Sunaryo, Pemilik KREASI MANDIRI

Saturday, October 25, 2008

Berbekal dari pesangon PHK sebesar Rp. 800.000, kini omsetnya mencapai Rp. 48 juta per bulan

Setelah di PHK pada tahun 1996, jiwa seni dan enterpreneurship-nya justru muncul. Ia kemudian mengembangkan usaha lukis dinding, plafon rumah, gedung perkantoran.

Bagaimana ia menapaki tangga sukses usahanya ?

Yoyo sunaryo memang mempunyai bakat menggambar dan melukis sejak kecil. Hanya dengan menggunakan pensil dan sipat alis, bahkan sejak SD ia sudah melukis Adam Malik dan para pahlawan lainnya. Untuk membiayai sekolahnya pun hingga lulus SMU di perolehnya dari hasil menggambar setiap kali ada pesanan.

Berbekal dari kegemaran menggambar tersebut, Yoyo Sunaryo ( 38) berhasil menamatkan studinya hingga SMA di Cirebon, Jawa Barat dengan biaya sendiri. Setelah lulus SMA tahun 1989, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Pada saat itu ia mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan Aneke Kreatif Kaca di kawasan Ancol, Jakarta Utara untuk lukisan kaca atau grafier dan sun glass, dan sempat berpindah-pindah perusahaan hingga pernah merasakan PHK di tahun 1996.

Pada saat di PHK tersebut, ternyata jiwa seninya justru muncul, dan mendorong dirinya untuk mandiri dan menjalankan usaha sendiri. Berbekal dari uang gaji Rp. 300 ribu dan pesangon Rp. 800 ribu pada tahun 1996, ia memutuskan untuk membuka sebuah toko frame dari kayu dan lukisan sebagai pengembangan dari bakat lamanya tersebut.

Uang tersebut di pergunakan untuk membeli bahan baku frame, kompresor, sewa lahan dan membangun toko di kawasan kebon Jeruk, Jakarta Barat. Toko dengan luas sekitar 4 x 5 meter itu di namai Kreasi Mandiri, yang mulanya hanya menjual frame dan order melukis walaupun walaupun ordernya tidak sebesar order frame.

Pria kelahiran banten tahun 1963 ini terus mengasah kemampuannya, terutama dalam bidang grafier yang dulu pernah di pelajarinya saat ia masih bekerja. Untuk produknya ia menyasar kalangan menengah atas. Produknya biasanya di pakai sebagai penghias rumah, gedung, apartemen dan restoran. Dengan di pasang hasil karya Yoyo Soenaryo, biasanya rumah atau gedung akan terlihat elegant.

Mulanya Yoyo hanya coba-coba membuat kreasi kaca dan memajangnya namun pada akhirnya banyak yang tertarik sehingga banyak permintaan, dan penjualannya pun tidak kalah dengan penjualan frame. ” para pelanggan yang datang lebih banyak tahu dari omongan pelanggan yang lain dan memang saya tidak pernah mempromosikan tempat usaha saya maupun karya saya.

Pelanggan yang datang merasa puas dengan hasil kerja saya, dan saya mendapatkan kepercayaan itu dari para pelanggan saya “, Cetus Yoyo yang yakin potensi usaha ini masih besar dan persaingannya terhitung jarang karena termasuk produk yang terbilang unik.

Dalam perjalanan usahanya, tempat usaha yoyo sempat terkena gusuran sehingga di pindahkan ke cingkareng, jakarta barat. Dan di tempat yang baru itu iamengontrak sebuah toko namun ternyata membawa dampak yang sangat buruk karena pelanggan yang dulu menjadi pelanggannya tidak mengetahui kepindahannya, otomatis keadaan tersebut membawa dampak sepinya order yang di dapatkan. ” Saya nggak pernah merasa kapok, walaupun usaha yang saya geluti pernah bangkrut “, ceritanya.

Untuk Lebih mendukung usahanya tersebut Yoyo sunaryo berinisiatif membeli sebuah rumah dengan harga Rp. 170 juta. Rumah tersebut selain untuk tempat tinggalnya sekaligus di gunakan sebagai galery. Tempat tinggal yang juga sekaligus digunakan untuk galery itu kemudian di bangun dan di renovasi, dimana setiap dindingnya di hiasi gambar dan lukisan dinding, dan plafon yang bertemakan Painting of The Italian, Romantic Era. Setiap kali ada konsumen yang mendatangti galerynya biasanya merasa tertarik dengan lukisan baik yang ada di dinding setiap sudut galery itu maupun yang berada di plafon galery.

Target Ke Depan

Menyinggung soal omzet, dalam satu bulan ia bisa mendapatkan pesanan lukisan dinding sebanyak 2-3 proyek, dan untuk satu rumah biasanya rata-rata memesan 2 lukisan dengan ukuran masing-masing 2×4 meter.

Harga lukisan tersebut bervariasi tergantung dari tingkat kesulitan, nisalkan untuk gambar yang simpel seperti gambar awan saja harganya sekitar Rp. 300.000,- per meter persegi, tapi untuk jenis ini jarang sekali yang pesan, untuk gembar yang sulit seperti gambar bidadari didinya mematok harga sekitar Rp. 2 juta permeter persegi.

setelah sukses membuka galery Kreasi Mandiri dan menguasai pasar jakarta, luar kota jakarta pun di sasarnya. Hingga sekarang permintaan untuk lukisan dinding dan plafon sangat tinggi karena dalam satu bulan ia bisa mengerjakan 2-3 proyek. Dan tidak sedikit pesanan datang dari luar kota seperti Surabaya, Yogya, semarang, Pontianak dan luar jawa. Pesanan juga tidak hanya dari perumahan sekitarnya, namun juga datang dari perkantoran.

Di katakan Yoyo sunaryo, sampai saat ini ia belum menggunakan jasa bank untuk mengembangkan usahanya. ” Saya selalu di ajarkan oleh orang tua saya untuk selalu hidup mandiri tanpa harus membebankan hidup pada orang lain”, ujarnya. Untuk menambah wawasan, Yoyo sunaryo seringkali membaca buku-buku tentang desain dan gambar-gambar kemudian di aplikasikannya diatas kanvas. ” Saya orangnya selalu ingin tahu jadi kita harus selalu belajar,” akunya.

Sementara itu, dari keuntungan hasil kerja kerasnya selama ini di gunakan untuk menunaikanibadah haji, merenovasi rumah dan galerynya, dan sisanya di tabung untuk mempersiapkan pendidikan kedua puta-putrinya. ” Apabila di tanya sudah sukses atau belum, saya akan menjawab sudah bila hasil karya saya sudah bisa di nikmati di berbagai daerah, bahkan sampai ke luar negeri,” ucapnya bangga.

by Caca C, Tabloid Peluang Usaha.
Read more...

Tedy Dirhamsyah. Bermain dalam dua kuadran, bekerja dan berwirausaha.

Thursday, October 23, 2008

“Pekerjaan utama Saya memang di kantor. Tapi penghasilan utama Saya dari berwirausaha”

Tedy Dirhamsyah masih sangat ingat ketika lima tahun yang lalu ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pertanian.

Sekarang dengan posisinya di bagian perencanaan pada Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, ia mantap mengatakan bahwa di sana lah pekerjaan utamanya. Tapi tidak jika berbicara penghasilan. Sarjana pertanian lulusan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini mengaku bahwa bisnis jaket kulit yang telah dirintisnya terlebih dahulu justru diandalkan sebagai penghasilan utama.

Bisnis jaket kulit yang tengah ditekuni tersebut bernama T-DY Leather. Tak hanya sekedar menjual produk, saat ini ia memproduksi sendiri jaket kulit dagangannya. Tak heran, karena dari awal merintis usaha ia tidak mau setengah-setengah. “Prinsip Saya, harus bisa mendalami apa saja yang dijalankan. Untuk itu Saya harus tahu dan bisa mengukur, men-disain dan juga proses menjahitnya,” urai Tedy.

Untuk produksi ia memilih kota asalnya, Tasikmalaya, sebagai tempat. Ada 7 karyawan tetap yang membantu proses produksi, namun tak jarang beberapa tenaga kerja tambahan (sekitar 10 orang) digunakan untuk menghasilkan pesanan dalam jumlah yang lebih banyak.

Sementara toko untuk memajang produk yang dibantu oleh 3 karyawan, saat ini bisa ditemui di dua lokasi di Jakarta, yaitu di daerah Mangga Besar dan Pasar Minggu. Tedy memang patut bangga dengan usaha yang dibangunnya tersebut. Meskipun bisnis jaket kulit diakuinya termasuk bisnis yang spesifik sehingga jika naik bukan yang langsung besar sekali, atau turun besar sekali, namun dari sisi perkembangan baginya cukup memuaskan. Bayangkan saja, pada waktu sepi saja satu toko dalam sebulan bisa mengumpulkan omset Rp40 juta, sementara jika permintaan ramai bisa mencapai Rp60 juta.

Toko pertama di Mangga Besar dibuka pada tahun 2001. Semenjak itu lah ia benar-benar mandiri, dalam arti tidak lagi tergantung pada hasil produksi orang lain untuk dijual. Nama T-DY Leather sendiri ia gunakan semenjak tahun 1999. Namun jauh sebelum itu ia telah banyak mempelajari seluk beluk industri jaket kulit. “Semenjak SMA hingga kuliah, Saya sudah sering berjualan jaket kulit,” ujar Tedy.

Telah Terbiasa Berwirausaha

Ya, bakat wirausaha sudah lama mengalir dalam diri Tedy. Semenjak duduk di sekolah dasar ia sudah mulai suka berjualan kecil-kecilan. “Mungkin karena pengaruh lingkungan. Ibu Saya dulu pedagang kecil. Saya sering bantu-bantu, dan akhirnya jadi kebiasaan,” urainya.

Nah, cerita ketertarikan untuk mengembangkan bisnis jaket kulit dengan serius dimulai ketika ia mengikuti sebuah program yang diadakan oleh Bank Dunia (World Bank) di Jakarta setelah menamatkan kuliah. Ada seorang staf lembaga tersebut yang mencari jaket kulit dengan mutu baik di Indonesia. Karena telah memiliki banyak pengetahuan di bidang ini, Tedy pun memberikan sebuah contoh produk yang ternyata memang dicari. Permintaan dari teman-teman di lembaga tersebut membuka peluang. Tedy yang ketika itu masih menjual produk dari rekannya mulai mengukur, men-disain dan menyiapkan produk sesuai pesanan. Hasilnya, para pemesan tersebut puas. Peluang tersebut lah yang mendorongnya untuk membuka toko pertama dan memproduksi sendiri jaket kulit. Modal awal yang dikeluarkan ketika itu sekitar Rp17.700.000, sudah mencakup sewa tempat.

Bekerja sambil berwirausaha terbukti bukan halangan untuk mencapai kesuksesan. Justru, dengan posisinya bekerja di instansi yang sekarang, membawa berkah bagi bisnisnya. Lebih banyak network dan promosi bisa dilakukan. Peluang untuk memperkenalkan produk di beberapa departemen tempat bekerja. Bahkan ia tak segan-segan untuk langsung mempromosikan produk. “Saya pakai jaket kulit produksi sendiri, sekalian promosi gratis,” katanya bangga. Promosi tak jarang juga diselingi dengan memberikan pembelajaran kepada orang lain tentang segala sesuatu dalam hal kulit. Misalnya memberikan selebaran dan langsung menerangkan bagaimana mengetahui kulit yang 100% asli, bagaimana perawatannya.

Tedy lebih tenang ketika Susi, sang istri, semenjak dua tahun lalu bisa aktif dan rutin mengawasi usaha. Kendati demikian, ia tetap membagi waktu untuk bisnis selepas jam kantor. “Antara jam 6 hingga jam 8 malam di hari kerja, dan Sabtu dan Minggu Saya selalu di toko,” ujarnya.

Kini produk yang dijual dengan harga eceran berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp800 ribu dan dijual dengan harga berbeda untuk partai besar tersebut tak hanya dibeli konsumen dalam negeri tapi juga oleh konsumen luar negeri. Biasanya ada yang datang dan kemudian membawa pesanan tersebut sendiri ke negara mereka. Sebut saja negara-negara di Afrika Selatan, Kanada, Italia. Beberapa kali hasil karyanya juga dipamerkan pada pameran di dalam maupun luar negeri. “Meski hanya produk yang terbang ke luar negeri dan Saya tidak ikut, T-DY leather dalam berbagai kesempatan ludes terjual,” papar Tedy. (SH)

Sumber : http://www.wirausaha.com

Read more...

Prof. DR. KRHT Tarnama Sinambela Kusumonagoro : Anak Bangsa yang Pantang Menyerah

Wednesday, October 22, 2008

Dia potret anak bangsa yang terkenal gigih, ulet dan pantang menyerah hingga meraih sukses. Pengusaha, pendiri dan pemilik PT Sumber Batu Group ini, selain sukses sebagai pengusaha, juga sangat peduli pada pengembangan budaya, pendidikan dan kerohanian.

Tak heran bila putera berdarah Batak ini memperoleh Gelar Kehormatan Kanjeng Raden Hario Tumenggung (KRHT) dari Keraton Solo, Surakarta, serta sejumlah penghargaan lainnya.

Dia adalah pendiri sekaligus pimpinan tertinggi PT Sumber Batu Group, sebuah kelompok usaha jasa konstruksi yang sejak awal pendirian tahun 1970 dikenal berkiprah banyak di lingkungan proyek-proyek pembangunan fisik, terutama jalan dan jembatan. Dia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan, mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi, di bawah bendera Yayasan Budi Murni.

Seiring keberhasilannya berbisnis, dia pernah dua kali diusulkan sebagai calon Gubernur Sumatera Utara, yaitu pada tahun 1982 dan 1992. Profil tentang dirinya berjudul “Pantang Menyerah” diluncurkan pada tahun 1996. Sebuah buku yang mengukir perjalanan hidupnya yang pantang menyerah hingga meraih sukses.

Dia menjadi pengusaha sukses melalui proses alamiah yaitu tumbuh dan berkembang dari bawah. Berkapital secukupnya bertekad baja dan pantang menyerah lalu bekerja keras dan jujur meraih keberhasilan. Kehadirannya persis saat Jakarta sedang membutuhkan banyak pengusaha jasa konstruksi untuk menata Ibukota Negara menjadi kota metropolitan baru yang ramah terhadap penduduk dan lingkungan.

Dia adalah Tarnama Sinambela bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir pada tanggal 16 Juli 1943 di sebuah perkampungan yang tenang, Desa Pangasean, Porsea, Sumatera Utara. Suami dari Damaris br. Tampubolon ini adalah ayah dua orang anak dan kakek beberapa orang cucu yang memimpin PT Sumber Batu Group, perusahaan jasa konstruksi terkenal rekanan Pemda DKI Jakarta.

Berbagai pekerjaan pembuatan maupun perbaikan jalan, jembatan, trotoar, pengairan, saluran irigasi, bangunan gedung dan berbagai jasa sipil lain bahkan hingga ke pengujian asap kendaraan bermotor pernah dia terima dari Pemda DKI Jakarta sejak awal tahun 1970-an.

Setelah bertengger di puncak kesuksesan dia tak lupa menoleh ke bawah. Yayasan Pendidikan Budi Murni pengelola Universitas Mpu Tantular (UMT) dan sejumlah sekolah TK, SD, SMP, SMA, STM, dan SMEA Budi Murni dia dirikan sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat luas yang membutuhkan pendidikan maju. Dia ingin seluruh masyarakat mempunyai akses terbuka terhadap pendidikan, tidak seperti dirinya dahulu kala.

Dia ingat ketika masih tinggal di Desa Pangasean, Porsea, Sumatera Utara tiap hari harus berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah SMP di Narumonda. Ketika SMA dia harus tinggal di rumah kakak sulungnya di Medan sebab pendidikan sejenis belum tersedia di Pangasean. Itu belum cukup. Untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke universitas dia harus menunggu selama sepuluh tahun. Dia baru berkesempatan duduk di bangku kuliah setelah mempunyai istri, dua orang anak, dan memimpin CV Budi Mulya sebagai direktur.

Dia ingin agar apa yang pernah menimpanya dahulu, seperti hidup sebagai anak petani di desa terpencil dengan sumber pendapatan yang terbatas ditambah akses pendidikan yang tidak tersedia jangan lagi menimpa generasi angkatan baru masa mendatang.

Kesuksesan dia berjuang menaklukkan rimba Metropolitan Jakarta hingga ke tanah Keraton Kasunanan Surakarta yang mengangkatnya sebagai saudara sekandung dan karenanya berhak menyandang gelar kebangsawanan, adalah bukti lain kesungguhan perantau Batak ini sebagai anak bangsa yang menjunjung tinggi keberagaman di bumi Indonesia.

Melihat begitu intens dan besarnya kontribusi yang pernah dia berikan terhadap kemajuan kehidupan sosial keagamaan, menjadikan cerita menarik bahwa dahulu dia bekerja 16 jam sehari namun setiap hari Minggu tak boleh terlewatkan tanpa berbakti kepada Tuhan di Gereja, adalah bukan isapan jempol belaka.

Pengusaha yang kuat ini ditopang oleh seorang istri yang kuat pula di belakang yakni Damaris br. Tampubolon. Mereka berdua biasa bertemu muka selalu hanya pada saat bersentuhan dengan Tuhan di Gereja. Mereka menikah tahun 1963 saat usia dia masih 20 tahun, atau hanya dua tahun setelah menginjakkan kaki di Jakarta dengan status pekerja Hotel Indonesia sebagai Food & Beverage Manager.

Istri yang kuat yang menopang keberhasilan suami tanpa kompromi tanpa pamrih dan tanpa tedeng aling-aling itu setahun kemudian atau 8 April 1964 “menghadiahkan” dia seorang anak laki-laki diberi nama Budi Parlindungan Sinambela. Hanya dalam usia dua tahun perkawainan tepatnya 18 Oktober 1965 kembali hadir anak lelaki kedua sekaligus yang terakhir, Santo Mulya Parulian Sinambela.

Kombinasi nama kedua buah hati itulah yang melahirkan entitas bisnis pertamanya CV Budi Mulya, berdiri tahun 1970, berkantor di Inter Hotel, Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Kehadiran CV Budi Mulya, yang belakangan berubah nama menjadi PT Budi Mulya Jaya dibawah kendali Budi Parlindungan Sinambela, cikal bakalnya dimulai sejak tahun 1969 saat dia memulai usaha kecil-kecilan leveransir bahan bangunan.

Dia waktu itu melayani kebutuhan berbagai bahan bangunan untuk keperluan kegiatan pekerjaan perusahaan-perusahaan jasa konstruksi yang sedang giat-giatnya membangun Kota Jakarta seperti perbaikan jalan, saluran, jembatan, hingga ke perbaikan perkampungan di seluruh wilayah Jakarta.

Jakarta ketika itu dipimpin oleh Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta periode tahun 1966-1977. Ali Sadikin adalah gubernur paling berhasil sepanjang sejarah Kota Jakarta yang sukses membangun Jakarta baik secara fisik maupun mental masyarakat.

Untuk menyulap Kota Jakarta yang masih kumuh dan tak lebih seperti perkampungan menjadi kota metropolitan baru yang disegani oleh dunia internasional, Ali Sadikin ketika itu membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pengusaha jasa konstruksi turut serta menjadi pelaksana pembangunan sarana dan prasarana perkotaan. Seperti yang dia amati, Jakarta ketika itu aktif melakukan pembangunan jalan raya, jembatan, saluran irigasi, bangunan gedung, dan berbagai pekerjaan sipil lainnya.

Pebisnis leveransir bahan bangunan itu menjadi ingin mengikuti jejak langkah para kenalannya dari perusahaan jasa konstruksi yang dia suplai. Jabatan manajer di Hotel Indonesia dia lupakan untuk menjadi seorang enterpreneur baru.

Usaha leveransir yang dia rintis telah membuka akses kepadanya untuk berhubungan serta bergaul akrab dengan para petinggi perusahaan konstruksi. Akses itu dirasakannya cukup sebagai modal untuk menetaskan sebuah entitas perusahaan jasa konstruksi baru milik sendiri.

Itulah CV Budi Mulya, yang dalam usia satu tahun pertama telah dipercaya memperoleh sekaligus menyelesaikan tiga kontrak pekerjaan pembangunan gedung di Jakarta, tahun 1971.

Karena dia merantau ke Jakarta sesungguhnya adalah untuk meneruskan pendidikan tinggi, dan rencana itu telah tertunda selama 10 tahun, maka, di tahun 1971 ketika kesempatan tersedia dia langsung memasuki Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag). Saat itu usia dia sudah menginjak 28 tahun.

Dia tetap genjot laju perusahaan dari pagi hari pukul 07.30 hingga sore 14.30 WIB, lalu sejak pukul 16.00 hingga larut malam pukul 21.00 WIB dia duduk di bangku kuliah Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Jurusan Ketataniagaan Untag.

Dia tidak merasa letih bekerja sambil kuliah. Sebab sebelumnya dia telah pula pernah bekerja di dua tempat sekaligus dalam satu hari untuk jangka waktu lama. Yaitu di Hotel Indonesia sebagai manajer dan di proyek pembangunan gedung Sarinah sebagai pelaksana, keduanya di Jalan MH Thamrin Jakarta. Di tahun 1962 itu sebagai Food & Beverage Manager Hotel Indonesia dia bekerja mulai pukul 07.30 hingga 15.00 WIB, lalu usai itu dia langsung bergegas ke seberang menuju proyek gedung Sarinah.

Kesediaan dia bekerja rangkap ketika itu mengikuti ajakan pakar beton bertulang Prof. DR. Ir. Roosseno, pimpinan proyek gedung Sarinah. Kedua anak bangsa ini pernah berkenalan dalam posisi yang berbeda. Dia sebagai pekerja hotel yang melayani tamu sedangkan Roosseno tamu yang sering mengunjungi Hotel Indonesia.

Tentang dia, Roosseno di tahun 1985 pernah berujar telah mengenal dia sejak tahun 1972 sewaktu masih bekerja di Hotel Indonesia, Jakarta. Orangnya masih muda dan kurus belum gemuk. Roosseno selanjutnya menyebutkan mengajak dia bekerja rangkap di proyek pembangunan pusat pertokoan Sarinah, Jakarta.

“Dengan kemauan yang keras didukung oleh fisik yang masih muda, dia sanggup bekerja pada dua tempat pekerjaan walaupun untuk itu dia harus bekerja siang dan malam,” begitu kesaksian Roosseno yang menjadi guru sekaligus ayah pembimbing bagi dia, serta sebagai pembantu setia sebagai bendahara umum di kepengurusan BPP Gapensi yang dipimpin Roosseno ketika itu.

Maka, mengikuti bimbingan sang guru dia bekerja seringkali hingga larut malam. Selain dia maksudkan untuk menggali ilmu konstruksi juga untuk menunjukkan rasa hormatnya terhadap pimpinan proyek yang selalu mengajari dia bagaimana bekerja keras sekaligus bertanggung jawab pada setiap pekerjaan konstruksi.

Proyek Gedung Sarinah adalah pekerjaan sipilnya yang kedua. Sebelumnya di tahun 1961, persis di awal pertamakali dia menginjak Jakarta, sebagai pekerja asisten pelaksana PT Pembangunan Perumahan dia mengerjakan proyek pembangunan gedung Hotel Indonesia. Di situ, tak lama kemudian karirnya meningkat sebagai pelaksana proyek yang bertanggungjawab terhadap pemakaian material dan pengerahan tenaga kerja harian. Dia menjadi unik hotel kebanggaan Bung Karno ini. Pertama kali dia bekerja sebagai pelaksana pembangunan gedung, lalu setelah selesai melamar dan menjadi manajer pada hotel yang dia bangun itu.

Perjuangan dia menyetarakan diri dengan peradaban modern lewat bangku kuliah berlangsung hingga tahun 1976. Di tahun itu dia diwisuda untuk berhak menyandang gelar sarjana penuh pada disiplin ilmu ketataniagaan.

Dia pun semakin melangkah mantap mengembangkan usaha jasa konstruksi, terutama lewat CV Sumber Batu yang telah dia dirikan di tahun 1972. Sedangkan pengelolaan CV Budi Mulya dia serahkan sepenuhnya kepada istri Damaris br. Tampubolon.

CV Sumber Batu hingga tahun 1974 berhasil menyelesaikan 18 kontrak pekerjaan senilai tak kurang Rp 223 juta, sebuah angka yang sudah cukup besar ketika itu untuk perusahaan sekelas CV berkualifikasi rendah.

Untuk semakin membuka peluang mencari proyek baru dia mengubah status badan hukum usahanya menjadi perseroan terbatas, PT Sumber Batu sejak 6 Agustus 1974. Dia sekaligus menaikkan kualifikasi perusahaannya yaitu menjadi Kelas C untuk pekerjaan bangunan gedung, Kelas B untuk pekerjaan bangunan air, dan Kelas D untuk pekerjaan jembatan.

Bangun Asphalt Mixing Plant
Dalam empat tahun pertama berstatus perseroan hingga tahun 1978 PT Sumber Batu berhasil menyelesaikan pekerjaan sebanyak tujuh kontrak senilai Rp 744 juta.

Di tahun 1978 itu pula berdasarkan kajian serta perhitungan yang cermat dan cerdas dia mendirikan satu unit pabrik penghasil aspal beton hotmix, atau Asphalt Mixing Plant dilengkapi sejumlah alat-alat berat pendukung. Total investasi Rp 1,750 miliar sebuah investasi mahal berjangka panjang ketika itu.

Bersamaan itu dia semakin boleh berbangga hati sebab perusahaanya PT Sumber Batu diizinkan naik ke kelas tertinggi. Predikat Kelas A memungkinkan perusahaan jasa konstruksi seperti Sumber Batu berhak mengerjakan proyek-proyek konstruksi apa saja tanpa batasan nilai proyek.

Keteguhan sekaligus keberanian dia menjadi produsen aspal beton hotmix adalah lompatan baru dalam hal modernisasi teknologi pembangunan fisik. Hotmix sangat praktis digunakan untuk memperkuat konstruksi jalan raya, landasan pesawat terbang, pelataran parkir, dermaga pelabuhan, maupun berbagai keperluan lain.

Penggunaan hotmix sangat sesuai untuk pekerjaan bervolume besar sebab hotmix sangat praktis digunakan sehingga efisien dan pengerjaannya tidak butuh waktu lama. Kualitas jalan raya yang dihasilkan pun mampu mendukung beban berat seperti pada jalan raya kelas satu, atau pada pelataran kontiner, dan sebagainya.

Aspal hotmix dia yakini bukan hanya bisa diandalkan untuk mengejakan proyek-proyek pemerintah namun setiap proyek swasta pun layak memanfaatkan produk teknologi modern pengaspalan ini.

Hanya berselang setahun, sejak tahun 1979 Pemda DKI Jakarta menunjuk PT Sumber Batu sebagai salah satu produsen hotmix yang diperkenankan menangani pekerjaan perawatan rutin jalan-jalan raya di seluruh wilayah Jakarta. Tahun 1980 Sumber Batu berhasil menyelesaikan sembilan pekerjaan hotmix dan tujuh pekerjaan bangunan air senilai Rp 1,332 miliar.

Di tahun 1980 ini pula dia kembali mendirikan satu tambahan Asphalt Mixing Plant dilengkapi alat berat dan laboratorium total investasi Rp 2,500 miliar, lokasi di Jalan Raya Bekasi KM 23,5, Cakung, Jakarta Timur. Kapasitas produksi hotmix meningkat dari 300 ton menjadi 600 ton perhari. Kedua unit Asphat Mixing Plant tersebut di tahun 1981 berhasil menyelesaikan 11 kontrak pekerjaan senilai Rp 1,012 miliar.

Kepercayaan Ditjen Bina Marga menyerahkan pekerjaan peningkatan jalan raya Jakarta-Tangerang-Merak dia jawab dengan pendirian satu Asphalt Mixing Plant baru persis di lokasi proyek di Cikande, Jawa Barat, November tahun 1981. Selama tahun 1981-1982 Sumber Batu berhasil menyelesaikan 23 kontrak pekerjaan senilai Rp 3,724 miliar.

Dalam perjalanan waktu kemudian dia masih mendirikan beberapa Asphalt Mixing Plant baru di setiap lokasi proyek yang ditangani. Seperti yang dia dirikan di tahun 1985 di Kotanopan, Sumatera Utara untuk menunjang pelaksanaan pelebaran jalan Jembatan Merah-Ranjau Batu senilai Rp 3,700 miliar. Demikian pula di Cirebon, juga tahun 1985, untuk menunjang proyek pelebaran jalan Dawuhan Kalijaga, Cirebon senilai Rp 2,300 miliar.

Selain mendirikan Asphalt Mixing Plant di kedua proyek Kotanopan dan Cirebon itu, dia melengkapi pula mesin pemecah batu atau Stone Crusher masing-masing satu unit. Di tahun 1986 mesin serupa pemecah batu stone crusher dia dirikan di site plant Cakung, Jakarta Timur.

Kisah sukses pendirian pabrik hotmix yang memberinya keuntungan besar serta membuka peluang untuk memenangkan tender mengilhami dia untuk juga mendirikan pabrik beton concrete batching plant. Pabrik beton itu mulai dia dirikan di tahun 1984 dilengkapi 10 truck mixer yaitu truk pengangkut beton ke lokasi proyek, serta satu unit laboratorium beton. Total menelan ivestasi Rp 1,200 miliar.

Dia jeli meneropong jauh ke depan. Naluri bisnisnya yang sudah terasah tajam memberinya sikap mafhum bahwa pembangunan fisik di Indonesia yang sedang gencar akan tetap gencar dan pasti membutuhkan jutaan meter kubik beton. Beton itu sangat dibutuhkan untuk pembangunan gedung pencakar langit mulai dari pekerjaan pondasi hingga struktur gedung. Demikian pula beton untuk pembangunan jembatan, trotoar, penurapan saluran air, irigasi, dan berbagai pekerjaan sipil lainnya yang membutuhkan beton.

Kebutuhan beton itu bukan hanya untuk setiap proyek yang dia tangani, melainkan semua perusahaan jasa konstruksi lain yang belum mempunyai concrete bathing plant boleh memesan beton kepada dia. Tak butuh waktu lama, pada 1 Maret 1985 produksi pertama beton siap pakai (readymix) miliknya mulai meluncur digunakan sendiri pada proyek yang dikerjakan Sumber Batu.

Pilihan mendirikan pabrik aspal hotmix, beton, dan stone crusher berinvestasi besar menunjukkan salah satu sisi lain dari jati diri dia yang sesunguhnya. Yaitu selalu ingin sejajar dengan kemajuan teknologi pembangunan fisik. Dia tidak mau disebutkan tertinggal dari orang lain kendati berasal hanya dari sebuah desa kecil, Pangasean, Porsea.

Untuk menunjukkan totalitas keterlibatannya membangun Jakarta sejak 1 Mei 1980 dia menerima keputusan Kepala DLLAJR DKI Jakarta yang menunjuk PT Sumber Batu sebagia pelaksana pengujian asap kendaraan bermotor. Dia juga diperkenankan melakukan perbaikan seperlunya terhadap setiap mesin kendaraan yang proses pembakaran sudah tidak sempurna.

Dia tidak sendiri tetapi ditopang oleh Lembaga Ekologi Universitas Pajajaran Bandung untuk melakukan upaya pengendalian pencemaran udara di kota besar seluruh Indonesia. Dengan lembaga itu dia bekerjasama mengumpulkan data-data analisa untuk memperoleh gambaran yang lengkap guna merencanakan usaha pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup.

Karena kepedulian dia terhadap kelestarian lingkungan itu pada Maret 1981 dia berkesempatan beraudiensi dengan Wakil Presiden Adam Malik untuk melaporkan kegiatan pengujian asap kendaraan bermotor berikut usaha penanggulangan pencemaran udara. Saat itu juga Adam Malik langsung memberi petunjuk dan pengarahan tentang usaha penanggulangan pencemaran udara yang telah dia rintis.

Jenis dan skala usaha yang meluas membutuhkan beragam barang cetakan seperti formulir, daftar isian, surat-surat, buku-buku, kwitansi, map dan sebagainya yang jumlahnya cukup besar. Sejak Mei 1984 dia lagi-lagi memasuki area bisnis baru yaitu percetakan. Dia menghadirkan seperangkat lengkap alat percetakan, yaitu masing-masing satu unit mesin cetak Fuji Offset, mesin potong kertas, plate maker, dan mesin letter press.

Mesin cetak ini dia maksudkan untuk melayani kebutuhan barang cetakan di PT Sumber Batu, Yayasan Pendidikan Budi Murni, dan Universitas Mpu Tantular namun tak tertutup kemungkinan memenangkan kontrak-kontrak pekerjaan cetakan dari luar dalam jumlah besar.

Terjun ke pendidikan
Dia adalah bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir tepat pada tanggal 16 Juli 1943 di sebuah desa yang tenang, Desa Pangasean, Porsea, Toba Samosir, Sumatera Utara. Dia lahir di tengah-tengah sebuah keluarga petani kecil yang untuk menambah penghasilan saja satu-satunya peluang yang tersedia adalah memelihara beberapa ekor kerbau, bebek, dan ayam.

Ayahnya memberi dia nama Tarnama agar penggembala kerbau di masa kanak-kanak itu suatu saat bisa hidup sama seperti namanya yaitu terkenal, atau ternama dimana-mana karena kebaikan, ketokohan, dan kisah suksesnya. Dan itulah yang sesungguhnya telah terjadi pada diri Tarnama.

Padahal, dahulu setamat SMA di Medan tahun 1961 dia pulang ke kampung Pangasean untuk memohon izin merantau ke Jakarta hanya dibekali dua hal. Bekal pertama selembar ijazah SMA berikut sedikit uang hasil penjualan seekor kerbau yang sebelumnya sudah akrab dia gembalakan.

Dan bekal kedua adalah spirit berupa perumpamaan khas Tapanuli, ‘Ulosi nasa tungko-tungko sai adong doi hangoluanmu. Saongi angka dalan dapot ho do na tonggi dalan pasu-pasu’. Artinya, ‘Manfaatkanlah rezeki sekecil apapun itu sebelum cita-cita tercapai sebab jika dikumpulkan akan menjadi banyak dan dapat menjadi jalan kehidupan. Kemudian tanamlah kebaikan di dalam kehidupan agar beroleh rezeki dari sesama manusia dan beroleh yang manis atas jerih payahmu.’

Salah satu sebab setiap kali dia melebarkan sayap usaha adalah karena dibangkitkan oleh semangat yang bergelora. Yaitu semangat untuk membantu menyediakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Dan bersamaan itu dari sisi yang lain dia bersemangat pula untuk mendirikan sekolah maupun lembaga kursus untuk menyiapkan generasi yang lebih maju yang kelak mudah memperoleh pekerjaan.

Pada tahun 1976 Tarnama sudah mendirikan Yayasan Pendidikan Budi Murni yang menyelenggarakan pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA, SMEA, dan STM. Kemudian di tahun 1983 dia mendirikan Lembaga Penunjang dan Peningkatan Pendidikan (LP3) serta mengadakan kerjasama dengan Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia, Jakarta.

Tahun 1984 adalah awal dia mulai memasuki dunia pendidikan tinggi saat mendirikan Universitas Mpu Tantular (UMT). Di tahun itu juga dia mengadakan kerjasama dengan sebuah lembaga pendidikan tinggi asing Jhon Dewey University, dari Amerika Serikat. Lembaga lain yang dia dirikan adalah Lembaga Pendidikan Komputer di tahun 1999, Akademi Manajemen Ilmu Komputer di tahun 1999, Lembaga Akademi Maritim di tahun 2000, dan Lembaga Bahasa Inggris di tahun 2000.

Ke daerah-daerah dia aktif melebarkan usaha mendirikan bank perkreditan rakyat (BPR) untuk memberikan kredit bagi setiap orang yang membutuhkan uang untuk modal usaha. Beberapa BPR sudah dia dirikan. Antara lain, BPR Sumber Pangasean di Cikampek, Jawa Barat berdiri tahun 1992, BPR Sumber Hiobaja di Baki, Solo, Jawa Tengah tahun 1993, BPR Sumber Sibapudung di Cirebon, Jawa Barat tahun 1993, BPR Sumber Tiopan Raya di Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara tahun 1993, dan BPR Sumber Lumban Mual di Citereup, Bogor, Jawa Barat tahun 1993.

Aktif berorganisasi
Untuk memperluas cakrawala pemikiran serta agar selalu berada di lingkaran dalam para pelaku usaha jasa konstruksi dia melibatkan diri di sejumlah organisasi profesi. Malah tidak jarang dia diminta tampil sebagai pengurus inti. Misalnya, dia aktif di organisasi Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi), Perhimpunan Instalatur Air Minum Jakarta, Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Kadin Jaya dan Kadin Indonesia, Asosiasi Asphalt Beton DKI Jakarta, Anggota Dewan Penyantun Universitas Bukit Barisan Medan, Sumatera Utara, bahkan hingga Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas).

Pengusaha sukses yang di tahun 1984 pernah diangkat sebagai Staf Deputi Pembangunan Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) ini, di tahun 1980 memperoleh penghargaan berupa gelar doktor honoris causa dari Jhon Dewey University Consortium, AS. Dan di tahun 1993 masih dari universitas yang sama dia memperoleh lagi gelar profesor. Selain tercatat beberapa kali memperoleh medali penghargaan pendidikan, di tahun 1994 Tarnama dinobatkan sebagai “Tokoh Pendidikan” dalam acara Men of The Year 1993-1994 yang didasarkan karena tingginya tingkat kepedulian dia mengembangkan dunia kependidikan.

Bidang lain yang kerap kali pernah memberi dia penghargaan atas keterlibatan aktif dan dedikasinya adalah bidang seni budaya, bidang usaha, bidang keagamaan, bidang pemerintahan, dan bidang olahraga.

Di bidang seni budaya pada tanggal 23 April 1985 Tarnama memperoleh gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Solo, Surakarta. Saat itu, adalah bersamaan hari ulang tahun Kasunanan Pakubuwono XII dia memperoleh penobatan gelar bangsawan Jawa dalam sebuah upacara kebesaran adat Keraton Surakarta. Sejak itu resmilah nama lengkap dia menjadi Kanjeng Raden Tumenggung DR. Tarnama Sinambela Kusumonagoro.

Namun persis sembilan tahun kemudian, pada tahun 1994 dari sumber yang sama yaitu Keraton Surakarta dia kembali memperoleh gelar kehormatan kebangsawanan. Kali ini lebih bergengsi yaitu Kanjeng Raden Hario Tumenggung. Sehingga, nama lengkap dia sekarang adalah Prof. DR. Kanjeng Raden Hario Tumenggung Tarnama Sinambela Kusumonagoro.

Jika gelar bangsawan Jawa pernah dia peroleh, sebaliknya kepada seorang putra Jawa dia bersama tetua adat pernah pula menganugerahkan sebuah marga yakni Sinambela kepada Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo pada bulan Oktober 1981. Dasar pemikirannya, Tjokropranolo adalah seorang tokoh yang banyak mengabdi kepada kepentingan masyarakat luas.

Hal itu dibuktikan oleh mulai tukang becak, pedagang kaki lima yang berdagang beratapkan langit maupun tenda-tenda, demikian pula anak-anak, orang tua hingga masyarakat intelektual semua mengenal siapa gubernurnya yaitu Tjokropranolo.

Tarnama kakek dari beberapa orang cucu yang di tahun 1987 pernah dinobatkan sebagai pria berbusana terbaik, pada tahun sama 1987 itu dia pernah memperoleh penghargaan dari Lembaga Sisingamangaraja XII atas peran sertanya mensukseskan pelaksanaan Peringatan 10 Windu Wafatnya Pahlawan Sisingamangaraja XII.

Pengusaha terkenal itu juga pernah dianugerahi beragam penghargaan khusus di bidang dunia usaha. Dia antara lain pernah dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Wiraswasta dalam buku Profil 10 Pengusaha Indonesia, yang terbit tahun 1992. Kemudian, pada tahun 1994 dinobatkan sebagai Putra Penerus Pembangunan Bangsa oleh Yayasan Pengembangan Mode Forum dan Budaya Indonesia.

Dia begitu intens membantu kegiatan kerohanian terlihat dari besarnya peran dan kontribusi yang pernah dia berikan. Cerita di masa muda bahwa setiap hari Minggu tak pernah terlewatkan tanpa berbakti kepada Tuhan di Gereja bukan isapan jempol belaka.

Bahkan, pengusaha kuat ini ditopang oleh seorang istri yang kuat pula Damaris br. Tampubolon yang dia “ketemukan” saat-saat bersentuhan dengan Tuhan di Gereja. Mereka menikah tahun 1963 saat usia dia masih 20 tahun.

Sederetan penghargaan dari berbagai denominasi gereja pernah dia terima. Deretan yang sama panjang pernah pula dia terima di bidang pemerintahan..

Tarnama yang dahulu biasa mengendarai scooter Vespa tua.miliknya hilir mudik dari rumah ke kantor, ke instansi pemerintah dan swasta pemberi proyek, serta ke lokasi proyek-proyek yang sedang dikerjakan adalah Tarnama yang masih sama dengan sekarang yang penuh dengan kerendahan hati dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tidak ada yang berubah pada dia walau namanya sungguh sudah benar-benar ternama di antara elit pengusaha nasional sesuai keinginan sang ayah saat memberinya nama Tarnama Sinambela.

“Bapak gurunya” di bidang konstruksi Roosseno menyebutkan dibutuhkan ribuan putera-puteri Indonesia seperti Tarnama Sinambela yang mau berpartisipasi mendukung usaha pemerintah d bidang pembangunan fisik maupun dalam usaha mencerdaskan bangsa.

Letnan Jenderal ((Purn) Tjokropranolo, Gubernur DKI Jakarta 1977-1982 yang banyak memberi dia kesempatan mengembangkan diri menjadi pengusaha pribumi yang berhasil memberikan pujian yang senada.

Gubernur Tjokro pengganti Ali Sadikin itu menyebutkan, sebagai orang yang lebih tua selalu memberi nasehat dan anjuran-anjuran kepada Tarnama Sinambela agar di dalam setiap investasi yang ditanamkan untuk pengembangan perusahaan tidak lupa memikirkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga, pengembangan perusahaan itu dapat membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga Indonesia yang belum memperoleh kesempatan bekerja.►/ht

Sumber : tokohindonesia.com

Read more...

Kisah Sukses Purdi E Chandra - Primagama

Tuesday, October 7, 2008

Purdi barus di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.

Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar).

Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.

Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).

Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.

Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.

Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber : www.purdiechandra.com)

Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.

Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.

“Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta.

Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.

Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA.

Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama Jakarta.

Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?

Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.

Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart.

Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.

Apa itu?

Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%.

Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu…

Apa artinya street smart?

Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.”

Kok tidak yang menjual sayur saja?

Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.
Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?

Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.

Setuju dengan pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school” ?

Kalau saya if you want to be rich and happy, ya…. Kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha.

Penelitian di Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar.

Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.

Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?

Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan.

Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.

Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?

Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar!

Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang.

Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?

Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?

Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.

Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‘Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!’. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel.

Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual bell handphone.

Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan…

Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.

Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?

Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya.

Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100 milyar, kan?

Rasionalnya di mana?
Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, “Jangan dihitung terus!” Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.

Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…

Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.

Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?

EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.

Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?

Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.

Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?

Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.

Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?

Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa…. Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi.

Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang.

Bangkit

Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah “penglihatan pemikiran” yang selama ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari “impian-Nya”.

Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.

Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot menyeduhnya di rumah.

Tetapi perlu kiranya dibedakan antara “mendambakan” dan “memimpikan”. Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.

Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.

Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan.

Penglihatan Pikiran

Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi.

Dr. David Schwartch, dalam The Magic of Thinking Success, yakin bahwa perasaan kita yang paling tak ternilai harganya adalah penglihatan pikiran. Penglihatan tersebut membentuk gambaran masa depan yang kita harapkan, rumah yang kita idamkan, hubungan keluarga yang kita dambakan, liburan yang akan kita ambil, atau penghasilan yang akan kita nikmati kelak.

(sumber : www.purdiechandra.com)

Read more...