Doa Dan Usaha

Monday, March 23, 2009

Dikisahkan, ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu. 


Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, “Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan….., please….. Tolong dengarkan doa hambamu ini”. Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya. 

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan. 

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, “Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?”. maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat. 

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. 

Pembaca yang budiman,

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan. 

* Andrie Wongso
Salam sukses luar biasa!!!

Read more...

Menjahit Pakaian : Naik Turun, Tetap Oke dan Untung!

Sunday, March 22, 2009

Tahun 2009, genap sudah 32 tahun Almakruf (53) menjalankan usaha menjahit pakaian. Ia pernah menjadi penjual daging sapi di Pasar Jodoh. Pernah juga beralih berdagang sembako. Tapi tetap saja kembali lagi ke usaha menjahit pakaian.

Usaha menjahit pakaian cukup menguntungkan. Syaratnya harus menjaga kualitas jahitan, selesai sesuai waktu yang dijanjikan dan lokasi usahanya dekat dengan konsumen. Dengan menerapkan tiga syarat tersebut, Batam Tailor banjir order dari 500-an pelanggan setianya. Setiap hari 12 stel pakaian seragam dan safari harus dijahit oleh dua karyawan Batam Tailor. "Sekarang paling banyak pesanan pakaian seragam satpam dan pakaian safari," kata pemilik Batam Tailor, Almakruf.

Almakruf termasuk wirausahawan yang sudah makan asam garam dalam dunia usaha menjahit pakaian. 32 tahun ia naik turun menjalankan bisnisnya. Ia pernah berkali-kali bangkrut dan habis modal. Lalu harus kembali merintis usahanya. Tapi pernah juga merasakan puncak kejayaan usahanya. ‘Tahun 1991-1997, sebelum krisis moneter itu luar biasa, Batam Tailor benar-benar di puncak kejayaan. Saya punya pelanggan 8 perusahaan industri. Belum termasuk perusahaan non industri dan pelanggan perorangan. Sekali order, satu perusahaan ada yang sampai 1200 stel pakaian seragam,"kata pria asal Lubuk Alung Sumatera Barat.

Sekarang, memang orderan tidak sebanyak dahulu. Tapi tetap saja usaha menjahit pakaian lebih menguntungkan. Biaya menjahit mulai Rp250 ribu untuk pakaian satpam dan untuk pakaian safari Rp350 ribu. Dari harga itu karyawan dibayar Rp20ribu -Rp25 ribu per potong. Sisanya milik pemilik usaha, untuk modal dasar pembelian kain dan biaya operasional. "Lumayan omsetnya. Dari satu stel pakaian bisa dapat Rp100 ribu. Kalau empat stel, kita dapat Rp400 ribu," ujarnya. Sejak terjun berwirausaha dari tahun 1976, Almakruf bukannya tidak pernah mencoba berbisnis lain. Ia pernah menjadi penjual daging di Pasar Jodoh. Ia juga pernah beralih ke bisnis sembako. Tapi rupanya dua bisnis tersebut bangkrut karena sepi pembeli dan hanya bertahan dua tahun. Jadilah Almakruf kembali berbisnis menjahit pakaian.

Modal Mesin Jahit Seken
Untuk merintis usaha menjahit tidak membutuhkan dana besar. Cuma mengeluarkan uang untuk beli mesin jahit seken dan punya keahlian menjahit. Keuntungan langsung diperoleh saat ada order menjahit pakaian. Tapi dengan catatan tidak salah mengukur dan memotong bahan. Selain itu harus bayar di muka 30 persen.

Pertamakali merantau ke Batam tahun 1990, Almakruf hanya membawa uang Rp90 ribu. Uang tersebut, habis dipakai untuk ongkos pesawat Padang-Batam Rp75 ribu. Sisanya Rp15 ribu. Tapi untunglah, saat itu Ia membawa cabai merah Rp30 kg dari kampungnya Lubuk Alung.

Alhasil begitu tiba di Batam, Ia langsung jualan cabai merah di Pasar Jodoh. "Lumayan juga hasilnya. Cabe merahnya laku Rp3 ribu per kg. Saya jadi dapat tambahan uang Rp90 ribu," kata Almakruf sambil tertawa, mungkin teringat masa lalunya.

Uang yang didapatnya langsung dijadikan tambahan modal usaha, untuk membeli mesin jahit seken. Sementara untuk tempat usaha jahitnya yaitu dua toko ukuran 4x6 meter persegi dekat Hotel Nagoya Plaza milik pamannya, Buyung Lambau. Saat merintis usahanya masih belum banyak saingan. Alhasil, Batam Tailor langsung banjir orderan.

Jauh sebelum melakoni bisnis menjahit, Almakruf menjadi penjual daging sapi di Pasar Jodoh, sekitar tahun 1973. Sampai akhirnya ia bangkrut di tahun 1976. Ia-pun merantau ke Jakarta. Di sana ada saudaranya yang seorang guru tapi menyambi menjahit pakaian.Dari dialah, Almakruf belajar menjahit pakaian.

Banjir Order dari Perusahaan
Punya keahlian menjahit, ia memilih buka usaha sendiri. Menyewa toko kecil di Jakarta. Berkat ketekunannya, usaha menjahitnya berkembang dan maju. Tahun 1983, usaha menjahit turun drastis karena saat itu di Jakarta tumbuh perusahaan konveksi. Orderan jadi semakin seret karena direbut perusahaan konveksi.

Ia pun langsung beralih ke usaha sembako dengan menyewa kios di Pasar Minggu. Tahun pertama hasilnya cukup bagus, tapi tahun ke-2 bisnis sembakonya terpuruk karena sepi pembeli. Akhirnya Almakruf memilih menjual toko sembako bersama isinya sebesar Rp900 ribu. Setelah itu ia pilih pulang kampung ke Lubuk Alung, Sumatera Barat. Memiliki segudang harapan untuk bisa hidup maju lagi, Almakruf kembali merantau ke Batam tahun 1990 dan mendirikan Batam Tailor. Sejak tahun 1991 -1997 Batam Tailor berada di masa emas. Almakruf sampai memiliki 16 orang karyawan karena banyak orderan dari perusahaan industri.

Kejayaan usahanya terpuruk saat krisis moneter di tahun 1997. Batam Tailor bangkrut dan habis modal serta tak punya karyawan lagi. Tapi kini, usahanya kembali tumbuh. Batam Tailor punya dua orang karyawan karena order jahitan mulai banyak. "Habis modal itu biasa dalam bisnis. Yang terpenting bagaimana usaha ini (menjahit-red) tetap bertahan dan maju," katanya.

Almakruf yang berasal dari Padang dan terkenal suka merantau dan berdagang mengusung nama Batam Tailor begitu merintis usaha menjahitnya di Batam pada tahun 1990.Ditambah lagi, biduk rumah tangganya hancur dan membuat aset usaha jahitnya harus dijual untuk dibagi dua dengan mantan istri.

Dari pembagian harta gono gini, Almakruf mendapat Rp2 juta, nilai yang lumayan besar di tahun 1983. Almakruf sampai belanja kain ke Singapura, tiga kali sepekan. Waktu itu di Singapura, harga kain satu meter masih murah, cuma Rp5 ribu. Lebih mahal di Jakarta Rp6 ribu per satu meter.

Kalah Bersaing dengan Perusahaan Konveksi
Ia tak bisa berbelanja ke Singapura lagi, karena harga kain sudah naik tiga kali lipat gara-gara nilai rupiah jatuh. Untuk kebutuhan bahan kain, Iapun beralih belanja ke Jakarta. Sebenarnya setelah krisis moneter, perusahaan tetap mau order menjahit pakaian. Tapi mereka (perusahaan industri-red)tak mau naik harga, sementara harga kain saja naik berlipat-lipat. Saya tak sanggup. Mereka lari ke perusahaan konveksi di Jakarta, " katanya.

Kian sepi terima orderan, Batam Tailor pun akhirnya memutuskan pindah ke ruko Greenland tahun 2003. Di Greenland usahanya tumbuh lagi, Ia memiliki delapan karyawan.

Memasuki tahun 2008, sang pemilik ruko menetapkan kenaikan sewa ruko. Jadilah Batam Tailor pindah ke Panbil. Tapi tak sesuai perhitungannya, usahanya malah merosot tajam ketika pindah ke Panbil. "Waktu pindah ke Panbil saya punya modal Rp40 juta. Rp30 juta untuk sewa ruko setahun. Setelah kontrak setahun habis. Modal habis karena sepi order. Saya benar-benar salah perhitungan tempat. Coba waktu itu saya sewa tempat ruko di depan ruko Greenland, mungkin keadaannya jadi lain," katanya.

Gara-gara habis modal, Almakruf-pun akhirnya pindah usaha ke rumahnya di Sakura Garden tanpa punya karyawan lagi. Karena sepi order, akhirnya Batam Tailorpun pindah ke Bengkong Al Jabar (tempat usahanya sekarang-red) di awal tahun 2008 hingga sekarang.

Tak Cocok Berdagang Sembako dan Daging
Almakruf yang naik turun dalam menjalankan usaha menjahitnya mengaku cocok dengan usaha menjahit pakaian. “Itulah mungkin karena menjahit sudah cocok sebagai profesi saya. Nyatanya, meski saya pernah pindah ke usaha lain, tetap saja kembali membeli mesin jahit dan membeli mesin jahit lagi untuk modal setelah bangkrut usahanya," katanya. Asyiknya lagi, waktu kerjanya bebas, bisa mulai kerja pukul 10.00 WIB. Kalau sedang banyak order dan tidak sanggup, tinggal dialihkan ke tetangga yang punya usaha tailor.

Almakruf mengatakan ia tak mungkin lagi berjualan daging di pasar sekarang ini. Pasalnya usaha berjualan daging sapi diatur waktu. Jam 03.00 WIB harus sudah ada di pasar karena pukul 04.00 WIB para pembeli sudah banyak yang datang. Bila tidak seperti itu usaha berjualan daging akan bangkrut. "Saya tak sanggup lagi. umur sudah tua, 53 tahun, "katanya. Adapun bisnis sembako, Almakruf juga kurang bisa menikmatinya. "Kalau berjualan sembako, kita menunggu pembeli dari pagi sampai sore. Kalau ramai okelah kita sibuk melayani pembeli. Tapi kalau sepi kita hanya duduk di toko seharian menunggu pembeli," katanya.

(Sumber : Batam Pos)

Read more...

Fenomena Seminar/Training Menjadi Pengusaha

Tuesday, March 10, 2009

Fenomena yang ada, banyak orang mengikuti seminar/training menjadi pengusaha. Di dalam ruangan, mereka terpukau oleh si pembicara , yang biasanya pengusaha sukses. “Wow, hebat ya orang itu! Bener lho yang dia bilang, harusnya memang seperti itu kalo mau sukses!” kata peserta seminar.

Tapi mengapa sangat sedikit dari mereka yang mampu atau memiliki keberanian untuk meneladaninya? Karena Alam bawah sadar (subconscious mind) mereka menolak. Mereka tahu apa saja yang harus dilakukan untuk sukses, tapi mereka tetap tidak melakukannya. “I know what to do, but I don’t do what I know”. Contohnya lainnya , berapa orang dari pembaca majalah ini, yang sudah membaca Majalah Duit sejak tahun lalu, tapi tetap belum berani memulai usaha sampai sekarang? Berapa banyak buku sudah anda lahap? Darimana datangnya ketakutan itu?

Sejak kecil (bahkan sejak di kandungan), alam bawah sadar kita (subconscious mind) diprogram secara keliru oleh lingkungan sekitar kita. Bisa jadi kejadian-kejadian yang sangat menyakitkan, yang tak pernah terlupakan. Hal tersebut yang membentuk kepribadian kita sekarang, ditambah lingkungan yang menjadikan kita mahluk serba takut. Sehingga banyak pertanyaan yang tidak bisa kita jawab secara logika.

- “Saya ingin jadi PENGUSAHA, tapi kenapa takut melangkah?”
- “Kenapa saya kok gak pede? Tiap kali menghadapi orang, kok gemetar!”
- “Kenapa orang lain bisa sukses, tapi saya tidak?”
- Dan masih banyak lagi kenapa lain yang tak terjawab

Secara tidak sadar, subconscious mind memerintahkan diri kita untuk takut, gemetar, malu, tidak pede, ataupun kebencian yang luar biasa, saat kondisi tertentu (trigger). Padahal kita tidak menginginkannya, tapi kita tidak bisa mengontrolnya.

Bagaimana Cara Menghilangkannya?

Jika kita memiliki komputer yang terserang virus. Sebagus apapun program yang kita install, tidak akan berfungsi maksimal jika virus tersebut belum dihilangkan. Efeknya komputer kita akan bekerja sangat lambat. Jadi virus tersebut harus dibasmi, jika terpaksa, hard disknya harus diformat ulang. Setelah itu kita install ulang program-programnya, barulah optimum. Demikian juga dengan otak kita, virus subconscious mind harus dibasmi, agar kita bisa melesat dengan cepat.

Tapi membersihkan virus sja tidak cukup membuat kita sukses. Bayangkan jika di computer Anda hanya yerdapat games, MS Word dan Excel saja. Jangan harapkan Anda bisa menjalankan internet melalui program tersebut. Tentu saja terlebih dahulu Anda harus meng-install program internet explorer atau sejenisnya. Intinya, Aplikasi – aplikasi menjadi pengusaha sukses dan bermoral itu yang akan di – install di ECamp.

Banyak orang tidak percaya, bahkan peserta sendiri menanyakan, “Bagaimana hanya dalam waktu yang sangat singkat (3hari, 2malam) saya bisa berubah?!” Tapi itulah kenyataannya. Tak usah takut dengan teorinya yang terlalu rumit, karena di ECamp peserta hanya menikmati “wisata” permainannya, bukan datang untuk mendengarkan ceramah yang membosankan. Sengaja ECamp dikemas dalam bentuk simulasi permainan usaha dan psikologi, baik indoor maupun outdoor, sehingga pelatihan akan terasa menyenangkab

Ecamp adalah mesin pencetak pengusaha-pengusaha sukses yang memiliki mentalitas kelimpahan, penuh kasih sayang dan tahan banting. Jika Anda merasa belum mendapatkan impian – impian anda, baik secara materi maupun spiritual, temukan jawabannya di ECamp. Untuk memaksimalkan hasil pelatihan, maka jumlah peserta dibatasi 50 org per-batch (angkatan). Dimana ECamp dipandu oleh seorang coach dan 7 org fasilitator. Jika sebelumnya ECamp 1 sampai dengan 4 diadakan di Batam, maka mulai ECamp 5 dan seterusnya, Taining tersebut sudah diadakan di Puncak, karena kebanyakan peserta dari luar Batam.

Pasca E - Camp
Hal yang paling ditakutkan peserta training adalah momentum semangat pasca training tersebut. Bisa jadi usai training, semangat mereka mengebu – gebu, namun setelah kembali ke’habitat’ semula, semangat itu pudar. Salah satu kekuatan ECamp adalah ikatan alumninya yang tersebar di Indonesia. Dengan difasilitasi mailing list khusus alumni, diharapkan tercipta hubungan bisnis antar alumni. Disamping itu, ikatan alumni juga otomatis menjadi anggota Entrepreneur Association, yang memiliki pertemuan rutin untuk ‘terapi berbicara positif’ dan menjalin hubungan usaha sesama anggota. TAKE ACTION, MAKE IT HAPPEN !

source : Majalah Pengusaha Oktober 2006 hal 76 - 77
Read more...

Toko Gunung Agung: Akrobat Bisnis Seorang Anak Jalanan

Thursday, March 5, 2009

Keberadaan Toko Gunung Agung hingga di usianya yang ke-50 saat ini tidak lepas dari akrobat bisnis yang dilakukan seorang bekas anak jalanan, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung.

Sejarah keberadaan Toko Gunung Agung yang 8 September lalu genap berusia 50 tahun, tidak lepas dari akrobat-akrobat bisnis yang dilakukan tokoh kuncinya, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung. Terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio, Wie Tay sebenarnya bisa menikmati masa kecil yang indah. Ayahnya seorang ahli listrik tamatan Belanda, sedangkan kakek seorang pedagang ternama di kawasan Pasar Baru, Bogor. Tapi kebahagiaan itu tidak dikecapi terlalu lama, karena kala dia berusia empat tahun, sang ayah meninggal dunia. Sejak saat itu kehidupan ekonomi mereka menjadi sangat sulit.

Dalam buku Bapak Saya Pejuang Buku yang ditulis putranya, Ketut Masagung dan disusun kembali oleh Rita Sri Hastuti dikisahkan bahwa Wie Tay tumbuh sebagai anak nakal yang suka berkelahi. Ia juga punya kebiasaan "suka mencuri" buku-buku pelajaran kakak-kakaknya untuk dijual di pasar Senen guna mendapatkan uang saku. Karena kenakalan ini, ia tidak bisa menyelesaikan sekolah, meski sudah dikirim sampai ke Bogor dan sempat masuk di dua sekolah berbeda.

Justru karena kenakalannya, Wie Tay tumbuh sebagai anak pemberani. Ia tidak takut berkenalan dengan siapa saja, termasuk dengan tentara Jepang yang kala itu mulai masuk ke Banten. Bahkan dari tentara Jepang, ia mendapatkan satu sepeda. Modal "berani" ini yang kemudian dia bawa masuk ke dalam dunia bisnis, dan tidak bisa dipungkiri, menjadi salah satu senjata andalannya dalam menggerakkan roda bisnisnya.

Setelah diusir pamannya dari Bogor dan harus kembali ke Jakarta saat berusia 13 tahun, Wie Tay menemukan kenyataan bahwa keadaan ekonomi ibundanya belum membaik jua. Tak ada jalan lain baginya kecuali harus mencari duit sendiri. Awalnya, ia kembali ke "kebiasaan" lama mencuri buku pelajaran kakaknya untuk dijual guna mendapatkan 50 sen. Setelah stok buku pelajaran habis, ia mencoba menjadi "manusia karet di panggung pertunjukkan" senam dan aerobatik. Tapi penghasilannya ternyata tidak seberapa banyak.

Pedagang Asongan

Ia kemudian banting setir menjadi pedagang rokok keliling. Di sinilah sifat beraninya mulai terlihat. Wie Tay yang digambarkan sebagai anak yang banyak kudis di kepala dan borok di kaki ini nekat menemui Lie Tay San, seorang saudagar rokok besar kala itu. Dengan modal 50 sen, ia memulai usaha menjual rokok keliling di daerah Senen dan Glodok. Di sini ia mulai rajin menabung, karena sudah merasakan betapa susah mencari uang. Hasil tabungannya kemudian dibelikan sebuah meja sebagai tempat berjualan di daerah Glodok. Karena belum memiliki kios sendiri, meja tersebut dititipkan pada sebuah toko onderdil di Glodok, sampai akhirnya ia mampu membuka kios di Senen.

Menjadi pedagang rokok keliling membuka mata Wie Tay remaja bahwa ada tempat partai rokok besar selain Lie Tay San, yaitu di Pasar Pagi. Maka, setelah membuka kios dia mulai membeli rokok di Pasar Pagi. Selanjutnya, Wie Tay juga berkenalan dengan The Kie Hoat, yang bekerja di perusahaan rokok Perola, salah satu merek rokok laris kala itu. The Kie Hoat kemudian akrab dengan Wie Tay dan Lie Tay San. Suatu hari, The Kie Hoat ditawari relasinya untuk mencarikan pemasaran.

Kie Hoat lalu merundingkan dengan kedua sahabatnya tadi. Saat Lie Tay San masih ragu, Wie Tay yang masih sangat belia dalam bisnis itu malah langsung setuju. Ia yakin bisa cepat dijual dan mendatangkan keuntungan besar. Ternyata benar! Sayang buntutnya tidak enak. The Kie Hoat akhirnya dipecat dari Perola karena dinilai melanggar aturan perusahaan, menjual rokok ke pihak luar yang bukan distributor.

Ketiga sahabat ini kemudian bergabung dan mendirikan usaha bersama bernama Tay San Kongsie, tahun 1945. Di sinilah awal pergulatan serius Wie Tay dalam dunia bisnis. Mereka memang masih menjual rokok, tapi melebar ke agen bir cap Burung Kenari. Pada saat bersamaan mereka juga mulai serius berbisnis buku. Atas bantuan seorang kerabat, mereka bisa menjual buku-buku berbahasa Belanda yang diimpor dari luar. Buku-buku ternyata laku keras. Mereka berjualan di lapangan Kramat Bunder, tidak jauh dari rumah Lie Tay San. Setelah itu mereka membuka toko 3x3 meter persegi, kemudian diperluas menjadi 6x9 meter persegi. Lantaran keuntungan dari penjualan buku sangat besar, mereka lalu memutuskan berhenti berjualan rokok dan berkonsentrasi hanya menjual buku dan alat tulis menulis.

Tahun 1948, mereka sepakat mengukuhkan bisnis mereka dalam bentuk firma, menjadi Firma Tay San Kongsie. Saham terbesar dimiliki Lie Tay San (6/15%), The Kie Hoat (4/15%) dan Wie Tay (5/15%). Masagung ditunjuk memimpin perusahaan ini. Mereka kemudian membuka toko di kawasan Kwitang. Ketika orang-orang Belanda hendak meninggalkan Indonesia, Wie Tay mendatangi rumah orang-orang Belanda tersebut dan meminta buku-buku bekas mereka untuk dijual dengan harga murah.

Membangun Toko Gunung Agung

Pada 13 Mei 1951, Wie Tay menikahi Hian Nio. Setelah menikah, Wie Tay berpikir untuk mengembangkan usaha menjadi besar. Dia mengusulkan kepada kedua rekannya untuk menambah modal. Lie Tay San keberatan. Dia memutuskan mundur dan tetap dengan toko bukunya di lapangan Kramat Bunder, (kini Toko Buku Kramat Bundar). Sementara Masagung alias Tjio Wie Tay bersama The Kie Hoat membangun toko sendiri di Jln Kwitang No 13, sekarang menjadi Gedung Idayu dan Toko Walisongo. Saat itu, Kwitang masih sepi. Jangankan kios buku, toko lainnya pun belum ada. Baru ketika Wie Tay membuka toko di sana, keramaian mulai tercipta. Sejumlah gerobak buku mulai kelihatan. Sejak saat itu Kwitang menjadi ramai.

Cukup lama Tjio Wie Tay mencari nama untuk toko barunya. Kemudian baru muncul ide untuk menerjemahkan namanya sendiri ke dalam bahasa Indonesia. Tjio Wie Tay dalam bahasa Indonesia berarti Gunung Besar atau Gunung Gede tapi Wie Tay mengubahnya menjadi Gunung Agung. Toko buku mereka berkembang pesat. Pesanan dari luar Jakarta berdatangan, tidak hanya buku tapi juga kertas stensil, kertas tik dan tinta. Melihat perkembangan ini, tercetuslah ide untuk membina usaha dengan kalangan yang dekat dengan buku, antara lain kalangan wartawan dan pengarang. Sejumlah wartawan senior kala itu ikut bergabung, termasuk sejumlah saudagar tingkat atas. Tidak heran kalau buku-buku yang diterbitkan pada awal berdirinya adalah buku-buku sastra tulisan tangan para "orang dalam" tersebut. Bentuk usaha firma lalu diubah menjadi NV.

Saat peresmian NV Gunung Agung, Wie Tay membuat gebrakan dengan menggelar pameran buku pada 8 September 1953. Dengan modal Rp 500 ribu, mereka berhasil memamerkan sekitar 10 ribu buku. Tanggal ini yang kemudian dianggap sebagai hari lahirnya Toko Gunung Agung –yang juga menjadi hari kelahiran Wie Tay sendiri. Menggelar pameran buku, seolah menjadi "trade mark" bentuk promosi yang dilakukan Gunung Agung. Tahun 1954, Wie Tay mengadakan lagi pameran buku tingkat nasional bertajuk Pekan Buku Indonesia 1954. Pada acara inilah Wie Tay bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh nasional yang sangat dikaguminya, yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Bagi dia, pertemuan dengan Bung Karno adalah hal yang menakjubkan. Selain sebagai presiden, Bung Karno adalah tokoh yang sangat dikaguminya sejak dia masih kecil.

Peran Bung Karno

Sukses menyelenggarakan Pekan Buku Nasional dan kedekatannya dengan Bung Karno, membuat Gunung Agung dipercaya membantu pemerintah menyelenggarakan Pameran Buku di Medan dalam rangka Kongres Bahasa Indonesia pada tahun yang sama. Dari sana dilanjutkan dengan pembukaan Cabang Gunung Agung di Yogyakarta, 1955. Tahun 1956, kembali Gunung Agung diminta pemerintah menyelenggarakan pameran buku di Malaka dan Singapura. Tahun 1963, Toko Gunung Agung sudah memiliki sebuah gedung megah berlantai tiga di Jln Kwitang 6. Acara ulang tahun ke-10 tersebut yang diikuti dengan peresmian gedung tersebut dihadiri langsung Bung Karno. Pada tahun itu juga, tepatnya 26 Agustus 1963, Wie Tay berganti nama menjadi Masagung.

Kalau padanya ditanyakan tokoh siapa yang paling berpengaruh dalam bisnis penerbitan dan toko buku, maka Masagung pasti akan menyebut nama Bung Karno. Ia pun selalu teringat akan pesan Bung Karno padanya. "Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan," ujar Bung Karno. Seraya memeluk Masagung, Bung Karno menyerahkan kepercayaan kepada Masagung untuk menerbitkan dan memasarkan buku-bukunya semacam Di Bawah Bendera Revolusi (dua jilid), Biografi Bung Karno tulisan wartawan AS, Cindy Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (lima jilid), serta sejumlah buku tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku Bung Karno inilah yang membawa Gunung Agung menanjak.

Bantuan Bung Karno tidak berhenti di situ. Bung Karno juga meminta Gunung Agung mengisi kebutuhan buku bagi masyarakat Irian Barat saat Trikora. Masagung lalu kemudian mengadakan pesta buku di Biak, Marauke, Serui, Fak Fak, Sorong, dan Manokwari. Tugas yang sama kembali diemban untuk masyarakat Riau dalam rangka Dwikora. Bukan cuma di Indonesia. Masagung juga agresif membangun jaringan di luar negeri. Tahun 1965, dia membuka cabang Gunung Agung di Tokyo, Jepang. Lalu mengadakan pameran buku Indonesia di Malaysia awal 1970-an.

Ternyata, kepak sayap bisnis Masagung tidak sebatas toko buku dan penerbitan. Ia juga merambah bisnis lain . Ia tercatat mengelola bisnis ritel bekerjasama dengan Departement Store Sarinah di Jln MH Thamrin, lalu masuk ke Duty Free Shop, money changer, dan perhotelan . Itulah akrobat bisnis yang dilakukan seorang "mantan" anak jalanan. Si anak nakal yang tidak tamat SD itu ternyata mampu mem-bangun kerajaan bisnis yang kokoh hingga kini .

JOSEPH LAGADONI HERIN

dari wartabisnisdotcom
Read more...