Elly Susilowati. Pemilik Ethree Handmade Shoes

Wednesday, September 3, 2008

"Jika di toko-toko prinsipnya kaki mencari sepatu, di Ethree lebih kepada sepatu yang mencari kaki”

ujar Elly Susilowati pendiri sekaligus pemilik kerajinan sepatu handmade (buatan tangan) bermerk Ethree.

Konsep yang digunakan semenjak usaha berdiri tersebut ternyata mampu membawa Ethree Shoes yang berada di bawah bendera PT Ethree Abadi terus berkembang. Bahkan tahun lalu, wanita kelahiran Garut, 27 Agustus 1967 ini berhasil meraih penghargaan Entrepreneur Award UKM 2006 dari hasil perjuangannya merintis usaha tersebut.

Sesuai prinsip yang ada, produk Ethree yang dihasilkan lebih fokus dalam hal kenyamanan bagi pemakainya. “Agar nyaman dipakai, pelanggan benar-benar harus diketahui dulu ukurannya. Karena kesesuaian sepatu dengan anatomi kaki benar-benar mempengaruhi kenyamanan,” ujar Elly. Maka jangan heran, jika di workshop yang berlokasi di Jalan Siaga II No.42 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pengunjung hanya bisa melihat contoh-contoh produk. Jika berminat, Ethree terlebih dahulu akan mengukur kaki dan menyesuaikan dengan model permintaan pelanggan.

Ide usaha bersumber dari pengalamannya sendiri. Elly sering mengalami kesulitan dalam menemukan sepatu yang cocok dengan ukuran kakinya. “Terus terang Saya sering bermasalah dalam hal ukuran sepatu yang cocok. Jika pun ada, branded dari luar dan harganya sangat mahal,” katanya. Lantas muncul lah ide bisnis dengan filosofi ‘Solusi Atasi Kaki Bermasalah’ yang direalisasikan pada tahun 2001.

Awalnya sepatu yang telah jadi dipakai sendiri sambil ditawarkan ke teman-teman dekat, keluarga, dan kolega. Ternyata berhasil. Karena para kerabat berminat, order pun mulai berdatangan. Semangatnya semakin menggebu. Selain mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, ia selalu aktif mempromosikan produknya dalam berbagai kesempatan.

Kini aset Ethree jangan ditanya. Kerja keras Elly memang patut diacungi jempol. Bermodal awal hanya Rp 1 juta untuk membeli sebuah mesin jahit butut, bahan kulit, dan cetakan sepatu, ia dibantu 2 karyawan. Kini karyawannya telah berjumlah 15 orang.

Beruntung, network yang terus dibangun menjadikan usahanya mendapat kesempatan menjadi mitra binaan berbagai instansi, sehingga mendapatkan jalan mulus untuk mengikuti pameran, disamping juga fasilitas pemasaran dan arahan manajemen usaha. Sebut saja Departemen Koperasi dan UKM, Bank BNI, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Sucofindo dan Badan Pengembangan Ekspor Nasional. Promosi terus dijalankan. Kini Elly juga menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga seperti orthopedi, rumah sakit.

Dengan kondisi usaha seperti sekarang tentunya Ethree akan lebih mudah mendapatkan tambahan modal bagi pengembangan usaha. Namun Elly mengakui bahwa modal adalah nomor ke sekian yang penting bagi usaha. Saat ini yang paling penting menurutnya adalah terus berusaha meningkatkan kualitas, harga kompetitif serta ketepatan waktu produksi. Hal tersebut menurut Elly merupakan hal yang urgent bagi produsen sepatu Tanah Air mengingat semakin banyaknya serbuan produk luar negeri di era perdagangan bebas.

Masih dengan alasan kualitas dan kenyamanan otomatis bahan yang digunakan memproduksi Ethree menggunakan kulit asli. Konsekuensinya, tentu ada penyesuaian harga untuk produk yang ditujukan bagi kalangan menengah atas ini. Kendati demikian, dengan harga berkisar Rp400 ribu hingga Rp1 jutaan, wanita yang pernah menimba ilmu di sebuah Akademi Teknik Kulit ini yakin Ethree yang kerap dipesan kalangan pejabat dan artis ini masih berharga kompetitif dibandingkan produk sejenis.

Saat ini dengan pesanan per minggu sekitar 50 pasang sepatu, order juga berdatangan dari berbagai perusahaan/lembaga seperti bank, maskapai penerbangan, dan instansi pemerintah. Bahkan Ethree juga mulai digunakan oleh pelanggan dari luar negeri. “Ekspor masih kecil, biasanya permintaan untuk musim winter,” kata Elly.

Kini produk Ethree tak hanya digunakan untuk kaki bermasalah, tapi juga untuk fashion. Ethree yang juga bisa dijumpai gerainya di galeri UKM Cilandak Town Square tidak lama lagi juga akan menempati sebuah ruangan di lantai 1 UKM Center Waduk Melati, Jakarta Pusat.

Motivasi Wirausaha Datang dari Keluarga

Suami yang telah berpulang lebih dulu beberapa tahun yang lalu memacu Elly untuk berusaha menghidupi keluarganya. Sebagai single parent, ia tetap ingin memberikan yang terbaik bagi ketiga anak-anaknya. Bahkan Ethree yang digunakan sebagai merek dagang merupakan singkatan dari Elly Berputra Tiga.

Sukses untuk Elly. Dari Ethree, jebolan SMA 8 Jakarta dan tamatan sebuah akademi sekretaris ini bisa menyekolahkan ketiga putranya hingga perguruan tinggi dengan baik. Putra pertama tengah menyusun skripsi untuk pendidikan S1, yang kedua telah menamatkan kuliah di APINDO perhotelan, dan yang bungsu tengah menempuh pendidikan di pondok Pesantren Darul Najah, Ulu Jami, Jakarta.

Selain itu Elly juga termotivasi berwirausaha untuk membuka lapangan kerja lebih banyak. “Saya termotivasi untuk menambah sumber daya manusia,” katanya. Disamping juga hobi yang dimilikinya mengoleksi sepatu-sepatu, menurutnya kaki yang tidak cantik pun bisa cantik dengan menggunakan sepatu yang pas. (SH)

Sumber : wirausaha.com

0 comments: