Kiat Jadi Pengusaha ala Ciputra

Tuesday, October 20, 2009

Menjadi pengusaha bukanlah warisan dari orang tua. Semua orang dapat menjadi pengusaha asalkan mereka mengerti dan memahami apa arti pengusaha itu sendiri. Demikian dikatakan Ciputra, CEO Ciputra Group dalam seminar yang bertajuk The Importance of Enterpreneurship for Indonesia's Economic Development, di Jakarta, Selasa (10/20).


"Pengusaha bukanlah profesi turunan, semua orang bisa menjadi pengusaha asalkan memahami dan mempunyai mind set tentang arti pengusaha itu sendiri," kata dia.

Ia menuturkan, setelah menemukan arti dan mempunyai mind set, calon pengusaha harus menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam menjalankan usahanya. Jenis usaha juga sesuaikan jenis usaha dengan kemampuan, budaya pengusaha dan target pasar. Setelah kesemua hal tersebut terpenuhi maka calon pengusaha mengikuti training yang sesuai dengan usaha yang akan dijalankannya. "Dengan begitu ia mempunyai gambaran apa yang harus dia lakukan," ucapnya.

Calon pengusaha, tambahnya, juga harus mempunyai semangat dan mental pengusaha. Tidak semua pengusaha berhasil di masa-masa awalnya. Banyak juga pengusaha yang terpuruk saat awal menjalankan usaha barunya. "Pengusaha enggak selalu sukses, bisa gagal dan jatuh. Tapi pengusaha hebat akan bangkit dan belajar dari pengalamannya itu untuk menjadi sukses di masa depan," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Bidang UKM Sandiaga Uno menambahkan, untuk menjadi pengusaha yang sesungguhnya seseorang harus berani meninggalkan zona aman yang selama ini ditempatinya. Selain itu, seseorang juga harus berani mengambil kesempatan yang ada di depannya. "Ada kata-kata bijak yang mengatakan kita harus mengambil kesempatan untuk menjadi pengusaha yang ada. Itu yang harus dijadikan pegangan," ucapnya.

RDI
Editor: Edj

Read more...

10% Yang Layak Disebut Sebagai Waralaba

Friday, October 9, 2009

Kesadaran pemilik usaha untuk menaikkan status usahanya dari peluang usaha menjadi waralaba masih rendah. Meski belum bisa disebut sebagai waralaba, sekitar 90 persen pemilik peluang usaha yang sudah berani beroperasi layaknya sebuah waralaba sehingga berpotensi merugikan investor.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, peluang usaha (business opportunity) terus bermunculan. Saat ini, jumlah peluang usaha yang beroperasi di Indonesia mencapai 850 unit. Dari jumlah itu, baru sekitar 10 persen yang layak disebut sebagai waralaba (franchise).

"Untuk bisa disebut sebagai waralaba, usaha itu harus berhasil lebih dulu, 80 persen produknya cepat laku, memiliki keunikan, dan ada prototipe usahanya. Yang bisa seperti itu baru sekitar 10 persen. Kalau mau bertahan, waralaba itu tidak bisa muncul secara instan," tuturnya, Jumat (9/10) saat ditemui dalam Franchise and Business Concept Expo 2009 di Yogyakarta.

Menurut dia, dukungan pemerintah terhadap waralaba sangat minim. Pemilik peluang usaha kurang mendapat pembinaan dan pelatihan sehingga tidak memahami pentingnya menjadi waralaba.

Selama ini, pemilik usaha biasanya terburu-buru untuk menjual ide usahanya karena tergiur dengan penghasilan yang akan didapat. Padahal usaha yang ia rintis belum benar-benar tertata baik dari sisi manajemen maupun pemasaran. Akibatnya, banyak investor yang rugi karena usahanya tidak bisa bertahan lama. Di DIY, hal itu terjadi pada peluang usaha di bidang makanan.

Anang menuturkan, pemilik peluang usaha bisa saja menjual ide usahanya. "Namun ia harus terbuka kepada calon investor sehingga mereka mengetahui risiko usahanya. Ia harus jujur bahwa usahanya itu belum bisa disebut waralaba. Jadi kalaupun dijual, dia tidak bisa memungut biaya franchise . Harga jualnya pun bisa ditawar oleh investor," jelasnya.

KOMPAS Idha Saraswati W Sejati

Editor: Edj
Read more...

Waralaba Makanan Cepat Jenuh?

Monday, October 5, 2009

Usaha waralaba di bidang makanan lebih cepat jenuh dibanding bidang lain. Dari sekitar 20 usaha waralaba makanan yang muncul di DIY, saat ini hanya sekitar 35 persen yang bisa terus berkembang.


Ketua Paguyuban Alumni Waralaba Yogyakarta Annas Yanuar mengatakan, pertumbuhan waralaba makanan di DIY cukup tinggi. Selain waralaba lokal, ada banyak waralaba dari luar yang masuk. "Hal itu membuat masyarakat cepat merasa jenuh dengan jenis-jenis makanan yang ditawarkan. Usaha makanan itu paling riskan karena larinya ke rasa . Kalau tidak ada variasi konsumen akan cepat jenuh," katanya, Senin (5/10).

Walaupun banyak usaha waralaba yang tidak berlanjut, lanjut Annas, animo pengusaha untuk mewaralabakan usahanya masih besar. Permintaan dari calon investor pun masih ti nggi. Banyaknya mahasiswa di DIY dianggap sebagai pasar potensial bagi usaha waralaba. Pemilik Soto Ponorogo dan Bakmi Kadin, misalnya, tengah menjajagi kemungkinan untuk mewaralabakan usahanya.

Menurut Annas, kreativitas pelaku wirausaha di DIY dalam menciptakan ide usaha memang tinggi. Secara nasional, saat ini jumlah usaha waralaba yang muncul di DIY menempati posisi kedua setelah Jakarta. "Waralaba di bidang jasa, pendidikan sampai kuliner tetap diminati. Jumlah yang muncul di DIY sekitar 50-an, dengan ribuan gerai yang tersebar ke seluruh Indonesia," ujarnya.

Secara terpisah, pemilik usaha waralaba Tela Tela Febri Triyanto mengatakan, usaha di bidang makanan memang memiliki siklus jenuh. "Jika dulu di DIY ada 100 gerai Tela Tela, kini jumlahnya tinggal sekitar 50 gerai. Sedangkan secara nasional Tela Tela saat ini punya 1.650 gerai. Tahun 2005 gerobak Tela Tela di DIY sangat banyak. Di satu sisi omzetnya bisa sangat tinggi, di sisi lain itu menimbulkan kejenuhan dan persaingan sehingga perlu dikurangi," katanya.

Menurut dia, bertahannya usaha waralaba juga sangat tergantung pada faktor manusia. Meski menjadi usaha sampingan, pembeli merek waralaba harus tetap menseriusi usahanya. Selain itu, inovasi produk harus terus dilakukan.


KOMPAS Idha Saraswati W Sejati
Read more...