Franchise Makanan, Pilihan Berbisnis di Indonesia

Friday, December 4, 2009

Besarnya populasi penduduk di Indonesia sekitar 234 juta orang membuat Indonesia selalu dilirik oleh kalangan pengusaha dunia, terutama usaha makanan.


Dalam seminar bertajuk 'ASEAN-An Important Growth Engine in Asia' di rangkaian World Small-Medium Enterprise (SME) Hong Kong, Jumat (4/12), Kepala Departemen Hubungan Internasional Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO) Anthony Suryakusuma mengatakan usaha retail makanan di Indonesia terus berkembang sehingga menjadi peluang yang menjanjikan bagi pengusaha internasional, termasuk Hong Kong. "Penetrasi retail makanan modern 20 persen dan akan terus berkembang," ujarnya.

Menurut Anthony, hal ini didukung oleh fakta bahwa Foreign Direct Investment (FDI) terbesar selama 10 tahun adalah mineral, energi dan makanan. Anthony menunjukkan pasar Carrefour, Hero, dan minimarket sebagai retail makanan modern yang perkembangannya mencengangkan. Ia menambahkan para investor dapat menggunakan sistem franchise untuk mencoba peruntungan bisnis retail makanan di Indonesia. "Franchise mungkin menjadi pilihan yang baik karena regulasi cukup mendukung," lanjutnya.

Menurut data APRINDO, saat ini terdapat 8.500 outlet yang ada di Indonesia, terdiri dari 7.650 minimarket, 435 supermarket, 130 hypermarket, dan 285 department store.

Jawa Bisa Jadi Pilihan

Di depan forum, Anthony dengan jujur mengatakan bahwa populasi terbesar Indonesia ada di Pulau Jawa. Selain itu, infrastruktur di pulau ini, terutama Jakarta, adalah yang terbaik dibanding wilayah lain.

Menjawab pertanyaan sejumlah pengusaha soal kota lain pun, Anthony mengatakan mereka bisa berpikir mengembangkan bisnis di Surabaya, Medan, Makassar dan Denpasar.

"Tapi saat berbisnis, pastikan siapa yang mau kau pilih jadi partner. Kau harus memilih partner terbaik karena akan memfasilitasimu dengan baik untuk memilih jalan dengan hasil yang efisien," tegasnya.

KOMPAS.com Caroline Damanik
Editor: wsn

Read more...

Jangan Salah... Waralaba Cendol Justru Paling Dilirik

Saturday, November 14, 2009

Siapa di Tanah Air ini yang tak kenal dengan minuman cendol? Mulai dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa, minuman ini menjadi ciri khas dengan cita rasanya masing-masing.


Sebut saja cendol alias dawet Banjarnegara, Ponorogo, hingga cendol Bandung. Tak ayal, minuman ini pun dikemas lebih eksklusif dan dibungkus menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Tak lagi hanya dijual oleh pedagang keliling...

Penasaran? Inilah beberapa franchisor cendol yang menjadi idola di arena Franchise License Expo Indonesia, yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Jakarta, 13-15 November 2009.

Cendol Desa

Namanya boleh saja "Cendol Desa". Kemasan gerobaknya, sudah "Ngota ". Dengan warna dominan merah, usah franchise atau waralaba yang dirintis Tatang Kusdiana ini lumayan ramai disinggahi pengunjung. Untuk menjadi franchisee alias mitra, cukup menyediakan modal Rp 3,9 juta hingga Rp5,9 juta.

Tatang mengisahkan, bisnis ini sudah dirintisnya selama tiga tahun terakhir. Mengapa cendol? "Awalnya, saya berpikir bahwa tuntutan hidup semakin berat. Daripada hanya mengeluh, mending berpikir bagaimana merintis bisnis yang bisa menghasilkan sekalian memanfaatkan waktu yang masih ada, di samping waktu bekerja," kata Tatang, saat dijumpai Kompas.com di sela pameran, Sabtu ( 14/11 ), di JCC, Jakarta.

Alasan memilih cendol, sederhana saja. Bagi Tatang yang berasal dari Jawa Barat, minuman tradisional ini dipandangnya sebagai minuman yang sudah "mendarah daging" bagi masyarakat Indonesia. Maka, ia berpikir, mengembangkan bisnisnya pun tak akan terlampau susah.

"Potensi bisnis cendol, aman-aman saja ya. Orang sepertinya enggak pernah bosen minum cendol. Selain itu, untuk modal juga enggak terlalu mahal, jadi bisa mengajak banyak orang untuk berbisnis," kata Tatang, yang masih berprofesi sebagai pegawai BUMN ini.

Belajar mengolah cendol dari para pedagang jalanan, Tatang kemudian browsing hingga ke dunia maya demi menghasilkan cendol yang bercita rasa luar biasa. Kebetulan, istrinya juga bisa membuat cendol. "Sekarang, kata orang-orang, cendol saya khas Jawa Barat," ujarnya.

Pembagian royalti, Tatang tak mewajibkan mitranya untuk berbagi keuntungan per bulan. Para mitra hanya diwajibkan untuk mengambil produk dari franchisor untuk keseragaman rasa. "Keuntungan laba seluruhnya milik mitra," jelas Tatang.

Kontrak franchise berlaku selama tiga tahun dan dapat diperpanjang ketika kontrak habis. Saat ini, sudah terdapat 10 outlet "Cendol Desa" yang tersebar di kawasan Jakarta dan Bekasi. Bisnis ini, kini dijalankannya bersama sang istri dan lima orang karyawannya.

Cendol Idol

Selain "Cendol Desa", satu lagi franchise cendol yang juga diserbu pengunjung adalah "Cendol Idol". Yang menjadi franchisornya adalah PT Cocomas Indonesia, perusahaan yang bergerak di bisnis pengolahan kelapa.

Retail Bussiness Manager PT Cocomas Indonesia, Sapto Sri Asmoro mengatakan, franchise ini baru dijalankan perusahaannya sejak Agustus 2009 lalu. Hingga bulan November ini tak kurang dari 320 mitra sudah digaet dan tersebar di seluruh Tanah Air.

Apa kelebihan "Cendol Idol"? "Pada prinsipnya, kami ingin memudahkan mitra. Mulai dari peraturan hingga ke pengemasan outlet dan memberikan kesempatan berkreasi," kata Sapto.

Ia menceritakan, pihaknya mempersiapkan outlet yang easy taking . Artinya, outlet dikemas sedemikian rupa agar si mitra gampang untuk menentukan lokasi berjualan. Outlet tersebut bisa dilipat dan dikemas dalam sebuah tas berwarna hitam.

"Jadi, bisa jualan dimana saja. Kalau pakai gerobak itu kan harus pikir uang sewa lokasi, kemudian kalau membawanya pun perlu angkutan khusus. Kalau outlet kami cukup ditaruh di bagasi mobil, pilih tempat yang ramai," ujarnya.

Hingga akhir tahun 2010, mereka yang menjadi mitra "Cendol Idol" tidak wajib berbagi royalti. Selain itu, Cocomas juga menyediakan santan dan cendol bagi para mitra. "Jadi, ini memang bisnis dengan konsep tradisional yang dimodernisasi. Tapi, kita juga memberikan kesempatan mitra untuk mengembangkan produk dagangan. Misalnya, dikombinasi menjadi es campur atau cendol, sepanjang memakai produk kami," papar Sapto.

Modal awal untuk outlet cendol dipatok harga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk outlet es campur Rp 2,7 juta. Modal satu cup cendol sekitar Rp 3.650. Dengan modal itu, cendol dijual minimal Rp 5.000 per cup.

Mitra diberikan keleluasaan mematok harga di atas harga minimal, menyesuaikan dengan lokasi penjualan. Rasa yang ditawarkan cukup bervariasi, yaitu durian, pandan dan natural.

Berminat? Sebelum memutuskan, hendaknya jajaki dulu setiap franchise yang ada, berikut paket penawaran dan hitung-hitungan keuntungannya.

KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Editor: msh

Read more...

Minat Bisnis Franchise? Ayo, Serbu Senayan!

Bisnis franchise alias waralaba semakin menggejala. Bisnis ini, jika ditekuni ternyata mendatangkan keuntungan yang tak sedikit. Anda berminat menjalankan bisnis ini?


Ada kesempatan emas untuk melakukan survei jenis bisnis apa yang memungkinkan untuk dirintis. Datang saja ke Franchise License Expo Indonesia di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta pada 13-15 November 2009.

Pantauan Kompas.com, di hari kedua pameran, para pengunjung memadati gedung yang terdapat di kompleks Gelora Bung Karno itu. Syahrial, seorang warga Depok mengaku, tengah menjajaki bisnis ini.

"Saya masih status PNS, tapi tidak ada salahnya mulai merintis bisnis sendiri. Apalagi, daerah tempat tinggal saya, di Depok, lumayan berkembang. Jadi, bisa mengembangkan bisnis makanan," katanya.

Meski banyak aneka jenis franchise yang ditawarkan, Syahrial mengaku lebih tertarik berbisnis makanan. "Orang setiap hari kan makan, mbak. Jadi lebih pasti lakunya," ujar bapak tiga anak ini.

Di arena pameran tersebut, tak hanya berbagai franchisor makanan yang memberikan penawaran. Mulai dari usaha kecantikan, travel, laboratorium kesehatan, laundry, telepon seluler, hingga berbagai jenis minuman. Tertarik?

KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Editor: hertanto

Read more...

Waralaba Salon Bakal Berkibar Tahun Depan?

Thursday, November 5, 2009

Bisnis usaha waralaba dan lisensi di sektor jasa salon perawatan diperkirakan masih akan diminati hingga tahun depan. Pasalnya, usaha ini dinilai kebal terhadap krisis keuangan global dan memiliki pangsa pasar yang luas.


Demikian disampaikan Ketua Umum Himpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit, di sela-sela jumpa pers, di Hotel Redtop, Jakarta, Kamis (5/11). "Ibu-ibu itu mending enggak makan dan enggak belanja asal perawatan. Sepanjang perempuan masih banyak dan sepanjang perempuan itu masih ada, maka industri jasa akan berkibar," cetusnya.

Disamping itu, dia juga memprediksi untuk tahun depan sektor makanan dan minuman juga masih diminati. Dia mencontohkan, untuk sektor makanan yang diminati umumnya adalah jenis usaha seperti restoran yang menawarkan harga murah untuk kalangan menengah kebawah.

Adapun untuk sektor minuman, adalah jenis minuman siap saji yang dijual di sejumlah mall. "Kalau restoran waralaba yang diminati paling yang harganya jutaan. Begitu juga dengan minuman, itu yang berkisar Rp 5 jutaan juga banyak diincar," tandasnya.

ANI
Editor: Edj

Read more...

Kiat Jadi Pengusaha ala Ciputra

Tuesday, October 20, 2009

Menjadi pengusaha bukanlah warisan dari orang tua. Semua orang dapat menjadi pengusaha asalkan mereka mengerti dan memahami apa arti pengusaha itu sendiri. Demikian dikatakan Ciputra, CEO Ciputra Group dalam seminar yang bertajuk The Importance of Enterpreneurship for Indonesia's Economic Development, di Jakarta, Selasa (10/20).


"Pengusaha bukanlah profesi turunan, semua orang bisa menjadi pengusaha asalkan memahami dan mempunyai mind set tentang arti pengusaha itu sendiri," kata dia.

Ia menuturkan, setelah menemukan arti dan mempunyai mind set, calon pengusaha harus menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam menjalankan usahanya. Jenis usaha juga sesuaikan jenis usaha dengan kemampuan, budaya pengusaha dan target pasar. Setelah kesemua hal tersebut terpenuhi maka calon pengusaha mengikuti training yang sesuai dengan usaha yang akan dijalankannya. "Dengan begitu ia mempunyai gambaran apa yang harus dia lakukan," ucapnya.

Calon pengusaha, tambahnya, juga harus mempunyai semangat dan mental pengusaha. Tidak semua pengusaha berhasil di masa-masa awalnya. Banyak juga pengusaha yang terpuruk saat awal menjalankan usaha barunya. "Pengusaha enggak selalu sukses, bisa gagal dan jatuh. Tapi pengusaha hebat akan bangkit dan belajar dari pengalamannya itu untuk menjadi sukses di masa depan," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Bidang UKM Sandiaga Uno menambahkan, untuk menjadi pengusaha yang sesungguhnya seseorang harus berani meninggalkan zona aman yang selama ini ditempatinya. Selain itu, seseorang juga harus berani mengambil kesempatan yang ada di depannya. "Ada kata-kata bijak yang mengatakan kita harus mengambil kesempatan untuk menjadi pengusaha yang ada. Itu yang harus dijadikan pegangan," ucapnya.

RDI
Editor: Edj

Read more...

10% Yang Layak Disebut Sebagai Waralaba

Friday, October 9, 2009

Kesadaran pemilik usaha untuk menaikkan status usahanya dari peluang usaha menjadi waralaba masih rendah. Meski belum bisa disebut sebagai waralaba, sekitar 90 persen pemilik peluang usaha yang sudah berani beroperasi layaknya sebuah waralaba sehingga berpotensi merugikan investor.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, peluang usaha (business opportunity) terus bermunculan. Saat ini, jumlah peluang usaha yang beroperasi di Indonesia mencapai 850 unit. Dari jumlah itu, baru sekitar 10 persen yang layak disebut sebagai waralaba (franchise).

"Untuk bisa disebut sebagai waralaba, usaha itu harus berhasil lebih dulu, 80 persen produknya cepat laku, memiliki keunikan, dan ada prototipe usahanya. Yang bisa seperti itu baru sekitar 10 persen. Kalau mau bertahan, waralaba itu tidak bisa muncul secara instan," tuturnya, Jumat (9/10) saat ditemui dalam Franchise and Business Concept Expo 2009 di Yogyakarta.

Menurut dia, dukungan pemerintah terhadap waralaba sangat minim. Pemilik peluang usaha kurang mendapat pembinaan dan pelatihan sehingga tidak memahami pentingnya menjadi waralaba.

Selama ini, pemilik usaha biasanya terburu-buru untuk menjual ide usahanya karena tergiur dengan penghasilan yang akan didapat. Padahal usaha yang ia rintis belum benar-benar tertata baik dari sisi manajemen maupun pemasaran. Akibatnya, banyak investor yang rugi karena usahanya tidak bisa bertahan lama. Di DIY, hal itu terjadi pada peluang usaha di bidang makanan.

Anang menuturkan, pemilik peluang usaha bisa saja menjual ide usahanya. "Namun ia harus terbuka kepada calon investor sehingga mereka mengetahui risiko usahanya. Ia harus jujur bahwa usahanya itu belum bisa disebut waralaba. Jadi kalaupun dijual, dia tidak bisa memungut biaya franchise . Harga jualnya pun bisa ditawar oleh investor," jelasnya.

KOMPAS Idha Saraswati W Sejati

Editor: Edj
Read more...

Waralaba Makanan Cepat Jenuh?

Monday, October 5, 2009

Usaha waralaba di bidang makanan lebih cepat jenuh dibanding bidang lain. Dari sekitar 20 usaha waralaba makanan yang muncul di DIY, saat ini hanya sekitar 35 persen yang bisa terus berkembang.


Ketua Paguyuban Alumni Waralaba Yogyakarta Annas Yanuar mengatakan, pertumbuhan waralaba makanan di DIY cukup tinggi. Selain waralaba lokal, ada banyak waralaba dari luar yang masuk. "Hal itu membuat masyarakat cepat merasa jenuh dengan jenis-jenis makanan yang ditawarkan. Usaha makanan itu paling riskan karena larinya ke rasa . Kalau tidak ada variasi konsumen akan cepat jenuh," katanya, Senin (5/10).

Walaupun banyak usaha waralaba yang tidak berlanjut, lanjut Annas, animo pengusaha untuk mewaralabakan usahanya masih besar. Permintaan dari calon investor pun masih ti nggi. Banyaknya mahasiswa di DIY dianggap sebagai pasar potensial bagi usaha waralaba. Pemilik Soto Ponorogo dan Bakmi Kadin, misalnya, tengah menjajagi kemungkinan untuk mewaralabakan usahanya.

Menurut Annas, kreativitas pelaku wirausaha di DIY dalam menciptakan ide usaha memang tinggi. Secara nasional, saat ini jumlah usaha waralaba yang muncul di DIY menempati posisi kedua setelah Jakarta. "Waralaba di bidang jasa, pendidikan sampai kuliner tetap diminati. Jumlah yang muncul di DIY sekitar 50-an, dengan ribuan gerai yang tersebar ke seluruh Indonesia," ujarnya.

Secara terpisah, pemilik usaha waralaba Tela Tela Febri Triyanto mengatakan, usaha di bidang makanan memang memiliki siklus jenuh. "Jika dulu di DIY ada 100 gerai Tela Tela, kini jumlahnya tinggal sekitar 50 gerai. Sedangkan secara nasional Tela Tela saat ini punya 1.650 gerai. Tahun 2005 gerobak Tela Tela di DIY sangat banyak. Di satu sisi omzetnya bisa sangat tinggi, di sisi lain itu menimbulkan kejenuhan dan persaingan sehingga perlu dikurangi," katanya.

Menurut dia, bertahannya usaha waralaba juga sangat tergantung pada faktor manusia. Meski menjadi usaha sampingan, pembeli merek waralaba harus tetap menseriusi usahanya. Selain itu, inovasi produk harus terus dilakukan.


KOMPAS Idha Saraswati W Sejati
Read more...

Motivasi Bisnis Wirausaha

Saturday, April 11, 2009

Yang penting, selama semangat juang masih bisa dibangkitkan serta dikobarkan terus, bisa dipastikan bahwa jerih payah itu akan membuahkan hasil yang bermanfaat. Tanggalkanlah pendapat yang mengatakan bahwa usia lanjut adalah usia beristirahat. Justru, semakin usia bertambah, kebutuhan akan aktivitas kerja semakin meningkat.


Kenyataan sering membuktikan bahwa mereka yang terus aktif sampai usia senja, memiliki kesehatan yang lebih prima, tidak sakit-sakitan dan akan berumur panjang. Lanjut usia bukan alasan untuk mengatakan : aku sudah tua, aku sudah lelah, sudah terlambat, sudah tidak mempunyai ambisi dan seterusnya. Sebaliknya, yang muda usia pun jangan menganggap diri belum waktunya terjun kemasyarakat, karena merasa belum pengalaman, belum memiliki kemampuan, belum punya modal, belum siap mental dan sederetan belum lainnya. Dimanakah adanya tempat diantara “belum” dan “sudah” itu ?

Napoleon Hill mengatakan jangan selalu mencari-cari alasan untuk memaafkan diri sendiri (excusitis), karena hal itu justru yang paling sering menjerumuskan manusia kedalam jurang kemalasan dan kegagalan hidup. Steve Jobs, pendiri Apple Computer membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang sukses sebelum berumur 30 tahun. Demikian juga Bill Gates, bos Microsoft, berjaya pada usia muda. Dilain pihak, Ray Kroc memperlihatkan bahwa memulai usaha diusia lanjut, bukanlah masalah, terbukti bahwa ia bisa mendirikan kerajaan bisnis raksasa melalui usaha restoran McDonald’s diseluruh dunia.

Seperti diketahui Ray Kroc baru merintis secara sungguh-sungguh usahanya itu setelah berusia 52 tahun. Selain dia, Kolonel Sanders juga berhasil mengangkat usaha ayam gorengnya melanglang buana, melalui jaringan restoran Kentucky Fried Chicken yang mashur itu. Padahal, Sang Kolonel baru memulai bisnisnya setelah memasuki masa pensiun, hanya bermodal secarik resep masakan ayam goreng !

Memang patut diakui, permasalahan yang dihadapi sebagian besar masyarakat Indonesia tidaklah ringan. Luka-luka lama hasil penjajahan kolonialisme sepanjang beratus tahun, meninggalkan bekas yang amat dalam, membawa akibat kerusakan sikap mental dan motivasi yang parah jauh didasar alam bawah sadar. Inilah yang membuat mengapa kalangan menengah kebawah, lebih-lebih pribumi, sulit untuk bangkit kearah kemajuan yang berarti, walau berbagai konsep pembinaan masyarakat telah diterapkan dari generasi ke generasi.

Akibat-akibat yang merusak itu bisa terjadi karena adanya berbagai kebijaksanaan penjajahan yang diterapkan kaum kolonial, meliputi antara lain perangkap feodalisme, elitisme, serta materialisme terselubung. Politik kolonialisme berasal dari benua Eropa, yaitu dari negara-negara yang berbentuk kerajaan, dimana feodalisme memang hidup subur. Belanda dan Inggris adalah dua diantaranya.

Sumber :http://www.gacerindo.com/2008/utama.php?menu=klinikwirausaha&ida=153


Read more...

Rony Lukito : Lulusan STM Yang Sukses Menjadi Pengusaha Tas Merk Terkenal

Friday, April 10, 2009

Bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses dan memiliki banyak harta yang melimpah tentunya menjadi keinginan setiap orang. Tidak mustahil, itu semua tentu saja bisa menjadi kenyataan asalkan dibarengi dengan usaha dan do'a.

Sebagai contoh kita lihat para pengusaha lokal yang sukses merintis perusahaannya dari 0 (nol), perusahaan yang mereka miliki sekarang ini bukanlah warisan dari dari orangtuanya, tetapi murni hasil dari kerja keras dirinya sendiri. Mungkin sepenggal kisah pengusaha tas asal Bandung yang satu ini bisa menginspirasi Anda untuk menjadi seorang entrepreuneur yang sukses. yuk, langsung saja kita simak penggalan kisahnya.

Rony Lukito, pengusaha tas terbesar di Indonesia ini dulunya adalah seorang anak dari keluarga yang memperihatinkan. Orang tuanya bukanlah dari kaum berada. Dimasa remajanya Rony yang tinggal di Bandung adalah sosok pemuda yang rajin dan tekun, dia bukan seorang lulusan perguruan tinggi negeri atau pun perguaruan tinggi swasta terfavorit. Melainkan dia hanyalah seorang lulusan STM (Sekolah Teknologi Menengah), meskipun sebenarnya dia sangat ingin sekali melanjutkan study-nya di salah satu perguruan tingggi swasta terfavorit di Bandung. Namun keinginannya itu tidak menjadi kenyataan karena harus terbentur masalah keuangan.

Semenjak bersekolah di STM Rony sudah terbiasa berjualan susu yang dibungkus dengan plastik-plastik kecil, diikat dengan karet, kemudian susu tersebut ia jual kerumah-rumah tetangganya dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Masa remaja Rony di Bandung dilewati dengan penuh kesederhanaan yang jauh dari kehidupan serba ada apalagi yang disebut kehidupan glamour.

Sesuatu yang tidak berlebihan jika banyak orang yang mengatakan bahwa keberhasilan itu memang akan selalu berpihak kepada orang-orang yang mau bekerja keras dan sungguh-sungguh ingin merubah nasibnya. Demikian pula Rony yang sejak remaja biasa bekerja, kini ia berhasil menjadi pengusaha sukses di bisnis tas berkat serangkaian usaha dan kerja kerasnya. Tidak salah memang jika Rony dikatakan sebagai seorang pengusaha tas terbesar di Indonesia.

Itu memang bukan kalimat yang berlebihan, lihat saja produk yang di hasilkan dari perusahaan Rony, B&B Incorporations (B&B Inc.) merajai pasar tas yang ada di Indonesia. Para pengunjung taktiku tentu kenal dengan merek-merek tas yang sudah populer ini, seperti: Eiger, Export, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, Broklyn dll. Mungkin merek tersebut dikalangan anak sekolah dan kuliahan sudah tidak asing lagi, yang memang produk-produk hasil perusahaan Rony sengaja di targetkan untuk kalangan pelajar.

Semua merek tas tersebut di distribusikan secara nasional, sehingga wajar bila merek dagangnya sudah sangat terkenal. Produk Rony juga tersedia di berbagai outlet modern seperti Toserba Ramayana, Matahari Departemen Store, Robinson, dan berbagai hypermart seperti Carrefour, hingga jaringan toko-toko buku seperti Gramedia, dan Gunung Agung belum lagi toko-toko dan grosir tradisional lainnya.

Hmmm... luar biasa bukan ?. Bagaimana, apakah Anda sudah tertarik untuk menjadi seorang entrepreuneur? :) Perusahaan Rony murni dari hasil kerja kerasnya sendiri, bukanlah warisan dari orangtuanya.

Sumber: Buku 10 pengusaha yang sukses membangun bisnis dari 0
Read more...

Doa Dan Usaha

Monday, March 23, 2009

Dikisahkan, ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu. 


Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, “Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan….., please….. Tolong dengarkan doa hambamu ini”. Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya. 

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan. 

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, “Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?”. maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat. 

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. 

Pembaca yang budiman,

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan. 

* Andrie Wongso
Salam sukses luar biasa!!!

Read more...

Menjahit Pakaian : Naik Turun, Tetap Oke dan Untung!

Sunday, March 22, 2009

Tahun 2009, genap sudah 32 tahun Almakruf (53) menjalankan usaha menjahit pakaian. Ia pernah menjadi penjual daging sapi di Pasar Jodoh. Pernah juga beralih berdagang sembako. Tapi tetap saja kembali lagi ke usaha menjahit pakaian.

Usaha menjahit pakaian cukup menguntungkan. Syaratnya harus menjaga kualitas jahitan, selesai sesuai waktu yang dijanjikan dan lokasi usahanya dekat dengan konsumen. Dengan menerapkan tiga syarat tersebut, Batam Tailor banjir order dari 500-an pelanggan setianya. Setiap hari 12 stel pakaian seragam dan safari harus dijahit oleh dua karyawan Batam Tailor. "Sekarang paling banyak pesanan pakaian seragam satpam dan pakaian safari," kata pemilik Batam Tailor, Almakruf.

Almakruf termasuk wirausahawan yang sudah makan asam garam dalam dunia usaha menjahit pakaian. 32 tahun ia naik turun menjalankan bisnisnya. Ia pernah berkali-kali bangkrut dan habis modal. Lalu harus kembali merintis usahanya. Tapi pernah juga merasakan puncak kejayaan usahanya. ‘Tahun 1991-1997, sebelum krisis moneter itu luar biasa, Batam Tailor benar-benar di puncak kejayaan. Saya punya pelanggan 8 perusahaan industri. Belum termasuk perusahaan non industri dan pelanggan perorangan. Sekali order, satu perusahaan ada yang sampai 1200 stel pakaian seragam,"kata pria asal Lubuk Alung Sumatera Barat.

Sekarang, memang orderan tidak sebanyak dahulu. Tapi tetap saja usaha menjahit pakaian lebih menguntungkan. Biaya menjahit mulai Rp250 ribu untuk pakaian satpam dan untuk pakaian safari Rp350 ribu. Dari harga itu karyawan dibayar Rp20ribu -Rp25 ribu per potong. Sisanya milik pemilik usaha, untuk modal dasar pembelian kain dan biaya operasional. "Lumayan omsetnya. Dari satu stel pakaian bisa dapat Rp100 ribu. Kalau empat stel, kita dapat Rp400 ribu," ujarnya. Sejak terjun berwirausaha dari tahun 1976, Almakruf bukannya tidak pernah mencoba berbisnis lain. Ia pernah menjadi penjual daging di Pasar Jodoh. Ia juga pernah beralih ke bisnis sembako. Tapi rupanya dua bisnis tersebut bangkrut karena sepi pembeli dan hanya bertahan dua tahun. Jadilah Almakruf kembali berbisnis menjahit pakaian.

Modal Mesin Jahit Seken
Untuk merintis usaha menjahit tidak membutuhkan dana besar. Cuma mengeluarkan uang untuk beli mesin jahit seken dan punya keahlian menjahit. Keuntungan langsung diperoleh saat ada order menjahit pakaian. Tapi dengan catatan tidak salah mengukur dan memotong bahan. Selain itu harus bayar di muka 30 persen.

Pertamakali merantau ke Batam tahun 1990, Almakruf hanya membawa uang Rp90 ribu. Uang tersebut, habis dipakai untuk ongkos pesawat Padang-Batam Rp75 ribu. Sisanya Rp15 ribu. Tapi untunglah, saat itu Ia membawa cabai merah Rp30 kg dari kampungnya Lubuk Alung.

Alhasil begitu tiba di Batam, Ia langsung jualan cabai merah di Pasar Jodoh. "Lumayan juga hasilnya. Cabe merahnya laku Rp3 ribu per kg. Saya jadi dapat tambahan uang Rp90 ribu," kata Almakruf sambil tertawa, mungkin teringat masa lalunya.

Uang yang didapatnya langsung dijadikan tambahan modal usaha, untuk membeli mesin jahit seken. Sementara untuk tempat usaha jahitnya yaitu dua toko ukuran 4x6 meter persegi dekat Hotel Nagoya Plaza milik pamannya, Buyung Lambau. Saat merintis usahanya masih belum banyak saingan. Alhasil, Batam Tailor langsung banjir orderan.

Jauh sebelum melakoni bisnis menjahit, Almakruf menjadi penjual daging sapi di Pasar Jodoh, sekitar tahun 1973. Sampai akhirnya ia bangkrut di tahun 1976. Ia-pun merantau ke Jakarta. Di sana ada saudaranya yang seorang guru tapi menyambi menjahit pakaian.Dari dialah, Almakruf belajar menjahit pakaian.

Banjir Order dari Perusahaan
Punya keahlian menjahit, ia memilih buka usaha sendiri. Menyewa toko kecil di Jakarta. Berkat ketekunannya, usaha menjahitnya berkembang dan maju. Tahun 1983, usaha menjahit turun drastis karena saat itu di Jakarta tumbuh perusahaan konveksi. Orderan jadi semakin seret karena direbut perusahaan konveksi.

Ia pun langsung beralih ke usaha sembako dengan menyewa kios di Pasar Minggu. Tahun pertama hasilnya cukup bagus, tapi tahun ke-2 bisnis sembakonya terpuruk karena sepi pembeli. Akhirnya Almakruf memilih menjual toko sembako bersama isinya sebesar Rp900 ribu. Setelah itu ia pilih pulang kampung ke Lubuk Alung, Sumatera Barat. Memiliki segudang harapan untuk bisa hidup maju lagi, Almakruf kembali merantau ke Batam tahun 1990 dan mendirikan Batam Tailor. Sejak tahun 1991 -1997 Batam Tailor berada di masa emas. Almakruf sampai memiliki 16 orang karyawan karena banyak orderan dari perusahaan industri.

Kejayaan usahanya terpuruk saat krisis moneter di tahun 1997. Batam Tailor bangkrut dan habis modal serta tak punya karyawan lagi. Tapi kini, usahanya kembali tumbuh. Batam Tailor punya dua orang karyawan karena order jahitan mulai banyak. "Habis modal itu biasa dalam bisnis. Yang terpenting bagaimana usaha ini (menjahit-red) tetap bertahan dan maju," katanya.

Almakruf yang berasal dari Padang dan terkenal suka merantau dan berdagang mengusung nama Batam Tailor begitu merintis usaha menjahitnya di Batam pada tahun 1990.Ditambah lagi, biduk rumah tangganya hancur dan membuat aset usaha jahitnya harus dijual untuk dibagi dua dengan mantan istri.

Dari pembagian harta gono gini, Almakruf mendapat Rp2 juta, nilai yang lumayan besar di tahun 1983. Almakruf sampai belanja kain ke Singapura, tiga kali sepekan. Waktu itu di Singapura, harga kain satu meter masih murah, cuma Rp5 ribu. Lebih mahal di Jakarta Rp6 ribu per satu meter.

Kalah Bersaing dengan Perusahaan Konveksi
Ia tak bisa berbelanja ke Singapura lagi, karena harga kain sudah naik tiga kali lipat gara-gara nilai rupiah jatuh. Untuk kebutuhan bahan kain, Iapun beralih belanja ke Jakarta. Sebenarnya setelah krisis moneter, perusahaan tetap mau order menjahit pakaian. Tapi mereka (perusahaan industri-red)tak mau naik harga, sementara harga kain saja naik berlipat-lipat. Saya tak sanggup. Mereka lari ke perusahaan konveksi di Jakarta, " katanya.

Kian sepi terima orderan, Batam Tailor pun akhirnya memutuskan pindah ke ruko Greenland tahun 2003. Di Greenland usahanya tumbuh lagi, Ia memiliki delapan karyawan.

Memasuki tahun 2008, sang pemilik ruko menetapkan kenaikan sewa ruko. Jadilah Batam Tailor pindah ke Panbil. Tapi tak sesuai perhitungannya, usahanya malah merosot tajam ketika pindah ke Panbil. "Waktu pindah ke Panbil saya punya modal Rp40 juta. Rp30 juta untuk sewa ruko setahun. Setelah kontrak setahun habis. Modal habis karena sepi order. Saya benar-benar salah perhitungan tempat. Coba waktu itu saya sewa tempat ruko di depan ruko Greenland, mungkin keadaannya jadi lain," katanya.

Gara-gara habis modal, Almakruf-pun akhirnya pindah usaha ke rumahnya di Sakura Garden tanpa punya karyawan lagi. Karena sepi order, akhirnya Batam Tailorpun pindah ke Bengkong Al Jabar (tempat usahanya sekarang-red) di awal tahun 2008 hingga sekarang.

Tak Cocok Berdagang Sembako dan Daging
Almakruf yang naik turun dalam menjalankan usaha menjahitnya mengaku cocok dengan usaha menjahit pakaian. “Itulah mungkin karena menjahit sudah cocok sebagai profesi saya. Nyatanya, meski saya pernah pindah ke usaha lain, tetap saja kembali membeli mesin jahit dan membeli mesin jahit lagi untuk modal setelah bangkrut usahanya," katanya. Asyiknya lagi, waktu kerjanya bebas, bisa mulai kerja pukul 10.00 WIB. Kalau sedang banyak order dan tidak sanggup, tinggal dialihkan ke tetangga yang punya usaha tailor.

Almakruf mengatakan ia tak mungkin lagi berjualan daging di pasar sekarang ini. Pasalnya usaha berjualan daging sapi diatur waktu. Jam 03.00 WIB harus sudah ada di pasar karena pukul 04.00 WIB para pembeli sudah banyak yang datang. Bila tidak seperti itu usaha berjualan daging akan bangkrut. "Saya tak sanggup lagi. umur sudah tua, 53 tahun, "katanya. Adapun bisnis sembako, Almakruf juga kurang bisa menikmatinya. "Kalau berjualan sembako, kita menunggu pembeli dari pagi sampai sore. Kalau ramai okelah kita sibuk melayani pembeli. Tapi kalau sepi kita hanya duduk di toko seharian menunggu pembeli," katanya.

(Sumber : Batam Pos)

Read more...

Fenomena Seminar/Training Menjadi Pengusaha

Tuesday, March 10, 2009

Fenomena yang ada, banyak orang mengikuti seminar/training menjadi pengusaha. Di dalam ruangan, mereka terpukau oleh si pembicara , yang biasanya pengusaha sukses. “Wow, hebat ya orang itu! Bener lho yang dia bilang, harusnya memang seperti itu kalo mau sukses!” kata peserta seminar.

Tapi mengapa sangat sedikit dari mereka yang mampu atau memiliki keberanian untuk meneladaninya? Karena Alam bawah sadar (subconscious mind) mereka menolak. Mereka tahu apa saja yang harus dilakukan untuk sukses, tapi mereka tetap tidak melakukannya. “I know what to do, but I don’t do what I know”. Contohnya lainnya , berapa orang dari pembaca majalah ini, yang sudah membaca Majalah Duit sejak tahun lalu, tapi tetap belum berani memulai usaha sampai sekarang? Berapa banyak buku sudah anda lahap? Darimana datangnya ketakutan itu?

Sejak kecil (bahkan sejak di kandungan), alam bawah sadar kita (subconscious mind) diprogram secara keliru oleh lingkungan sekitar kita. Bisa jadi kejadian-kejadian yang sangat menyakitkan, yang tak pernah terlupakan. Hal tersebut yang membentuk kepribadian kita sekarang, ditambah lingkungan yang menjadikan kita mahluk serba takut. Sehingga banyak pertanyaan yang tidak bisa kita jawab secara logika.

- “Saya ingin jadi PENGUSAHA, tapi kenapa takut melangkah?”
- “Kenapa saya kok gak pede? Tiap kali menghadapi orang, kok gemetar!”
- “Kenapa orang lain bisa sukses, tapi saya tidak?”
- Dan masih banyak lagi kenapa lain yang tak terjawab

Secara tidak sadar, subconscious mind memerintahkan diri kita untuk takut, gemetar, malu, tidak pede, ataupun kebencian yang luar biasa, saat kondisi tertentu (trigger). Padahal kita tidak menginginkannya, tapi kita tidak bisa mengontrolnya.

Bagaimana Cara Menghilangkannya?

Jika kita memiliki komputer yang terserang virus. Sebagus apapun program yang kita install, tidak akan berfungsi maksimal jika virus tersebut belum dihilangkan. Efeknya komputer kita akan bekerja sangat lambat. Jadi virus tersebut harus dibasmi, jika terpaksa, hard disknya harus diformat ulang. Setelah itu kita install ulang program-programnya, barulah optimum. Demikian juga dengan otak kita, virus subconscious mind harus dibasmi, agar kita bisa melesat dengan cepat.

Tapi membersihkan virus sja tidak cukup membuat kita sukses. Bayangkan jika di computer Anda hanya yerdapat games, MS Word dan Excel saja. Jangan harapkan Anda bisa menjalankan internet melalui program tersebut. Tentu saja terlebih dahulu Anda harus meng-install program internet explorer atau sejenisnya. Intinya, Aplikasi – aplikasi menjadi pengusaha sukses dan bermoral itu yang akan di – install di ECamp.

Banyak orang tidak percaya, bahkan peserta sendiri menanyakan, “Bagaimana hanya dalam waktu yang sangat singkat (3hari, 2malam) saya bisa berubah?!” Tapi itulah kenyataannya. Tak usah takut dengan teorinya yang terlalu rumit, karena di ECamp peserta hanya menikmati “wisata” permainannya, bukan datang untuk mendengarkan ceramah yang membosankan. Sengaja ECamp dikemas dalam bentuk simulasi permainan usaha dan psikologi, baik indoor maupun outdoor, sehingga pelatihan akan terasa menyenangkab

Ecamp adalah mesin pencetak pengusaha-pengusaha sukses yang memiliki mentalitas kelimpahan, penuh kasih sayang dan tahan banting. Jika Anda merasa belum mendapatkan impian – impian anda, baik secara materi maupun spiritual, temukan jawabannya di ECamp. Untuk memaksimalkan hasil pelatihan, maka jumlah peserta dibatasi 50 org per-batch (angkatan). Dimana ECamp dipandu oleh seorang coach dan 7 org fasilitator. Jika sebelumnya ECamp 1 sampai dengan 4 diadakan di Batam, maka mulai ECamp 5 dan seterusnya, Taining tersebut sudah diadakan di Puncak, karena kebanyakan peserta dari luar Batam.

Pasca E - Camp
Hal yang paling ditakutkan peserta training adalah momentum semangat pasca training tersebut. Bisa jadi usai training, semangat mereka mengebu – gebu, namun setelah kembali ke’habitat’ semula, semangat itu pudar. Salah satu kekuatan ECamp adalah ikatan alumninya yang tersebar di Indonesia. Dengan difasilitasi mailing list khusus alumni, diharapkan tercipta hubungan bisnis antar alumni. Disamping itu, ikatan alumni juga otomatis menjadi anggota Entrepreneur Association, yang memiliki pertemuan rutin untuk ‘terapi berbicara positif’ dan menjalin hubungan usaha sesama anggota. TAKE ACTION, MAKE IT HAPPEN !

source : Majalah Pengusaha Oktober 2006 hal 76 - 77
Read more...

Toko Gunung Agung: Akrobat Bisnis Seorang Anak Jalanan

Thursday, March 5, 2009

Keberadaan Toko Gunung Agung hingga di usianya yang ke-50 saat ini tidak lepas dari akrobat bisnis yang dilakukan seorang bekas anak jalanan, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung.

Sejarah keberadaan Toko Gunung Agung yang 8 September lalu genap berusia 50 tahun, tidak lepas dari akrobat-akrobat bisnis yang dilakukan tokoh kuncinya, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung. Terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio, Wie Tay sebenarnya bisa menikmati masa kecil yang indah. Ayahnya seorang ahli listrik tamatan Belanda, sedangkan kakek seorang pedagang ternama di kawasan Pasar Baru, Bogor. Tapi kebahagiaan itu tidak dikecapi terlalu lama, karena kala dia berusia empat tahun, sang ayah meninggal dunia. Sejak saat itu kehidupan ekonomi mereka menjadi sangat sulit.

Dalam buku Bapak Saya Pejuang Buku yang ditulis putranya, Ketut Masagung dan disusun kembali oleh Rita Sri Hastuti dikisahkan bahwa Wie Tay tumbuh sebagai anak nakal yang suka berkelahi. Ia juga punya kebiasaan "suka mencuri" buku-buku pelajaran kakak-kakaknya untuk dijual di pasar Senen guna mendapatkan uang saku. Karena kenakalan ini, ia tidak bisa menyelesaikan sekolah, meski sudah dikirim sampai ke Bogor dan sempat masuk di dua sekolah berbeda.

Justru karena kenakalannya, Wie Tay tumbuh sebagai anak pemberani. Ia tidak takut berkenalan dengan siapa saja, termasuk dengan tentara Jepang yang kala itu mulai masuk ke Banten. Bahkan dari tentara Jepang, ia mendapatkan satu sepeda. Modal "berani" ini yang kemudian dia bawa masuk ke dalam dunia bisnis, dan tidak bisa dipungkiri, menjadi salah satu senjata andalannya dalam menggerakkan roda bisnisnya.

Setelah diusir pamannya dari Bogor dan harus kembali ke Jakarta saat berusia 13 tahun, Wie Tay menemukan kenyataan bahwa keadaan ekonomi ibundanya belum membaik jua. Tak ada jalan lain baginya kecuali harus mencari duit sendiri. Awalnya, ia kembali ke "kebiasaan" lama mencuri buku pelajaran kakaknya untuk dijual guna mendapatkan 50 sen. Setelah stok buku pelajaran habis, ia mencoba menjadi "manusia karet di panggung pertunjukkan" senam dan aerobatik. Tapi penghasilannya ternyata tidak seberapa banyak.

Pedagang Asongan

Ia kemudian banting setir menjadi pedagang rokok keliling. Di sinilah sifat beraninya mulai terlihat. Wie Tay yang digambarkan sebagai anak yang banyak kudis di kepala dan borok di kaki ini nekat menemui Lie Tay San, seorang saudagar rokok besar kala itu. Dengan modal 50 sen, ia memulai usaha menjual rokok keliling di daerah Senen dan Glodok. Di sini ia mulai rajin menabung, karena sudah merasakan betapa susah mencari uang. Hasil tabungannya kemudian dibelikan sebuah meja sebagai tempat berjualan di daerah Glodok. Karena belum memiliki kios sendiri, meja tersebut dititipkan pada sebuah toko onderdil di Glodok, sampai akhirnya ia mampu membuka kios di Senen.

Menjadi pedagang rokok keliling membuka mata Wie Tay remaja bahwa ada tempat partai rokok besar selain Lie Tay San, yaitu di Pasar Pagi. Maka, setelah membuka kios dia mulai membeli rokok di Pasar Pagi. Selanjutnya, Wie Tay juga berkenalan dengan The Kie Hoat, yang bekerja di perusahaan rokok Perola, salah satu merek rokok laris kala itu. The Kie Hoat kemudian akrab dengan Wie Tay dan Lie Tay San. Suatu hari, The Kie Hoat ditawari relasinya untuk mencarikan pemasaran.

Kie Hoat lalu merundingkan dengan kedua sahabatnya tadi. Saat Lie Tay San masih ragu, Wie Tay yang masih sangat belia dalam bisnis itu malah langsung setuju. Ia yakin bisa cepat dijual dan mendatangkan keuntungan besar. Ternyata benar! Sayang buntutnya tidak enak. The Kie Hoat akhirnya dipecat dari Perola karena dinilai melanggar aturan perusahaan, menjual rokok ke pihak luar yang bukan distributor.

Ketiga sahabat ini kemudian bergabung dan mendirikan usaha bersama bernama Tay San Kongsie, tahun 1945. Di sinilah awal pergulatan serius Wie Tay dalam dunia bisnis. Mereka memang masih menjual rokok, tapi melebar ke agen bir cap Burung Kenari. Pada saat bersamaan mereka juga mulai serius berbisnis buku. Atas bantuan seorang kerabat, mereka bisa menjual buku-buku berbahasa Belanda yang diimpor dari luar. Buku-buku ternyata laku keras. Mereka berjualan di lapangan Kramat Bunder, tidak jauh dari rumah Lie Tay San. Setelah itu mereka membuka toko 3x3 meter persegi, kemudian diperluas menjadi 6x9 meter persegi. Lantaran keuntungan dari penjualan buku sangat besar, mereka lalu memutuskan berhenti berjualan rokok dan berkonsentrasi hanya menjual buku dan alat tulis menulis.

Tahun 1948, mereka sepakat mengukuhkan bisnis mereka dalam bentuk firma, menjadi Firma Tay San Kongsie. Saham terbesar dimiliki Lie Tay San (6/15%), The Kie Hoat (4/15%) dan Wie Tay (5/15%). Masagung ditunjuk memimpin perusahaan ini. Mereka kemudian membuka toko di kawasan Kwitang. Ketika orang-orang Belanda hendak meninggalkan Indonesia, Wie Tay mendatangi rumah orang-orang Belanda tersebut dan meminta buku-buku bekas mereka untuk dijual dengan harga murah.

Membangun Toko Gunung Agung

Pada 13 Mei 1951, Wie Tay menikahi Hian Nio. Setelah menikah, Wie Tay berpikir untuk mengembangkan usaha menjadi besar. Dia mengusulkan kepada kedua rekannya untuk menambah modal. Lie Tay San keberatan. Dia memutuskan mundur dan tetap dengan toko bukunya di lapangan Kramat Bunder, (kini Toko Buku Kramat Bundar). Sementara Masagung alias Tjio Wie Tay bersama The Kie Hoat membangun toko sendiri di Jln Kwitang No 13, sekarang menjadi Gedung Idayu dan Toko Walisongo. Saat itu, Kwitang masih sepi. Jangankan kios buku, toko lainnya pun belum ada. Baru ketika Wie Tay membuka toko di sana, keramaian mulai tercipta. Sejumlah gerobak buku mulai kelihatan. Sejak saat itu Kwitang menjadi ramai.

Cukup lama Tjio Wie Tay mencari nama untuk toko barunya. Kemudian baru muncul ide untuk menerjemahkan namanya sendiri ke dalam bahasa Indonesia. Tjio Wie Tay dalam bahasa Indonesia berarti Gunung Besar atau Gunung Gede tapi Wie Tay mengubahnya menjadi Gunung Agung. Toko buku mereka berkembang pesat. Pesanan dari luar Jakarta berdatangan, tidak hanya buku tapi juga kertas stensil, kertas tik dan tinta. Melihat perkembangan ini, tercetuslah ide untuk membina usaha dengan kalangan yang dekat dengan buku, antara lain kalangan wartawan dan pengarang. Sejumlah wartawan senior kala itu ikut bergabung, termasuk sejumlah saudagar tingkat atas. Tidak heran kalau buku-buku yang diterbitkan pada awal berdirinya adalah buku-buku sastra tulisan tangan para "orang dalam" tersebut. Bentuk usaha firma lalu diubah menjadi NV.

Saat peresmian NV Gunung Agung, Wie Tay membuat gebrakan dengan menggelar pameran buku pada 8 September 1953. Dengan modal Rp 500 ribu, mereka berhasil memamerkan sekitar 10 ribu buku. Tanggal ini yang kemudian dianggap sebagai hari lahirnya Toko Gunung Agung –yang juga menjadi hari kelahiran Wie Tay sendiri. Menggelar pameran buku, seolah menjadi "trade mark" bentuk promosi yang dilakukan Gunung Agung. Tahun 1954, Wie Tay mengadakan lagi pameran buku tingkat nasional bertajuk Pekan Buku Indonesia 1954. Pada acara inilah Wie Tay bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh nasional yang sangat dikaguminya, yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Bagi dia, pertemuan dengan Bung Karno adalah hal yang menakjubkan. Selain sebagai presiden, Bung Karno adalah tokoh yang sangat dikaguminya sejak dia masih kecil.

Peran Bung Karno

Sukses menyelenggarakan Pekan Buku Nasional dan kedekatannya dengan Bung Karno, membuat Gunung Agung dipercaya membantu pemerintah menyelenggarakan Pameran Buku di Medan dalam rangka Kongres Bahasa Indonesia pada tahun yang sama. Dari sana dilanjutkan dengan pembukaan Cabang Gunung Agung di Yogyakarta, 1955. Tahun 1956, kembali Gunung Agung diminta pemerintah menyelenggarakan pameran buku di Malaka dan Singapura. Tahun 1963, Toko Gunung Agung sudah memiliki sebuah gedung megah berlantai tiga di Jln Kwitang 6. Acara ulang tahun ke-10 tersebut yang diikuti dengan peresmian gedung tersebut dihadiri langsung Bung Karno. Pada tahun itu juga, tepatnya 26 Agustus 1963, Wie Tay berganti nama menjadi Masagung.

Kalau padanya ditanyakan tokoh siapa yang paling berpengaruh dalam bisnis penerbitan dan toko buku, maka Masagung pasti akan menyebut nama Bung Karno. Ia pun selalu teringat akan pesan Bung Karno padanya. "Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan," ujar Bung Karno. Seraya memeluk Masagung, Bung Karno menyerahkan kepercayaan kepada Masagung untuk menerbitkan dan memasarkan buku-bukunya semacam Di Bawah Bendera Revolusi (dua jilid), Biografi Bung Karno tulisan wartawan AS, Cindy Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (lima jilid), serta sejumlah buku tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku Bung Karno inilah yang membawa Gunung Agung menanjak.

Bantuan Bung Karno tidak berhenti di situ. Bung Karno juga meminta Gunung Agung mengisi kebutuhan buku bagi masyarakat Irian Barat saat Trikora. Masagung lalu kemudian mengadakan pesta buku di Biak, Marauke, Serui, Fak Fak, Sorong, dan Manokwari. Tugas yang sama kembali diemban untuk masyarakat Riau dalam rangka Dwikora. Bukan cuma di Indonesia. Masagung juga agresif membangun jaringan di luar negeri. Tahun 1965, dia membuka cabang Gunung Agung di Tokyo, Jepang. Lalu mengadakan pameran buku Indonesia di Malaysia awal 1970-an.

Ternyata, kepak sayap bisnis Masagung tidak sebatas toko buku dan penerbitan. Ia juga merambah bisnis lain . Ia tercatat mengelola bisnis ritel bekerjasama dengan Departement Store Sarinah di Jln MH Thamrin, lalu masuk ke Duty Free Shop, money changer, dan perhotelan . Itulah akrobat bisnis yang dilakukan seorang "mantan" anak jalanan. Si anak nakal yang tidak tamat SD itu ternyata mampu mem-bangun kerajaan bisnis yang kokoh hingga kini .

JOSEPH LAGADONI HERIN

dari wartabisnisdotcom
Read more...

Kunci Sukses Usaha...

Saturday, February 28, 2009

William A. Ward pernah berkata, "Ada empat langkah mencapai sukses, yakni perencanaan yang tepat, persiapan yang matang, pelaksanaan yang baik, dan tidak mudah menyerah."Gunakan falsafah Ward ini agar sukses.

Perinciannya sebagai berikut :

· Ikuti perkembangan jaman, Bergabunglah dalam organisasi yang berkaitan dengan bisnis Anda. Banyak membaca dan gali informasi sebanyak mungkin. Internet akan banyak membantu Anda.

· Buat rencana keuangan
Catat semua pemasukan dan pengeluaran setiap harinya. Buat target jangka pendek dan jangka panjang. Jangan pernah menyerahkan kondisi keuangan pada nasib. Perhitungkan dengan matang.

· Perkirakan aliran uang tunai
Anda harus bisa memperkirakan aliran uang tunai, paling tidak tiga bulan ke depan. Jangan membuat anggarkan pengeluaran yang lebih besar dari itu.

· Bentuk dewan penasehat atau cari tenaga ahli, untuk memberi ide, saran atau kritik terhadap Anda dan produk yang ditawarkan
Mereka bisa berupa teman-teman atau anggota keluarga yang dipercaya.

· Jaga keseimbangan antara kerja, santai, dan keluarga
Tak perlu ngoyo, karena sesuatu yang dikerjakan dengan ngoyo, hasilnya tak akan maksimal. Lagi pula, badan dan otak butuh istirahat.

· Kembangkan jaringan (network), Tak ada salahnya berkenalan dan bergaul dengan orang-orang yang berhubungan atau bisa mendukung bisnis Anda. Siapa tahu ada ide yang bisa digali.

· Disiplin/motivasi
Aspek terberat dalam menjalankan usaha sendiri adalah disiplin atau motivasi untuk bekerja secara teratur. Untuk mengatasinya, buatlah daftar apa saja yang harus dikerjakan hari ini dan esok. Tentukan target yang harus dicapai dalam minggu ini.

· Selalu waspada dan siap
Rajin-rajin melakukan evaluasi terhadap pasar, produk dan sistem
pemasaran. Kalau perlu, ubah cara kerja agar lebih efisien. Perbaiki cara pemasaran atau kualitas produk.

· Cintai pekerjaan Anda
Bagaimana akan sukses, jika Anda tak punya “sense of belongin” pada pekerjaan dan produk yang dihasilkan. Cintai pekerjaan dan produksi sendiri, dan uang akan mengikuti Anda.

· Jangan mudah menyerah
Para pengusaha sukses pun pernah mengalami kegagalan. Jika ingin cepat berhasil, segeralah bangkit dan belajar dari kegagalan. Jangan bersedih terlalu lama, apalagi menyerah.
(depkop)

Sumber : http://www.gacerindo.com

Read more...

Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia

Monday, February 23, 2009

Pensiun muda, kaya raya, dan bahagia adalah idaman setiap orang. Siapa yang mau kerja sampai tua tapi tetap miskin dan menderita? Ada orang yang setelah menetapkan goal mereka dapat mencapai goal itu dengan cukup mudah.

Ada yang perlu kerja sedikit lebih keras… dan akhirnya berhasil. Namun ada juga yang telah bekerja sangat keras tetap belum bisa berhasil.

Sebenarnya apakah sulit untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia? Ah, nggak. Justru sangat mudah.

Jika memang sangat mudah mengapa banyak orang tidak bisa mencapainya? Nah, inilah alasannya saya menulis artikel ini.

Jawaban singkatnya sederhana sekali. Ini semua bergantung pada definisi sukses yang mereka tetapkan untuk diri mereka.

Lho, maksudnya?

Begini ya. Banyak orang tidak menetapkan secara sadar arti sukses bagi diri mereka. Umumnya orang, termasuk saya juga dulunya, mengadopsi sukses berdasarkan definisi atau kriteria orang lain. Itulah sebabnya bila kita bertanya kepada orang, “Apa yang ingin anda capai dalam hidup?”, mereka akan menjawab, “Sukses”. Kalau kita kejar lagi, “Sukses seperti apa?”, maka umumnya mereka akan menjawab, “Mencapai kebebasan waktu dan uang” atau “Pensiun dini”. Yang paling keren adalah jawaban, “Muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk surga”.

Dulu saya juga ingin sukses seperti di atas. Namun sekarang saya mengerti. Sukses bukanlah seperti yang didefinisikan kebanyakan orang. Kita harus menetapkan sendiri definisi sukses. Saya mendefinisikan sukses sebagai perjalan diri berdasar peta sukses yang kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.

Di sini ada dua komponen penting. Pertama, sukses adalah perjalanan yang dilakukan berdasarkan peta sukses. Kedua, peta sukses ini kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.

Peta sukses ini adalah impian-impian yang ingin kita capai dalam hidup. Impian harus memenuhi dua syarat utama yaitu harus bersifat personal dan bermakna. Dan yang lebih penting lagi adalah kita menetapkan impian dengan menggunakan kesadaran kita pada saat itu.

Hal ini berarti seiring dengan berkembang dan meningkatnya kesadaran diri maka kita perlu melakukan update impian-impian kita. Ada yang perlu kita tambah dan ada yang perlu kita hapus dari daftar.

Mengapa sampai perlu dihapus dan ditambah? Karena seringkali apa yang dulu kita anggap penting ternyata sekarang sudah tidak penting lagi. Apa yang dulu kita anggap personal dan bermakna ternyata sekarang sudah tidak bermakna lagi karena level kesadaran kita telah berkembang. Sebaliknya apa yang dulu tidak terpikirkan oleh kita, eh… sekarang malah sangat penting untuk kita capai.

Impian harus ditetapkan dengan mengacu pada nilai-nilai hidup (value) tertinggi kita. Tidak asal ditetapkan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Saat impian sejalan dengan value maka impian ini berisi muatan emosi positif yang tinggi. Emosi positif ini selanjutnya akan menjadi pendorong, motivator, dan sekaligus provokator sehingga kita akan selalu semangat melakukan kerja atau upaya untuk mencapainya.
Pencerahan lain yang saya dapatkan adalah kita perlu hati-hati menetapkan makna kata “pensiun”. Mengapa? Karena ada begitu banyak orang sulit mencapai kebebasan waktu dan uang yang mereka impikan karena mereka dihambat oleh kata “pensiun”.

Lho, kok bisa begitu?

Begini ya. Manusia berpikir dengan menggunakan dua pikiran yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Pensiun diartikan sebagai sesuatu yang indah, kebebasan uang dan waktu, ini kan baru kita dapatkan setelah kita dewasa. Apalagi setelah membaca bukunya Robert Kiyosaki Cashflow Quadrant.

Pensiun menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya: 1) tidak bekerja lagi karena masa tugasnya telah selesai, dan 2) uang tunjangan yang diterima tiap-tiap bulan oleh karyawan sesudah ia berhenti bekerja atau oleh istri (suami) dan anak-anaknya yang belum dewasa kalau ia meninggal dunia. Definisi pensiun di atas nggak terlalu bagus, kan?

Nah, bagaimana dengan makna “pensiun” menurut orang di sekitar kita? Berbeda dengan definisi KBBI di atas, dari hasil programming saat kita masih kecil umumnya kata “pensiun” mempunyai arti “berhenti bekerja”, “uang pas-pasan”, “nganggur karena sudah nggak ada kerjaan”, “tidak punya kekuasaan”, “tidak dihargai orang”, “tua dan lemah”, atau “melewati hari-hari yang membosankan”. Hal ini ditambah lagi ada banyak contoh orang yang pensiun dari jabatan tertentu eh.. dua tahun kemudian meninggal.

Jadi, tanpa kita sadari ada muatan emosi negatif yang cukup tinggi yang melekat pada kata “pensiun”. Emosi negatif ini bekerja di level pikiran bawah sadar dan tanpa kita sadari justru menjadi mental block yang menghambat upaya kita.

Langkah awal untuk pensiun adalah melakukan definisi ulang makna kata “pensiun”. Dan pastikan makna ini benar-benar masuk dan tertanam dengan kuat di pikiran bawah sadar kita.

Anda mungkin tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan di atas, bahwa apa yang kita pikirkan secara sadar belum tentu sejalan dengan pikiran bawah sadar. Bila sampai terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.

Ini saya beri contoh nyata. Seorang kawan, sebut saja Budi, adalah anak muda yang sangat aktif dan percaya diri. Budi punya impian besar. Ia ingin jadi orang sukses. Budi menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia serius mengembangkan dirinya dengan membaca sangat banyak buku pengembangan diri, bisnis, keuangan, ekonomi, dan mengikuti berbagai seminar di dalam dan luar negeri. Budi telah mengikuti pelatihan semua pembicara top Indonesia. Di luar negeri Budi, antara lain, mengikuti pelatihan Anthony Robbins dan Robert Kiyosaki.

Setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh Budi akhirnya memilih fast track menjadi orang kaya dengan menjadi pengusaha properti. Budi sadar sesadar-sadarnya bahwa, seperti ilmu yang ia dapatkan dari berbagai pelatihan yang ia ikuti, untuk bisa sukses finansial tidak perlu modal besar. “You don’ need a lot of money to make a lot of money”, ini mantra yang selalu ia sampaikan pada saya, “ Yang penting sikap, keyakinan diri, dan antusiasme”. Namun setelah mencoba sekian lama Budi masih tetap belum bisa berhasil. So, what’s wrong? Some thong wring… eh.. salah… some thing wrong.

Apa yang menjadi penghambat Budi?

Pikiran sadar Budi yakin bahwa tidak perlu uang banyak untuk sukes secara finansial. Namun pikiran bawah sadarnya berkata sebaliknya. Budi belum bisa sukses karena, menurut pikiran bawah sadarnya, tidak punya modal banyak. Hal ini semakin diperparah lagi dengan satu program pikiran yang ia dapatkan dari ayahnya yaitu kalau berbisnis tidak boleh mengambil untung banyak karena pelanggan bisa lari ke orang lain.

Saat keluar dari kondisi relaksasi pikiran dan diajak berdiskusi mengenai mental blocknya Budi sempat bingung. Ia berkata, “Ini benar-benar nggak masuk akal. Saya sudah yakin seyakin-yakinnya kalau mau sukses nggak perlu modal besar, eh… pikiran bawah sadar saya berkata sebaliknya. Makanya susah sekali untuk sukses. Rupanya saya disabotase pikiran saya sendiri. Padahal saya yakin sekali lho dengan apa yang diajarkan Kiyosaki.”

Nah, pembaca, anda jelas sekarang?

Kembali ke definisi kata “pensiun”, saya mendefinisikan pensiun bukan dari ukuran kebebasan waktu dan uang yang saya capai. Saya mendefinisikan pensiun sebagai melakukan sesuatu dengan pikiran tenang dan hati yang damai.

Nah, untuk bisa mencapai pikiran yang tenang dan hati yang damai, saat melakukan suatu kegiatan,pekerjaan, atau bisnis, maka saya perlu menetapkan syarat-syarat yang spesifik. Istilah teknisnya “rule” atau aturan.

Saya menetapkan syarat antara lain: 1) saya suka melakukan pekerjaan itu, 2) semakin saya melakukannya maka semakin diri saya bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, 3) apa yang saya lakukan mempengaruhi hidup orang banyak secara positif, 4) saya menentukan harganya, 5) saya bisa melakukannya di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, 6) tidak perlu banyak karyawan, 7) gudangnya ada di otak dan komputer saya, saya bersedia tidak dibayar melakukan apa yang saya lakukan, 9) sejalan dengan tujuan hidup saya, 10) bisa diwariskan atau diteruskan oleh anak.

Jika anda baca dengan saksama maka syarat yang saya tetapkan di atas sebenarnya menjelaskan satu hal yaitu passion. Namun juga jangan salah mengerti ya. Jika hanya berbekal passion saja tidak cukup untuk sukses. Passion harus didukung oleh strategi yang jitu dan terarah.

Ada klien saya yang hanya mengandalkan passion saja, walaupun saya tahu ia orang yang sangat kompeten di bidangnya, ternyata harus mengalami kegagalan beruntun di dalam bisnisnya. Waktu saya tanya, “Strategi apa yang akan anda gunakan dalam memasarkan produk anda?”, jawabnya enteng, “Nggak usah pake strategi macam-macam. Pokoknya saya senang melakukan apa yang saya lakukan. Hasilnya pasti akan bagus. Nanti akan sukses dengan sendirinya”.

Apa yang terjadi? Benar di awal bisnisnya pesanan sangat banyak. Namun karena tidak didukung dengan perencanaan yang matang, klien ini harus kalang kabut untuk memenuhi pesanan produknya. Akibatnya, quality control terabaikan. Dan ending-nya, bisnisnya bubar karena banyak klien kecewa dan menolak melanjutkan kerjasama.

Defisi lain yang perlu kita tetapkan dengan sangat hati-hati adalah makna kata “kaya”. Apa ukurannya sehingga seseorang disebut sebagai orang kaya?

Masyarakat umumnya mengukur dari jumlah rupiah yang dimiliki seseorang. Semakin banyak rupiahnya maka semakin kaya orang itu. Apakah benar seperti ini?

Jawaban ini benar, untuk ukuran kebanyakan orang. Namun untuk diri kita sendiri, kita perlu menetapkan definisi yang personal. Kaya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah. Kaya sebenarnya lebih ditentukan oleh perasaan cukup.

Apa maksudnya?

Begini, ada banyak orang yang sangat kaya (uangnya banyak sekali) namun sebenarnya ia hidup dalam kemiskinan. Juga ada sangat banyak orang yang miskin (uangnya sedikit sekali) namun mereka sangat kaya.

Seorang kawan dengan sangat bijak pernah berkata, “Orang kaya itu adalah orang miskin yang kebetulan uangnya banyak. Sedangkan orang miskin itu adalah orang kaya yang kebetulan uangnya sedikit.”

Lho, kok dibolak-balik?

Kaya atau miskin ini lebih ditentukan oleh perasaan cukup. Saat kita merasa cukup, kita puas dengan apa yang kita miliki, maka pada saat itu kita telah menjadi orang kaya.
Kita bisa kaya tanpa harus punya uang sangat banyak. Sebaliknya, walaupun kita punya isi seluruh dunia, namun bila kita masih tetap saja merasa kurang maka sebenarnya kita adalah orang miskin. Bahkan John D. Rockefeller JR., berkata, “Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang”.

Kaya raya ukurannya semata-mata hanyalah suatu perasaan. Dan karena parameternya adalah perasaan maka hal ini sangatlah subjektif. Setiap orang punya takaran sendiri. Kita tidak boleh menggunakan takaran orang lain untuk mengukur diri kita. Demikian pula sebaliknya kita tidak boleh menggunakan takaran kita untuk mengukur orang lain.

Nah, sekarang bagaimana menjadi bahagia?

Jika kita melakukan pekerjaan atau bisnis dengan hati gembira, karena sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kita, dan menjadi kaya berdasarkan perasaan cukup yang kita tetapkan sendiri, dengan penuh kesadaran, maka hasil akhirnya kita pasti bahagia.

Saya pernah ditanya seorang peserta seminar, “Pak Adi, kalau memang Bapak sedemikian hebat, mengerti otak-atik pikiran, bisa membantu seseorang berubah dan sukses, mengapa Bapak tidak mendirikan banyak perusahaan dan menjadi milyuner? Atau mengapa Bapak tidak mencoba menjadi presiden RI?”.

Menjawab pertanyaan peserta ini saya menjelaskan dua hal. Pertama, saya tidak pernah mengklaim diri saya sebagai orang hebat. Saya hanyalah seorang pembelajar di Universitas Kehidupan yang kebetulan mengambil spesialisasi jurusan teknologi pikiran. Saya belajar dan praktik lebih dulu dari peserta itu. Jika kita sama-sama belajar, bisa jadi peserta itu jauh lebih pintar dari saya.

Kedua, saya tidak akan mau mendirikan perusahaan besar ataupun jadi presiden RI. Sebenarnya sekarang pun saya adalah seorang presiden, Presiden Direktur di perusahaan Kehidupan saya sendiri. Alasan lainnya saya telah menentukan tujuan hidup saya, yang didasarkan pada nilai-nilai hidup saya. Saya punya parameter yang sangat subjektif yang digunakan untuk mengukur keberhasilan hidup saya. Salah satunya adalah ketenangan pikiran dan kedamaian hati.

Nah pembaca, nggak susah kan untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia?
Kalau mati masuk surga, wah ini urusannya sama Tuhan. Saya nggak berani komentar.

Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com

Sumber : http://pembelajar.com

Read more...

H Mustofa, Pengusaha Sukses yang Buta Huruf

Wednesday, February 18, 2009

Kebutuhan pabrik terhadap besi tua semakin besar, sehingga harga penjualan besi tua semakin bersaing. H. Mustofa, salah seorang pengusaha pemasok besi tua yang tinggal di Jl. Sidorame 30 Surabaya, mengatakan paling tidak saat ini dirinya memasok empat perusahaan pengecoran besi, yakni Hanil di Waru Sidoarjo, Ispatindo, Jatim Taman Steel, dan Maspion Grup.

“Jika harganya cocok, saya langsung pasok besi tua untuk pabrik-pabrik itu. Terserah mereka minta berapa, akan saya penuhi,” kata H. Mustofa dengan logat Madura yang sangat kental.

Untuk Pabrik Hanil saja, dirinya seminggu ditarget memasok 500 ton per minggu. “Kalau hanya minta 500 ton per minggu, mudah saya penuhi. Dua hari ini saja saya sudah memasok pabrik itu 300 ton. Jadi target 500 ton bisa saya penuh hanya dalam waktu 3 atau 4 hari saja,” kata H. Mustofa, yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Besi Tua Indonesia (Aspebi). Pasokan untuk 4 pabrik, lanjut Mustofa, bisa sampai 8.000 ton per bulan.

Guna memenuhi target dari empat pabrik yang dipasoknya, H. Mustofa mempekerjakan tidak kurang dari 700 orang. Mereka disebar di hampir seluruh pelosok Indonesia, seperti di Jember, Semarang, Bandung, Samarinda, Sampit, Palu, Balikpapan, Ujung Pandang, Papua, NTBm dan NTT. “Setiap dua hari mereka mengirim besi tua dengan kontener menuju Tanjung Perak. Dari Tanjung Perak, langsung kami kirim ke pabrik. Jadi tidak perlu masuk gudang,” tandas bapak tiga anak ini.

Dari para karyawannya, H Mustofa membeli besi tua tersebut dengan harga antara Rp 2.250 – 2.300/kg untuk jenis yang bagus. Untuk jenis di bawahnya, dibeli dengan harga Rp 2.000. harga tersebut sudah termasuk biaya transportasi sampai ke pabrik.
Penjualan di pabrik pengecoran besi, H. Mustofa “hanya” mendapatkan keuntungan Rp 25-30/kg. Kalau dalam satu bulan rata-rata bisa memasok 8000 ton, berarti keuntungan yang didapatkan tiap bulan bisa mencapai Rp 200 juta lebih.

Tukang Timbang
Keberanian H. Mustofa ini tidak terlepas dari pengalaman hidupnya yang panjang sehingga ia menjadi pengusaha besi tua yang terbilang cukup sukses. Saat remaja, dia hanyalah kuli angkat besi tua di tempat penampungan besi tua milik Padli, pamannya. Ketika pamannya mulai tua, terpaksa ia harus mandiri dengan menjadi tukang timbang besi tua yang setiap hari mangkal di Jalan Sidorame, Surabaya.

H. Mustofa ternyata tidak mau hidupnya hanya menjadi tukang timbang. Lewat keahliannya menaksir harga besi tua, ia nekat meminjam uang pada H. Kolik, pengusaha besi tua di daerah tersebut sebesar Rp 125 juta untuk membeli sebuah kapal perang bekas Pramasta pada tahun 1986. Ternyata, ia harus menanggung kerugian sebesar Rp 16 juta. Sebab ia meleset menaksir harga kapal tersebut.

Bukannya kapok, kegagalan itu justru membuat semangat H. Mustofa semakin terlecut. Ia kembali pinjam uang ke H. Kolik untuk membeli kapal tangker dari Singapura. Ternyata penaksirannya kali ini cukup jitu, sehingga ia bisa meraup keuntungan Rp 4 juta.

“Saya masih ingat saat mengawali karier sebagai pengusaha besi tua dengan membeli sebuah kapal yang karam di perairan Madura. Meski tidak tahu betul bentuk kapal yang karam itu, saya berani membelinya. Saya saat itu nekat. Jika berhasil mengangkat kapal, hasilnya sangat besar. Tetapi jika gagal, saya bisa rugi ratusan juta rupiah,” kata H. Mustofa, yang asli kelahiran Bangkalan, Madura, 30 Juni 1952 itu.

Akhirnya nasib baik berpihak kepadanya karena kapal yang karam tersebut berhasil diangkatnya. Keuntungan yang sangat besar berada di depan mata.

“Dari keuntungan penjualan besi kapal itulah membuat saya sampai saat ini menjadi pengusaha besi tua. Kalau saya hitung hingga saat ini sudah lebih dari 50 kapal yang pernah saya beli,” tambahnya.

Mencari Besi ke Irak

Sebagai orang yang memiliki naluri bisnis tinggi, H Mustofa tidak cepat puas dengan kondisi saat ini. Ia juga berpikir untuk melakukan ekstensifikasi pencarian besi tua sampai ke negeri Irak.
“Saat perang Irak dua tahun lalu, saya sempat mengirimkan tiga orang anak buah saya ke Irak. Sebab saya melihat setelah serangan Tentara AS di Irak, dimana banyak gedung rusak, banyak menara-menara yang runtuh, menjadikan saya tertarik untuk membeli besi tua dari negara Arab tersebut,” katanya.

Tetapi sayang, tambahnya, pihaknya kesulitan untuk melakukan pembelian besi tua di sana. Selain itu, perjalanan menuju laut sangat jauh, apalagi sarana dan prasarana transportasi di Irak sulit didapat. “Akhirnya saya batalkan, meskipun saat itu sudah saya siapkan dana yang cukup besar untuk membeli besi tua dari Irak,” jelasnya.

Meskipun demikian, H. Mustofa mengaku tak kecewa, karena hal itu merupakan sebuah risiko dari seorang pengusaha. “Paling tidak, saya sudah menjalin hubungan dengan orang-orang di sana, sehingga suatu saat pasti ada manfaatnya,” tandasnya.

Meski tergolong pengusaha yang cukup sukses, H. Mustofa terlihat sangat sederhana. Hampir semua urusan pekerjaan ia percayakan pada karyawannya, khususnya manajemen CV Sampurna. Sebab hingga saat ini, H. Mustofa mengaku buta huruf.

“Sejak kecil saya hidup miskin, sehingga harus bekerja membantu orang tua. Jadi, sejak kecil saya tidak pernah sekolah, tidak pernah belajar membaca atau menulis. Saya ini buta huruf,” akunya dengan lugas.

Meskipun demikian, ia berusaha agar anak-anaknya menjadi orang yang pandai dan sukses di bidang pendidikan dan bisnis. Karena itu, tiga anaknya selalu ia sekolahkan, tambahan bahasa asing dan berbagai kursus. Dalam waktu dekat, Lilik, salah seorang anaknya yang telah lulus S1 bidang hukum, akan melanjutkan pendidikan S2 bidang hukum di Belanda.

Lantas, apa kunci H. Mustofa agar bisa menjadi pengusaha besi tua yang sukses? “Pengusaha besi tua itu enak, karena sampai kapanpun besi tua selalu ada, tidak pernah mati. Meski buta huruf yang penting punya hati yang bersih, jujur, dapat dipercaya orang dan kalau perlu harus nekat dalam mengambil suatu keputusan,” kata H. Mustofa.


chusnun hadi (SH)

Sumber : http://www.gacerindo.com

Read more...

Insinyur Yang Sukses Dengan Waralaba "Bakso Malang Kota Cak Eko"

Friday, January 23, 2009

Kuliah boleh saja di bidang teknik, bahkan melanjutkan S2 di bidang manajemen proyek, tapi bisnis franchise makanannya menggurita. Menjadi narasumber di tv, radio, koran, dan majalah adalah hal biasa. 

Cak Eko, arek Suroboyo asli yang baru berusia 34 tahun ini adalah pendiri dan pemilik waralaba Bakso Malang Kota “Cak Eko”. Pemilik nama lengkap Henky Eko Sriyantono ini adalah sarjana Teknik Sipil ITS. 

Prestasinya? Luar biasa. Di umur masih masih muda, dia baru saja dinobatkan oleh koran Bisnis Indonesia sebagai juara I “Bisnis Indonesia Young Entrepreneur Award 2008” untuk kategori utama. 

Penganugerahan paling gress adalah menyabet juara I Wirausaha Muda Mandiri 2008. Penyerahaan penghargaan ajang bergengsi dari Bank Mandiri tersebut dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi oleh Menteri BUMN Sofyan Jalil. Acara tersebut disaksikan oleh 1500 undangan yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, 3 Desember 2008. 

Masih ada lagi yang terbaru, tanggal 11 Desember 2008 usaha Cak Eko Bakso Malang Kota “Cak Eko” menyabet Penghargaan The Best In Business Prospect Indonesia Franchise Start Up 2008.

Penghargaan lainnya adalah “Indonesian Innovative Creative Award 2007” dari Menteri Koperasi & UKM, Menakertrans & Menperin, “Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award 2007” dari Menkop & UKM. 

Tidak hanya bisnis bakso, Cak Eko juga pemilik & pendiri waralaba “Soto Ayam Kampoeng Jolali” yang didirikan tahun 2007, serta waralaba “Ayam & Bebek Goreng Sambel Bledeg” yang baru didirikan tahun ini.

Mewariskan ilmu wirausaha juga sudah mulai dilakukannya. Ada empat buku yang diterbitkan Elexmedia yakni ”Resep Paling Manjur Menjadi Karyawan Kaya Raya (September 2007)”, “15 Jurus Antirugi Buka Usaha Rumah Makan (Juli 2008)”, ”Obat Paling Mujarab Sembuhkan Penyakit Penyebab Kebangkrutan Usaha (Oktober 2008)”, dan “The Cak Eko Way, Kiat Menggapai Kesuksesan Bisnis Bermodal Tekad dan Sedekah (rencana terbit 22 Desember 2008)”

Lebih lengkapnya tentang bisnis Cak Eko, berikut wawancara dengan Cak Eko, termasuk kisah jatuh-bangunnya membangun bisnisnya.

Sampai sekarang, berapa franchise yang berhasil anda jual? 

82 franchise. Permintaan cukup banyak baik dari wilayah Jabodetabek sendiri maupun wilayah luar Jawa. Ini tidak terlepas dari strategi positioning, diferensiasi dan branding yang selalu kami gunakan dalam mengembangkan bisnis franchise ini sehingga nama/merek makin dikenal dan nilai penjualan masing-masing gerai/cabang meningkat. 

Berapa omsetnya? 

Omset 1 cabang bervariasi ada yang 15jt sebulan, ada yang 30 juta sebulan bahkan yang tertinggi ada yang mencapai 120 juta perbulan 

Berapa jumlah angkatan kerja yang terserap? 

Untuk tiap cabang minimal 4-6 orang. Jadi secara keseluruhan mencapai 350 - 400 tenaga kerja dengan tingkat pendidikan sebagian besar lulusan SMA. 

Dari mana anda mendapat resep2nya? 

Dari belajar sendiri saat di Surabaya dan melakukan berbagai eksperimen memadukan berbagai resep baik dari majalah, mengikuti kursus (untuk menu tambahan), buku resep di toko buku maupun resep dari internet yang saya lakukan selama 3 bulan lamanya. 

Saat belum semaju sekarang, apa kendala yang anda hadapi? 

Kendala yang dihadapi adalah masalah membangun merek yang benar-banar baru dari nol, disamping itu adalah masalah mencari pelanggan. 

Nah, untuk mereka yang baru membeli franchise anda. Ada tips supaya mereka maju? 
Tips bagi franchisee agar dapat maju adalah : 
1. aktif terlibat dalam pengawasan operasional 
2. Melakukan promosi secara kontinyu (tidak hanya diawal pembukaan saja) 
3. Aktif berkomunikasi dengan franchisor apabila ada masalah 
4. Mentaati SOP (Standar Operasional dan Prosedur) 
5. Mempunyai niat, kesabaran, ketekunan serta keyakinan kuat bahwa usahanya akan berhasil. 

Sebelumnya anda bekerja sebagai apa? Lalu kenapa memutuskan keluar? 

Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan pemerintah. Memutuskan berwirausaha karena ingin membuka lapangan kerja serta membuat hidup lebih berkualitas dari segi kesejahteraan serta mempunyai waktu lebih untuk keluarga. 

Ada tips untuk masyarakat yang ingin sukses seperti anda? (dalam hal penciptaan atau inovasi terbaru) 

Tips dari saya yang terpenting agar sukses adalah : 
1. Berani memulai 
2. Mempunyai keyakinan yang kuat untuk sukses 
3. Jeli melihat peluang 
4. Menciptakan merek usaha yang unik 
5. Memodifikasi produk sesuai keinginan pasar 
6. Terlibat secara langsung dari awal proses usaha

Lalu langkah apa yang akan anda lakukan untuk mencapainya? 

Melakukan strategi penguatan merek di tingkat nasional selanjutnya mengikuti pameran-pameran franchise yang diadakan di luar negeri. 

Untuk menjadi franchise Anda bagaimana caranya? 

Mempunyai lokasi yang strategis baik di mal, di jalan utama dekat perkantoran, kampus, pemukiman padat penduduk, stasiun, bandara, pasar modern dll. Selanjutnya lokasi tersebut kami lakukan survey untuk menentukan kelayakannya. Apabila sudah kami nyatakan layak, selanjutnya tahap kontrak dimana nilai investasinya disesuaikan dengan tipenya. 

Ada tiga tipe investasi yaitu : 

1. Tipe Foodcourt di mall dengan investasi 50 juta ini sudah meliputi biaya franchise fee dan semua peralatan 

2. Tipe Mini Resto di ruko/mal (uk.40-80m2) dengan investasi sebesar 80 juta ini juga sudah meliputi biaya franchise fee dan semua peralatan termasuk meja kursi.

3. Tipe Resto di ruko/mal/stasiun/bandara (uk.>80m2) dengan investasi sebesar 110 juta juga sudah meliputi biaya franchise fee dan semua peralatan termasuk meja kursi.

Untuk lebih detilnya, dapat dilihat di www.baksomalangcakeko.co.nr 


Selanjutnya calon franchisee juga menyediakan karyawan minimal 4 orang yang akan kami training selama 2 hari meliputi praktek memasak, menyajikan dan etika pelayanan. 

Setelah sukses sekarang, apa obsesi anda berikutnya? 

Obsesi saya adalah Bakso Malang Kota ”Cak Eko” merambah ke seluruh penjuru dunia. Keinginan ini sejalan dengan visi saya yaitu menjadi waralaba makanan tradisional Indonesia yang mendunia. Dalam waktu dekat kami akan membuka cabang di Singapura dan California USA. 

*****

Suksesnya Cak Eko tidak ujug-ujug. Ada masa jatuh bangun. Ada perjuangan sangat berat yang kini berujung pada mengguritanya bisnis franchisenya. Berikut ini kisahnya:

Tahun 1997, saat baru pertama kali hijrah di Jakarta saya pernah jual-beli HP second. Saya beli HP second dari Jakarta, dijual di Surabaya. Cuma bertahan 1 tahun karena semakin lama marjin yang saya dapatkan kecil. Harga jual HP second di Jakarta dan Surabaya hampir sama.

Tahun 1998, saya mencoba peruntungan di bisnis MLM. Namun saya hanya bisa bertahan selama 6 bulan dikarenakan jiwa saya tidak bisa sepenuhnya menjalankan bisnis ini secara maksimal.

Tahun 1999, karena sedang booming agrobisnis, saya patungan dengan 7 orang teman. Menanam jahe gajah 3 ha di Sukabumi. Operasional, perawatan dan penanaman kami percayakan kepada KUD setempat. Kami mengunjungi setiap 2 minggu sekali. 

Saat panen kami gagal. Tonase tidak sesuai dengan perkiraan. Kegagalan ini lebih disebabkan oleh faktor kurangnya pengawasan dan pengetahuan tentang ilmu pertanian. Uang modal 5 juta saat itu yang sebenarnya saya harapkan bisa berlipat sebagai modal nikah tahun 2000 habis tak berbekas. 

Tahun 2000, dengan segala keterbatasan, saya menikah di Surabaya. Beberapa hari setelah pernikahan, istri langsung saya boyong ke kost-kost-an yang sudah dipersiapkan di Jakarta. Tempat yang sangat sederhana dan tidak ada perabot apapun. Uang sisa-sisa sumbangan pernikahan saya gunakan untuk membeli sebuah kasur dan beberapa perlengkapan lain.

Hidup di Jakarta bersama istri dengan gaji pas-pasan adalah problem. Uang gaji yang tidak seberapa membuat saya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti uang belanja, sewa kamar (kost) hingga keperluan-keperluan lainnya. Dalam posisi yang serba sulit dan terjepit itulah adrenalin saya kembali naik. Keinginan saya muncul kembali, yaitu keinginan untuk kembali berbisnis !! 

Berbagai informasi dan peluang saya cari melalui internet. Saya dapat peluang untuk mengirimkan sebuah artikel teknik ke Jepang. Dengan berbekal kemampuan menulis dan didukung dengan kenekatan saya mengirimkan abstraksi makalah dan berhasil. Abstraksi naskah saya diterima dan saya berkesempatan jalan-jalan gratis ke Jepang. 

Saya tidak menghabiskan semua biaya perjalanan yang saya dapat dan pada saat kembali ke Tanah Air. Bisa mengumpulkan uang sebesar 13 juta sisa dari perjalanan saya ke Jepang. Intuisi bisnis saya segera berputar. Uang 13 juta untuk apa?

Pilihan saya jatuh pada menjalani bisnis tas dan dompet kulit produksi Tanggulangin Sidoarjo. Bisnis berjalan lancar. Barang yang saya datangkan dari Tanggulangin saya sebar ke butik-butik di Jakarta. 

Yang menjadi persoalan adalah pembayaran dari butik-butik tersebut tidak selancar yang diharapkan. Sistem konsinyasi yang diterapkan tidak mendukung kelancaran cash flow. Banyak tagihan yang tertunda hingga membuat saya kesulitan memutar uang. 

Setelah satu tahun berjalan saya memutuskan untuk berhenti dari bisnis tersebut. Barang-barang yang berada di butik pun saya tarik semuanya dan dibawa pulang kerumah untuk saya bagi-bagikan kepada keluarga. Alih-alih mendapat untung, modal usaha sebesar 13 juta pun amblas. 

Saya bukan tipikal orang yang mudah menyerah dan putus asa. Setelah gagal berbisnis Jahe Gajah dan tas kulit, bisnis lainpun saya coba. Tahun 2001 pilihan saya jatuh pada bisnis busana muslim. Dengan modal sebesar 5 juta yang berasal dari pinjaman koperasi kantor, bisnis busana muslimpun saya jalani. 

Saya pilih pasar Tanah Abang Jakarta sebagai tempat kulakan dan kota Surabaya menjadi tujuan saya untuk melempar barang. Bisnis saya berkembang pesat dengan tingkat keuntungan mencapai 100%. Kala itu saya tidak mengambil keuntungan usaha untuk keperluan konsumtif. Keuntungan yang saya dapat saya tambahkan lagi sebagai modal hingga akhirnya aset yang saya miliki makin berkembang. 

Lama kelamaan banyak orang yang meniru bisnis ini dan kompetitor mulai bermunculan dengan harga yang lebih murah. Hingga akhirnya omset bisnis saya turun drastis. Setelah saya jalani selama 1 ½ tahun, walaupun tidak rugi total, saya memutuskan untuk berhenti dan beralih ke bisnis kerajinan tangan (handy craft). 

Pertengahan tahun 2002, saya melihat-lihat pameran handy craft dan tertarik dengan kerajinan miniatur becak & sepeda yang dipajang di salah satu stand. Saya mencoba untuk memproduksinya sendiri. Tiap sabtu dan minggu saya membawa proposal penawaran ke beberapa hotel dan pasar swalayan di Jakarta. 

Beberapa tempat bersedia menerima produk tersebut. Lagi-lagi persoalannya semua hanya bersedia menerima barang dengan sistem konsinyasi. Kesulitan cash flow kembali terulang. Setelah berjalan 6 bulan bisnis kerajinan tangan inipun saya tutup.

Awal tahun 2003 saya kembali bangkit untuk berbisnis. Kali ini saya mencoba menggeluti bisnis catering rumahan di perumahan Vila Nusa Indah II tempat tinggal saya kala itu. Awalnya bisnis ini berprospek bagus, namun kompetitor membuat bisnis ini harus membuat inovasi baru. 

Kala itu saya mencoba untuk membikin variasi menu makanan yang bisa menjadi pilihan para pelanggan. Saya sebar brosur untuk agar mendapatkan pelanggan baru. Namun adanya kompetitor baru yang lebih kreatif dan inovatif, maka bisnis inipun mengalami penurunan omset. Bisnis inipun tidak saya teruskan. 

Tahun 2004, saya tertarik dengan sebuah produk franchise makanan ringan sejenis crispy. Dengan modal uang 5 juta saya beli franchise tersebut dan mulai berjualan di kompleks perumahan villa Nusa Indah, Jati Asih, Bekasi. 

Tiga bulan pertama, sangat ramai (memperoleh omset sebesar Rp. 250.000/hari). Rupanya keberuntungan belum berpihak pada saya. Karena setelah ramai selama tiga bulan, bulan-bulan selanjutnya omset turun drastis. Untuk mengatasi hal tersebut maka saya putuskan untuk pindah ke lokasi lain. Di lokasi yang baru tersebut bisa diperoleh omset sebesar Rp. 150.000 dengan prosentase keuntungan sebesar 30%. 

Memang di bisnis ini tidak mengalami kerugian namun saya merasa prospek kedepan bisnis ini tidak terlalu bagus hingga akhirnya bisnis inipun saya sudahi setelah berjalan 1 tahun walau kontrak waralabanya 2 tahun. 

Pengalaman mengambil bisnis waralaba itu membawa hikmah tersendiri bagi saya. Impian besarnya sangat kuat, yaitu ingin memiliki sebuah bisnis yang menerapkan sistem franchise. Jeda waktu satu tahun (2005) saya manfaatkannya untuk mempelajari dan mengamati berbagai jenis usaha franchise yang sudah ada. 

Obsesinya adalah menjadi pemilik waralaba bisnis makanan pun terus berkobar. Hingga akhirnya sekitar tahun 2005 (menjelang Ramadhan), pada saat mengantar saudara ke stasiun Gambir dan bandara Soekarno-Hatta, saya tertarik melihat sebuah rumah makan bakso yang selalu ramai dikunjungi pembeli. 

Intuisi saya segera muncul bahwa inilah jenis bisnis yang selama ini saya cari dimana dengan hanya menjual bakso yang saat itu dikenal dengan makanan rakyat namun bisa masuk bandara yang sewanya pertahun mencapai ratusan juta. Di bulan dan di tahun itupula saya langsung mempunyai niat yang kuat untuk belajar ilmu membuat bakso di Surabaya. 

Saya segera belajar dari juru masak bakso yang dikenalkan oleh kerabat dekat. Sehari penuh saya belajar ilmu memasak dan membikin bakso tanpa mengalami kendala karena memang hobi saya adalah memasak. Sesampai di Jakarta langsung saya melakukan berbagai eksperimen selama 3 bulan dengan menggabungkan resep-resep yang saya cari dari berbagai sumber. Tujuannya untuk bisa mendapatkan resep bakso yang khas dan memiliki cita rasa yang tinggi. 

Akhirnya kerja keras saya tidak sia-sia. Formula spesial bakso Malang pun berhasil saya temukan. Setelah yakin dengan pilihan (bisnis bakso) dan formula yang saya miliki, saya memulai bisnis di daerah Jatiwarna Bekasi di sebuah pujasera dengan sistem bagi hasil, dengan diberi nama Bakso Malang Kota “Cak Eko”.

Terbukti warung bakso saya sangat diminati pelanggan. Melihat animo pelanggan yang begitu besar, pada pertengahan tahun 2006, saya memberanikan diri untuk membuka cabang di Tamini Square dengan modal sebesar 25 juta yang saya dapatkan dari menyisihkan keuntungan penjualan perbulan ditambah dengan sedikit uang pinjaman. 

Rupanya bisnis baksolah yang membawa peruntungan bagi saya dan istri.Dalam waktu singkat, outlet di Tamini Square ramai dikunjungi pelanggan. Bahkan tidak sedikit yang berminat untuk mengambil franchise dalam bisnis bakso yang saya geluti. 

September 2006, saya mulai menawarkan kemitraan melalui website (internet). Konsep bisnis bakso Malang Kota “Cak Eko” langsung mendapatkan respon positif dari masyarakat. Keberhasilan saya dalam membangun bisnis bakso beramai-ramai diberitakan media massa hingga akhirnya bisnis franchise Bakso Malang Kota “Cak Eko” berkembang pesat. 

Tak kurang dari 30 cabang baru bermunculan hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Saat ini cabang Bakso Malang Kota “Cak Eko” telah mencapai 85 cabang yang tersebar luas di wilayah Jabodetabek, Palembang, Pekanbaru, Banda Aceh, Duri Riau, Bengkulu, Jambi, Serang, Bandung, Kudus, Solo, Surabaya, Makasar, Sintang, Tarakan, Palangkaraya, Sangata, Bontang, Palu dan masih banyak permintaan dari seluruh Indonesia. 

Siapapun sudah bisa menjalankan bisnis Bakso Malang Cak Eko dengan jaminan supply bahan baku dan SOP (Standard Operating Procedure) yang sudah teruji.

Sumber : http://www.alumniits.com/

Read more...

Mantan Seorang Petugas Keamanan Menjadi Pengusaha Perumahan Mewah

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk
memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar.

Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir.

Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.


“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.
“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”

Sumber : http://arifperdana.wordpress.com

Read more...