Tedy Dirhamsyah. Bermain dalam dua kuadran, bekerja dan berwirausaha.

Thursday, October 23, 2008

“Pekerjaan utama Saya memang di kantor. Tapi penghasilan utama Saya dari berwirausaha”

Tedy Dirhamsyah masih sangat ingat ketika lima tahun yang lalu ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pertanian.

Sekarang dengan posisinya di bagian perencanaan pada Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, ia mantap mengatakan bahwa di sana lah pekerjaan utamanya. Tapi tidak jika berbicara penghasilan. Sarjana pertanian lulusan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini mengaku bahwa bisnis jaket kulit yang telah dirintisnya terlebih dahulu justru diandalkan sebagai penghasilan utama.

Bisnis jaket kulit yang tengah ditekuni tersebut bernama T-DY Leather. Tak hanya sekedar menjual produk, saat ini ia memproduksi sendiri jaket kulit dagangannya. Tak heran, karena dari awal merintis usaha ia tidak mau setengah-setengah. “Prinsip Saya, harus bisa mendalami apa saja yang dijalankan. Untuk itu Saya harus tahu dan bisa mengukur, men-disain dan juga proses menjahitnya,” urai Tedy.

Untuk produksi ia memilih kota asalnya, Tasikmalaya, sebagai tempat. Ada 7 karyawan tetap yang membantu proses produksi, namun tak jarang beberapa tenaga kerja tambahan (sekitar 10 orang) digunakan untuk menghasilkan pesanan dalam jumlah yang lebih banyak.

Sementara toko untuk memajang produk yang dibantu oleh 3 karyawan, saat ini bisa ditemui di dua lokasi di Jakarta, yaitu di daerah Mangga Besar dan Pasar Minggu. Tedy memang patut bangga dengan usaha yang dibangunnya tersebut. Meskipun bisnis jaket kulit diakuinya termasuk bisnis yang spesifik sehingga jika naik bukan yang langsung besar sekali, atau turun besar sekali, namun dari sisi perkembangan baginya cukup memuaskan. Bayangkan saja, pada waktu sepi saja satu toko dalam sebulan bisa mengumpulkan omset Rp40 juta, sementara jika permintaan ramai bisa mencapai Rp60 juta.

Toko pertama di Mangga Besar dibuka pada tahun 2001. Semenjak itu lah ia benar-benar mandiri, dalam arti tidak lagi tergantung pada hasil produksi orang lain untuk dijual. Nama T-DY Leather sendiri ia gunakan semenjak tahun 1999. Namun jauh sebelum itu ia telah banyak mempelajari seluk beluk industri jaket kulit. “Semenjak SMA hingga kuliah, Saya sudah sering berjualan jaket kulit,” ujar Tedy.

Telah Terbiasa Berwirausaha

Ya, bakat wirausaha sudah lama mengalir dalam diri Tedy. Semenjak duduk di sekolah dasar ia sudah mulai suka berjualan kecil-kecilan. “Mungkin karena pengaruh lingkungan. Ibu Saya dulu pedagang kecil. Saya sering bantu-bantu, dan akhirnya jadi kebiasaan,” urainya.

Nah, cerita ketertarikan untuk mengembangkan bisnis jaket kulit dengan serius dimulai ketika ia mengikuti sebuah program yang diadakan oleh Bank Dunia (World Bank) di Jakarta setelah menamatkan kuliah. Ada seorang staf lembaga tersebut yang mencari jaket kulit dengan mutu baik di Indonesia. Karena telah memiliki banyak pengetahuan di bidang ini, Tedy pun memberikan sebuah contoh produk yang ternyata memang dicari. Permintaan dari teman-teman di lembaga tersebut membuka peluang. Tedy yang ketika itu masih menjual produk dari rekannya mulai mengukur, men-disain dan menyiapkan produk sesuai pesanan. Hasilnya, para pemesan tersebut puas. Peluang tersebut lah yang mendorongnya untuk membuka toko pertama dan memproduksi sendiri jaket kulit. Modal awal yang dikeluarkan ketika itu sekitar Rp17.700.000, sudah mencakup sewa tempat.

Bekerja sambil berwirausaha terbukti bukan halangan untuk mencapai kesuksesan. Justru, dengan posisinya bekerja di instansi yang sekarang, membawa berkah bagi bisnisnya. Lebih banyak network dan promosi bisa dilakukan. Peluang untuk memperkenalkan produk di beberapa departemen tempat bekerja. Bahkan ia tak segan-segan untuk langsung mempromosikan produk. “Saya pakai jaket kulit produksi sendiri, sekalian promosi gratis,” katanya bangga. Promosi tak jarang juga diselingi dengan memberikan pembelajaran kepada orang lain tentang segala sesuatu dalam hal kulit. Misalnya memberikan selebaran dan langsung menerangkan bagaimana mengetahui kulit yang 100% asli, bagaimana perawatannya.

Tedy lebih tenang ketika Susi, sang istri, semenjak dua tahun lalu bisa aktif dan rutin mengawasi usaha. Kendati demikian, ia tetap membagi waktu untuk bisnis selepas jam kantor. “Antara jam 6 hingga jam 8 malam di hari kerja, dan Sabtu dan Minggu Saya selalu di toko,” ujarnya.

Kini produk yang dijual dengan harga eceran berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp800 ribu dan dijual dengan harga berbeda untuk partai besar tersebut tak hanya dibeli konsumen dalam negeri tapi juga oleh konsumen luar negeri. Biasanya ada yang datang dan kemudian membawa pesanan tersebut sendiri ke negara mereka. Sebut saja negara-negara di Afrika Selatan, Kanada, Italia. Beberapa kali hasil karyanya juga dipamerkan pada pameran di dalam maupun luar negeri. “Meski hanya produk yang terbang ke luar negeri dan Saya tidak ikut, T-DY leather dalam berbagai kesempatan ludes terjual,” papar Tedy. (SH)

Sumber : http://www.wirausaha.com

0 comments: