Menjahit Pakaian : Naik Turun, Tetap Oke dan Untung!

Sunday, March 22, 2009

Tahun 2009, genap sudah 32 tahun Almakruf (53) menjalankan usaha menjahit pakaian. Ia pernah menjadi penjual daging sapi di Pasar Jodoh. Pernah juga beralih berdagang sembako. Tapi tetap saja kembali lagi ke usaha menjahit pakaian.

Usaha menjahit pakaian cukup menguntungkan. Syaratnya harus menjaga kualitas jahitan, selesai sesuai waktu yang dijanjikan dan lokasi usahanya dekat dengan konsumen. Dengan menerapkan tiga syarat tersebut, Batam Tailor banjir order dari 500-an pelanggan setianya. Setiap hari 12 stel pakaian seragam dan safari harus dijahit oleh dua karyawan Batam Tailor. "Sekarang paling banyak pesanan pakaian seragam satpam dan pakaian safari," kata pemilik Batam Tailor, Almakruf.

Almakruf termasuk wirausahawan yang sudah makan asam garam dalam dunia usaha menjahit pakaian. 32 tahun ia naik turun menjalankan bisnisnya. Ia pernah berkali-kali bangkrut dan habis modal. Lalu harus kembali merintis usahanya. Tapi pernah juga merasakan puncak kejayaan usahanya. ‘Tahun 1991-1997, sebelum krisis moneter itu luar biasa, Batam Tailor benar-benar di puncak kejayaan. Saya punya pelanggan 8 perusahaan industri. Belum termasuk perusahaan non industri dan pelanggan perorangan. Sekali order, satu perusahaan ada yang sampai 1200 stel pakaian seragam,"kata pria asal Lubuk Alung Sumatera Barat.

Sekarang, memang orderan tidak sebanyak dahulu. Tapi tetap saja usaha menjahit pakaian lebih menguntungkan. Biaya menjahit mulai Rp250 ribu untuk pakaian satpam dan untuk pakaian safari Rp350 ribu. Dari harga itu karyawan dibayar Rp20ribu -Rp25 ribu per potong. Sisanya milik pemilik usaha, untuk modal dasar pembelian kain dan biaya operasional. "Lumayan omsetnya. Dari satu stel pakaian bisa dapat Rp100 ribu. Kalau empat stel, kita dapat Rp400 ribu," ujarnya. Sejak terjun berwirausaha dari tahun 1976, Almakruf bukannya tidak pernah mencoba berbisnis lain. Ia pernah menjadi penjual daging di Pasar Jodoh. Ia juga pernah beralih ke bisnis sembako. Tapi rupanya dua bisnis tersebut bangkrut karena sepi pembeli dan hanya bertahan dua tahun. Jadilah Almakruf kembali berbisnis menjahit pakaian.

Modal Mesin Jahit Seken
Untuk merintis usaha menjahit tidak membutuhkan dana besar. Cuma mengeluarkan uang untuk beli mesin jahit seken dan punya keahlian menjahit. Keuntungan langsung diperoleh saat ada order menjahit pakaian. Tapi dengan catatan tidak salah mengukur dan memotong bahan. Selain itu harus bayar di muka 30 persen.

Pertamakali merantau ke Batam tahun 1990, Almakruf hanya membawa uang Rp90 ribu. Uang tersebut, habis dipakai untuk ongkos pesawat Padang-Batam Rp75 ribu. Sisanya Rp15 ribu. Tapi untunglah, saat itu Ia membawa cabai merah Rp30 kg dari kampungnya Lubuk Alung.

Alhasil begitu tiba di Batam, Ia langsung jualan cabai merah di Pasar Jodoh. "Lumayan juga hasilnya. Cabe merahnya laku Rp3 ribu per kg. Saya jadi dapat tambahan uang Rp90 ribu," kata Almakruf sambil tertawa, mungkin teringat masa lalunya.

Uang yang didapatnya langsung dijadikan tambahan modal usaha, untuk membeli mesin jahit seken. Sementara untuk tempat usaha jahitnya yaitu dua toko ukuran 4x6 meter persegi dekat Hotel Nagoya Plaza milik pamannya, Buyung Lambau. Saat merintis usahanya masih belum banyak saingan. Alhasil, Batam Tailor langsung banjir orderan.

Jauh sebelum melakoni bisnis menjahit, Almakruf menjadi penjual daging sapi di Pasar Jodoh, sekitar tahun 1973. Sampai akhirnya ia bangkrut di tahun 1976. Ia-pun merantau ke Jakarta. Di sana ada saudaranya yang seorang guru tapi menyambi menjahit pakaian.Dari dialah, Almakruf belajar menjahit pakaian.

Banjir Order dari Perusahaan
Punya keahlian menjahit, ia memilih buka usaha sendiri. Menyewa toko kecil di Jakarta. Berkat ketekunannya, usaha menjahitnya berkembang dan maju. Tahun 1983, usaha menjahit turun drastis karena saat itu di Jakarta tumbuh perusahaan konveksi. Orderan jadi semakin seret karena direbut perusahaan konveksi.

Ia pun langsung beralih ke usaha sembako dengan menyewa kios di Pasar Minggu. Tahun pertama hasilnya cukup bagus, tapi tahun ke-2 bisnis sembakonya terpuruk karena sepi pembeli. Akhirnya Almakruf memilih menjual toko sembako bersama isinya sebesar Rp900 ribu. Setelah itu ia pilih pulang kampung ke Lubuk Alung, Sumatera Barat. Memiliki segudang harapan untuk bisa hidup maju lagi, Almakruf kembali merantau ke Batam tahun 1990 dan mendirikan Batam Tailor. Sejak tahun 1991 -1997 Batam Tailor berada di masa emas. Almakruf sampai memiliki 16 orang karyawan karena banyak orderan dari perusahaan industri.

Kejayaan usahanya terpuruk saat krisis moneter di tahun 1997. Batam Tailor bangkrut dan habis modal serta tak punya karyawan lagi. Tapi kini, usahanya kembali tumbuh. Batam Tailor punya dua orang karyawan karena order jahitan mulai banyak. "Habis modal itu biasa dalam bisnis. Yang terpenting bagaimana usaha ini (menjahit-red) tetap bertahan dan maju," katanya.

Almakruf yang berasal dari Padang dan terkenal suka merantau dan berdagang mengusung nama Batam Tailor begitu merintis usaha menjahitnya di Batam pada tahun 1990.Ditambah lagi, biduk rumah tangganya hancur dan membuat aset usaha jahitnya harus dijual untuk dibagi dua dengan mantan istri.

Dari pembagian harta gono gini, Almakruf mendapat Rp2 juta, nilai yang lumayan besar di tahun 1983. Almakruf sampai belanja kain ke Singapura, tiga kali sepekan. Waktu itu di Singapura, harga kain satu meter masih murah, cuma Rp5 ribu. Lebih mahal di Jakarta Rp6 ribu per satu meter.

Kalah Bersaing dengan Perusahaan Konveksi
Ia tak bisa berbelanja ke Singapura lagi, karena harga kain sudah naik tiga kali lipat gara-gara nilai rupiah jatuh. Untuk kebutuhan bahan kain, Iapun beralih belanja ke Jakarta. Sebenarnya setelah krisis moneter, perusahaan tetap mau order menjahit pakaian. Tapi mereka (perusahaan industri-red)tak mau naik harga, sementara harga kain saja naik berlipat-lipat. Saya tak sanggup. Mereka lari ke perusahaan konveksi di Jakarta, " katanya.

Kian sepi terima orderan, Batam Tailor pun akhirnya memutuskan pindah ke ruko Greenland tahun 2003. Di Greenland usahanya tumbuh lagi, Ia memiliki delapan karyawan.

Memasuki tahun 2008, sang pemilik ruko menetapkan kenaikan sewa ruko. Jadilah Batam Tailor pindah ke Panbil. Tapi tak sesuai perhitungannya, usahanya malah merosot tajam ketika pindah ke Panbil. "Waktu pindah ke Panbil saya punya modal Rp40 juta. Rp30 juta untuk sewa ruko setahun. Setelah kontrak setahun habis. Modal habis karena sepi order. Saya benar-benar salah perhitungan tempat. Coba waktu itu saya sewa tempat ruko di depan ruko Greenland, mungkin keadaannya jadi lain," katanya.

Gara-gara habis modal, Almakruf-pun akhirnya pindah usaha ke rumahnya di Sakura Garden tanpa punya karyawan lagi. Karena sepi order, akhirnya Batam Tailorpun pindah ke Bengkong Al Jabar (tempat usahanya sekarang-red) di awal tahun 2008 hingga sekarang.

Tak Cocok Berdagang Sembako dan Daging
Almakruf yang naik turun dalam menjalankan usaha menjahitnya mengaku cocok dengan usaha menjahit pakaian. “Itulah mungkin karena menjahit sudah cocok sebagai profesi saya. Nyatanya, meski saya pernah pindah ke usaha lain, tetap saja kembali membeli mesin jahit dan membeli mesin jahit lagi untuk modal setelah bangkrut usahanya," katanya. Asyiknya lagi, waktu kerjanya bebas, bisa mulai kerja pukul 10.00 WIB. Kalau sedang banyak order dan tidak sanggup, tinggal dialihkan ke tetangga yang punya usaha tailor.

Almakruf mengatakan ia tak mungkin lagi berjualan daging di pasar sekarang ini. Pasalnya usaha berjualan daging sapi diatur waktu. Jam 03.00 WIB harus sudah ada di pasar karena pukul 04.00 WIB para pembeli sudah banyak yang datang. Bila tidak seperti itu usaha berjualan daging akan bangkrut. "Saya tak sanggup lagi. umur sudah tua, 53 tahun, "katanya. Adapun bisnis sembako, Almakruf juga kurang bisa menikmatinya. "Kalau berjualan sembako, kita menunggu pembeli dari pagi sampai sore. Kalau ramai okelah kita sibuk melayani pembeli. Tapi kalau sepi kita hanya duduk di toko seharian menunggu pembeli," katanya.

(Sumber : Batam Pos)

0 comments: