Jangan Salah... Waralaba Cendol Justru Paling Dilirik

Saturday, November 14, 2009

Siapa di Tanah Air ini yang tak kenal dengan minuman cendol? Mulai dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa, minuman ini menjadi ciri khas dengan cita rasanya masing-masing.


Sebut saja cendol alias dawet Banjarnegara, Ponorogo, hingga cendol Bandung. Tak ayal, minuman ini pun dikemas lebih eksklusif dan dibungkus menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Tak lagi hanya dijual oleh pedagang keliling...

Penasaran? Inilah beberapa franchisor cendol yang menjadi idola di arena Franchise License Expo Indonesia, yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Jakarta, 13-15 November 2009.

Cendol Desa

Namanya boleh saja "Cendol Desa". Kemasan gerobaknya, sudah "Ngota ". Dengan warna dominan merah, usah franchise atau waralaba yang dirintis Tatang Kusdiana ini lumayan ramai disinggahi pengunjung. Untuk menjadi franchisee alias mitra, cukup menyediakan modal Rp 3,9 juta hingga Rp5,9 juta.

Tatang mengisahkan, bisnis ini sudah dirintisnya selama tiga tahun terakhir. Mengapa cendol? "Awalnya, saya berpikir bahwa tuntutan hidup semakin berat. Daripada hanya mengeluh, mending berpikir bagaimana merintis bisnis yang bisa menghasilkan sekalian memanfaatkan waktu yang masih ada, di samping waktu bekerja," kata Tatang, saat dijumpai Kompas.com di sela pameran, Sabtu ( 14/11 ), di JCC, Jakarta.

Alasan memilih cendol, sederhana saja. Bagi Tatang yang berasal dari Jawa Barat, minuman tradisional ini dipandangnya sebagai minuman yang sudah "mendarah daging" bagi masyarakat Indonesia. Maka, ia berpikir, mengembangkan bisnisnya pun tak akan terlampau susah.

"Potensi bisnis cendol, aman-aman saja ya. Orang sepertinya enggak pernah bosen minum cendol. Selain itu, untuk modal juga enggak terlalu mahal, jadi bisa mengajak banyak orang untuk berbisnis," kata Tatang, yang masih berprofesi sebagai pegawai BUMN ini.

Belajar mengolah cendol dari para pedagang jalanan, Tatang kemudian browsing hingga ke dunia maya demi menghasilkan cendol yang bercita rasa luar biasa. Kebetulan, istrinya juga bisa membuat cendol. "Sekarang, kata orang-orang, cendol saya khas Jawa Barat," ujarnya.

Pembagian royalti, Tatang tak mewajibkan mitranya untuk berbagi keuntungan per bulan. Para mitra hanya diwajibkan untuk mengambil produk dari franchisor untuk keseragaman rasa. "Keuntungan laba seluruhnya milik mitra," jelas Tatang.

Kontrak franchise berlaku selama tiga tahun dan dapat diperpanjang ketika kontrak habis. Saat ini, sudah terdapat 10 outlet "Cendol Desa" yang tersebar di kawasan Jakarta dan Bekasi. Bisnis ini, kini dijalankannya bersama sang istri dan lima orang karyawannya.

Cendol Idol

Selain "Cendol Desa", satu lagi franchise cendol yang juga diserbu pengunjung adalah "Cendol Idol". Yang menjadi franchisornya adalah PT Cocomas Indonesia, perusahaan yang bergerak di bisnis pengolahan kelapa.

Retail Bussiness Manager PT Cocomas Indonesia, Sapto Sri Asmoro mengatakan, franchise ini baru dijalankan perusahaannya sejak Agustus 2009 lalu. Hingga bulan November ini tak kurang dari 320 mitra sudah digaet dan tersebar di seluruh Tanah Air.

Apa kelebihan "Cendol Idol"? "Pada prinsipnya, kami ingin memudahkan mitra. Mulai dari peraturan hingga ke pengemasan outlet dan memberikan kesempatan berkreasi," kata Sapto.

Ia menceritakan, pihaknya mempersiapkan outlet yang easy taking . Artinya, outlet dikemas sedemikian rupa agar si mitra gampang untuk menentukan lokasi berjualan. Outlet tersebut bisa dilipat dan dikemas dalam sebuah tas berwarna hitam.

"Jadi, bisa jualan dimana saja. Kalau pakai gerobak itu kan harus pikir uang sewa lokasi, kemudian kalau membawanya pun perlu angkutan khusus. Kalau outlet kami cukup ditaruh di bagasi mobil, pilih tempat yang ramai," ujarnya.

Hingga akhir tahun 2010, mereka yang menjadi mitra "Cendol Idol" tidak wajib berbagi royalti. Selain itu, Cocomas juga menyediakan santan dan cendol bagi para mitra. "Jadi, ini memang bisnis dengan konsep tradisional yang dimodernisasi. Tapi, kita juga memberikan kesempatan mitra untuk mengembangkan produk dagangan. Misalnya, dikombinasi menjadi es campur atau cendol, sepanjang memakai produk kami," papar Sapto.

Modal awal untuk outlet cendol dipatok harga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk outlet es campur Rp 2,7 juta. Modal satu cup cendol sekitar Rp 3.650. Dengan modal itu, cendol dijual minimal Rp 5.000 per cup.

Mitra diberikan keleluasaan mematok harga di atas harga minimal, menyesuaikan dengan lokasi penjualan. Rasa yang ditawarkan cukup bervariasi, yaitu durian, pandan dan natural.

Berminat? Sebelum memutuskan, hendaknya jajaki dulu setiap franchise yang ada, berikut paket penawaran dan hitung-hitungan keuntungannya.

KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Editor: msh

0 comments: