10% Yang Layak Disebut Sebagai Waralaba

Friday, October 9, 2009

Kesadaran pemilik usaha untuk menaikkan status usahanya dari peluang usaha menjadi waralaba masih rendah. Meski belum bisa disebut sebagai waralaba, sekitar 90 persen pemilik peluang usaha yang sudah berani beroperasi layaknya sebuah waralaba sehingga berpotensi merugikan investor.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, peluang usaha (business opportunity) terus bermunculan. Saat ini, jumlah peluang usaha yang beroperasi di Indonesia mencapai 850 unit. Dari jumlah itu, baru sekitar 10 persen yang layak disebut sebagai waralaba (franchise).

"Untuk bisa disebut sebagai waralaba, usaha itu harus berhasil lebih dulu, 80 persen produknya cepat laku, memiliki keunikan, dan ada prototipe usahanya. Yang bisa seperti itu baru sekitar 10 persen. Kalau mau bertahan, waralaba itu tidak bisa muncul secara instan," tuturnya, Jumat (9/10) saat ditemui dalam Franchise and Business Concept Expo 2009 di Yogyakarta.

Menurut dia, dukungan pemerintah terhadap waralaba sangat minim. Pemilik peluang usaha kurang mendapat pembinaan dan pelatihan sehingga tidak memahami pentingnya menjadi waralaba.

Selama ini, pemilik usaha biasanya terburu-buru untuk menjual ide usahanya karena tergiur dengan penghasilan yang akan didapat. Padahal usaha yang ia rintis belum benar-benar tertata baik dari sisi manajemen maupun pemasaran. Akibatnya, banyak investor yang rugi karena usahanya tidak bisa bertahan lama. Di DIY, hal itu terjadi pada peluang usaha di bidang makanan.

Anang menuturkan, pemilik peluang usaha bisa saja menjual ide usahanya. "Namun ia harus terbuka kepada calon investor sehingga mereka mengetahui risiko usahanya. Ia harus jujur bahwa usahanya itu belum bisa disebut waralaba. Jadi kalaupun dijual, dia tidak bisa memungut biaya franchise . Harga jualnya pun bisa ditawar oleh investor," jelasnya.

KOMPAS Idha Saraswati W Sejati

Editor: Edj

0 comments: