mencari obat.

Karena itulah, ia berencana untuk membuka outlet K-24 sebanyak-banyaknya. Paling tidak, ia ingin mengembangkan di seluruh kota di Jawa. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, dia akan menerapkan sistem waralaba. Saat ini, paling tidak sudah ada ada beberapa pengusaha yang siap membeli waralaba. Tapi baru dua yang benar-benar siap dibuka tahun ini. Keduanya di Jogja dan Surabaya.

Sebenarnya menurut Gideon, sudah banyak pemilik modal yang menyatakan bersedia untuk membeli waralaba K-24. Namun, tidak semua peminat akan dilayaninya. Ia menerapkan seleksi yang ketat, karena dia tidak ingin membuka outlet yang kemudian mati karena tidak bisa berkembang. Setidaknya, calon pembeli waralaba harus bersedia menjadi operator bisnis. “Kami tidak mau mencari investor pasif, “ tandasnya.

Sebelum memutuskan untuk melepas waralaba, Gideon mengaku harus melakukan survai dulu tentang kelayakan lokasi yang akan dijadikan tempat usaha. Lokasi memang menjadi pertimbangan utama. “Kalau lokasinya bagus, kami baru akan memutuskan oke,” kata lelaki yang gemar membaca ini.

Gideon mengaku sebagian lokasi usahanya masih berstatus kontrak, dengan masa kontra antara 3-6 tahun dengan harga sewa antara Rp17-Rp40 juta pertahunnya. Namun untuk memilih tempat, ia benar-benar selektif, paling tidak harus kenal secara pribadi dengan pemiliknya. Dalam perjanjian, ia menerapkan klausul yang menyebutkan bahwa jika kontrak tidak bisa diperpanjang, maka tempat itu nantinya tidak boleh digunakan untuk usaha yang sama. “Kalau mereka tidak mau dengan klausul ini, kami lebih baik mundur karena ini gelagat tidak baik,” paparnya.

Untuk mendapatkan waralaba, setidaknya investor harus menyediakan dana antara Rp Rp 300-600 juta. Besarnya investasi memang tergantung kesiapan calon pembeli waralaba. Pembeli waralaba yang sudah punya bisnis apotik dan karena tidak berkembang ingin bergabung dengan jaringan K-24, tentu membutuhkan dana investasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang belum memiliki usaha apotik sama sekali.

Sementara itu, dimata Nur Feriyanto M Si, pengamat bisnis dari Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, ada beberapa hal yang melatar belakangi Gideon berhasil membangun jaringan bisnis apotik K-24. Selain karena kejelian melihat peluang pasar, karena kecerdasannya dalam menjalankan strategi bisnis.

Menurut Wakil Direktur Program Magister Manajemen (MM) UII ini, Gideon melihat adanya kebutuhan pasar akan apotik yang membuka pelayanan selama 24 jam nonstop di Jogja. Kalaupun selama ini sudah ada apotik yang melakukan praktek seperti itu, dirasakan masih kurang karena tidak memberikan jaminan harga pasti terhadap obat yang dijualnya. “Nah inilah yang diambil K-24, dia buka nonstop dengan memberikan jaminan harga pasti yang tidak berubah-ubah baik siang maupun malam,” katanya.

Yang juga menarik diamanati Nur, sejak awal mendirikan apotik, nampaknya Gideon sudah menyiapkan konsep yang sangat matang dengan membangun branding dan positioning yang jelas. Ini terlihat dari penampilan yang begitu menarik dari semua outlet apotik K-24. “Yang jelas dari sisi eksterior maupun interiornya, bisa dibedakan dengan jelas antara apotik K-24 dengan apotik pada umumnya,” kata Nur.

Melihat keberhasilan yang diraih bapak dua anak ini, mungkin banyak yang tidak mengira bila Gideon benar-benar membangun bisnis dari cucuran keringatnya sendiri. Sejak masih remaja, Gideon memang memang sudah berusaha mandiri. Ia memang mengaku berasal dari keluarga miskin yang mengharuskannya bekerja sekuat tenaga untuk bisa membantu mencari nafkah buat keluarganya.

Anak kelima dari tujuh bersaudara ini, sejak masih duduk di bangku SMP sudah bisa membantu mencari nafkah dengan menggeluti sebagai photografer keliling. Menginjak duduk di bangku SMA, ia sering mengikuti lomba slalom photo dan sering meraih kemenangan. “Saya sengaja mengikuti lomba foto yang ada hadiah uangnya karena memang ingin mencari uang,:” kata kelahiran 10 Oktober 1963 ini.

Selain mencari uang dengan mengikuti lomba foto, lelaki yang mengaku gemar membaca ini sudah melayani les privat matematika, fisika dan kimia di rumahnya yang sempit di kawasan Kranggan, Jogja. “Semua uang yang saya dapat, semua saya serahkan ke ibu saya,” akunya. Ada kebanggan tersendiri yang dirasakan Gideon ketika berhasil memberikan uang kepada sang bunda.

Dari uang tabungan yang dititipkan ke ibunya dari kemenangan lomba foto, ia berhasil membuka studio foto kecil. Dari sinilah, usaha fotografinya berkembang. Sehingga tahun 90-an, Gideon berhasil membangun studio foto dengan peralatan paling canggih di Jogja ketika itu. “Untungnya saya memiliki kemampuan fotografi sehingga bisa merubah hidup kami,” katanya.

Dari bisnis fotografi itu pula, Gideon menginvestasikan dana sebesar Rp 400 juta untuk membangun satu outlet apotik K-24. Gideon kini sedang menyiapkan sistem, sehingga operasional apotik ini tidak tergantung pada dirinya. Dengan sistem yang lebih mapan diharapkan, Gideon tidak perlu ikut campur mengurusi operasional perusahaan. Walaupun kini sebagai urusan bisnisnnya ditangani anggota keluarga, dia tetap berkeinginan melaksanakan bisnis secara profesional.

Sumber : http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=135197

Read more...

Dari Pekerja Pabrik Menjadi Pemasok Komponen Astra

Saturday, September 20, 2008

Oleh : Sigit Wibowo

Jakarta—Siapa yang membayangkan orang yang dulunya bekerja di bagian produksi pabrik Toyota Astra Motor (TAM) bisa mengubah nasibnya menjadi rekanan yang memasok komponen pada perusahaan otomotif terbesar di Indonesia tersebut?

Mungkin ada, tidak tidak terlalu banyak. Dan salah satunya adalah Nur Dahyar. Nur—demikian ia biasa dipanggil-membuka usaha pallet setelah “mencuri” ilmu di TAM selama 9 tahun. Saat ini pallet buatan perusahaannya tidak saja digunakan memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke luar negeri. “Sejak awal saya memang mempunyai rencana menjadi pengusaha,” ujarnya.

Pada saat bekerja di Toyota tahun 1978 ia hanya berbekal ijazah SLTP. Namun keinginannya menjadi seorang pengusaha tidak pernah mati, sembari bekerja di Toyota pada malam harinya ia bersekolah SMA hingga lulus Akademi D3 komputer. Ketika bekerja di Toyota, ia pun bertekat menguasai semua bidang sehingga ia minta kepada atasannya supaya di-rolling dari satu bidang ke bidang lain.

Maka sejumlah bidang di industri otomotif ini sudah ia jalani. Mulai dari bidang pengelasan, press, pengepakan, pergudangan dan lainnya. Setelah ia memperoleh cukup ilmu akhirnya ia keluar untuk mendirikan perusahaan kecil-kecilan.

Secara kebetulan ketika di Toyota ia kenal dengan Setiadi, seorang teknisi mesin yang bekerja di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Hubungan pertemanan ini berlanjut menjadi hubungan bisnis. Nur Dahyar lalu mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Nuansa Raya Dinamika (NRD) tahun 1997.

Modal awal pengembangan usaha NRD berasal dari pinjaman BNI sebesar Rp 50 juta. Pertama kali memperoleh order dari Pelindo lewat jasa temannya tersebut. Proyek yang ditanganinya adalah pembuatan 9 pemancar lampu (tower) senilai Rp 135 juta yang dilaksanakan dalam beberapa periode.

“Pada bulan pertama NRD menyelesaikan order sebesar Rp 15 juta tetapi biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 25 juta,” ujarnya. Hal ini wajar mengingat NRD harus menginvestasikan mesin dan peralatan lain. Setelah memiliki prospek yang baik koleganya tersebut mengajukan pensiun dini agar bisa fokus dalam mengembangkan perusahaan tersebut. Pada mulanya 100 persen saham dimiliki Nur Dahyar tetapi setelah Setiadi bergabung komposisi kepemilikan saham fity-fifty.

“Kami membina hubungan berdasarkan prinsip saling percaya, walaupun sering kali beda pendapat tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan,” kata Setiadi. Jika Dahyar lebih menguasai proses produksi maka Setiadi menangani yang berkaitan masalah keuangan. Pembagian tugas yang jelas menyebabkan masing-masing orang tahu apa yang harus dilakukan dan bidang apa yang harus dikerjakan.

Beralih ke Besi/baja

Semula NRD memproduksi pallet yang terbuat dari kayu tetapi mulai tahun 2001 beralih dengan bahan baku dari besi/baja. Sejak tahun 2002 pallet buatan NRD semua berasal dai besi/baja. Hal ini disebabkan negara seperti Malaysia dan Australia sudah tidak mau menerima pallet yang terbuat dari kayu karena menciptakan masalah lingkungan.

Saat ini produk yang dihasilkan NRD tidak saja pallet baja tetapi juga peralatan konstruksi baja dan mesin-mesin sederhana. NRD telah berkembang menjadi tiga pabrik kecil yang menempati wilayah seluas 2560 meter persegi di daerah Semper. 55 persen produksi NRD untuk memasok kebutuhan Toyota sedangkan 45 persen kepada pelanggan lain. Tercatat beberapa perusahaan seperti PT Maersk Line, SCI, American Line, Mulia Keramik mengguanakan produk NRD.

Saat ini beberapa bank telah menyalurkan kredit pada UKM ini yakni Bank Niaga, Bank Permata dan Citibank. “Sekarang kredit yang bisa dikucurkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan seiring dengan perkembangan perusahaan,” kata Setiadi. Ia merasa bersyukur karena omzet perusahaan yang semula hanya dibawah Rp 100 juta sekarang sudah mencapai Rp 14 miliar.

Setiadi memperkirakan omset perusahaan di akhir tahun bisa mencapai Rp 20 miliar. Meskipun masih mengandalkan produksi pallet baja tetapi produk-produk lain non-pallet akan ditingkatkan. Pada 2005-2007, NRD ingin masuk pada pengembangan produk komponen mesin. Rencananya 2007-2010 investasi peralatan dan mesin-mesin sudah bisa dilakukan dan akhir tahun 2010 sudah bisa berproduksi.

Khusus bahan baku perusahaannya dipasok oleh PT Krakatau Steel melalui 5 distributor dan pipa dari perusahaan Bakrie. Sejauh ini pasokan lancar sehingga produksi tidak terganggu. Namun penguatan dolar terhadap rupiah akhir-akhir ini menyebabkan kekhawatiran karena dampaknya sangat buruk bagi usahanya.

Sementara untuk jumlah karyawan terus meningkat dari tahun 1997 yang hanya Nur Dahyar dengan anggota keluarga saja. Tahun 1998 berjumlah 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 122 orang. Kebanyakan atau sekitar 78 orang merupakan lulusan smu, 3 dari akedemi, 6 orang univeritas dan sisanya pendidikan SD dan SMP.

Jepang ingin masuk
Setelah melihat prospek bisnis yang baik maka ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan adalah rencana perusahaan Jepang melakukan investasi di sektor ini. Hal inilah yang dikhawatirkan karena bisa mengancam eksistensi NRD. Namun kebijakan Toyota yang tetap ingin mempertahankan partner lokal menyebabkan mereka belum bisa masuk.

Tetapi indikasi perusahaan Jepang ingin masuk ke sektor ini sudah ada. “Kami meminta pemerintah memperhatikan ini sebab secara modal dan teknologi mereka pasti tidak kalah,” kata Dahyar.

Sebelumnya tahun 2004 NRD juga terancam setelah produk-produk bajakan dengan harga murah dari Cina diselundupkan melalui berbagai pelabuhan. “Modusnya mereka bekerja sama dengan beberapa orang aparat bea cukai untuk meloloskannya,” ujarnya.

Sumber : http://gustinaby.multiply.com

Read more...

Grand Opening Minimarket Alfamart

Saturday, September 13, 2008

Setelah sekian lama tarik ulur antara jadi dan tidak, akhirnya pada hari Sabtu, 13 September 2008, toko Alfamart milik saya telah mulai dibuka dengan melakukan Grand Opening.

Terletak di jalan Parakan, atau lebih dikenal dengan jalan Pamulang 2, Pondok Benda, Pamulang, toko ini menempati 2 buah ruko masing-masing terdiri
dari dua lantai dengan luas bangunan lantai bawah 200 m2. Sedangkan lantai atas seluas 150m2.
Luas area untuk display barang dagangan sekitar 120 m2, dibagian belakang dipergunakan sebagai gudang, kantor, mess karyawan, kamar mandi, dapur dll.
Lantai atas ruko tidak dipakai untuk keperluan toko tetapi merupakan bagian terpisah yang tidak ada hubungannya dengan toko dibawahnya. Akses untuk naik ke lantai atas adalah dengan melalui tangga tersendiri yang dibangun disamping depan toko.

Luas ruko lantai atas masing-masing adalah 5 x 15 m. Direncanakan lantai atas ini akan disewakan dengan prioritas penggunaanya sebagai kantor atau tempat kursus.
Luas area parkir didepan toko cukup luas, sekitar 130 m2, saat ini teras depan dan halaman depan toko masih kosong, belum dimanfaatkan untuk pedagang penunjang (tenant) seperti yang biasa terlihat di toko Alfamart.
Semoga toko ini bisa berjalan dengan lancar dan barokah sesuai harapan. Amiin.. :)
Read more...

Elly Susilowati. Pemilik Ethree Handmade Shoes

Wednesday, September 3, 2008

"Jika di toko-toko prinsipnya kaki mencari sepatu, di Ethree lebih kepada sepatu yang mencari kaki”

ujar Elly Susilowati pendiri sekaligus pemilik kerajinan sepatu handmade (buatan tangan) bermerk Ethree.

Konsep yang digunakan semenjak usaha berdiri tersebut ternyata mampu membawa Ethree Shoes yang berada di bawah bendera PT Ethree Abadi terus berkembang. Bahkan tahun lalu, wanita kelahiran Garut, 27 Agustus 1967 ini berhasil meraih penghargaan Entrepreneur Award UKM 2006 dari hasil perjuangannya merintis usaha tersebut.

Sesuai prinsip yang ada, produk Ethree yang dihasilkan lebih fokus dalam hal kenyamanan bagi pemakainya. “Agar nyaman dipakai, pelanggan benar-benar harus diketahui dulu ukurannya. Karena kesesuaian sepatu dengan anatomi kaki benar-benar mempengaruhi kenyamanan,” ujar Elly. Maka jangan heran, jika di workshop yang berlokasi di Jalan Siaga II No.42 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pengunjung hanya bisa melihat contoh-contoh produk. Jika berminat, Ethree terlebih dahulu akan mengukur kaki dan menyesuaikan dengan model permintaan pelanggan.

Ide usaha bersumber dari pengalamannya sendiri. Elly sering mengalami kesulitan dalam menemukan sepatu yang cocok dengan ukuran kakinya. “Terus terang Saya sering bermasalah dalam hal ukuran sepatu yang cocok. Jika pun ada, branded dari luar dan harganya sangat mahal,” katanya. Lantas muncul lah ide bisnis dengan filosofi ‘Solusi Atasi Kaki Bermasalah’ yang direalisasikan pada tahun 2001.

Awalnya sepatu yang telah jadi dipakai sendiri sambil ditawarkan ke teman-teman dekat, keluarga, dan kolega. Ternyata berhasil. Karena para kerabat berminat, order pun mulai berdatangan. Semangatnya semakin menggebu. Selain mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, ia selalu aktif mempromosikan produknya dalam berbagai kesempatan.

Kini aset Ethree jangan ditanya. Kerja keras Elly memang patut diacungi jempol. Bermodal awal hanya Rp 1 juta untuk membeli sebuah mesin jahit butut, bahan kulit, dan cetakan sepatu, ia dibantu 2 karyawan. Kini karyawannya telah berjumlah 15 orang.

Beruntung, network yang terus dibangun menjadikan usahanya mendapat kesempatan menjadi mitra binaan berbagai instansi, sehingga mendapatkan jalan mulus untuk mengikuti pameran, disamping juga fasilitas pemasaran dan arahan manajemen usaha. Sebut saja Departemen Koperasi dan UKM, Bank BNI, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Sucofindo dan Badan Pengembangan Ekspor Nasional. Promosi terus dijalankan. Kini Elly juga menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga seperti orthopedi, rumah sakit.

Dengan kondisi usaha seperti sekarang tentunya Ethree akan lebih mudah mendapatkan tambahan modal bagi pengembangan usaha. Namun Elly mengakui bahwa modal adalah nomor ke sekian yang penting bagi usaha. Saat ini yang paling penting menurutnya adalah terus berusaha meningkatkan kualitas, harga kompetitif serta ketepatan waktu produksi. Hal tersebut menurut Elly merupakan hal yang urgent bagi produsen sepatu Tanah Air mengingat semakin banyaknya serbuan produk luar negeri di era perdagangan bebas.

Masih dengan alasan kualitas dan kenyamanan otomatis bahan yang digunakan memproduksi Ethree menggunakan kulit asli. Konsekuensinya, tentu ada penyesuaian harga untuk produk yang ditujukan bagi kalangan menengah atas ini. Kendati demikian, dengan harga berkisar Rp400 ribu hingga Rp1 jutaan, wanita yang pernah menimba ilmu di sebuah Akademi Teknik Kulit ini yakin Ethree yang kerap dipesan kalangan pejabat dan artis ini masih berharga kompetitif dibandingkan produk sejenis.

Saat ini dengan pesanan per minggu sekitar 50 pasang sepatu, order juga berdatangan dari berbagai perusahaan/lembaga seperti bank, maskapai penerbangan, dan instansi pemerintah. Bahkan Ethree juga mulai digunakan oleh pelanggan dari luar negeri. “Ekspor masih kecil, biasanya permintaan untuk musim winter,” kata Elly.

Kini produk Ethree tak hanya digunakan untuk kaki bermasalah, tapi juga untuk fashion. Ethree yang juga bisa dijumpai gerainya di galeri UKM Cilandak Town Square tidak lama lagi juga akan menempati sebuah ruangan di lantai 1 UKM Center Waduk Melati, Jakarta Pusat.

Motivasi Wirausaha Datang dari Keluarga

Suami yang telah berpulang lebih dulu beberapa tahun yang lalu memacu Elly untuk berusaha menghidupi keluarganya. Sebagai single parent, ia tetap ingin memberikan yang terbaik bagi ketiga anak-anaknya. Bahkan Ethree yang digunakan sebagai merek dagang merupakan singkatan dari Elly Berputra Tiga.

Sukses untuk Elly. Dari Ethree, jebolan SMA 8 Jakarta dan tamatan sebuah akademi sekretaris ini bisa menyekolahkan ketiga putranya hingga perguruan tinggi dengan baik. Putra pertama tengah menyusun skripsi untuk pendidikan S1, yang kedua telah menamatkan kuliah di APINDO perhotelan, dan yang bungsu tengah menempuh pendidikan di pondok Pesantren Darul Najah, Ulu Jami, Jakarta.

Selain itu Elly juga termotivasi berwirausaha untuk membuka lapangan kerja lebih banyak. “Saya termotivasi untuk menambah sumber daya manusia,” katanya. Disamping juga hobi yang dimilikinya mengoleksi sepatu-sepatu, menurutnya kaki yang tidak cantik pun bisa cantik dengan menggunakan sepatu yang pas. (SH)

Sumber : wirausaha.com

Read more...